RSS

FAMODYA (Part 3)

19 Aug

“Ugght…, siapa sih tuh orang? Ngendarain motor nggak ada rambu-rambunya sama sekali, rese banget sih. Kalau aja tuh motor tau-tau berenti didepan gue, gue nggak segan-segan buat nonjok muka si pengendaranya sampai bonyok,” gerutu Adya karena bukan sepatunya saja yang kemasukan air tapi karena saking kencangnya orang itu mengendarai motor kubangan yang didepan Adya juga ikut diinjak akibatnya Adya kecipratan air kubangan bajunya kotor, basah kuyub dan bau. Adya makin geram dengan tingkah orang tersebut, semena-mena meninggalkan dirinya tanpa meminta maaf. Kok kayaknya gue kenal sama motor tadi ya. Adya coba mengingat-ingat bentuk motor yang barusan menciprati dirinya dengan air kubangan. Ah…, gue baru inget. Itu kan motor yang kemarin gue tabrak. Berarti dia anak TP dong. Adya makin penasaran. Kok dia sekejam itu ya sama gue, apa dia tau kalau gue yang jatuhin motornya kemarin. Batin Adya masih penasaran dengan pengendara motor racing yang lumayan keren dikalangan motor racing yang pernah Adya lihat. “Huh sialan gara-gara baju gue kotor gue nggak jadi main sama anak-anak playgroup, akhirnya gue pulang deh.” Adya kesal karena gagal untuk bermain dengan anak-anak playgroup.

***

  “Duh, dari tadi lo cuma pegang ini itu. Sebenernya lo tuh mau beli yang mana?” Tanya Keira kesal karena Tyas sudah berdiri kurang lebih satu jam untuk memilih kaset kompilasi.

  “Sabar dong temanku yang cantik. Kalau cari kaset harus teliti supaya nggak nyesel tau,” jawab tyas santai.

  “Ya ada batasnya lah kalau mau sabar. Gila kali lo ya, hampir satu jam nih gue berdiri nungguin lo jadi beli kaset yang mana.” Keira makin geram apalagi janji Tyas belum ditepati untuk mengajaknya makan.

  “Iya-iya sabar ya mba’ sebentaaaar lagi!” tyas coba mendinginkan darah Keira yang mulai panas.

Akhirnya setelah menunggu selama sepuluh menit tyas menemukan kaset kompilasi untuk ceersnya. Kemudian mereka berdua membayar ditempat pembayaran. Saat ditempat pembayaran Keira dan Tyas tertegun dengan apa yang telah mereka lihat. Sepasang siswa yang masih mengenakan seragam putih abu-abu bersamaan sedang mengantri untuk membayar kaset yang mereka beli.

  “Yas itu Edhu sama Naomi kan?” tanya Keira heran serta kaget.

  “Mana?” tyas mencoba memalingkan pandangan kearah telunjuk Keira.

  “Itu yang paling depan!”

  “Ih…, iya. Ngapain mereka berduaan disini?”

  “Tau. Latihan Basket? Atau latihan ceers?”

  “Ngawur lo. Ngapain lagi kalau bukan lagi selingkuh.”

  “Ini nggak bisa dibiarin.” Keira langsung beranjak dari tempat antrian dan menuju tempat antrian Edhu dan Naomi. “Dhu ngapain lo disini?”

  “Ke… Keira. Lo kok…” jawab Edhu gagap setelah tertangkap basah berdua dengan Naomi.

  “Kenapa? Lo kaget katauan selingkuh sama cewek gatel ini?” Keira makin geram dengan jawaban Edhu.

  “Heh jaga ya mulut lo!” sambung Naomi yang nggak terima dibilang cewek gatel seperti yang dimaksud Keira.

  “Ke, udah. Malu tau diliatin banyak orang!” Tyas coba meleraikan pertikaian antara Keira, Edhu dan Naomi. “Heh Naomi ngapain sih lo deket-deket Edhu?”

  “Suka-suka gue dong. Emang harus izin sama lo berdua kalo gue mau jalan sama Edhu.” Tangkis Naomi sambil mengeratkan rangkulannya bersama Edhu.

  “Huh…, dasar cewek gatel. Ganjen banget sih lo jadi cewek.” Comoohan Keira membuat sempurna kekesalannya kepada Naomi.

  “Apa? Lo masih ngatain gue cewek gatel lagi? Heh ngaca dong lo!”

  “Apa? Lo mau ngelawan gue disini?”

  “Emangnya gue takut sama cewek jadi-jadian kayak lo.”

  Suasana semakin panas antara Keira dan Naomi.

  “Mbak-Mbak, tolong ya jangan ribut disini! Karena dibelakang sudah banyak yang ngantri. Lagipula mengganggu ketentraman toko.” Akhirnya kasirnya pun yang meleraikan Naomi dan Keira. “Kalau mbak-mbak ini masih belum bisa diam dan saling mengalah saya bisa saja memanggil security untuk menertibkan mba-mba ini.” Lanjutnya menegaskan.

  “Dhu kok kamu diem aja sih, bantuin aku dong!” Naomi mencoba berakting untuk sedikit manis dihadapan Edhu dan semua orang.

  “Eng… Eng…, mendingan kita pulang aja yuk. Mbak makasih ya.”

  “Heh urusan kita belum selesai cewek gatel!” Keira masih bersih keras untuk melanjutkan pertengkaran tadi.

  “Ih, udah dong Ke malu tau. Perbuatan lo kayak orang eggak punya etika.” Tyas menarik lengan Keira yang masih mengejar kepergian Naomi dan Edhu.

  “Hah? Apa lo bilang? Nggak punya etika? Rese lo, kayak nggak ada kataan lain selain itu.”

  “sorry-sorry, gitu aja marah. Udah yuk kita pulang aja!”

  “Pulang? Enak aja katanya lo mau nraktir gue.”

  “Ye, giliran makanan inget lo.”

Dengan perkataan Keira barusan semua orang yang mengantri dibelakang mereka tertawa. Enggak hanya itu kasir, SPG, Tyas juga dirinya sendiri ikut tertawa.

  Mereka pun akhirnya meninggalkan toko kaset dan beranjak untuk mengisi lambung mereka yang masih kosong.

  “Ke, kira-kira besok kita cerita nggak ya sama Adya? Tanya Tyas disela-sela waktu makan.

  “Enggak usah. Kita kan belum tau pasti apa latar belakang Edhu sama Naomi pergi bareng.”

  “Belum tau pasti gimana? Kita udah lihat jelas-jelas kalau Edhu selingkuh sama Naomi.”

  “Pokoknya jangan sekarang. Lagian ekskul kitakan bakalan lomba, kalau Adya tau dia nggak segan-segan nonjok muka Naomi atau Edhu. Lo mau kalau tim ceers lo kalah cuman gara-gara muka Naomi bonyok?”

  “Iya juga sih. Tapi kalau nggak kita bilangin secepatnya kan kasihan si Adya, dia dibohongin terus sama cowok kurang ajar kayak Edhu.”

  “Kita tunggu waktu yang tepat aja buat ngebongkar kedok Edhu didepan Adya. Tapi yang pasti jangan sekarang,” jelas Keira.

***

“Non Adya bangun sudah pagi!” sapa Bi Nana dari luar kamar Adya.

“Iya Bi, adya udah bangun.” Adya masih ngucek-ngucek matanya yang mau terpejam lagi dan bergegas kekamar mandi.

Dimeja makan telah siap Abay, Evelyn dan Nday untuk sarapan sekaligus menunggu Adya selesai mandi dan sarapan bareng.

“Bi, Kak Adya udah bangun?” tanya gadis kecil berambut sebahu ini. Gadis kecil ini bernama Evelyn, adik perempuan sekaligus bungsu dari Adya dan Abay.

“Udah nona kecil.”

Gadis kecil yang tak kalah imutnya dengan Adya ini mengangguk mengerti.

“Bay, gue boleh minjem mobil lo lagi nggak?” tanya Nday.

“Jangan! Sengsara di gue kalau lo minjem mobil Abay terus,” sambung Adya saat ia turun dari tangga dan beranjak kemeja makan.

“Emangnya kenapa sih? Lo iri ya, kalau gue yang minjem mobil selalu dikasih tapi kalau lo yang minjem enggak pernah dikasih?”

“Siapa bilang kalau tiap lo minjem mobil gue gue kasih?” sambar Abay.

“Maksud lo Bay?” tanya Nday kaget.

“Iya. Maksud gue sekarang gue nggak bolehin lo buat minjem mobil!”

Mulut Nday langsung mencibir mendengar keterangan Abay yang terasa memojokan dirinya.

Tapi Nday orangnya sabar dan penyayang kepada keluarga Abay mungkin karena dia anak tunggal dan udah berteman lama dengan Abay sehingga tidak ada keganjalan lagi saat mereka bertemu dan bercengkrama. Nday dan Abay itu sahabatan sejak mereka masih duduk di Sekolah Dasar. Mereka saling klop sampai-sampai saat menjelang ujian SD mereka berjanji tidak akan berpisah mulai dari sekolah hingga apapun, makanya sampai sekarang Nday dan Abay selalu sekolah satu atap bahkan kuliah juga walau beda jurusan. Abay yang mengambil teknik pertanian sedangkan Nday ilmu politik.

“Suuuukurin…! dibilang Abay pengen anterin gue sekolah,” tukas Adya kegirangan.

“Ih…, pede banget mau nganterin lo kesekolah, nggak ya.” Abay meledeki adik gadisnya dengan puas.

Adya pun ikut mencibir mendengar perkataan Abay. “Terus mau buat apa mobil lo kalau nggak buat amal nganterin gue?”

“Ya buat gue kuliah lah.”

“Kuliah lo kan jam delapan Bay, lo jahat banget sih nggak mau nganterin gue. Nggak sayang ya lo sama adik perempuan lo yang manis dan imut ini,” Adya mencoba merayu Abay.

“Pokonya gue mau pake mobil ini sekarang.”

“Huh, dasar kakak yang pelit.”

“Velyn ayo rapiin tasnya kita berangkat!” seru Abay kepada Evelyn yang telah selesai sarapan.

Gadis kecil ini pun beranjak dari kursi makannya untuk berangkat kesekolah.

“Gue berangkat duluan yah!” pamit Abay kepada Adya dan Abay.

“Yo, hati-hati” tanggap Nday sekenanya. Dilihat wajah Adya. “Lo nggak apa-apa kan Ad?”

“…”

“Yah gitu aja ngambek gue anterin deh pake motor lo. Gue juga kuliah jam delapan Ad.”

Adya masih belum menghiraukan perkataan Nday dan masih memandangi pintu yang beberapa detik yang lalu dua saudaranya itu melewati pintu itu.

“Ad? Ad? Woi?” Nday berdiri dihadapan wajahnya Adya sambil melambai-lambaikan tangan agar Adya sadar dari lamunannya. “Yah, ini anak pagi-pagi udah kesambet”.

“Nday lo ambil kunci motor gue dikamar sana!”

“Jadi lo mau gue anterin?”

Adya memandangi ekspresi wajah Nday yang seakan-akan nggak ikhlas untuk mengantarnya kesekolah.”Kenapa lo enggak mau? Kalau enggak mau tadi nggak usah ngomong deh.”

“Eng…,eng…, enggak Ad, gue mau kok nganterin lo. Tenang aja gue bakalan anterin lo sampai tujuan. Ngomong-ngomong kenapa sih lo?”

“Jangan berlaga polos dan sok nggak tau deh!”

“Oh…, si…”

“Udah deh nggak usah dibahas! Gue tuh udah eneg tau nggak dengernya,” potong Adya saat Nday ingin melanjutkan omongannya.

Nday terdiam saat Adya menggretaknya. Ia pun langsung beranjak ke kamar Adya untuk mengambil kunci motor. “Yuk Ad!” ajaknya seusai mengambil kunci motor.

Mereka pun menghabiskan sarapan yang tadi sempat tidak dimakan karena berebut ingin diantar oleh mobil Abay. Seusai menghabiskan sarapan merekapun menuju dimana tempat motor Adya terparkir.

“Sampai sekarang lo masih belum terima Ad?” tanya Nday mengisi kekosongan.

“Sampai kapanpun Nday.”

“Gadis sekecil itu belum ngerti apa-apa Ad.” Terang Nday saat mengendarai motor yang melaju kesekolah Tira Palawa.

“Bagi lo dia terlalu polos Nday? Dia itu ngancurin kehidupan gue.”

“Ad, gitu-gitu dia adik lo Ad. Bukannya lo dulu pengen banget punya Ade?”

“Nday lo bisa ngerti nggak sih? Dia itu bukan adik gue.”

“Gue heran deh sama lo Ad, adik lo sendiri dibilang bukan adik lo.”

“Gue sama dia nggak ada sama sekali hubungan darah juga hubungan batin.”

“Lo kok bisa nyimpulin hal kayak gitu sih Ad?” Nday keheranan dengan perkataan Adya yang tiap harinya nggak pernah berubah pasti jawabnya selalu tidak ada hubungan darah dan batin. Padahal jelas-jelas Evelyn adalah putri yang keluar dari rahim bu Revytha Ayudinata, ibunda Adya dan Evelyn, seorang insinyur pertanian yang mengelola perkebunan di negeri kincir angin.

“Sejak pertama gue liat dia. Gue udah ngerasa kalau dia bukan Adik gue.” Terang Adya datar. “Udah mendingan kita lupain soal itu, boring  banget tau Nday!”

“OK kalau itu mau lo. Ad sekarang ada pelajaran pak Yudhis nggak?”

“Nggak. Gila aja deh kalau dua hari berturut-turut gue ketemu dia dikelas.”

“Ad, gimana anak-anak TP yang kelas satu cantik-cantik nggak?” gurau Nday.

Adya bersenyum tipis. “Nday Nday, lo tuh dari dulu nggak pernah berubah, ganjen. Lo perhatiin aja sendiri!”

“Kalau gue inget tiga tahun yang lalu.” Nday mulai mengkhayal tentang masa lalunya saat dirinya duduk dikelas dua. “Oh Citra…” Citra, cewek yang ditaksir Nday karena keberaniannya membantu orang yang terkena luka alias citra itu anggota ekskul PMR. Cewek yang satu ini bisa dikatakan cantik dan feminin lain banget sama Adya. “Eh Ad, Abay udah punya cewek belom?”

“Gue juga nggak tau Nday. Setiap dia ngobrol sama gue dia nggak pernah ngebahas seputar cewek atau cewek yang ditaksir dia.” Jawab Adya tidak bersemangat.

“Abay itu bener-bener cowok yang setia ya. Gue salut sama dia.”

“Justru gue kasian sama dia Nday. Kayaknya dia malah merasa tertekan dan terobsesi.”

“Yah gue tau sifat setianya dia itu nggak membuahkan hasil. Tapi masa iya Ad si Abay nggak pernah cerita tentang cewek sama lo?”

“Ye…, lo nggak percayaan banget sih sama gue. Emang kenapa sih si Abay lagi ngincer cewek dikampusnya?”

Nday menggeleng-gelengkan kepalanya. “Udah sampe nih!”

Thanks banget nih Nday lo mau nganterin gue.”senyum bahagia terpancar dari rona wajah Adya.

“Ad, gue boleh nggak bawa motor lo ini ke kampus gue?” tanya Nday melas.

“Jadi lo ini nganterin gue ada maunya Nday?”

“Nggak juga sih, tapi sekalian deh supaya gue nggak modar-mandir kerumah lo?”

“Nggak-nggak, enak aja lo. Kalo lo males bawa motor gue kerumah lagi mendingan motornya diemin aja disini.”

“Lho? Terus gue gimana Ad?”

“Elo! Elo mending naik taksi atau angkot aja sana!”

“Gila ya, abang sama ade sama aja. Pelit.”

Saat canda antara Adya dan Nday berlangsung tiba-tiba sebuah motor racing lewat dan parkir diantara mereka.

Dalam sekejap tampang Adya yang ceria berubah sadis dan penuh amarah kepada pengendara motor tersebut. Sebab Adya masih ingat betul kemarin motor itu yang menciprati dirinya dengan air selokan. Dipandanginya dalam-dalam pengendara motor besar itu sewaktu membuka helm. Betapa kagetnya Adya setelah melihat total wajah pengendara motor tersebut. Apalagi sipengendara motor itu membalas tatapan Adya yang garang dan sadis dengan raut yang seolah-olah merendahkan Adya sebelum akhirnya meninggalkan tempat parkiran.

“Siapa sih cowok itu Ad kayaknya dia sengak banget?” tanya Nday dengan nada nggak senang.

“Dia emang cowok yang bener-bener sengak Nday. Cowok itu udah punya ribuan salah sama gue.” Sambil belum melepaskan pandangannya kepada sipengendara motor yang kurang ajar itu Adya menjawab dengan penuh kebencian.

“Yaudah deh gue balik ya Ad!”

“Heh lo jadi bawa motor gue?”

“Dah gue cabut dulu ya. Sorry .” serunya sambil memutar motor racing Adya dan cepat-cepat membawanya keluar dari pintu sekolah.

“Heh, Nday, ih…, kurang ajar lo. Awas gue katain maling lho nday.” Adya teriak-teriak nggak ikhlas melihat motor racingnya itu dibawa paksa oleh teman kakaknya.

Keadaan sekolah Tira Palawa memang bisa diacungi jempol. Karena selain sekolahnya yang banyak melahirkan atlit-atlit berbakat, sekolah ini juga mempunyai banyak keistimewaan diantaranya lingkungan sekitar sekolah yang asri, indah, sejuk, dan terhindar sekali sama yang namanya polusi berat karena disekitar komplek sekolahan Tira Palawa adalah taman bermain, kantor kelurahan, kantor ibu-ibu PKK. Bukan ndustri, pabrik ataupun bengkel, selain itu ruang-ruang kelas yang bersih dan tertata sehingga murid-murid yang belajar dikelas merasa nyaman.

“Tumben nih si satpam sialan nggak ngejegat gue jadi gue bisa menghirup udara yang segar buanget disini. Kalau dipandang-pandang sekolah gue ini keren juga ya,” gumam Adya sambil dalam-dalam menghirup udara segar. Ia pun lekas menuju kekelas III IPS 3 yaitu kelasnya Edhu.

Diperjalanan Adya bertemu dengan kedua temannya yang udah nggak asing lagi yaitu Keira dan Tyas. “Ke, Yas!” sapa Adya.

Mereka saling bertatapan satu sama lain sebelum menjawab sapaan Adya.

“Woi, bengong aja masih pagi juga,” tanya Adya sambil melambai-lambaikan tangannya diwajah kedua gadis itu.

“Hai juga Ad! Tumben lo jam segini udah dateng?” Keira mencoba menenangkan dirinya supaya tidak terbaca oleh Adya bahwa dirinya menyembunyikan sesuatu dari Adya.

“Kenapa sih lo?”

“Enggak kok kita nggak apa-apa. Yuk masuk!” sambar Tyas meyakinkan Adya bahwa tidak ada sesuatu yang penting diantara mereka.

“Gue mau kekelas Edhu.”

“Kekelas Edhu???” spontan Keira dan Tyas berkata bersamaan karena kagetnya dan merasa tidak senang.

Adya menatap Keira dan Tyas penuh pertanyaan atas pernyataan mereka barusan. “Lo berdua kenapa sih?”

“Oh, nggak-nggak. Kita cuma…” tyas menanggapi pertanyaan Adya gagap. “Cuma… cuma…”

“Cuma apa sih?”

“Cuma seneng aja lo bela-belain berangkat pagi buat ketemu Edhu,” sambar Keira penuh perasaan santai.

Adya masih menatap aneh kedua temannya ini. Ada apa sih sama mereka. Adya bergumam dalam hati.

“Oh iya Ad, kita mau kekelas duluan ya,” seru Tyas mengabaikan lamunan Adya dan terus cepat-cepat meninggalkan Adya yang masih bingung dengan sifatnya.

“Lo gimana sih kan udah gue bilangin santai aja kalo nanti kita ketemu Adya. Tuh kan dia jadi curiga sama kita.” Keira berbisik kepada Tyas setelah jauh dirinya telah berjarak jauh dengan Adya.

Sorry, gue lupa. Lo juga kayak gue kan?”

“Tapi gue bisa mengantisipasi. Kalo elo tadi kayak orang oon mata lo celingukan doang.”

“Ih, udah deh jangan sok bener yang penting sekarang kita tuh sama-sama nyembunyiin apa yang kita lihat kemaren dari Adya.”

“Emang. Makanya muka lo itu parasnya biasa aja.”

“Iya-iya bawel banget sih jadi cewek ngataiin gue aja cempreng,” gerutu Tyas yang merasa terlalu dipojokan oleh Keira.

“Ye…, emangnya suara lo cempreng tau.” Keira enggak mau kalah.

“Ih, dasar bawel. Cerewet lo Ke.”

“Huh, cempreng.”

“Bawel.”

Adu mulut terus berjalan hingga mereka masuk kekelas mereka masing-masing.

Adya melangkah memasuki kelas Edhu. Kakinya berjinjit, matanya ingin mengintip dalam kelas Edhu sebelum dirinya masuk tapi apa yang dilihatnya pagi ini sungguh sangat tidak menyenangkan. Adya melihat Edhu duduk bersanding oleh seorang gadis. Adya belum melihat secara jeli gadis itu karena ia melihat dari arah belakang. Niatnya pun bulat untuk memasuki kelas dan penasaran siapakah yang duduk bersanding dengan cowoknya itu.

“Edhu…?” jerit Adya lirih. Adya nggak percaya dengan apa yang ia lihat. Seorang gadis berambut panjang, pirang dengan pakaian yang bukan mencerminkan seorang siswa yang berkelakuan baik duduk didekat kekasihnya.  “Edhu!!!” teriaknya sekali lagi sedikit mengencang agar Edhu dam wanita yang disampingnya bisa memalingkan wajah mereka dihadapan Adya.

Wajah mereka langsung memucat melihat Adya sudah berada dihadapan mereka.

“Eh, Adya ada apa?” tanya Edhu santai dengan tampang merasa nggak ada masalah yang besar antara dirinya dengan Adya.

Adya tercengang. Ia menganggap ini hal yang patut dibicarakan namun Edhu menanggapi ini dengan santai dan seolah-olah ini adalah kejadian biasa bila seorang cowok yang sudah terikat tali kasih malah mungkin terikat perjodohan duduk bersanding dengan cewek lain yang jelas-jelas bukan ceweknya sendiri.

Adya dan Edhu adalah korban kisah Siti Nurbaya orangtua mereka karena mereka berdua dijodohkan sejak perusahaan orang tua Edhu dengan perkebunan ibunya Adya berkerjasama di Belanda tepatnya sepuluh tahun yang lalu. Adya dan Edhu pun saling bertatap muka saat mereka sama-sama berlibur di Bali bersama keluarga saat mereka sama-sama berumur tiga belas tahun. Dari situ Adya dan Edhu saling kenal dan sering chating lewat internet selagi Edhu masih berada di Belanda. Dan tahun ini hubungan mereka resmi menjadi sepasang kekasih ketika Edhu menetap tinggal di Jakarta dan sekolah di Tira Palawa.

“Gue ganggu nggak sih dateng kesini?” tanya Adya sadis.

Naomi, gadis yang dari tadi pagi bersanding di samping Edhu memalingkan wajahnya kearah jendela mengatakan bahwa seolah-olah dirinya saat ini sedang tidak ada yang mengajaknya bicara.

Sedangkan Edhu tertenduk bingung untuk beralasan apa.

“Kayaknya nggak ya?” Tukas Adya sekaligus menyindir Naomi agar cepat-cepat meninggalkan kelas III IPS 3. “OK, gue balik kekelas aja deh…”

“Eh, Ad, mau kemana? Lo kesini pasti pengen ngomongin sesuatu kan?”tanya Edhu terhadap Adya.

“Karena tadi ada pemandangan yang nggak enak dilihat makanya otak  gue langsung blank. Biasa lah pemandangannya kampungan banget.” Tukasnya terus menyindir Naomi yang tak tahu malu itu.

Edhu langsung memalingkan kepalanya kehadapan Naomi. Ia memberi kode untuk pergi lebih dulu dari kelasnya.

Naomi tidak membalas semua perkataan Adya untuk meninggal Edhu. Yah, mungkin aja Naomi nggak mau wajahnya bonyok untuk kedua kalinya, soalnya Naomi dan gengnya yang centil-centil pernah adu mulut sama Adya dan Adya nggak segan menyapa pipi mereka yang sudah tersolek rapi menjadi lebam.

“Ada apa Ad?” tanya Edhu selepas kepergian Naomi.

“Nggak. Gue cuma mau nengokin lo aja sekaligus nanyain lo udah sarapan apa belom tapi ternyata gue ngeganggu ya?” jawab Adya malas dan mengikuti Naomi untuk melengos pergi meninggalkan Edhu. Pagi-pagi aja gue udah dapet sarapan yang sangat-sangat eneg. Gumamnya dalam hati. Ia pun melangkah kekelasnya sendiri.

Mungkin memang kalau Adya sudah bertemu dengan yang namanya Lefard, anak baru yang laganya selangit itu sialnya akan sempurna sebab baru saja kakinya melangkah kedalam kelas ia melihat teman baru semejanya itu dikerumuni cewek-cewek yang boleh dibilang keganjenan. Masalah terpentingnya bangku yang seharusnya ia duduki menjadi penuh dengan cewek-cewek itu. Dan yang tambah sempurna lagi temannya Tyas dan Keira juga ikut berkerumun disana.

Ia taruh tas selempangnya di tempat duduk Bagas. Cowok yang sekarang menjadi cowoknya Keira. Mereka jadian juga karena Adya dan Edhu yang nyomblangi selagi mereka menjadi satu tim yaitu tim basket. “Lo nggak cemburu cewek lo ikut nimbrung disono Gas?” tanya Adya malas.

“Hubungan gue lagi kacau Ad,” jawab cowok itu tidak bersemangat.

“Lho, kenapa? Pasti Keira sering deket-deket anak baru itu ya?”

“Gue nggak tau siapa yang salah antara kami berdua Ad.”

Adya mencoba menghibur perasaan Bagas dengan obrolan ringan sambil menunggu tempat duduknya kosong oleh cewek-cewek yang mengerumuni Lefard. “Gas, sejauh mana sih hubungan antara Edhu sama Naomi?”

Tatapan Bagas yang tadinya kosong mulai terisi dan berbicara berhadapan dengan Adya. “Maksud lo Ad?”

“Barusan gue dari kelas Edhu. Gue ngeliat dia lagi duduk sama cewek, kirain siapa cewek itu nggak taunya naomi Gas.”

“Gue juga nggak pernah perhatiin hubungan mereka. Yang gue tau akhir-akhir ini mereka deket.”

“Deket sejauh mana Gas? Gue sih nyangkanya Edhu sama Naomi deket karena ekskul mereka ada kompetisi. Mudah-mudahan aja dugaan gue nggak jauh dari itu.”

“Gue pernah tanya Edhu dan dia bilang mereka saling deket juga karena masalah profesi aja,” jawab Bagas polos tanpa mencerminkan berita penting kepada Adya.

Adya menanggapi perkataan Bagas dengan menganggukan kepalanya. Karena nggak sabar ingin duduk Adyapun kedepan untuk menduduki kursinya yang penuh dikerumuni cewek-cewek ganjen. “Tampang kayak tukang sate dorong gini digerumunin?” tanya Adya kepada semua cewek-cewek yang berada ditempat duduknya.

Cewek-cewek itu hanya menengokan wajah mereka kehadapan Adya dengan tatapan aneh dan bertanya-tanya “sirik banget sih lo!” kemudian kembali memalingkan pandangan ke wajah Lefard.

Adya mengerutkan alis matanya. Kayaknya gue kudu buka rahasia masalah kemaren deh  sama cewek-cewek ganjen ini. Gumamnya. “Lo semua pada tau nggak? Kemaren dia itu udah nyipratin gue air kotor dari kubangan dideket playgroup.”

Cewek-cewek itu kali ini tidak menengokan wajah kehadapan Adya, yah boleh dibilang nyuekin Adya gitu deh.

Sialan, gue dicuekin lagi. Kurang ajar juga nih cewek-cewek. Gerutu Adya dalam hati. “Jadi tetep muja-muji dia sementara perlakuannya itu bukan mencerminkan cowok yang bertanggung jawab?” tanya Adya sekali lagi kepada cewek-cewek didepannya.

“Maksud lo?” tanya seorang cewek dari sebelah kelas Adya yang juga ikut mengerumunin Lefard.

“Dan kata bertanggung  jawab itu apa?” pertanyaan satu lagi dari sejumlah cewek-cewek dihadapan Adya.

“Tunggu dulu. Jangan negatif thinking gitu. Maksud gue kemarin cowok aneh itu dengan gampangnya nyipratin gue sama nenek-nenek yang lagi jalan didekat taman sama air kubangan dan satu lagi dia malah melengos tanpa bantuin nenek itu atau sekedar minta maaf.” Jelas Adya bangga karena pikiran cewek-cewek itu telah terkacau oleh bualannya.

Memang benar sih kalau kemarin Adya dicipratin air dari kubangan sama Lefard tapi masalah nenek-nenek yang ikut dikatakan Adya itu hanya bualannya si Adya saja untuk meyakinkan kalau cowok yang namanya Lefard Heldunn Wirayudha itu emang bener-bener nyolot dan nggak pantes dikerumunin dikelas III IPA I ini.

Dengan cepat cewek-cewek yang tadinya berkerumun menjadi rame berbisik tetang kejelekan sifat Lefard yang telah dituturka Adya barusan. Ada yang hanya memangapkan mulutnya saja karena kaget, ada juga yang tiba-tiba wajahnya pucat, ada juga yang menempelkan kedua telapak tangannya di samping pipi. Nggak tau maksudnya apa yang jelas itu respon mereka karena kagetnya.

Adya tersipu licik kehadapan Lefard.

Lefard perhatikan senyum tipis Adya dengan wajah penuh kemarahan.

“Yaampun Le, beneran apa yang dibilang Adya?” Tanya seorang cewek yang ikut mengerumuni Lefard.

“Siapa bilang? Habis nenek-nenek itu kecipratan air kubangan gue langsung anterin nenek- nenek itu pulang sampe rumahnya kok. Cuman gue nggak mau pamer ya sama ketua kelas III IPA I itu kalau sebenernya gue itu orangnya baik dan perhatian sama orang yang umurnya lebih tua dari gue.” Lefard jawab dengan santai sambil memojokan Adya supaya nggak bisa ngebales Lefard lagi.

“Oya? Kayaknya malah nenek-nenek itu deh yang pulang bareng sama gue, terus minta tolong sama gue buat bawain tas selempangnya yang berat terus basah lagi.”

 “Eh dasar hidung betet jangan sembarangan ya kalo ngomong!” Lefard makin geram. Ia katakan hidung betet karena hidung Adya yang terlalu mancung tapi berbentuk paruh burung betet.

“Apa lo bilang? Hidung betet? Elo tuh dasar leher kuya. Sadar dong lo kalo leher lo itu gede banget dan nggak berbodi mirip banget sama bangsanya kuya, kura-kura, kalo bisa penyu juga termasuk. Udah deh ngaku aja nggak usah jaim gitu?” Balas Adya meledek. Adya bermaksud mengatakan kalau heler Lefard itu leher kuya karena bentuknya yang besar dan jaraknya dekat dengan bahu dan kepala. “Udah mendingan lo semua balik aja kekelas masing-masing! nggak ada artinyakan ngerumunin cowok yang nggak punya perasaan sama nurani.” seru Adya kepaada cewek-cewek yang masih bimbang harus percaya dengan siapa.

“Gue nggak nyangka juga Le,” tukas salah seorang cewek yang ngerumuninnya.

“Tunggu dulu. Gue nggak setega itu kok. Lo semua lebih percaya dia dibanding gue?” Lefard terus membela diri, namun belum sempat ia membahas semua, cewek-cewek yang tadinya rame dihadapannya langsung membubarkan diri layaknya arena yang sudah bubar.

Adya kembali ketempat duduknya Bagas untuk mengambil tasnya yang ia taruh diatas meja Keira.

“Ad, emangnya bener yang lo ceritain tadi?” tanya Keira dan Tyas yang tiba-tiba menyambarnya.

“Emangnya kenapa? Emang tampang gue keliatan tampang bohong apa?” jawab Adya sambil meninggalkan keduanya setelah mengambil tasnya di atas meja Keira.

Keira dan Tyas diam tak berkutik mendengar Adya mengulang kata-katanya yang menyetakan kalo Lefard, cowok serba perfect ini ternyata tega sama nenek-nenek.

Adya letakkan tas selempang berwarna abu-abu kesayangannya diatas meja tempat ia duduk.

“Idung betet, mau lo apa sih pake ngarang-ngarang kalo kemarin gue nyipratin nenek-nenek setau gue cuma elo yang gue cipratin?” tanya Lefard dengan hati dongkol.

“Oh nggak ngerasa nyipratin nenek-nenek ya? Emang cuma gue yang lo cipratin air kotor dari kubangan. Kalo nenek-nenek yang gue bahas barusan cuma akal-akalan gue aja supaya cewek-cewek ganjen itu nyingkir dari tempat duduk gue. Kenapa nggak seneng lo?”

“Liat aja ya gue bakalan kasih balesan atas perbuatan lo tadi!”

“Ceritanya ngancem?”

Bel masuk sekolah berbunyi. Pelajaran pertama di kelas III IPA I adalah Bahasa Indonesia. Pelajaran ini sangat disukai oleh siketua kelas, Adya. Karena gurunya yang sangan santun dalam berbicara dan enggan sekali membentak-bentak murid- murid didalam kelas bila kegiatan belajar mengajar. Kebetulan dari pelajaran yang sebelumnya murid-murid kelas III IPA I mendapat pekerjaan rumah dari Bu Hanum, guru yang mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia.

Seusai Adya memimpin teman-temannya untuk berdoa dan memberikan salam, Bu Hanum tanpa basa-basi menanyakan tugasnya yang kemarin ia berikan kapada murid-murid kelas III IPA I. “Bagaimana PR nya sudah selesaikan? Kalau sudah salah satu mengumpulkan dan taruh diatas meja Ibu!” Serunya dengan suara yang polos serta lembut.

“Heh, mana buku latihan Bahasa lo? Mau sekalian gue yang ngumpulin?” tanya lefard saat ingin mengumpulkan buku latihan Bahasanya ke depan meja guru kepada Adya.

Adya mengulurkan buku latihannya tanpa perasaan curiga sedikitpun dengan Lefard.

Lefard pun berjalan kedepan untuk mengumpulkan buku latihannya dan seluruh murid III IPA I sambil sekejap berparas senyum tipis yang licik. “Bu saya izin ke toilet, perut saya mulas Bu,” mohonnya untuk izin dipelajaran Bu Hanum sementara karena perutnya mulas.

“Silahkan. Nak nama kamu siapa maaf Ibu lupa?”

“Lefard Bu.”

“Oh, iya silahkan!”

Keadaan menjadi hening sewaktu Ibu Hanum mengabsen murid satu per satu melewati buku yang dikumpulkan. Bila beliau memanggil nama dari buku itu beliau menyatakan hadir sekaligus mendapatkan nilai afektif dan bila siswa ada didalam kelas sedangkan saat Ibu Hanum tidak menyebutkan namanya sudah jelas murid tersebut tidak mengerjakan tugas.

“Fery Hendrawan!” panggil Bu Hanum. Nama yang dipanggil adalah nama terakhir pemilik buku latihan yang dikumpulkan olehnya.

“Hadir Bu!” jawab Fery.

“Lho, ada yang tidak masuk dikelas ini?” tanya beliau aneh.

“Nihil kok Bu,” sahut Nina, sekertaris kelas III IPA I.

“Kok nilainya kurang satu di buku nilai Ibu, tunggu ibu cari dulu siapa namanya. Buku Naudya disini tidak ada?”

“Masa sih Bu?” tanya Adya gelisah.

“Bener kok Ibu tidak bohong bukumu tidak ada disini Nak. Kamu tidak mengerjakan?”

“Ngerjain kok Bu malah tadi saya kumpulin bareng Le…” jawabnya dan tiba-tiba putus setelah ia baru ingat kalau tadi dirinya menitipkan buku latihannya ketangan Lefard. “Yaampun buku saya pasti sama Lefard Bu.”

“Sama Lefard? Tadi saat Lefard izin sama Ibu dia tidak membawa buku apa-apa Adya.”

“Ya ampun, Lefard itu orangnya licik Bu. Pasti dia balas dendam masalah yang tadi pagi.” Adya mulai berkeringat dingin karena mengetahui buku latihan Bahasa Indonesianya tidak terkumpul. Matanya menerawang kesegala arah, mulut terbungkam dan tubuhnya terasa kaku sekali. Mungkin Adya bisa shok kalau benar-benar bukunya tidak terkumpul sebab reportasi Adya bisa ancur dimata Bu Hanum. Guru kesayangannya itu. Sialan ternyata dia licik juga awas aja kalo lo sampai beneran terbukti ngambil buku gue entar pulang lo pasti nggak akan selamat. Gerutu Adya dalam hati dengan wajah penuh emosi.

“Adya, sekarang kamu jawab saja dengan jujur apakah kamu mengerjakan tugas dari Ibu atau tidak? Jangan kamu cari-cari alasan,” tanya Bu Hanum mulai kesal.

“Masak sih ibu nggak percaya sama saya, mana mungkin sih saya berani bohong sama Ibu?”

“Adya Ibu tanyakan sekali lagi sama kamu. Apakah kamu mengerjakan tugas dari ibu atau tidak?”

“Nge…, ngerjain Bu,” jawabnya lirih karena barusan guru kesayangannya itu telah membentaknya.

“Apakah kamu dari kecil tidak diajarkan supaya hidup harus jujur? Sudah jelas-jelas buku latihan kamu tidak ada disini, kamu masih mau ngelak Ad?”

Adya membungkam mulut. Entah apa yang ada dipikirannya. Ia merasa malu sekali karena telah mengecewakan bu Hanum.

“Kamu diam artinya kamu memang benar-benar tidak mengerjakan tugas dari Ibu. Baiklah dengan terpaksa kamu hari ini tidak diperkenankan untuk mengikuti pelajaran Ibu!” seru bu Hanum dengan tampangnya yang terlihat jutek dimata Adya.

“Yaudah Bu saya keluar tapi bukan berarti saya keluar saya mengaku kalau saya nggak ngerjain tugas dari Ibu tapi karena nggak ada bukti saya mengerjakan tugas itu Bu. Permisi.”

“Si Adya tumben banget mangkir dari tugasnya Bu Hanum biasanya dia itu paling patuh sama perintah Bu Hanum. Kira-kira lo yakin nggak kalau Adya nggak buat tugas itu?” tanya Ardi teman sebangku Fery sambil berbisik diikuti matanya yang berjalan mengikuti langkah Adya keluar adri kelas.

“Gue rasa kali ini Adya jujur deh,” tanggap Fery sama-sama dengan suara lirih.

 “Ya…, sudahlah jangan dibahas terlalu lama. Kita sekarang masuk materi saja!”

Diluar sana terlihat sosok Adya yang tertunduk di teras sekolahnya. Didalam hatinya berkata. Huh dasar cowok kurang ajar, gini toh cara dia buat balas dendam sama gue? Liat aja nanti gue bakal balas yang lebih parah dari apa yang udah lo buat. Batinnya sambil menaik-naikan alis kanannya yang khas dengan wajah iblisnya tersebut.

Sayu-sayu dari jauh nampak Lefard berjalan santai setelah keluar dari kamar kecil. Dengan berlagak cowok paling cool disekolah sambil bersiul-siul memandangi jendela-jendela kelas dan bila tepat di jendela itu yang duduk cewek dia melirikkan pandangannya walau dikelas tersebut ada guru yang sedang mengajar serius.

Melihat gelagat yang dilakukan Lefard Adya geleng-geleng kepala dengan raut kesal bercampur emosi. Ia melangkahkan kakinya dengan cepat menuju Lefard. “Heh cowok rese,  balikin nggak buku latihan Bahasa Indonesia gue. Gini yah cara lo balas dendang sama gue? Dasar pengecut  looser lho!” tuturnya kesal.

Lefard hanya memandangnya tanpa menghentikannya langkahnya.

“Inget yah gue bakal buat perhitungan sama lo kalo lo udah berani buat Naudya Trixytha Mahardhika sampe marah semarah ini!” tutur Adya sekali lagi.

Lagi-lagi Lefard hanya memandanginya sejenak. Kemudian tidak menjawab perkataannya dan terus berjalan menuju kelas III IPA I.

Langkah kaki keduannya telah menyapa di depan pintu. Dengan santai Lefard memasuki kelas dan sekejap menginisialkan tanda ‘dada’ nya terhadap Adya.

“Bu maaf, saya rasa ibu harus introgasi dia juga deh soalnya dia kan yang ngumpulin tugas Ibu!” seru Adya sambil menyelonong masuk kelas.

“Adya? Apa-apaan ini? Ibu tidak menyuruh kamu untuk masuk.”

“Tapi apa yang Adya bilang kayaknya harus dilakukan deh Bu. Iya kan?” jawabnya sambil memvotingkan jawabannya kepada teman-temannya.

Satu kelas bergeming. Bingung harus percaya dengan siapa.

“Baiklah kalau itu yang kamu mau. Tapi nanti setelah pelajaran Ibu selesai masalah ini kita bicarakan di kantor Ibu. Sekarang silahkan kamu keluar!” seru Bu Hanum tegas.

Kalau sudah gini apalagi yang harus Adya perbuat. Protes juga sekarang nggak ada hasilnya. Mau nggak mau ia harus meninggalkan pelajaran kesukaanya selama tiga jam pelajaran di luar kelas.

Sementara Lefard sedikit lecek wajahnya karena mungkin merasa iba. Adya sang ketua kelas sudah dua kali dikeluarkan saat jam pelajaran karena dirinya, dan juga karena keisengannya yang berlebihan. Tatapannya kosong seketika menghadap jendela namun fokus ke satu objek yaitu Adya.

***

“Gue rasa lo harus konsultasi ke psikiater deh! Masa  gara-gara lo ditinggal Ninda lo jadi kapok nyari cewek.” Tutur nday saat keluar dari stadium olah raga tempat mereka latihan basket.

“Kapok? Lo kira Ninda ninggalin gue selingkuh apa? Udah deh lo nggak usah aneh-aneh toh kalau gue dapet cewek juga gue…” Abay menghentikan perkataanya hingga Nday penasaran.

“Juga apa lo?” Nday mulai penasaran.

“Ya, toh kalau gue dapet cewek juga gue nggak kasih tau lo nday,” jawab Abay sambil tertawa kencang.

“Ye… Gue serius kale. Lo liat deh adek lo aja udah punya pacar malah hampir mau tunangan masa lo kalah sih.”

“Daripada lo gubris-gubris gue mendingan lo dulu deh yang nyari cewek!” abay meledek kawannya yang sama-sama jomblo ini.

“I…, iya juga sih. Gue sampe hari ini nggak punya cewek.” Nday garuk-garuk kepalanya dengan wajah tersipu. “Tapi Bay, gue maunya yang kayak gitu kalau gue punya cewek,” sambungnya setelah sejenak berhenti berkata. Dengan telunjuk menunjuk kearah seorang gadis berjilbab.

Gadis berjibab ini lain dari gadis berjilbab yang lain, setiap hari berada dikampus ia selalu terlihat rapi dan anggun. Semua busana yang digunakan selalu saja  matching dilihat orang.

Mata Nday melotot kosong dengan mulut membuka seukuran dua jari.

Abay hanya melirik sebentar dan membuang rasa kagumnya kepada gadis itu.

“Gue rasa lo bisa dapetin dia Bay,” saran Nday.

“Apaan sih lo Nday? Ya nggak mungkin lah dia itu ceweknya Darus.”

“Jadi lo takut saingan sama cowok tengik itu Bay?”

“Jangan sembarangan deh lo kalo ngomong. Anak buah Darus itu kesebar diseluruh kampus kalo lo salah kata aja bisa abis lo,” bisik Abay sambil menonjokan sikutnya keperut Nday pelan.

Sorry. Tapi lo belom jawab pertanyaan gue! Lo takut sama Darus?” lirih Nday.

“Udah lah nggak usah bahas soal itu. Gue males mikirinnya,” jawab Abay tanpa semangat. Dibenaknya masih teringat jelas keroyokan Darus terhadapnya saat tanding basket dan klub basket Abay lah yang memenangi pertandingan itu. Pikirannya menyebrang ke gadis yang barusan ditunjuk Nday. Dia itu bener-bener cantik dan baik mirip dengan…. lamunannya terputus saat Mba’ kantin menyuguhkan soft drink untuknya.

“Emang jodoh kali ya. Kita kesini si Fia juga kesini.” Tutur Nday tanpa mengalihkan pandangannya ke gadis berjilbab itu.

Lagi-lagi Abay hanya melirik tajam gadis itu sambil menyeruput minumanya tanpa mengucap kata pun seperti nday.

“Terserah sih kalo lo nggak mau. Gue aja deh yang ngejar dia,” Nday meledek licik Abay.

Good luck deh!” tanggap Abay singkat.

“Serius? Masih nggak mau ngaku juga kalo sebenernya lo juga suka sama…” pertanyaan Nday terputus saat ia melihat seseorang mendekati gadis itu.

Seorang lelaki bertubuh tegap memakai jaket hitam dan membawa segerombol teman-temannya mendekati gadis itu. Sedangkan gadis yang bernama Fia Aura Zalfania hanya menanggapi kedatangan mereka dengan senyum tipis walaupun terlihat memaksa namun tetap saja wajahnya yang anggun masih jelas terpancar dimata Abay. Abay? Ya, Abay ternyata sejak bertemu diperpustakaan kampus sewaktu hendak mengambil buku yang sama di rak telah tercantol oleh kekaleman gadis anggun memakai jilbab itu. Sempat mereka akrab, itupun karena sering bertemu di perpustakaan namun setelah kejadian pengeroyokan itu hubungan Abay dengan Fia sedikit renggang boleh jadi Fia dipengaruhi oleh Darus untuk menjauhinya.

“Empet gue liat muka Darus Bay?” bisik Nday lirih.

“Lho? Kok lo sirik sih. Biarin aja lah mereka kan pacaran jadi mereka berhak jalan kemana-mana berdua,” kata yang lumayan sengit keluar dari mulut Abay.

“Iya sih tapi gimana ya kalo gue yang sekarang jadi cowoknya Fia? Oh senangnya…!” Nday bergumam pelan sambil membayangi perkataannya tadi.

Abay hanya geleng-geleng kepala dan nggak sengaja saat ia menoleh ke arah Fia, Fia juga berarahan pandangan dengannya. Mereka saling bertatapan sebentar namun sangat penuh arti. Selang beberapa detik keduanya mulai sadar bahwa mereka baru saja terbawa pada lamunan mereka.

Fia mencoba mengembangkan senyumnya kepada Abay. Abay pun membalas sekenanya. Ia masih sadar bahwa Fia bukanlah Ninda ataupun gadis yang pantas untuk menjadi pendampingnya. Senyuman mereka pun seakan mempunyai arti tersendiri yang abstrak untuk dijelaskan.

***

Bete banget, masa tiga jam pelajaran gue harus diluar sih. Perpustakaan nggak buka, main basket pasti diomelin. Gumam Adya dalam hati sambil berjalan-jalan dikoridor sekolah. Oiya, mendingan gue nunggu pelajaran bahasa Indonesia selesai di UKS aja. Satu ide cemerlang yang barusan saja melintas dibenak Adya. “Cck, dikunci lagi.” Nggak ada jalan pintas lain Adya pun keruang komputer yang ada di pojok sekolah. Langkahnya pun langsung tertuju kesana. “Ih…, rese banget sih, masa fasilitas sekolah nggak ada yang buka,” sungut Adya sambil menonjokan kepalan tangan kanannya kesamping kusen pintu ruang komputer. Ide Adya sudah mentok dan ia pun akhirnya duduk di teras belakang sekolah.

“Neng, ngapain disini bolos ya?” tanya pak Hendra.

Adya mendongakkan kepalanya kearah penjaga sekolah. “Nggak kok, tadi aku abis dihukum sama Bu Hanum,” jawabnya tidak bersemangat.

“Bu Hanum yang ngajar Bahasa Indonesia kelas III ya?”

“Iya,” jawab Adya singkat.

Kepala Adya celingukan kekanan, kekiri, keatas, kebawah saat duduk sendirian diteras itu tanpa melakukan sesuatu apapun. Bikin bosen. Diambilnya setangkai daun, dia main-mainkan hingga akhirnya Adya tertidur diteras belakang sekolah hingga jam pelajaran Bahasa Indonesia selesai.

“Baiklah anak-anak, pelajaran kita selesai sampai disini. Ada yang perlu ditanyakan sebelum Ibu meninggalkan kelas kalian?” tanya Bu Hanum sambil memberes-bereskan buku-buku untuk materi kelas III IPA I.

“Tidak Bu,” jawab serentak murid yang mengisi kelas tersebut.

“Baik, selamat pagi. Oh iya sampaikan kepada Adya bila sudah datang, suruh menghadap Ibu bersama kamu Lefard!” seru bu hanum sambil memberitahukan bahwa Lefard harus ikut menghadapnya kekantor

“Adya mana ya?” Tanya Keira terhadap Bagas sinis.

“Mana gue tau,” jawab Bagas singkat.

Keira menengokkan wajahnya ke arah Bagas. Dasar cowok, lo jadi orang ngekiin banget sih. Gumamnya dengan pandangan tajam  yang masih terjaga ke wajah Bagas.

Bagas berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri Lefard. “Lo jadi cowok gitu banget sih, masih bagus lo dapet tempat duduk disini, di tempat Adya lagi,” tuturnya tegang.

Lefard melirik siapa yang ada dihadapannya saat ini. “Trus kenapa? aneh?” tanggapnya tanpa memalingkan muka ke arah Bagas.

“Gue tau, lo kan yang nyembunyiin buku latihannya Adya?”

Lefard melirik Bagas sekali lagi dengan tampang sangar. “Jangan asal tuduh. Punya bukti?”

“Oh, bukti yang lo mau gue bakal cari bukti itu.”

Ditengah perdebatan antara Lefard dan Bagas Adya muncul dengan wajah polosnya sehabis bangun tidur itu.

Semua mata melirik kearahnya dengan tatapan iba dan binggung.

“Eh lo Gas, ngapain?” tanya Adya datar.

“Gue nggak percaya kalo lo nggak ngerjain tugas Bu Hanum Ad?”

‘Alah, udah lah nggak usah terlalu dipikirin! Anggap aja tadi itu sajian buat sarapan lo semua,” tuturnya cuek.

“Kayaknya ada yang sengaja ngerjain lo deh.” Bagas melirik tajam wajah Lefard.

Maybe…,” tanggap Adya membalas lirikan Bagas ke arah Lefard.

“Ad! Adya, selama diluar tadi lo dimana Ad?” sambar Keira yang khawatir atas nasib sahabatnya itu.

“Gue…, gue….” ledek Adya supaya oarang-orang disekelilingnya terlihat tegang dan penasaran.

“Gue apa..?” Tanya keira penasaran.

“He…he…he…, gue tidur di teras belakang,” tukas Adya polos sambil cengar-cengir.

“Ye…, kirain apa,” tanggap Keira lega sambil memukul lengan Adya pelan. “Oiya, tadi Bu Hanum pesen kalo lo udah dateng lo langsung cepet-cepet ngadep Bu Hanum sama Lefard.”

Adya menghela napasnya panjang. ‘Thanks  Ke, gue kesana sekarang ya. Tolong ijinin!”

Tanpa  nunggu aba-aba Lefard mengikuti Adya dari belakang untuk bersama menemui bu Hanum. Sesamapainya dikantor mereka duduk didepan meja Bu Hanum.

“Sudah tau kan kalian Ibu panggil kemari?” tanya Bu Hanum tanpa basa-basi.

Adya dan Lefard mengangguk polos.

“Ibu benar-benar kecewa dengan kamu Adya, padahal Ibu sudah mempercayai kamu sebagai murid teladan yang rajin mengerjakan tugas dari ibu,” keluh Bu Hanum sambil memutar-putarkan bolpoint diatas meja kerjanya.

“Bu maafkan saya Bu, saya memang harus mengaku kalau saya memang tidak mengerjakan tugas Bu Hanum,” jawab Adya datar.

“Oo…, akhirnya kamu mengaku juga Ad. Kasus ini harus saya laporkan dengan Pak Yudhis selaku wali kelasmu,” tanggap Bu Hanum setelah apa yang beliau dengar dari perkataan Adya.

“Hah!!! Jangan dong Bu! Kan saya udah ngaku kesalahan saya masa Ibu masih mau ngelaporin hal ini sama Pak Yudhis.” Adya kaget bukan kepalang saat Bu hanum mengatakan akan melaporkan perbuatannya kepada wali kelasnya yang super galak disekolahnya itu.

“Maaf Ad, ini sudah menjadi keputusan Ibu yang paling baik agar kamu dapat berubah dan berjanji tidak akan melakukan kesalahan ini lagi baik untuk mata pelajar Ibu dan mata pelajaran yang lain.”

Wajah pucat pasih kini harus Adya alami lagi. Dengan berat hati dia menerima resiko yang sebenarnya nggak patut ia terima. Matanya sesekali terarah kewajah tanpa bersalahnya Lefard, dengan wajah penuh kemarahan dan kemuakan yang teramat sangat.

** To Be Continued

Famodya :

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5

Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10

Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15

Part 16 (END)

 

 
Leave a comment

Posted by on August 19, 2011 in Cerita, Famodya

 

Tags: , , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: