RSS

FAMODYA (Part 1)

19 Aug

Hallo Para Pembaca Sekalian.. Ini Saya ada sebuah Novel atau Karangan Temen saya. Via Ika Wijayanti namanya (Fotonya Di samping). Disini saya ingin membantu Via dan ingin membagi kisah dengan para pembaca sekalian yang hobinya baca, dan bagi yang gak hobi baca stelah baca cerita ini bisa jadi hobi. Amin. Hehhehee. Semoga Kalian Suka…..

Famodya

Kriiiing.” Terdengar suara jam wecker disebuah kamar seorang gadis.

“Hah! Udah jam setengah tujuh? Huh, untung aja gue nggak kesiangan.” Gadis itupun bergegas mematikan jam weckernya. Kemudian ia menuju kamar mandi. Dengan terburu-buru ia lekas selesai melakukan kegiatan membersihkan badan tersebut. ”Huh, akhirnya selesai juga. Gue musti buru-buru nih,” tukasnya sambil mengeringkan tubuhnya yang masih basah.

Dengan solekan yang sederhana dan balutan seragam berkemeja putih serta bawahan rok bercorak abu-abu gadis tersebut meninggalkan ruangan yang penuh dengan poster animasi dan bintang kesayangannya Dani Pedrosa kelantai bawah. Karena kamarnya tadi terletak dilantai atas.

Wah kok masih pada santai sih? Kan sekarang udah jam tujuh kurang,” celoteh gadis itu sambil menaruh sebagian buku-bukunya yang lumayan tebal-tebal. “Eh, gue duluan ya daaa!” Dengan menggengam sepasang roti isi selai kacang coklat dan meneguk sekali segelas susu rasa madu gadis itu lekas meninggalkan meja makan. Dengan terburu-buru sampai tidak lagi mendengarkan ucapan beberapa orang disekelilignya.

“Woi Ad, mau ngapain sih lo buru-buru?” Sapaan setengah teriak seorang pemuda kepada gadis yang baru meninggalkannya dimeja makan.

Tidak sekalipun gadis itu menjawab pertanyaan seorang pemuda tersebut, menengokkan kepalanya sembilan puluh derajat saja enggan.

“Woi Ad, mau ngapain lo bawa-bawa kunci mobil gue?” kini teguran seperti teriak itu menyapa kembali gadis itu. Sebab baru saja selesai gadis itu mengikat tali sepatu ia langsung menggengam sebuah kunci mobil dan membawanya keluar.

“Lho? Non Adya mau kemana Den Abay? Pake acara pakai baju sekolah, bukannya ini hari minggu?” Seorang wanita setengah baya bertanya kepada pemuda yang sedari tadi menggerutu karena adik perempuan yang bernama Adya tersebut telah memakai mobilnya tanpa izin.

Adya. Seorang gadis yang daritadi panik. Sedangkan orang yang daritadi bergeturu adalah Abay, kakak kandung Adya sekaligus Instruktur basket disekolah Adya dan juga mantan siswa dari sekolah tersebut.

“Tau tuh Bi. Udah pake mobil orang nggak bilang-bilang,” gerutu Abay sekali lagi. Kesal.

“Den, jangan-jangan Non Adya nggak tau kalo hari ini hari minggu.”

“Bagus deh kalo gitu. Biar dia malu nanti disekolah.”

Disamping percakapan antara bi Nana dengan Abay seorang gadis kecil sekitar umur sembilan tahun hanya duduk terdiam walau tahu alur cerita yang dibicarakan penghuni rumah yang termasuk kategori rumah terluas dikompleknya. Namun sayang remaja yang masih muda-muda ini tidak tinggal bersama kedua orang tunya, sebab kedua orang tuanya tinggal diluar negeri tepatnya di negeri yang sering-sering disebut sebagai Negara kincir angin yaitu Balanda.

Gadis kecil berkuncir kuda tersebut hanya asik menyantap roti isi dan segelas susu coklat hangat yang dibuat bi Nana. Yah, gadis kecil itu nggak mau ikut campur dengan masalah yang sepele itu, mungkin baiknya diam saja.

***

Diperjalanan, mobil yang dikendarai Adya melaju kencang tanpa menghiraukan apapun disekitar jalan tersebut. Didalam mobil tersebut terdengar bunyi kencang suara musik yang disetelnya. Suaranya lantang sekali. Syair yang didengar adalah lagu Craig David yang berjudul world filled with love.

“Cos I’m a young heart living in a world filled with love. So when teardrops fall from me like rain from above. I can brush my troubles away. Now that deep down inside. I’ve got sunshine in my life…” Potongan syair lagu Craig David yang dinyanyikan dengan lantang olah seorang Adya.

Mobil yang dikendarai Adya  sudah sampai disekolah. “Wah, tumben jam segini masih sepi. Biasanya tuh parkiran udah penuh sama mobil-mobil mewah apalagi parkiran motor,” kagetnya Adya setelah melihat lokasi parkiran masih jarang sekali mobil dan motor parkir dilokasi tersebut.

“Ini tuh gue yang rajin apa orang-orangnya pada belom dateng ya? Masa hampir jam tujuh masih sepi. Apalagi si satpam ulur, tumben-tumbennya nggak jegat gue disini.” Sambil menutup pintu mobil Adya melongo keheranan.

“Neng Adya!” tiba-tiba terdengar dari kejauhan suara orang memanggil. “Neng.

Neng Adya!” Suaranya terdengar mengulang

Adya menoleh kekanan, kekiri dari mana asal suara itu kemudian matanya tertuju pada sebuah pondok disamping pintu masuk sekolah. Seorang lelaki separuh baya memanggilnya sambil melambai-lambaikan tangannya.

Adya menghampiri pondok warung bakso yang terkenal enak tersebut. Dia penasaran kenapa lelaki yang bernama Bang Obri, koki tunggal warung bakso itu memanggilnya dengan nada tergesah-gesah serta melambai-lambaikan tangannya membuat dirinya cemas. “Ada apa Bang Obri, wah kayaknya penting banget nih?”

“Neng, Neng nggak lagi main-main kan?” Tanya Bang Sobri keheranan.

“Kenapa sih Bang, kok ngeliatnya kayak gitu? Dan kenapa juga nanyain Adya main-main apa nggak?” Kini Adya yang keheranan karena Bang Obri menatapnya aneh.

“Nggak. Maksudnya Bang Obri Neng tuh ngapain make seragam?”

“Kok kenapa? Ya Adya kan sekolah disini.”

“Ah, Neng jangan bercanda deh masak sekolah hari minggu,” tanggap Bang Obri seraya menunjukkan telunjuknya kearah kalender didekat dinding.

“Ya ampun Bang Obri Adya lupa.” Dengan spontan Adya menepukkan telapak tangannya kedahinya sendiri.

“Emangnya kenapa Neng sampai lupa kalo hari ini hari minggu?”

“Bang kemarin tuh Adya terlambat saat pelajarannya Pak Yudhis. Padahal baru telat tiga menit udah dianggap telat satu jam pelajaran yaudah deh Adya kena hukuman. Emang tuh guru sentimen banget sama Adya.” Serunya sungut.

“Adyaaaa…!!!” dari gerbong koridor sekolah terlihat dua orang gadis menuju tempat Adya berdiri. Suaranya sangat lantang bukan lantang sih melainkan cempreng.

“Adya, wah lo mau nyarap bakso nggak ngajak-ngajak gue ya!” Seru Keira sahabat Adya sejak SMP.

“Ih siapa yang mau sarapan? Lagian baksonya belum mateng tau.” Tegas Adya membela diri.

“Eh Ad, kok lo pake seragam sih, ngigok lo ya?” Tanya Tyas heran.

“Sialan lo. Gue tuh terlalu ambisius. Soalnya gue males kalo gue dapet hukuman lagi sama guru aneh itu makanya gue nyoba berangkat tepat waktu, eh nggak taunya malah sekarang hari minggu.”

Keira dan Tyas yang tadinya serius mendengarkan penjelasan Adya langsung tertawa setelah tau latar belakang kenapa Adya pakai seragam.

Bibir Adya mencibir kesal. “Ih, udah dong ngetawainnya?”

“Habis cerita lo tuh lucu banget sih Ad,” tutur Tyas yang masih larut dalam tawa.

“Udah deh mendingan kita masuk yuk, kayaknya didalam rame banget!” ajak Adya sambil menenangkan mereka yang masih tertawa terbahak-bahak.

“Yaudah deh yuk. Bang Obri kami masuk dulu ya.”

Mereka pun berjalan mengarah kepintu masuk sekolah. Tiba-tiba langkah kaki Tyas terhenti seketika.

“Ih, lo kenapa sih Yas?” dengan wajah aneh Adya menanyai Tyas yang tiba-tiba tertegun dengan pandangannya kearah kantor guru.

“Gilla gue mimpi nggak sih?” gumam Tyas sambil melongo, mata tidak berkedip dan wajah pucat seketika.

“Heh…, lo kenapa sih? Lo tuh lagi nggak mimpi tapi lagi ngigok tau.” Tegas Keira sambil menyadarkan Tyas dengan menepuk pundaknya kencang.

“Aduh. Ih, sakit Keira.”

“Lagian kenapa sih lo kayak ngeliat sesuatu yang sangat penting banget .”

“Itu Keira!” seru Tyas kepada Keira sambil menunjukkan obyek yang dilihat oleh Tyas.

“Apaan sih? Yang mana? Emangnya apa sih?”

“Itu. Itu, mata lo sutur banget sih,” jelas Tyas gemes.

“Ya ampun. Ya Tuhan.” Setelah melihat apa yang dilihat Tyas dilihat juga oleh Keira, ia pun tertular menjadi orang paling bego didunia karena dengan wajahnya yang pucat, mulut melongo dan dengan menaruhkan kedua telapak tangannya dipipi.

“Duh lo semua kenapa sih? Pertanyaan Adya tak dihiraukan oleh mereka. “Woi!” teguran teriak menggema ditelinga Tyas dan Keira sehingga dalam sekejap mereka sadar dan kaget.

“Pelan-pelan kek bisa-bisa budek nih kuping gue,” sungut Keira sambil melemparkan tangan kearah kepala Adya pelan.

“Lagian lo berdua bengong lama banget. Ngeliatin apaan sih?”

“Cowok ganteng.” Kalimat itu spontan terlontar dari kedua mulut gadis tersebut. Kompak dan cempreng.

“Ya ampun kayaknya mereka menuju kesini deh.” Tukas Tyas lemas.

Dari kejauhan tampak dua orang lelaki bertubuh tegap berjalan kearah mereka bertiga. Tyas dan Keira tahu kalau yang sedang menuju kepada mereka adalah orang yang telah membuat mereka lemas pagi ini. Sementara Adya masih kesal karena telah menghabiskan waktu untuk melihat lelaki itu selama tiga menit didepan pintu sekolah. Tanpa respon Tyas dan Keira melentikkan jarinya dan mencoba menyisirkan rambutnya dengan jari.

“Ke, obyek sudah hampir mendekat. Kayaknya ini cocok deh buat gue.” Lagi-lagi dengan tampang begonya Tyas bergumam kepada Keira.

“Sumpah, itu cowok ganteng banget. Kalo ini kayaknya maunya sama gue deh.”

“Enak aja lo ini itu bagian gue!”

“Nggak bakal gue lepasin dia buat lo, cempreng,” Keira coba mempertahankan.

Kini kedua lelaki tersebut telah dihadapan mereka bertiga.

“Pagi Pak!” Sapa Tyas dengan senyuman super lebar dan melirik sekejap kepada lelaki disebelah yang ia sapa.

“Pagi!” jawab lelaki yang menjabat sebagai Pembina OSIS. “Lho, Adya, kenapa kamu pakai seragam sekolah?”

“Eng… eng…, ini pak tadi dirumah saya ada pawai,” jawab Adya asal ceplos saja.

“Pawai? Pawai apa?”

“Itu lho Pak gerakan sekolah sembilan tahun.” Lagi-lagi Adya menjawab asal ceplos.

“Lho kamu kan siswa menengah atas untuk apa ikut?”

“Saya… saya panitianya Pak.”

“Oo.. Oya nanti Taekwondo latihan ya, kamu bawa baju ganti kan?”

“Belun pak. Saya belum bawa nanti deh saya pulang trus ambil.”

“Kamu harus datang tepat waktu karena kita akan membahas turnamen taekwondo tingkat SMA seDKI nanti.”

“OK Pak.”

Pak Yudhis pun berlalu setelah berbincang sebentar dengan Adya. Sementara Tyas dan Keira sedari tadi mereka memperhatikan wajah cowok itu dengan jeli tanpa kedip. Bahkan sempat bikin cowok itu risih dan akhirnya kebelakang tubuh Pak Yudhis untuk menjauh dari mereka.

“Yah… udah pergi deh. Kenapa sih Ad nggak ngobrol yang lama aja sama Pak Yudhis?”

“Tau nih kita kan belum puas Ad,” sambung Keira.

“Oo… cowok itu yang buat lo berdua tadi kayak orang kesurupan?”

“Iya, dia ganteng banget ya, itu tuh cowok paling sempurna yang pernah gue lihat. Keren banget sih…” gumam Keira nggak jelas.

“Sempurna? Udah berapa kali lo bilang kalo lo baru liat cowok sempurna. Lagian sempurna fisik kalo kelakuannya jelek juga nggak bakalan bisa menutup kekurangannya.”

“Huh dasar cewek nggak normal, ketemu  cowok ganteng malah dihina-hina,” ledek tyas sedikit kesal.

“Hah? Apa lo bilang? Nggak normal? Sini lo! gue tonjok lo,” gerutu Adya kesal.

Mereka pun kejar-kejaran. Adya yang tidak terima dengan kataan ‘nggak normal’ yang sering diucapkan oleh Tyas. Begitu pun Tyas ia lari ketakutan setelah mendengar ancaman akan ditojok oleh adya. Memang sih kalau Tyas tertangkap nggak langsung ditonjok melainkan dijitak kepalanya saja dan mengelitiki Tyas selama mungkin sampai Tyas mengatakan ‘Ampun Adya lo itu cewek normal kok, sumpah’.

“Tyas jangan lari lo awas lo kalo ketangkep!” ancam Adya tambah kesal yang masih bertahan untuk mengejar Tyas.

“Habisan lo nggak pernah sekali aja bilang kalau cowok itu ganteng kecuali kakak lo si Abay itu,” tanggap Tyas sambil menengokkan kebelakang.

BRUAK. Terdengar suara orang jatuh.

Oupps, ternyata Tyas jatuh. Ia menabrak seseorang bertubuh tegap tinggi memakai t-shirt polos dan jeans belel.

“Aduh sakit,” rintihan Tyas yang secara tidak sengaja menabrak lelaki tersebut dan lututnya tertabrak tiang sekolah. Sambil mengurut-urutkan kakinya yang masih kaku Tyas belum berani melihat siapa orang yang ia tabrak tadi.

“Tyas, lo nggak apa-apa? Sukurin, kualat lo sama gue!”

“Heh, bilangin sama temen lo tuh kalo jalan kepala tuh ngadapnya kedepan bukan kebelakang sakit nih gue ditabrak!” gertakan lelaki itu kepada Adya tak senang sekaligus kesakitan karena sudah tertabrak, tertindihan badan Tyas pula.

Tyas dan Adya yang tadinya sedang sibuk untuk membersihkan kotoran dilututnya Tyas spontan mengarahkan pandangan itu kepada lelaki itu. Betapa kagetnya Tyas dan Adya ternyata lelaki yang bertabrakkan dengan Tyas sekaligus yang telah membentak mereka berdua barusan adalah lelaki yang tadi bersama Pak Yudhis.

“Maaaf, aku nggak sengaja.” Tyas berlaga manis. Ia langsung tebar pesona kepada lelaki itu dan berharap lelaki itu akan membantunya untuk bangun.

“Lo tau nggak sih ini itu sekolah bukan arena main kejar-kejaran?”

“Kan aku udah minta maaf. Aku kan nggak sengaja lagian siapa sih yang mau jatuh dan lututnya luka?” Tyas bela diri.

“Ada kok orang yang rela jatuh dan luka. Dan itu namanya sengaja kan?”

“Heh lo jadi orang nyolot banget sih temen gue kan udah minta maaf jadi maafin dong!” Nada Adya kesal karena temannya dihujat banyak bentakkan.

“…”

“Dan jadi orang jangan kepedean deh pake prediksi temen gue jatuh sengaja. Elo nggak kasihan? Lututnya itu biru nabrak tiang.” Kini giliran Adya yang menghujat lelaki itu dengan bentakan-bentakan yang nggak kalah nakutin.

“Buang-buang waktu gue berdebat sama cewek rese kayak lo.” Lelaki itu langsung melengos dan pergi dari tempat tragedi.

“Nggak apa-apa kan sekarang lo Yas? Makanya jangan iseng lo sama gue akhirnya sekarang lo kualat deh. Gimana lutut lo? Kalau gue liat-liat tambah lebar aja itu memarnya.” Ledek Adya jahil.

“Ah…, udah dong Ad sakit nih,” rintih Tyas manja.

Nggak lama dari kejadian tabrakan itu Keira datang dan kaget setelah melihat temannya dipanggul oleh Adya. “Ya ampun Tyas kenapa lo?”

“Lutut gue sakit nih, nabrak tiang sekolah.”

“Hah kok bisa?”

“Ya bisa lah. Gue tabrakan sama cowok ganteng yang tadi sama Pak Yudhis.”

“Hah yang bener enak dong?”

“Enak-enak. Kita berdua itu tadi habis adu mulut sama dia,” sambung Adya.

“Adu mulut kenapa?”

“Dia itu cowok sombong. Walaupun bukan dia yang salah sepantasnya kek bantuin Tyas yang lututnya luka, eh ini malah marah-marah, bentak-bentak kita berdua,” sahut Adya sambil masih memanggul Tyas.

“Ya ampun kok bisa sih cowok keren kayak dia kelakuannya kayak gitu.”

“Ke lo urusin Tyas nih gue mau ambil seragam taekwondo!”

Keira mengangguk tanda bersedia. Adya pun meninggalkan kedua temannya dan munuju parkiran mobil.

Saat Adya melewati ruang OSIS nggak sengaja ia melihat sepasang murid disana. Siapa yang ada di ruang OSIS ya. Hati Adya bertanya-tanya. Akhirnya ia pun menghampiri. Ternyata setelah dilihat dengan jelas mereka adalah Edhu dan Naomi. “Edhu? Ngapain lo disini?”

“Adya?” jawab lelaki itu setelah Adya menegurnya diam-diam.”Eng…engak gue lagi ambil perlengkapan latihan basket,” jawab lelaki itu gugup.

“Kok ada dia?” Tanya Adya curiga melihat teman spesial alias pacarnya itu berdua dengan Naomi yang jelas-jelas orang yang selalu sirik dengan hubungannya. Karena naomi juga suka sama Edhu dan tidak rela bila Edhu menjadi pacar Adya.

“Jadi begini Naomi nemenin gue ambil perlengkapan. Soalnya dia sendiri juga mau ngambil perlengkapan ceersnya.”

“O…, yaudah kalo gitu.”

“Eh Ad, mau kemana lo?”

“Gue mau balik, mau ngambil seragam taekwondo.”

“Yaudah hati-hati ya!”

Mereka pun meninggalkan ruangan itu. Adya melanjutkan langkahnya ke tempat parkiran sedangkan Edhu dan Naomi kembali kelapangan sekolah.

Kok aneh ya, bisa-bisanya Edhu dekat sama Naomi. Bukannya gue udah larang dia? Batin Adya bergumam heran dengan apa yang barusan dia lihat. Namun pikiran itu lekas dibuang jauh-jauh karena dia percaya kalo Edhu itu tahu sisi baik buruknya Naomi.

Adya pun lekas masuk mobil. Mungkin karena barusan baru memikirkan Edhu konsentrasi mengendarai mobilnya buyar.

Bruak. Badan bagian belakang mobil Adya terdengar menabrak sesuatu. “Oupps, apaan tuh?” Adya coba melihat apa yang terjadi dibelakang dengan melihat dari sisi kaca spion. “Ya ampun! Mati gue! Motor siapa yang gue tabrak?”

Adya pun lekas membuka daun pintu mobilnya dan mencoba untuk memeriksanya.Duh…, kira-kira motor siapa ya ini? Aduh, jangan-jangan ini motornya Pak Yudhis. Tapi nggak-nggak, pak Yudhis kan nggak punya motor kayak gini tapi motor siapa ya? keren juga sih motornya. Lagian parkir sembarangan udah tau ini tempat parkir mobil. Tiba-tiba pikiran liciknya muncul. Aha…,mumpung lagi nggak ada orang mendingan gue tinggalin aja deh ini motor. Bodo amat.

Mobil Adya pun kini melaju kencang menuju salah satu perumahan elite di Jakarta.

***

“Eh Non Adya sudah pulang!”

“Huh…, Bibi jahat banget sih nggak bilangin kalo hari ini hari minggu,” protes Adya setengah marah.

“Maaf Non, sebenernya Bibi itu mau kasih tau tapi Non langsung pergi aja.”

“Iya-iya Adya maafin.” Adya langsung menuju kamarnya untuk mengambil seragam taekwondonya. Setelah selesai ia pun kembali kebawah dan menuju parkiran.

“Non Adya mau kemana lagi?”

“Mau latihan taekwondo,” jawab Adya datar. Ia pun lekas keparkiran. Didepan pintu ia berhadapan dengan gadis kecil yang sedari tadi senyum kepadanya, namun Adya tidak menghiraukannya malah Adya menganggap kalau sebenarnya gadis itu sedang tidak ada dihadapannya.

Karena takut ketahuan bahwa yang menabrak motor diparkiran adalah Adya ia pun kini membawa motor racing kesayangannya dengan striping persis seperti motor yang dikendarai pembalap dunia MotoGP Dani Pedrosa. Motor yang dikendarainya melaju kencang tanpa hambatan. Karena hari minggu jalan ibu kota lumayan sepi.

“Wah, motor yang tadi udah nggak ada. Mudah-mudahan nggak ada yang tau kalo yang ngembrukkin gue,” tukas Adya lirih sambil memakirkan motor besarnya itu tepat disamping motor yang dijatuhinya tadi. Dari SMP gadis imut yang sedikit tomboy sudah gemar untuk mengendarai motor racing. Karena tubuhnya yang ideal juga makanya ia cocok untuk menaiki motor racing, bahkan sekarang ia menjadi anggota persatuan motor modifikasi. Ia pun nggak buang-buang waktu ditempat parkiran dan bergegas melajukan langkahnya ke aula sekolah tempat untuk latihan taekwondo. “Maaf Pak telat.”

“Adya, silahkan! Pak Yudhis sedang mengarahkan tentang turnamen taekwondo se DKI nanti,” sapa sabem Cicko. Pelatih tim taekwondo SMA TP(Tira Palawa). Sekolah yang Adya duduki sekarang.

Adya hanya menjawab dengan anggukkan tanda mengerti.

Sementara disamping itu Pak Yudhis sekaligus Pembina Tim Taekwondo SMA TP ini melanjutkan kisi-kisi saat turnamen nanti.”Saat ini kita sangat beruntung. Untuk seri sabuk tinggi kita punya pemain baru namun sayang hari ini ia tidak bisa datang karena ada kecelakaan kecil.”

“Pak, memangnya sabuk yang Bapak maksud diatas Adya?” salah satu pertanyaan dari anggota teakwondo, Tarina namanya. Ia hanya beda dua tingkat dengan Adya.

“Ya, benar sekali. Mudah-mudahan Adya dan beliau bisa bekerja sama.”

“Pak, maaf nanya lagi, dia itu laki-laki atau perempuan?”

“Oh iya sampai lupa dia laki-laki,” terang Pak Yudhis supaya jelas. “Bagaimana Adya? Kira-kira kamu bisa  bekerja sama dengan dia?”

“Saya akan usahakan Pak.”

“Baiklah kalau gitu kita mulai latihan sekarang!” Seru Sabem Cicko semangat.

Latihan berlangsung dengan hikmat. Jurus demi jurus dikeluarkan oleh anggota teakwondo yang berlatih untuk memperebutkan gelar juara se DKI.

Saat waktu istirahat untuk anak anak taekwondo, semua berkesempatan untuk berhenti berlatih. Begitu juga Adya. Dia mengunjungi Keira yang latihan bertanding dengan timnya untuk kompetisi basket nanti.

“Lagi istirahat nih Ad?” Tanya Keira seusai latihan bertanging tadi.

“Iya. Eh, gue denger-denger tim basket TP diundang buat kompetisi ya?”

“Iya sekolah Pelita Dara ngadain kompetisi basket buat ngerayain hari ulang tahun sekolahnya gitu deh.”

“O…, gitu. Emangnya tim ceers juga ikut memeriahkan ya?”

“Bukan cuma memeriahkan tapi juga ikut kompetisi antar sekolah seDKI.” Tukas Keira kelelahan.

Adya mengangguk tanda mengerti.

“Kok lo bisa tau Ad?” Tanya Keira.

“Tadi gue ketemu Edhu sama Naomi gitu deh di ruang OSIS.”

“Di ruang OSIS? Ngapain?” Tanya Keira penasaran serta kaget.

“Kata Edhu dia mau ngambil alat-alat buat latihan basket. Kalo Naomi mau ambil perlengkapan ceersnya juga.” Ucap Adya datar.

“Kok ada yang aneh ya Ad, coba deh lo perhatiin tingkah laku Edhu sekarang! Dia itu sekarang deket banget sama Naomi.”

“Ya gue tau. Tapi gue juga ngerti kalo kedekatan mereka hanya sekedar profesi aja.”

“Yah…, mudah-mudahan aja begitu.”

“Hey! Lagi ngomongin apa sih?” suara sambaran Tyas yang cempreng kembali menyapa setelah ia tadi istirahat di ruang UKS.

“Lagi ngomongin ajang kompetisi ekskul sekolah kita! Suara lo tuh bisa pelan dikit nggak sih?” sungut Keira sambil mengusp-usap telinganya yang masih pengang.

“Ini itu udah kodrat kalo suara gue lantang.” Tyas coba bela diri.

“Lantang? Cempreng iya. Anak ceers lagi pada latihan ya?”

“Yup, tapi gue nggak ikut!”

“Siapa juga yang nanyain lo?”

“Ih…, kok sentimen gitu sih mentang-mentang Abay nggak dateng buat ngelatih tim lo ya?”

“Jadi kangen nih sama abang gue? Entar pulang maen aja kerumah gue!” Sambar Adya meledeki Keira.

“Apaan sih lo semua? Nggak lucu tau.”

Setelah bercengkrama selama hampir tiga puluh menit diteras sekolah, Adya, Keira dan Tyas kembali ketempat mereka berlatih sebelumnya. Latihan ekskul yang menyita waktu dan tenaga itu selesai kira-kira pukul tiga sore.

***

“Lo kok tadi nggak kesekolah gue sih Bay?”

“Males.” Jawab Abay sungut kepada Adya.

“Idih…, ngambek?”

“…”

Sorry deh! Masalah mobil lo tadi kan?”

“Rese lo. Gue kan mau ngeceng pake itu mobil,” jawab Abay sambil cemberut.

“Kan gue udah minta maaf jangan cemberut gitu dong! Lagian ngapain sih ngeceng jauh-jauh disekolah aja banyak cewek-cewek yang ngantri sama lo?”

“Bosen.”

“Sok keren lo. Maksud gue banyak cewek-cewek yang ngantri buat latihan basket, kan instrukturnya lo Bay.”

“Ni anak bukannya bujuk gue supaya nggak ngambek lagi malah ngeledekin gue mulu. Jahat banget sih lo jadi adek!” gerutu Abay sambil mencibirkan bibirnya.

“Lo mau nggak cemberut lagi? Mendingan lo ngelawan gue main catur aja yuk?”

“Boleh, gue terima tantangan lo!”

Mereka pun bergegas ke meja ruang tamu untuk mengatur dasar catur. Mereka bermain hingga jam setengan dua belas malam.

“Kalah lo, raja lo gue makan!” ucap Adya senang karena ia mengalahkan kakak laki-lakinya.

“Gue nyerah. Udah malem nih Ad gue mau tudur. Tidur lo besok kesiangan!”

“Pake basa basi, kalo kalah ngaku aja!” Ledek Adya senang.

“Iya-iya gue acungin jempol dua deh buat lo kalo masalah main logika. Udah  malem nih lo tidur sana besok ada pelajaran Pak Yudhis nggak?”

“Ada sih. Tapi kan besok upacara biarpun gue telat gue bisa menyelinap.”

”Tuh kan kalo masalah logika lo cerdas banget. Bukan cerdas sih tapi licik.”

Akhirnya setelah main kata-kataan kedua bersaudara itu masuk kamar mereka masing-masing.

***

Tok-tok-tok. “Non! Non Adya bangun sudah jam setengah tujuh, nanti terlambat kesekolah lho Non!” Suara Bi Nana dari luar kamar Adya yang saat itu belum sadar dari mimpinya. “Non!” Ketukan pintu Bi Nana kembali mengulang selagi Adya belum memberikan tanda bahwa ia akan bangun.

Berbagai usaha dilakukan oleh Bi Nana untuk membangunkan Adya termasuk, mengetuk pintu kamar, menelpon dari ruang tamu, menelpon keHPnya, hingga yang terakhir mengetuk kaca jendela kamar Adya. Namun usaha Bi Nana sia-sia.

Adya kalau sudah tidur sulit sekali dibangunkan. Gimana nggak sulit tempat tidur Adya bisa dibilang eksklusif, yaitu kasur yang luar biasa lembutnya, betcover yang tebalnya bukan main, ketambahan bantal, guling yang tak kalah empuk. Belum lagi suananya yang nyaman dengan AC yang sejuk beraroma teraphi. Karena Adya kalau tidur sulit untuk bangun, tak jarang Abay menjulukinya marmut yang hibernasi.

“Gimana Bi, udah bangun?” Tanya Abay resah.

“Belum Den. Memangnya Non Adya semalam tidur jam berapa?”

“Sekitar jam setengah dua belas Bi.”

Mereka berdua akhirnya sepakat untuk mencoba sekali lagi mengetuk kaca jendela kamar Adya dengan ketukan kencang.

“Woi, Adya, bangun…!” teriakan Abay kesal.

“Apaan sih lagi mimpi enak-enak digedor-gedor,” gerutu Adya setengah sadar. “Iya-iya gue bangun. Bawel banget sih masih pagi juga!”

“Gila lo ya sekarang jam tujuh kurang lima belas menit, lo santai banget sih,” teriak Abay memperingati.

“Apa…? jam tujuh kurang seperapat? Mampus gue…” Adya lekas beranjak dari ranjangnya yang lembut menuju kamar mandi. Melihat waktu yang sangat sempit Adya hanya mengambil alat gosok gigi dan facial foamnya saja.

“Huh, akhirnya tuh anak bangun juga,” tukas Abay lega. Kemudian ia kembali ke meja makan untuk menghabiskan sarapanya. Abay kaget setengah mati melihat dimeja makan sesosok gadis terburu-buru mengolesi selai ke roti tawar. “Adya? Gila… cepet banget lo?”

“Ini telat banget. Anterin gue dong! Nggak mungkin kan gue nunggu angkot atau bawa motor?”

“Mobil gue baru aja dipinjem Nday. Gue lagi nggak ada kuliah.”

“Hah… terus gimana nasib gue Bay?”

Abay hanya menjawab dengan menaikkan kedua bahunya sambil mencibirkan bibirnya.

Adya langsung lari keluar rumah dan berangkat tanpa kendaraan. Memang nggak terlalu jauh jarak antara sekolah dengan rumahnya. Tapi kalau hari senin apalagi diatas jam setengah tujuh jalan besar yang dilalui bis macet banget. Entah bagaimana cara Adya untuk datang kesekolah tepat jam tujuh, sementara sekarang sudah jam tujuh kurang sepuluh menit.

“Duh… mati gue angkutan penuh semua,” gumamnya resah. Diotaknya terlintas bagaimana kalau dia membajak truk hingga sampai kesekolahnya. Tapi terlintas lagi dia itu perempuan nggak sopan banget kalau cuma sendirian membajak truk. Adya kembali menengok jam yang melingkar ditangan kirinya. Menunjukan jam tujuh kurang lima menit. “Duh gimana nih? Ya tuhan berilah keajaiban kepada hambaMu ini yang kesulitan menemui angkutan yang kosong Ya Tuhan, please…”

Entah ilham apa yang datang tiba-tiba sebuah angkutan berhenti dihadapanya. “Terima kasih Ya Tuhan,” ucapnya senang. Kemudian langsung menaiki angkutan tersebut.

Namun nasib apes nggak hilang begitu saja, angkot yang ia naiki sepi alias penumpangnya hanya Adya dan seorang ibu-ibu saja.

“Bang jalannya cepetin dikit dong saya telat nih!” Seru Adya resah karena angkutan yang dinaikinya sering berhenti untuk mencari penumpang.

“Sabar ya neng! Kan Abang juga lagi cari penumpang,” Jawab supir angkutan itu santai.

Entah cobaan apalagi yang dihadapi Adya kali ini. Tiba-tiba saja angkutan yang dinaikinya jalannya berhenti-berhenti.

“Yah? Bang? Kenapa lagi nih mobil?” Tanya Adya nggak sabar.

“Sebentar ya Neng, Abang cek dulu.” Lagi-lagi dengan jawaban yang santai supir itu menjawab pertanyaan Adya.

Adya udah nggak sabar dan kesal karena yang naik mobil angkutan bukan hanya dia tapi ada ibu-ibu, kenapa ibu-ibu itu diam saja tanpa protes.

“Sampe besok deh gue nunggu disini. Nih Bang ongkosnya,” sungut Adya sambil mengulurkan selembar uang lima ribuannya.

“Neng belum ada receh.”

“Kembaliannya… buat… betulin… mobil… Abang… aja tuh. Biar nggak nyusain penumpang.”

“Ih…, pede amat sih Neng kembalian cuma tiga ribu.”

“Ye…, bukannya terima kasih! Dasar supir rese,” gerutu Adya setelah mendengar cemooh supir yang dianggapnya tidak menghargai pelajar dan waktu.

“Kalau gue jalan pasti capek. Duh angkutan pada kemana sih? Apa supirnya pada tau kalau yang butuh itu pelajar yang telat makanya nggak mau muncul?” Adya nggak berhenti-hentinya mengeluh untuk bisa sampai kesekolah.

Ditengoknya kembali jam tangannya. Tepat jam tujuh lewat lima belas menit. Tepat disamping Adya nampak sebuah mobil Jeep berwarna hijau botol menghampirinya. “Ad, ngapain lo disitu?” sapa si pengemudi tersebut.

“Nday! Tolongin gue dong Nday!,” pinta Adya dengan wajah memelas setelah melihat yang mengajak ia berbicara saat ini adalah Nday teman Abay yang tadi pagi meminjam mobilnya.

“Kok lo belom berangkat sekolah sih Ad?”

“Iya nih. Ini hari emang hari sial gue. Gue itu tadi kesiangan terus nggak ada yang mau nganter gue, eh sekalinya gue naik angkutan malah mobilnya mogok.” Jawab Adya semangat karena Nday telah bersedia mengantarnya lebih dahulu ketimbang kuliah.

“Ad, sorry ya sorry banget, gue nggak bisa nganter sampai sekolah. Soalnya gue juga lagi buru-buru palingan gue nganterin lo sampai halte, nggak apa-apa kan?”

“Ya ampun tanggung Nday.”

Sorry Ad, gue juga lagi buru-buru. Sorry banget deh!”

Adya hanya cemberut dibatinnya berkata. Sialan udah dipinjemin mobil bukannya nganterin yang punya dulu malah dianterin sampe pinggir halte doang.

Mobil Jeep yang tumpangi Adya pun sampai di halte seberang sekolah.

Thanks ya Nday!”

“Yoi Ad, sorry ya nggak sampai depan.”

Adya mengangguk ikhlas.

Sambil menyebrang menuju pintu gerbang sekolah Adya menengokknya kepalanya sebentar ke pergelangan tangannya untuk melihat jam. Jam telah menunjukan tepat tujuh lewat dua puluh menit.

Adya datang didepan pintu gerbang sekolah sambil mencibirkan mulutnya. Kenapa? Karena seorang laki-laki dengan tampang sangar sudah menyapanya.

“Adya! Saya heran sama kamu kok bisa sih sampai kesekolah hampir jam setengah delapan,” ujar satpam yang menjaga pintu gerbang utama sekolah TP.

“Pak, tolong dong Pak bukain!” ucap Adya memelas.

“Nggak bisa, upacara masih berlangsung.”

“Pak, udah sarapan belom? Udah ngopi belum? Udah ngerokok belum…”

“Saya puasa.” Jawab tegas satpam yang bernama Satrio tersebut sebelum Adya menyelesaikan pertanyaanya.

“Pak, please dong darurat nih!”

“Siswa yang lain saja saya suruh pulang apalagi  kamu.”

“Maksudya?” Adya bertanya kebingungan.

“Saya sudah diwanti-wanti oleh Pak Yudhis, kalau kamu yang terlambat suruh pulang saja,” tegasnya kembali. Memang satpam yang satu ini tidak bisa bersahabat dengan anak-anak dableg seperti diantaranya Adya. Satpam yang biasa dipanggil pak Yoyo ini dikenal sangat disiplin dan pantang sogokan.

“Hah…, tega banget sih Pak! Saya kan mau sekolah kok disuruh pulang sih?”

“Itu sudah amanat.”

Entah mengapa kalau pikiran seseorang sedang kepepet pasti ada akal licik yang muncul. Sama halnya dengan Adya, tiba-tiba saja akal liciknya muncul. Gimana kalau gue manjat pagar disamping ruang UKS aja yah?

Adya pun cepat-cepat lari dari depan pintu gerbang utama. Ia menuju pagar samping. Kedaan aman. Ia pun langsung memanjat pagar tersebut hingga menembus semak-semak taman didekat ruang UKS.

Brusak. Suara semak-semak yang sudah mengagetkan hampir siswa siswi yang bolos upacara

“Huh, akhirnya lolos juga deh gue,” ucap Adya lirih.

“Ad, gila lo jam segini baru dateng!” seru Ferry teman sekelas Adya yang dablegnya minta ampun.

“Iya nih, gue habis berpetualangan. Upacara belom selelai ya?”

“Belom. Amanatnya Pak Yudhis belom ada ujungnya tuh.’

“Dia tuh yang nyuruh satpam buat ngusir gue.” Tanggap adya yang masih kesal dengan suruha guru tersebut.

Tepat pukul delapan upacara hari senin disekolah TP selesai. Adya dan siswa siswi yang lainnya yang bolos upacara dan berada di ruang UKS beranjak kekelas  mereka masing-masing. Dari gerombolan tadi hanya Adya yang masih memanggul tas.

“Eh, lo semua duluan aja deh gue mau ke toilet!” seru Adya yang tiba-tiba terasa mulas, padahal keadaan masih genting karena bila ketahuan Pak Yudhis Adya pasti divonis terlambat karena Adya jelas masih memanggul tas.

“Ya udah kita duluan Ad.” Sahut Ferry dan yang lain.

Setelah selesai dari kamar mandi Adya langsung bergegas kekelasnya sebab pelajaran pertama saat itu pelajaran Kimia dan yang mengajar udah nggak asing lagi, siapa lagi kalau bukan Pak Yudhis.

Kakinya hampir selangkah lagi untuk bisa masuk kedalam ruang kelas XII IPA I tapi tiba-tiba berhenti karena ada suara yang memanggilnya.

** To Be Continue

Famodya :

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5

Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10

Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15

Part 16 (END)

 
Leave a comment

Posted by on August 19, 2011 in Cerita, Famodya

 

Tags: , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: