RSS

PERKEMBANGAN ISLAM PADA MASA PEMBAHARUAN

22 Dec

PENDAHULUAN

Kemajuan ilmu pengetahuan, dan teknologi membawa pengaruh besar terhadap dunia Islam terutama sesudah awal abad ke-19, yang dalam sejarah Islam dipandang sebagai permulaan periode modern. Kontak dengan dunia barat akan membawa ide-ide baru ke dunia Islam, seperti rasionalisme, nasionalisme, demokrasi, dan sebagainya. Semua ini menimbulkan persoalan-persoalan baru, dan pemimpin-pemimpin Islam pun telah memikirkan hal-hal tersebut.

Sama halnya di barat, di dunia Islam juga timbul pikiran, dan gerakan untuk menyesuaikan faham-faham keagamaan dengan perkembangan baru yang ditimbulkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan, dan teknologi modern. Dengan demikian pemimpin-pemimpin Islam modern mengharapkan dapat melepaskan umat Islam dari ketertinggalan untuk dibawa kepada kemajuan.

Kata modernisasi dianggap mengandung arti negatif, di samping arti positif, maka untuk menjauhi arti-arti negatif itu, lebih baik kiranya dipakai terjemahan Indonesia, yaitu Pembaharuan.

Sebagaimana telah disebutkan, pembaharuan dalam Islam timbul di periode sejarah Islam yang disebut modern, dan mempunyai tujuan untuk membawa umat Islam kepada kemajuan. Sebelum masuk ke dalam pokok masalah, diuraikan dahulu sejarah Islam secara ringkas, bukan hanya untuk mengetahui waktu mulainya periode itu, tetapi juga untuk melihat maju-mundurnya umat Islam yang terjadi dalam sejarah beserta tokoh-tokoh, dan pola pikirnya.

2.1 MASA KERUNTUHAN

elah lama kemurnian Islam tercemar oleh bidaah dan khurafat, oleh kebekuan dan kejumudan umatnya. Sejak kehancuran kuasa politik umat Islam di kawasan Lautan Mediteranean, tamadun Islam juga turut hancur. Pemikirannya juga turut tenggelam bersama ketenggelaman tamadunnya.

Pada masa kurun kegelapan ini, Al-Qur’an danAs-Sunnah, dua buah panduan peninggalan Rasulullah s.a.w. seperti yang dikatakan oleh Rasul yang utama itu, selama kedua-dua panduan itu dituruti oleh umat Islam, mereka tidak akan tersesat jalan, tidak lagi diikuti dengan saksama, tetapi masih lagi dibaca dan dinyanyikan.

Serentak dengan keruntuhan umat Islam ini, kuasa baru yang berasal dari Eropah muncul. Kuasa ini terdiri daripada manusia yang tamak akan harta dan kebesaran. Dengan peralatan sains yang diberikan oleh Islam kepada mereka, mereka merampas negeri-negeri Islam satu persatu, menghisap kekayaannya dan memiskinkan penduduk negeri yang mereka jajahi. Untuk mengamankan penjajahan ini, maka roh Islam mesti dihancurkan atau diselewengkan sehingga sumber kekuatan umat Islam selama ini tidak mampu lagi memberikan kekuatan dan wibawa kepada penganutnya. Untuk menjalankan maksud jahat ini mereka menjauhkan umat Islam itu daripada roh dan jiwa Islam yang sebenarnya, kepada orang Islam mereka memberikan kulit-kulit Islam yang tiada erti dan tidak bermakna. Umat Islam diyakinkan bahawa mereka mestilah menjadi makhluk yang lemah di dunia agar di akhirat mereka mendapat kekuatan. Mereka mestilah miskin dan menderita di dunia, agar mereka kelak di akhirat menjadi manusia kaya dan penuh dengan kenikmatan. Biarkan orang kafir itu menghabiskan harta kekayaan negeri kamu, kerana mereka itu kelak menjadi manusia yang menderita di dalam neraka. Dengan alat yang seperti itu mereka berleluasa menjajah negeri-negeri Islam yang memang sudah ditakdirkan Allah menjadi negeri-negeri yang penuh dengan bahan-bahan yang dapat memberi kenikmatan hidup kepada manusia.

Demikian suasananya selama berkurun-kurun. Umat Islam terhina dan papa. Bahkan juga mereka tidak memahami agamanya kerana diselimuti oleh kepalsuan dan kedustaan. Namun sejarah umat Islam tidak selamanya demikian.

“Dan hari-hari itu Kami pergantikan di antara manusia” (Q.3:140).

Firman Allah merupakan salah satu garis perjalanan sejarah manusia. Penggal akhir kurun ke-19 dan permulaan abad ke-20, banyak cetusan sejarah berlaku. Beransur-ansur matahari yang selama ini hanya menyinari bumi sebelah barat, sekarang mulai meninjau ke timur. Kesedaran umat Islam mulai bangun. Peringatan Allah menggema kembali:

Jangan kamu jadi lemah dan jangan kamu bersedih;
kamu ialah manusia agung jika kamu beriman” (Q.3:139).

Maka terjadilah kebangunan baru. Kembali kepada kemurnian Islam. Dahulu, Islam telah membangunkan suatu umat yang jahil lagi terhina hingga menjadi umat yang memimpin tamadun makhluk manusia; mengapa sekarang tidak? Harga diri umat Islam mengorak semula. Mereka hendak kembali kepada Islam yang murni; bersih daripada bidaah dan khurafat; bersih daripada tahayul dan angan-angan; bersih daripada perkara-perkara yang diada-adakan oleh manusia.

  1. A.  PERKEMBANGAN SEJARAH PERADABAN ISLAM

Dalam garis besarnya, sejarah Islam dapat dibagi ke dalam tiga periode besar, yaitu klasik, pertengahan, dan modern. Periode klasik (650-1250 M) merupakan zaman kemajuan, dan dibagi ke dalam dua fase.

Pertama, fase ekspansi, integrasi, dan puncak kemajuan (650-1000 M). di zaman inilah daerah Islam meluas melalui Afrika Utara sampai ke Spanyol di barat, dan melalui Persia sampai ke India di timur. Daerah-daerah itu tunduk kepada kekuasaan khalifah yang pada mulanya berkedudukan di Madinah, kemudian di Damsyik, dan terakhir di Baghdad.

Di masa itu pula berkembang, dan memuncak ilmu pengetahuan, baik dalam bidang agama, maupun dalam bidang ekonomi, dan kebudayaan. Zaman inilah yang menghasilkan ulama-ulama besar seperti Imam Malik, Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’I, dan Imam Hambali dalam bidang hukum (fiqih). Imam Al-Asy’ari, Imam Al-Maturidi, pemuka-pemuka Mu’tazilah seperti Washil ibnu Atho’, Abu Al-Huzail dalam bidang Teologi. Zunun Al-Misri, Abu Yazid Al-Bustami, dan Al-Khallaj dalam bidang Tasawuf. Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina, dan Ibnu Maskawaih dalam bidang Filsafat, selanjutnya Al-Khaitam, Ibnu Hayyan, Al-Kharizmi, dan Ar-Razi dalam bidang ilmu pengetahuan.

Kedua, fase disintegrasi (1000-1250 M). Di masa ini keutuhan umat Islam dalam bidang politik mulai pecah, kekuasaan khalifah menurun, dan akhirnya Baghdad dapat dikuasai, dan dihancurkan oleh Hulagu Khan di tahun 1251 M. khalifah sebagai lambang kesatuan politik umat Islam hilang.

Periode Pertengahan (1250-1500 M) dapat dibagi ke dalam dua fase.

Pertama, fase kemunduran (1250-1500 M). di zaman ini desentralisasi, dan disintegrasi meningkat dengan pelan, namun pasti. Beberapa wilayah memisahkan diri dari kekuasaan pusat.

Perbedaan antara Suni, dan Syi’ah, demikian juga antara Arab, dan Persia mulai dimunculkan kembali, dan bertambah nyata. Dunia Islam terbagi dua, yaitu bagian Arab yang terdiri atas Arab Saudi, Irak, Suriah, Palestina, Mesir, dan Afrika Utara dengan Mesir sebagai pusat, dan bagian Persia yang terdiri dari Balkan, Asia Kecil, dan Asia Tengah dengan Iran sebagai pusat.

Kebudayaan Persia mengambil bentuk Internasional, dan dengan demikian mendesak lapangan kebudayaan Arab untuk menutup pintu Ijtihad. Demikian juga Tarekat dengan pengaruh negatifnya, sehingga perhatian terhadap ilmu pengetahuan kurang sekali. Umat Islam Spanyol dipaksa masuk Kristen atau keluar dari daerah itu.

Kedua, fase tiga kerajaan besar (1500-1800 M), yang dimulai dengan zaman kemajuan (1500-1700 M), dan zaman kemunduran (1700-1800 M). Tiga kerajaan besar yang dimaksud adalah Kerajaan Usmani di Turki, Kerajaan Syafawi di Persia, dan Kerajaan Mughal di India.

Ketiga kerajaan besar ini mempunyai kejayaan masing-masing terutama dalam bentuk literatur, dan arsitek. Masjid-masjid, dan gedung-gedung indah yang didirikan pada zaman ini masih dapat dilihat di Istambul, Tibri, Isfahan, serta kota-kota lain di Iran, dan di Delhi. Di zaman kemunduran, kerajaan Usmani terpukul di Eropa. Kerajaan Syafawi dihancurkan oleh serangan-serangan suku bangsa Afghan. Sedangkan daerah kekuasan Kerajaan Mughal diperkecil oleh penguasa raja-raja India. Kekuatan militer, dan kekuatan politik umat Islam menurun. Umat Islam dalam keadaan mundur, dan statis, sehingga pada masa itu Eropa dengan kekayaan-kekayaan yang diangkut dari Amerika, dan Timur jauh bertambah, kaya, dan maju.

Penetrasi barat yang kekuatannya meningkat ke dunia Islam yang berkekuatan menurun kian mendalam, dan meluas. Akhirnya Napoleon di tahun 1768 M menduduki Mesir sebagai salah satu pusat Islam yang terpenting.

Periode modern (1800 M, dan seterusnya) merupakan zaman kebangkitan umat Islam. Jatuhnya Mesir ke tangan Barat menginsafkan dunia Islam akan kelemahannya, dan menyadarkan umat Islam bahwa di Barat telah timbul peradaban baru yang lebih tinggi, yang merupakan ancaman bagi Islam. Raja-raja, dan pemuka Islam mulai memikirkan bagaimana meningkatkan mutu, dan kekuatan umat Islam kembali. Di periode modern inilah timbulnya ide-ide pembaharuan dalam Islam.

B. Tokoh – Tokoh Pembaharuan Dalam Pemikiran Islam

Tokoh – tokoh Pembaharuan dalam pemikiran ini adalah :

1)      Muhammad Ibnu Abdul Wahab (1703 – 1778)

Gerakan pembaharuan Islam (modernisme) diawali oleh gerakan pemurnian Islam yang dipelopori oleh Muhammad Ibnu Abdul Wahab (1703 – 1778). Pokok ajaran Muhammad Ibnu Abdul Wahab (Wahabi) adalah menentang semua bentuk bid’ah dan khurafat serta kembali kepada ajaran pokok Al-Qur’an dan Hadits.

Paham yang dikembangkan ini bertambah kuat setelah mendapat dukungan Muhammad Ibnu Sa’ud (pendiri kerajaan Saudi Arabia) dan putranya Abdul Aziz. Faham Wahabi ini wajib diajarkan di madrasah – madrasah dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi di negara Saudi Arabia sampai saat ini. Pemikiran Wahabi mempunyai pengaruh pada perkembangan pemikiran pembaharuan Islam abad 19 dan 20.

KEBANGUNAN PERJUANGAN MUHAMMAD BIN ABDUL WAHAB

Jauh pada masa silam pada abad ke-14 M, seorang ulama daripada mazhab Hanbali di Damsyik bernama Taqiyyuddin Abul-Abbas Ahmad ibn Abdul-Halim ibn Abdus’-Salam ibn Abdullah ibn Muhammad ibn Taymiyyah al-Harrani al-Hanbali (1263-1328 M), biasa disebut Ibn Taymiyyah melakukan tentangan yang hebat terhadap sufisme dan segala yang bidaah (mengada-adakan dalam agama) yang banyak dilakukan oleh umat Islam pada masa itu. Beliau menentang taklid secara membuta-tuli, yakni mengikut saja sesuatu yang dikatakan orang tanpa mengetahui dalilnya. Juga beliau menafikan berlakunya ijmak secara hakiki selepas zaman sahabat yang dipandang sebagai salah satu sumber hukum Islam, yang berupa kesepakatan semua mujtahid dalam kalangan umat Islam pada suatu masa sesudah kewafatan Rasulullah S.A.W. atas sesuatu hukum syarak berkenaan dengan sesuatu kes.

Mengikut mazhab Hanbali, ijmak hakiki hanya mungkin berlaku pada zaman Sahabat Nabi, iaitu pada masa mujtahid Islam tinggal di daerah yang belum begitu luas, seperti keluasan wilayah negara Islam pada kemudian hari.

Diriwayatkan bahawa Imam Ahmad ibn Hanbal, pengasas mazhab Hanbali, pernah mengatakan bahawa orang yang ada ijmak adalah dusta; mengatakan sesiapa yang mendakwa ada ijmak dia itu pendusta; boleh jadi manusia berselisih pendapat-yang ia tidak ketahui-dan tidak sampai kepadanya; sepatutnya ia mengatakan: Kami tidak ketahui ada orang yang berlainan pendapat (Khallaf: 49).

Pada zaman kawasan umat Islam itu telah begitu meluas dan bahkan tersebar di seluruh dunia kita tidak mungkin mengetahui adanya ijmak. Sebab keputusan para ulama di suatu negeri belum tentu disetujui oleh para ulama di negeri lain.

Ibnu Taymiyyah hanya mengemukakan Al-Qur’an dan As-Sunnah (Al-Hadist) sebagai sumber Islam yang mesti dituruti. Segala yang tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan al-Hadist dipandangnya bidaah yang mesti dibasmi. Pendapat Imam Ghazali dalam beberapa masalah pun dibantahnya. Memuliakan kuburan para wali dan orang keramat yang banyak dilakukan orang pada masa itu ditentangnya dengan bersungguh-sungguh. Meminta kepada Allah dengan perantaraan arwah para wali dan orang keramat yang sudah mati dipandangnya sebagai perbuatan syirik, menyekutukan Allah. Ibn Taymiyyah dengan kerasnya membasmi perbuatan syirik semacam itu. Pendapat Ibn Taymiyyah didokong oleh muridnya Ibn al-Qaiyyim al-Jawziyah. Kemudian pada abad ke-18 di Tanah Arab muncul pula seorang ulama yang mengikuti garis berfikir Ibn Taymiyyah yang bernama Muhammad ibn Abdi’l-Wahab (1703-1787 M). Beliau berjuang membersihkan negerinya daripada segala perbuatan bidaah dan khurafat yang banyak mempengaruhi kaum muslimin di sekitarnya. Gerakan dan fahaman inilah kemudiannya dinamai orang aliran Wahabi, sempena nama pengasasnya, Muhammad ibn Abdi’l-Wahab.

Dari tempat yang terpisah-Arabia Tengah-daripada pergaulan bangsa-bangsa lainnya ia memulakan kempen menghapuskan bidaah. Dengan bantuan keluarga Saud yang berkuasa di Najed ajaran ini berkembang. Kuburan keramat disamaratakan. Perbuatan yang dulunya dipandang makruh yang menurut pendapat mereka haram seperti menghisap rokok dan perbuatan yang selama ini dikerjakan oleh kaum muslimin tetapi tidak pernah dilakukan oleh Nabi s.a.w. dibasminya dengan kuasa pemerintah. Mereka yang memeranginya diperangi. Mereka percaya bahawa penentang-penentang ini ialah orang yang menderhaka kepada Allah. Lagi pula “membasmi kemungkaran dengan tangan” adalah perkara yang diperintahkan oleh Rasulullah s.a.w. Di dalam peperangan dengan pihak lawan, kadang-kadang mereka menang dan kadang-kadang pula kalah.

Pada permulaan gerakan Muhammad bin Abdul Wahab bertindak banyak tentangan daripada berbagai-bagai golongan umat Islam, banyak orang yang tidak setuju atas pendiriannya yang tidak mengenal kompromi dengan bidaah. Lebih-lebih lagi pihak penjajah Barat berusaha menghasut umat Islam supaya menentang gerakan ini, kononnya mereka telah terkeluar daripada Islam, Mereka menakut-nakutkan tokoh-tokoh Islam akan bahaya gerakan ini. Sebenarnya merekalah yang takut akan gerakan ini, sebab salah satu matlamat perjuangannya menghancurkan kuasa “kafir” terhadap umat Islam.

Namun lambat-laun, kadang-kadang setelah perjuangan ini dapat difahami dengan baik maka fahaman ini dapat diterima di berbagai-bagai kawasan Islam. Bukan hanya di Tanah Arab, tetapi di kawasan lainnya juga. Biasanya fahaman ini menimbulkan gerakan yang lebih agresif menentang pemerintahan yang menurut mereka berbuat tidak sesuai dengan ajaran Islam. Demikianlah fahaman ini menjadi pendorong kepada berbagai-bagai gerakan di India pada permulaan abad ke-19 menentang pemerintahan kesultanan Mughal yang kolot, pemerintahan Sikh dan Inggeris yang dipimpin oleh Syariatullah dan beberapa tokoh lainnya.

Pada pertengahan sampai penghujung abad ke-19 fahaman ini menjadi daya penggerak bagi gerakan yang dipimpin oleh Syeikh Muhammad ibn Ali al-Sanusi di Cirenaica. Al-Sanusi mendirikan suatu kerajaan Islam di seluruh Libya sebagai protes terhadap kerajaan Uthmaniah yang telah jauh menyimpang daripada ajaran Islam yang sebenarnya.

Gerakan al-Mahdi muncul pula di sebelah timur Sudan yang memberontak terhadap pemerintahan Turki-Mesir, yang juga dipandang pemerintahan yang sudah jauh menyimpang daripada ajaran Nabi s.a.w. yang sebenarnya.

Gerakan seperti ini juga muncul di Nusantara terutama diwakili oleh golongan Pidari (Padri) di Sumatera Barat (tanah Minangkabau). Gerakan ini dimulai ketika tiga orang tokoh kembali dari Tanah Suci: Haji Miskin, Haji Sumanik, dan Haji Piobang. Mereka mengembangkan dan menyebarkan fahaman ini di daerah masing-masing. Mereka berjuang membasmi bahagian adat Minangkabau yang bertentangan dengan hukum Islam, serta bermaksud menghapuskan kebiasaan yang dilarang oleh Islam, seperti meminum tuak, menghisap madat, menyabung ayam, berjudi, merokok (ulama Hanbali di Hijaz menfatwakan bahawa merokok hukumnya haram), dan memotong gigi. Kaum wanita dimestikan menutup seluruh bahagian tubuh, dan lelaki dimestikan memelihara janggut (mengikut pendapat ulama Hanbali memelihara janggut bagi lelaki adalah wajib), dan memakai serban. Golongan Pidari ini membiasakan diri memakai pakaian putih; kerana itu mereka disebut juga “Kaum Putih”.

Pada mulanya usaha pembasmian dilakukan dengan cara damai. Lambat-laun beralih kepada memestikan. Pengikutnya pun semakin bertambah banyak juga terutama di wilayah Agam.

Pemimpin yang mula-mula menganjurkan polisi keras ialah Tuanku Nan Renceh, yang kemudian diikuti oleh tujuh orang “tuanku” lainnya. Di setiap kampung yang dapat mereka kuasai, mereka melantik seorang “Tuanku Imam” dan seorang “Tuanku Khalifah” yang diserahkan tugas menjalankan syariat Islam. Orang yang lalai melakukan salat didenda lima suku (satu suku ialah lebih kurang 50 sen). Akan tetapi jika pelalaian itu dilakukan terus-menerus, orang itu dihukum mati. Orang yang menjual tembakau atau rokok didenda lima suku. Dan orang yang berpakaian dengan tidak menurut aturan agama didenda dua suku. Demikian seterusnya, mereka menjaga agar syariat Islam itu ditaati.

Dari Alahan Panjang gerakan pidari dikembangkan oleh Datuk Bandaharo dan Malim Basa. Di bawah pimpinan Malim Basa, kaum Pidari mendirikan kampung Bonjol. Kampung ini dijadikan pusat kekuatan Pidari yang diperintah oleh empat orang pemimpin yang disebut “Barampek Silo” atau “Raja Nan Ampek”. Salah seorang daripada Raja Nan Ampek itu ialah Malim Basa sendiri yang kemudian dikenal dengan nama Tuanku Imam Bonjol. Dari Bonjol kaum pidari meneruskan penguasaan pentadbirannya ke daerah-daerah lainnya. Pidari muncul sebagai suatu kuasa politik yang kuat yang berkonfrontasi dengan penjajahan Belanda.

Pada suatu ketika seorang pemimpin Pidari, Tuanku Pasaman, juga disebut Tuanku Lintau, mengundang kaum bangsawan Minangkabau untuk membicarakan soal-soal agama di Koto Tangah. Dalam pertemuan ini setelah jamuan selesai, para pembesar Minangkabau itu dibunuh, kerana mereka dituduh sebagai pengkhianat terhadap agama dan rakyat, sebab mereka berbaik-baik dengan penjajah asing yang kafir. Hanya seorang kerabat diraja bersama seorang cucunya yang sempat menyelamatkan diri dan lari ke Kuantan, Riau (Sumatera). Menghadapi kenyataan ini, golongan yang kuat berpegang kepada adat dan kurang kepada agama yang diwakili oleh Tuanku Suroaso pergi ke Padang meminta bantuan Belanda (10 Februari 1821 M). Hal ini adalah satu peluang yang baik bagi Belanda. Mereka mempunyai peluang untuk meningkatkan kempen antiPidari. Belanda mula menyerang secara ketenteraan kedudukan kaum Pidari dan dengan demikian bermulalah Perang Pidari (1822 M).

Demikianlah perang Pidari berlangsung dengan hebat antara kedua-dua belah pihak, dengan mengambil korban yang besar pada kedua-dua belah pihaknya, harta benda dan nyawa. Dengan bersusah-payah dan dengan korban yang besar, Belanda akhirnya menguasai Bonjol, iaitu pusat kekuatan kaum Pidari. Pada 28 Oktober 1837 M Tuanku Imam Bonjol menyerah kepada Belanda. Belanda lantas membawa pahlawan itu ke Jakarta. Dari sana ia dibuang ke Cianjur (Jawa barat) kemudian ke Ambon. Dari Ambon dipindahkan lagi ke Sulawesi Utara. Dan di sanalah, di kampung Lutuk Pahlawan itu berpulang ke alam baqa pada 6 November 1864 M. Republik Indonesia telah melantiknya sebagai Pahlawan Nasional.

Di Tambuse (Tembusai), wilayah Rokan, timbul pula perlawanan yang dipimpin oleh Pakih Saleh atau Tuanku Tambuse, seorang yang kuat berpegang kepada ajaran Muhammad bin Abdul Wahab oleh serangan Belanda yang kuat, Tuanku Tambuse mengundurkan diri ke Padang Lawas (Tapanuli Selatan). Selepas itu tidak terdengar beritanya lagi. Akhirnya nasib Tuanku Tambuse tidak diketahui.

Satu babak daripada sejarah fahaman ini di Nusantara telah selesai, iaitu dari segi perjuangan bersenjata. Namun dari segi dakwah dan pengajarannya tidak mati. Meskipun di Minangkabau tidak terdengar lagi kewujudan fahaman itu, namun di sana sini di luar wilayah itu ia tumbuh sebagai fahaman keagamaan. Para pengikut pidari yang tidak tertangkap mencari tempat baru di seluruh kepulauan Melayu untuk meneruskan pengembangan fahamannya, sebahagian mereka ada juga yang mendarat di Semenanjung Tanah Melayu. Di sana sini mereka membuka pengajian. Dan di sana sini pula ajaran mereka ini kadang-kadang berbenturan dengan “ajaran Islam” yang ada pada ketika itu. Kuasa politik mereka telah hancur, namun sebagai pembaharuan agama ia terus berjalan.

Perkembangan Islam di Minangkabau memang menduduki tempat yang unik. Di samping kekukuhan Islam di bumi ini, ia juga memainkan peranan penting dalam dakwah Islamiah di bumi Nusantara ini. Meskipun Islam berakar-umbi dengan teguhnya di bumi Minangkabau, adat lama yang berdasarkan sistem perkerabatan yang unilateral-matrilineal (satu pihak mengikuti garis ibu) masih tetap bertahan. Kelompok yang melampau daripada pendukung adat lama inilah pula yang dengan keras menentang perubahan yang dibuat oleh kaum Pidari. Dan peluang ini digunakan oleh penjajah Belanda untuk mencekamkan kukunya di Minangkabau (Sumatera Barat). Dalam beberapa perkara, adat lama “nan tak lapuk dek hujan, tak lekang dek panas” bertolak belakang dengan undang-undang Islam. Sistem kekeluargaan yang unilateral-matrilineal itu sudah tentu bertentangan dengan sistem kekeluargaan Islam yang bilateral-parental (dua pihak; keibubapakan) itu. Harta yang diturunkan kepada kemanakan sudah tentu berlawanan dengan penurunan harta kepada anak di dalam hukum Islam. Tanggungjawab mamak untuk kemanakannya sudah tentu tidak sejalan dengan tanggungjawab ayah kepada anak mengikut hukum Islam. Lebih-lebih lagi perkara yang nyata haramnya di dalam hukum Islam, menjadi amalan sehari-hari masyarakat pada masa praPidari, seperti menyabung ayam dan berjudi.

Walau bagaimanapun, peranan orang Minangkabau dalam penyebaran dakwah Islamiah di Nusantara amat ketara. Guru-guru agama yang berasal dari Minangkabau bertebaran di seluruh Nusantara.

Selain itu, Tanah Minangkabau merupakan salah satu pusat pembaharuan Islam yang penting di Kepulauan Melayu ini. Selepas Perang Pidari, gerakan pembaharuan Islam di Minangkabau tidak terhenti. Seruan tajdid dari Timur Tengah terus bergema dan digemakan. Nama-nama seperti Haji Rasul (Haji Abdul Karim Amrullah), Syeikh Muhammad Jamil Jambek, Syeikh Abdullah Ahmad, dan Syeikh Tahir Jalaluddin ialah tokoh-tokoh yang lantang mendakwah ke arah pembaharuan. Nama yang terakhir ini ialah tokoh tajdid yang terkenal di Semenanjung Tanah Melayu. Allahyarham HAMKA juga seorang tokoh pembaharuan yang berasal dari Minangkabau. Muhammad Natsir, bekas Ketua Masyumi dan Ketua Dewan Dakwah Indonesia juga keturunan Minangkabau.

Walau bagaimanapun, Kaum Tua tidak pernah mengalah di Minangkabau. Di samping Muhammadiah yang berkembang pesat dan pusat-pusat pengajian lain yang berdasarkan pembaharuan, golongan Syafiiyah masih lagi bertahan dengan gigih. Persatuan Tarbiah Islamiah (PERTI) mempunyai pengikut yang agak ramai. Salah seorang tokoh masa kini pertubuhan itu ialah Haji Sirajuddin Abbas. Buku-bukunya banyak tersebar di Indonesia dan Malaysia. Sayangnya menurut penilaian orang ramai di bawah pentadbiran Sukarno, beliau bekerjasama dengan tokoh-tokoh komunis. Dengan kejatuhan Sukarno, pengaruhnya tergencat.

Nyak Diwan, seorang tokoh politik PERTI yang berasal dari pantai Barat Aceh dalam satu perbualan dengan O. K. Rahmat di Bandung, Indonesia (1963) mengatakan bahawa “bagi PERTI bermazhab Syafii adalah mutlak”.

Di Tanah Arab sendiri, fahaman Muhammad bin Abdul Wahab terus menerus meluaskan daerah pengaruhnya. Keluarga Saudi yang tadinya berkuasa di Najed dan beberapa kali meluaskan wilayah kekuasaannya, pada tahun 1925 M menakluki seluruh Jazirah Arab kecuali Yaman dan beberapa daerah perlindungan Inggeris di bahagian selatan (dewasa ini termasuk ke dalam wilayah Yaman Selatan). Tetapi setelah raja Saudi mempunyai kekuasaan yang demikian luas dan setelah banyak mengadakan hubungan dengan dunia luar, tindakannya yang keras menentang bidaah mulai agak lunak.

Sekarang ini kerajaan Saudi tanpa segan meskipun masih berhati-hati-menerima pengaruh Barat, yang dulunya sangat ditentang oleh kaum generasi pertamanya. Dengan bantuan kekayaan minyaknya sekarang ini berlaku dengan pesatnya proses modenisasi di dalam teknologi, pendidikan, budaya, ekonomi dan sebagainya di dalam negara Saudi Arabia itu. Pendekatan yang digunakan sekarang agaknya sedang mendapat tafsiran baru.

Betapa semakin melemahnya  (suruhan berbuat baik dan tegahan daripada berbuat jahat) terasa didalam contoh ini. Dalam beberapa kali pengalaman kami mengunjungi tanah suci Makkah, iaitu ketika pergi ke Masjidil Haram untuk bersalat Subuh selalu kami jumpai penjaga-penjaga gerai dan kadam rumah penginapan tidur dengan nyenyaknya. Dan ketika kami pulang dari masjid mereka masih berada di situ meringkuk kedinginan. Syukur, pada kunjungan kami pada tahun 1986, pihak kerajaan telah melakukan kempen bersalat jemaah di masjid. Ketika hampir waktu salat yang lima waktu, kereta dengan pembesar suara mengajak khalayak ramai untuk melakukan salat jemaah di masjid.

2)      Jamaluddin Al Afghani (1839 – 1897)

 

Pemikiran Wahabi diteruskan oleh Jamaluddin Al Afghani yang lahir di Afghanistan tahun 1839 dan meninggal di Istanbul, Turki tahun 1897. Jamaluddin Al Afghani dalam perjalanan hidupnya tidak menetap dalam suatu daerah tertentu, tetapi pindah dari suatu negara ke negara yang lain.

Setelah pemikirannya dibatasi di negeri kelahirannya (Afghanistan), Ia pergi ke India tahun 1869. Di India, Ia juga merasa tidak bebas bergerak karena negara ini jatuh ke tangan Inggris, sewaktu Ia pindah ke Mesir tahun 1871 dan Ia menetap di Cairo, semula ia menjauhi persoalan politik dan memusatkan perhatian pada bidangUbudiyah dan sastra Arab, tempat tinggalnya menjadi tempat pertemuan murid dan pengikutnya.
Di antara murid Al Afghani ada yang kemudian menjadi pemimpin terkemuka seperti Muhammad Abduh. Tahun 1876 Al Afghani mulai terlibat dalam urusan politik dan pada tahun 1879 berhasil membentuk partai Al Hizb Al Wathani (Partai Nasional). Karena pengaruhnya yang besar dalam berbagai bidang, Inggris yang menguasai Mesir pada saat itu mengusir Al Afghani keluar dari Mesir tahun 1879. Masa delapan tahun menetap di Mesir dapat membangkitkan gerakan pemikiran modern di Mesir.

Atas undangan Sultan Abdul Hamid, Al Afghani selanjutnya pindah ke Istanbul Turki sampai akhir hayatnya. Pemikirannya yang modern dalam bidang agama dan politik yang selalu mengedepankan perlunya negara demokrasi, dan itu bertentangan dengan bentuk pemerintahan yang dijalankan Sultan yaitu otokrasi. Sampai gerakan Al Afghani dibatasi dan akhirnya tidak dapat keluar dari Istanbul, Al Aghani wafat pada tahun 1897.

3)      Muhammad Abduh (1849 – 1905)

 

Pemikiran Muhammad Abduh yang menonjol adalah faktor penyebab kemunduran umat Islam. Salah satunya adanya faham kejumudan yang tidak mau menerima adanya perubahan yang dipengaruhi oleh berbagai macam bid’ah yang membuat umat Islam lupa akan ajaran Islam yang sebenarnya yaitu Al Qur’an dan Hadits.

Oleh karena itu pembekuan pintu Ijtihad perlu dihilangkan, dan kembali kepada sunnatullah dengan cara memfungsikan peran akal yang mempunyai kedudukan yang tinggi di dalam Al Qur’an.

Abduhisme ialah suatu fahaman dan gerakan pembaharuan di dalam tubuh kaum muslimin. Gerakan ini mempunyai persamaan dengan fahaman Muhammad bin Abdul Wahab terutama berkenaan dengan pendapatnya untuk kembali kepada ajaran Al-Qu’ran dan al-Sunnah yang murni, meninggalkan bidaah dan khurafat dan tidak keberatan mempertikaikan ijmak. Mungkin fikiran yang dikemukakan oleh Muhammad bin Abdul Wahab sedikit sebanyak mendorong aliran ini untuk bergerak cergas menyebarkan fahamannya.

Fahaman dan gerakan ini dimulai oleh Syed Jamaluddin al-Afghani (1839-1897 M). Dilahirkan di Kabul, Afghanistan, beliau ialah ulama yang berfahaman luas. Beliau berjasa besar dalam mempertahankan Islam secara moden terhadap serangan unsur-unsur jahat Barat. Beliau penganut gerakan Pan-Islamisme yang bertujuan mempersatukan pemerintahan Islam dan membangunkannya untuk melawan pengaruh dunia barat. Ke dalam tubuh umat Islam sendiri beliau menghentam kecurangan dan kebinasaan serta kehancuran yang berlaku dalam kalangan kaum muslimin. Kaum muslimin hendaklah membersihkan dirinya daripada kesesatan dan unsur-unsur luar Islam yang merosak. Kaum muslimin mestilah maju dengan fikiran moden. Negara Islam mestilah maju ke depan untuk mempertahankan kesucian agama.

Fahamannya ini tidak mendapat sambutan di Iran dan di Turki, namun berpengaruh besar kepada fahaman pembaharuan yang timbul kemudiannya di Mesir. Syed Jamaluddin adalah penentang aliran materialisme yang dianut oleh kaum Dahriyah (Materialis-Ateis).

Seorang pengikut beliau yang penting di Mesir ialah Syeikh Muhammad Abduh (1849-1905). Beliau ialah seorang ulama besar lagi moden. Seorang tokoh yang terkenal membasmi bidaah dan khurafat, serta menentang taklid yang banyak melemahkan umat Islam. Beliau seorang ahli tafsir (mufasir), profesor di Universiti Al-Azhar.

Mula-mula beliau belajar di al-Azhar mengikut cara lama. Setelah al-Afghani datang ke Mesir, Muhammad Abduh menjadi salah seorang muridnya yang cerdas. Dewasa itulah Muhammad Abduh menerima aliran baru tentang pelajaran agama, ilmu pengetahuan, dan politik. Angin segar mulai bertiup di Mesir.

Ketika terjadi pemberontakan Arabi di Mesir (1881-1882 M), Muhammad Abduh dituduh turut campur tangan dalam pemberontakan itu. Beliau ditangkap lalu dibuang ke Beirut. Kemudian, beliau pergi ke Paris. Di sana beliau belajar dengan gurunya, Jamaluddin al-Afghani yang telah dihalau lebih dahulu dari Mesir. Kemudian Muhammad Abduh kembali ke Beirut. Tidak lama selepas itu beliau mendapat pengampunan daripada Raja Mesir, lalu beliau pun kembali ke tanah tumpah darahnya.

Dewasa itu kaum muslimin terbahagi kepada dua golongan yang saling bertentangan. Pertama ialah golongan kolot yang ingin tinggal di dalam lembah kebodohan dan mengikuti tradisi lama turun-temurun, tidak peduli apakah perkara berkenaan sesuai dengan ajaran Islam atau tidak. Golongan kedua ialah para terpelajar Barat. Mereka tidak mahu tahu tentang Islam. Bahkan tidak kurang antaranya yang mencela dan mengatakan bahawa Islam adalah penghalang untuk mencapai kemajuan bagi pemeluknya.

Pada saat itulah Muhammad Abduh membangun golongan baru, yang berfahaman mengetengahi kedua-dua golongan itu. Beliau menghendaki agar ilmu pengetahuan Barat sesuai dengan perintah Islam-mestilah dipunyai oleh umat Islam, tetapi dengan berpegang teguh kepada prinsip-prinsip agama yang sejati. Kemudiannya, Muhammad Abduh dilantik oleh Raja menjadi Hakim, kemudian menjadi Mufti Mesir, dan menjadi pensyarah di al-Azhar, memberi kuliah di dalam ilmu tafsir.

Oleh kerana fahamannya yang revolusioner di dalam agama dan kadang-kadang bertentangan dengan ijmak, beliau dipandang murtad oleh beberapa orang ulama. Keadaan ini banyak menghalang Muhammad Abduh dalam menyebarluaskan pendiriannya.

Dengan memerhatikan tulisan, ceramah, dan kuliahnya, maka program pembaharuannya dapat disimpulkan sebagai berikut:

(i) Membersihkan Islam daripada unsur-unsur yang salah, bukan Islam dan bidaah.

(ii) Pembaharuan pendidikan yang lebih tinggi dan tidak perlu malu mengambil pengetahuan Barat asal saja tidak bertentangan dengan ajaran Islam yang hakiki, untuk maslahat kaum muslimin.

(iii) Merumuskan ajaran Islam menurut cara berfikir moden, sebab Islam itu sesungguhnya ialah agama yang sesuai dengan segala zaman dan tempat.

(iv) Pembelaan agama Islam terhadap pengaruh Barat dan serangan daripada pihak umat Kristian.

Melalui para siswa yang belajar di al-Azhar, kitab karangannya dan majalah al-Manar (Mercu Suara) yang diterbitkan oleh para pengikut fahaman Abduh itu tersiar di seluruh dunia Islam.

Fahaman pembaharuan Abduh dilanjutkan oleh murid-muridnya dan para pengikutnya yang dipimpin oleh seorang pengikutnya, orang Syria, iaitu Rasyid Rida. Para pengikutnya menerbitkan majalah al-Manar di Kaherah, yang menyiarkan fahaman dan pendapat mereka dalam berbagai-bagai masalah.

Fahaman Abduh mendapat sambutan pula di kebanyakan negara Islam. Di negara-negara itu muncullah berbagai-bagai gerakan pembaharuan menurut teladan Abduh.

Berbeda dengan aliran Muhammad bin Abdul Wahab yang menentang keras pengaruh Barat dan penjajahannya dan menimbulkan gerakan militan di negara muslimin, gerakan pembaharuan Abduh dalam menjalankan cita-citanya tidak sentiasa berkonfrontasi dengan Barat. Bahkan mereka menggalakkan umat Islam agar mengambil pengetahuan dan teknologi Barat untuk faedah kaum muslimin. Bagi mereka tidak akan dapat bersaingan dengan Barat tanpa peralatan yang digunakan oleh Barat itu sendiri. Dahulu pun umat Islam telah menguasai teknologi dan sains. Mengapa sekarang tidak?

Dr. Harun Nasution mengatakan bahawa bagi Muhammad Abduh tidak cukup hanya kembali kepada ajaran asal seperti yang dianjurkan oleh Muhammad bin Abdul Wahab. Zaman dan suasana umat Islam sekarang telah jauh berubah daripada zaman dan suasana umat Islam pada zaman klasik. Ajaran asli itu perlu disesuaikan dengan keadaan moden sekarang (Harun Nasution: 63).

Pendapat Ibnu Tarmiyyah tentang ajaran Islam terbahagi kepada dua kategori, iaitu ibadat dan muamalat telah ditonjolkan oleh Muhammad Abduh. Ajaran Islam yang terdapat di dalam Al-Qu’an dan As-Sunnah tentang ibadat bersikap tegas dan terperinci. Sebaliknya ajaran tentang hidup kemasyarakatan merupakan prinsip-prinsip umum yang tidak terperinci dan hanya sedikit jumlahnya. Oleh kerana prinsip-prinsip itu bersifat umum tanpa perincian, Muhammad Abduh berpendapat bahawa semua itu dapat disesuaikan dengan tuntutan zaman (Harun Nasution: 63, 64).

Untuk menyesuaikan dasar-dasar itu dengan situasi moden perlu diadakan interpretasi baru, dan untuk itu pintu ijtihad perlu dibuka, yang bukan hanya boleh dilalui, bahkan penting dan perlu diadakan. Walau bagaimanapun, bukan setiap orang boleh melakukan ijtihad. Hanya orang yang memenuhi syarat yang diperlukan yang boleh melakukan ijtihad. Yang tidak memenuhi syarat mestilah mengikuti pendapat mujtahid yang fahamannya disetujuinya. Ijtihad mestilah langsung bersumberkan Al-Qur’an dan Al-Hadis sebagai sumber asli ajaran Islam (Harun Nasution: 64).

Ini berkenaan dengan soal muamalat, yakni hubungan hamba dengan hamba. Adapun berkenaan dengan soal ibadat (hubungan antara hamba dengan Allah), ia tidak menghendaki perubahan menurut zaman. Oleh sebab itu, ibadat bukanlah lapangan ijtihad sebenarnya untuk zaman moden ini (Harun Nasution: 64).

Di dalam bidang akidah, beliau berpendapat bahawa manusia mewujudkan perbuatannya dengan kemahuan dan usahanya sendiri tanpa melupakan bahawa di atasnya masih ada kuasa yang lebih tinggi. Pendapat yang mengatakan bahawa umat Islam mundur sebab menganut fahaman jabariah, yang menilai manusia sebagai makhluk yang terpaksa, dapat disetujuinya. Kepercayaan akan qada dan qadar sekarang ini telah diselewengkan hingga menimbulkan keruntuhan, padahal sebenarnya kepercayaan itu mengandungi unsur yang dinamik yang membuat umat Islam pada zaman permulaannya dapat membawa Islam sampai ke Sepanyol dan mampu melahirkan tamadun yang tinggi (Harun Nasution: 66).

Muhammad Abduh dan gerakannya tidak sentiasa berkonfrontasi dengan kultur dan peradaban Barat. Beliau membezakan unsur peradaban Barat yang membina dengan unsur yang merosak. Yang membina dan tidak bertentangan dengan Islam hendaklah diambil. Yang merosak dan berlawanan dengan Islam hendaklah dibuang.

Oleh sebab itu, penjajah seakan-akan tidak memusuhi gerakan pembaharuan aliran Abduh ini. Di tanah jajahannya ia dibiarkan berkembang. Walau bagaimanapun, golongan tradisional tetap juga memusuhi gerakan pembaharuan ini. Di Nusantara bersama-sama dengan golongan pengikut Muhammad bin Abdul Wahab dan golongan pembaharuan yang lain, mereka biasanya disebut Kaum Muda yang berlawan dengan Kaum Tua. Persengketaan ini memang menguntungkan penjajah. Sebab itu mereka menggalakkannya.

Di al-Jazair, tubuh gerakan “Perkumpulan Ulama al-Jazair” (Jamiyatul-Ulama al-Jazairiyin) yang bertujuan menyebarluaskan fahaman pembaharuan dan menentang pertapaan seperti yang diajarkan oleh kaum Sufi. Golongan ini memberi penerangan tentang fahamannya dengan lisan dan tulisan. Mereka mempunyai majalah berkala, al-Syihab dan harian al-Basyir, sebagai terompet untuk menyiarkan fahaman mereka. Mereka mendirikan sekolah rendah, yang di dalamnya Al-Qur’an diajarkan sebagai mata pelajaran dasar. Dapat dikatakan, aliran ini mendapat kejayaan yang gemilang. Namun setelah kematian tokoh Abdul Hamid ibn Badis (1938 M), perkumpulan ini kehilangan pemimpin yang berwibawa.

Meskipun beliau dapat diganti dengan al-Basyir al-Ibrahimi, yang terakhir ini tidak setangkas tokoh yang digantikannya. Di daerah-daerah lain di Afrika, fahaman ini juga mendapat sambutan.

Di Indonesia, fahaman pembaharuan Abduh-al-Manar juga mendapat sambutan yang cukup baik dan memberi dorongan kepada pemuka Islam untuk melakukan gerakan yang sama seperti yang telah dilakukan oleh Abduh dan para pengikutnya. Suatu pertubuhan yang menganut aliran pembaharuan didirikan pada tahun 1912 M (18 Disember 1912). Pertubuhan ini, Muhammadiah, diasaskan oleh Kyai Haji Ahmad Dahlan di Yogyakarta. Dengan cepatnya Muhammadiah membentuk cawangannya di seluruh Indonesia.

Di dalam lapangan hukum Islam pertubuhan ini membentuk sebuah majlis tarjih (penguatan) yang dianggotai oleh ulama yang dipandang tinggi dan mempunyai cukup pengetahuan di dalam agama. Tugas majlis ini adalah untuk mencari hukum yang lebih kuat berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah antara berbagai-bagai masalah khilafiah (yang diperselisihkan oleh para ulama). Keputusan Majlis Tarjih diharapkan akan diamalkan oleh para ahlinya dan umat Islam umumnya.

Selain tarjih, untuk membantu pimpinan pertubuhan sebagai unsur pelaksana, Muhammadiah juga membentuk Majlis: Tabligh, Pendidikan dan Kebudayaan, Pendidikan Tinggi, Penelitian dan Pengembangan, Pembina Kesejahteraan Umat, Pustaka, Wakaf dan Kehartabendaan, dan Ekonomi.

Juga mereka membentuk badan pembantu pimpinan pertubuhan yang bertugas sebagai unsur penunjang. Badan-badan ini ialah Lembaga Studi dan Pengkajian, Lembaga Pengembangan Masyarakat, Lembaga Dakwah Khusus, Pusat Informasi dan Dokumentasi, Badan Pendidikan Kader, dan Badan Koordinasi Angkatan Muda. Di samping itu, mereka juga mempunyai Badan Khas yang bertugas membantu pimpinan dalam bidang pengawasan.

Dengan memerhatikan banyaknya badan pembantu ini, tergambar pada fikiran kita betapa besar aspek kehidupan manusia yang dijelajahi oleh pertubuhan ini. Dalam banyak perkara memang berjaya. Bukan saja organisasinya melingkupi seluruh wilayah Indonesia, tetapi juga mereka telah banyak berbuat jasa untuk umat Islam di Indonesia, sama ada di dalam kultur material mahupun di dalam pemikiran dan ideologi, sama ada di dalam sikap hidup mahupun pemahaman terhadap Islam.

Di dalam hukum-hakam, Muhammadiah tidak terikat kepada salah satu mazhab fikah. Dalam beberapa kes juga mereka tidak tunduk kepada ijmak sukuti para sahabat. Mereka lebih banyak berpegang-setelah Al-Qur’an-kepada Sunnah Nabi s.a.w.

Di dalam lapangan sosial, mereka mengimbangi pekerjaan kebajikan daripada misionari agama Kristian. Mereka mendirikan rumah perawatan, rumah-rumah sakit, dan sebagainya. Mereka mengumpul-kan zakat dan fitrah lalu menyerahkannya kepada fakir miskin dan yang berhak lainnya. Di Indonesia, tidak ada larangan kepada pihak swasta untuk memungut zakat dan fitrah.

Dalam lapangan pendidikan, mereka mendirikan sekolah umum yang berdasar kepada agama di samping sekolah agama yang mengajarkan ilmu pengetahuan umum. Dari sejak sebelum perang Muhammadiah telah mempunyai sekolah rendah, sekolah menengah dan sekolah guru yang nilainya tidak kurang daripada sekolah kerajaan yang setaraf dengannya. Bezanya dengan sekolah umum kerajaan ialah sekolah Muhammadiah mempunyai asas Islam. Sekarang pertubuhan itu telah mempunyai universiti yang mengajarkan berbagai-bagai cawangan ilmu.

Di sini cukup jelas bahawa aliran pembaharuan yang amat berpengaruh pada kewujudan Muhammadiah ialah aliran Abduh. Banyak garis panduan Abduh yang dituruti. Di dalam akidah, mereka mengikuti aliran Salaf yang lebih mendekatkannya dengan aliran Muhammad bin Abdul Wahab. Di dalam fikah mereka tidak mengikut sesuatu mazhab tertentu, tetapi mentarjihkan sesuatu pendapat. Sumber undang-undang dititikberatkan kepada Al-Qur’an dan al-Sunnah. Mereka menolak taklid. Di dalam beberapa kes mereka terkeluar daripada mazhab yang empat, kerana mengikuti al-Sunnah, seperti salat tarawih sebanyak lapan rakaat. Bahkan mereka terkeluar daripada nas al-Sunnah yang zahir tatkala mereka menentukan puasa dan berbuka dengan cara hisab.1 Dalam hal ini, sila rujuk penjelasan berkenaan dengan “Keyakinan dan cita-cita hidup Muhammadiah” yang antara lain menyebut setelah menegaskan dasar Al-Qur’an dan As-Sunnah “dengan menggunakan akal fikiran sesuai dengan jiwa ajaran Islam”. Jadi, Muhammadiah tidak menolak sama sekali penggunaan akal di dalam Islam. Oleh itu, mereka tidak menonjolkan diri sebagai “Ahlus-Sunnah wal-Jamaah”.

Sikapnya yang tidak berkonfrontasi dengan penjajah meskipun mereka antipenjajahan, sikapnya mengambil sains dan teknologi dari Barat dan sikapnya yang tidak bermazhab mendekatkannya kepada Abduh dan menjauhkannya daripada Muhammad bin Abdul Wahab, meskipun pengaruh tokoh yang terakhir ini bukan tidak ada.

Muhammad Kamil Haji Abd. Majid, pensyarah Akademi Islam Universiti Malaya mencatatkan hasil temuramahnya dengan Haji Djarnawi Hadikusuma, setiausaha agung Muhammadiah di Yogyakarta bahawa walaupun K. H. A. Dahlan, pengasas Muhammadiah, tidak mendapat pengaruh secara langsung daripada Ibn Taymiyyah, tetapi semasa menuntut di Makkah beliau telah membaca tulisan Ibn Taymiyyah, Ibn Qayyim, Muhammad bin Abdul Wahab, Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, dan Rasyid Ridha (Medium, th., bil.1, m.s. 54).

Memanglah fahaman pembaharuan yang muncul di dalam dunia Islam, saling kuat-menguatkan antara satu dengan yang lain. Oleh itu andaian yang dikemukakan oleh Kami adalah suatu kemungkinan. Walau bagaimanapun, kita menolak pendapat bahawa Wahabilah unsur yang paling kuat di dalam tubuh Muhammadiah.

Salah seorang ulama Muhammadiah yang pengaruhnya amat terasa di Malaysia ialah Allahyarham Haji Abdul Malik Karim Amrullah, yang lebih dikenali dengan singkatan HAMKA. Meskipun beliau menganut fahaman Kaum Muda, namun amat tolerans kepada para pengikut as-Syafi. Meskipun beliau bukan keluaran satu pusat pengetahuan Islam di Timur Tengah, namun ilmunya tentang agama sungguh mendalam. Banyak kitab yang beliau kuasai. Ilmu beliau bukan hanya berkenaan dengan agama semata-mata, bahkan juga meliputi berbagai-bagai bidang seperti sejarah dan bahasa. Beliau juga dikenal sebagai salah seorang sasterawan Indonesia yang terkemuka. Selain buku-buku agama, beliau juga banyak melahirkan novel. Pengaruhnya di dalam perkembangan bahasa Melayu di Indonesia dan Malaysia amat terasa. Di Medan, beliau menerbitkan majalah mingguan Pedoman Masyarakat dan majalah bulanan Pedoman Islam.

Ayah beliau ialah Haji Abdul Karim Amrullah, lebih dikenali dengan panggilan “Haji Rasul”, ialah pembaharu Islam yang terkemuka. Beliau termasuk salah seorang pelopor pembaharuan selepas kaum Pidari dikalahkan. HAMKA pernah memegang jawatan Ketua Umum Majlis Ulamak Indonesia, iaitu sebuah majlis separuh kekukuhan yang merupakan pembimbing umat dan tempat kerajaan meminta fatwa berkenaan dengan masalah agama.

Di Indonesia, pengaruh Muhammadiah amat terasa. Ramai kaum terpelajar yang mengamalkan ajarannya, demikian pula dalam kalangan pegawai kerajaan dan angkatan bersenjata. Sejak mula merdeka dahulu, pihak rasmi melakukan salat Hari Raya di padang terbuka. Dan salat Tarawih kebanyakannya sekarang ini dikerjakan sebanyak lapan rakaat. Dalam kalangan angkatan tentera, talkin dan tahlil telah ditinggalkan sama sekali. Pengaruh ini diperkuatkan oleh kenyataan bahawa Presiden pertama Republik Indonesia ialah ahli Muhammadiah sejak beliau dibuang ke Bengkulu oleh Pemerintah Hindia Belanda sebelum Perang Dunia Kedua (Sukarno: 350).2 Juga Presiden kedua Indonesia, Suharto, terkait dengan Muhammadiah; beliau menjalani pendidikan menengah di Sekolah Menengah Muhammadiah di Yogyakarta (Roeder: 90).

Dewasa ini Muhammadiah merupakan suatu pertubuhan yang melingkupi seluruh kepulauan Indonesia. Dia menyebar luas, terutama di bandar dan pekan. Kaum yang berpendidikan Barat juga ramai yang menjadi ahlinya. Mereka lebih mudah menerima fahaman Muhammadiah dibandingkan dengan fahaman Kaum Tua yang Syafiiyah.

Muhammadiah banyak bergerak dalam bidang sosial dan pendidikan. Klinik, rumah anak yatim dan fakir-miskin didirikan membuat masyarakat Islam tertarik kepadanya. Dan dengan pendidikannya ia membentuk kader pimpinan yang akan menggerakkan Muhammadiah dari semasa ke semasa. Bahkan sebahagian besar tokoh yang pernah belajar di sekolah Muhammadiah menjadi penyokong yang setia kepada pertubuhan itu.

Adapun persatuan al-Islah di Perlis belum lagi meneroka bidang sosial dan pendidikan rasmi. Ia berkembang hanya melalui pengajian dan tabligh. Kami fikir ini tidak memadai untuk perkembangan masa depannya. Ia tidak mempunyai kader atau pemimpin masa depan. Bahkan juga ia kekurangan alim ulama yang dipercayai. Pandangan inilah agaknya yang mendorong Allahyarham Ustaz Umar Ismail, Pesuruhjaya PAS Perlis (Wawancara: 7 November 1988) menilai perkembangan fahaman “Sunnah wal-Jamaah” sebagai “paling tinggi hanya dapat bertahan seperti sekarang atau ia akan bertambah kecil”.

Tidak dapat dilupakan pertubuhan Islam lainnya yang terbentuk kemudian daripada Muhammadiah, juga mempunyai tujuan pembaharuan seperti al-Irsyad yang berpusat di Jakarta dan “Persatuan Islam” (PERSIS) yang berpusat di Bandung (sekarang di Bangil).

Seorang tokoh agama yang berasal dari Sudan bernama Ahmad As-Surkati, bekas penuntut al-Azhar, Kaherah, tokoh yang tertarik akan fahaman pembaharuan Muhammad Abduh telah datang ke Indonesia. Pada mulanya beliau bertugas memberi pelajaran bahasa Arab pada Jamiyatul-Khair. Beliau kemudian mengembangkan fahaman pembaharuan dan membangunkan umat Islam dari tidurnya. Dari kelompok inilah lahirnya sebuah pertubuhan yang menganut aliran pembaharuan yang dikenali dengan nama al-Irsyad (1914) di Jakarta. Pertubuhan ini menekankan kebangkitan Islam melalui persamaan hak antara seluruh bangsa menuju ukhuwah Islamiah (A. Shamad Hamid: 60).

Pertubuhan PERSIS meskipun kecil, namun telah memberikan kesan yang kuat dalam pembaharuan Islam di Indonesia yang imbasnya juga terasa di Malaysia. Hal ini disebabkan antara lain oleh ramainya kaum intelek kelulusan sekolah model Barat yang menjadi ahli atau bersimpati kepadanya. Muhammad Natsir, umpamanya, tokoh pemimpin Islam yang terkemuka di Indonesia, bekas Perdana Menteri dan Ketua Umum MASYUMI yang merupakan seorang pendokong idea PERSIS.

Pertubuhan ini (PERSIS) didirikan di dalam tahun 1922, bergiat dalam lapangan dakwah terutama untuk membetulkan sesuatu yang mereka anggap penyelewengan di dalam Islam. Salah seorang tokohnya yang amat dikenali ialah A. Hasan, atau Hasan bin Ahmad, lebih dikenali juga dengan nama Hasan Bandung. Beliau mengikuti perkembangan pemikiran Islam melalui majalah seperti al-Manar dan buku-buku yang ditulis oleh tokoh-tokoh pembaharuan.

Tokoh-tokoh pertubuhan ini berdakwah melalui lisan dan tulisan. Mereka menerbitkan risalah. Sebab itu fahamannya dikenali orang di seluruh Nusantara, di Indonesia, Semenanjung Tanah Melayu, dan Thai Selatan.

Hingga dewasa ini di Bangil, Jawa Timur, mereka menerbitkan majalah bulanan al-Muslimun yang memuat berbagai-bagai kupasan yang bersifat keagamaan dan tersebar ke seluruh Indonesia. Ada juga yang menyeberang ke Malaysia, terbukti dengan adanya penanya masalah keagamaan di dalam ruangan Gayung Bersambut.

Di dalam seminar Pemikiran Islam yang dianjurkan Fakulti Usuluddin, Akademi Islam Universiti Malaya di Kuala Lumpur (9-10 November 1987) seorang pembentang kertas kerja, mengutip dari kertas kerja seorang pelajar Indonesia di Saudi Arabia, mengatakan bahawa nama “Muhammadiah berasal daripada nama Muhammad ibn Abdi’l-Wahab”. Kononnya Muhammadiahlah satu-satunya pertubuhan yang menjalankan ajaran Wahabi.

O. K. Rahmat menolak keterangan ini dengan menerangkan bahawa nama pertubuhan itu bukan berasal daripada nama Muhammad ibn Abdi’l-Wahab, tetapi daripada Muhammad ibn Abdillah s.a.w.

Ciri-ciri khas yang ada pada perjuangan Muhammad bin Abdul Wahab, iaitu melaksanakan dengan keras,juga sifat antikekufurannya yang amat menonjol nampak dalam bentuk lain pada Muhammadiah. Untuk mencapai maksud mereka pertubuhan ini bersedia mengikuti peraturan pemerintahan penjajahan Belanda. Dalam hal ini pertubuhan itu mempunyai persamaan sikap dengan Syed Ahmad Khan dari India, tokoh yang menegakkan Universiti Islam Aligharh.

Sifatnya yang menentang kekolotan dan tradisi yang bidaah, maka pertubuhan yang bertujuan pembaharuan sukar untuk dapat berkembang di desa. Umumnya, gerakan ini tumbuh di kota, di desa fahaman kolot masih berkuasa (umumnya mereka ini disebut Kaum Tua, sukar untuk menembus perbentengannya.

Berbeza keadaannya selepas Indonesia merdeka. Pada masa ini fahaman pembaharuan dalam lapangan sosial dan pendidikan pada umumnya telah diterima oleh sebahagian besar rakyat. Walaupun mereka tidak menjadi ahli salah satu pertubuhan yang bertujuan pembaharuan, mereka tidak menolak idea pembaharuan itu.

Namun dalam lapangan keagamaan, (dan syariah) sampai sekarang pun masih tetap ada suatu batas antara golongan tua dengan golongan muda, iaitu golongan penentang taklid yang menghendaki pembaharuan, juga dalam di bidang agama.

Sedikit kita singgung pula gerakan pembaharuan di India. Di sini golongan yang lebih kurang sama haluannya dengan kelompok al-Manar ialah kelompok yang menamai dirinya “ahli Hadis”. Kelompok ini bahkan lebih tua usianya daripada kelompok al-Manar. Mereka mempunyai majalah, sekolah, dan masjid sendiri. Juga mereka menolak taqlid. Mereka hanya berpandukan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dengan radikal mereka menentang segala macam bidaah.

Kelompok pembaharuan lainnya di India ialah golongan “Nadwatul-‘Ulama” yang didirikan oleh Muhammad Syibli (meninggal 1914 M) di Lucknow. Syibli mengecam dunia Islam atas segala keburukan yang melingkupinya, dan membahas falsafah moden dengan tinjauan Islam. Golongan orang kolot menuduhnya sebagai golongan rasionalis.

4)      Rasyid Ridha (1865 – 1935)

 

Rasyid Ridha adalah murid terdekat Muhammad Abduh, Ia lahir di Al Qalamun suatu desa di Lebanon pada tahun 1865. Pemikiran Rasyid Ridha sama dengan pemikiran pendahulunya yaitu pembersihan semua tradisi yang tidak sesuai dengan Al Qur’an dan Hadits. Pemikirannya tidak banyak berbeda dengan gurunya. Perbedaannya hanya : Muhammad Abduh terlepas dari semua aliran dan mazhab, sedangkan Rasyid Ridha tetap terikat pada mazhab, yaitu mazhab Hambali, pemikiran Ibnu Taimiyah dan gerakan Wahabi.

5)      SYED AHMAD KHAN

Meskipun ramai orang Islam yang mencelanya kerana sikapnya yang bekerjasama rapat dengan pihak penjajah British, namun beliau ialah tokoh yang tidak dapat dilupakan dalam membicarakan pembaharuan Islam di India. Syed Ahmad Khan (1817-1898 M) menentang kekolotan orang Islam yang menganggap sesuatu yang bukan berasal dari agama sebagai agama. Ia menentang fikiran sebahagian muslim bangsanya yang menentang semua yang berbau Inggeris. Sebab semua yang berbau Barat itu dianggap haram, maka umat Islam jauh ketinggalan daripada teman setanah air, yakni orang Hindu yang telah banyak mengenyam pendidikan Barat. Dengan susah payah kerana tentangan daripada ulama yang berfikiran tradisional, beliau berusaha mengumpulkan wang bagi mendirikan sebuah universiti untuk kaum muslimin. Setelah mengalami berbagai-bagai rintangan, maka pada 8 Januari 1877 M dapatlah diletakkan batu pertamanya, yang dilaksanakan oleh Gabenor Jeneral Inggeris, Lord Lutton. Pada 1 Januari 1878, dibukalah fakultinya yang sulung. Pengajian tinggi ini terletak di Aligharh. Di dalamnya dipelajari ilmu pengetahuan Barat dan ilmu pengetahuan Islam. Cita-cita Ahmad Khan untuk menjadikan pengajian tinggi ini sebuah universiti baru terkabul setelah beliau meninggal dunia, iaitu di dalam tahun 1920.

Sesungguhnyalah pengajian tinggi ini tidak dapat kita lupakan jasanya di dalam membangunkan masyarakat Islam moden di India. Ia mengeluarkan ramai pemimpin Islam.

Meskipun demikian besar jasanya terhadap umat Islam di India, Syed Jamaluddin al-Afghani masih memandang kelompok Ahmad Khan sebagai golongan yang menipu umat. Tuduhan ini timbul mungkin disebabkan Ahmad Khan tidak menunjukkan kebencian kepada Inggeris, bahkan sebaliknya, beliau menunjukkan sikap yang ramah terhadap bangsa penjajah itu.

Sikap beliau yang sebenarnya ialah bahawa penjajahan British ke atas India ialah suatu fakta yang tidak dapat dimungkiri. Sebab itu mereka mengambil segi baik daripada perhubungan orang India dengan orang Inggeris. Salah satu perkara yang amat diperlukan oleh kaum muslimin ialah pengetahuan Barat. Tanpa pengetahuan itu kaum muslimin tidak akan dapat bangun semula. Mereka sentiasa ketinggalan daripada orang Hindu yang tidak segan mengambil dan menguasai pengetahuan Barat.

C. IKHWANUL-MUSLIMIN (PERSAUDARAAN ISLAM)

Pertubuhan ini dipelopori oleh al-Syahid Hasan al-Banna, seorang pejuang yang dilahirkan di Mahmudiah pada tahun 1906, sebuah tempat dekat Iskandariah, Mesir. Pendidikan rasmi beliau yang terakhir ialah Darul-‘Ulum, tamat pada tahun 1927. Namun beliau ialah seorang pendidik, pengarang yang tajam penanya, seorang pemikir dan seorang juru pidato yang handal. Sejak September 1927 beliau dilantik sebagai seorang guru sekolah peringkat ibtidaiyah (rendah) di Ismailiyah.

Jiwa beliau yang dipenuhi oleh roh dan semangat Islam membuat beliau menjadi seorang jurudakwah yang berkesan. Jiwa beliau memberontak menyaksikan betapa Islam ditinggalkan oleh pemeluknya. Dan ini mendorong beliau mendirikan suatu pertubuhan yang bertujuan menegakkan ajaran Islam dan dakwah Islamiah.

Bersama-sama dengan para pengikut yang sehaluan dengan beliau, di dalam tahun 1928 beliau mendirikan “Ikhwanul-Muslimin” sebuah pertubuhan yang pada mulanya berdiri di Ismailiyah, kemudiannya berkembang ke seluruh Mesir, dan akhirnya tersebar di seluruh dunia.

Tujuan pertubuhan ini samalah dengan tujuan Islam sendiri, Islam yang murni tanpa penyimpangan dan tanpa penyelewengan. Islam ialah agama yang mengandungi prinsip-prinsip yang sesuai untuk semua tempat dan segala zaman. Sasarannya ialah pembentukan generasi baru yang memahami Islam dengan pengertian yang benar. Dari segi akidah dan syariah mereka bersikap agak liberal. Ikhwanul-Muslimin hendak memasyarakatkan Islam dan mengislamkan masyarakat.

Dalam tahun 1932 M, bersamaan dengan pemindahan al-Banna ke Kaherah, pusat gerakan ini pun dipindahkan ke ibu kota itu.

Dalam tempoh yang singkat pertubuhan ini telah dapat menunjukkan amal baktinya kepada masyarakat. Ia bergiat dalam bidang dakwah dan perjuangan Islam. Ia mendirikan sekolah dan masjid. Ia membantu anak yatim dan orang miskin. Ia menggiatkan gerakan . Oleh sebab itu, perkembangannya semakin bertambah pesat dan pengaruhnya semakinmembesar. Dalam tahun 1949, pengaruhnya semakin ditakuti oleh pihak berkuasa pemerintahan Raja Faruk, dan kerana itu Ikhwanul-Muslimin dibekukan dan Hasan al-Banna sendiri dibunuh pada malam 13 Februari 1949.

Namun perjuangan tidak berhenti dengan kehilangan pemimpin. Selepas Raja Faruk digulingkan dan Jenderal Najib mengambil kuasa, gerakan Ikhwanul-Muslimin berperanan kembali. Tetapi dalam tahun 1954 Jamal Abd. Nasir yang mengambil alih kuasa pemerintahan, membekukan kembali pertubuhan itu, dan pihak penguasa menghukum mati tokoh-tokoh penting yang mereka takuti mengancam kekuasaan mereka. Di antara yang terbunuh pada masa itu ialah Abdul Qadir Audah dan Syeikh Muhammad Faraghi.

Dalam bulan Juni 1966, seorang pemimpin Ikhwan yang terkemuka, seorang mufasir yang alim dan pemikir besar, Syed Qutub dihukum gantung sampai mati oleh kerajaan Jamal Abd. Nasir.

Demikianlah nasib gerakan Ikhwan. Walaupun pada zahirnya dibunuh ia bergerak terus. Bukan saja di Mesir, tetapi di seluruh dunia Arab. Bahkan juga di seluruh dunia Islam.

Idea kebangunan dan pembaharuan yang dikemukakan oleh Hasan al-Banna dan tokoh-tokoh yang secita-cita dengan beliau seperti Syed Qutub dan Abul Ala al-Maududi tetap berkembang terus, bahkan mempengaruhi pemikiran para terpelajar muslimin. Idea-idea ini antara lain dikembangkan melalui pelajar muslimin di Eropah dan Amerika juga melalui buku yang disebarkan di dalam berbagai-bagai bahasa. Dan dengan yang demikian ia tambah berkembang ke seluruh dunia Islam.

Walau bagaimanapun, perjuangan Ikhwanul-Muslimin masih dicurigai di berbagai-bagai negara muslimin. Berita dari Mesir mengatakan bahawa pada awal Mac 1989, polis telah memberkas beberapa tokoh Ikhwan. Di antara yang dikenali identifikasinya ialah Muhammad Abdul Munim dan Wajdi Ghanim. Alasannya tentu saja dari segi keamanan dan keselamatan negara (Serial Media Dakwah, No. 179: 55).

Banyak kesan Ikhwan di dalam masyarakat Islam di seluruh dunia, termasuk negara kita ini.

Di antaranya ialah kaedah usrah di dalam gerakannya. Usrah bermakna keluarga. Kaedah ini memang sedang dihidupkan oleh generasi muda Islam di mana-mana dalam usaha mempelajari dan menghayati Islam. Usrah merupakan kelompok kecil yang berdasarkan persaudaraan, di mana mereka mendiskusikan tuntunan agama, hingga pemahaman mereka terhadap Islam menjadi semakin baik (Serial Media Dakwah, No. 180: 27).

Dengan usrah, para ahli dituntun ke arah keperibadian yang tinggi dan ikatan yang ada pada mereka diperkuatkan. Pemahaman terhadap Islam diperdalam dan amalan Islam juga ditingkatkan. Dalam usrah para ahli berkenalan, membentuk persefahaman, dan perseimbangan fikiran. Dalam usrah mereka menyingkirkan persengketaan sesama sendiri.

AJARAN SYAH WALIYULLAH

Qutb-Ub-Din bin Abdul Rahim, lebih dikenali dengan gelaran Syah Waliyullah, lahir pada 4 Syawal 1114 H/1702 M di Delhi, India. Beliau merupakan seorang mujadid. Beliau menentang sesiapa saja yang menyeleweng daripada Islam khususnya para ulama yang menyeleweng dan sufi yang palsu. Beliau menolak taklid buta. Beliau menerima apa yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Al-Hadis, mana yang tidak sesuai dibuangnya terus. Karya beliau yang paling unik ialah Hujjatullah-al-Balighah.

Di bawah ini adalah beberapa pendapat beliau:

Al-Qur’an: Al-Qur’an itu hendaklah dikaji bersendirian tanpa rujukan kepada tafsirannya. Pengajaran tafsiran Al-Qur’an berbeza daripada pengajaran Al-Qu’ran. Tujuan sebenar penurunan ayat-ayat Al-Qur’an adalah untuk membersihkan hati atau jiwa manusia. Beliau berpendapat hanya lima ayat saja yang mansukh dan tidak percaya dengan adanya naskh dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Ayat-ayat yang memansukhkan itu dianggap sebagai “lebih bernas” dan ayat yang dimansukhkan itu sebagai “kurang bernas”. Pendapat yang mengatakan bahawa ayat-ayat mutasyabihat itu tidak boleh diterangkan oleh manusia adalah tidak benar kerana mereka “yang luas dan dalam ilmunya” boleh memahami ayat-ayat itu.

Al-Hadist: Hadist ialah sumber rujukan yang kedua dalam syariah selepas Al-Qu’ran. Ia merupakan dasar pengetahuan agama yang dapat menempatkan umat Islam ke puncak kejayaan dan kemuliaan seperti yang dialami pada zaman silam. Hadis dipecahkan kepada berbagai-bagai jenis mengikut perbezaan isnadnya. Syah Waliyullah meletakkan kedudukan al-Muwatta’ Imam Malik pada peringkat pertama diikuti oleh Sahih al-Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Abu Daud, dan Jamiat-Tarmizi. Beliau memilih al-Muwatta’ adalah sebab perawinya tidak melebihi dua orang, sebab itu lebih mudah menyelidikinya.

Fikah: Adalah sumber ketiga selepas Al-Qur’an dan Al-Hadist bagi memperolehi keterangan tentang Islam. Membuat keputusan berdasarkan kekuatan pendapat manusia tentang agama dan menggunakannya bukanlah amalan orang pada dua abad permulaan hijrah. Beliau tidak mahu menurut membuta tuli (bertaklid) kepada seseorang ulama, beliau menentang bidaah dan khurafat pada zamannya. Namun, untuk kebaikan orang awam lebih baik mereka itu menurut mazhab yang empat itu. Pada amalinya, beliau bermazhab Hanafi tetapi pada teorinya beliau berada di dalam kedua-dua mazhab, iaitu Hanafi dan Syafii. Sesuatu Ijmak yang tidak ada sokongan dari Adan Al-Hadist dan tidak berlandaskan kepada kedua-duanya itu tidak sah dan tidak boleh diguna. Berkaitan dengan undang-undang kecil (furuat), beliau menurut apa yang dipersetujui oleh Abu Hanifah dan Syafii jika ada perbezaan di antara kedua-duanya, beliau menurut apa yang paling hampir dengan maksud zahir hadis.

Tasauf: Bertujuan untuk mendapatkan nur (cahaya) dan ini dicapai dengan ibadat dan taat kepada Allah s.w.t. Matlamat akhirnya ialah ihsan. Beliau mengamalkan tarikat Naqsyabandiah dan mengaku bahawa adat istiadat dan sistem suluk (perjalanan sufi) ini tidak berlaku dalam bentuk yang khusus pada zaman Nabi s.a.w. Beliau tidak menerima cara melulu sebarang pendapat selagi sah atau benarnya tidak dibuktikan oleh wahyu dan tradisi (dan Al-Hadist).

Nubuwah: Bentuk kenabian itu berubah dengan berubahnya zaman. Nabi Muhammad s.a.w. terkumpul pada dirinya sifat sebagai pemerintah khalifah, orang alim, orang zuhud, dan pembimbing kerohanian. Umumnya, para Nabi itu ialah tokoh pembaharuan. Beliau tidak memasukkan pekerjaan mukjizat dalam perkara nubuwah dan bagi beliau mukjizat itu adalah kejadian biasa. Menurut beliau semua Kitab Ketuhanan yang diturunkan sebelum Al-Qur’an adalah diturunkan menurut jenis Hadist Qudsi.

Syariah: Merupakan hukum atau undang-undang tabii manusia. Ia adalah keperluan asasi agama yang tidak bertukar dengan bertukarnya zaman. Syariah itu dikenakan kepada manusia apabila manusia menghendakinya. Allah memberi hukum atau undang-undang kepada manusia semata-mata kerana kasih sayang-Nya. Dalam semua syariah, perkahwinan itu dihalalkan dan perzinaan itu diharamkan. Syariah para Rasul (Nabi) berbeza oleh sebab tertentu dan mengikut suasana pada masa itu. Jihad itu adalah berkekalan dan berterusan.

Politik: Syah Waliyullah ialah seorang mujaddid pada zamannya. Beliau menterjemah Al-Qur’an ke dalam bahasa Parsi dengan tafsiran ringkas. Pemerintahan Islam telah terdiri di Makkah sebelum Hijrah Nabi s.a.w. Syah Waliyullah menyebarkan pergerakan yang revolusioner dalam kalangan orang sufi dan para ulama di satu pihak dan di kalangan pemerintah di satu pihak yang lain. Beliau berusaha untuk menetapkan kuasa pemerintah pusat supaya terletak di tangan orang Islam. Kemenangan Islam sepatutnya berterusan tanpa hentinya.

Sosioekonomi: Dari segi moral dan akhlak dalam kehidupan manusia sebahagian besarnya bergantung pada keadaan ekonomi. Sebab utama keruntuhan dan kerosakan adalah kerana tugas kepimpinan umat telah dipegang oleh manusia yang tidak memperdulikan kebaikan mutlak. Sesuatu bangsa akan menjadi runtuh dan korup apabila ada orang dalam masyarakat yang memeras atau mengeksploitasi. Agama Islam datang untuk mendirikan kuasa antarabangsa yang paling besar dan kekuasaannya itu hendaklah berterusan selama-lamanya, maka ini dapat dicapai jika umat Islam memperkuatkan diri mereka dari segi moral dan material dan bekerjasama antara satu dengan lain.

Hidup sesudah mati: Untuk memahami hakikat alam akhirat, maka perlulah mengetahui terlebih dahulu berkenaan dengan roh. Hidup sesudah mati, seperti yang tersebut di dalam Al-Qur’an itu, boleh dicapai oleh pengetahuan akal manusia. Pendapat umum yang mengatakan bahawa akal itu hanya bersangkutan dengan fikiran (nafs) saja adalah tidak benar. Manusia itu akan diberi ganjaran hanya bagi tindakannya yang telah melekat kuat ke akar-umbi nasmahnya, Nasmah (nyawa) itu akan berterusan hidup hingga ke syurga.

Falsafah: Alam ini mempunyai nyawa. Nyawa Semesta (an-Nafs-ul-Kulliyah) adalah jenis bagi segala jenis. Nyawa Semesta ini terbitnya dari Allah dengan cara ciptaan (bitariq-i-ibda). Perhubungan yang ada antara pencipta (Mubdi’) dengan yang dicipta (Mubda’) tidaklah dapat diibaratkan. Matlamat akhir perjalanan manusia adalah untuk mencapai tempat tertentu dalam Hazirat-ul-Quds yang telah pun ditetapkan baginya. Syah Waliyullah mendakwa bahawa beliau adalah penutup ahli falsafah (khatim-ul-hukama).

Imam Mahdi yang disebut di dalam Hadis Nabi s.a.w. yang diriwayatkan oleh Ibn Majah bermaksud Mahdi Khalifah Abbasiah dan bukan Mahdi yang dianggap akan lahir tatkala dunia hampir kiamat. Beliau meninggal dunia dalam tahun 1176 H/1763 M.3

Di Malaysia, pengaruh ajaran beliau ini terasa di Kelantan.

  1. D.  Gerakan Pembaharuan Islam di Beberapa Negara

 

Pada akhir abad 19 dan awal abad 20, beberapa negara yang penduduknya mayoritas beragama Islam, mulai mengadakan pembaharuan kembali pemikiran Islam dengan cara kembali kepada Al Qur’an dan Sunnah Rasul serta ijtihad. Sumber hukum yang ketiga ini selalu terbuka sepanjang masa. Sejalan dengan itu, melepas belenggu taqlid (jumud) yang telah ada di kalangan umat Islam selama kurang lebih 500 tahun. Negara yang telah mengadakan pembaharuan antara lain :

1)      Arab Saudi

Gerakan pembaharuan Islam di Arab Saudi dimulai oleh Muhammad bnu Abdul Wahab (1703 – 1778). Pokok pemikirannya seperti yang telah diuraikan di atas yaitu kembali kepada ajaran pokok yaitu Al Qur’an dan Hadits serta memberantas segala bentuk bid’ah dan khurafat yang telah lama mengakar di kalangan sebagian umat.

2)      Mesir

Gerakan pembaharuan Islam di Mesir lebih giat setelah masuknya Jamaluddin Al Afghani, kemudian diteruskan dengan Muhammad Abduh (1849 – 1905). Gerakan pembaharuan di Mesir selanjutnya dikembangkan oleh murid Muhammad Abduh seperti Rasyid Ridham, Zahlul, dan Farid Wajdi.

3)      India dan Pakistan

Ide pembaharuan di India dan Pakistan dicetuskan oleh Syaikh Waliyullah pada abad ke 18, kemudian diteruskan oleh anaknya Syaikh Abdul Aziz (1746 – 1823) dan dikembangkan oleh Syaikh Waliyullah dan Sayid Ahmad Syahid. Mereka berpendapat bahwa muslim India mundur karena agama yang mereka anut tidak lagi Islam yang murni, tetapi telah tercampur dengan ajaran – ajaran Hindu dan Budha. Oleh karena itu umat Islam India harus kembali kepada ajaran yang murni yaitu Al Qur’an dan Hadits.

Gerakan pembaharuan di India terus berkembang terutama setelah munculnya tokoh muda Muhammad Iqbal dan Muhammad Ali Jinnah. Gerakan pembaharuan yang dilakukan kedua tokoh tidak hanya dalam bidang aqidah dan syari’ah, tetapi juga politik sehingga berhasil mendirikan negara Islam Pakistan yang terlepas dari India.

4)      Turki

Turki adalah satu – satunya kerajaan Islam di Barat sampai pertengahan abad 20. Karena itu, tidak heran kalau pembaharuan pemikiran Islam banyak dipengaruhi oleh faham yang berkembang di Barat seperti Nasionalisme, Liberalisme, Sosialisme dan Demokrasi. Di satu sisi, ingin mempertahankan sistem kerajaan yang dipimpin oleh seorang khalifah, sementara di sisi lain ingin mengubah bentuk negara menjadi Republik. Dalam perkembangannya ternyata yang dipilih rakyat Turki adalah sistem Republik sehingga berdiri Republik Turki pada tanggal 3 Maret 1924 dengan presiden pertama Musthafa Kemal Pasha.

E. Gerakan Pembaharuan Islam di Indonesia

 

            Gerakan pembaharuan Islam di Indonesia diawali dengan datangnya Haji Miskin dan kawan – kawannya dari menuaikan ibadah haji tahun 1802 di Minangkabau, Sumatera Barat. Mereka dinamakan kaum Padri, berpakaian serba putih, mengadakan perubahan secara radikal dan membawa ajaran salaf.

Ajaran salaf adalah ajaran yang telah dijalankan oleh para sahabat nabi dan tabi’in, pahamnya adalah Al Qur’an dan Sunnah dijalanka secara murni dan konsekuen bila terjadi suatu permasalahan mereka menggunakan ijtihad sebagai sumber hukum ketiga.

Gerakan salaf dengan mazhab Wahabi yang telah dirintis oleh Haji Miskin dan kawannya diteruskan oleh para ulama di Sumatera Barat terutama dipelopori oleh Syaikh Muhammad Abdullah Ahmad (1878 – 1933) dan Syaikh Haji Abdul Malik Karim Amrullah (1879 – 1945 ), ayahanda Prof. DR. HAMKA, serta Syaikh Muhammad Jamil Jambek (1860 – 1947) yang selanjutnya membuka lembaga pendidikan modern, berupa pesantren tawalib bahkan membuka pesantren putri “Diniyah Putri” Padang Panjang.

Gerakan pembaharuan ini terus berkembang sampai pergerakan nasional dengan munculnya organisasi – organisasi Islam seperti Muhammadiyah yang didirikan oleh KH. Ahmad dahlan (1912) di Yogyakarta yang fahamnya menolak semua bentuk tradisi – tradisi yang telah mengakar di masyarakat yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Kemudian Nahdatul Ulama (NU) yang didirikan olrh Hadratul Syaikh KH. Hasyim Asy’ari pada tanggal 31 Januari 1926. Organisasi ini memiliki peran besar dalam perjalanan bangsa dan kebangkitan umat yang basisnya kepada para kyai dan ribuan pondok pesantren yang tersebar di pelosok Indonesia. Organisasi lain adalah Persis (Persatuan Islam) didirikan oleh A. Hasan (1926) di Bandung, Al Irsyad di Medan, Al Khairat di Sulawesi dan lain – lain.

HASAN BANDUNG

Di dalam karya ini acapkali disebut perkara yang menyangkut Hasan Bandung. Mungkin ia tidak banyak dikenali di Malaysia, namun ia mempunyai banyak pengaruh dalam pembangunan tajdid di negara ini terutama di Perlis. Beliau ialah salah seorang pembaharu pemikiran Islam di dalam dunia Melayu dan mempunyai pengaruh besar dalam kalangan kaum terpelajar di Indonesia.

Di dalam fasal ini kita kemukakan cungkilan riwayat hidupnya seringkas mungkin yang dikutip daripada suatu makalah yang dilampirkan pada buku Soal Jawab (A. Hassan dkk, Soal Jawab, CV Diponegoro Bandung, 1976).

Beliau dilahirkan di Singapura dalam tahun 1887 M. Ayahnya bernama Ahmad (Sinna Vappu Marican-Deliar Noer: 97) pengarang dan wartawan terkemuka di Singapura, yang telah menerbitkan beberapa surat khabar berbahasa Tamil. Ibunya, Hajah Muznah, berasal dari Palekat (Madras), kelahiran Surabaya. Ibu bapanya berkahwin di Surabaya, kemudian berpindah ke Singapura. Di bandar inilah lahir putera tunggal mereka, Hassan bin Akhmed, yang kemudian dikenali dengan nama A. Hassan.

Pada usia tujuh tahun, beliau belajar Al-Qur’an dan agama. Kemudian masuk sekolah Melayu, belajar bahasa Arab, Melayu, Tamil, dan Inggeris. Tiada dicatatkan di mana beliau belajar Islam secara mendalam dan siapa gurunya.

Kepakarannya di dalam bidang agama, terutama di dalam bidang hadis, tafsir, fikah, ilmu kalam, dan ilmu mantik amat ketara. Berbagai-bagai masalah agama boleh dihadapkan kepadanya, dan dijawabnya dengan tepat. Beliau menguasai bahasa Melayu-Indonesia, Inggeris, Tamil, dan bahasa Arab.

Di samping perpustakaannya yang besar, beliau memiliki buku catatan sendiri yang berisi berbagai-bagai masalah, lengkap dengan dalilnya yang disusun menurut abjad. Catatan inilah yang selalu dibawa untuk memudahkannya bercakap atau menjawab pertanyaan.

Di dalam kehidupannya beliau selalu berdiri sendiri tanpa bantuan orang lain. Beliau pernah menjadi buruh kedai, berdagang permata, berniaga minyak wangi, ais, mencelup tayar, menjadi guru bahasa Melayu dan bahasa Arab, guru agama, dan menulis berbagai-bagai makalah di dalam akhbar atau majalah di Indonesia dan Singapura.

Dalam tahun 1909, pada umur remaja beliau telah aktif menjadi pembantu Utusan Melayu. Tulisan pertamanya berisi kecaman terhadap kadi yang memeriksa kes dengan mengumpulkan lelaki dan perempuan. Pada masa itu tidak ada yang berani mengecam perbuatan kadi yang seperti itu. Namun A. Hassan terangsang mengangkat penanya memprotes. Beliau segera menarik perhatian orang ramai dengan tulisannya itu.

Pernah beliau dilarang berpidato kerana suatu ucapannya mengecam masyarakat Islam yang sangat mundur. Ucapannya itu dianggap berbau politik.

Dalam tahun 1921 beliau pindah dari Singapura ke Surabaya. Di sana beliau berniaga, kemudian bekerja sebagai pencelup tayar.

Namun semangat perjuangan dan pengetahuan Islam yang dimilikinya, menyebabkan beliau dalam waktu yang singkat berkenalan rapat dengan para pemimpin Sarekat (Syarikat) Islam. Meskipun beliau mungkin tidak terdaftar sebagai ahli parti itu. Beliau bersahabat baik dengan pemimpin Sarekat Islam pada masa itu, seperti Haji Omar Said Cokroaminoto, A. M. Sangaji, Haji Agus Salim, dan tokoh-tokoh penting lainnya.

Kemudian beliau pindah ke Bandung, dan mendapat sijil tenun di sana. Di Bandung beliau berkenalan dengan tokoh-tokoh saudagar ahli PERSIS seperti Asyaari, Tamim, dan Zamzam.

Beliau datang ke Bandung pada tahun 1925, dua tahun setelah PERSIS tertubuh.

Beliau menggabungkan diri dengan PERSIS dan mengajar di pusat pengajian PERSIS. Beliau menetap di Bandung dan menjadi tokoh terkemuka PERSIS.

Pekerjaannya seharian sungguh banyak. Beliau menjadi guru PERSIS, memberi kursus kepada pelajar sekolah umum, bertabligh setiap minggu, menyusun berbagai-bagai karangan untuk mengisi majalah atau buku, dan berdebat di mana saja.

Beliau mempunyai pendirian kuat untuk tidak menerima sedekah atau pemberian orang untuk menyara hidupnya. Beliau menyusun tafsir al-Furqan dan mendirikan percetakan sendiri. Beliau menerbitkan dan menjual tafsir itu sendiri. Dengan hasil usahanya inilah beliau menyara hidupnya.

Tujuh belas tahun lamanya beliau tinggal di Bandung, menegakkan fahamannya dan berjuang dengan segala kesungguhan hati.

Pada tahun 1941, beliau berpindah ke Bangil bersama percetakannya. Di sana beliau meneruskan perjuangannya. Beliau mengarang buku dan meneruskan penerbitan majalah Pembela Islam. Di sini beliau meneruskan kecergasannya.

Di Bangil juga didirikan sebuah pesanteren (pondok) PERSIS, di samping Pesanteren Puteri yang sampai kini masih banyak dikunjungi pelajar. Beliau mengakhiri hayatnya di kota Bangil pada 10 November 1958.

Menurut Deliar Noer, pengenalan Hassan akan aliran pembaharuan bermula sejak di Singapura. Ayah beliau sendiri ialah tokoh yang bersimpati dengan ajaran (Wahabi) Muhammad bin Abdul Wahab. Ketika mengantarkan jenazah ke kubur, ayah Hassan sengaja meninggalkan upacara pemakaman apabila talkin dibacakan. Beliau menolak talkin. Di Singapura, A. Hassan telah berkenalan dengan majalah al-Manar dari aliran Afghani-Abduh-Rasyid Ridha. Demikian juga dengan majalah al-Imam dari Singapura dan al-Munir dari Padang. Beliau juga mendengar tentang Syeikh Tahir Jalaluddin yang tidak disenangi oleh golongan muslim tradisional dan Raja-raja Melayu. Beliau juga membaca kitab yang ditulis oleh Ahmad Soorkati dari al-Irsyad. Kecaman Hassan berkenaan dengan cium tangan di akhbar Utusan Melayu yang didasarkan atas pengalamannya sendiri, menggoncangkan masyarakat Islam di Singapura. Untuk itu, beliau diberi peringatan oleh kerajaan agar tidak merosakkan ketenteraman yang ada di Singapura (Deliar Noer: 99,100).

Hassan Bandung ialah salah seorang tokoh pembaharuan yang pernah menggemparkan dunia Melayu. Dalam ketaatan umat mengikuti fahaman tradisional yang kononnya diakui sebagai fahaman yang berasal daripada mazhab Syafii beliau mencetuskan pendapat yang sama sekali tidak pernah difikirkan oleh umat Islam di alam Melayu ini. Pendapat tradisional yang memastikan umat Islam Nusantara bertaklid kepada mazhab Syafii dirombaknya. Beliau menegaskan bahawa kewajipan umat Islam dalam hal berpegang kepada agama hanya atas dua jalan, iaitu berijtihad atau berittiba’, dan tidak ada jalan lain. Antara sahabat-sahabat Nabi tidak berapa banyak mujtahid, tetapi selain yang berijtihad semuanya muttabik. Tidak ada seorang pun sahabat Nabi yang mukalid. Sebab jika mereka tidak tahu sesuatu hukum, mereka bertanya kepada Nabi sendiri atau sahabat-sahabat Nabi, bagaimana perintah Nabi tentang perkara itu. Namun tidak pernah mereka bertanya apa fikiran orang tentang perkara itu. Orang yang berittibak itu jika berjumpa dua keterangan yang berlawanan, pada masa itu ia wajib memeriksa dengan betul mana yang kuat (A. Hassan, Soal Jawab, PERSIS, Bandung:17).

Berdasarkan kepada ayat:

“Dan jangan ikuti sesuatu yang tidak engkau ketahui” (Q.17:36)

dan

“tanyalah kepada ahli zikir (menurut Hassan, zikir
bermakna Quran) kalau kamu tidak tahu” (Q.16:43)

beliau mengatakan, “bertanya kepada ahli Quran itu tentulah darihal isi Quran, bukan darihal fikirannya”. Beliau selanjutnya mengatakan: “Bukan Allah sahaja melarang orang bertaklid, tetapi imam yang mereka taklid itu sendiri, melarang keras orang bertaklid kepada mereka. Imam Hanafi melarang orang bertaklid kepadanya. Begitu juga sahabatnya yang bernama Abu Yusuf. Begitu juga imam Maliki, Syafii, istimewa pula Imam Hanbali; beliau berkata: Jangan kamu bertaklid kepada aku, dan jangan kepada Malik, dan jangan kepada Syafii, tetapi ambillah agama kamu dari mana mereka itu ambil”. (A. Hassan, Soal Jawab, PERSIS, Bandung: 18).

Di tempat yang lain beliau mengatakan: “Orang Islam jika bertanya hukum agama wajib bertanya hukum Allah dan Rasul, bukan bertanya fikiran ulama. Orang yang ditanya juga wajib memberi jawapan dengan keterangan dari Allah dan Rasul. Bukan keterangan dari Imam ini dan itu. Sebab agama itu agama Allah dan Rasul, bukan agama ulama. Pendapat dan fahamam ulama itu boleh diunjukkan hanya buat meluaskan kita faham keterangan itu, bukan buat kita berpegang kepada perasaan dan keputusan ulama itu” (A. Hassan, Soal Jawab, PERSIS, Bandung: 16).

Tentang pemahaman hukum daripada Al-Qur’an, antara lain beliau mengatakan: “Setiap ayat Al-Qur’an hendaklah diberi arti menurut kemahuan lughah (bahasa) Arab pada zaman Nabi. Ini dinamakan pemberian erti yang asal dan zahir. Kecuali jika ada ayat lain atau Hadis yang menyebabkan pengubahan erti, maka boleh diertikan dengan cara yang berkisar dari yang zahir tadi, tetapi tidak boleh keluar daripada batas erti yang dibolehkan oleh lughah; seperti ayat

Yang maksudnya: Batal wuduk kalau kamu bersentuh dengan perempuan (Q.4:43), tetapi oleh sebab beberapa Hadis yang menerang-kan bahawa Rasulullah s.a.w. ada bersentuhan dengan isterinya di dalam sembahyang dan mencium isterinya lalu sembahyang, maka erti sentuh itu bukanlah sentuh biasa, tetapi sentuh luar biasa, iaitu bercampur suami isteri”. (Hassan, al-Furqan: XXII).

Namun pengertian Al-Qu’ran yang dicontohkan ini bukanlah pengertian luar biasa. Ibn Rusyd (juzuk 1: 32) menceritakan bahawa suatu kelompok kaum muslimin tentang ayat itu berpendapat, bahawa yang dimaksudkan dengan “al-lams” (sentuh) di dalam ayat yang berkenaan adalah jimak, sesuai dengan kebiasaan orang Arab yang juga mengertikan “al-lams” sebagai jimak.

Dalam pada itu beberapa fatwanya menggemparkan masyarakat alam Melayu pada masa itu, oleh kerana dianggap sangat bertentangan dengan kepercayaan hukum rakyat. Antara pendapat yang demikian termasuklah ketidaknajisan daging babi, meskipun ia haram dimakan (A. Hassan, Soal Jawab, edisi Rumi: 354,36).

Tentang sumber hukum yang digunakan oleh Hassan Bandung jelas, iaitu Al-Qur’an dan al-Sunnah. Beliau menolak fikiran dan pendapat dalam mengambil hukum Allah. Sebab itu beliau menolak segala sumber lain yang diakui oleh imam mujtahid yang lain yang mengikut pendapatnya telah dicampuri oleh pemikiran manusia.

Jika pendapat Abdul Qadir Hassan, putera Hassan Bandung yang membuat “tamhid” terhadap buku Hassan Bandung, Soal-Jawab (edisi Rumi) dapat dipandang mewakili pendapat Hassan Bandung, maka jelas bahawa beliau menolak qiyas, sambil mengemukakan bahaya qiyas bagi hukum Islam. “Kerana banyak mengqiyas maka banyaklah timbul hukum bagi beberapa banyak benda, perkara, perbuatan dan sebagainya yang tadinya sama sekali tidak ada dalam agama kita”. Beliau seterusnya mengatakan bahawa tanpa qiyas pun kita akan dapat sampai kepada tujuan mengetahui hukum Allah. “Orang yang bersungguh-sungguh memerhatikan hukum agama dan kaedah yang ada di dalamnya, kiranya tidak memerlukan kepada aturan dan cara-cara qiyas yang membingungkan, yang diada-adakan oleh ulama itu”. (Hassan, Soal Jawab, edisi Rumi: 22, 23).

Di dalam bukunya, Usul al-Fiqh tentang qiyas, A. Qadir Hassan mengatakan: “Barang siapa memperhatikan sungguh-sungguh isi agama Islam akan mengetahui bahawa qiyas tidak menjadi suatu dasar yang mutlak walaupun dalam urusan keduniaan” (A. Q. Hassan: 25) Nampaknya A. Q. Hassan tidak menolak qiyas secara mutlak.

Memerhatikan pendapat ini kita melihat persamaannya dengan seorang ulama yang telah mendahuluinya, iaitu Ibn Hazm yang menolak al-ra’yu yang berupa pandangan atau pemikiran di dalam ijtihad, yang termasuk di dalamnya, qiyas, istihsan, al-maslahah al-mursalah, dan saddu ‘z-zarai’.

Antara lain berkata Ibn Hazm: “Sesiapa yang berfatwa berdasarkan al-ra’yu maka sesungguhnya ia telah berfatwa tanpa ilmu, dan tiada ilmu di dalam agama melainkan Al-Qur’an dan Al-Hadist” (Ibn Hazm: 56).

Untuk sekadar perbandingan dikemukakan di sini bahawa di dalam bidang perundangan sekular, “pentafsiran analogis”-yang lebih kurang sama dengan al-qiyas di dalam perundangan Islam-tidak diterima oleh sebahagian pakar undang-undang terutama dalam bidang undang-undang jenayah. Mereka mengemukakan alasan bahawa analogi sama dengan membuat undang-undang baru. Sedangkan hakim tidak mempunyai kuasa membuat undang-undang. Jika hakim menggunakan pentafsiran analogi, maka hakim sebenarnya telah mengisi suatu ruangan yang tadinya kosong daripada undang-undang.

Kenyataan yang bersifat sama dengan itu dapat pula kita tanyakan berkenaan dengan undang-undang Islam: Bukankah dengan menggunakan al-qiyas seseorang mujtahid mungkin terperosok menciptakan hukum baru yang sebenarnya tidak dikehendaki Allah?

Keengganan Langemeijer, seorang pakar undang-undang Belanda menerima analogi untuk mentafsirkan undang-undang jenayah disebabkan beliau tidak yakin bahawa di dalam segala hal belum tentu kejujuran hakim dapat dipercayai. Sedangkan Lemaire mengemukakan bahawa undang-undang jenayah tidak boleh ditafsirkan secara analogi, kerana mahkamah jenayah berkuasa membuat keputusan hukum yang sungguh-sungguh membatasi hak-hak manusia (seperti hukuman mati dan penjara); dan membuat keputusan yang semacam ini-apalagi di dalam hal analogi-tidak boleh diadakan menurut kehendak hakim belaka. Lemaire bimbang ada kemungkinan diadakan suatu tindakan hakim yang sewenang-wenang apabila diberi kepada hakim itu kekuasaan untuk menjalankan undang-undang secara analogi (Utrecht: 407).

Mengenai ijmak, Abdul Qadir Hassan mengatakan bahawa ijmak daripada sahabat-sahabat Nabi s.a.w., baik dalam soal keagamaan atau keduniaan, kita terima dengan kepercayaan bahawa persetujuan mereka itu ada sandarannya daripada Nabi s.a.w., sekalipun sandaran itu tidak sampai kepada kita”. Tentang ijmak para ulama selepas zaman sahabat, beliau pecahkan ke dalam dua bahagian: Ijmak yang berdasarkan Al-Qur’an dan Hadis Sahih, dan ijmak yang berdasarkan pertimbangan, pendapat, atau fahaman mereka sendiri. Ijmak yang berdasarkan Al-Qur’an dan Hadis Sahih, tidak perlu dibincangkan, sebab kita akan turut Al-Qur’an dan Al-Hadist berkenaan. Ijmak yang didasarkan kepada pertimbangan, pendapat, atau faham semata-mata, belum tentu benar. Dengan yang demikian, kita tidak berkewajipan menerimanya. Ijmak para ulamak selepas sahabat tidak menjadi dasar kepada agama (A. Hassan, Soal Jawab, edisi Rumi: 22, 23).

Pendapat ini mengingatkan kita kepada Imam Ahmad ibn Hanbal yang menolak diketahuinya kewujudan ijmak selain ijmak para sahabat. Ijmak sahabat adalah hujah sebab ia bersandar kepada Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya, perlu diingat bahawa tidak mungkin para sahabat menyetujui sesuatu ketetapan apabila ada Hadis Sahih yang menyalahinya (Hasbi: 66, 67).

Bagi beliau tidak dapat diketahui adanya ijmak selepas sahabat. Ibn Hazm menurunkan keterangan Abdullah ibn Ahmad ibn Hanbal yang mengatakan: “Aku dengar bapaku berkata: “Apa yang disebut orang ijmak adalah dusta; sesiapa yang mendakwa ada ijmak dia itu pendusta; boleh jadi manusia berselisih pendapat-yang ia tidak tahu-dan ia tidak berhenti di situ; sepatutnya ia mengatakan: Kami tidak tahu ada orang yang berlainan pendapat”. (Khallaf: 49).

F. PENGARUH ALIRAN PEMBAHARUAN DI MALAYSIA

Sebagai sebahagian daripada dunia Islam, Malaysia juga tidak terlepas daripada pengaruh aliran pembaharuan. Mesir, India, Makkah, dan Indonesia ialah tempat-tempat yang menjadi pangkalan kemasukan fahaman dan aliran pembaharuan itu.

Kewujudan tokoh-tokoh seperti Syed Syeikh al-Hadi, Syeikh Tahir Jalaluddin, Haji Abbas Taha, dan Datuk Haji Muhammad bin Haji Mohd. Said, membawa angin pembaharuan ke Malaysia. Mereka meskipun menurut cara masing-masing, menerbitkan beberapa majalah yang berpengaruh seperti al-Imam, al-Ikhwan, dan Pengasuh. Melalui penerbitan ini disuarakan pembangunan masyarakat Islam. Daripada perkembangan idea yang dikemukakan berdirilah beberapa sekolah Islam seperti Madrasah al-Hadi di Melaka (1917) dan Madrasah al-Masyhur di Pulau Pinang. Anak-anak didik mereka inilah kemudiannya melanjutkan perjuangan pembaharuan itu. Menurut Ustaz Nordin bin Ismail, ahli Majlis Agama Islam Perlis, Imam Masjid Padang Katong, sekolah al-Masyhur adalah tempat mula bertapaknya pembaharuan (Wawancara: 4 Jun 1989).

Syeikh Tahir Jalaluddin (1869-1957 M) ialah salah seorang tokoh terkemuka dalam gerakan pembaharuan Islam di Tanah Melayu. Bahkan tokoh terkemuka dalam kebangunan nasionalisme Melayu. Beliau ialah seorang putera Minangkabau yang menuntut ilmu Islam di Makkah. Salah seorang gurunya yang penting ialah Syeikh Ahmad Khatib (1860-1916 M) seorang ulama di Makkah yang berasal dari Minangkabau. Syeikh Tahir juga menuntut di al-Azhar, Mesir. Di Mesir beliau lebih banyak lagi berkenalan dengan aliran pembaharuan kelompok Abduh. Rupa-rupanya pemikiran pembaharuan itu tertanam di lubuk hatinya. Oleh itu, selepas kembali ke tanah air beliau terus memperjuangkan idea-idea baru itu.

Beliau memulai gerakan pembaharuan dengan menerbitkan majalah al-Imam. Antara teman seperjuangan beliau termasuklah Syed Syeikh al-Hadi, seorang tokoh keturunan Hadramaut. Pengaruh Syeikh Tahir melalui al-Imam bukan hanya terhad di Singapura atau Semenanjung, bahkan lebih ketara lagi di Tanah Minangkabau (Sumatera Barat) negeri asal usulnya.

Di Sumatera Barat, perjuangan pembaharuan; selepas kehancuran kuasa politik dan keaskaran kaum Padri, terutama berhadapan dengan adat yang kolot dan kebiasaan yang bertentangan dengan Islam, tegaklah beberapa orang tokoh ulama seperti Syeikh Abdul Karim Amrullah atau Haji Rasul (bapa kepada Allahyarham HAMKA) (1879-1945) Shaikh Muhammad Jamil Jambek, dan Haji Abdullah Ahmad (1878-1933 M). Mereka menerbitkan majalah al-Munir (1911-1915 M) sebagai alat menyebarkan fahaman pembaharuan. Al-Imam di Singapura telah terhenti penerbitannya dalam tahun 1909 M. Kemudian terbit al-Munir di Padang. Orang bertanggungjawab dan secara langsung mengendalikan al-Munir ialah Haji Abdul Karim Amrullah dan Haji Abdullah Ahmad.

Di Tanah Melayu, Syeikh Tahir melanjutkan dakwah pembaha-ruannya. Beliau dipandang sebagai seorang ulama yang berwibawa. Sebab itulah beliau pernah dilantik menjadi penasihat agama kepada Sultan Perak, juga kepada mahkamah pengadil di Taiping dan Ipoh (1911). Namun, beliau gagal dalam percubaannya untuk mendapat kedudukan rasmi yang lebih baik sebagai mufti Johor, kerana fahamannya yang dianggap merosakkan suasana yang telah berlaku sebagai tradisi.

Berkenaan dengan Syed Syeikh al-Hadi, beliau menubuhkan madrasah al-Hadi di Bandar Melaka (1917), yang nampaknya kurang mendapat sokongan. Beliau kemudian pindah ke Pulau Pinang dan menubuhkan Madrasah al-Masyhur al-Islamiyah (1919). Beliau mengasaskan majalah al-Ikhwan (1926 M), kemudian Saudara (1928 M). Tokoh-tokoh yang membantu beliau di dalam penerbitan ini antara lain termasuklah Syed Alwi, Abdul Rahim Kajai, dan Abdul Wahab Abdullah. Nampaknya sekarang perjuangan ditujukan bukan hanya dari segi agama sahaja, melainkan juga telah menerobos masalah kemasyara-katan seperti ekonomi dan lain-lainnya.

Di Kelantan, aliran pembaharuan mendapat sambutan juga. Salah seorang tokoh yang terkenal ialah Haji Wan Musa bin Abdul Samad (1874-1939 M).

Beliau ialah penyokong fahaman ketidakterikatan kepada salah satu mazhab. Beliau bukanlah seorang tokoh yang berdiri sendiri di Kelantan. Dalam suatu perdebatan di Kota Bharu beliau disokong oleh Haji Abbas Taha dari Singapura, pengarang al-Imam dan Dr. Burhanuddin al-Helmi. Diriwayatkan bahawa beliau juga mempunyai hubungan surat-menyurat yang berisi pertukaran pendapat tentang berbagai-bagai masalah dengan Syed Syeikh al-Hadi. Kononnya juga beliau pernah berhubungan langsung dengan Syed Rasyid Ridha di Mesir.

Juga kehadiran Abu Abdillah Syed Hasan bin Nor Hasan yang dikenal dengan gelaran “Tok Khurasan” seorang tokoh ilmu yang berasal dari Afghanistan, pernah memperdalami ilmu agama di India, membawa pertumbuhan aliran pembaharuan.

Tertarik kepada ilmunya yang mendalam yang diperolehinya di India, maka beberapa orang pelajar, termasuk Haji Nik Abdullah bin Haji Wan Musa, melanjutkan pelajaran di India. Sepulangnya mereka ini ke tanah air, mereka menyumbangkan unsur-unsur pembaharuan kepada umat Islam tempatan.

Juga kepulangan Haji Mohd. Yusuf bin Muhammad yang lebih dikenali dengan panggilan “Tok Kenali” (Kenali ialah nama kampung tempat beliau tinggal, terletak di dalam kawasan Kubang Kerian) membawa angin baru di dalam perkembangan Islam di Kelantan. Beliau belajar di Makkah selama 20 tahun, dan pernah mengunjungi Mesir. Beliau dilantik menjadi pengarang majalah Pengasuh yang diterbitkan oleh Majlis Ugama Islam dan Adat Istiadat Melayu Kelantan (MUIAIMK). Majalah ini berjuang menegakkan unsur-unsur pembaharuan, yang menyebabkan Pengasuh dipandang sealiran dengan majalah pembaharuan lainnya seperti al-Imam. Sampai sekarang Pengasuh masih diterbitkan di Kota Bharu.

G. Menunjukkan perilaku yang mencerminkan penghayatan 

     sejarah perkembangan Islam pada masa pembaharuan

 

1)      Mempertahankan kebiasaan lama yang baik, sekaligus mengambil sesuatu yang baru  yang lebih baik.

2)      Mempunyai motivasi untuk mempelajari Islam dari seumber aslinta, yaitu Al Qur’an dan Hadits.

3)      Meneruskan perjuangan yang telah dirintis oleh para Ulama terdahulu, yang terkenal dengan ulama Salaf.

4)      Menjauhkan diri dari segala sesuatu yang bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadits.

5)      Berusaha memberantas faham yang bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadits.

 

About these ads
 
Leave a comment

Posted by on December 22, 2011 in Agama, Materi

 

Tags: , , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: