RSS

FAMODYA (Part 6)

21 Aug

“Kenapa sih beibh?” Edhu bertanya halus untuk mengambil hati Adya.

Adya langsung bercerita tentang apa yang dia rasakan saat ini. Ia menceritakan dari awal sampai akhir dari masalah yang sedang dihadapinya.

“Kamu kok?” Edhu kaget mendengar cerita terakhir Adya yang menyebutkan kalo pokok permasalahannya adalah karena Adya dan Lefard ciuman.

“Lo dengerin gue dulu! Gue sama si leher kuya itu nggak sengaja. Gue nyerang dia sampe dia jatuh tapi pas dia jatuh gue juga kehilangan keseimbangan jadi gue ikut jatoh.” Adya mencoba membela diri.

Edhu menarik tangan Adya kasar dan membawanya keluar kelas. “Tapi kenapa bisa tepat kamu sama dia ciuman?” Tutur Edhu geram.

“Gue nggak ciuman Dhu, kita cuma tabrakan.”

“Biarpun kamu nggak sengaja tapi kamu juga ikut ngerasain kan? Kamu munafik deh, kamu nggak pernah mau kalo aku minta tapi sama orang lain yang jelas-jelas cowoknya temen kamu sendiri kamu mau.”

“Kok lo juga ikut nyalahin gue sih? Katanya lo mau bantu gue!”

“Aku sakit hati Ad! Aku ini cowok kamu!”

Adya diam dan pergi meninggalkan Edhu. Matanya berkaca-kaca, sambil jalan menuju kelasnya wajahnya hanya tertunduk menahan perih.

Lefard yang tadi nggak sengaja lewat kelas Edhu akhirnya ikut mendengarkan pertengkaran mereka. Lefard menyiratkan sesuatu dalam pikirannya sebelum akhirnya mengikuti Adya untuk kembali kekelas.

***

“Jadi lo masih nggak mau maafin Adya? Gue kan udah ceritain semuanya, dari awal sampe akhir kejadiannya,” tutur Lefard lewat ponsel yang dipegang Keira.

“Iya gue maafin dia. Sorry ya gue kemaren sama tadi cuma kemakan emosi aja,” jawab Keira dengan nada tidak bersemangat.

“Nah gitu dong! Gue yakin sebentar lagi Adya hubungin lo. Gue harap lo angkat telepon dia dan lo juga maafin dia ya!”

“Iya.”

“Oiya nanti gue jadi ketempat biasa. Mudah-mudahan aja kali ini berhasil.”

“…” Keira menanggapinya dengan diam.

“Kok lo diem aja sih Ke?”

“Ah…,” Keira terkejut dari diamnya.

“Lo kenapa? Lo kok nggak kasih semangat ke gue supaya gue berhasil?”

“I…iya, sorry. Good luck ya, mudah-mudahan usaha lo kali ini nggak sia-sia!”

“Hm…, thank ya Ke! Yaudah ya gue udah siap nih mau berangkat. Jangan lupa apa yang udah gue suruh tadi, kasian si Adya kalo sikap lo gitu terus kedia.”

“Iya, bye!” keira munutup pembicaraan dari ponselnya itu sambil meneteskan air mata. “Kenapa lo nggak tau sih Le? Gue bener-bener sayang sama lo,” gumamnya.

Tak lama ponselnya berdering. Tertera nama ‘Adya’. Keira tak langsung mengangkatnya, dirinya masih berpikir akankah dirinya mengangkat panggilan teman yang tega menusuknya dari belakang. Namun disisi lain, ini adalah amanat dari orang yang sangat dicintainya untuk menerima panggilan itu sehingga semua pikiran-pikiran negatif yang dari tadi terselubung diotaknya ia buang jauh-jauh. Keira mengangkat tanpa membuka pembicaraan.

“Halo! Keira?” Seru Adya dari seberang.

“Iya,” Jawab Keira cuek.

“Syukur deh lo akhirnya terima telepon gue,”

“Nggak usah basa-basi, ada apa lo telepon gue?” Keira menanggapinya dengan sinis.

“Gue mau jelasin semuanya.”

“Apa yang mau lo jelasin?”

Setelah melalui penguluran kata-kata akhirnya tiba waktunya Adya untuk menceritakan kronologi yang terjadi antara dirinya dan Lefard.

***

Digarasi rumah Lefard sudah siap mobil yang telah dipanasi selama lima menit.

“Ayo Mang!” Seru Lefard kepada Mang Jajat. Supir yang selama ini setia menemaninya dan ikut menjaga juga marawat rumahnya.

“Iya den,” jawab mang Jajat dan lekas menuju mobil untuk mengemudi. “Kita mau kemana Den?”

“Diskotik.”

“Masyaallah!” Tanggap mang Jajat kaget. “Den Lefard kenapa sampe mau ketempat kotor itu? Aden masih punya moral dan Iman kan?”

Lefard tersipu, “Mang Jajat Mang Jajat, emang orang-orang yang nggal punya moral dan iman aja yang boleh kesana?”

“Lha, Aden kan masih punya moral dan iman. Ngapain Aden kesana?”

“Udah deh Mang. Mang Jajat percaya aja sama Lefard. Lefard kesana juga bukan mau seneng-seneng kok tapi punya misi.”

“Ah Aden kaya James Bond aja deh.”

Mendengar kata-kata mang Jajat Lefard kembali tersipu.

Mobil akhirnya keluar dari garasi rumah Lefard dan melaju menuju kediskotik.

***

“Gitu Ke kejadiannya,” tutur Adya setelah menceritakan dari awal sampe akhir kejadian antara dirinya dan Lefard.

“Omongan lo ini bisa gue percaya?”

“Ya ampun Ke, lo kok sampe segitunya sih. Gue udah ngomong sejujur-jujurnya masa lo masih nggak percaya?”

“OK, gue percaya sama lo,” tanggap Keira datar.

“Duh syukur deh Ke gue jadi lega.”

“Ad, udah dulu ya, gue lagi banyak kerjaan nih.” Keira mengakhiri.

Adya yang tahu bahwa hubungannya baru saja membaik tidak mempertanyaakan kerjaan apa yang sekarang Keira kerjakan sehingga harus mengakhiri percakapan ini, dan dirinya bersedia untuk meangkhiri percakapannya lewat telepon. “OK deh kalo gitu, thank ya Ke!”

“Iya, bye!”

Setelah itu ponsel keduanya pun mati.

“Huh…” Adya menghembuskan nafas panjang. “Akhirnya masalah gue sama Keira selesai juga. Duh gue laper nih,” tuturnya sambil mengelus-elus perutnya yang belum buncit dan barusan saja bernyanyi. Adya keluar dari kamarmnya menuju kamar Abay. “Bay!” serunya sambil mengetuk pintu kamar kakaknya tersebut.

“Apaan?” Tanya Abay setelah pintu kamarnya terbuka.

“Laper,” tutur Adya sambil mengelus-elus perutnya kehadapan Abay.

“Makan!”

“Cari makanan keluar yuk!”

“Emang makanan dimeja makan udah abis?”

“Masih.”

“Ngapain cari keluar. Nggak enah ah sama bi Nana, dia udah masak capek-capek malah nggak kita makan.”

“Emang lo udah makan?”

“Belom juga sih.”

“Duh gue mau makan ketoprak yang pedes nih. Nanti gue bilang sama bi Nana deh supaya makanan yang sekarang nggak kita makan dipanasin aja biar nggak basi.”

“Yaudah deh kalo gitu. Gue juga mau cari sate nih.”

“Sip. Gue tunggu dibawah ya!” Adya yang merasa sudah kelaperan cepat-cepat kebawah menuju garasi. “Bay cepet!” Teriaknya dari luar.

“Eh neng, nggak perlu teriak-teriak kali!” Jawab Abay yang sudah berada  didepan pintu rumahnya. Tangannya membuka daun pintu mobil jeep dan menyerukan Adya untuk lekas masuk.

“Idih gaya lo! Ngapain kita bawa mobil?” Adya bingung sebelum akhirnya ikut naik kemobil itu.

“Ye…, ini tuh malem udaranya dingin. Lo mau masuk angin kalo kita bawa motor?”

“Emang kita mau cari makanan kemana?”

“Yah keliling aja.”

Mobil yang dinaiki Adya dan Abay kini melaju. Bila biasanya mereka mencari makanan didepan komplek kali ini tidak setelah melewati depan kompleks mobilnya tetap melaju.

“Eh tuh tukang ketopraknya. Kok nggak berenti sih Bay?” Tanya Adya bingung.

“Kan gue udah bilang kita mau keliling,” jawan Abay santai sambil menyetir.

“Kok keliling sih? Gue laper nih!”

“Iya tenang aja pasti lo bakal nemuin tukang ketoprak lagi kok. Emangnya tukang ketoprak di Jakarta cuma satu.”

“Iya gue tau, tapi kan yang disana langganan gue Bay!”

“Udah nggak usah bawel. Nanti lo gue traktir deh, satu bungkus? Dua bungkus? Tiga bungkus?”

“Satu gerobak,” tutur Adya kesal.

Mabil jeep yang dikemudikan Abay terus melaju dan berhenti didepan perumahan Taman Permai.

“Gue bilang juga apa, tukang ketoprak nggak cuma satu kan?” Tukas Abay sambil mematika mesin mobilnya.

“Aneh!” Adya merespon.

Mereka akhirnya turun dari mobilnya dan hendak kewarung jajanan untuk memesan makanan yang mereka inginkan. Adya yang dari tadi ingin makan ketoprak mengarahkan langkahnya kepenjual ketoprak sedangkan Abay setelah mengantar adiknya memesan satu bungkus ketoprak pergi kewarung sate untuk memesan sate. Mereka berdua menunggu pesanannya selesai duduk dibalai depan warung penjual ketoprak.

“Kira-kira enak nggak ya?” Tanya Adya mengawali pembicaraan.

“Yah mudah-mudahnya aja. Lagian jadi orang jangan stuck sama satu tempat aja dong, hidup ini bervariasi,” jawab Abay.

“Idih belagu banget omongan lo Bay,” Adya mencibirkan bibirnya.

“Ha…ha…ha…,” Abay tertawa senang atas respon adiknya.

Selama sepuluh menit menunggu, pesanan mereka selesai.

“Bay lo bayarin punya gue kan?”

“Ah lo! Iya-iya nih gue bayar!” Abay menyodorkan uangnya ketelapak tangan Adya.

Setelah mereka membayar makanan yang mereka beli, mereka bergegas untuk memasuki mobil. Mobil pun dinyalakan oleh Abay dan melaju.

“Lho…lho…lho… kok malah masuk komplek sih Bay?” Tanya Adya yang bingung karena bukannya masuk jalan besar yang menuju komplek rumahnya malah masuk keperumahan Taman Permai.

“Oh…, nggak kok cuma iseng aja.”

“Duh Bay… gue ini udah laper banget. Lo ngapain sih ngajak gue muter-muter gini? Nyesel deh gue ngajak lo tadi, mendingan gue bawa motor gue aja kedepan komplek dan makan disana pasti sekarang gue udah kenyang,” Adya bergerutu.

“Ih…, jadi cewek kok ngedumel terus sih lo Ad! Sabar lah lagian kan ketoprak lo gue bayarin.”

“Idih bangga banget sih lo bayarin ketoprak gue, lo pikir gue nggak mampu bayar sendiri apa?”

“Udah ah nggak usah banyak omel. Kita bakal pulang kok!”

Mendengar Abay bicara akan segera pulang, Adya menghentikan gerutunya dan memilih untuk diam.

Pukul 21.00 tepat mobil yang dikendarai Abay melintas disebuah rumah yang berukuran megah. Namun anehnya saat Abay melewati rumah tersebut, ia mendengar suara wanita meminta tolong dengan histeris.

“Ad lo dengar itu nggak?”

“Aduh!!!” Tanggap Adya yang kaget karena Abay ngerem mendadak. “Suara apaan?”

“Cewek minta tolong,” Abay mencoba memfokuskan kepada Adya.

Adya dengan reflek menyilakan rambutnya yang tergerai dan menutupi telinganya. “Iya. Suaranya dari rumah itu,” katanya setelah dirinya juga ikut mendengar suara jeritan itu.

Abay tanpa banyak pikir langsung turun dari mobilnya dan hendak masuk kerumah itu.

“Eh.. Bay… lo mau kemana?” Tanya Adya yang kaget melihat kakanya langsung turun dari mobil. Dirinya langsung ikut berlari mengejar kakaknya. “Bay lo jangan gila deh. Lo kan nggak tau ini rumah siapa!”

“Gue tau ini rumah siapa. Ini rumah Darus dan yang teriak ini temen gue, pasti dia mau ngapa-ngapain temen gue Ad!” Serunya setelah Adya menggapai lengannya untuk berhenti. “Lo mending tunggu dimobil aja!” Abay kembali berlari memasuki rumah itu.

“Bay! Abay! Hati-hati lo!” Seru Adya yang panik saat kakaknya tetap bertekat untuk masuk kedalam rumah itu. Dirinya yang tadi disuruh untuk menunggu Abay dimobil akhirnya enggan dan tetap mengikuti kakaknya masuk kerumah itu.

Layaknya seperti Brucce Lee atau Jacky Chan, Abay medobrak pintu rumah itu walau ternyata pintu rumah itu tidak terkunci. Dirinya langsung memasuki dan mencari sumber suara itu. Telinganya peka sehingga mengetahui kalau sumber suara itu dari lantai atas. Tanpa buang waktu Abay menaiki anak tangga menuju lantai atas.

Adya tetap mengikuti Abay dari belakang walau Abay tidak mengetahuinya.

“Fia!!!” Abay berteriak keras setelah dirinya sampai kelantai atas. Mengetahui Fia ada didalam kamar dan kamar tersebut terkunci Abay langsung berusaha untuk mendobraknya. Beberapa dobrakkannya belum bisa untuk membuka pintu yang terkunci tersebut hingga Adya membantu untuk mendobraknya bersama-sama.

“Adya? Lo ngapain ikut?” Tanya Abay yang kaget tiba-tiba adiknya ikut membantunya.

“Iseng,” jawab Adya sambil meringis.

“Masih bisa ya lo bercanda!”

“Nggak usah bawel,” Adya menjawab lagi sambil tetap mengurahkan seluruh tenaganya untuk mendobrak pintu itu.

Setelah beberapa kali didobrak akhirnya pintu itu terbuka. Adya dan Abay spontan masuk kedalam kamar itu.

“Darus!!! Bajingan lo ya!!!” Abay langsung melemparkan tonjokknya kewajah Darus yang saat itu sedang sakau. Abay terus menderanya dengan pukulan-pukulan hingga Darus tidak berdaya dan akhirnya jatuh pingsan.

Mengetahui Abay menghajar Darus, Adya membawa gadis yang bernama Fia untuk turun dan segera keluar dari rumah itu.

Setelah yakin Darus sudah tidak sadarkan diri, Abay langsung meninggalkannya dan turun lalu keluar dari rumah Darus menyusul Adya dan Fia. “Ad, Fia nggak apa-apa?” Tanya Abay khawatir setelah dirinya sampai didepan mobil.

“Ng… Nggak apa-apa. Dia cuma shock aja,” Jawab Adya sambil memeluk Fia erat-erat.

“Jalan! Ayo Jalan!” Fia merintih ketakutan sambil masih memeluk Adya kencang.

Mendengar Fia menyeru untuk segera jalan, Abay yang panik langsung saja masuk mobil dan menyalakan mobilnya.

Sepanjang perjalanan Fia tidak henti-hentinya menangis ketakutan sambil terus memeluk Adya. Adya yang bingung harus berbuat apa hanya bisa memeluk Fia dan menghiburnya untuk tenang. Abay pun ikut panik dan menyuruh Adya untuk bisa menenangkan Fia. Akhirnya setelah ditenangkan oleh Adya, Fia pun berhenti menangis dan akhirnya tertidur yang posisinya masih dipelukan Adya.

Mobil mereka pun akhirnya sampai rumah. Abay yang mengetahui Fia tertidur bingung harus bagaiman. “Ad, si Fia tidur. Gimana dong?”

“Kok gimana sih! Lo bopong dia aja kekamar gue!”

“Duh gue nggak berani. Gue takut dia kebangun dan ngeliat gue dia jadi trauma dan anggap gue ini Darus.”

“Oh, gue ngerti maksud lo. Yaudah mending sekarang lo panggil bi Nana buat bantu gue bopong dia kekamar gue!”

Abay yang saat itu masih panik, langsung saja masuk kedalam sambil teriak-teriak memanggil bi Nana untuk membantu Adya.

“Ya Allah Non ini siapa?” Tanya bi Nana yang kaget setengah mati melihat Fia tertidur didalam mobil majikannya.

“Kasih taunya entar aja Bi. Bibi sekarang mending bantu Adya bawa dia kekamar Adya!”

“I… i… iya Non.”

Bi Nana dan Adya pun membawa Fia masuk kerumahnya dan bekerjasama membawa Fia kekamar Adya. Setelah sampai kamar, Adya dan bi Nana nampak kekelahan setelah membopong Fia dari garasi sampai kamar Adya yang letaknya dilantai atas.

“Bi, bawain teh manis anget buat dia ya terus bawain air putih dingin buat Adya sama Abay!” Seru Adya sambil terengah-engah.

“Iya Non.” Setelah itu bi Nana turun kebawah.

Abay melangkah masuk kekamar Adya. “Ad!”

“Eh Bay!” Adya menanggapi Abay yang datang kekamarnya. “Dia gimana?”

“Nanti kalo bi Nana udah bawa teh manis anget baru kita bangunin dia!” Abay memandangi Fia sambil dirinya berdiri.

“Non, ini teh manis angetnya sama air putih dingin!” Bi Nana sampai kedepan pintu kamar Adya dan masuk untuk menyuguhi pesanan Adya. Dirinya menarukan nampan yang diatasnya terdapat satu gelas teh manis hangat dan dua gelas air putih dingin diatas meja belajar Adya.

“Bay, dia siapa?” Tanya Adya lirih.

Abay belum saja menjawab pertanyaan Adya, tiba-tiba Fia terbangun sambil teriak ketakutan. Abay dan Adya menjadi kembali panik dan dengan segera melakukan segala cara untuk bisa menenangkannya.

“Jangan… jangan apa-apain aku…!” Teriakkan yang sering Fia katakan ketika dirinya berusaha ditenangkan oleh Adya dan Abay.

“Hei! Tenang…tenang… lo aman disini. OK, lo aman. Nggak ada yang mau apa-apain lo kok.” Adya pantang menyerah menenangkan Fia yang trauma atas kejadian tadi. Kata-kata Adya akhirnya bisa membuat Fia sedikit tenang walaupun masih gemetaran.

“Fi!” Abay menyapa Fia dengan gugup.

Fia menolehkan wajahnya ke arah Abay. Dirinya kaget dan berteriak lagi.

“Fi… tenang Fi, dia nggak mau berbuat apa-apa sama lo. Lo kenal Abay kan? Ini Abay Fi, dia nggak jahat sama lo,” Adya kembali menenangkan Fia.

Fia masih ketakutan. Dirinya memeluk erat Adya untuk mengurangi rasa takutnya. Setelah mendengar kata-kata Adya yang menerangkan bahwa laki-laki yang ada didepannya adalah Abay bukan Darus yang tadi ingin menyelakainya Fia kembali tenang dan menolehkan kembali kepalanya untuk melihat wajah Abay. “A… Abay?” Tanyanya takut.

“Iya ini Abay. Kamu aman disini, kita nggak mau ngapa-ngapain kamu. Kita malah tolong kamu tadi!” Abay mulai menjelaskan pelan-pelan.

Kamu? So sweet banget Abay ngomong sama cewek ini. Apa iya Abay suka sama cewek ini? Tanya Adya dalam hati yang heran kalo Abay bisa selembut itu berbicara dengan Fia.

Fia menolehkan pandangannya kearah Adya, “kamu siapa?”

“Oh…, gue Adya,” Adya menyodorkan tangannya kearah Fia. “Gue ini adiknya Abay.”

Lalu perlahan Fia melepaskan pelukannya yang tadi erat memeluk Adya. Namun dia masih sedikit bicara. Pandangnnya kosong serta nafasnya masih terengah-engah karena ketakutan.

“Lo minum ini dulu ya!” Adya menyodorkan gelas yang berisi air teh manis hangat untuk Fia.

Fia memandanginya dengan tatapan bertanya-tanya.

“Jangan takut gitu kali! Tenang aja minuman ini bebas dari racun atau obat bius kok,” gurau Adya sambil tersenyum kecil.

Fia ikut tersenyum menanggapi kata-kata Adya. Dirinya percaya dan pelan-pelan menyeruput  teh hangat yang disodorkan Adya kepadanya.

Abay yang melihat Fia sudah mulai tenang kembali juga ikut tersenyum. Karena tau Fia masih trauma melihat wajah seorang laki-laki, dirinya memilih keluar dari kamar Adya dan duduk diruang keluarga lantai bawah.

“Lo udah tenangan kan sekarang?” Tanya Adya setelah melihat Fia menghabiskan teh yang diberikannya.

Fia mengangguk.

“Lo sekarang istirahat aja disini. Lo nggak perlu takut lagi, karena lo aman disini. Gue juga bakal temenin lo disini kok. OK.”

Fia mengangguk sekali lagi tanpa bersuara.

“Sebentar ya,” tutur Adya. Dirinya berdiri dari duduknya dan berjalan kelemari bajunya. Satu pasang baju tidur berlengan dan bawahan panjang ditawarkannya untuk dikenakan Fia. “Nih, kalo lo mau ganti baju dulu!”

Fia menerima satu pasang baju yang diberikan Adya.

“Ya ampun!” Adya reflek menepuk keningnya. “Sorry, gue lupa kalo lo pake jilbab. Sebentar ya gue cari jilbabnya dulu.” Adya yang melihat kalau Fia memakai jilbab, kembali berjalan menuju lemarinya untuk memberinya jilbab.

Setelah Adya memberikan Fia jilbab, Fia menuju kamar mandi untuk mengganti pakaian yang ia kenakan dengan pakaian yang diberi Adya kepadanya.

Adya yang ada dikamar keluar. Dirinya ingat kalau dia masih mempunyai satu bungkus ketoprak yang ia beli sebelum Adya dan Abay menolong Fia. Rasa lapar yang begitu mengganggu perutnya sedikit kenyang melihat Fia. “Bay!” Adya menepuk pundak Abay dari belakang yang duduk disofa.

“Eh, Ad. Gimana si Fia?” Tanggap Abay yang sedikit kaget.

“Dia tadi udah gue suruh istirahat tapi sebelom itu gue suruh ganti baju dulu,” jawab Adya. “Eh Bay, dia siapa sih?” Tabya Adya sambil duduk disamping Abay.

“Dia itu temen satu kampus gue.”

“Temen apa temen?” Ledek Adya

“Temen. Apaan sih lo?”

“Kok kayaknya lo perhatian banget sih sama dia. Lo suka ya sama dia Bay? Udah lo ngaku aja, nggak salah kok!”

“Nggak. Dia itu udah punya cowok tau!”

“Cowoknya yang tadi? Siapa namanya? Darus? Itu cowoknya?” Tanya Adya heran.

“Iya.”

“Gila! Cewek secantik dan sesoleha kayak dia punya pacar bajingan kayak gitu.”

“Menurut lo dia gimana?”

“Hm…, katanya udah punya cowok kok lo malah minta opini sih?”

“Yaelah cuma mau tau aja lo nilai dia kayak gimana.”

“Gimana ya? Yang pasti dia cantik, baik, polos, soleha terus inner beautynya dia keliatan banget. Bay nggak ada salahnya kok kalo lo suka sama dia. Lo kan jomblo dan dia juga pasti nggak akan mungkin mau balikan lagi sama cowoknya itu.”

Abay hanya terdiam.

“Bay, gue tau lo sayang banget sama Ninda dan sampe sekarang masih belom bisa buat ngelupain Ninda tapi lo juga harus sadar kalo Ninda itu udah nggak ada dan lo Cuma bisa mencintainya tapi nggak bisa memilikinya, pasif Bay.”

“Nggak tau deh Ad.”

“Dari cara lo perhatiin Fia, gue tau kalo lo suka sama dia dan Fia juga suka sama lo. Gue dukung dan setuju kok kalo lo sama dia Bay.”

Thanks Ad. Eh iya ini udah jam berapa? Lo kan besok sekolah, nanti lo telal lagi. Udah sana lo tidur.”

“Ih Bay lo lupa ya? Kita kan masih punya makanan.”

“Oiya.”

“Kan sayang kalo nggak dimakan. Kita makan aja sekarang, perut gue sih tadi udah agak kenyangan tapi sekarang laper lagi nih.”

“Dasar kebo! Yaudah lo ambil dimobil sana sekalian punya gue ya Ad!” Abay menyuruh Adya untuk mengambil makanan yang tadi mereka beli didepan komplek rumah Darus.

***

Setelah melalui jalan dan memakan waktu sekitar setengah jam, mobil yang ditumpangi Lefard sampai ketempat yang ia tuju.

“Kita mau langsung parkir Den?” tanya mang Jajat.

Lefard celingukan melihat situasi. “Em…, jangan parkir dulu deh Mang. Kita berenti disini aja!” Jawabnya etelah melihat kendaraan objek yang ia selidiki belum tiba ditempat tersebut.

Sambil menunggu objek yang jadi penyelidikannya datang, Lefard membuka note book yang ia bawa. Terlihat jelas gambar dirinya dan Keira sebagai walpaper.

“Kok Aden nggak ngajak Non Keira sih?” tanya mang Jajat seraya ikut melihat tuannya memangdang gambar yang ada didesktop.

“Oh, nggak,” jawab Lefard datar. Setelah itu ia tutup kembali note book itu sambil memandang ke arah luar. “Itu mobilnya,” gumamnya setelah melihat objek memakirkan mobilnya didalam area parkir diskotik. “Mang kita parkir sekarang!”

“Iya Den.” Mang Jajat langsung menyalakan mesin mobilnya dan langsung masuk area parkir diskotik.

Mata Lefard tidak lekang melihat mobil itu. Setelah menunggu, akhirnya pengemudi mobil itu keluar dari mobilnya sambil menggandeng sosok perempuan. “Apa gue bilang, pasti dia bawa cewek itu,” gumamnya penuh antusian. Lefard lekas cepat bergegas masuk kedioskotik, tak lupa ia menyiapkan terlebih dahulu alat-alat apa saja yang akan dibawa. Handphone, dan camera digital ia kantongi.

“Eh…, Aden mau masuk sekarang?” Tanya mang Jajat melihat Lefard membuka pintu mobil.

“Iya Mang. Mamang tunggu disini aja ya sampe saya balik lagi!” seru Lefard sebelum akhirnya meninggalkan mang Jajat dan keluar dari mobil.

Hiruk pikuk dunia malam ini sudah mulai terasa saat Lefard berada didepan pintu masuk diskotik tersebut. Perempuan-perempuan berbalut pakaian seksi banyak terpajang disamping pintu masuk, menggoda serta menjamak lelaki yang hendak masuk, termasuk Lefard.

“Hai hansome! Gandeng gue kedalem dong!” goda salah satu perempua yang tertarik dengan Lefard.

Namun lefard tidak menghiraukannya. “Hih, jijik gue,” gumamnya saat dagunya dijamak oleh perempuan itu.

“Ih sambong banget deh! Paling juga jinak-jinak merpati, digodain didalem pasti klepek-klepek.”

“Lo kejar aja, sayang tuh! Udah ganteng tajir lagi. Lo liat deh tadi dia turun dari mobil!” Seru perempuan yang satu lagi.

“Yaiyalah, ini tuh kilang emas buat gue jadi nggak akan gue sia-siain. Dah…gue duluan ya!”

“Cowok, sombong amat sih!” Sapa perempuan yang sedaritadi menggodai Lefard.

“Ih…, apaan sih! Eh Mbak jangan ganggu gue dong”

“Mbak? Santai aja kali manggilnya. Panggil gue Helen.”

“OK. Helen gue disini lagi punya urusan jadi lo jangan ganggu gue. Mendingan lo godain cowok-cowok laen yang ada disini, kan masih banyak tuh!”

“Emang keperluan lo apa sih? Pasti seneng-seneng kan?” Goda Helen sambil merangkul pundak Lefard.

Lefard diam seketika, dirinya sedang mencari ide bagaimana supaya perempuan ini tidak terus mengikutinya. “Kalo gue masuk sendirian pasti gue nggak bisa leluasa ngintai gerak-gerik Edhu,” gumam Lefard setelah berpikir kalo menggandeng perempuan tersebut tidak ada salahnya. Dirinya mengeluarkan dompetnya dan melihat berapa rupiah uang yang ia bawa.

“Idih…, kalo masalah bayaran sih belakangan. Gampang deh!” Perempuan itu menggoda lagi.

Aman, tuturnya dalam hati setelah tahu kalo isi dompetnya lumayan dipenuhi uang seratus ribu. Akhirnya Lefard bersedia menerima ajakan Helen untuk masuk berdua. Alasannya bukan ia ingin bersenang-senang dengan Helen. Melainkan menjadikan Helen sebagai pagar jika Lefard ingin mengambil gambar didalam nanti.

Mereka berdua memasuki tempat itu dan mencari tempat untuk duduk.

“Oiya nama lo siapa?” tanya Helen setengah teriak karena riuhnya suara musik.

“Lefard.”

“Siapa?” Tanya Helen yang kurang mendengar ucapan Lefard karena gaduhnya ruangan didalam.

“Lefard.” Lefard mengulang dengan teriak.

“Lo ngomong jangan pelan-pelan, nggak kedengaran tau! Kita duduk disana aja ya?” Tanya Helen setelah menemukan tempat yang pas untuk duduk dan bersenang-senang.

Lefard belum menjawab. Targetnya masuk ketempat ini untuk menyelidiki Edhu bukan untuk  bersama dengan Helen. Matanya berkeliaran kesana-sini untuk mencari dimana Edhu duduk.

“Hei! Nyari apa? Disana aja!” Helen menepuk pundak Lefard yang belum menjawab ajakannya untuk duduk ditempat pilihannya.

Lefard tidak menghiraukan Helen, matanya masih mencari dimana Edhu. Setelah kepalanya bergeleng kesemua arah matanya tertuju disudut kiri. “Itu dia,” tuturnya pelan.

“Apa? Dimana?” Tanya Helen yang tadi melihat bibrnya berkomat-kamit. Mata Helen mengikuti arah mata Lefard. “Lo mau disana?”

Lefard mengiyakan sambil menganggukkan kelapanya.

“OK kita kesana, disana juga ada tempat kosong” Helen langsung menggandeng tangan Lefard menuju tempat itu.

Setelah sampai, mereka berdua duduk.

“Lo mau pesen apa?” tanya Helen sebelum dirinya memanggil waiter.

“Gue pesen lemon tea aja.”

lemon tea?” Tanya Helen heran.

“Iya, emang kenapa?”

“Ya aneh aja. Lo dateng kesini cuma mau minum lemon tea? Wyne atau apa gitu?”

sorry, gue nggak minum.”

Yah gimana gue mau takhlukin dia kalo dia nggak mabok, gumam Helen dalam hati kecewa. “Oh, yaudah gue pesenin sekarang aja ya?”

setelah Lefard mengiyakan, Helen memanggil waiter untuk menyampaikan orderannya.

Mereka mulai ngobrol-ngobrol ringan. Lefard yang niat pertamanya untuk menyelidiki Edhu tetap fokus memperhatikannya walaupun dirinya asyik bercengkrama dengan Helen. Saat dirinya melihat Edhu becumbu mesra terhadap seorang perempuan yang tidak lain adalah Naomi, ia cepat-cepat mengambil camera digitalnya untuk mengambil gambarnya.

Kali ini kena lo Dhu! tutur Lefard dalam hati. Dirinya tidak bosan untuk mengambil gambar antara Edhu dan Naomi.

Jam yang melingkar ditangan Lefard menandakan pukul 00.05. Gila gue udah ngantuk banget,  keluhnya dalam hati. Dirinya melihat tempat duduk didepannya. Si Edhu sampe jam segini kok belom pulang juga ya. Dirinya kembali bergumam setelah melihat targetnya masih bersenang-senang dengan Naomi.

Karena sudah puas mengambil gambar banyak antara Edhu dan Naomi, dirinya kini hanya menyelidikinya lewat pandangannya saja sambil terus meladeni Helen mengobrol.

“Sayang cabut yuk!” Seru seorang cowok kepada kekasihnya.

Lefard kenal betul suara itu, kepalanya menoleh kesumber suara itu sambil menutupi wajahnya dengan kertas yang ada diatas meja yang ia tempati. Akhirnya Edhu pulang, guman Lefard dalam hati.

Edhu dan Naomi berdiri dari duduknya. Dirinya lekas merangkul Naomi dengan keadaan dua-duanya sama-sama sedang mabuk.

Lefard pun bangun dari duduknya dengan tergesah-gesah supaya tidak kehilangan jejak Edhu dan Naomi.

“Eh, lo mau kemana?” Helen menjagal tangan Lefard.

“Gu… gue mau ketoilet.”

“Yah… nanti aja bareng sama gue. Disamping diskotik ini kan ada tempat penginapan disitu juga ada tolietnya.”

“Maksud lo? Duh gue udah buru-buru nih Len!”

“Kita check in!”

“Hah… nggak! Gue nggak niat mau check in!” Respon Lefard yang kaget karena dirinya ditawari untuk tidur bareng dengan Helen.

“Terus?” Helen bertanya heran.

Lefrad mengeluarka dompetnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribunya itu kepada Helen. “Nih, cukup kan buat tarif lo? Sorry gue nggak bisa lama-lama!” Setelah Lefard menyodorkan uangnya untuk Helen, dirinya langsung cepat-cepat untuk mengejar Edhu.

Helen tersipu. Walaupun dirinya tidak bisa tidur dengan Lefard tapi dirinya mendapatka bayaran yang hampir setara. Dirinya tidak mengejar Lefard dan dengan cepat melupakannya.

Lefard memilih jalan pintas menuju garasi agar tidak kehilangan jejak Edhu. Walaupun dirinya tertinggal langkah, namun dirinya yakin kalau Edhu belum jauh, sebab keadaan Edhu dan Naomi sedang mabuk. Benar apa yang ada dibenak Lefard, saat dirinya telah sampai didepan mobilnya, mobil Edhu masih terparkir. Lefard cepat-cepat masuk mobil agar Edhu dan Naomi tidak melihatnya. Setelah masuk kedalam mobil, didepan terlihat mang Jajat tertidur. Lefard tidak tega membangunkannya namun mau apalagi, sangat sayang bila misinya untuk menyelidiki Edhu selesai sampai disini, dirinya harus memastikan Edhu dan Naomi dari diskotik akan kemana lagi. “Mang! Mang Jajat!” Lefard mengetuk pundak mang Jajat agar bangun.

Mendengar tuannya membangunkannya, mang Jajat atkhirnya bangun. “Eh Den Lefard udah selesai?” Tanyanya dengan keadaan masih mengantuk.

“Iya. Maaf  ya Mang, gara-gara saya mang Jajat ketiduran.”

“Oh…, ya nggak apa-apa lah Den.”

“Eh itu dia. Mang kejar mobil itu mang!” Seru Lefard setelah ia melihat Edhu memasuki mobilnya dan mengendarainya keluar dari diskotik.

“Iya Den.”

Mobil Lefard pun mengejar mobil yang dinaiki Edhu beserta Naomi, namun mobil Edhu tidak menjurus kejalan menuju rumahnya melainkan menuju sebuah hotel. Lefard yang melihatnya kaget, dirinya tidak menyangka bila Edhu akan tidur dengan Naomi dan mengkhianati Adya.

“Den mobil itu masuk hotel. Apa kita ikut masuk?” Tanya mang Jajat sebelum akhirnya ikut masuk keparkiran hotel karena Lefard menyuruhnya untuk ikut masuk.

Setelah sampai diparkiran Edhu dan Naomi keluar dari mobil dan memasuki hotel.

Lefard yang melihat ini semua tidak mau menyia-nyiakannya. Dirinya mengikuti Edhu dan Naomi dari belakang diam-diam.

Setelah Edhu dan Naomi daftar check in, mereka menuju kamar hotel yang sudah mereka pesan. Lefard masih mengikutinya dari belakang dengan pelan-pelan supaya mereka berdua tidak curiga.

Edhu membuka pintu kamar hotel yang ia pesan dan menggapai tangan Naomi untuk ikut masuk kedalam. Lefard tidak bisa mengikuti gerak-gerik mereka saat mereka ada didalam maka saat Edhu menggapai tangan Naomi, itulah saat-saat terakhir Lefard mengambil gambar mereka sebelum akhirnya kamar mereka terkunci.

Lefard keluar menuju hotel dengan wajah yang sumringah. Ia tidak sabar menungga pagi, melihat reaksi Adya dan lainnya saat melihat gambar-gambar yang ia ambil. Dirinya masuk kedalam mobil dan menyuruh mang Jajat untuk menuju rumah. Sesapainya dirumah, tanpa perasaan lelah dan ngantuk. Lefard langsung menyolokkan kabel data yang menghubungkan antara camera digitalnya dengan note book. Ia memilih-milih gambar yang akan ia print. Setelah terkumpul dalam satu folder ia langsung menyalakan mesin print dan mengeprintnya satu per satu.

***

“Wah, lo udah bangun?” Tanya Adya saat melihat Fia membantu bi Nana menyiapkan sarapan pagi. Semalaman dirinya tidur diruang keluarga karena kamarnya dipakai oleh Fia dan ia tidak mau mengganggu istirahat Fia.

“Iya. Kamu baru bangun ya? Nggak sholat subuh dong?”

“He… lagi dapet,” Adya meringis.

“Oh,” tangap Fia sambil melebarkan senyumannya untuk Adya.

“Oiya, gue mau mandi dulu ya!”

“Iya.”

Adya lekas menaiki tangga dan memasuki kamarnya setelah itu menuju kamar mandi untuk mandi. “Duh jadi malu sendiri gue gara-gara gue bilang gue dapet, padahal kan gue emang nggak sholat,” tukas Adya sambil melucuti pakaiannya satu per satu didalam kamar mandi.

 “Wah sarapan apa nih?” Tanya Adya saat menuruni anak tangga.

“Aku buatin nasi goreng, kamu suka makan nasi goreng?” Jawab Fia.

“Suka dong! Lo pinter masak ya Fi?” Tanya Adya yang sudah duduk dimeja makan sambil menaruhkan tasnya dibangku yang kosong.

Tiba-tiba kaki Adya yang menjulur dibawah meja makan diinjak oleh Abay.

“Auww!!!” Respon Adya saat dirinya merasakan kesakitan karena kakinya diinjak oleh Abay. “Apa…” belum sempat bergerutu Adya melihat arti kedipan mata kakaknya itu. Dirinya baru ingat, semalam sebelum mereka tidur Abay menyuruh Adya supaya sopan terhadap Fia. Abaypun menyuruh agar adiknya itu memanggil Fia dengan panggilan kak, karena  Fia mempunyai etika yang sangat tinggi. Setelah Adya ingat dan sadar kalau barusan ia masih memanggil hanya Fia, Adya hanya diam dan merasakan sakitnya dalam hati.

“Kenapa kamu Ad?” Tanya Fia saat menaruh hidangan nasi gorengnya diatas meja makan.

“Eng…enggak kok. Hm…, harum benget deh, pasti enak.”

“Aku ambilin ya!” satu per satu Fia mengambilkan hidangan kepiring untuk Abay, Adya dan Evelyn.

Setelah piring Adya terisi nasi goreng, dirinya langsung mengambil perangkat makan yang lain seperti sendok dan garpu. Diseroknya nasi goreng itu dengan sendok dan ditiup-tiup karena masih agak panas.

“Yaampun Adya! Kamu baca doa dulu dong sayang jangan gitu!!!”

“Oops….” Adya yang hampir saja melahap suapan pertamanya itu langsung berhenti dan langsung menunduk malu.

Abay yang melihat gelagat Adya langsung meringis. “Itulah gaya ade aku yang satu ini, kalo ngeliat makanan udah kayak orang nggak makan lima hari.”

“Idih… ngarang, eh sadar bang! Lo juga rakus kan? Ini aja ada Kak Fia makannya lo jaim,” cetus Adya yang tidak terima saat kakaknya menjelek-jelekannya.

“Udah-udah jangan ribut gitu! Kita sekarang baca doa dulu. Nah habis itu baru deh makan nasi gorengnya!” Fia mencoba meleraikan dan memimpin doa untuk sarapan.

Setelah mereka selesai berdoa mereka menyantap makanan mereka yang sudah berada dipiring mereka masing-masing.

“Hm…tuh kan enak banget nasi gorengnya,” tukas Adya setelah merasakan suapan pertamanya yang tadi sempat tertunda.

Fia yang mendengar pujian itu hanya menanggapinya dengan senyum renyahnya.

Abay yang juga tidak luput untuk memperhatikan Fia ikut tersenyum. Dirinya paham betul, bila Fia sedang makan pasti tidak akan berbicara sebelum makanannya habis.

Setelah Adya menghabiskan makanannya, dirinya langsung menyiapkan diri untuk berangkat kesekolah. “Bay, gue berangkat dulu ya. Kak, Adya berangkat!” Adya pamit sebelum akhirnya dirinya pergi kesekolah dengan kendaraan yang disayanginya, motor racing berwarna orange miliknya.

Abay, Fia dan Evelyn yang masih ada dimeja makan meneruskan santapannya sampai habis. Setelah mereka selesai barulah giliran Evelyn yang pamit untuk pergi kesekolah. Sekarang hanya ada Fia dan Abay dimeja makan, sementara bi Nana sibuk mencuci piring dan perabotan didapur.

“Rumah ini ramai ya,” tutur Fia setelah selesai meneguk segelas air putih.

“Yah begini deh keadaan rumah tiap pagi, apalagi kalo Adya bangun telat pasti keadaan rumah jadi semrawut.”

“Lho kok jadi gitu?”  Tanya Fia penasaran.

“Iya. Soalnya kalo dia bangun telat, pasti bingung lari sana lari sini.”

“Adya tuh orangnya supel ya,” Fia beropini.

“Bener banget Fi. Aku bangga banget deh punya adik perempuan kayak Adya. Adya dari kecil emang kayak gitu. Orangnya cuek, suka banget ngomong dan nggak pernah pilih-pilih temen, makanya dari SMP sampe SMA dia jadi ketua OSIS. Selain itu dia orangnya cerdas banget, dia orangnya riang, suka bercanda, nggak cengeng, tegar, bawel, suka bercanda dan satu lagi suka iseng sama kakaknya sendiri juga Nday.”

“Nday?”

“Iya. Nday udah deket banget sama keluarga ini. Jadi keluarga ini juga deket banget sama dia, kami udah nganggap Nday juga bagian dari keluarga ini.”

“Oh… pantes kamu sama Nday akrab banget dikampus. Sampe-sampe…” Fia menghentikan pembicaraannya.

“Sampe-sampe apa?” Tanya Bay penasaran.

“Hm…apa ya…”

“Apa?”

“Kamu dibilang pasangan homreng,” celetuk Fia sambil tertawa karena tidak bisa menahannya.

“Hah…! ih kamu jahat ya!”

***

Kali ini Adya tidak telat kesekolah saat ada pelajaran pak Yudhis. Dirinya melihat jam yang melingkar ditangan kirinya, tepat pukul 06.45 WIB ia sampai didepan pintu gerbang sekolah. “Kok mendung ya,” tukas Adya saat sepintas melihat awan dipagi hari berwarna kelabu diikuti tiupan angin yang agak menusuk kulit.

Dirinya terus melangkah menuju kelas. Saat melewati perapatan koridor sekolah langkahnya berhenti. “Ada apaan sih kok dimading rame banget” gumamnya penasaran. Dirinya lekas menuju mading. Disepanjang jalan dirinya melewati ruang kelas X. Anak-anak kelas X yang masih ada diluar kelas memandangi Adya iba. Adya yang menyadari kalau dirinya diperhatikan menjadi risih dan merasa aneh. Kenapa anak-anak kelas X ngeliatin gue kayak gitu sih? tanya Adya dalam hati bingung.

Dirinya tidak menghiraukan pandangan aneh itu, perasaan yang masih penasaran akan keramaian disekitar mading terus bergejolak. Karena ramainya dilokasi itu, biarpun Adya sudah sampai didepan mading tetap saja mading yang luasnya hanya 1×1/2 m tidak bisa dilihatnya jelas karena kehalang oleh banyak kepala siswa yang juga menonton.

Adya bertanya kepada anak kelas X yang juga ikut melihat. “Sorry dek, ada artikel apa ya kok mading sampe serame ini?”

Seorang siswi kelas X yang ditanyai Adya hanya menggeleng-geleng kepala sambil ketakutan dan akhirnya kabur meninggalkan Adya.

“Yah, dek? Kok malah lari sih? Ih aneh!!!” Gerutunya kesal. Dirinya masih mencoba untuk menelusup masuk dikerumunan itu tapi sebelum dirinya menelusup tangannya sudah terdahulu digapai Keira.

“Hai Ad!”

“Eh-eh…” tanggap Adya saat tangannya ditarik oleh Keira. “Apaan sih lo tarik-tarik tangan gue? Sakit tau!” Omelnya terhadap Keira sambil memegangi tangannya yang responnya langsung memerah akibat genggaman Keira.

“Enggak kok. Gue cuma mau gandeng lo aja.”

“Sok akrab lo.” Adya langsung membalikkan badan lagi untuk ketempat sasarannya yaitu mading.

“Eh-eh Ad lo mau kemana?” Tanya Keira gugup.

“Ih lo kenapa sih Ke?”

“Lagian lo maen nyelonong aja kaya kucing.”

“Bukan gitu. Gue penasaran sama mading deh, kenapa sampe penuh gitu sih? Emang ada artikel apa?”

“Hai Adya madya nih pegang. Kita kekelas yuk!” Tiba-tiba Tyas datang diantara mereka dan menyodorkan satu susu kotak ketangan kanan Adya. Dirinya langsung menarik Adya untuk menuju kelas dan menghalang-halanginya untuk melihat mading.

Adya yang bingung dengan sikap kedua temannya itu langsung menghentikan langkahnya. “Lo berdua pada kenapa sih kok sikap lo berdua aneh sama gue? Terus gue mau liat mading aja dialang-alangin. Gue mau liat sebentar doang kok nggak lama.” Setelah Adya menjelaskan kekesalannya didepan kedua temannya, dirinya balik badan untuk melihat mading.

Keira dan Tyas hanyan diam, mereka bingung harus berbuat apa.

Adya yang sudah terlanjur emosi dengan sikap  kedua temannya langsung saja menyerobot masuk dalam kerumunan itu. Namun sebelum dirinya terlalu dalam menelusup, perlahan-lahan siswa yang mengerumuni mading memberikan jalan kepada Adya untuk melihat mading. Adya yang heran dengan sikap mereka tambah membuat Adya penasaran. Hatinya bertanya-tanya.

Tubuhnya kini berdiri tepat didepan mading. Betapa kagetnya Adya, mulutnya langsung terbuka lebar akibat kaget melihat apa yang ia lihat. Satu mading penuh berisi artikel dan foto tentang Edhu dan Naomi berada ditempat hiburan malam sambil bermesraan, tidak hanya itu ada juga foto-foto yang gambarnya mereka memasuki hotel dan memesan kamar dengan nomor 034.

Melihat semua itu Adya tidak tinggal diam. Ia menuju kelas XI IPA 2, kelas Yuna, ketua Sie Mading. Keira dan Tyas yang melihat reaksi Adya mengikutinya dari belakang.

Sesampainya dikelas XI IPA 2 Adya memasuki kelas itu dan langsung menghampiri Yuna. Yuna yang saat itu sudah ketakutan hanya bisa menunduk saat Adya menghampiri tempat duduknya.

“Yuna! Apa-apaan artikel yang lo pajang dimading!” bentak Adya.

“Ma…ma…”

“Mamamama. Apa?”

“Ma…maaf kak, Yu…Yuna juga ng…nggak tau,” jawab Yuna ketakutan.

“Nggak tau! Lo gimana sih? Lo kan ketua sie mading masa lo nggak tau?” marah Adya tambah menjadi-jadi.

“Yu…Yu…”

“Eh lo denger ya baik-baik! Ada mading disekolah ini bukan buat nempelin gosip ulung kaya gitu tapi lo tempelin informasi atau artikel yang mendidik!”

“Ad udah tenang!” Keira coba menenangkan Adya yang sedang khalaf.

“Lo juga! Lo nggak usah ikut campur!” Ketus Adya.

Keira kembali diam.

“Tapi Yuna nggak tau kak.”

“Lo masih bilang nggak tau! Lo kan yang pegang kunci mading!”

“E…emang Yuna yang pegang kunci mading kak tapi…”

“Apa???”

“Adya! Lo bisa sabar nggak sih!” Keira terus menenangkan sikap temannya itu.

“Tapi dua hari yang lalu Pak Yudhis minta kunci mading ke Yuna dan sampe sekarang kuncinya masih sama pak Yudhis. Yuna belum pegang kak!”

“Lo udah tau artikel pagi ini kan? Iya kan?”

“I…iya kak.”

“Jadi lo pikir pak Yudhis yang taro gambar-gambar seronok itu dimading?” Adya terus membentakin Yuna. “Sopan banget lo tuduh orang!” Adya reflek mendorong pundak Yuna sampai tubuhnya tersandar kebelakang.

“Ad kontrol emosi lo Ad!” Keira terus menenangkan Adya.

Adya masih larut dalam kemarahannya. Diambilah ponselnya, dibuka kontak yang ada didalam menu ponsel itu. Edhu, nama yang akan dihubunginya. Namun setelah dihubungi nomor yang ia tuju tidak aktif. Kemarahan Adya makin menjadi-jadi. Dipencetnya lagi kontak yang bernama Naomi, namun lagi-lagi nomornya tidak aktif. Digebraknya meja sampai siswa yang ada didalam kelas XI IPA 2 kaget.

“Kenapa Ad?” Tanya Tyas yang tadi juga ikut merasa kaget.

Adya tidak menjawab pertanyaan Tyas, dirinya melengos meninggalkan kelas XI IPA 2. diperjalanannya dari kelas XI IPA 2, menuruni anak tangga sekolah, hingga sampai parkiran sepeda motor Adya menjadi pusat perhatian semua murid.

“Adya lo mau kemana?” Tanya Keira dan Tyas yang setia untuk mengikutinya sampai parkiran.

“Gue mau kehotel!”

“Tapi Ad?”

“Eh, lo berdua denger ya! Kali ini lo jangan halang-halangi gue buat bertindak!”

“Tapi Ad keadaan lo lagi nggak stabil, kalo ada apa-apa dijalan gimana?”

“Itu urusan gue.” Adya menyalakan sepeda motornya lalu menaikinya dan keluar dari pintu sekolah.

Melihat keadaan Adya seperti itu, Keira dan Tyas tidak tinggal diam. Biarpun bel masuk sudah berbunyi mereka tetap mengikuti Adya. Tyas mengeluarkan kunci mobil dari kantong bajunya dan memasuki mobilnya bersama Keira untuk mengejar Adya.

Pintu gerbang yang hampir ditutup oleh pak Satryo diserobot saja oleh mereka.

“Si Adya jalannya cepat banget sih. Kita kehilangan jejak dia nih Ke?”

“Lo inget nggak nama hotelnya apa?”

“Em…” Tyas mencoba mengingat-ingat. “Iya gue inget Ke.” Tanpa banyak kata Tyas langsung memberitahu nama hotel yang semalam dipakai Edhu dan Naomi untuk check in.

“Kita bisa nanya-nanya kok sambil kejar Adya,” tanggap Keira.

Motor Adya melaju kencang menuju hotel tempat Edhu dan Naomi semalam check in. Dirinya sudah tau dimana lokasi hotel itu karena sering dilewatinya saat mau kekampus Abay memudahkannya untuk sampai disana. Sementara Tyas dan Keira, mereka yang belum tau dimana letak hotel itu kebingungan.

“Lo telpon siapa Ke?” Tanya Tyas sambil masih menyetir ditengah-tengah jalan yang padat merayap karena jam oarang berangkat kerja.

“Gue telpon Lefard. Gue mau minta tolong sama dia.”

“Emang dia tau?”

“Tau.”

“Tau?” tanya Tyas heran.

“Iya tau.”

“Kok?”

“Em…” keira tidak sadar kalau dirinya sudah keceplosan. “Ya maksud gue mungkin tau.”

“Tadi lo bilang tau, sekarang lo bilang mungkin tau. Maksudnya apa?”

“Ih…udah deh nggak usah banyak tanya! Gue kan jadi nggak jadi telpon Lefard!”

“Yaudah.” Tyas mengalah.

Keira akhirnya menghubungi Lefard, setelah telponnya diangkat dirinya langsung bilang kepada Lefard kalau Adya tau tentang kebusukan Edhu dan sekarang sedang menuju hotel tempat Edhu dan Naomi semalam check in.

“Iya gue tau kabarnya dari anak-anak disini,” jawab Lefard dari seberang.

“Lo tau alamat hotel itu? Gue sama Tyas lagi nyusul Adya tapi kita kehilangan jejak, kita juga nggak tau alamat hotel itu.”

“Lo tau kampus kakaknya Adya?” Tanya Lefard.

“Tau.”

“Dari pintu keluar kampus, lo lurus abis itu belok kanan, habis itu lo lurus terus sampe ketemu lampu merah, nah disitu lo belok kiri. Hotel itu tepat ada didepan jalan.”

“OK kalo gitu. Thanks ya Le.” Ditutupnya percakapan antara Keira dan Lefard setelah Keira tau dimana lokasi hotel itu berada.

“Dimana Ke?” Tanya Tyas.

“Nggak jauh dari kampusnya Abay.”

“Apa kita ngajak Abay sekalian?”

“Nggak perlu, dia nggak ada hubungannya.”

“Oya?” Tanya Tyas meledek.

“Eh jangan cari masalah baru deh!” Keira menyeletuk.

“Idih ngambek. Iya deh iya yang udah punya Lefard mah.” Candaan kecil dari Tyas membuat keduanya lebih merasa tenang dibanding sebelumnya saat mengejar Adya.

Motor Adya masih melaju kencang, dirinya tidak memperduliakan keadaan jalan yang sedikit macet. Posel yang ada dikantong bajunya berdering namun dirnya tidak sempat untuk mengangkatnya. Dirinya kini berhenti dilampu merah setelah melewati kampus Abay. Setelah lampu hijau menyala motornya belok kekiri dan langsung masuk ke parkiran hotel. Setelah dirinya memakirkan motornya, dirinya langsung masuk dan langsung ketempat informasi. “Mas maaf ya saya mau tanya, kamar 034 kosong?” Tanya Adya tenang menahan kegelisahannya.

“Oh sebentar ya Mbak.” Receptionist yang ditanya Adya mengecek loker dimana didalamnya terdapat kunci-kunci yang kamar hotelnya sedang kosong. “Kamar 034 terisi.”

“Maaf kalo boleh tau yang ada didalam kamar 034 atas nama siapa ya?”

“Sebentar.” Receptionist kembali mengecek dibuku daftar check in. “Disini atas nama Bapak Edhu.”

Deg. Jantung Adya berdebar hebat, namun dirinya masih menahan rasa sakit hatinya itu. “Oh gitu ya Mas. Kamar 034 ada dilantai berapa?”

“Maaf kalau saya boleh tau, Anda punya keperluan apa dengan pak Edhu?” Tanya Receptionist.

“Jadi Mas mau tau saya siapa? Saya pacarnya Edhu, dan semalam Edhu check in disini untuk mesum sama simpenannya, jadi saya mau mereka sekarang.”

“Maaf, Anda harus pergi dari sini karena nanti akan berujung keributan dihotel ini.”

“Oh tenang aja Mas, saya nggak akan bikin keributan. Saya malah mau pinjem security  hotel ini untuk mengawal saya. Jadi gimana, Mas bisa percaya sama saya?”

Setelah dipikir panjang oleh Reception, akhirnya Reception memperbolehkan.

Adya yang tidak mau membuang-buang waktu langsung saja memanggil security untuk menemaninya menuju kamar 034.

Tok…tok…tok… security  mengetuk pintu kamar 034.

Badan Adya gemetaran, jantungnya berdegub lebih kencang dibanding sebelumnya.

Pintu kamar perlahan terbuka.

Adya menatapnya tajam. Betapa kagetnya ia saat orang yang membuka pintu kamar itu adalah Edhu.

Ada perlu apa ya Pak?” Tanya Edhu sebelum pandangannya tertuju kearah Adya. “Adya???”

Kepalan penuh kemarahan langsung mendarat kepipi Edhu tanpa pandang bulu. “Bajingan lo ya!” Sungutnya.

Security yang masih ada disitu langsung memisahkan Adya dan Edhu.

“Tenang Pak, saya kan tadi udah bilang saya nggak bakal bikin keributan. Saya cuma mau kasih pelajaran sama cowok bajingan ini.

“Ad, ada apa sih? Kok tiba-tiba kamu pukul aku?”

“Ada apa Beib?” Tanya seorang perempuan dari dalam kamar.

Adya menunggu suara siapa yang sedang memanggil kekasihnya dengan sebutan ‘beib’. “Oh jadi bener lo semalem tidur sama dia?” Tegas Adya kepada Edhu setelah melihat bahwa perempuan itu adalah Naomi.

To Be Continue

Famodya :

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5

Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10

Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15

Part 16 (END)

 

 
Leave a comment

Posted by on August 21, 2011 in Cerita, Famodya

 

Tags: , , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: