RSS

FAMODYA (Part 2)

19 Aug

“Adya!” suaranya sudah tidak asing untuk didengar. Pak Yudhis telah lebih dahulu tahu gerak gerik Adya untuk menyelinap masuk kekelas. “Apa-apaan kamu jam segini baru datang?” dengan mata melotot Guru itu menatap Adya.

  “Nggak kok Pak saya udah dateng dari tadi. Tapi tasnya belum saya taruh dikelas. Tadi saya sakit perut Pak, saat upacara saya nggak ikut dan tas saya masih dipanggul. Ini saja saya baru keluar dari kamar mandi Pak.” Dengan jawaban datar Adya mencoba bela diri.

  “Alasan kamu. Kamu kira saya bodoh bisa percaya begitu saja sama kata-kata kamu? Saya sudah dapat informasi dari Satrio kalau kamu datang hampir jam setengah delapan.”

  “Eng…nggak Pak. Pak Satrio bohong kali sama Bapak?”

  “Sudah jangan banyak alasan. Saya lebih percaya Satrio daripada kamu, Adya!”

  “Maaf Pak saya masuk dulu mau taruh tas.”

  “Apa? Enak saja kamu langsung masuk tanpa konsekwensi. Taruh tas kamu di meja  piket guru, setelah itu kamu minta kain lap sam Pak Hendra!”

  “Kok nyambungnya minta lap sama Pak Hendra Pak?”

  “Kamu dapat hukuman.”

  “Hukuman?”

  “Iya, kamu lap seluruh jendela di kelas ini hingga terlihat lebih bersih dibanding dengan hasil lap Pak Hendra!”

  “Pak saya niat berangkat kesekolah buat belajar bukan jadi cleaning servies.”

  “Kamu keberatan? Apa perlu saya kasih hukuman ganda, setelah mengelap kaca jendela kamu berdiri dengan posisi hormat didepan tiang bendera hingga waktu istirahat nanti?”

  “Nggak Pak, udah cukup, makasih.”

  “Ya sudah kerjakan. Ketua kelas kok tidak memberikan contoh yang baik kepada teman-temannya,” tegas Pak Yudhis.

  Karena Adya sudah melihat mata Pak Yudhis yang melolot dan sebentar lagi hampir pingin copot dan jatuh, ia langsung cepat-cepat mengambil lap di Pak Hendra. Ia langsung melakuka instruksi yang diberikan oleh wali kelasnya tersebut. Sebagai alasan juga kalau ketua kelas harus memberikan contoh yang baik kepada teman-temannya, mengerjakan apa yang diperintahkan wali kelasnnya.

  Saat naik dikelas tiga Adya masih dipercaya untuk jadi ketua kelas karena sikapnya yang banyak ide, cepat bersosialisasi dan berkomunikasi. Satu lagi lho Adya dipercaya sama teman-teman sekelasnya karena sikap solidaritasnya tinggi, nggak pelit sama yang namanya contekan dan nggak sok ngatur layaknya ketua kelas yang lain.

  Kini pelajaran Kimia berlangsung. Semua murid dikelas XII IPA I berkonsentrasi termasuk juga Adya. Biarpun ia berada diluar kelas ia tetap bersemangat untuk mengikuti pelajaran tersebut. Sesekali Pak Yudhis menanyakan materi yang telah diajarkan kepada muridnya didalam kelas dan seluruh murid tersebut belum begitu paham, Adya mendahului jawaban itu. Adya sudah ditakdirkan menjadi siswi yang cerdas. Setiap pelajaran apapun setelah diterangkan guru otaknya telah menyimpan materi tersebut tanpa harus mencatat maupun menghapal.

  “Siapa yang masih ingat nilai-nilai kuwantum terutama kuwantum orbital “d”?” Tanya pak Yudhis kepada murid didalam kelas.

  “Kwantum tetapnya lima dan sepuluh Pak,” jawab Adya menyerobot dari balik jendela.

  “Ssstt…, jangan berisik dong!” seru seorang murid laki-laki didalam kelas.

Seluruh murid didalam kelas terbelalak mendengar seruan itu. Dalam hati mereka mungkin berkata. Siapa sih lo? Termasuk juga Adya yang berada di luar kelas. Spontan melongo mendengar seruan tersebut. Dan yang mengagetkan lagi, kenapa laki-laki itu duduk tepat di bangku Adya.

  “Adya! Kalau belum bersih jangan ikut pelajaran saya dulu!” bentak Pak Yudhis merasa terusik.

  “Pak, maksud saya kan baik.”

  “Sudah-sudah mari kita lanjutkan materi yang tadi,” Ajak Pak Yudhis.

  “Pak saya protes, kenapa ada orang asing di meja saya?” adya memotong ajakan guru tersebut untuk melanjutkan pelajaran.

  “Adya, sudah berapa kali saya peringatkan jangan mengikuti pelajaran sebelum hukuman kamu selesai!”

  “Saya hanya protes pak. Dan Bapak harus menjelaskan kenapa orang sombong itu duduk di tempat saya.”

  “Selasaikan tugas mu lebih dahulu! Mengerti?” bentak guru tersebut. Geram.

Adya tidak melanjutkan kata-katanya lagi. Ia hanya tertuduk dengan raut wajah yang sama geramnya dengan wajah guru tersebut. Di batinnya berkata. Hari ini emang hari sial gue, udah kesiangan eh, sekarang meja gue ditempatin sama orang sengak, sebel.

  “Pak, hukuman telah saya kerjakan dengan baik. Sekarang boleh kan saya mengikuti pelajaran Bapak?” Tanya Adya dengan perasaan takut.

  “Ya sudah duduk!”

  “Sama dia…?” Tanya Adya minder.

  “Ada-ada saja kamu. Ya iya kamu kan tempatnya disitu. Ya sudah cepat duduk sana!”

  Dengan keadaan sedikit nggak rela Adya jalan menuju tempat duduknya. Karena sifat Adya yang cuek setelah dapat hukuman mengelap kaca jendela tadi, sama sekali nggak terlihat wajah malu dan penyesalan malah santai-santai saja.

Kini keadaan kembali tenang murid-murid mendengarkan penjelasan demi penjelasan materi dari Pak Yudhis.

  Setelah sekitar sepuluh menit pak Yhudis  menjelaskan materi beliau menyuruh murid-muridnya mengerjakan uji kepahaman didalam buku panduan tersebut. Maka semua murid mengerjakan dengan serius diikuti dengan suasana hening. Maklum kalau murid-murid dikelas ini langsung hening bila mendapat tugas dari gurunya karena kelas inikan kelas IPA. Dari dulu sudah terkenal dimana-mana kalau yang namanya murid IPA itu kalem, patuh terhadap guru dan jarang sekali ribut atau membuang-buang waktu yang nggak perlu.

  “Heh! Rese banget sih lo!” sungut Adya ketika siswa disampingnya itu menyenggol sikutnya yang sedang mengerjakan soal.

Cowok itu tidak mengalihkan pandangannya ke hadapan Adya.

  “Lo itu bener-bener orang yang angkuh ya,” sungut Adya kembali lirih.

  “Bisa diem nggak sih lo?” siswa itu malah balik membentak Adya dengan wajah yang nggak kalah seramnya dengan Adya.

  “Uught…, lo tuh…”

  “Ada apa ribut-ribut?” Tanya Pak Yudhis ynag mendengar keributan kecil itu.

  Adya langsung menghentikan perkataanya dan kembali mengerjakan soal.

  Kedaan kembali hening tanpa suara, namun tiba-tiba siswa disamping Adya bertutur. “Nggak rela gue duduk disini? Kudu gue bayar berapa sih supaya gue bisa duduk tanpa hambatan?”

  Kata-katanya tadi yang sangat melecehkan Adya membuat Adya kembali menaikan darahnya. “Heh, lo bisa nggak sih bikin gue eggak marah hari ini? Mau lo apaan?” tegur Adya dengan suara yang lumayan keras sehingga bisa mengacaukan konsentrasi seluruh murid didalam kelas termasuk Pak Yudhis.

  “Adya! Kamu bisanya cuma bikin ulah saja, apa perlu saya keluarkan kamu dari dalam kelas dan tidak mengikuti pelajaran saya?”

  “Maaf Pak. Tapi…”

  “Sudah jangan berisik!”

  Adya sudah mulai jenuh dengan sifat Pak Yudhis. Ia letakkan pulpennya diatas meja. Ia berduduk santai sambil mmenunggu bel yang menandakan pelajaran Pak Yudhis selesai.

  Kriiiing. Akhirnya suara yang ditunggu-tunggu itupun berdering.

  “Silahkan kalian pelajari kembali di rumah. Selamat pagi!” seru Pak Yudhis sebelum keluar dari kelas yang di walikannya sendiri.

  Semua murid yang mengisi kelas XII IPA I ini pun keluar untuk menikmati waktu istirahan. Tak terkecuali Adya, dirinya terlepas dari kejenuhan dan hendak menghampiri tempat dimana Keira duduk. Adya dan Keira adalah sama-sama murid kelas tersebut.

  “Ke, kita istirahat yuk! Sekalian ada yang pingin gue omongin sama elo nih,” ajak adya sambil menarik-narik tangan Keira yang belum beranjak dari tempak duduknya.

  “I…Iya, sabar dong.” Sahut Keira kesakitan. “Emangnya lo mau ngomong apaan sih? Kalau nggak penting-penting amat mendingan ngomong disini aja deh. Gue lagi males keluar nih.”

  “Pokoknya ada yang pengin gue omongin. Udah deh lo ikut gue.” Adya terus menarik-narik tangan Keira agar mau beranjak.

  Keira melepaskan tangannya kesal.

  “Bener nggak mau nemenin gue istirahat? Nggak nyesel? Padahal sambil gue traktir makan baksonya Bang Obri.”

Keira memandang tanpa respon.

  “Beneran nggak mau? Nggal nyesel?” Adya terus mengelabuhi Keira yang masih tercengang antara duduk dikelas atau makan bakso, kenyang dan dibayarin pula.

  “Iya deh, gue mau. Tapi janji lo nraktir gue?”

  “Tenang aja.”

  Mereka berdua akhirnya pergi bergegas menuju pondok Bang Obri.

  Sesampainya di pondok Adya langsung cerita panjang lebar tentang nasib sialnya hari ini. “Hari ini bener-bener hari sial gue nih Ke,” tukasnya sambil menyeruput segelas es teh manis berasa buah.

  “Iya. Iya gue tau. Tapi gue nagih janji lo dulu. Pesenin bakso dulu sana!”

  “Ye…, ini anak makanan aja nomor satu. Bentar gue pesenin.”

  Dua porsi bakso pun dipesan oleh Adya. Sambil menunggu bakso diantarkan ke meja yang Adya dan Keira duduki, Adya melanjutkan ceritanya yang terhambat. “Sebel Ke, lo bisa ngertiin enggak sih?”

  “Sebelnya itu sesebel apa sih Ad? Bukannya lo udah biasa dapet hukuman dari Pak Yudhis?”

  “Sebelnya itu sempurna banget,” tekan Adya yang menceritakannya kejadian sehabis dia bangun tidur hingga saat ini.

  “Woi! Lo kok makan nggak ajak-ajak gue sih?” tegur Tyas yang tau-tau sudah ada didepan meja yang Adya dan Keira duduki.

  “Yas, sini gue mau kasih kabar bagus buat lo, lo pasti penasaran!” tanggap Keira semangat sehingga lupa bahwa baru saja dia mengabaikan percakapannya dengan teman yang mentraktirnya makan bakso.

  Tyas pun penasaran dengan tawaran Keira. Ia pun ikut menduduki tempat yang diduduki Adya dan Keira. Keadaan menjadi ramai seketika setelah Keira dan Tyas berkumpul. Sementara Adya, dirinya kini dicueki oleh kedua temannya.

  “Eh, sebenernya yang mau curhat ke lo itu Tyas apa gue sih?” Tanya Adya gondok.

  “Sebentar Ad, cerita gue belum selesai.” Tanggap Keira tanpa persaan nggak bersalah.

Adya hanya goleng-goleng kepala dengan kedua temannya. Bakso yang dihidangkan oleh Bang Obri pun dimakan tanpa percakapan yang seharusnya keluar dari mulut Adya.

  “Huh kenyang. Terus gimana lagi tuh ceritanya?” Tanya Tyas kepada Keira.

  “Udah dong ceritanya! Kapan gue ngomong kalo lo ngomong sendiri-sendiri?” geram Adya makin dongkol.

  Sama sekali Keira dan Tyas tidak menanggapi perkataan Adya barusan.

Adya yang makin geram akhirnya berdiri dari meja makan sambil menepukkan tangan kanannya kencang ke meja makan tanda kesal. Wajahnya mengandung kemarahan yang sangat dalam. Ibarat air panas ini tuh suhu yang udah paling pol panasnya. Adya keluarkan beberapa lembar kertas uang ribuan untuk membayar bakso yang dipesannya dihadapan Keira, setelah itu ia melengos begitu saja.

  Keira dan Tyas kaget atas gertakan Adya. Mereka langsung mengarahkan pandangannya ke arah Adya dengan wajah penuh kepolosan seakan-akan tidak ada terjadi apa-apa disini barusan.

  “Yah, Adya marah deh,” gumam Keira lemas.

Adya yang masih geram melajukan jalannya tanpa melolehkan kepalanya kembali kebelakang. Tiba-tiba seseorang muncul dari arah yang sama dengan membawa segelas es jus alpukat.

  Bruak…. Adya bertabrakan dengan seseorang yang membawa es jua alpukat tadi. Tabrakannya lumayan kencang karena Adya sempat terdorong hingga ke sudut pondok. “Duh ANJRIT!” Seruan Adya teriak sambil membersihkan baju seragamnya yang terkena sidikit cairan jus alpukat tersebut.

  Tanpa mengarahkan pandangan ke wajah orang yang ditabrak Adya langsung melengos tanpa berfikir kalau sebenarnya yang salah orang itu atau dirinya.

  “Ad! Adya, tunggu dong!” Kejar Keira melihat Adya ngambek didepannya barusan. Tanpa sengaja pandangannya menjamak menuju orang yang ditabrak Adya barusan. Kasihan sekali, kalau saja Keira tidak harus mengejar Adya ia akan membantunya untuk membersihkan sisa-sisa cairan jus alpukat yang terdapat pada baju orang itu.

  “Tunggu, itu tadi temen lo yang kemaren ngomelin gue kan?” orang yang bertabrakan dengan Adya tiba-tiba menariik siku Tyas.

  Otomatis Tyas yang tadinya mengikuti Keira berhenti karena orang yang memberhentikannya adalah cowok ganteng yang kemarin bertabrakan juga dengannya. “Iya. Lo kan yang waktu itu na…” Tyas mencoba berakting kalau dia agak-agak lupa dengan orang yang sedang di hadapannya.

  “Oh.” Jawab orang itu singkat. Lagi-lagi sikap angkuhnya terlihat lagi setelah melengos pergi meninggalkan Tyas yang masih mau berbicara banyak dengannya.

  “Eh, tunggu!” Tyas coba untuk menahan cowok itu pergi tapi pupus karena cowok itu sudah hilang dari pandangan. Akhirnya Tyas mencari Keira kembali.

              ***

  “Anak-anak karena hari ini ada rapat guru, dengan terpaksa kalian semua murid disekolah ini pulang lebih awal. Ibu berharap dengan adanya kekosongan waktu kalian bisa memanfaatkannya dengan baik untuk belajar!” seru Bu Hanum. Guru yang mengajar Bahasa Indonesia ini kalau bicara memang santun. Guru tersebut terkenal sebagai guru perempuan paling sopan, baik, lembut, ramah, pokoknya yang baik-baik semua ada disikap beliau.

  Semua murid yang mengisi kelas XII IPA I bersorai-sorai karena pulang lebih awal, termasuk Adya. Sikapnya bahagia sekali.

  “Ad, Adya, lo masih marah ya sama gue? Gue minta maaf deh.” Pinta Keira saat Adya hendak keluar dari kelas

  Adya tidak menanggapi perkatan Keira, ia malah enggan untuk menengokkan wajahnya ke arah Keira.

  “Ad, udah dong ngambeknya! Biasanya juga lo nggak kayak gini.” Keira terus mengejar Adya yang terus berjalan tanpa berhenti saat Keira memohon maaf kepada Adya.

  “Ad!” Keira menarik siku Adya untuk menahannya supaya tidak menghindar saat diajak bicara.

  “Ih, apa-apaan sih Ke?”

  “Habis lo begitu banget sih.”

  “Emangnya kenapa?.”

  “Jelasin dong Ad!”

  Adya meneruskan langkahnya tanpa menjelaskan apa-apa.

  “Ad!” Keira kembali menarik siku Adya.

  “Apa lagi sih?” Adya mulai geram

  “Iya. Gue minta maaf, tadi gue nggak nanggepin lo waktu diwarung Bang Obri. Tapikan itu sepele masa sih marahnya panjang banget.”

  “Lo itu nggak bisa menghargai orang lain.”

  “Iya, gue minta maaf. Gue ngerti salah.”

  Adya berhentikan langkahnya dan menghadap ke arah Keira dengan senyuman lebar. “Nggak gue sangka yah kalo gue ngambek lo tuh langsung bingung cara minta maafnya.”

  “Ih…, sialan lo ya, bisanya cuma ngerjain gue melulu.”

  “Ye…, biarin emangnya enak kalo orang pengen ngomong terus dikacangin?”

  “Oya, emangnya lo itu tadi mau cerita apa sih. Yuk kita cari tempat enak buat ngobrol”. Keira pun mengajak Adya untuk mencari tempat yang nyaman untuk ngobrol

  Akhirnya mereka menempati SekBid Taekwondo disamping ruang kerja OSIS.

  “Ad, nggak gue sangka ternyata cowok yang kemarin itu jadi satu kelas sama kita,” tukas Keira membuka pembicaraan.

  “Justru cowok sengak itu yang pingin gue omongin ke lo.”

  “Lho emang kenapa Ad? Dia bikin lo deg-degan atau bikin lo jatuh hati?” Keira menatap Adya dalam-dalam.

  “Ye…, bukan itu bodoh. Dia itu cowok yang bener-bener bikin sial gue sempurna.”

  Keira langsung mendekati dimana Adya duduk sangking penasarannya mendengar cowok pujaannya dibilang “cowok sengak”.

  “Hari ini gue itu sial banget deh. Pertama, gue kesiangan terus gue naik angkot mobilnya mogok, ketemu Nday dijalan malah gue nggak dianterin sampe sekolah. Disekolah gue adu mulut dulu sama satpam sialan. Si Satryo.” Gerutu Adya ngotot-ngotot. “Parahnya lagi gue ketauan sama Pak Yudhis kalau gue telat eh gue dapat hukuman deh. Dan dia yang bikin sial gue sempurna

  “Dia? Dia siapa?”

  “Dia, orang yang tadi pagi tiba-tiba duduk dimeja gue tanpa izin dulu sama gue.” Terang Adya.

  “Oh…, Lefard.”

  “Hah, siapa namanya tadi?”

  “Lefard. Lefard Heldunn Wirayudha. Bagus ya namanya?”

  “Idih namanya aja udah aneh pantes orangnya kayak gitu.” Nada Adya enggak senang.

  “Ih…, pantes kali sama orangnya. Lo nggak liat? Cowok itu ganteng banget, keren, tegap, pinter dan yang paling penting Lefard punya aura yang menonjol sehingga setiap cewek yang lihat Lefard itu langsung tepar.” Terang Keira membela si anak baru itu. “Dan yang tambah sempurna, dia itu ternyata jebolan sekolah terkenal di New Zeland.”

  “Lho emang kenapa kalo dia itu pindahan dari luar negeri? Merasa spesial, merasa aneh?” Tanya Adya heran.

  “Yaampun Ad, lo tuh nggak peka ya? Yang namanya pindahan dari luar negeri itu udah pasti turunan sana atau belasteran. Terus pasti dia anak orang kaya. Wah kayaknya sempurna banget kalo ada cewek yang jadi pacarnya, dan berharap cewek itu gue.” Dengan penuh percaya diri Keira membanggakan dirinya sendiri.

  Adya hanya geleng-geleng kepala melihat gelagat teman karibnya yang setengan tomboy juga setengah centil.

  Ada beberapa hal yang menyamai sifat Adya dan Keira sehingga mereka sering klop bila bergaul yaitu sifat mereka yang tomboy, cerdik, dan mudah bersosialisasi kemudian postur tubuh mereka yang sama-sama ideal, tinggi semampai, berkulit kuning langsat dan berambut hitan tapi bedanya rambut hitam Keira keriting berkilau lain dengan Adya yang lurus, mengembanng dan berkilau. Mereka sama-sama manis dan cantik. Namun ada perbedaan yang sangat mencolok antara Adya dan Keira yaitu sifat Adya yang sepenuhnya tomboy dan cuwek, sedangkan Keira biarpun ia tomboy sifatnya kadang-kadang mirip dengan Tyas yang suka berdandan dikelas, cerewet dan satu lagi langsung lemas bila melihat cowok tampan dan berusaha sekeras mungkin untuk tebar pesona kepada cowok tersebut.

  Tanpa disadari Keira dan Adya ada sesosok orang yang memperhatikan pembicaraan mereka dari sudut jendela SekBid.

  “Siapa tuh?” dengan siaga Adya mencari sumber suara itu.

  “Ad, bunyi apaan tuh? Kok bunyinya krusak-krusuk, terus kayak orang nginjek kaleng soft Drink, kan disini nggak ada siapa-siapa. Jangan-jangan Ad?” rengek Keira ketakutan setelah mendengar suara dibelakang tempat ia curhat tadi.

  “Lo jangan mikir yang macem-macem deh ini tuh siang bolong!”

  “Udah deh Ad kita pergi aja!”

  “Entar, gue penasaran siapa yang tadi nguping pembicaraan kita.”

  “Ad, lo nggak tau sejarahnya ya? Sekolah kita tuh angker tau katanya dulu tanahnya sebelum dibangun bekas kuburan.”

  “Baru katanya kan? Udah deh nggak usah ngarang yang macem-macem.” Adya celingukan masih mencari oarng yang menguping tadi kebelakang taman sekolah.

  “Ad, mau kemana? Ih.., lo tega ya ninggalin temen lo sedirian, tungguin gue Ad!” Teriak Keira mengejar Adya sambil ketekutan dan meninggalkan SekBid Taekwondo.

Adya masih mencari dan semakin penasaran kalau yang nguping percakapannya tadi adalah orang bukan mahluk aneh.

  “Gue yakin banget tadi tuh orang kayak perempuan gitu bentuknya.”

  “Udah deh Ad jangan tambah nakutin gue kalau yang ngintip tadi cewek!”

  “Jadi orang kok penakut banget sih Ke.”

  “Udah deh lupain aja, kita pulang yuk!”

  Adya menganggukan kepalanya tanda setuju. Dan akhirnya pencarian Adya berakir di lorong UKS yang mereka lewati.

  Tiba-tiba mata Adya tercengang melihat banyangan dibelakang lemari obat didalam ruang UKS. ”Ke tunggu!”

  “Ada apa lagi sih?”

  “Lo liat deh dibelakang lemari obat di UKS!”

  “Apaan tuh? Jangan-jangan…, udah deh Ad kita pulang!” Keira tambah ketakutan dan wajahnya sudah sepenuhnya pucat.

  “Eh, bentar Ke, gue penasaran…” Tangan Adya langsung saja ditarik dan secara cepat meninggalkan rungan UKS.

  “Ke, pelan-pelan dong sakit tau!” rintih Adya karena Keira menggandeng pergelengan tangan Adya keras-keras.

  “Lo mau ngajak gue mati gara-gara ketakutan Ad? Udah deh mendingan kita pulang aja…”

  Dikejauhan nampak seorang gadis berlari-lari menuju Adya dan Keira. “Ke, lo mau kemana? Jadi nggak nganterin gue?” Tanya Tyas. Gadis yang tadi berlari-lari kecil mengejar langkah kepergian Keira dan Adya. “Kok bengong sih, kenapa lo? Jadi nggak?”

  “Kemana sih Yas?” Tanya Adya penasaran.

  “Gue minta anterin Keira ke toko kaset. Gue mau beli lagu kompilasi buat ceers gue. Kenapa sih si Keira kok pucet gitu mukanya?”

  “Dia habis ketakutan.”

  “Ketakutan? Ketakutan kenapa?”

  “Udah-udah nggak usah dibahas! Iya gue anterin lo ke toko kaset, gue mau refreshing.” Sambar Keira malu.

  “Oh iya Ad lo mau ikut nggak entar gue traktir deh!” ajak Tyas membanggakan diri.

  “Alah, palingan juga lo nraktir kita dikios pinggir jalannya doang,” Keira kembali menyambar.

  “Ye…, yang penting nraktir daripada lo, tiap gue jalan bareng lo, lo itu nggak pernah ngajak gue makan. Kere banget sih lo.” Ejek Tyas sambil bertolak pinggang.

  “Udah deh nggak usah jadi ribut gini. Gue nggak ikut. Males.”

  “Yah…, ikut dong Ad biar rame!” ajak Tyas melas.

  “Udah, lo berangkat aja berdua sana, beneran gue lagi males. Gue mau nenangin pikiran nih”.

  “Sok penting banget sih lo Ad pake ngelesnya nenangin pikiran. Emangnya serumit apa masalah lo hari ini?”

  “Mau tau? Lo introgasi Keira aja gue cape habis nerangin Keira ketambahan nerangin lo yang ada gue tambah pusing.”

  “Kok malah tambah pusing?” Tanya Tyas keheranan.

  “Iya. Lo itu kelewat kritis. Jadi kalau gue cerita satu bait lo komentarnya satu halaman. Makasih deh kalo gue cerita sama lo sekarang. Yaudah gue pulang duluan deh.”

  “Iya-iya gue akuin gue cerewet. Iya deh hati-hati ya Ad!”

  Mereka pun sama-sama meninggalkan lokasi sekolah. Keira dan Tyas masuk kedalam mobil Keira menuju Dept Store untuk mencari lagu kompilasi sedangkan Adya ia beranjak pulang dengan berjalan kaki.

  Diperjalanan pulang Adya biasa melewati taman kota yang lokasinya tidak jauh dari sekolah dan biasanya ia mampir disana untuk bermain dengan anak-anak playgroup yang sedang bermain. Biarpun sikapnya yang cuwek tapi Adya juga seorang gadis yang cinta sekali dengan dunia anak-anak terutama balita laki-laki. Saat ingin menyebrang Adya melihat ada kubangan disekitar jalan ia bermaksud untuk menghindar namun dari seberang melintas sebuah sepeda motor yang berjalan kencang dan hampir saja ingin menabrak dirinya otomatis Adya kaget dan langsung kembali kebelakang jalan dan nggak sengaja pula sepasang kakinya menginjak kubangan itu dan air kubangan itu masih kesela-sela sepatu Adya.

** To Be Continued

Famodya :

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5

Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10

Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15

Part 16 (END)

 

 
Leave a comment

Posted by on August 19, 2011 in Cerita, Famodya

 

Tags: , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: