RSS

FAMODYA (Part 5)

19 Aug

Anak itu ikut berdiri dan berkata, “Ah Bapak bisa aja.”

“Oh…, Lefard,” Tutur Tarina setelah tau siapa jatidiri anak baru itu.

Semua orang yang ada didalam aula menyambut bergabungnya Lefard dengan organisasi mereka kecuali Adya. Dirinya menatap Lefard dengan paras kebencian. Ini yang dibilang jago taekwondo, ini yang dibilang lebih tinggi tikat sabuknya sama kayak gue? Gue bakal buktiin, cuma gue yang paling jago diantara yang lain disini karena Cuma gue yang tingkat sabuk paling tinggi, bukan leher kuya kayak dia. Adya bergumam dengan penuh ambisi.

“OK, kamu ganti baju latihan dulu, kami tunggu disini!” Seru pak Yudhis. Setalah memberi seruan kepada Lefard beliau pun menyerukan anak-anak yang lain untuk kembali siap latihan. Dan yang paling penting sekarang waktunya Adya memperlihatkan kemampuannya melawan Lefard.

Setelah Lefard memakai seragam taekwondo, latihanpun dimulai. Adya dan Lefard menuju tengah matras untuk bertarung.

Sebenernya gue nggak mau basa-basi kayak gini, gue penasaran deh kemampuan dia kayak gimana, Adya bergumam sambil terus menatap Lefard sadis.

Sementara Lefard menatap Adya dengan penuh ambisi bahwa dirinyalah yang terhebat dan mencibirkan bibirnya untuk meledek Adya.

Setelah sabem memberi aba-aba mualilah mereka memperlihatkan kemampua mereka. Disini Adya tidak hanya terpaku untuk latihan, tapi dia mengeluarkan semua jurus yang dia kuasai untuk menjatuhkan Lefard dimata semua teman-temannya, sabem dan pak yudhis yang selalu mengistimewakan lefard dihadapan semua murid-murid dan guru-guru disekolahnya. Selama masa pertempuran berlangsung rata-rata Adya yang selalu menyerang Lefard.

Lefard selalu menerima serangan Adya dengan baik tanpa dirinya kewalahan dengan serangan Adya yang terkenal cepat dan mencari titik lemah lawan. Adya, lo hebat juga ya pasteslah kalo lo dinobatin master disini. Gumam Lefard memuji dibalik keseriusannya melawan Adya.

Hebat juga lo leher kuya, lo bisa lawan serangan gue, liat aja gue bakal serang lo terus sampe lo kewalahan buat terima dan lawan serangan dari gue. Adya pun juga ikut bergumam dalam hati mengagumi kecekatan Lefard yang sering dijulukinya leher kuya.

Keduanya sama-sama hebat sehingga pertempuran yang sudah melewati lima menit ini keduanya masih tegak berdiri dan saling memberi serangan. Pesona kekaguman terpancar dari wajah teman-teman Adya dan Lefard yang lain yang sedang melihat mereka bertempur dipinggir matras. Sabem dan pak yudhis pun ikut terkesima dengan penampilan mereka.

“Ko, padahal ini cuma latihan tapi mereka mempersembahkan yang terbaik buat kita. Bapak jadi semakin yakin kalo mereka bisa memenangkan turnamen kali ini,” tutur pak Yudhis kepada Cicko, sabem organisasi taekwondo.

“Anak didik Bapak yang baru benar-benar hebat, biasanya serangan Adya tidak ada yang bisa menerima dan pasti jatuh tapi dia tidak bukan hanya menerima tetapi juga bisa melawan. Saya juga optimis kemenangan akan menjadi milik sekolah kita Pak,” sabem Cicko pun ikut kagum.

Lewat sepuluh menit keduanya masih bersemangat untuk saling serang tanpa ada seorangpun yang terjatuh atau dijatuhkan. Adya merasa gemas dan kesal mengapa lawannya ini tidak rapuh dan tetap bertahan untuk bisa menerima dan melawan serangannya, akhirnya dia tancap serangan dengan cara menyerang kekuatan dan keseimbangan kaki sehingga bila serangan itu menyentuh betis lawan, lawan tersebut akan jatuh. Ternyata benar, keseimbangan Lefard tidak bisa dikendalikan dan akhirnya ia tergelincir lalu jatuh. Namun sesaat sebelum akhirnya Lefard jatuh dirinya juga menyiapkan serangan kebagian pergelangan tangan Adya, tetapi karena serangan terlebih dahulu diambil Adya maka serangan Lefard tidak diteruskan karena dirinya tergelincir. Saat Lefard tergelincir tangannya sudah menggenggam tangan Adya yang tadinya untuk menyerang Adya sehingga Adya pun ikut terbawa jatuh. Lefard terbanting kematras diikuti tubuh Adya karena tangannya terbawa tangan Lefard dan mereka jatuh bersamaan dimana posisi Lefard dibawah dan Adya diatas. Dengan sangat cepat mereka terjatuh sehingga Adya tidak bisa menghindar dan akhirnya menabrak tubuh Lefard dari atas dan opps tidak! bukan hanya tubuh Adya yang menindihi tubuh Lefard tapi tanpa scenario bibir Adya pun menindihi tepat diatas bibir Lefard.

Kedua pasang mata itu terbelalak tentang apa yang terjadi saat ini. Keduanya diam seolah tersihir oleh mantra, keduanya masih pada posisi seperti itu dengan saling tatap dan keduanya tidak langsung bergegas berdiri. Kejadian yang tidak pernah dibayangkan dibenak mereka berdua.

Adya tersadar terlebih dahulu dengan situasi yang dihadapinya sekarang ini dan langsung bangun dari atas tubuh Lefard dengan wajah penuh geram serta malu. Tanpa berkata satupun dirinya lari kekamar mandi putri sambil membawa raut wajah kekesalan. Sambil berlari dirinya sesekali menyapu bibirnya itu dengan tangannya, bergerutu serta memaki-maki Lefard. “Brengsek!!!” Tutur Adya nyaring sambil meninju pintu kamar mandi. “Apa sih maunya orang itu? Dia selalu bikin gue kesel dan sekarang dia bikin gue malu dihadapan semua temen-temen gue,” Adya masih terus bergerutu didepan cermin sambil megusap-usapkan tangan kebibirnya. Ia kepalkan tangan kanannya kuat-kuat kehadapan cermin, “Ughh… Awas lo leher kuya, gue ngggak bakalan diem aja lo perlakuin gue kaya gini.”

“Ad, lo nggak apa-apa?” Tanya Tarina yang ikut menghampirinya kekamar mandi.

“Ng… Nggak. Gue nggak apa-apa.”

“Kita semua tau kok kalo kejadian tadi pasti nggak sengaja.”

Adya tidak menghiraukan perkataan Tarina dan langsung meninggalkanya. Dirinya berjalan menuju aula kembali dengan wajah yang geram. Sesampainya diaula, dirinya mendekat dan berdiri dihadapan Lefard. Plok. Tanpa banyak basa-basi dan mengulur-ngulur waktu tonjokan keras terlempar kepipi Lefard hingga Lefard terjatuh dan seketika mulutnya berdarah. “Puas lo udah mempermalukan gue dengan cara kayak gini?” tanyanya sadis lalu membawa ranselnya dan pergi menginggalkan aula tanpa pamit dengan yang lain.

***

Kenapa kejadian tadi nggak bisa gue lupain ya? Diatas tempat tidur Lefard melamunkan incident tadi siang disekolah. Sambil merebahkan tubuhnya yang lelah akibat latihan tadi siang dirinya melamun dan kadang-kadang senyum sendiri.

Justru berlawanan dikamar Adya. Ia tidak henti-hentinya memaki Lefard dan terus bergerutu.

***

Pagi ini adalah hari senin dimana biasanya sekolah TP melaksanakan upacara bendera. Tidak seperti minggu-minggu yang lalu pagi ini Adya sampai disekolah tepat waktu. Memang sih nggak telat tapi datang tepat saat upacara akan segera dimulai sehingga ia harus cepat berlari menaruh tasnya dikelas dan kemudian ikut berbaris sesuai dengan kelas. Karena dia orang yang terakhir berbaris otomatis dia baris diurutan belakang. Biasanya Adya yang bocor ketika bertemu dengan teman-temannya untuk hari ini dia lebih memilih sedikit bicara dan mengikuti upacara dengan hikmat.

Upacara berlangsung dengan baik hingga selesai. Sebelum upacara diakhiri protokol upacara memberi pengumuman untuk tidak bubar karena akan ada acara penyerahan hadiah berupa piala, piagam dan amplop bagi para atlet yang kemarin ikut kompetisi.

“Sayang banget ya tim ceersnya kalah,” kata seorang siswa yang ada disamping Adya berdiri.

“Ia, padahal kan perfomancenya bagus. Gara-gara Miranda sih,” tanggap siswa yang satunya lagi.

“Tapi biarpun begitu kita dapet rejeki juga. Ngeliat bodynya Miranda yang beh…. seksi banget dan mulus lagi.”

Mendengar percakapan teman-temannya itu Adya mengerutkan dahi sambil bergumam dalam hati, Tyas nggak menang? Gara-gara Miranda? Body? Ada apa ya sampe tin ceers nggak menang.

Didepan barisan semua atlet berjajar. Mulai dari yang purti sampai yang putra. Masing-masing berdiri untuk melakukan serah terima piala dan piagam juga amplop. Setelah upacara bendera dan pembagian penghargaan selesai, murid-murid kembali kekelas dan memulai pelajaran.

“Ke, kantin nggak?” Tanya Adya dari tempat duduknya.

“Gue nanti aja deh sama Lefard,” jawab Keira singkat sambil membereskan buku yang masih terbuka dimejanya.

Adya mengerutkan alis tanda tidak mengerti. Bisa-bisanya si Keira nyebut si leher kuya didepan Bagas.

“Gas!” Seru Adya sambil memberi kode supaya bagas ikut dengannya kekantin.

Bagas pun bangun dan bergegas menyusul Adya dan mereka akhirnya meninggalkan kelas yang hanya tinggal Keira dan Lefard.

“Keira udah keterlaluan Gas, dia udah nggak hargain lo,” tutur Adya antusias sambil berjalan kekantin.

“Wajar lah.”

“Wajar kenapa?”

“Emang lo belom tau Ad?”

“Tau apa?”

“Keira sama Lefard!”

“Ya terus kenapa?” Tanya Adya makin penasaran.

“Mereka itu udah jadian!”

Adya menghentikan langkahnya, “What? Jadian? Lo?”

“Gantung,” Jawab Bagas datar sambil terus berjalan.

“Lo digantungin? Terus lo mau aja?” Tanya Adya sambil menyamakan langkahnya dengan Bagas.

“Mau digimanain? Gue cinta banget sama Keira. Gue nggak bisa kalo harus kehilangan dia jadi gue nggak mau diputusin.”

“Tapi dia udah ninggalin lo kok lo mau sih diginiin? Hey Bagas cewek nggak cuma Keira lo jangan mau diinjek-injek gini!”

“Terus gue sama siapa? Sama lo? Sama Tyas? Nggak kan? Gue sayang sama Keira! Udah lah Ad, gue pusing, gue mau sendiri sorry kita nggak bisa bareng kekantin.” Bagas pun meninggalkan Adya.

Adya yang mendengar perkataan Bagas tercengang dan tidak bisa bicara apa-apa. Ia kagum sekaligus benci dengan sikap Bagas namun ia tidak terlalu memikirkan dan dengan cepat langkahnya menjurus kekantin.

Sebelum sampai kantin, Keira memanggil dari kejauhan sambil berlari-lari, “Ad… Adya! Tunggu gue juga mau kekantin!!!”

Adya yang mendengar seruan itu akhirnya memberhentikan langkahnya untuk menunggu kawan karibnya itu.

Sambil terengah-engah Keira berkata, “Lo jalannya lelet amat sih perasaan udah keluar daritadi tapi sampe sekarang belom nyampe kantin.”

Adya hanya diam.

“Eh lo kenapa diem gitu? Ad, lo mau makan apa nanti?”

Adya masih bingkam.

“Lo kenapa sih?? Ad, kita makan gado-gado aja ya? Bosen tau kalo tiap hari makan bakso bang Obri melulu!”

Adya memberhentikan langkahnya dan berdiri dihadapan tubh Keira. “Ke, gue nggak nyangka lo sejahat itu!”

“Jahat? Maksud lo?”

“Lo campakin Bagas, lo nyakitin dia dan lo hianatin dia!”

“Lalu???” Keira berjalan memutari tubuh Adya yang tegak berdiri. “Dia ngadu sama lo? Cengeng banget sih tuh cowok!”

“Lo nggak ada perasaan ya, emangnya salah dia apa sampe lo memperlakukan dia kayak gitu?” Tanya Adya dengan nada meninggi.

“Yaudah lah Ad. Yang penting sekarang gue udah putus.”

“Lo anggap gitu tapi Bagas nggak! Dia masih anggap lo sebagai ceweknya!”

“Ad, lo ngertiin gue ya, gue udah jenuh dan emang gue udah nggak sayang sama dia terus kenapa harus dipertahanin?” tanggap Keira sambil merengkuh kedua pundak Adya. “Let it flow aja lah, palingan dia sedih sekitar 1 atau 2 minggu abis itu dia bisa ketawa lagi,ceria lagi tanpa punya status sama gue!” Tutur Keira santai.

“Ya nggak bisa gitu dong, dia tuh cinta mati sama lo!”

“Hari gini ngomongin cinta! Having fun dulu love for life masih jauh! Nanti kalo lo udah sarjana, udah kerja, punya mobil dan punya rumah sendiri baru deh lo ngomongin cinta! Kalo sekarang sih jangan muna deh pacaran atas nama cinta!”

“Terserah deh, yang penting gue kecewa sama lo.”

“Duh Ad gue jadi GR nih diperhatiin lo,” Keira meringis. “Eh sekali-kali si Tyas kek yang diomongin, emang lo nggak penasaran kenapa ceers kalah?”

Wajah Adya yang manyun aja dari tadi akhirnya tergugah untuk mendengar cerita dari Keira, “Eh iya kenapa sih mereka bisa kalah?”

Keira menjawab pertanyaan Adya dengan tawa yang kencang.

Adya mendorong pundak Keira pelan, “Ye…, ini anak malah ketawa. Cerita dong!”

Keira masih tertawa, tertawa dengan sangat lapang dan belum berhenti. “Aduh Ad gue kalo inget-inget kemaren rasanya ketawa gue nggak bisa berenti,” tuturnya sambil memegang perut yang semalaman kram karena puas menertawakan Miranda.

“Ya emang kenapa?”

“Lo tau kan si miss sok perfect Miranda?”

“Ho-oh.”

“Dia kemarem buat atraksi lucu… banget.”

“Apa?”

“Pamer body!”

“Maksudnya?”

Lagi-lagi Keira tertawa.

Adya mulai kesal dan mengeluarkan wajah kusutnya lagi.

“OK…OK gue ceritain. Jadi waktu ceers TP tampil emang seru tapi pas diakhir-akhirnya si Miranda tuh malah pamer body. Masa rok dia melorot.”

“Melorot? Aksi pornografi dong! Dia sengaja ngelakuin itu?”

Belum diteruskan cerita Keira, cewek yang dipanggil miss sok perfect itu tiba dikantin dengan segerombolan gengnya.

Keira merapatkan duduknya kedekat Adya. “Ad, tuh orang yang kita ceritain dateng.”

Segerombol cewek itu menduduki satu stan makanan didekat kantin untuk makan. Sambil menunggu makanan datang satu-satu dari mereka tidak beranjak untuk bersolek dan memperbaiki penampilan mereka didepan anak-anak.

“Cantik sih. Eh tapi cantik nggak ya? Kayaknya nggak deh soalnya malu-maluin sih,”  ledek Keira dengan suara lantang dari tempat duduknya.

Otomatis cewek-cewek itu menengok kearah Keira duduk dengan tatapan sirik.

“Aduh… gue dipolototin. Ih… serem…,” Keira kembali meledek.

“Sstt, jangan cari gara-gara kek lo Ke!” bisik Adya.

“Biarin,” jawab Keira santai. “Seksi bo…, mulus bo…, ih… malu bo…” Keira kembali meledek mereka dengan suara lantang hingga mereka merasa terpancing dan marah-marah dengannya.

“Tuh orang dari kemaren puas banget sih ngeledek lo Mir, ini sih nggak bisa dibiarin soalnya anak-anak yang kemaren nggak pergi ke GOR bisa tau dari teriakannya si banci ganjen itu Mir!” Tutur Sisil diikuti dengan angukan cewek-cewek yang lain didekatnnya.

“Kita pergi aja dari sini!” Seru Miranda cuek.

“Pergi? Itu tandanya lo dianggap looser tau!”

“Kalo kita ladenin dan labrak mereka malah tambah fatal terus anak-anak yang laen pasti bakal alihin perhatiannya kekita!”

“Nggak, gue bakal labrak dua banci itu!” seru Naomi sambil menggebrak meja dan langsung berdiri.

Melihat aksi Naomi, Sisil dan Inka ikut berdiri dan menuju ketempat Adya dan Keira.

“Sstt, mereka kesini tuh,” senggol Adya kepinggul Keira.

“Heh lo ngapain sih teriak-teriak nggak jelas dikantin?” Naomi menggebrak meja Keira dan adya.

“Biarin aja, mulut-mulut gue, terserah dong!” Jawab Keira santai.

“Dasar banci ganjen nggak ada kerjaan banget sih lo!”

“Apa lo bilang tadi? Banci ganjen?” Keira langsung berdiri dari duduknya. “Heh lo sadar diri dong! Gue apa geng lo yang ganjen? Masa cuma buat cari perhatian penonton dan juri aja ketua lo pake nurunin rok ditengah lapangan sih!” seru Keira dengan suara keras hingga semua anak-anak yang ada dikantin mendengar omongannya.

Naomi tidak membalas perkataanya namun matanya melototi Keira.

“Nggak usah melototin gue kayak gitu, jatoh tuh bola mata lo! Mau mata lo gue tribel kaya bola basket hah???”

Miranda bangun dari duduknya dan menarik tangan Naomi, Sisil dan Inka untuk pergi dari kantin. “Cabut yuk!”

Mereka semua akhirnya pergi dari area kantin dengan perhatian pasang mata kearah Miranda.

***

Adya sampai kerumahnya tanpa kendaraan karena motor andalannya rusak dan harus menginap dibengkel sementara mobil jeep berwarna hijau milik Abay jarang sekali melintas kesekolahnya untuk mengantar atau menjemputnya. Pandangan aneh tertuju didepan rumahnya. Ada mobil BMW parkir didalam rumahnya. Tanpa harus menebak lama mobil siapa itu, Adya sudah mengetahui jawabanya. Ia pun tidak memberhentikan langkahnya dan tetap melaju memasuki rumahnya.

“Eh… putri Bunda udah pulang,” tutur seorang ibu yang cantik dan jelita kepada Adya setelah melihat Adya membuka pintu masuk rumah. “Apa kabar sayang?” Ibu itu langsung menghampiri Adya dengan sejuta kasih. Tangannya menyambut tangan Adya dan tubuhnya mendekat ketubuh Adya untuk memeluk dan menyium pipinya.

Adya merespon dingin sambutan itu dengan tanpa membalas pelukan itu. “Adya capek banget mau tidur nih,” tuturnya yang lekas meninggalkan suasana kerinduan itu.

Ibu cantik itu menanggapi dengan raut kegundahan.

Abay mendekat ibu itu dan merangkulnya. “Sabar ya Bun! Adya kalo capek emang kayak gitu.

Ibu yang dipanggil bunda itu memang adalah bunda Adya dan Abay. Bundanya ini memang jarang dirumah karena bekerja diluar negeri dan jarang sekali pulang keJakarta.

“Aw… Duh, bego banget sih lo! Jalanan lebar juga ngapain lo nabrak gue? Nggak tau ya gue capek abis jalan kaki dari sekolahan sampe rumah,” bentak Adya saat dirinya hampir jatuh karena tertabrak oleh seorang gadis kecil, Evelyn.

“Ma…ma…” jawab Evelyn gugup.

“Ma-ma…ma-ma… mati aja lo sekalian,” Adya mengretak keras sehingga membuat orang seisi rumah tercengang dengan ucapannya.

“Adya!!!” bentak bunda kepada Adya. Beliau langsung melepas rangkulan Abay dan mendekati Adya. “Apa-apaan kamu bicara seperti itu!”

“Kenapa? Emang salah ya kalo Adya ngomong gitu? Emang siapa dia?”

“Dia itu kan adik kamu sendiri!”

“Sejak kapan? Adya nggak akan pernah anggap dia sebagai adik Adya keran dia buk…”

PLAK, tamparan keras mendarat kepipi Adya.

“Oh… Bunda sekarang udah mulai main fisik sama Adya. Bunda emang nggak pernah sayang ya sama Adya, Bunda cuma sayang sama anak pu…”

Telapak tangan kembali siap untuk menampar Adya.

“Apa? Mau tampar lagi? Tampar Bunda! Tampar!” Adya menantang. “Bunda emang nggak pernah sayang sama Adya.” Lalu dirinya melengos pergi menuju kamar sambil menangis dan mengelus pipinya.

Bu Revytha pun tertegun sambil belum menurunkan tangan kanannya yang tadi berencana untuk menampar Adya. Sementara Evelyn diajak bi Nana keluar dari situasi itu.

Abay naik tangga mengejar Adya namun dia tidak sempat menggapai pintu karena pintu kamar Adya sudah keburu dikunci Adya. “Ad, seharusnya lo nggak ngomonng kayak gitu! Bunda baru dateng, bunda masih cape. Lagian kan bunda kangen sama lo tapi kenapa lo bales kayak gitu sih?” Tutur Abay dari balik pintu kamar Adya. “Ad, Bunda jadi sedih. Lo harus bersikap dewasa! Emangnya lo nggak sayang sama bunda?” Abay coba menenangkan kembali dari balik pintu.

“Lo nggak usah komentarin gue kayak gitu! Gue nggak peduli, bunda emang udah nggak sayang sama gue. Bunda Cuma sayang sama anak pungut bawa sial itu dibanding gue anak dia sendiri,” tegas Adya teriak dari dalam kamarnya.

“Ad…”

“Udah deh lo pergi jangan banyak ngomong didepan kamar gue, gue nggak butuh nasehat lo! Emang lo ustadz yang harus gue dengerin!” Adya memotong perkataan Abay.

“Tapi…”

DOG. Benda berat dilempar dari dala kamar Adya menuju pintu untuk menandakan dirinya sedang tidak mau diganggu dan berharap Abay pergi dari kamarnya.

Abay yang tau sikap keras Adya akhirnya meninggalkannya sendiri didalam kamar. Abay tau betapa sakitnya perasaan Adya saat bundanya menampar pipinya.

Malamnya saat makan malam hanya Adya yang tidak turun untuk makan.

“Bunda, Kak Adya nggak diajak makan bareng sama kita? Nanti Kak Adya laper lho!” tanya Evelyn dengan polos.

“Udah ya sayang jangan khawatirin Kakak kamu nggak ada gunanya toh dia nggak pernah sayang sama kamu. Kamu lanjutin aja makan kamu, dihabiskan ya sayang!” Bu Revytha menjawab pertanyaan putrinya dengan halus.

“Kok begitu sih Bunda, Kak Adya sayang kok sama Velyn. Bunda, Kak Adya dianterin makanan sama Bi Nana aja ya?”

Bu Revytha hanya diam dan kagum atas kebesarah hati putrinya itu.

“Bi Nana!”

“Iya nona kecil!”

“Bi, siapin makanan buat Kak Adya habis itu dianterin kekamar Kak Adya. Kak Adya pasti laper.”

“OK deh non siap bibi laksanain.”

“Makasih ya Bi!”

Abay, pak Andhika dan Bu revytha tertegun memandang gadis kecil yang baik hati itu.

“Lho, semuanya pada kenapa kok ngeliatin velyn kayak gitu sih.”

“Kamu anak baik sayang. Hati kamu seperti bidadari, nggak sepantasnya Kak Adya membenci kamu,” jawab santun Bu Revytha.

“Velyn kan tadi udah bilang sama Bunda, Kak Adya sebenernya nggak benci kok sama Velyn tapi Kak Adya cuma capek aja terus Velyn tabrak deh makanya Kak Adya marah-marah sama Velyn,” jawab Evelyn polos.

Bu Revytha terharu sambil mengelus-ulus dahi gadis kecil itu.

Bi Nana menaiki anak tangga menuju kamar Adya untuk mengantarkan makan malam. Sesampainya didepan pintu kamar Adya bi Nana mengetuk pintu namun setelah diketuk beberapa kali, Adya tidak membukanya panggilan bi Nana pun tidak dijawab oleh Adya.

Bi Nana bisa membaca hati majikannya itu bila sedang ngambek, biasanya makanan yang diantar kekamarnya dibiarkan diletakkan dibawah pintu saja setelah dirinya turun barulah Adya membuka pintu kamarnya dan mengambil makanan itu lalu disantap didalam kamar

***

Kicauan burung-burung kecil disekitar taman sekolah menemani lamunan Adya. Pagi ini ia berangkat sangat awal, beda dari hari-hari sebelumnya yang biasanya dia sering terlambat. Tepat jam enam pagi Adya sudah memarkirkan motornya dan duduk sendiri ditengah taman sekolah. Dengan wajah yang kusut dan mata yang sebam Adya menyandarkan kepalanya dipohon. Sesekali lamunannya dihujani tangis yang reflek jatuh dari kelopak matanya.

Hingga jarum jam besar didepan kantor guru berarahkan pukul enam lebih tigapuluh menit Adya masih belum beranjak dari lamunannya dan tempat yang ia duduki.

Sekolah mulai didatangi siswa termasuk Lefard, setelah dirinya memarkirkan motornya ia berjalan menuju kelas dan otomatis melewati taman. Langkahnya diperlambat setelah dirinya melihat Adya melamun dibawah  pohon yang rindang itu. “Itu si Adya kan? Ngapain dia disana? Tumben banget jam segini dia udah dateng,” gumamnya keheranan sambil mereka-reka. Lefard diam-diam mendekati taman supaya bisa melihat wajah Adya dengan jelas dan bisa membaca hatinya pagi ini. Dipohon kecil Lefard mengintip Adya. Mukanya kusut banget udah gitu matanya bengkak lagi kaya orang abis nangis semaleman aja. Kenapa ya sama dia? hati Lefard bertanya-tanya. Lefard masih memandangi Adya dari balik pohon kecil itu dengan penuh penasaran, heran dan iba. Seorang Adya bisa nangis? Apa yang buat dia sampe sesedih itu? Apa ulah cowoknya yang bajingan itu? Apa Adya tau kalo cowoknya itu selingkuh sama cewek lain? Gumannya lagi dalam hati.

Sebelum bel masuk berbunyi Adya sudah lebih dulu mengakhiri rasa sedihnya. Ia mencoba merapikan rambut dan mengusap-usap pipinya yang sempat basah dilinangi air mata beberapa menit yang lalu. Setelah semuanya rapi dirinya berdiri dan berjalan memasuki kelas tanpa mengetahui bahwa selama ia duduk dibawah pohon itu ada seseorang yang sedang memerhatikannya dan bertanya-tanya ada apa dengannya. Mengetahui Adya sudah memasuki kelas, Lefard pun beranjak memasuki kelas.

“Ad mulai sekarang gue ya yang duduk disini?” tanya Keira dengan ceria sebelum dirinya tahu bahwa temannya sedang murung. “Ad?” Keira menatap tajam-tajam wajah Adya. “Lo kenapa? Muka lo kusut banget sih?” Keira bangun dari duduknya dan mendekati Adya. “Lo keberatan gue duduk disini? Maksud gue kan baik Ad, lo kan nggak nyaman duduk sama Lefard makanya biar gue aja yang duduk sama Lefard dan lo duduk sama Bagas. Tapi kalo lo keberatan gue nggak bakal maksa deh.”

“Nggak kok, gue nggak keberatan,” jawab Adya singkat dan pelan.

“Terus lo kenapa dong? Lo sakit ya?”

Adya tidak menjawab pertanyaan Keira, dirinya menaru tasnya diatas meja. “Ke, sorry ya  bukannya gue nggak ngebolehin lo buat duduk disini tapi mendingan cowok lo aja yang lo bawa ketempat duduk lo dan Bagas duduk sama gue!”

“Ya…ya…yaudah kalo gitu,” jawab Keira. “Tapi lo cerita dulu dong Ad lo sebenarnya kenapa?”

“Gue nggak apa-apa kok Ke.”

“Nggak apa-apa gimana? Lo nggak biasanya kayak gini!”

“Ya emang nggak biasanya, tapi emang gue nggak boleh begini…”

“Oh jadi gini cara lo? Lo punya masalah mau sembunyi sama gue dan nggak mau cerita?” Keira memotong perkataan Adya.

Belum juga Adya menjawab pertanyaan Keira bel masuk sekolah berbunyi. “Udah bel tuh! Sebentar lagi guru masuk mendingan lo suruh Bagas pindah duduk deket gue!”

Keira melengos dengan wajah kesal. “Lo duduk depan sama Adya!” suruhnya kepada Bagas.

Bagas pun beranjak dari tempatnya untuk ketempat Adya. “Gue duduk disini ya Ad?” tanyanya setelah sampai ditempat Adya.

Adya menjawab dengan anggukan.

“Lefard mana sih daritadi belom dateng-dateng juga,” gerutu Keira yang kini sedang duduk sendiri menunggu kekasihnya datang dan duduk disampingnya.

Belum ada semenit Keira bergerutu Lefard datang dan memberhentikan langkahnya didepan Adya. “Lo duduk sama dia?” Tanyanya kepada Adya.

“Hmm,” jawab Adya singkat.

Mendengar jawaban Adya, Lefard menengokkan lehernya kearah Keira lalu tubuhnya berputar sembilan puluh derajat dan berjalan menuju tempat duduknya. “Hai Ke!” seru Lefard setelah sampai dan duduk disamping Keira.

“Hai! Darimana aja sih lo?” Tanya Keira sedikit kesal.

Bagas memperhatikan mantan kekasihnya itu dari depan tempat duduknya. Perhatian itu sekarang milik Lefard, gumamnya dalam hati.

Lefard mendekati Keira, “Ke, Adya kenapa?”

Keira hanya menjawab dengan menaikkan bahunnya saja.

“Masa lo nggak tau? Lo kan temennya, emangnya lo tadi nggak tanya-tanya sama dia sebelum bel?” tanya Lefard semakin mendekati duduknya disamping Keira.

“Gue emang bener-bener nggak tau. Tadi gue emang kaget ngeliat tampang kusutnya Adya tapi pas gue tanya sama dia, dia nggak mau cerita yaudah jadinya gue sendiri yang kesel sama dia,” bisik Keira.

“Ke, apa Adya udah tau kalo cowoknya ternyata selingkuh?”

“Mungkin.”

“Gas!” Adya melacak kemana tatapan Bagas tertuju. Adya menepuk pundak Bagas yang daritadi memerhatikan mantan kekasihnya itu ngobrol bersama Lefard dengan radius yang berdekatan.

“Oh, udah nggak usah terlalu dipikirin!”

Bagas tidak menjawab tapi dirinya menuruti kata Adya untuk tidak terlalu memikirkan Keira, ia pun memalingkan pandangannya kedepan dan berhenti memperhatikan Keira.

***

“Jadi Adya tadi nggak cerita sama lo Ke?” tanya Lefard kepada keira ketika mereka makan disebuah food court.

“Tadinya gue mau tanya lagi waktu jam istirahat tapi pas gue deketin dia eh dia malah tidur pules banget dimejanya jadi gue nggak tega buat bangunin dia,” jawab Keira setelah menyeruput soft drink.

“Apa bener ya feeling gue kalo dia udah tau tentang kebusukan cowoknya?”

“Gue belum tau pasti. Terus entar malem lo mau beraksi lagi?”

“Pasti. Ngeliat Adya kayak gitu gue semakin penasaran.”

“Oh.” Keira menjawab lesu. Terpancar rasa cemburu yang begitu besar mendengar kata-kata Lefard barusan.

“Lo cari tau dong Ke!”

“Iya.”

“Jangan iya-iya aja. Lo nanti telpon dia aja!”

“Iya.”

“Kenapa sih lo?”

“Nggak.”

“Lama ya orderannya dateng. Bentar deh gue panggil pelayannya lagi biar nggak lama anterin makanannya.” Lefard pun memanggil pelayan untuk minta supaya makanan yang dirinya dan Keira pesan cepat disajikan.

Bukan karena itu gue begini, gue lemes aja ngeliat perhatian yang lo kasih buat Adya, padahal gue ini cewek lo seharusnya sekarang gue yang diperhatiin bukan Adya. Guman Keira dalam hati.

***

Suasana rumah sangat dingin bagi Adya setelah kemarin ada pertengkaran heboh antara ibu dan anak. Adya memasuki rumah tanpa salam dan langsung melengos cepat menuju kamarnya.

“Non makan dulu, bibi udah siapin makanan kesukaan non!” tegur bi Nana saat Adya menaiki anak tangga.

“Anterin aja kekamar!”

“Iya Non.”

Adya memasuki kamar dan langsung melempar tasnya dan merebahkan tubuhnya dikasur. Dirinya menerawang langit-langit kamar sambil tudiran yang akhirnya malah tertidur beneran sampai lupa kalau dimeja kamarnya telah disiapkan makan siang.

“Bi, Adya dimana?” Tanya bu Revytha setelah dirinya pergi datang datang setelah waktu magrib.

“Ada dikamar Nya.”

“Pulang jam berapa? Sudah makan?”

“Pulang jam empat Nya. Tadi pas Bibi tawarin makan, Non Adya nyuruh bibi anterin makanannya kekamar.”

“Coba tengok Bi sekarang dia sedang apa!”

“Iya Nya.” Bi Nana langsung melaksanakan tugasnya untuk menengok Adya. Diketuknya pintu kamar Adya. “Non… Non Adya!” Panggilan itu diulangi beberapa kali. “Lho kok nggak jawab-jawab sih?” dengan spontan bi Nana mencoba membuka pintu kamar Adya yang ternyata tidak terkunci. “Yaampun non Adya tidur tho,” tutur bi Nana Lirih. Dirinya kembali menutup pintu kamar Adya dan turun kelantai bawah. “Nya, non Adya sedang tidur,” lapornya kepada Bu Revytha yang saat itu ada diruang keluarga.

“Tidur??? Ini sudah malam tapi Adya masih tidur? Bangunkan saja Bi, suruh dia mandi atau ganti baju!”

“Baik Nya.” Bi Nana pun menuju lantai atas untuk membangunkan Adya. Dibukanya pintu kamar Adya dan mendekati Adya untuk membangunkannya. “Non, Non Adya!” Sapanya pelan. “Non bangun! Ini udah jam tujuh malam, Non belum makan kan mandi juga belum,” lanjut bi Nana.

Adya yang saat itu tidak terlalu pulas untuk tidur akhirnya cepat terbangun. “Iya Bi.” Dengan mata yang masih terpejam dan setengah sadar Adya menjawab.

“Non nggak laper ya, makanan tadi sore belum Non makan!”

“Ya laper lah Bi. Yaudah Bibi ganti makanan yang baru ya habis itu Bibi anterin lagi makanannya kekamar! Adya mau mandi dulu.”

“Iya Non.”

Setelah bi Nana keluar dari kamar Adya, Adya pun beranjak dari tempat tidur untuk kekamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dari peluh dan debu yang seharian menemaninya hingga sampai kerumah. Setelah dirinya selesai mandi, dimeja kamarnya sudah tersiap menu makan malam untuk disantapnya. Tanpa banyak membuang waktu Adya langsung menyantapnya hingga habis.

***

“Ad, lo nggak ikut sarapan?” Tanya Abay setelah dirinya melihat Adya berjalan keluar rumah tanpa sarapan dan pamit dulu dengan orang rumah.

“Diluar aja,” jawab Adya singkat.

“Ada yang perlu diomongin.” Abay mencoba membuat Adya untuk bergabung.

“Apa?”

“Sayang, Bunda sama Ayah hari ini harus balik lagi ke Belanda.” Bu Revytha menyambar omongan Abay.

“Hati-hati ya!” Adya menjawab cuek.

Abay berdiri dari duduknya dan menghampiri Adya. “Ad, lo apa-apaan sih, nggak sopan tau!” Abay menasehati lirih.

“Berapa bulan lagi balik ke Jakarta?” Adya berkata sinis.

“Adya!!!” Abay menyikut perut Adya.

“Kenapa sih lo? Udah ah gue mau berangkat dulu.” Adya langsung melengos pergi sambil meneteskan air mata.

“Bun, sabar aja ya sama sikap Adya!” Abay menepuk pundak bu Revytha.

Bu Revytha hanya termenung sedih, matanya berkaca-kaca melihat putrinya begitu kesal padanya.

“Lo udah telpon Adya tadi malem?” Tanya Lefard saat dirinya mengendarai motornya dan memboncengi Keira.

Huh, pagi-pagi gini udah ngomongin Adya aja. Tanyain kabar gue kek! Gumam Keira kesal dalam hati. “Sorry ya Le semalem gue nggak sempet buat telpon Adya soalnya gue semalem ketiduran.”

“Yah Keira…,” tanggap Lefard kecewa.

“Gue kan udah minta maaf, jadi lo marah?”

“Ya nggak sih.”

“Semalem gimana?”

“Semalem? Mereka absen.” Jawab Lefard dan motorpun melaju kencang sampai sekolah.

Tepat diparkiran motor Adya dan motor Lefard tiba. Mereka sempat saling bertatapan lewat semunya kaca helm.

“Hai Ad!” Sapa Keira ditengah kesunyian mereka.

“Hai!” Adya membalas sambil membuka helmnya dan merapikan rambutnya yang agak berantakan setelah itu pergi meninggalkan parkiran.

“Sikapnya masih kayak gitu,” tutur Keira kepada Lefard.

Mereka berdua menyusul Adya untuk masuk kelas.

“Ad, lo emang nggak mau cerita ya?” Tanya Keira lirih ditempat duduk Adya.

“Nggak tau deh Ke.”

“Ad, gue ini temen lo dari kecil. Gue tau kalo lo lagi ada masalah atau nggak. Gue juga tau sekarang lo gini pasti punya masalah berat kan?” Tanya Keira berhati-hati. “Ad, mumpung belom bel masuk, nggak ada salahnya kan lo cerita sedikit tentang masalah lo ke gue!”

Adya menghelakan nafas dalam-dalam. “OK gue bakal cerita. Gue punya masalah dirumah.”

“Kenapa?”

“Kemaren lusa gue ribut sama nyokap.”

“Nyokap lo udah dateng dari Belanda?”

“Iya.”

“Bukannya lo seneng? Kok  lo malah ribut sih Ad? Emangnya lo nggak kangen?”

“Anak mana sih yang nggak kangen sama Ibunya kalo nggak ngeliat lama?” Adya menjawab dengan mata berkaca-kaca.

Keira lantas menyanding Adya dan menbiarkan Adya bercerita direngkuhan Keira. “Terus yang memacu lo sama nyokap lo ribut itu apa?”

Adya kini mulai menetesi air mata dan menceritakan kejadian kemarin lusa dari awal hingga tadi pagi saat dirinya mau berangkat kesekolah.

“Gue tau lo nggak suka sama Evelyn, gue tau lo kecewa sama nyokap lo tapi lo kan nggak harus ngomong kasar Ad!”

“Gue kemakan emosi aja Ke.”

“Ad biarpun lo nggak suka sama Evelyn tapi Evelyn ngga pernah ngebenci lo kan? Dia tetep sayang sama lo dan perhatiankan sama lo? Dia malah nggak punya rasa dendam sama lo, karena apa? Karena dia nggak tau cerita apa-apa dan dia nggak tau penyebab apa lo jadi nggak suka sama dia.”

“Tapi gue selalu kesel kalo liat dia. Apalagi kalo nyokap udah bela-belain dia.”

“Dia masih kecil Ad. Lo lain kali jangan kayak gitu lagi. Lo bakal nyesel udah memperlakukan nyokap dan adik lo sampe kayak gitu.”

“Nyesel gimana?”

“Kalo mereka ninggalin lo, maaf-maaf aja nih ya. Maksud gue kalo mereka menginggal dan lo masih nyimpen rasa kebencian lo kan bakal nyesel sendiri karena lo belom bisa tertawa bareng sama mereka. Mereka itu keluarga lo!”

“Iya gue tau. Tapi gue marah sendiri kalo nyokap selalu belain anak manja itu. Udah gitu gue punya bokap kayak nggak punya bokap aja. Dia selalu aja diem kalo dirumah ada masalah, bokap selalu aja tunduk sama nyokap, suami takut istri banget, yang hidup dibawah ketiak istrinya!” tanggap Adya dengan nada meninggi.

“Hush!!! Jangan gitu deh lo sama orang tua lo sendiri, dosa lo!”

Adya meringis malu. Keira pun ikut tertawa untuk menghibur Adya. Mereka bercanda ria hingga bel masuk berbunyi. Sesudah itu Keira menuju tempat duduknya dan Bagas yang daritadi duduk ditempat Keira pindah disamping Adya.

“Lo ngomong apa aja selama duduk sama si leher kuya itu?” Tanya Adya setelah Bagas duduk cantik ditempatnya.

“Ah…, nggak kok cuma ngobrol-ngobrol ringan aja.”

“Sama rival bisa juga duduk bareng, ngobrol bareng lagi,” Adya berkomentar.

“He..he..he.. Hal yang langka kan?”

“Yah…bisa dibilang gitu lah.” Dan mereka tertawa bersama-sama.

“Eh Ke, si Adya lo kasih obat apa bisa ketawa-ketiwi lagi?” Tanya Lefard setelah melihat Adya ceria kembali.

“Adddda ajjja!!!”

“Idih, lebay banget deh…”

Keira meringis senang.

***

“Adya…!!! Keira…!!!” Sapaan melengking datang kekelas XII IPA 1. “Hai!!! Duh gue kangen banget nih sama lo berdua.”

“Kangen sih kangen tapi volume suara lo bisa nggak dikecilin!” Keira mengkritik.

“Ye… ini orang selalu aja sirik sama gue. Gue baru masuk sekolah bukannya lo sambut malah diceramahin.”

“Lagian dateng-dateng udah teriak-teriak aja kayak yang lo panggil jaraknya berkilo-kilo meter dari lo.”

“Tuh kan diceramahin lagi. Ke, kapan sih lo bisa seneng kalo liat gue,” Tyas menjawab dengan nada kesal.

“Ih…, udah dong!” Adya mencoba meleraikan. “Ke, lo gimana sih? Si Tyas kan baru masuk, emangnya lo nggak kangen apa sama dia? Yas lo kenapa baru masuk sekolah?”

“Ah payah lo, temen deket lo sakit lo pada nggak jenguk.”

“Eh mana gue tau. Dikelas lo tuh lo ditulis alpha!”

“Hah… Alpha??? Nggak salah??? Gue kan udah titip surat dokter sama Miranda,” Tyas terkejut bukan kepalang.

“Yah, lagian lo nitip sama dia. Emang udah kehabisan orang sampe lo nitip surat sama dia?” Keira menyambar.

“Mana gue tau kalo dia nggak nyampein.”

“Yaudah lah nanti kalo lo dipanggil sama guru BP lo bawa aja si Miranda terus lo bilang deh kalo lo udah nitipin surat ke dia.” Adya mencoba meredakan suasana.

“Iya bener tuh Yas. Eh mending sekarang kita kekantin aja laper nih daritadi gue belom sarapan!” Seru Keira.

“Yaudah deh.” Tyas pun tidak memusingkan masalah yang dihadapinya sekarang. Dirinya kini senang karena bisa bertemu lagi dengan sahabat-sahabatnya.

Sepanjang perjalanan menuju kantin mereka bertiga asyik bercerita tentang kekalahan tim ceers yang berkesan memalukan itu. Dan tidak henti-hentinya mereka tertawa dan meniru sikap tim ceers yang malu setelah Miranda roknya melorot.

“Eh lo mau makan apa?” Tanya Keira setelah sampai dan duduk ditempat yang biasa mereka duduki.

“Eh Ke, lo kan menang kompetisi harusnya lo traktir kita dong!” Tyas coba berguyon.

“Idih apa-apaan lo baru masuk minta ditraktir?” Keira menjawab keberatan.

“Ad, lo belom ditraktir sama Keira?”

“Belom tuh.”

“Hm… dasar!!! Emang temen kita yang satu ini rada-rada pelit ya. Punya rejeki nggak mau dibagi-bagi.”

“Ye… yaudah-yaudah lo berdua gue traktir makan deh. Sekarang lo berdua pada mau pesen apa?”

“Kita sih terserah yang mau bayarin aja,” jawab Tyas.

“Bener nih terserah yang bayarin? Gue beliin permen satu-satu terima nggak?” Keira mencoba meledek.

“Ke, mending lo nggak usah traktir kalo cuma mau kasih permen!” Tyas mencibir. “Lo pesenin bakso bang Obri aja lah.”

“Ini orang udah minta dibayarin nyuruh gue yang pesenin lagi. Dasar manusia nggak tau diri.”

“Oh… nggak ikhlas nih jadinya Ke?”

“Aduh… lo berdua kalo ribut mulu kapan makannya? Yaudah gue aja yang pesen.” Adya sedikit geram dengan aksi mereka yang tiap kali bertemu ada saja hal yang harus diperdebatkan. Akhirnya dirinya saja yang memesan bakso tiga porsi.

Setelah mengantri masing-masing bakso yang dipesan dihidangkan. “Ke! Yas! Lo ambil sendiri-sendiri gih baksonya!” Seru Adya dari depan warung bang Obri.

Tyas dan Keira berdiri untuk mengambil mangkoknya yang sudah dipersiapkan oleh Adya. Tyas yang lebih dulu dapat meraih mangkok bakso, dirinya meringis sambil kembali ketempat duduknya.

Adya berjalan didepan Keira. Tiba-tiba kelompok geng kecentilan Miranda datang dan menyenggol bahu Adya sehingga mangkok bakso yang dibawanya menumpahi bajunya. “Auw…!” rintih Adya setelah kuah bakso yang masih panas itu menumpahi tubuhnya. Dirinya tidak menyempatkan untuk membersihkan bajunya tetapi langsung menarik rambut Miranda yang tergerai indah dengan kasar, “Apa-apaan sih lo? Nggak punya mata lo?” tanyanya penuh kemarahan.

“Auw…! Lo yang apa-apaan, ngapain lo jambak rambut gue sakit tau!” Miranda membela diri.

“Lo tuh nggak kapok-kapok sama tonjokan gue ya. Lo sengaja kan?”

Miranda menatap sinis tubuh Adya dari atas kebawah dan kembali keatas lagi. “Opps… sorry!” langsung melengos pergi dengan tampang puas.

Adya tidak tinggal diam dirinya kembali menarik bagian tubuh Miranda yaitu bagian lengannya emosinya kembali tidak terkontrol, dirinya spontan mengepalkan tangan untuk menonjok pipi Miranda. Namun saat tonjokkannya hampir mrndarat kepalan Adya dihalangi oleh Lefard.

“Nggak harus pake kekerasan terus!” Tegas Lefard setelah berhasil menghalangi tonjokan Adya kepipi Miranda.

“Ih! Apaan sih lo tau-tau dateng dan ikut campur urusan gue?” Adya menanggapi kesal.

Keira yang daritadi bengong melihat Adya dan Miranda ribut akhirnya ikut turun tangan.

“Lo ngapain sih Le ngalangin Adya buat kasih pelajaran ke cewek ganjen ini?” Tanya Keira yang ikut kesal dengan sikap kekasihnya itu.

 “Oh thanks banget ya honney! Kalo nggak ada lo pasti gue udah bonyok lagi deh dihajar banci gila ini.” Sikap Miranda sengaja manis didepan Lefard. “Oh ia Ke, lo ngapain ngebela orang yang nusuk lo dari belakang?”

Keira menatap sinis tanpa menghiraukan perkataan yang diucapkan Miranda barusan.

“Tau nggak Ke? Sahabat lo itu sebenernya musuh dalam selimut lo sendiri!” Miranda terus memanas manasi hati Keira.

“Eh Mir lo daritadi ngoceh terus, nggak capek tuh mulut. Lagian lo tuh ngomong apa sih?” Tegas Keira.

“Masa lo nggak paham sih….?” Tanggap Keira.

Adya yang saat itu masih berada ditengah-tangah mereka mendadak pucat. Dirinya takut bila Miranda menceritakan kejadian dihari minggu itu, ketika dirinya dan lefard latihan taekwondo dan kecelakaan.

Miranda melangkah mendekati Keira, “Beneran nggak tau? Kasian! Yaudah gue aja ya yang kasih tau. Gue kasian sama lo, lo dikhianatin sahabat lo sendiri.”

“Eh lo tuh emang nggak takut sama kepalan tangan gue ya!” Adya memotong pembicaraan Miranda agar Miranda menghentikan ucapannya.

“Gue nggak takut, soalnya disini ada pahlawan gue. Lefard.”

“Udah ah ngabisin waktu istirahat aja kita ngeladenin dia. Dia emang nggak ada kerjaan sama sekali selain dandan dan selalu sirik sama kita,” tukas Keira yang langsung menarik tangan kekasihnya dan tangan Adya. Belum jauh mereka meninggalkan kios bang obri, Miranda berteriak, “Lo nggak tau ya Ke? Waktu lo kompetisi Adya sama Lefard ciuman!”

Dek. Betapa terkejutnya hati Keira, kakinya yang sebelumnya melangkah menuju meja makan terhenti, tangan yang menggengngam tangan Adya dan Lefard spontan dilepasnya. Dirinya berbalik badan menghadap Miranda. “Apa maksud lo?”

“Ci…u…man… tanpa sepengetahuan lo!” dengan antusian Miranda mengulang perkataannya yang tadi.

Setelah mendengar secara jelas perkataan Miranda tiba-tiba langsung saja tangan Keira menampar pipi Adya. Begitu cepat tamparan itu mendarat dipipi Adya sehingga Lefard tidak bisa mennghalaunya. Didepan banyak murid kekesalan Keira memuncak. Setelah menampar puas pipi Adya, dirinya lari sambil menangis meninggalkan kantin.

Senyum Miranda dan lainnya melebar melihat kejadian itu.

Adya yang masih terlihat malu atas tamparan Keira mencoba mengejar sahabatnya itu. Lefard pun menyusul untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

“Ke tunggu! Lo salah paham. Lo nggak percaya sama omongan si cewek ganjen itu kan? Lo lebih percaya sama gua kan Ke? Makanya lo berenti dulu, gue bisa jelasin!” Adya berkata sambil mengejar Keira.

“Ke, gue bisa jelasin Ke. Lo nggak harus kayak gini!” Lefard pun ikut memohon.

Namun Keira berlari begitu cepat sehingga Adya tidak bisa menggapainya.

Lefard yang ikut berlari menyenggol Adya saat Adya berhenti mengejar Keira. “Sorry.

“Eh tunggu-tunggu,” Adya menarik kerah baju Lefard untuk berhenti. “Eh Leher kuya! Ini tuh semua gara-gara lo. Lo tuh emang biang kacau, brengsek. Lo selalu ikut campur urusan gue!” setelah puas mengomeli Lefard, Adya menginggalkannya yang masih tertegun dikoridor sekolah.

Lefard tertegun setelah Adya habis-habisan mengomelinya, dibenaknya terukir penyesalan atas kejadian minggu itu.

***

“Ke please dong lo angkat telpon gue!” Adya menyeru sendiri ketika dirinya menghubungi Keira lewat ponsel dan telepon rumah selalu direject oleh Keira. “Huh…,” Adya menghelakan nafas, pikirannya hampir buntu untuk mencari solusi agar dirinya bisa bicara dengan Keira sekaligus menjelaskan kronologi yang terjadi antara dirinya dan Lefard minggu itu. Sesekali ia rebahkan tubuhnya di kasur sambil berfikir. Adya terbangun dari posisi rebahannya sambil menemukan ide, “Aha…, kenapa gue nggak minta bantuan Tyas aja.” Dirinya langsung mencari nomor Tyas dari kontaknya dan menghubunginya. “Halo, Yas!” Seru Adya setelah panggilannya terjawab Tyas.

“Iya, ada apa Ad?” Tanya Tyas dari seberang.

“Bantuin gue dong Yas, gue daritadi nyoba buat hubungin Keira tapi kalo udah nyambung langsung direject. Yas gue perlu bicara sama dia.”

“Keira mungkin shock ngedenger lo ciuman sama Le…”

“Jadi lo kemakan omongannya Miranda juga ya Yas?” Adya langsung memotong omongan Tyas.

“Bukannya gitu tapi…”

“Yas gue udah punya cowok nggak mungkin lah gue harus ciuman sama orang lain, apalagi cowok itu cowok temen gue sendiri. Lo juga tau kan kalo gue benci banget sama si leher kuya itu? Jadi nggak mungkin gue ngelakuin itu sama dia! Sama Edhu aja gue belum pernah Yas!” Adya terus membela diri.

“Didunia ini nggak ada yang nggak mungkin kan Ad? Tapi selayaknya gue temen lo dan Keira, pasti lah gue ngebantu masalah lo berdua. Sekarang apa yang harus gue lakuin?”

Mendengar kata-kata Tyas yang sangat memojokan dirinya, Adya diam dan tidak langsung menjawab tawaran Tyas.

“Halo? Ad? Lo masih ada disitu kan?”

Tut. Dengan perasaan geram Adya menutup pembicaraannya dengan Tyas tanpa say good bye.

“Halo? Ad? Yah kok mati sih?” Tyas kebingungan.

“Ah rese, semua udah kemakan omongan si cewek kecentilan itu sampe-sampe dua sahabat gue sendiri nyalahin gue.” Adya melempar ponselnya kekasur sambil bergeming.

Dilain tempat, disebuah kamar seorang gadis menangis, menyandar disebuah sudut dinding dengan sendu. Hatinya begitu hancur ketika mendengar berita itu. Dirinya begitu sedih mengetahui bahwa sahabatnya sendiri berani melakukan tindakan seperti itu. Ponsel yang disampingnya tak henti-hentinya berdering memanggilnya, baik dari Adya maupun Lefard.

***

“Ke…please dong berenti dan dengerin penjelasan gue dulu!” Seru Adya yang daritadi siaga menunggu kedatangan Keira dikoridor sekolah menuju ruang kelas mereka.

Keira tidak perduli dan terus berjalan dengan wajah sungut.

“Ke, gimana semuanya bisa jelas sedangkan lo susah buat diajak ngomong?” Adya masih mengejar Keira.

Keira tetap berjalan menuju kelas tanpa menghiraukan Adya.

“Ke!” Adya menggapai lengan Keira.

Keira berhenti lalu membalikkan tubuhnya kearah Adya. “Apa lagi sih?”

“Lo nggak tau kronologinya kan? Lo nggak pantes marah sama gue! Semuanya ini belum jelas,” tutur Adya sambil masih memegang lengan Keira.

 “Ck…, lepas kek!” Kiera mencoba untuk lepas dari gengggaman Adya. “Semua udah cukup jelas jadi lo udah nggak perlu jelasin lagi!”

“Ke gue ini sahabat lo, masak lo bisa langsung percaya gitu aja sih sama omongan Miranda dibanding gue?”

So what? Emang kenapa?”

“Lo kan nggak punya bukti Ke?”

Keira langsung melengos pergi meninggalkan Adya sebelum selesai mendengarkan penjelasan yang dituturkan Adya.

Adya yang sadar ditinggalkan olah Keira lantas mengikutinya sambil berusaha untuk membujuk Keira supaya mau mendengarkan penjelasannya. “Ke, lo jangan ngindar terus dong!”

Ditengah ketegangan antara Keira dan Adya, Miranda dan kelompoknya tertawa didepan pintu kelas XII IPS 2.

“Liat deh akhirnya mereka ancur juga!” Seru Miranda setelah puas melihat Adya dan Keira perang hebat.

“Keira emang gampang buat dikelabui ya,” sambung Sisil.

Adya belum bisa meluluhkan hati Keira sampai waktu bel masuk sekolah berbunyi. Pelajaran pertama dilalui Adya tanpa konsentrasi, begitu pula dengan Keira dan Lefard yang duduk sebangku tapi miss comunication. Situasi ini berlangsung hingga jam istirahat.

Adya merapikan buku-buku yang habis dipelajari. Posisinya berbalik kebelakang untuk memandang Keira, tatapannya pasrah dan penuh penyesalan ke arah Keira. Ia masih punya tekat untuk membujuk Kiera supaya mau mendengar penjelasannya tapi setelah mengingat-ingat kejadian tadi pagi, respon Keira yang begitu kasar dan angkuh terhadapnya maka Adya biarkan Keira sendiri dulu.

“Ke!” Lefard memanggil Keira ketika Keira selesai membereskan buku dan hendak pergi meninggalkan tempat duduknya untuk keluar beristirahat. “Ke, lo kenapa sampe segitunya sih? Kok lo juga ngediemin gue?”

Keira menanggapinya dengan diam. Dirinya lekas berdiri dari duduknya untuk keluar kelas.

“Ke, gue perlu bicara nih sama lo, penting.” Lefard mengikuti langkah Keira dari belakang.

“Nggak ada yang perlu lo omongin lagi deh! Dasar cowok pengkhianat!” Keira menjawabnya dengan sadis dan penuh amarah.

Lefard kaget melihat Keira sampai seperti itu respon terhadapnya. “Lo kok?”

“Kenapa? Emang gue nggak pantes buat marah? Nggak harus marah kalo tau lo ciuman sama cewek laen sedangkan lo itu cowok gue?” Keira membentak Lefard dengan keras setelah Lefard mencoba untuk bicara dengannya. Setelah puas membentak Lefard Keira pun meninggalkan kelas.

Lefard pun mengejarnya dengan wajah penuh kebingungan.

Sepasang mata Adya memperhatikan dari tadi pertengkaran mereka, melihat mereka keluar dengan situasi kejar-kejaran Adya mengikuti dari belakang sampai akhirnya Lefard memberhentikan langkah Keira disudut sekolah. Adya tidak langsung campur dengan mereka melainkan melihat keadaan mereka dulu, apakah dengan hadirnya ia akan memperbaiki suasana atau sebaliknya. Dirinya mencari tempat yang bisa digunakan untuk sembunyi sambil bisa mendengarkan pembicaraan mereka.

“Ke lo kenapa sih?” Lefard dengan cepat mengejar Keira dan menggapai lengannya, mengajaknya bicara dengan kepala dingin.

“Lo nggak tau gimana sakitnya gue saat tau lo sama Adya begitu!”

“Begitu gimana? Lo kan nggak tau ceritanya?”

“Kenapa lo nggak cerita? Kenapa gue harus tau dari orang lain? Itu lebih nyakitin!”

“Kok bisa?”

“Gue kan cewek lo! Wajar kan kalo gue marah?”

Melihat keadaan begitu panas, Adya memilih untuk tidak campur dengan mereka. Ia langsung meninggalkan tempat itu tanpa mendengarkan pertengkaran mereka sampai selesai dengan perasaan gundah.

“Lo kenapa sih Ke? Emosi lo kok nggak bisa dikontrol gini? Nanti malem gue mau beraksi lagi, tadi gue liat mereka berdua.”

“Terserah, gue nggak peduli. Apa yang mau lo lakuin semua adalah hak lo!” Keir langsung pergi.

Lefard menghembuskan nafas dalam-dalam melihat perubahan sikap Keira yang begitu garang. “Over banget sih si Keira, lagi dapet kali tuh cewek,” gumamnya sambil jalan menuju kantin.

Adya berjalan lesu menuju kelas, dirinya bingung dengan situasi ini. Ia ingin sekali curhat tapi mengingat kejadian semalam, saat dia menghubungi Tyas tapi Tyas juga menyalahkannya iapun enggan untuk berbagi kegundahan hatinya itu. Langkahnya melewati kelas Edhu, tersontak pikirannya untuk menengokinya, sedang apa kekasihnya itu. Adya berdiri tepat didepan meja Edhu.

Edhu yang sedang duduk ditempatnya kaget melihat ada seorang cewek berdiri didepannya. Kepalanya ia alihkan keatas untuk mengetahui siapa cewek yang berdiri didepannya itu. “Adya?” tanggap Edhu setelah mengetahui bahwa cewek tersebut adalah kekasihnya sendiri. “Tumben kamu kekelas aku. Ada apa?”

“Kok tumben sih? Emang gue nggak boleh ya kekelas lo?”

“Ih bukannya gitu. Ih kamu gitu aja ngambek deh. Sini kamu duduk disamping aku!”

Adya langsung menanggapi tawaran Edhu untuk duduk disampingnya.

(Nantikan yh kanjutan respon Edhu ketika mengetahui kekasihnya nggak sengaja tabrakan bibir sama lawan tandingnya..^__^)

** To Be Continue

Famodya :

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5

Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10

Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15

Part 16 (END)

 
Leave a comment

Posted by on August 19, 2011 in Cerita, Famodya

 

Tags: , , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: