RSS

FAMODYA (Part 7)

21 Aug

“Urusan saya udah selesai Pak,” tutur Adya menahan kesedihan. Dirinya berjalan menjauhi kamar 034 bersama security.

Edhu yang gelagapan karena ketauan tidur bersama Naomi berusaha mengejar Adya. “Ad, tolong dengerin penjelasan aku dulu Ad. Aku nggak tidur sama dia, dia baru dateng tadi pagi.”

Adya terus saja berjalan tanpa memperdulikan perkataan Edhu.

“Ad, denger dulu Ad. Lo salah paham!”

Adya masih terus saja berjalan menuju lift.

“Ad.” Edhu menggapai tangan Adya agar Adya mau berhenti.

Secepat mungkin Adya melepas genggaman Edhu. “Lo nggak usah usaha-usaha apa-apa lagi, semua udah jelas!”

“Tapi Ad, lo salah paham!”

“Pak, mending Bapak tanganin tamu Bapak yang satu ini, kerena dia membuat keributan dilingkungan hotel dan memaksa seseorang seenakknya!” setelah Adya menyerukan security, dirinya lekas memasuki lift dan dengan cepat berlari menuju parkiran motor sambil menahan agar air matanya tidak jatuh. Dinyalakan mesin motornya setelah dirinya memakai helm lalu cepat-cepat keluar dari lokasi hotel tersebut.

Keluarnya motor Adya bersamaan dengan datangnya mobil yang dinaiki Tyas dan Keira.

“Eh-eh Yas, itu Adya!” Keira menepuk pundak Tyas setelah matanya jeli melihat motor Adya melintas disampingnya.

“Mana?” Tanya Tyas sambil menolehkan kepalanya. “Iya itu motor Adya. Dia udah keluar, berarti dia udah sempet masuk hotel Ke. Kita masuk hotel, apa ngikutin Adya?”

“Ikutin Adya aja!” seru Keira. Keira mengambil ponselnya lagi, kali ini ia mengetik SMS untuk Lefard yang isinya Adya udh kluar dr hotel, kmgkinan dy udh ktmu Edhu. Skg gw sm Tyas ngkutin dy lg, mw prg kmn skg dy.’

“Lo ngetik apa Ke?”

“Nggak. Cuma bales SMS, tadi Lefard SMS gue.”

“SMS apa?”

“Cuma tanya ‘gimana’.”

“Oh.”

Didalam selubungan helm Adya menangis. Dirinya tidak pernah terpikir untuk menerima kenyataan seperti ini. Kekasih yang dicintainya setulus hati ternyata telah menyakitinya, kekasihnya yang sekaligus pacar pertamanya pun itu melakukan tindakan asusila sebagai seorang pemuda yang berprestasi. Dirinya tidak ada semangat untuk kembali kesekolah. Motor yang dikendarainya melewati jalan yang menuju rumahnya.

Sesampainya Adya digarasi rumah, diparkirkan motornya itu dengan kaki standart satu lalu berlari menuju pintu masuk. Ia terus berlari sambil menangis menuju kamarnya.

Bi Nana yang kaget karena pagi-pagi majikannya sudah pulang sekolah melapor kepada Fia yang saat itu tidak masuk kuliah. “Non, kok non Adya udah pulang ya Non. Udah gitu kayak orang lagi nangis,” tutur bi Nana saat berbicara kepada Fia.

Nangis? Kenapa ya Bi?” Tanya Fia kaget.

“Bibi juga nggak tau. Bibi belum sempet negur, soalnya larinya kenceng banget.”

Fia yang mendengar pernyataan bi Nana langsung panik dan berusaha kekamar Adya untuk mengetahui apa yang sedang terjadi dengan Adya. “Adya!” panggilnya setelah sampai didepan pintu kamar Adya.

Namun Adya tidak menjawab panggilan itu walau dirinya tahu kalau yang memanggilnya dari luar adalah Fia.

“Adya kamu kenapa?” Fia coba menganalisa. Namun tetap saja belum digubris Adya. “Adya, kamu boleh kok cerita sama aku! Masalah apapun kalau cuma kita sendiri yang tau dan tidak membiarkan orang lain tau tidak akan berujung dengan baik. Kamu akan memikulnya sendiri,” tutur Fia lirih dari balik pintu.

Mendengar kata-kata yang Fia katakan Adya bangkit dari tidurnya dan berniat untuk membuka pintu kamarnya. Namun sebelum ia membuka kunci kamarnya, di bawah ia mendengar mobil sedang parkir. Dilihatnya dari jendela. Honda Jazz warna merah berhenti disamping rumahnya. “Tyas,” gumamnya karena tau siapa pemilik mobil itu. Niat untuk membuka kunci pintu kamar dihentikannya.

“Kita mau masuk kedalem?” Tanya Tyas setelah keluar dari mobilnya bersama Keira.

“Iya lah, kita perlu tau keadaan dia.” Keira dan Tyas akhirnya masuk kerumah Adya lalu sesampainya didalam mereka bertemu dengan bi Nana.

“Eh Non Tyas sama Non Keira, kebetulan banget Non berdua dateng. Non Adya baru aja sampe rumah tapi langsung masuk kamar sambil nangis gitu,” tutur bi Nana sambil tergesah-gesah.

“Sekarang Adya mana?” Tanya Keira.

“Dikamar, dikunci pintu kamarnya.”

“Oh, yaudah makasih ya Bi!”

Mereka berdua menaiki anak tangga untuk menemui Adya, sesampainya dilantai atas mereka berpapasan dengan Fia. Mereka yang asing melihat Fia serentak kaget.

“Psst! Itu siapa ya?” Bisik Tyas ketelingan Keira.

Keira yang masih memerhatikan Fia belum sadar akan pertanyaan Tyas.

Fia yang merasa dirinya diperhatikan hanya memberi senyuman kepada mereka berdua.

“Eh…!” Tyas menepuk pundak Keira.

“Eh, apaan?”

“Lo kenapa sih? Gue kan tanya!”

“Itu siapa?” Keira berbalik tanya.

“Gue nggak tau,” celetuk Tyas.

Tok-tok… Keira mengetuk pintu kamar Adya. “Ad. Ini gue sama Tyas, lo bisa buka pintunya?”

Tidak ada jawaban dari dalam kamar.

“Gue tau gimana hancurnya hati lo. Tapi lo nggak sendiri, lo masih punya kita buat berbagi kesedihan lo!”

Masih tidak ada jawaban dari dalam kamar Adya.

“Ad, buka pintunya!!! Lo bisa curahin kesedihan lo sama kita!” sambung Tyas.

“Bruak…” Suara bola membanting pintu.

Serentak Keira dan Tyas kaget mendengar gubrakkan itu.

“Pergi!!! Lo semua sama!!!” teriak Adya dari dalam kamar.

Mendengar omongan Adya, Keira mengambil tindakan. “Ad maksud lo apa?”

“…”

“OK, mungkin maksud lo kita sembunyiin ini semua, tapi kita lakuin ini supaya lo nggak keganggu, supaya lo nggak sedih sama prilaku Edhu!”

“…”

“Ad, kita nggak mau lo sedih…”

“Pergi!!!” teriak Adya sambil menghantamkan kembali bola basketnya kerah pintu.

Keira dan Tyas akhirnya mengalah dan membiarkan Adya untuk menenangkan dirinya.

“OK, kita berdua pergi. Tenangin diri lo Ad dan kuatin diri lo! Kita sayang sama lo!” ucap keira sebelum akhirnya mereka berdua turun kelantai bawah untuk pulang.

“Gimana Non?” Tanya bi Nana.

“Gatot bi,” ucap Tyas lemas.

“Gatot?? Jadi Non Adya sedih gara-gara Gatot?” Tanya bi Nana kaget. “Kalo bibi ketemu orangnya, bakalan bibi cincang, dibejek-bejek, diiris-iris biar tau rasa. Jangan main-main sama bi Nana. Tapi non, gatot itu siapa?” Tanya bi Nana polos.

Keira dan Tyas yang mukanya kusut tiba-tiba tersenyum.

“Bibi…bibi… Bi, maksudnya gatot itu gagal total tau,” tukas Tyas.

“Gagal total,” bi Nana berpikir. “O… yaampun si Enon becanda aja deh. Kira bibi beneran gara-gara gatot.”

“Yaudah ya Bi ceritanya lain kali aja, kita berdua mau pulang. Da bibi!!!”

***

Cuara yang dari tadi pagi mendung akhirnya hujan. Hujan yang begitu deras sederas air mata Adya saat dirinya menangis dikamarnya. Dari mulai dirinya pulang kerumah sampai jam tujuh malam dirinya tidak berhenti menangis.

Suara telepon berdering dilantai bawah.

“Halo!” bi Nana mengakat telepon itu.

“Halo, bi Nana?”

“Iya.”

“Bi ini Abay, kayaknya Abay nggak pulang malem ini. Mobil Abay mogok dan sekarang masuk bengkel terus Abay malem ini tidur dirumah Nday. Sampein sama orang rumah ya Bi!” Seru Abay dari seberang diiringi suara deras hujan.

“I…iya Den. Ati-ati ya den!”

“Yoi, makasih ya bi.”

“Tut.” Percakapan keduanyapun berakhir.

“Eh Non Fia kebetulan lewat,” kata bi Nana saat melihat Fia lewat didepan dirinya.

“Kenapa Bi?”

“Barusan aja Den Abay telepon.”

“Terus?”

“Mobilnya mogok dijalan, terus dia malem ini nggak pulang, nginep dirumahnya Den Nday.”

“Oh, gitu yaudah makasih ya Bi.”

“Non, bibi udah siapin makan malem, silahkan makan Non, Bibi mau panggil Non Adya sama Non Evelyn dulu!”

“Bi, Adya belum keluar kamar dari tadi?”

“Kayaknya sih belom Non. Bibi juga bingung kenapa sama Non Adya hari ini. Tadi bibi taro nasi didepan pintu kamar non Adya tapi sampe sekarang makanannya nggak disentuh makanya bibi bawa turun.”

“Bi kalau nggak keberatan, biar saya aja ya yang panggil Adya buat makan malam, Bibi panggil Evelyn aja!”

“Oh…, iya Non.” Bi Nana langsung jalan menuju kamar Evelyn.

Fia yang berkata kalau dirinya saja yang memanggil Adya kini menuju kamar Adya. Sesampainya didepan pintu kamar Adya, Fia menyapa pelan-pelan. “Assalamu’alaikum! Ad, udah waktunya makan malam nih. Kamu kan dari siang tadi belum keluar kamar dan belum makan.

Tidak ada jawaban dari dalam kamar Adya.

“Adya!! Inget nggak tadi aku ngomong apa sama kamu? Dengan kamu berdiam diri gini masalah yang kamu hadapi nggak akan selesai, kamu bisa berbagi dengan orang lain sayang!!!”

“…”

“Kamu tetep kukuh ya Ad? Makan siang kamu yang ada dibawah pintu belum kamu makan dan sekarang udah waktu makan malam, masa kamu nggak makan kalo kamu sakit gimana?”

Fia berhenti berbicara sejenak dengan Adya, dirinya berpikir bagaimana membuat Adya tenang dan mau makan setelah itu bercerita dengannya. Setelah berpikir beberapa saat, suara Fia kembali bergema didepan pintu kamar Adya. “Adya, aku nunggu kamu buka pintu dan cerita sama aku. Aku juga nggak akan makam malam. Sekarang aku duduk didepan kamar kamu!” Tegas Fia. Dirinya mengambil kursi yang ada disekitar lantai atas dan menaruhnya tepat didepan kamar Adya. Dirinya menduduki kursi itu sambil menunggu Adya membuka pintu kamarnya.

Sampai jam sembilan Fia duduk didepan pintu kamar Adya sambil membaca buku salah satu materi kuliahnya. Namun yang ia tunggu masih belum memberi respon, pintu kamar Adya masih terkunci rapat hingga akhirnya Fia tertidur.

Pukul 04.30 Fia terbangun dari tidurnya. Sambil masih mengucek-ucek mata, dirinya langsung bergegas bangun dan mendekatkan telinganya disamping pintu kamar Adya setelah itu mencoba mengetuk pintu Adya pelan-pelan. “Assalamu’alaikum, pagi Adya! Bangun sayang, udah waktunya solat subuh nih. Mens kamu udahan belum?”

Namun tidak ada jawaban dari dalam kamar Adya.

Fia mengulang untuk mengetuk pintu kamar Adya namun hasilnya masih sama, Adya tidak memberi reaksi, kamarnya masih sunyi. “Adya, jangan sampai lupa sama Allah, apalagi kalau kamu punya masalah kayak gini. Lebih baik kamu sujud dihadapanNya dan mohon diberikan petunjuk!” melihat belum juga tidak ada reaksi dari dalam kamar Adya, Fia menggenggam daun pintu kamar Adya dan mencoba membukanya. Fia begitu kaget kalau pintu Adya tidak terkunci, dirinya masuk selangkah demi selangkah. Kepalanya tidak berhenti untuk menggeleng-geleng karena kamar Adya begitu berantakan. “Ya ampun Adya…” keluh Fia lirih. Dirinya begitu heran melihat sebuah kamar perempuan sekacau ini.

Mulai dari depan pintu sudah berceceran boneka Mc. Jordan juga bola basket, selanjutnya dilantai berserakan kertas-kertas yang isinya surat-surat cinta Adya bersama Edhu juga foto-foto saat mereka bersama ditambah dengan tisu-tisu bekas seharian Adya menangis selain itu juga ada selimut yang terjulur kebawah lantai bersamaan dengan seragam yang kemarin Adya pakai. Diatas ranjang, Adya masih tertidur dengan pulas.

Dengan pelan Fia duduk diranjang Adya dan mengelus alus dahi Adya. “Adya!” panggilnya lirih.

Adya yang masih tertidur pulas tidak merasakan belaian halus dari tangan Fia.

Fia yang begitu sabar masih terus mengelus dahi Adya sambil memanggilnya untuk bangun.

Adya yang terangsang oleh sentuhan halus Fia terbangun dari tidurnya.

“Hello Adya! Selamat pagi! Kamu udah bagun ya?” sapa Fia setelah melihat Adya membuka matanya sambil mengucek-ucekmatanya. “Yaampun mata kamu sembab banget Ad!” tutur Fia kaget setelah melihat kondisi mata Adya yang sebam karena terlalu lama menangis.

Adya masih sibuk untuk mengucek-ucek matanya sambil menguap dan mengulet.

“Kamu udah tenang?”

“Kak, maafin Adya ya kemarin Adya nggak mau buka pintu dan nggak mau cerita sama kakak.”

“Ya nggak apa-apa lah Ad, itu sih hak kamu untuk bercerita atau nggak, tapi sebaiknya kamu cerita sama aku kalau kamu punya masalah, nggak baik lho dipendam sendirian.”

“Adya terpuruk kak,” Adya bercerita sambil mengucurkan air mata kembali.

Fia yang melihat kucuran air mata itu langsung memeluk Adya supaya tegar. “Ada apa sama kamu?”

Adya menerima pelukan Fia dan dirinya memeluk kencang, kejadian seperti ini mengingatkan akan kejadian kemarin lusa saat Fia ketakutan karena hendak ingin diperkosa oleh Darus, saat dirinya merasa shock dan memeluk tubuh Adya erat. “Adya dikhianati kak,” tutur Adya sambil menangis tersedu-sedu.

“Siapa yang mengkhianati kamu?”

Adya tidak kuat untuk bercerita dan ia melanjutkan untuk menangis.

“Ad, kamu tenangkan pikiranmu dulu, jangan kamu bercerita saat kamu tidak bisa menahan tangisanmu!”

Mendengar perkataan Fia, Adya mengendalikan emosinya untuk tidak menangis, dirinya memulai membuka ceritanya didalam dekapan Fia, “Edhu.”

“Siapa Edhu?”

“Edhu itu pacar Adya kak, dia jahat banget sama Adya. Masa dia selingkuh sama temen Adya sendiri dan itu udah berlangsung lama. Dan yang bikin Adya sedih dan hancur mereka semalem tidur satu kamar dihotel…” Adya kembali menangis.

“Ssst…, kamu tenang ya sayang!”

“Kak, Adya sakit banget, Edhu itu pacar pertama Adya, dia juga udah jadi tunangan Adya tapi dia jahat banget sama Adya, die tega sama Adya. Kak, Adya kesel…kesel… banget sama Edhu…”

Fia yang mendengar curhatan Adya merasa terharu sekaligus kaget. “Ini sosok Adya yang dibilang Abay tegar, nggak cengeng, nggak gampang nangis? Ini sosok Adya yang dibilang cuek dan nggak terlalu mikirin pacar?” pertanyaan itu terus mengelilingi dipikiran Fia. “OK, kamu hanya cukup untuk bersabar dan bisa menerima semuanya dengan lapang dada. Edhu mungkin bukan jodoh kamu, dan karena Allah sayang sama kamu jadi Dia memisahkan kamu saat status kamu tunangan, coba kalau kamu sudah menikah? Kamu pasti tambah hancur, iya kan?”

Adya mengangguk.

“Ini sudah menjadi hukum alam, setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan namun cara-caranya berbeda. Yang kamu alami sekarang adalah sisi pahit dalam perpisahan kamu.” Fia melepas pelukan Adya dan mencoba berbicara dengannya dengan cara face to face, “Ad, liat mata aku! Jalan hidup kamu masih panjang, jangan kamu rapuh karena pengalaman pahitmu. Kamu harus bangkit. Coba liat keadaan kamu sekarang, kamu kusut, berantakan, rapuh dan malas untuk kesekolah. Apa itu keadaan yang baik? Tidak Ad, kamu paasti dianggap semua orang sebagai orang yang kalah, orang yang lemah. Tunjukkan kesemua orang kalau kamu kuat, kami masih bisa berdiri dan tetap berdiri tegap!”

Adya melongo sendiri mendengar perkataan Fia, ia terkesima oleh ucapan wanita cantik itu, kata-katanya sangat menyejukkan jiwa dan memberi semangat penuh kedalam hidupnya yang sempat mati.

“Come on Adya!!! Wake up!!!”

“Iya!!! Adya bakal bangun… Adya nggak bakal sedih, nggak bakal nangis dan nggak kalah sama rasa sakit hati Adya!!!” Tutur Adya penuh semangat.

Fia tersipu melihat Adya begitu antusias. “Gitu dong. Inget kata-kataku tadi! Kamu masih muda dan perjalanan hidup kamu masih panjang jadi jangan menyerah saat baru start untuk menghadapi kehidupan yang sebenarnya ya!”

Adya menganggukan kepalanya. Didalam hati ia berkat, “apa yang dibilang kak Fia emang bener, buat apa gue nangis gara-gara cowok brengsek itu? Nggak ada untungnya. Gue harus bangkit dan jangan sedih.” Kemudian dirinya bercakap sangat antusia disamping Fia. “Okeh… Adya harus bisa!!! Adya nggak boleh sedih dan terpuruk terus, tapi belajar dari keadaan ini. Iya nggak Kak?”

Mendengar kata-kata yang diucap Adya, fia tersenyum lebar. “Ini benar-benar cover Adya yang dibilang Abay, semangatnya yang luar biasa tinggi,” tukas Fia dalam hati.

“Lho kok malah Kakak diem aja sih? Kasih semangat dong!” tegas Adya saat melihat Fia hanya meresponnya dengan senyum.

“Ah…nggak kok. Duh Aku jadi seneng deh dengernya. Kamu semangat ya sayang!” Tanggap Fia.

Mereka lalu ralut dalam kegembiraan. Hingga Adya tersadar akan keberadaan kakak laki-lakinya.

“Eh Kak, ngomong-ngomong si Abay kemana kok Adya nggak denger suara dia dari kemaren sih? Wah bener-bener deh, dia nggak perhatian sama adeknya.”

“Makanya Non kalo sedih jangan berlarut-larut! Kamu nggak tau kan kalo semalem kakakmu nggak pulang.”

“Nggak pulang? Emang kemana dia?” Tanya Adya heran.

“Semalem hujan deras banget kan?”

“Em…,” Adya coba mengingat. “Emang ujan ya?” Lalu ia bertanya karena tidak begitu yakin apakah semalam hujan deras.

“Idih kamu emang nggak tau Ad? Semalem itu ujan hujan deras banget.” Fia menyakinkan.

“Terus Abay nggak pulang gitu?”

“Iya. Mobil dia mogok, terus dia bilang mobilnya dimasukin bengkel dan Abaynya milih nginep dirumah Nday.”

“Yah…nggak jauh deh. Ujung-ujungnya Nday. Dasar pasangan homreng,” Ledek Adya untuk Abay.

“Eh kok gitu sih sama kakak sendiri. Emang dia nggak normal? Nggak suka gitu sama perempuan? Emang selama ini dia nggak punya pacar ya?” Reflek Fia bertanya dengan antusias.

Adya yang tadinya cengengesan menertawakan Abay tiba-tiba berubah wajah menjadi serius setelah mendengar pertanyaan Fia. “Pacar?” Tanyanya balik dengan nada serius.

“Iya. Aku nggak pernah liat ataupun dengar kalo Abay punya pacar. Dia emang nggak punya pacar?”

“Abay normal kok. Sama kayak cowok-cowok yang lain, tapi kalo ditanya pacar emang selama ini dia nggak punya pacar.”

“Kenapa?”

“Abay belum bisa ngelupain dan ngegantiin Ninda dihatinya.”

“Ninda? Siapa?” Begitu antusiasnya Fia bertanya tentang sosok Abay sehingga membuat Adya yakin untuk bercerita.

“Ninda itu pacar pertama Abay. Mereka satu sekolah bahkan satu kelas saat mereka duduk dibangku SMP kelas 3. karena saling cintanya, waktu SMA mereka satu sekolah dan satu kelas lagi. Mereka bener-bener serasi, Ninda itu orangnya cantik, baik, kalem, lembut dan nggak neko-neko. Dia juga sangat perhatian banget sama Abay, tiap latihan basket Ninda selalu liatin Abay, tungguin Abay sambil pegangin tas, handuk dan tempat air minum Abay, nunggu sampe latihan selesai dan akhirnya pulang bareng. Waktu Abay tanding juga gitu, Ninda selalu sempetin nonton distadion.”

Adya bercerita begitu seru sehingga Fia mendengarkan sangat seksama.

“Cuma sayangnya hubungan mereka berakhir.”

“Kok bisa berakhir? Mereka kan kata kamu serasi?” Tanya Fia heran.

Adya yang melihat respon Fia sangat antusias akhirnya meneruskan ceritanya. “Itu yang membuat Abay merasa sedih dan sampe sekarang belum ada niat untuk mencari pacar baru untuk menggantikan Ninda. Pas kelas 2 SMA, Ninda pernah nggak masuk karena dia demam, dia izin sakit selam 3 hari. Tapi sayang, Abay nggak sempet jenguk dia karena bertepatan minggu kompetisi basket se-DKI dan bener-bener nggak bisa ditinggal. Dia cuma bisa tau keadaannya lewat telepon. Setelah 3 hari Ninda nggak masuk, Ninda kembali masuk sekolah lagi tapi keadaannya berubah drastis. Dia sering diem disekolah sambil menggigil kedinginan. Disitu Abay juga belum bisa kasih perhatiaanya karena sibuk dengan urusan OSIS. Dia cuma bisa temenin Ninda makan siang sambil minum sisa obat Ninda. Dua hari kemudian sebelum pelajaran pertama mulai Abay dipanggil sama Bu Adriani, beliau guru Kimia, beliau menunjuk Abay untuk mewakili sekolah mengikuti olympiade sains karena beliau tau kalo Abay mampu untuk ikut. Abay pun menyetujui permintaan Bu Adriani yang terkesan sangat mendadak. Sebelum berangkat, sebenernya dia pengen banget pamit sama Ninda dan minta doa Ninda supaya sukses, tapi nggak tau kenapa pas hari itu Ninda dateng siang. Jadi saat Abay berangkat untuk ketempat berlangsungnya olympiade Ninda tetap belum sampe sekolah. Abay sempet bilang sama Adya kalo dia ngerasa berat untuk ninggalin sekolah sebelum ketemu Ninda, dan ternyata firasat dia bener. Jam setangah delapan Ninda baru sampe sekolah. Karena keadaan Ninda yang lagi sakit, satpam mengizinkan Ninda untuk tetap masuk dan mengikuti pelajaran. Tapi belum juga Ninda sampe kelas, tiba-tiba Ninda menggigil kedinginan sambil berteriak. Karena mendengar rintihan yang lumayan kencang, teman-teman sekelasnya keluar untuk menengok. Setelah ditengok Ninda sudah tergeletak pingsan. Badannya tiba-tiba biru dan dingin banget. Ninda langsung dibawa kerumah sakit. Sampai dirumah sakit. Ninda langsung dirawat diICU karena keadaannya kritis. Pihak sekolah dan teman-teman Abay belum bisa ngubungin Abay karena takut mengganggu konsentrasi Abay, setelah Olympiade selesai Nday langsung telepon Abay dan bilang Ninda kritis. Abay begitu kaget.” Adya menuturkan dengan keadaan mata yang berkaca-kaca. Dirinya sejenak menarik nafas sambil berusaha menahan air mata jatuh ke pipinya, setelah itu ia melanjutkan ceritanya. “Abay sangat merasa bersalah karena tidak memperhatikan Ninda dan sering meninggalkannya. Selama ninda dirawat, Abay tidak pernah pulang kerumah dan sekolah. Dia hanya berada dirumah sakit sambil menemani Ninda.”

“Berapa hari Ninda dirawat di ICU?” tanya Fia lirih.

“Tiga hari, dan hari terakhirlah Ninda bisa sadar. Dihari itu mereka berdua saling bicara melepas kerinduan mereka. Dihari itu juga mereka terakhir berbicara…”

“Maksudnya?” Fia langsung memotong pembicaraan Adya.

Adya menanggapi pertanyaan Fia, “Maksudnya Ninda meninggal dihari itu. Dokter memvonis Ninda mempunyai penyakit lemah jantung dan pada saat Ninda menggigil kedinginan, pembuluh darah ditubuhnya mengalami penyempitan sehingga sistem transport dalam darahnya terganggu.”

Fia tercengang mendengar cerita Adya. “Aku nggak pernah menyangka masa lalu Abay menyedihkan seperti itu Ad.”

“Abay begitu terpuruk, dia menyesali dirinya sendiri karena saat Ninda masih ada dia tidak pernah selalu bersamanya. Abay selalu saja sibuk dengan masalah sekolah dan organisasinya sampai  jarang meluangkan waktu untuk bersama Ninda. Makanya karena dia trauma atas kejadian itu sampe sekarang Abay nggak pernah ikutan acara-acara atau organisasi yang diselenggarakan dikampusnya.”

“Iya, aku sempat perhatikan kalau Abay jarang aktif dikampus.”

“Ya begitu deh kak. Sampe sekarang juga Abay nggak pernah punya pacar dan lebih memilih dengan kesendiriannya.”

Fia hanya bisa diam. Dirinya berkata, “Jadi dibalik kesendiriannya ada sepenggal kisah yang tidak bisa dilupakan Abay.”

***

Rabu pagi yang cerah secerah hati Adya yang tidak sabar untuk berangkat kesekolah dan menerima pelajaran-pelajaran yang sempat tertinggal.

“Hai! Pagi semua!” Sapa Adya dengan gembira saat dirinya menuju meja makan.

Semua mata memandang heran. Kemarin Adya sangat murung dan terpuruk tapi sekarang dirinya semangat untu menghadapi hari.

“Eh Non Adya! Semangat amat ya pagi ini!” Sapa balik bi Nana.

“Iya Ad. Kerasukan setan apa lo semalem?” Canda Abay yang sudah duduk dimeja makan.

“Yeh…siap sih lo?? Adenya sedih malah nggak pulang,” tanggap Adya sambil mencibirkan bibirnya kesal.

“Eh Adya nggak usah dibahas lagi dong!” sambung Fia yang sibuk menyiapkan sarapan bersama bi Nana.

“Habis…kakak macem apa tuh? Masa mentelatarkan adenya begitu aja sampe nggak ada yang ngurus.”

Abay hanya mesem.

“Huh…ketawa lagi lo!! Untung ada Kak Fia.”

“Hehe…iya deh sorry-sorry. Adeku sayang kenapa sih?” gurau Abay.

“Basi!!!”

Lalu Abay tertawa geli melihat Adya yang begitu kesalnya karena tingkahnya.

Setelah selesai sarapan Adya bergegas untuk berangkat kesekolah dengan mengendarai motor kesayangannya. Sampainya disekolah dirinya memarkirkan motornya dan berjalan menuju kelas. Saat dirinya berjalan dikoridor tidak sedikit siswa disekolah TP memandanginya sambil berbisik bersama teman disampingnya. Maklum, dua hari yang lalu gossip besar beredar untuk kekasihnya yaitu Edhu. Namun dengan semangat baru, Adya tidak memperdulikan dan tetap berjalan menuju kelas dengan cuek. Sesampainya dikelas, ia langsung berjalan menuju tempat duduknya lalu menaruh tas selempangnya diatas meja.

Keira yang telah datang duluan kaget melihat bahwa sahabatnya sudah masuk sekolah lagi. Ia pun menyambar Adya, “Hai! Gimana kabar lo?” dengan suara agak pelan. Dirinya takut Adya masih marah dan sensitif dengannya.

Adya yang sibuk merapikan bangkunya lalu memalingkan wajahnya sejenak untuk melihat siapa yang menyapanya pagi ini. Ia pun tersenyum melihat bahwa Keira lah yang menyapanya barusan. “Hai juga Non! Lo liat dong gue sekarang? Bae-bae aja kan?” tanggap Adya renyah.

Melihat respon Adya yang tidak aneh, Keira pun ikut tersenyum. “Syukur deh bu… Eh sombong banget sih lo sama gue!” balas Keira sambil duduk disamping tempat duduk Adya.

“Iya deh… maafin gue ya Ke, waktu itu gue udah marah-marah sama lo dan Tyas udah gitu ngusir lo waktu lo berdua kerumah gue.”

“Oh… yaudah sih nggak usah dipikirin! Gue tau kok situasinya kayak gimana, makanya sikap lo begitu sama gue dan Tyas.”

“Yah gitu deh.”

“Trus lo sama Edhu sekarang gimana?” Keira mencuri pertanyaan terpenting ditengah pembicaraan yang santai.

Adya tertegun seketika.

Keira masih terjaga untuk menunggu jawaban Adya.

“Oh… dia. Lo bisa pikir sendiri lah. Masa iya gue harus pertahanin hubungan sama dia, nggak mungkin kan?”

“Iya sih. Terus Edhu punya usaha apa setelah lo tau perbuatan dia?” Keira bertanya lebih mendalam.

“Bajingan kayak dia gampang aja lah untuk kehilangan gue. Dia sama sekali nggak punya usaha apa-apa, dia juga nggak hubungin HP atau telepon rumah gue.”

“Hah…??? masa sih Ad???” Tanggap Keira kaget setelah mendengar bahwa Edhu ternyata tidak berusaha untuk meyakinkan Adya.

“Udahlah nggak usah ngomongin dia, nggak penting banget,” tukas Adya dengan tampang enegnya.

Mendengar ucapan dan raut wajah Adya, Keira merasa untuk tidak memperlebar pertanyaanya lagi lalu berusaha mengalihkannya. “Tyas mana ya, biasanya dia gini hari udah sampe sini. Gue mau kasih tau kalo lo sekarang udah masuk sekolah lagi.”

“Iya nih, gue kangen deh sama mulut comelnya dia.”

“Yah lo mah kangennya sama Tyas doang sih, masa sama gue nggak?”

“Hm… ngiri deh. Iya-iya gue juga kangen lagi sama lo Ke. Lo berdua kan sahabat gue.”

“Duh jadi terharu gini gue Ad,” canda Keira.

“Ah lebay lo!”

Mereka berdua asik tertawa sambil terus ngobrol sampai bel masuk sekolah berbunyi.

“Adya udah mulai masuk sekolah lagi Ke?” Tanya Lefard saat mengetahui kursi yang diduduki Adya tidak kosong lagi untuk hari ini.

“Ya lo liat aja sendiri!” Jawab Keira sambil mengeluarkan buku pelajaran untuk jam pertama.

Kemudia pandangan Lefard terus tertuju kepada Adya. Matanya masih kosong, dia berusaha untuk menyembunyikan tapi ternyata gue bisa baca perasaan dia, gumam Lefard dalam hati.

Bel istirahat berdering, Adya yang sudah tidak bisa menahan rasa untuk buang air kecil langsung saja menyerobot keluar kelas setelah guru yang mengajar sebelumnya keluar.

 “Aduh, dikelas ACnya dingin banget sih, gue jadi beser gini,” celoteh Adya sambil berlari menahan rasa kebeletnya itu. “Huff…akhirnya lega juga,” tukasnya setelah berhasil mengeluarkan sesuatu yang urgen dalam tubuhnya. Ia pun hendak keluar dari toilet dan hendak menukmati waktu istirahatnya. Namun saat dirinya keluar langkahnya terhenti karena sikunya ada yang menggapai. Adya langsung memalingkan wajahnya untuk mengetahui siapa yang berani untuk menahannya. Mata yang tadinya biasa-biasa saja ukurannya kini berubah menjadi belo, dirinya tidak menyangka bahwa yang menahannya adalah Edhu.

“Ad, kita perlu bicara?” Tegur Edhu.

Adya berusaha untuk melepas genggaman Edhu. “Heh! Mau apa lagi lo?” Sungut Adya.

“Ini semua nggak seperti yang kamu bayangin.”

“Eh asal lo tau ya gue nggak mau lagi denger penjelasan apapun dari lo. Semua udah amat sangat jelas, terbukti dan bisa gue lihat sama mata gue sendiri,” tanggap Adya tambah marah.

“Tapi…” Edhu masih berusaha.

“Udah! Nggak ada tapi-tapi deh… gue nggak mau denger apapun dari lo. Dan lo harus inget kalo hubungan kita sekarang udah putus!!”

“Tapi Ad…”

“Lepasin tangan gue! Lo mending urusin cewek baru lo itu!” Adya memberontak hingga akhirnya bisa melepaskan genggaman Edhu. Ia pun dengan cepat berjalan untuk menghindari Edhu. Niat untuk makan saat jam istirahat pupus, dirinya tiba-tiba kembali kacau hingga akhirnya memutuskan untuk kembali kekelasnya saja. Sambil menahan air mata, Adya berjalan dengan menundukkan kepalanya. Sesampainya dikelas ia pun langsung duduk ditempatnya sambil masih menundukkan wajahnya.

Lefard yang saat itu masih berada didalam kelas memperhatikan gelagat Adya. Ia pun hendak mendekatinya. Saat berada persis dibelakang tubuh Adya, ia merasakan helaan nafas Adya yang masih terengah-engah. “Kenapa lo?” Tuturnya.

Sedikit kaget dengan pertanyaan Lefard sampai ia spontan menaikkan pundaknya karena kaget. “Kenapa?”

“Kok malah ganti tanya gue. Kenapa lo ngos-ngosan gitu?”

“Bukan urusan lo!”

Ilfeel ya?”

“Maksud lo?” Adya memutar kepalanya ke arah Lefard.

Lefard tidak menjawab, dirinya hanya mencibirkan mulutnya sambil meringis tipis.

“Eh leher kuya, gue kasih tau ya sama lo. Gue ngak bakal ilfeel sama hal-hal kayak gitu!”

“Biasa aja kali nggak usah nyolot gitu!” Tanggap Lefard dengan gaya santainya.

Adya yang merasa dilecehkan merasa tidak senang, kemarahan yang daritadi  panas akhirnya memuncak. “Lo tu ya. Nyebelin banget sih lo jadi orang. Udah deh lo nggak usah ikut campur urursan gue, siapa sih lo!”

“Dasar cewek. Sekuat-kuatnya cewek, secuek-cueknya cewek dan setegar-tegarnya cewek kalo putus cinta pasti nangis.”

Adya mengerutkan alisnya. “Jangan seenak jidat lo ya ngjudge cewek!”

“Lho…fakta kan? Buktinya didepan mata gue sendiri.”

Adya yang merasa kalau ia tadi sempat meneteskan air mata jadi salah tingkah. “Si…siapa yang nangis? Eng…nggak kok. Lo nya aja yang hiperbola sama gue. Lo inget ya, gue nggak bakal nangis cuma gara-gara putus cinta. Lagian kayak nggak ada cowok laen deh di dunia ini mesti tangisin dia.”

“Alah, yang bener??” Ledek Lefard.

Adya semakin salah tingkah. “Perlu bukti apa lo kalo gue ngomong bener?” Tantang Adya.

Lefard tertawa lebar menanggapi respon Adya. “Bener lo mau terima tantangan gue?”

“Boleh. Siapa takut!” Adya menerima mantap.

“Gue denger lo jago ngetrek. Gue pengen tau, apa lo bisa konsen dengan keadaan lo sekarang.”

“Yah, itu tantangan lo? Kecil,” tanggap Adya remeh.

“Weits…yakin lo?” Tanya Lefard menyepelekan Adya.

“Lo nyepelein gue? Kapan lo mau tantang gue?”

“Besok malem!”

“OK. Siapa takut. Gue terima tantangan lo.”

Mereka akhirnya menyepakaki tantangan itu. Adya yang tadinya sedih kembali bersemangat. Sambil menunggu bel masuk Adya asik main game diponselnya.

“Lo nggak istirahat Ad?” Tanya Bagas sesampainya dari kantin.

“Lagi nggak mood.”

“Oia tadi gue ketemu bu Anas. Dia nyariin lo Ad.”

“Kenapa bu Anas nyariin gue? Perasaan gue nggak buat iseng deh hari ini.”

“Yeh bukan itu. Tapi masalah absen.”

“Oh…” Adya mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti.

“Lo kan dua hari nggak masuk terus alpha makanya lo mau dikonfirmasi. Nanti abis pulang sekolah lo keruang BP dulu ya!”

“OK deh.”

Sehabis percakapan mereka selesai, masuklah langsung guru fisika. Pelajaran pun berlangsung hingga jam terakhir.

“Makasih ya Bu,” ucap Adya sebelum meninggalkan ruang BP. Masalah dengan bu Anas pun sudah selesai dan Adya pun bergegas ketempat parkiran motor untuk pulang. setelah atrubut selesai dipakai barulah Adya menyalakan motornya dan berjalan kepintu gerbang untuk pulang.

Saat dirinya melewati taman dilihatnya segerombolan laki-laki berperawak besar sedang bergerumun ditengan taman. Tadinya Adya tidak bergitu menghiraukannya tapi setelah matanya tertuju pada motor model racing berwarna hijau yang sangat ia kenal ia langsung memberhentikan motornya sejenak dan menerawang apa yang dikerumunin orang-orang itu. Setelah dilihat secara jelas ternyata terjadi pengeroyokkan ditengah sana dan korbannya adalah sipemilik motor hijau itu yang tidak lain adalah Lefard. Adya yang kaget sekaligus panik langsung mematikan motornya dan berlari mendekati tempat itu, tak pandang bulu takut dan sebagainya. “Woi!! Apa-apaan nih?” Teriak Adya.

Salah satu laki-laki yang mendengar suara Adya langsung memalingkan pandangannya dengan raut sangar. “Mau ikut campur lo?” Tantangnya.

“Oh ini yang tempo hari ngeroyokin dia? Heh lo tuh ya beraninya kroyokan!”

“Eh cewek berani banget lo sama kita-kita!”

“Ngapain gue takut sama lo!”Adya balik menantang.

Segerombolan laki-laki bertubuh besar pun akhirnya terpancing oleh kata-kata Adya, mereka geram dan ingin menyerang Adya.

“Adya lo gila ya!” Teriak Lefard yang tidak kuasa saat Adya ingin diserang.

Deg! Adya langsung deg-degan. Dirinya sebenarnya juga masih takut kalau harus menghadapi mereka sendirian tapi karena keyakinannya akhirnya ia berani dan siap mengambil ancang-ancang untuk menghadapi mereka. Duh mampus gue..masa gue ngadepin lima orang sekaligus, yang ada gue juga ikut babak belur. Adya panic dalam hati.

Berjalan dengan gaya algojo, mereka perlahan menghampiri Adya. Belum juga menyerang, salah satu ponsel milik mereka berdering. Si pemiliknya pun mengangkat sambil bicara berbisik-bisik. Ini yang membuat Adya menjadi bingung dan penasaran.

“OK bos!” Kata terakhir sebelum percakapan mereka selesai. “Kita pergi, nggak usah ladenin cewek ini!” Serunya kepada yang lain sambil memutar tubuhnya untuk meninggalkan Lefard dan Adya.

“Lho kok tiba-tiba pergi habis terima telpon?” hati Adya bertanya-tanya. Tubuhnya masih terdiam namun matanya mengikuti kemana arah segerombolan itu pergi. Dirinya penasaran dan berniat untuk mengikutinya namun saat melihat Lefard langkahnya terhenti. Ya ampun dia babak belur begitu, gumamnya dalam hati. Merasa tidak tega untuk meninggalkannya Adya lebih memilih membantu Lefard. “Eh lo nggak apa-apa?” Tanya Adya panik.

Belum juga Lefard menjawab dirinya keburu pingsan karena tidak kuat menahan sakit.

“Eh? Leher kuya? Kok lo malah pingsan sih?” Adya tambah panik saat melihat Lefard pingsan didepannya. “Eh bangun dong lo! Duh kalo anak-anak ada yang ngeliat lo kayak gini gue pasti yang dituduh ngajar lo.” Adya bingung sendiri, dirinya menepuk-nepuk pipi Lefard supaya bangun. “Duh…kuya!! Bangun kek lo!!”

Kemudian sebuat taksi melewati taman. Adya yang melihat taksi itu kosong langsung menyetopnya. “Taksi-taksi!”

Si pengemudi taksi mendengar seruan Adya dan membelokkan setirnya untuk mendekati Adya dan Lefard. Setelah diparkirkan, pengemudinya turun dan menghampiri Adya. “Bisa saya bantu Neng?”

“Iya nih bang.”

“Astaga!!! Neng temen Neng kenapa?”

“Dikeroyok tadi Bang,” jawab Adya sambil menggerogohi isi tas Lefard. “Duh mana sih dompetnya,” ucapnya panik. “Bang tolong dong gerogoh kantong dia, cari dompetnya terus ambil KTPnya, liat alamatnya dimana!” Seru Adya kepada sopir taksi.

Sopir pun membantu mencarikan dompet Lefard. Setelah menggerogoh kantong celana bagian belakang, sopir taksi pun menemui dompetnya. “Ini dia dompetnya Neng.”

“Mana?” tanggap Adya. “Yaudah Bang, anter kita kerumah dia aja! Ayo bang, bantu saya angkat dia!”

Setelah Lefard berada didalam taksi, Adya kembali keluar untuk mengambil tas Lefard dan kunci motornya. Setelah semuanya diboyong kedalam taksi, Adya menyuruh sopir untuk membawa Lefard kealamat rumahnya dan Adya memilih mengikuti dari belakang dengan motornya sendiri.

Tak jauh dari taman, sepasang mata memerhatikan mereka dari dalam mobil dengan pesaraan geram. Edhu merasa belum puas untuk menghajar Lefard sebab Adya keburu datang dan menyelamatkan Lefard.

***

Taksi berhenti tepat didepan rumah Lefard. Adya yang berada dibelakang ikut memberhentikan motornya dan turun untuk membantu Lefard memasukiu rumah. “sebentar ya Bang, saya coba panggil orang rumah buat bantu angkat dia,” tutur Adya dari balik jendela. Lalu ia bergegas kedepan pintu rumah Lefard. Tangannya mengetuk pintu rumah Lefard

“Iya sebentar!” Seru dari dalam. Suara bukaan kuncipun terdengar dan pintu terbuka. “Ada apa ya?” Tanya seorang Bapak yang membukakan pintu.

“Misi Pak! Ini bener rumahnya Lefard?”

“Iya.”

“Yaudah, Bapak ikut saya sekarang!” Adya spontan menggapai tangan Bapak itu untuk ikut dengannya.

“Eh..eh..kok maen tarik-tarik tangan saya sih? Kenapa emangnya?” Tanya Bapak itu bingung.

Adya tidak menjawab sebelum dirinya memperlihatkan bahwa majikannya babak belur. “Buka pintunya Bang!” Seru Adya kepada sopir taksi. “Ini Pak!” Adya memberitahu kepada Bapak yang tadi ditarik tangannya.

“Astagfirullah! Den Lefard!!” Tanggap bapak itu kaget melihat majikannya tertidur pingsan sambil berlumuran darah. “Kenapa Den Lefard Non?”

“Ceritanya nanti aja ya Pak. Sekarang bantu sopir taksi ini bawa dia kedalem!”

“I…iya.”

Setelah Lefard dibawa masuk kedalam, Adya mengurus pembayaran jasa taksi diluar dan setelah itu menuntun motornya untuk masuk kedalam rumah Lefard. Kemudian dirinya masuk kembali kedalam rumah Lefard.

“Non kita bawa kekamar Den Lefard aja ya!”

“lho kok tadi nggak sekalian dibawa kekamarnya aja sih Pak?”

“Tadi saya panik Non, jadi saya suruh tidurin disini aja jadinya.”

Adya mencibirkan bibirnya. “Yaudah deh.” Dengan respon agak kecewa Adya membantu Bapak itu untuk membawa Lefard kedalam kamar.

“Sebenarnya kenapa Non sama Den Lefard?” Tanya Bapak itu kembali sambil menata bantal untuk Lefard.

“Dia tadi habis dikeroyok sama preman Pak.”

“Lho kok bisa? Perasaan Den Lefard nggak punya musuh deh Non.”

Hm…perasaan Bapak aja kali. Jangan cari jauh-jauh deh Pak, gue ini sebenernya juga musuhnya, tutur Adya dalam hati.

“Den Lefard tuh kalau udah pulang sekolah nggak pernah kemana-mana, dirumah aja. Gimana dia punya musuh dan sampe dikeroyok gini?”

“Yah saya juga nggak tau Pak.” Jawab Adya sekenanya.

“Oiya Non, jangan panggil saya bapak, panggil aja mang Jajat! Den Lefard dari kecil udah biasa panggil saya mamang. Maaf nih Non, kalau boleh tau nama Non siapa?”

“Dari kecil? Katanya Lefard pindahan dari New Zealand?” Batin Adya. Dirinya diam seketika sebelum akhirnya menjawab pertanyaan mang Jajat. “Adya,” Adya menyodorkan tangan kanannya. “Oiya Mang, kayaknya udah sore nih. Adya pamit pulang ya!”

Mendengar kata pamit Lefard membuka matanya. Kebetulan posisi Adya membelakangi Lefard sehingga ia tidak mengetahui bahwa Lefard telah sadar. Dan yang melihat bahwa ia sudah sadar adalah mang Jajat.

Mang Jajat yang melihat Lefard sudah sadar langsung memfokuskan pandangannya kearah Lefard.

“Jangan izinin pulang dulu,” Lefard berkomat kamit sambil memberi isyarat dengan bahasa tubuh.

Mata mang Jajat yang terus tertuju kearah Lefard sehingga membuat mata Adya mengikuti arah bola mata mang Jajat. Namun sebelum Adya mengetahui kalau Lefard telah sadar, lefard lebih dulu menutup matanya.

“Kenapa sama Lefard Mang?” Tanya Adya bingung.

“Eh…eng…nggak kok Non. Non mamang Mohon Non Adya jangan pulang dulu ya! Temenin Den Lefard dulu, Den Lefard belum sadar.”

“Lho kok harus Adya temenin sih Mang?”

Mang Jajat masih memikirkan alasan yang tepat supaya bisa meyakinkan Adya. “Mamang mau buatin bubur kacang ijo dulu. Siapa tau kalo udah cium wangi bubur kacang ijo Den Lefard bisa cepat sadar.”

Adya menghadapi heran, alisnya ia kerutkan. “Lho? Aneh banget Mang? Kasih minyak kayu putih aja Mang, pasti cepet sadar!”

“Mamang mohon Non, Den Lefard nggak punya siap-siapa disini. Den Lefard cuma tinggal berdua sama Mamang!”

“Sebentar ya mang Adya mau hubungin ceweknya.”

Lefard yang mendengar kalau Adya ingin menghubungi Keira kembali membuka mata dengan raut wajah bingung.

“Yah HP gue lowbat lagi.”

Lefard menghelakan nafas lega.

Adya diam sejenak. Dirinya memikirkan apakah harus menuruti permintaan mang Jajat. Setelah dipikir masak-masak akhirnya Adya menyetujui. “Yaudah deh Mang,” jawabnya masih berat.

Mang Jajat keluar dari kamar lefard untuk mengambil baskom berisi air hangat dan handuk untuk membersihkan luka Lefard, sedangkan Adya duduk disamping tempat tidur Lefard, menunggunya hingga Lefard sadar.

Tidak lama mang Jajat kembali dan membawa baskom yang berisi air hangat dan handuk. “Non nggak keberatan kan kalo Non yang bersihin lukanya Den Lefard?”

“Apa? Saya??” Tanya Adya kaget.

“Yaiyalah. Terus siapa dong kalo bukan Non Adya? Kan saya harus buat bubur kacang ijo dulu Non.”

Yah, rese banget sih pembokatnya kuya ini. Ngerjain gue aja. Nggak pembokatnya nggak majikannya sama aja, nyusain, celetuk Adya dalam hati. “I…Iya deh,” jawab Adya sambil mengambil baskom itu dari tangan mang Jajat.

“Kalo gitu, mamang tinggal dulu ya Non!”

Adya menganggukan kepalanya.

Mang Jajat pun lekas keluar dari kamar Lefard. Kini tinggal Adya dan Lefard yang ada didalam kamar.

Adya memperhatikan wajah Lefard. “Sebenernya apa yang dibilang sama cewek-cewek disekolah bener sih. Si kuya emang ganteng. Dia juga tajir. Rumah segede ini cuma dia sama pembantunya aja yang nempatin,” gumam Adya dalam hati. Namun Adya tersadar kalau dia harus membersihkan luka-luka Lefard. Diambilnya handuk dari dalam baskom dan dengan perlahan diperas. Dengan sangat hati-hati Adya mulai mengusap luka Lefard.

Lefard yang sebenarnya sudah sadar biar saja menikmati tidurnya sambil dibersihkan lukanya oleh Adya, tapi saat Adya mengusap lukanya agak kencang Lefard menjerit, “Aouww!”

“Hah!” Adya menjerit kaget. “Yeh lo ya!  Sekalinya sadar ngagetin gue!” omel Adya.

“Eh, lo hati-hati dong bersihinnya!”

Adya bingung. “Lho kok lo tiba-tiba tau gue bersihin luka lo sih?”

Lefard tidak menyangka bahwa Adya segitu cepatnya peka. “Eng..,ya gue tau lah. Tuh buktinya lo pegang handuk,” alibi Lefard.

“Gue jadi curiga nih. Lo ngerjain gue ya?”

“Eh betet! Ngapain gue ngerjain lo! Lo jadi orang PDA banget sih lo!”

Adya diam.

“Nggak ngerti kan PDA apa? PD Abis!”

“Enak aja, ngapain gue PD sama lo!” Tegas Adya sambil menepuk pundak Lefard.

“Aouww!” Lefrad kembali menjerit kesakitan karena pundaknya juga memar-memar.

Adya yang melihat Lefard kesakitan tiba-tiba panik. “Yah lo kenapa lagi?”

“Pundak gue sakit tau!”

“Iya..iya sorry. Gue kan nggak tau kalo pundak lo juga sakit. Makanya diem aja lo nggak usah banyak komen! Luka lo ini lagi gue bersihin tau!”

Lefard kaget mendengar Adya berbicara. Ternyata Adya orangnya peduli juga ya, dia perhatian dan tangung jawab banget.

“Napa lo bengong?”

“Nggak! Gue cuma nahan sakit gue doang. Aouww! Jangan kenceng-kenceng kek!”

“Ih lo bawel banget sih! Udah deh diem aja, mau dibersihin nggak sih?”

“Iya..iya dokter!” jawab Lefrad sambil cengengesan.

“Yeh…” Adya pun ikut tertawa.

Didalam candaan mereka diselingi oleh pertanyaan Adya. “Lo kenapa sih sering diserang sampe babak belur begini?”

“Gue juga nggak tau. Gue nggak kenal sama mereka.”

“Makanya, punya sifat jangan nyolot! Akhirnya lo punya musuh kan!”

“Sok tau banget lo. Tapi mereka itu sama kayak tempo hari pukulin gue sampe gue nggak masuk sekolah.”

“Oh…gue inget. Waktu lo nggak masuk sekolah, gue yang kena sasaran. Sangka si Sesil gue bayar preman buat pukulin lo.”

“Iya gue tau kabarnya dari Pak Yudhis kok. Sorry ya gara-gara gue lo jadi sasarannya.”

“Bubur udah mateng…” Mang Jajat masuk kekamar Lefard sambl membawa nampan yang diatasnya ada dua mangkok berisi bubur kacang ijo yang hangat. “Eh Den Lefard udah sadar rupanya,” tukasnya senang melihat majikannya itu sudah sadar. “Nih Den. Mamang buatin bubur kacang ijo kesukaan Den Lefard.” Mang Jajat menyuguhkan. “Oiya, mamang juga bawain buat Non Adya nih.”

“Yaampun Mang Jajat, kok jadi ngerepotin gini.”

“Nggak apa-apa.”

“Mang, makasih ya buburnya. Enak banget lho!”

“Iyalah, Mang Jajat gitu lho!”

“Aduh si Aden bisa aja deh.”

Selesai bubur disantap habis, Adya berpamitan untuk pulang. “Oiya Adya pamit pulang ya. Udah sore nih. Eh leher kuya! Gue pulang dulu!”

“Yeh lo SMP banget! Setelah Makan Pulang!”

“Kebiasaan banget sih lo ngomong disingkat-singkat!”

 “Lo liat dong! Sekarang jam berapa? Udah sore tau!”

Lefard diam, dirinya merasa bahwa ia daritadi sudah menahannya untuk pulang. “Ya…yaudah sana!”

“Dasar cowok nyolot!’

“Kok malah ngatain gue?”

“Nggak ada terimakasihnya udah ditolongin,” gerutu Adya pelan-pelan sambil merapikan tasnya. “Yaudah gue pulang ya, cepet sembuh lo! Mang Adya pulang ya, makasih atas buburnya!”

“Eh tunggu!” Seru Lefard saat langkah Adya hampir menginggalkan kamar Lefard.

Adya memberhentikan langkahnya sambil bertanya kesal, “Apalagi sih?”

“Makasih ya udah nolongin gue. Gue nggak tau bakal jadi apa kalo lo nggak dateng.”

“Ya, sama-sama.”

“Yaudah, lo ati-ati ya!”

Adya mengangguk. Sambil berjalan menuju garasi Adya berpikir, “Ternyata Lefard orangnya asik juga buat diajak ngobrol, dia juga perhatian.”

“Non maaf ya udah ngerepotin.” Tutur mang Jajat yang mengantar Adya sampai depan garasi.

“Nggak apa-apa lah Mang.”

“Non ati-ati ya!”

“Iya. Makasih ya Mang. Adya pulang dulu ya!”

Motor Adya pun berlalu dari komplek rumah Lefard.

***

BMW warna merah metalik berhenti didepan pintu gerbang sekolah. Sempat membuat sensasi, banyak siswa yang bertanya mobil siapa yang berhenti itu. Ternyata Lefard. Dirinya hari ini tidak membawa motor racingnya karena harus masuk bengkel atas kejadian kemarin, sebab bukan Lefard saja yang bonyok tapi motornya juga ikut bonyok. Segerombolan preman itu juga ikut merusak motor Lefard hingga banyak body motornya yang penyok.

Lefard turun dari mobilnya. Tidak seperti biasa, wajahnya yang tiap pagi terlihat cerah. Namun pagi ini wajahnya dipenuhi oleh luka memar. Disekitar dahi terdapat balutan perban untuk menutup lukanya, sedangkan dibagian pipi dan samping bibir terdapat luka memar berwarna ungu.

Siswa yang melihatnya pun kaget. Begitu juga dengan Keira yang saat itu juga baru datang. “Yaampun Lefard lo kenapa?” Tanya Keira penuh kepanikan.

“Nggak apa-apa  kok Ke, kemarin cuma ada kecelakaan kecil aja,” jawab Lefard sambil terus berjalan menuju kelas.

“Lo kok nggak bawa motor? Motor lo kemana?”

“Motor gue dibengkel. Banyak body yang rusak, makanya gue bawa kebengkel.”

“Kok bisa sih? Emang lo kecelakaan dimana?”

“Gue kemaren abis dikeroyok Ke sama orang-orang yang waktu itu juga pernah nyerang gue.”

“Emang lo diserang dimana?”

Belom sempat Lefard menjawab pertanyaan Keira, dirinya balik tanya kepada Keira. “Si Adya belum dateng?” Tanyanya saat melihat bangku Adya masih kosong.

“Belom,” jawab keira kecewa.

“Oiya tadi lo tanya apa Ke?”

Cuma gara-gara nanyain Adya dia sampe lupa sama pertanyaan gue, tutur Keira kecewa dalam hati. “lo diserang dimana?” jawabnya tidak bersemangat.

“Oh…ditaman. Untung kemaren Adya lewat taman. Dia yang nolongin gue Ke.”

Keira hanya menanggapi dingin. Lefard yang bercerita panjang lebar tidak dihiraukan oleh Keira. Keira memilih diam sambil merenungi, “kenapa diotaknya cuma ada Adya, kenapa setiap sesi dia ngomong sama gue nggak lepas sama Adya. Apa-apa Adya…apa-apa Adya…selalu Adya.”

“Ke?” Tanya Lefard mengacaukan lamunan Keira.

“Eh…” Keira yang sadar lalu salah tingkah.

“Lo kenapa diem aja gitu? Ngelamunin apa lo?”

“Eng…nggak kok.”

“Lo tadi dengerin gue ngomong nggak?”

“I..iya. oh gitu ya, syukur deh. Oia gue belom sarapan Le, gue kekantin dulu ya,”

Lefard sedikit bingung dengan gelegat keira yang tiba-tiba diam. “Kenapa sih sama dia? Masa gara-gara laper sikapnya jadi gitu,” gumamnya. Kemudian tidak menghiraukan terlalu jauh.

Bel istirahat berdering. Yang menempati kelas XII IPA 1 berhamburan untuk keluar kelas.

Lefard melihat Adya. Hari ini dirinya tidak keluar untuk istirahat, melainkan duduk asyik ditempatnya. Lefard pun menghampiri Adya. “Sampe rumah jam bepara?” Tanya Lefard tepat didepan meja Adya.

“Eh, lo! Kemaren gue sampe rumah magrib. Gimana keadaan lo sekarang?”

“Ya lo kan bisa liat!”

“Cckk..” tanggap Adya. Mulai deh, sikap nyolotnya timbul, gerutu Adya dalam hati.

“Napa lo nggak istirahat?” Tanya Lefard.

“Males.” Jawab Adya singkat.

“Males? Bilang aja lo nggak mau ketemu Edhu diluar!”

Adya yang tadinya sikapnya biasa saja berubah menjadi panas, “Lo tu ya! Selalu aja isengin gue? Nggak ada kerjaan laen ya?”

“Yah…gitu aja marah. Berarti bener dong!”

“Gue kan udah bilang, masalah kayak gitu tuh nggak gue bawa larut-larut tau, gue nggak keluar buat istirahat ya karena gue males. Lo sendiri? Kenapa lo nggak istirahat? Lo mau godain gue kan?”

“Idih?? Maksud lo?? Ngapain gue kerajinan godain lo. Gue nggak istirahat karena gue nggak laper.”

“Nah udah jelas kan? Gue punya alasan sendiri nggak istirahat, lo juga punya alasan sendiri buat nggak istirahat!”

“Huh dasar cewek! Bawel banget kayak beo. Mulut kayak beo, hidung kayak betet!”

“Yeh…dasar cowok! Bisanya nyolot mulu. Dasar leher kuya!”

“Yeh…dasar betet!”

“Leher kuya!”

“Betet!” Lefard masih tidak mau kalah. “Hm… gue jadi penasaran deh. Pengen tau aksi lo nanti malem.”

“Weits…namanya orang keren, sampe bikin lo penasaran gini.”

“Idih…males banget kalo ngomong sama lo. Narsis mulu,” tutur Lefard dankembali ketempat duduknya.

“Eh liat aja nanti. Kita bakal tau siapa yang hebat!” Tanggap Adya dari balik tubuh Lefard.

***

To Be Continue

Famodya :

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5

Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10

Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15

Part 16 (END)
 

 
Leave a comment

Posted by on August 21, 2011 in Cerita, Famodya

 

Tags: , , , , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: