RSS

FAMODYA (Part 4)

19 Aug

“Bu saya rasa untuk melaporkan masalah Adya kepada Pak Yudhis itu tidak perlu, karena Adya sudah mengakuinya dan yang paling penting Adya sudah berjanji tidak akan melakukan kesalahannya lagi,” sambar Lefard setelah situasi ruangan Bu Hanum hening sejenak.

Adya menarik nafas panjang serta kaget atas perkataan Lefard barusan. Idih ini orang sok pahlawan banget sih. Gumamnya dalam hati.

Bu Hanum mengangguk-anggukan kepalanya sambil menegosiasi keputusan Lefard. “Saran kamu bisa Ibu terima, sebenarnya Ibu juga berpikir ke hal itu.”

Adya hanya bisa diam seratus ribu bahasa mungkin melihat percakapan mereka yang bisa dibilang sangat memojokkan nasib Adya. Aduh please deh leher gede, leher kuya, orang nyolot nggak usah cari muka dihadapan Bu Hanum pake acara bela-belain gue segala. Adya makin geram didalam hati.

“Yasudah kalian berdua silahkan kembali kekelas!” Seru bu Hanum menyuruh Adya juga Lefard untuk kembali kekelas. “Dan untuk kamu Adya, kali ini Ibu maafkan kelakuan kamu.”

“Hah??? Bener Bu???” Tanya Adya dengan nada kaget bercampur senang.

Bu Hanum mengangguk sekali lagi untuk memastikan bahwa Adya dimaafkan.

“Makasih ya Bu!!!” Adya langsung menyambar telapak tangan bu Hanum lalu mencium tangan beliau.

“I… iya, tapi kamu juga harus berterima kasih kepada Lefard, kamu juga harus minta maaf sama dia karena tadi kamu sempat menuduh dia yang menyembunyikan buku latihan kamu!”

Tiba-tiba wajah Adya yang girangnya bukan main berubah menjadi kusut mendengar perintah bu Hanum. “Saya Bu? Harus minta maaf sama leher kuya ini???” Tanya Adya heran.

“Adya, bagaimanapun kamu tetap sebagai orang yang posisinya bersalah dan kamu juga telah menuduh Lefard. Jadi hal yang kamu lakukan adalah meminta maaf dan mengucapkan terimakasih sama dia!”

Dengan sikap kurang ikhlas tangan Adya perlahan mengajak tangan Lefard untuk saling berjabat. “Thanks ya and sorry juga.” Singkat dan padat. Itulah momen terpenting yang telah terjadi diruang guru. Seorang Adya dikerjain habis-habisan oleh seorang anak baru lalu dipermalukan pula.

Lefard menyambutnya dengan senyuman kemenangan yang sangat sinis juga sombong. Sedangkan Adya juga membalasnya dengan tatapan sinis dan penuh kebencian yang mendalam.

“Kami permisi Bu.” Lefard pamit meninggalksn ruang guru setelah selesai berjabat tangan dengan Adya.

“Iya Bu kami permisi,” lanjut Adya.

“Ya, silahkan!”

Merekapun keluar dari ruang guru bersama. Sesampainya diluar ruang guru Adya dengan sengaja menyodokkan sikunya keperut Lefard dan langsung kembali berjalan menuju kekelas.

“Aow…,” rintih Lefard merasakan sakitnya sodokan dari siku Adya. “Oh ini balasan lo?” sambil memberhentikan langkahnya.

Adya menengokkan kepalanya kebelakang dengan senyuman sadis kemudian kembali berjalan.

Sialan, sakit banget sih sodokan dia. Tenaga cewek itu kuat banget. Gumamnya sambil masih memegang perutnya yang masih sakit sambil meneruskan jalannya.

***

“Tanaman yang ditanam didalam rumah kaca akan mendapat asupan kehangatan matahari lebih optimal namun kerugian kita memanfaatkan rumah kaca ini akan mendorong adanya proses global warming. Rumah kaca akan melahirkan gas-gas karbondioksida yang bebas diudara. Dengan meningkatnya gas karbondioksida global warmingpun semakin mencekam,” jelas Pak Satya dosen yang mengajar kelas ilmu pertanian dikelas Abay.

Dia emang mirip sama Ninda. Cantiknya, sifatnya yang ramah, kepeduliannya juga kecerdasaanya. Tutur Abay dalam hati sambil terus memandangi sosok Fia yang tepat duduk disamping depan Abay duduk. Aduh Abay, lo ngebayangin apa sih? Fia itu bukan Ninda dan dia juga nggak pantes sama lo, dia udah punya cowok dan dia juga udah bahagia sama cowok itu! Udah deh Bay lo nggak usah bayangin dia terus!!!

“Saudara Bayu, bisakan Anda jelaskan unsur-unsur penting yang ada dibumi kita ini!” tanya dosen tersebut dari depan kelas.

Abay masih tertegun dengan keanggunan Fia sehingga dirinya tidak menyadari kalau dosennya memberikan dia sebuah pertanyaan.

“Saudara Bayu!!!” tegas pa Satya sekali lagi.

“Psst…, Bay! Lo dipanggil Pak Satya tuh!” Bisik Nday dari belakang.

“Apaan sih lo ganggu gue aja deh.” Abay tersadar dan dengan spontan memarahi Nday yang telah menggangunya melamunkan Fia.

“Saudara Bayu, rupanya Anda dari tadi tidak memperhatikan penjelasan saya ya?”

“Eh…, eng… eng… enggak kok Pak.”

“Jelas-jelas kamu dari tadi melamun dan tatapannya tertuju ke Fia. Melamunkan apa Anda?”

Mendengar ucapan dosen tersebut Fia dan mahasiswa yang ada didalam kelas langsung menyorot Abay dengan tatapan aneh.

“Sa… saya tidak melamunkan apa-apa Pak.”

“Anda tertarik dengan Fia?” tanya Pak Satya dengan detailnya kepada Abay dihadapan banyak mahasiswa yang lain.

“Ah, Bapak ngomong apa sih? Ya nggak lah Pak.”

“Masih bisa menyangkal pemuda satu ini. Saudara Bayu jangan kamu campurkan masalah pribadi kamu dikelas ini, tujuan kamu masuk dikelas ini adalah untuk mendengarkan apa yang saya jelaskan bukan untuk yang lain-lain. Mengerti!”

“Iya Pak,” jawab Abay malu.

Semua mahasiswa yang ada didalamnya langsung menyuraki Abay yang bertindak bodoh barusan. Sementara Fia melirik Abay dengan senyuman malu.

“Alah…, katanya nggak mau pikirin eh ternyata dikelas lo ngelamunin dia,” ledek Nday dari belakang Abay duduk.

“Apaan sih lo?”

Nday mencibirkan bibirnya, meledek.

Pelajaran pun dilanjutkan kembali dengan Abay yang merasa malu karena sikapnya ketahuan pa Satya, Nday yang masih tertawa kecil atas sikap Abay dan juga dengan Fia yang masih tersenyum malu dari depan tempat duduk Nday dan juga Abay.

***

“Payah lo bay, masa sih lo bisa ketauan sama pak Satya,” tutur Nday sambil berjalan keluar kelas.

“Ah, Pa Satya nya aja tuh yang sok tau, emangnya gue ngelamunin Fia?” bela Abay

“Alah, masih nyangkal juga lo. Lo itu udah ketangkep basah.”

“Ye… lo lagi, sok tau banget sih.”

“Ha… ha… ha…, Bay gue udah kenal lo lama. Nggak heran lah gue bisa tau gelagat lo. Jujur deh lo suka kan sama Fia?” Tanya Nday dengan nada serius.

“Apaan sih lo? Ngaco!!!”

Nday kini tertawa besar mendengan jawaban sobatnya itu. “Eh kalo sekarang gue bawa kaca, gue suruh lo ngaca deh.”

“Lho, emang kenapa?”

“Muka lo merah.”

“Sial lo,” tanggap Abay sambil tertawa. Dan mereka tertawa bersama sepanjang jalan.

“Aduh Bay tunggu bentar ya gue mau ketoilet dulu, kebelet pipis nih gue.”

“Ye…, yaudah cepetan nggak pake L!!!” Abay pun menunggu Nday diparkiran. Dan saat Abay sedang asik mengetik SMS Fia melintas dihadapannya. Dengan spontan Abay menegur Fia yang saat itu sedang jalan sendiri. “Hai Fi!”

Fia membalasnya dengan senyuman dan bertanya, “Nunggu Orang?”

“Iya.”

“Nday?”

“Emh,” Abay pikir sejenak. Mungkin ini yang dinamakan kesempatan dan Abay tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. “Kamu,” ajak Abay

Fia meringis, “Nunggu Aku?”

“Aku mau tawarin kamu pulang sama aku.”

Lagi-lagi Fia meringis malu.

“Gimana?”

“Apa?”

“Mau?”

Fia terdiam.

“Nggak mau ya?”

Fia masih terdiam.

“Aku nggak ada maksud apa-apa kok Fi, ini kan udah sore pasti dijalan macet. Dari pada kamu naik bis mending bareng sama aku aja,” tawar Abay

Fia masih terdiam.

“Oh, aku tau, pasti kamu mau pulang bareng sama cowok kamu,” Abay mencoba menebak tapi sambil menunggu pasti jawaban perempuan anggun tersebut.

“Oh, nggak. Dia udah pulang dari tadi siang.”

“Tuh kan berarti kamu pulang sendiri. Udah nggak apa-apa bareng sama aku aja.”

Lalu Fia mengangguk tanda setuju dengan tawaran Abay.

Abay tersenyum lebar sambil menghembuskan nafasnya dalam-dalam. Tiba-tiba reaksi tubuhnya berubah aneh, tangannya menjadi kaku, pucat dan dingin, jantungnya berdebar kencang dan bibirnya tidak berhenti untuk senyum. Abay berjalan membuka pintu mobil untuk Fia.

“Makasih,” tanggap Fia sambil menaiki mobil Jeep besar berwarna hijau tersebut.

Mereka telah berada diatas mobil dan langsung melaju kejalan.

“Fuih…, akhirnya lega nih gue. Lho??? Abay mana?” Tanya Nday setelah sampai parkiran, dirinya tidak melihat sosok Abay juga mobilnya. Tiba-tiba ponsel yang ada disaku celananya berdering. “Nah SMS nih dari Abay.” Nday langsung membacanya yang isinya Nday sorry ya gue tinggal gue lagi ada keperluan. “Sial! Gue ditinggal,” Nday bergerutu.

***

“Huh…, makin lama anak baru itu makin kurang ajar. Liat aja, gue kali ini nggak main-main gue bakal buat perhitungan sama dia!” Seru Adya saat berjalan pulang bersama Bagas.

“Emangnya lo mau ngebales apa Ad? Tanya Bagas.

“Ada deh, yang pasti lebih parah dari ini.”

“Lo mau tonjok dia? Atau lo mau kroyok dia?”

“Gampang lah.”

Adya dan Bagas melanjutkan langkahnya untuk pulang. Tanpa sadar pembicaraan mereka didengar oleh seseorang dari belakang mereka.

***

“Gue kesel banget hari ini Bay,” tutur Adya sambil menyuap makanan dimeja makan.

“Emangnya kenapa lo?”

“Anak baru yang pernah gue ceritain tadi buat ulah, dia ngerjain gue.”

“Ngerjain gimana?”

“Buku latihan gue diumpetin sama dia jadi pas bu Hanum mau nilai tugas gue buku gue nggak ada.”

“Emangnya bu Hanum nggak tau?”

“Ya nggak lah, kalo dia tau gue nggak bakal dikeluarin sama dia.”

“Lo dikeluarin sama bu Hanum?”

“Ya. Sangka bu Hanum gue boong, padahal kan gue ngomong apa adanya. Yaudah akhirnya gue dikeluarin dari pelajaran dia abis itu gue dipanggil ngadep bu Hanum sama si leher kuya itu. Sumpah gue bener-bener kesel sama dia, laganya dia bener-bener tengil,” nada Adya tinggi.

“Tumben lo bisa kalah, biasanya udah lo tonjok aja tuh orang.”

“Dia itu super-super licik Bay, tapi liat aja gue bakal buat perhitungan sama dia.”

“Awas lo hati-hati ntar malah jadi senjata makan tuan lagi,” Tukas Abay sambil senyum-senyum.

“Lo kenapa sih Bay? Dari tadi gue liatin lo senyum-senyum terus,” tanya Adya Aneh.

“Addda deh…,” jawab Abay sambil masih senyum-senyum. Kemudian dirinya meninggalkan meja makan.

“Idih, itu orang kenapa lagi,” tanggap Adya aneh.

***

Pagi ini disekolah TP sedang gencar-gencarnya persiapan para siswa yang akan mengikuti kompetisi dari berbagai ekskul. Karena bukan hanya satu, dua ekskul saja yang mengikuti kompetisi tapi meliputi basket, ceers, taekwondo, dan KIR. Pada saat-saat ini kompetisi yang akan segera berlangsung adalah kompetisi basket dan juga ceers disekolah Pelita Dara, sekolah ini mengadakan kompetisi untuk memeriahkan HUT sekolah tersebut.

“Kompetisinya bakal main dimana?” Tanya Adya kepada Keira ketika hendak memasuki kelas.

“Tadinya sih mau dilapangan Pelita Dara tapi karena banyak yang mau nonton jadi panitia Pelita Dara ngadainnya di GOR samping sekolahnya.

“Terus antara putra sama putri hari kompetisinya sama nggak?” Adya kembali bertanya sambil menaruh tas selempangnya ketempat duduknya lalu mengikuti Keira untuk duduk disamping tempat duduk Keira.

“Ya hari itu juga tapi tim putra duluan yang tanding,” jawab Keira sambil melepas tasnya dan duduk ditempat duduknya.

KRIIING…

“Yaampun perasaan cepet amat sih bel masuk,” Tukas Adya sedikit kesal, karena dirinya baru saja datang dan belum sempat untuk beristirahat sambil ngobrol-ngobrol pagi bersama Keira ditempat duduk Keira. “Yaudah deh gue balik ketempat duduk gue dulu.” Adya berdiri dari tempat dia duduk. “Oiya Ke, lo lagi punya masalah sama Bagas?” Tanya Adya lirih sambil menunduk.

“Em…, gimana ya gue juga bingung ngejelasinnya tapi yang pasti hubungan gue sama Bagas saat ini emang lagi nggak sehat.”

“Duh gimana sih, masa king and queen tim basket TP diem-dieman gini? Nanti nggak konsen lho tandingnya!”

“Ye…, nggak ada hubungan kali,” keira menyangkal. “Eh Pak Yudhis udah dateng tuh, lo kedepan sana Ad!” Seru keira ketika melihat guru yang mengajar pelajaran pertama memasuki kelas.

Adya pun berjalan kedepan untuk duduk ketempatnya.

Setelah Pak yudhis dan murid yang lainnya siap Adya berdiri dan menyiapkan kelas. Seusainya Adya menyipakan kelas Pak Yudhis menyuruh nurid-muridnya untuk membuka materi yang sebelumnya telah diterangkan. Dan proses belajar mengajar pun berlangsung hingga waktu istirahat datang.

“Ke, lo mau makan nggak?” Tanya Adya.

“Boleh.”

“Ke, dari tadi selama pelajaran lo diem-dieman aja sama Bagas?” Tanya Adya sambil berjalan keluar dari kelas.

“Ya suasananya dingin aja nggak kaya biasanya. Kalo lo dari tadi selama pelajaran sama Lefard gimana?”

“Lho lo kok jadi balik tanya sih? Udah jelas-jelas gue nggak suka sama dia.”

“Keira!!! Adya!!!” Panggil Tyas dari kejauhan yang lari-lari kecil untuk mendekat. “Payah nih, lo berdua kalo mau kekantin pasti nggak ngajak-ngajak gue dulu mentang-mentang gue nggak satu kelas sama lo berdua,” komentarnya.

“Cie…, gitu aja ngambek sorry-sorry deh.” Adya coba menenangkan.

Mereka bertigapun akhirnya menuju kantin bakso bang Obri makanan favorit murid-murid TP. Karena hampir setiap hari mereka makan diwarungnya bang Obri sampai-sampai tempat yang mereka biasa tempati dibooking. Adya pun langsung memesan bakso plus minumannya sedangkan Keira dan Tyas mengeluarkan sebagian uangnya untuk membayar baksonya.

Tiba-tiba segerombolan cewek-cewek seksi menghampiri mereka.

“Eh tau nggak sih disekolahan kita ada anak baru yang ganteng banget?” Tanya seorang gadis dengan nada kemayu.

“Ya sih tapi sayang dia nggak mujur. Duduk sama buaya amazone yang super buas,” terus gadis yang satu lagi sambil memoles pipinya dengan bedak.

“Ow, masa sih? Emangnya si anak baru itu duduk dimana?” gadis yang pertama membuka percakapan itu bertanya kepada yang memberikan pendapat.

“Yang pasti disamping makhluk yang nggak jelas dia itu berkelamin cewek atau cowok,” sambung cewek yang paling disegani dibanding cewek-cewek yang lain diantara mereka. Dan mereka tertawa terbahak-bahak.

Dari percakapan segerombolan cewek-cewek itu dimulai, Adya, Keira dan Tyas sudah merasa risih dan Adya sudah mulai naik darah karena objek yang dibicarakan adalah dirinya.

“Heh! Mau lo apa sih dateng-dateng udah ngomongin orang aja?” sambat Keira yang menghampiri tempat mereka duduk.

“Duh…, santai aja kali! Emangnya lo ngerasa diomongin ya? Kepedean banget sih lo…,” tanggap gadis yang paling disegani kepada Keira.

“Oh iya, emang gue ngerasa lo lagi ngomongin temen gue,” balas Keira dengan suara menekan.

“Ha… ha…, temen lo yang mana? Yang nggak jelas punya kelamin?” gadis itu menjawab lagi dengan tertawaan dan ledekan.

“Lo ngomong apa?” tanya Adya yang dari tadi sudah tidak sabar untuk membuat perhitungan sama cewek-cewek ganjen itu.

“Nggak jelas punya ke…la…min…,” jelasnya.

PLOK, tonjokan keras mendarat dipipi sebelah kiri gadis itu.

“Aow…” jerit gadis itu kesakitan. “Eh! Emangnya gue salah ya bilang lo nggak jelas punya kelamin? Lo itu cewek apa bukan sih? Kerjaan lo tonjokin orang mulu,” gerutu gadis itu sambil berdiri.

“Masih berani lo sama gue? Oh lo nantangin pipi lo yang sebelah kanan bonyok ya?”

“Eh, emangnya gue takut sama cewek Jadi-jadian kaya lo, nggak ya.”

“Oh, lo bener-bener nantangin gue ya,” balas Adya sambil mengepalkan tangan kanannya untuk bersiap menonjok pipi sebelah kanan gadis itu.

Setelah hampir kepalan Adya mendarat kepipi kanan gadis itu tiba-tiba pak Yudhis datang dan langsung membentak Adya, “Adya! Apa-apaan kamu ini? Selalu buat ulah.”

“Pak liat nih pipi saya jadi bonyok gara-gara Adya padahal minggu depan saya harus ikut kompetisi kalo muka saya kaya gini tim ceers nggak akan menang Pak. Bapak harus kasih hukuman buat Adya Pak!”Gadis itu mendekat kearah Pak yudhis sambil mengeluh kesakitan.

“Idih sok manis banget sih lo! Bukannya bagus? Kan lo nggak cape-cape moles pipi lo sama blush on cause pipi lo udah biru duluan tau!” sambar Adya tidak terima gadis itu menjelek-jelekkan dirinya

“Apa yang sudah kamu lakukan Adya? Lihat wajah Miranda jadi lebam seperti ini!”

“Pak, dia duluan yang bikin saya panas,” Adya membela diri.

“Sudah saya peringatkan berapa kali sama kamu, jangan bawa-bawa jurus taekwondo kamu ke hal-hal yang merugikan tapi masih saja dilakukan.” Pak yudhis makin geram

“Tapi…”

“Tidak ada kata tapi-tapi. Kamu sekarang ikut Bapak kekantor!”

“Tapi Pak, Adya nggak salah. “ Keira dan tyas mencoba membela Adya.

“Tidak salah? Memukul orang sampai babak belur seperti ini dibilang tidak salah? Salah besar.”

“Yah Adya bakal diapain tuh Ke?” tanya Tyas pasrah.

“Gue nggak tau deh Yas,” sahut Keira juga pasrah.

Sepanjang jalan menuju ruang guru Pak yudhis terus menasehati Adya. “Kamu selalu saja membuat ulah dengan kehebatan yang kamu punya Adya, saya ini sudah kewalahan dengan sikap kamu. Bayangkan sudah berapa murid yang kamu bikin babak belur seperti tadi dan sudah berapa kali kamu buat wajah Miranda lebam-lebam seperti itu?” omel pak Yudhis.

Adya memang sering memukul teman-teman satu kelas yang dianggapnya menyebalkan, tidak sopan dan belagu. Miranda adalah salah satu korbannya, gadis tadi mungkin sudah sering terkena tinjuan Adya karena cengannya yang selalu membuat Adya kesal. Ketua tim ceers dan ke empat ganknya memang sering membuat ulah duluan.

“Nggak kehitung Pak,” jawab Adya santai.

“Kamu ini, sudah salah tapi masih melawan saja. Oiya kita tidak jadi keruang guru.”

“Lho, mau kemana Pak?”

“Kita keaula, disana kamu bisa melatih tangan kamu supaya lebih jago lagi untuk memukul.”

Adya memandang dengan wajah penasaran.

Sesampainya diaula Adya dihadapkan oleh sebuah karung yang digantung, biasanya karung itu dipakai untuk seorang petunju yang sedang ingi latihan atau anak-anak taekwondo yang sedang latihan.

“Silahkan kamu pukuli karung ini selam dua jam tanpa berhenti!”

“Hah…, nggak salah Pak?” Tanya Adya kaget.

“Kenapa? Kamu keberatan. Ini kan makanan kamu sehari-hari. Kamu pasti sangat gembira kan mendapat hukuman seperti ini?”

“Tapi over Pak, masa saya harus pukul karung ini selama dua jam, bisa-bisa tangan saya keram Pak.”

“Jangan melawan kamu, sekarang kamu pukul karung itu sampai jam dua belas nanti! Saya akan terus mengawasi kamu dari luar, mengerti kamu?”

“I… iya deh Pak.” Adya memilih pasrah daripada nanti dia ditambah hukuman yang lebih berat. Ia pun memulai untuk memukuli karung latihan itu dan Pak yudhis terus mengawasi dan akhirnya meninggalkan Adya.

“Huh akhirnya tuh guru killer pergi juga, duh cape nih tangan gue,” keluh Adya.

Baru saja Adya beristirahat tiba-tiba Pak yudhis kembali datang dengan membawa Pak  Satryo security sekolah. “Adya teruskan! Siapa yang suruh kamu berhenti?” tegur Pak Yudhis saat memasuki aula.

“Tangan saya cape Pak. Kok Bapak bawa Pak Satryo sih?” jawab Adya sambil ngos-ngosan.

“Kamu pikir saya akan nungguin kamu terus, saya juga harus mengajar. Jadi sebagai gantinya biar Pak Satryo yang mengawas kamu.”

“Hm…,” Adya membuang nafas dalam-dalam. Ini sih sama kolotnya. Gerutunya dalam hati.

“Baiklah Pak Satryo saya tinggal mengajar dulu, tolong jaga gadis yang badungnya bukan main ini ya Pak!”

“He…, wah nggak nyangka pak Yudhis merhatiin saya banget deh,” guyon Adya.

“Adya sudah kamu lanjutkan lagi!” Pak Yudhis pun meninggalkan aula.

Sesudah tidak terlihatnya sosok Pak Yudhis Adya melemahkan pukulannya yang tadinya dengan sekuat tenaga dan cepat.

Kumis yang melingkar bagian bawah hidung Pak Satryo begitu lebat sehingga dirinya terlihat sebagai orang yang sangat garang. “Heh Adya kenapa kamu jadi lama dan pelan mukulnya?” Tanyanya sangar.

“Ah, nggak kok.” Jawab Adya santai. Dirinya santai bukan karena berani tapi karena sudah terbiasa adu mulut dengan satpam tersebut bila Adya telat masuk sekolah.

Apa yang dibayangkan Adya memang benar, pak yudhis dan pak Satryo sama-sama kolot, dirinya masih tetap memukul karung tersebut sampai jam dua belas siang tanpa disuruh beristirahat. Bila Adya mengeluh satpam itu menjawab, “Bukannya kamu hobi? Nggak apa-apa lah Adya itung-itung latihan buat kompetisi nanti.”

***

“Aduh tangan gue sakit banget nih!!!” Keluh Adya saat berjalan keluar pintu gerbang sekolah bersama Keira dan juga Tyas.

“Miranda emang pantes dikasih tonjokan dari lo Ad,” tukas Keira.

“Pantes sih pantes tapi gue juga kena getahnya nih.”

“Sakit ya Ad?” Tanya Tyas polos. Bukan polos sih tapi dengan nada tulalit.

“Hello…, lo dari tadi kemana aja sih Yas? Ya iyalah sakit,” jawab Adya dengan nada tinggi.

Tyas langsung saja manyun diledek Adya.

“Jemputan lo belum dateng Ad?” Tanya Keira mengalihkan pembicaraan.

“Nggak tau nih, katanya Nday mau jemput gue.”

“Yaudah gue sama Tyas pulang duluan aja ya?”

“Iya deh, hati-hati ya guys!”

Keira dan Tyas akhirnya meninggalkan Adya didepan pintu gerbang. Adya kini berdiri sendiri sambil mengetik SMS disamping pagar sekolah. Dari kejauhan ia melihat sosok cowok yang berjalan keparkiran untuk mengambil sepeda motornya dan begegas pulang. Itu kaya si leher kuya, gumam Adya. Lalu Adya melihatnya lebih jeli, kenapa tuh si leher kuya?

Diparkiran motor memang ada Lefard, ia memang tampak sibuk sebab dua ban motornya bocor.

Ha… ha…, nggak taunya ban motornya dia bocor toh. Rasain! Adya tertawa gembira dalam hati sambil masih mengintipnya dari balik gerbang sekolah.

“Ad,” panggil Nday setelah dirinya sampai didepan sekolah Adya.

“Psst, pelan-pelan!” jawab Adya lirih sambil mengacungkan telunjuknya didepan bibirnya.

“Emang ada apa sih?” Tanya Nday penasaran dan langsung turun dari mobil yang dinaikinya.

“Lo masih inget nggak sama cowok itu?” sambung Adya sambil masih mengintip dari gerbang sekolah.

“Itu kan cowok yang lo bilang rese banget. Emang kenapa dia?”

“Ban motor dia dua-duanya bocor, lucu banget ya?”

“Ye…, orang lagi kena musibah malah diketawain, bantuin dong Ad!”

“Idih gue? Harus bantu dia? Nggak banget deh,” respon Adya sepele. “Yaudah lah kita pulang aja yuk!”

Adya dan Nday menuju kemobil untuk berjalan pulang. Sementara Lefard masih kebingungan dengan tiba-tiba bocornya dua ban sepeda motornya.

Mobil merekapun lambat laun jalan menjauhi sekolah. Adya maupun Nday sudah mulai tidak memperdulikan Lefard diparkiran itu lagi.

Diparkiran kini tinggal Lefard seorang diri, sekolahan sudah sepi dari tadi, latihan-latihan ekskul juga sedang nihil untuk hari ini. “Sial, kenapa sih ban motor gue tau-tau bocor gini?” lefard geram sambil menendang ban motornya yang ada dibagian belakan. “Oh… gue tau, pasti ini kerjaan hidung betet. Dasar tuh cewek akalnya licik banget sih,” gerutunya.

Nggak ada jalan lain Lefard pun mau nggak mau menuntun motornya hingga dia menemukan tukang tambal ban. Saat Lefard menuntun motornya hingga kedepan pintu gerbang sekolah tiba-tiba ada segerombolan laki-laki bertubuh kekar, berwajah sangar, dan berperawak besar-besar, jumlahnya sekitar empat orang. Awalnya Lefard biasa saja pikirnya mungkin orang-orang ini punya urusan lain, tapi saat Lefard ingin lewat, segerombolan orang-orang tadi menghadangnya hingga dia tidak bisa lewat. Lefard masih bersikap biasa akhirnya dia ambil jalur kanan namun orang-orang itu ikut menghadangi kejalur kanan, saat Lefard mengambil jalur kiri orang-orang itu juga ikut menghadangi kelajur kiri.

“Bang misi dong saya mau pulang nih!” serunya kesal.

“Lo mau pulang?” tanya salah dari seorang orang-orang bertubuh tegap tadi.

***

Pagi ini memang bukan pelajaran pak Yudhis namun setelah bel masuk berdering pak Yudhis memasuki kelas XII IPA I. Saat pak Yudhis hendak masuk kelas beliau bertabrakan dengan seorang siswi yang tak lain adalah Adya.

“Adya! Kamu ini selalu saja datang tidak bisa tepat waktu.” Pak yudhis menasehati Adya sambil membereskan bajunya hingga terlihat rapi kembali.

“Ma.. maaf Pak. Tapi nggak kesiangan banget kan Pak? Bel juga baru bunyi, ya… paling saya telat tiga puluh detik,” jawab Adya mencoba menenangkan.

“Yasudah masuk kamu!”

Adya pun memasuki kelas lebih dahulu dibanding pak Yudhis. “Psst, emang sekarang ada perubahan jadwal ya?” tanya Adya kepada Fery yang duduk dibelakangnya.

Fery hanya menjawab dengan mengangkat kedua bahunya tanda dirinya tidak tahu.

Pak Yudhis akhirnya memasuki kelas laku berdiri didepan kelas. “Selamat pagi!”

“Pagi Pak!” jawab murid satu kelas.

“Saya masuk kekelas ini ingin memberi tahukan bahwa teman kalian yang bernama Lefard hari ini tidak bisa hadir dikarenakan ia terkena musibah.”

“Yes…!!!” Adya bersorai sangat kencang dengan nada gembira.

“Adya, apa-apaan kamu? Teman sedang tertimpa musibah malah kamu tertawakan.”

“Ya dong Pak, saya merasa merdeka karena nggak ada yang ganggu-ganggu saya lagi, nggak ada yang rese lagi dan nggak ada yang iseng juga tebar pesona lagi sama cewek-cewek.”

“Pak emangnya Lefard hari ini nggak masuk kenapa?” tanya Sisil yang juga murid kelas XII IPA I.

“Kemarin ban motornya bocor secara tiba-tiba saat ia mau pulang setelah itu tiba-tiba saja ada segerombolan preman mengeroyok ia sampai ia babak belur,” jelas Pak yudhis.

“Hah, ban motornya bocor tiba-tiba? Terus dia dikeroyok?” tanggap sisil kaget. “Saya yakin ini ada yang merencanakan Pak.”

“Saya juga berpikir seperti itu.”

“Ini sih bukan rahasia lagi Pak. Pasti Adya teman sebangkunya yang buat Lefard kaya gini,” tukas Sisil sambil melirik kearah Adya sinis.

“Apa? Eh lo jangan asal tuduh ya,” tanggap Adya kaget dan tidak terima.

“Emang iya kan, ngaku aja deh? Gue denger pembicaraan lo kemarin sama Bagas kalo lo mau buat perhitungan sama dia.”

“Emang gue nggak suka sama dia dan gue juga emang mau buat perhitungan sama cowok rese itu, tapi gue bukan pengecut yang bisanya main dari belakang dan keroyokan, ngerti lo!!!” jawab Adya geram.

“Sudah! Apa-apaan kalian ini malah ribut?” Pak yudhis mencoba menenangkan.

“Pak sudah terbukti kan, Adya emang sudah punya rencana dari awal.”

“Eh, gue harus ngomong berapa kali sih? Inget ya gue ini bukan pengecut lagian kejadian kemaren nggak ada sangkut pautnya sama gue.” Adya masih membela diri

“Adya kamu ikut saya kekantor! Keterlaluan kamu.” Pak Yudhis pun tidak tinggal diam. Beliau memanggil Adya kekantor.

“Ta… tapi Pak saya…”

“Sudah tidak usah banyak alasan!!!”

Satu kelas pun bergeming menanggapi hal itu dan tidak hanya satu, dua orang yang langsung mengintrogasi Sisil untuk tahu cerita yang sebenarnya.

“Lo kemaren pulang bareng sama Adya kan?” tanya Bagas kepada Keira datar.

“Iya tapi gue cuma bareng sampe pintu gerbang aja soalnya dia katanya mau dijemput sama Nday,” Jawab Keira malas.

“Gue nggak percaya kalo Adya kaya gitu.”

“Tapi nggak ada bukti kan?”

“Lo lebih bela Sisil dibanding sahabat lo sendiri?” Bagas jawab dengan suara menekan.

“Adya itu orangnya nekat, apalagi dia udah dibuat kesel sama Lefard jadi wajar aja lah kalo…”

“Kalo apa? Kalo dia ngebayar preman-preman buat ngeroyok Lefard gitu,” potong Bagas sambil mendekat kewajah Keira. “Lo emang bukan seorang sahabat yang baik. Lo lebih peduli sama anak baru yang rese itu dibanding sahabat lo sendiri,” sambungnya lagi dan bicara lebih dekat lagi kewajah Keira.

“Dan lo pacar yang nggak pernah peduli sama ceweknya, yang bisanya cuma marah, cemburu dan diem,” balas Keira meninggi.

“Gue cape sama Lo!” Bagas pun keluar dari kelas.

Diruang guru Adya diintrogasi oleh Pak Yudhis, dan diruang itu haya ada mereka berdua.

“Pak kali ini saya berani sumpah Pak saya nggak ngerjain dia dan saya juga nggak tau Pak tentang kejadian kemaren. Emang pas saya mau pulang saya liat dia diparkiran lagi sibuk sama motornya tapi habis itu saya pulang karena Nday udah jemput saya. Jadi Pak, kejadian ini nggak ada sangkut pautnya sama saya, saya nggak tau apa-apa,” tutur Adya sedetail-detailnya kepada Pak Yudhis untuk meyakinkan Pak Yudhis kalau dirinya tidak bersalah.

“Tapi ada saksinya Adya.”

“Mungkin Sisil dengar pembicaraan saya sama Bagas waktu kami pulang bareng tapi itu saya memang lagi kesal sama Lefard Pak.”

“Kamu ini perempuan Adya, harusnya kamu jangan bersikap seperti ini, kamu nggak malu sama predikat kamu? Kamu ini juara umum, mantan ketua OSIS, ketua kelas XII IPA I juga siswa yang selalu ditunjuk kalau ada kompetisi taekwondo.”

“Ya tapi Pak untuk soal ini saya benar-benar nggak tau,” Adya masih kekeh membela diri.

“Saya sudah ambil keputusan kamu akan discorsing selama tiga hari.”

“Apa? Nggak bisa gitu dong Pak???”

“Tunggu Pak jangan terlalu cepat ambil keputusan karena semua bukti belum jelas,” Bagas tiba-tiba datang keruangan Pak Yudhis untuk membela Adya.

“Maksud kamu?”

“Saya boleh jadi jaminannya Pak, saya yakin Adya tidak melakukan itu. Jadi saya mohon Bapak jangan kasih hukuman scorsing sama Adya!”

Pak Yudhis menatap heran. “Bagas? Kenapa kamu begitu yakin kalau Adya tidak bersalah?”

“Kemarin saya pulang bareng Adya dan Nday Pak. Saya ketemu mereka dijalan, jadi saya yakin bukan Adya yang merencanakan pengeroyokan itu.” Bagas terpaksa berbohong demi membela Adya.

Pak Yudhis mengangguk-angguk atas penuturan Bagas dan akhirnya menyetujui permintaan Bagas untuk tidak menscorsing Adya. “Baik, tapi ingat Bagas kamu sebagai jaminannya kalau Adya terbukti bersalah!”

***

Si leher kuya itu sekarang nggak masuk sekolah, dia babak belur dikeroyok. Aneh, siapa ya yang ngeroyok dia sampe dia babak belur gitu. Adya yang pulang sekolag selalu jalan kaki bila tidak dijemput oleh kakaknya atau si Nday ini bergumam sambil berjalan melewati taman. Dirinya berpikir keheranan tentang kejadian kemarin. Apa jangan-jangan dua bannya yang bocor itu juga bagian skenario pengeroyokkan ya? Tanya Adya pada dirinya sendiri.

Sisil emang wajar tuduh gue, soalnya cuma gue yang nggak suka sama dia dan gue emang kemaren pengen kasih pelajaran sama dia, tapi… bayangannya dihentikan, dirinya tidak mau terlalu memikirkan tentang musibah yang kini melanda siswa Indo itu.

***

“Sayang kamu harus dateng ya pas aku tanding besok!” Suara manis terdengar diseberang.

“Aku nggak bisa janji deh, soalnya aku juga ada latihan buat turnamen. Kamu kan tau posisi aku penting buat sekolah masa iya aku bolos latihan?” jawaban manispun terlempar untuk seseorang diseberang.

“Plizz…, masa demi cowok kamu sendiri kamu nggak bisa sih Yang! Nanti aku nggak semangat deh, nanti kalo kalah gimana???”

“Kok jadi manja gini lo Dhu? Gue bukannya nggak bisa, tapi besok latihan inti. Lo kan tau turnamen tinggal satu minggu lagi,” tanggap Adya yang tidak membalas kata-kata manis dari Edhu.

“Iya deh iya, duh nggak usah pake emosi gitu dong, kan jadi ilang bahasa romantisnya lagi!” Nada Edhu merayu.

“Habisan lo yang buat gue kesel sih. Emang pertandingan lo besok tuh penting buat gue tapi latihan besok juga nggak kalah penting. Emang lo nggak mau sekolah kita menang turnamen lagi?”

“Ya maulah, apalagi yang menang ada kamunya. Edhu makin bangga dan makin sayang deh sama Adya…”

“Gombal aja lo. Yaudah, gue cuma bisa ngedoain lo aja Dhu supaya pertandingan besok tim TP yang putra juga yang putri jadi the winner.”

“Edhu terima deh doanya. Maksih ya sayang… udah dulu ya, met malam Adyaku sayang!!!”

“Tumbennan amat si Edhu romantis gitu sama gue, pake ngomong sayang-sayang segala sama gue,” tukas Adya setelah menutup telepon.

Belum lama ponselnya mati kemudian berdering lagi dan sekarang Keira yang menghubungi Adya. “Halo Ad!” sapa Keira saat panggilannya diterima oleh Adya.

“Iya, kenapa Ke?”

“Besok lo beneran nggak bisa nonton kompetisi basket?”

“Kayaknya gitu deh Ke, gue ada latihan buat turnamen minggu depan.”

“Yah Ad sayang banget sih lo nggak bisa dateng.”

Sorry deh Ke… kapan-kapan kalo ada kompetisi lagi dan gue juga nggak ada jadwal latihan pasti gue bakal nonton dan jadi suporter lo.”

“Ia deh, gue ngerti. Good luck buat latihan lo besok ya Ad!”

“Ho-oh. Lo juga semangat ya buat besok!”

***

Pagi ini disekolah Tira Palawa tepat ditengah lapangan nampak tim basket putra maupun putri begitupun tim ceers tengah bersiap-siap untuk mengikuti kompetisi. Tim basket putri yang dikapteni Keira dengan seksama mendengar arahan pelatihnya, begitupun dengan tim basket putra yang dikapteni Bagas. Ditempat yang sama sekelompok tim ceers juga berkerumun untuk persiapan kompetis nanti.

“Udah siap semua kan?” Tanya Naomi sambil siap-siap mengemasi perlengkapan ceers.

Terlihat gusar Miranda.

“Ada apa lo Mir?” Tanya Sisil penasaran.

Miranda tidak menjawab dan masih terlihat gusar, dirinya juga panik sampai-sampai seluruh isi tasnya dikeluarkan.

“Lo kenapa sih Mir?” Kali ini naomi yang bertanya dengan nada heran dan penasaran.

“Duh…, kayaknya rok ceers gue ketuker deh guys,” jawabnya sambil masih mengacak-acak semua isi tasnya. “Tuh kan bener, ini tuh bukan rok gue! Duh gimana nih?”

“Lho kok bisa sih Mir? Emangnya lo semalem nggak meriksa dulu?” tanya Sisil.

“Gue malah udah siapin dari sore diatas meja belajar gue tapi belom gue masukin ransel.”

“Terus sekarang yang lo bawa punya siapa?”

“Ini punya si Oline,” jawab Miranda sambil mengakat roknya untuk ditunjukkan kepada teman satu timnya.

“Punya Oline?” Tanggap Sisil shock. “Kok bisa sih Mir? Bagaimana ceritanya? Lagian kan ade lo itu badannya gendut, pasti kalo lo pake kekendoran deh!”

“Emang itu masalahnya. Ini rok ukurannya XL, terus gimana dong?”

“Ngapain sih ade lo pake-pake barang lo?”

“Gue sih nggak tau persis tapi dia pernah cerita kalo tim ceers sekolahnya lagi punya rencana bikin seragam ceers baru, pasti dia mau jiplak motif  rok gue makanya dia ambil rok gue.”

“Teledor banget sih lo, lagian sebelum berangkat tadi seharusnya lo cek lagi,” tanggap Tyas kesal.

“Eh lo kok jadi marah-marah sama gue sih? Gue kan juga nggak tau!” sahut Miranda dengan nada tinggi.

“Udah deh jangan ribut-ribut gini, sekarang kita cari solusinya aja!” sambung Sisil. “Mir, berarti pas kita nanti tampil lo nggak satu seragan sama kita dong?”

“Tapi bagi gue wajar juga sih, soalnya kan si Miranda posisi tengah jadi kalo roknya laen sendiri nggak ada pengaruh,” sambung Inka yang sama-sama teman satu tim.

“Hm… iya sih, tapi kan ukurannya itu lho!”

“Satu-satunya jalan, roknya Miranda harus kita penitiin dikancingnya,” Tyas memberi usul.

“Dipenitiin? Lo yakin aman?” tanya Sisil ragu.

“Terus mau diapain lagi?”

Feeling gue nggak nyuport.”

“Terus ada solusi laen nggak selain dari gue? Nggak ada kan?” Tegas Tyas.

Beberapa pasang mata memberi isyarat untuk menyutujui usul Tyas begitupun sepasang mata Miranda yang masih agak ragu.

“Gimana?” Tanya Tyas meyakinkan.

“OK deh, nggak ada jalan lain,” Sisil menyetujui. “Gimana Mir?”

“OK,” jawab Miranda masih ragu.

“Kebetulan gue punya peniti.” Tyas menjulurkan penitinya ke Miranda.

“Lo nggak salah? Peniti kayak gini sih rawan patah ukurannya aja kecil banget,” tanggap Miranda saat tau peniti yang ditawarkan Tyas berukuran kecil.

“Ya gue sih nggak jamin ini barang kuat, tapi buat solusi darurat gue yakin ini jalan yang terbaik. Lo hati-hati aja nanti dan berdoa juga supaya pas kita tampil lancar tanpa ada halangan apapun!”

Miranda dan yang lainnya bergerutu sambil merundingkan kembali apakah harus mengikuti usul Tyas setelah tau barang yang jadi usulan itu akan berakibat fatal untuk penampilan tim mereka termasuk Miranda. Setelah sekian menit akhirnya timbul keputusan kalau mereka dengan terpaksa menyutuji usul Tyas.

“Perhatian! Bagi para tim diusulkan untuk menyiapkan barang bawaan karena transpor sudah tiba dan siap untuk ke GOR.” Begitulah seruan keras Pak Yudhis dengan menggunakan alat pengeras untuk menandakan tim sekolah TP bersiap.

Transportnya udah dateng, yaudah kita siap-siapin barang-barang bawaan kita dan masalah Miranda kita urus diruang ganti,” tutur Sisil.

Setelah semua tim siap dan perlengkapan sudah diusung kemobil, mereka pun akhirnya jalan. Bukan hanya pemain yang ada dibis itu tapi juga ada Pembina OSIS yaitu pak Yudhis, pembina olahraga basket dan pembina ceers sedangkan untuk para suporter, masing-masing suporter sadar dengan membawa kendaraan pribadi.

Setelah sampai di GOR, keadaan sudah mulai ramai dikunjungi para suporter yang akan menyaksikan pertandingan hebat antara  dua sekolah yang bisa dibilang terkemuka diantara sekolah swasta lain dikota madya tersebut. Didalam GOR terbagi dua soprter, ada yang menjadi suporter sekolah TP dan ada yang menjadi suporter sekolah Pelita Dara.

***

Adya terburu-buru memasuki gerbang sekolah lalu ia berlari cepat menuju lapangan. “Tar…! Tarina!” sapanya sambil masih berlari.

Gadi yang benama Tarina pun menengok kearah Adya dan menjawab sapaannya, “Kenapa Ad?”

“Huh…,” Adya menarik napas sejenak setelah lari dari depan pintu sekolah. “Tim yang mau kopetisi udah pada berangkat?” tanyanya sambil masih terengah-engah.

“Udah sekitar setengah jam yang lalu.”

“Yah gue telat dong, padahal gue mau kasih support buat mereka.”

“Termasuk buat Edhu ya?” tanya Tarina meledek.

“Ya diantaranya,” jawab Adya dengan senyum agak malu. “Kok masih sepi ya Tar?”

“Kebetulan anak-anak yang lain belum pada dateng lagian Pak Yudhis juga anter anak-anak yang ikut kompetisi ke GOR dulu.”

Adya mengangguk tanda paham lalu dirinya membuka ponselnya untuk menghubungi Edhu. “Halo Dhu! Sorry ya gue telat sampe sekolah nih. Lo harus semangat ya nggak ada gue pokoknya gue tuntut lo harus menang, OK!” Cakap Adya setelah Edhu menerima telepon darinya.

“Ia sayang nggak apa-apa. Makasih ya doanya! Pasti deh tim kita menang, tim kita kan udah terbukti unggul.”

“OK, semangat ya!”

“Ngomong sayang dong biar Edhu tambah semangat!” Edhu merayu dikeramaian isi GOR.

“Apaan sih?” Tolak Adya.

“Biar jadi spirit, kalo kamu nggak ngomong aku jadi loyo nih dan nanti aku nggak bisa lari buat bawa bola,” Edhu memelas dengan kata dan nada manis.

Adya mesem malu, “Iya… iya. Good luck ya sayang….!”

“Nah gitu dong it my girl,

“Alah gombal lo, Yaudah ya Dhu,” Adya mengakhiri percakapan.

“OK deh honey, bye!”

Selesai Adya menghubungi Edhu, ditekannya lagi keypad Hpnya untuk menghubungi Keira. “Halo Ke! Sorry ya sebelum lo berangkat gue belom dateng, tadi dijalan macet banget.”

“Ah lo mah emang Miss karet. Telat melulu lo!” tanggap Keira setengah kesal.

“Iya-iya maaf. Tapi gue tetep doain lo kok biar pertandingan lo lancar dan tim basket kita menang!”

“OK deh, thanks ya Ad.”

“Eh disana ada Tyas?”

“Ada, lo mau ngomong? Bentar ya gue panggil dulu.” Keira memanggil Tyas yang berjalan menuju ruang ganti untuk menghadapnya sebentar, “Yas si Adya nih,” tuturnya setelah Tyas telah sampai kepadanya.

“Halo Adya!” Sapa Tyas dengan penuh semangat. “Ad lo kenapa tadi nggak jadi kesekolahan? Duh Ad disini rame banget udah gitu banyak cowok ganteng Ad.”

“Mata lo emang nggak pernah lupa ya, selalu ijo kalo ngeliat cowok mentereng!”

“Mentereng. Lo kira mobil, mentereng? Tapi yang pasti lo harus doain kita ya supaya menang kompetisi ini!”

“Ho-oh, gue selalu doain kalian kok, yaudah ya sukses buat lo semua!”

“Yoi.” Tyas menutup pembicaraan.

Selagi Adya menunggu anak-anak taekwondo dateng, dirinya dan Tarina menuju keaula untuk bersiap.

***

“Dan untuk pertandingan pertama kita kali ini adalah pertandingan antara tim basket putra Tira Palawa dengan tim basket putra Pelita Dara.” Begitulah pemandu acara di GOR ini bersemarak mengumumkan pertandingan pertama. Seisi GOR bergemuruh setelah satupersatu atletnya muncul kelapangan. Setelah semua atlet memasuki lapangan dan saling berjabat tangan pertandingan pun dimulai. Tim basket TP berhak mendapat bola karena saat pelemparan uang logam, sisi yang dipilih tim TP berada diatas telapak tangan wasit. Dan pertandingan diawali dengan gemuruhnya para suporter.

Disisi kanan maupun kiri lapangan basket terdapat jajaran tim ceers dari masing-masing sekolah. Masing-masing tim menyanyikan yel-yel mereka untuk menyemangati para pemain basket yang sedang bertanding, begitupun dari tim ceers TP. Tapi disamping semangatnya gadis-gadis tadi menyanyi ada raut kegusaran Miranda tentang rok yang ia pakai. “Sil, gue nggak nyaman nih,” bisik Miranda sambil masih berjingkrak-jingkrakan.

“Ia gue tau. Udah lo bawa nyaman aja!” Seru Sisil.

Pertandingan semakin seru karena kedudukan poin antara tim TP dan lawannya hampir sepadan sampai selesainya babak pertama. Tapi setelah babak kedua tim TP unggul dan akhirnya sanggup mengalahkan tim lawan atas nilai shut trhee point empat kali berturut-turut oleh Bagas dan Edhu.

***

Disekolah Tira Palawa sendiri, anak-anak yang akan mengikuti latihan taekwondo untuk turnamen telah berkumpul diaula, tempat dimana mereka semua latihan. Semua telah siap dengan seragam mereka tak terkecuali Adya, murid yang prestasinya gemilang diorganisasi ini.

“Yaampun kok Pak Yudhis belom sampe sini ya,” keluh Adya yang daritadi berdiri dipilar depan aula sekolah sambil memandang jam yang melingkar di pergelangan tangan sebelah kirinya itu.

Selang beberapa waktu Adya mengeluh, pak Yudhis pun datang dan langsung menyapa Adya. “Adya, sudah siap untuk latihan?”

“Udah daritadi Pak, sabem juga udah ada didalem.”

Pak Yudhis pun memasuki aula dan menyapa semua anak-anak yang ada didalam. “Maaf ya anak-anak, gara-gara Bapak kalian sampe sekarang belum memulai latihan. OK, untuk menyingkat waktu kalian sekarang mulai latihan!”

Mendengar instruksi dari sang pembina OSIS ini anak-anak pun melakukan pemanasan diikuti dengan latihan. Latihan yang pertama dilakukan dengan tingkat sabuk merah, Adya yang sudah mendapat tingkat sabuk biru menunggu disisi aula hingga dirinya nanti berunjuk.

Ditengah-tengah suasana latihan Tarina menghampiri pak Yudhis, “Pak, kata Bapak ada anak baru yang tingkat sabuknya satu kali lebih tinggi dari Adya, mana orangnya Pak?”

“Oh iya Bapak sampai lupa untuk memberitahu yang lain kalo anak baru itu datangnya nanti siang sekitar jam satu.”

“Lho emangnya kita latihan sampe jam berapa Pak?”

“Kita tambah jam latihan bersedia tidak? Yang biasanya pulang jam satu menjadi jam dua?”

“Saya sih nggak apa-apa Pak, tapi anak-anak yang lain mau?”

“Bapak nanti kasih tau anak-anak yang lain, mudah-mudahan tidak keberatan.” Setelah pak Yudhis menunggu selesainya duel sisabuk merah beliau menyampaikan berita itu. Karena memang hari minggu, anak-anak pun tidak ada yang keberatan termasuk Adya.

***

Di GOR, setelah selesainya pertandingan bola basket putra selesai yang dimenangkan oleh tim TP melalukan sesi kompetisi kedua sambil jedanya untuk melanjutkan kembali dipertandingan tim bola basket putri. Sesi kedua ini adalah kompetisi ceers antara kedua sekolah tersebut. Untuk kompetisi ini giliran tim Pelita Dara yang berunjuk duluan.

Terdengarlah alunan musik untuk tarian dara-dara cantik itu kemudian satupersatu keluarlah dara-dara itu ketengah lapangan basket untuk memamerkan kebolehan mereka. Mereka tampak powerfull  juga dengan perasaan yang lepas dan relax hingga pertunjukan mereka selesai.

Setela tim lawan sudah menunjukkan kelincahan mereka tim TP pun bersiap untuk tampil. Dikubu ceers TP yang bersampingan dengan kubu basket berkerumun untuk sejenak berdoa dan memacu semangan. “Ya Tuhan, mudah-mudahan nggak ada kejadian yang nggak kita inginkan saat kita tampil nanti, amin.” Miranda membacakan doa. “Ok semua siap?” tanyanya kepada sesama anggota timnya.

“Yes!” jawab serentak dengan suara lantang semua anggota ceers TP dan langsung berlarian ketengah lapangan basket. Satupersatu gaya mereka diperlihatkan dengan penuh ekspresi keceriaan, gerakan yang enerjik dan suara yang bersemangat adalah modal utama tim mereka. Setelah semua gaya ditampilkan dan pertunjukan mereka hapir selesai rasanya hambar bila ceers tidak ada gaya naik-naik tubuh sessama kawannya, begitu pula yang dilakukan tim Miranda, seperti yang dikatakan Inka bahwa Miranda memengang posisi tengah jadi yang harus naik sampai puncak pundak kawannya adalah Miranda.

Deg… dug…, begitulah suara degupan jantung Miranda ketika semua kawannya bersiap dengan posisi tegap berdiri dan menunggunya untuk segera bernaik. Dengan menghembuskan nafasnya sejenak dirinya mulai menaiki tumpukan tangan Tyas dan Inka sebagai perantara naik kepundak Sisil dan Naomi. Sesampainya dipuncak, Miranda akan menampilkan atraksinya yang terakhir sekaligus penutup penampilan tim mereka yaitu meluncur dari puncak ketumpuan tangan tangan Tyas dan Inka, namun ketika Miranda bersiap untuk meluncur dengan muka pedenya rok yang ia kenakan turun melorot kebawah karena peniti yang dipakainya patah. Ketakutan itupun menjadi kenyataan bagi tim mereka.

Penonton yang tadinya terpukau dengan aksi mereka tiba-tiba diam, keadaan di GOR pun hening beberapa detik, puluhan pasang mata lelaki langsung terbelalak melihat pemandangan indah itu, sepasang mata Bu Ayu selaku pembina juga memandang heran. Namun keheningan dan keherenan itu tidak berlangsung lama ketika muncul suara gadis tertawa dengan suara terbahak-bahak. Keiralah, teman dekat Tyas yang pertama kali menertawakan kejadian itu dengan tawa yang lepas. Setelah mendengar tawa gadis itu seluruh isi GOR ikut tertawa, tertawa dengan sangat terbahak-bahak menyamai tawanya Keira.

“Argh……….,” teriak Miranda menahan malu dengan histeris. Dirinya langsung melompat dari atas pundak Maoni dan Sisil lalu lari keruang ganti. Sementara semua suporter masih terus tertawa. Disini bukan hanya Miranda yang tertiban malu tapi juga dirasakan Tyas dan yang lainnya. Melihat histerisnya Miranda, Tyas dan yang lain ikut lari keluar lapangan menuju ruang ganti. Sekali lagi suporter yang didalam belum berhenti tertawa.

***

Tepat pukul satu siang anak baru yang dibangga-banggakan pak yudhis datang. Ia memasuki gerbang sekolah dam memarkirkan motor racingnya disamping motor yang berwujud sama berwarna orange. Dengan tubuh berbadan tegap dirinya berjalan menuju aula.

Diaula anak-anak yang baru selesai istirahat sharing sejenak kepada pelatihnya untuk persiapan turnamen.

Tok-tok! Pintu aula diketuk olah anak baru itu.

“Ya, masuk saja!” Seru pak Yudhis yang sudah tau siapa yang mengetuk pintu.

Pintu aulapun perlahan dibuka olehnya hingga semua orang yang ada didalam aula bisa melihat siapa yang datang.

Setelah semua anggota badannya terlihat, orang-orang yang ada di aula pun terkejut diikuti juga dengan raut wajah Adya yang tadinya sumringah menjadi kabut.

Anak itupun berjalan menuju tempat pak Yudhis duduk dan menyapanya, “Maaf ya Pak saya baru datang!”

“Oh tidak apa-apa, kita juga baru selesai istirahat,” tanggap pak Yudhis. Beliau langsung berdiri untuk memperkenalkan anak itu. “Nah ini anak baru yang sudah jadi master.”

(Siapa ya anak barunya itu…nanti kita lanjutin^__^)

** To Be Continue

Famodya :

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5

Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10

Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15

Part 16 (END)

 
Leave a comment

Posted by on August 19, 2011 in Cerita, Famodya

 

Tags: , , , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: