RSS

FAMODYA (Part 8)

21 Aug

“Bi!” Seru Adya saat dirinya sampai rumah.

“Iya non!” sahut bi Nana sambil lari-lari dari dapur. “Eh Non Adya udah pulang.”

“Masak apa Bi?”

“Tumis kerang Non. Makanan kesukaan Non.”

“Masa sih? Duh jadi tambah laper nih. Oiya Abay udah pulang? Kak Fia mana, kok sepi sih?” Tanya  Adya sambil berjalan kemeja makan.

“Oiya Non, bibi sampe lupa kasih tau. Den Abay udah pulang kuliah, tapi sekarang pergi lagi…”

“Pergi kemana?” Potong Adya.

“Anterin Non Fia pulang kerumah orang tuanya.”

Adya yang mendengar perkataan bi Nana tiba-tiba tersendat. “Kak Fia pulang? kok nggak bilang sama Adya dulu sih?”

“Rencananya Non Fia mau pulang besok Non, tapi tadi siang ibunya Non fia telepon supaya Non Fia pulang sekarang.”

“Kok Kak Fia nggak hubungin Adya sih bi, nggak pamit dulu sama Adya?”

“Aduh kalo itu bibi juga nggak tau deh Non.”

“Emang rumahnya Kak Fia dimana sih bi?” Tanya Adya sambil masih mengunyah makanannya

“Tadi sih bibi sempet tanya. Deket Bogor Non.”

“O…di Bogor,” tanggap Adya sambil melahap suapannya.

Suara siulan bergema dari kamar Lefard. Selesainya ia keluar dari kamar mandi langsung saja menggapai ponselnya.

“Halo!” Jawab sipenerima dari seberang.

“Ke, lagi apa lo?” Tanya Lefard.

“Tumben lo telpon gue. Ada apa?” Tanya Keira dari seberang dengan nada datar.

“Begitu banget lo tanyanya? Gue mau kasih tau kalo malem ini gue mau ketemuan sama Adya.”

“Hah! Adya!!” Tanya keira kaget.

“Kenapa sih lo? Kok jadi kaget setengah mati gitu?”

“Ng…nggak. ya gue kaget aja. Kok bisa sih?”

“Bisa dong, Lefard. Kayaknya mulai malem ini deh gue start Ke.”

“Yakin lo mau mulai sekarang?”

“Kenapa? Kok lo pesimis sih Ke?”

“Ya bukan gitu, tapi lo yakin?”

“Terus harus nunggu kapan lagi? Yaudah lah, yang penting gue udah kasih tau lo dan gue berharap lo ikut doain gue ya Ke! Da Keira!” Pamit Lefard sumringah.

“Tapi…”

Tut! Telpon langsung dimatikan. Untuk memburu waktu, Lefard langsung membuka lemari bajunya dan memilih-milih baju yang akan dikenakannya.

Sementara Keira, hatinya semakin hancur. Apalagi dengan diputuskannya telepon tadi. Dia hanya bisa tertegun didalam kamar.

Setelah semua siap, Lefard keluar dari kamarnya dan pamit kepada mang Jajat. “Mang, Aku pergi dulu ya!”

“Lho mau kemana Den malem-malem?”

“Jalan.” Lefard langsung berlalu dari hadapan mang Jajat dan berjalan cepat menuju parkiran.

“Jalan? Emang Den Lefard udah punya cewek ya?” Tanya mang Jajat bingung sambil garuk-garuk kepalanya.

Lagi ngapain lo? Udah rapi blom? Gw dh jln dr rmh gw. Lo nti pst dtg kn? Isi SMS Lefard yang dikirimkan kepada Adya sebelum dirinya berangkat.

Pesan Lefard terkirim langsung keponsel Adya. Dirinya yang sudah hampir siap membaca dahulu pesan yang sampai dari ponselnya. Adya meringis. “Idih dasar cowok belagu!” tuturnya. Iapun membalas pesan dari Lefard dan kemudian keluar dari kamarnya menuruni anak tangga.

Bi Nana yang tidak biasa melihat Adya mengenakan pakaian rapi pun bertanya. “Lho Non Adya mau kemana malem-malem begini?”

“Maen.”

“Mau maen kemana?”

“Ketemuan sama temen Adya Bi. Oiya Bi, Adya pergi dulu ya Bi.”

“Eh Non udah bilang sama Den Abay belom…”

“Da Bibi!” Adya tidak menghiraukan perkataan. Dirinya langsung melengos pergi keluar meninggalkan rumah.

“Yah si Enon maen pergi-pergi aja diajak ngomong,” celoteh bi Nana.

Seperti biasa, sebelum Adya mengendarai motor kesayangannya itu dia harus lebih dahulu memakai atribut-atribut pengendara motor seperti jaket, sarung tangan dan tidak ketinggalan helm. Biarpun orangnya cuek tapi untuk urusan keselamatan Adya tidak lupa. Motor yang sudah terparkir akhirnya dihidupkan. Dirinya memanaskan sebentar mesin motornya sambil mengecek keadaan motor tersebut. Setelah semuanya selesai, dirinya pun menaiki motornya itu dan berjalan menuju tempat trek antara dirinya dan Lefard.

“Karet banget sih lo!” tutur Lefrad setengah membentak Adya ketika dirinya datang lebih dulu dibanding Adya.

Adya yang baru datang mencoba untuk menetralkan gigi motornya sambil membuka helm. “Karet? Emang berapa jam gue telat?” Tanya Adya sengit.

Lefard meringis sinis. “Berapa jam lo bilang? Dasar manusai nggak menghargai waktu.”

“Jangan sok intelek deh lo! Kita janjian kan jam depalan, sekarang baru lewat lima menit.”

“Eh tapi lo…”

“Alah udah lah, tiap ketemu lo bawaannya berdebat terus nggak pernah berenti-berenti,” potong Adya “Sekarang, gue disini mau tepatin tantangan lo!”

“Nantangin banget sih lo. Nggak takut kalo lo kalah? Ntar lo kecewa lagi,” ledek Lefard.

“Apa lo bilang? Kalah?” Tanya Adya remeh. “Lo denger ya! Dalam kamus hidup gue, nggak pernah gue tulis kata takut apalagi kalah sebelum gue lakuin!” Tegas Adya sambil menepuk pundak Lefard.

Lefard yang mendengar perkataan Adya dengan sigap mengawali kesepakat sebelum trek antar mereka dimulai. “OK kalo gitu. Kita nggak usah banyak kompromi lagi, sekarang kita buat kesepakatan kalo diantara kita ada yang kalah.”

“Apa tantangan lo?”

“Bagi siapa yang kalah, dia bakalan jadi asisten pribadi yang menang, jajanin waktu istirahat dan mau dengan ikhlas buatin dia PR dan tugas sekolah dan satu lagi isiin bensin selama sebulan, deal?” Tantang Lefard.

Adya diam sejenak. “Buset…berat amat konsekwensinya. Kalo gue kalah, gue bakal jadi pecundangnya dia dong? Dan gue bakal malu sama anak-anak disekolah,” gumamnya.

“Woi, kenapa lo bengong?” Lefard menepuk pundak Adya. “Kenapa lo merasa keberatan? Lo takut nggak bisa ngikutin konsekwensi ini?” Tanya Lefard meremehkan.

Adya yang merasa direndahkan angkat bicara untuk membela diri. “Ih, siapa yang bengong. OK gue terima konsekwensinya,” Adya menyodorkan tangannya.

Lefard dengan cepat juga ikut membalas sodoran tangan Adya. “Deal?”

“Deal!” Jawab Adya tanpa ragu.

Lefard mencari bekas pecahan batu untuk membuat garis start. Setelah ia menemuka pecahan yang lumayan besar untuk menggaris, ia pun menggaris batas start. Setelah dirinya selesai menggaris, sebelum treknya dimulai sekali lagi menanyai Adya. “Siap lo?”

“OK,” jawab Adya yang sudah siap diatas motor.

Lefard membuang pecahan gipsum yang sebelumnya ia pegang. Kemudian dia menaiki motornya dan menyamai batas roda motornya dengan roda motor Adya. “Go!!!” Serunya.

Motor mereka pun akhirnya melaju. Keadaan jalan yang sepi membuat keduanya lebih berkonsentrasi untuk mengendarai motor. Keduanya tidak jarang saling bergantian berada diposisi depan. Sekalinya motor mereka sejajar, mereka saling berpandangan dengan tatapan yang sinis. Dipertengahan sirkuit Adya menduduki posisi pertama namun tiba-tiba dirinya ngerem mendadak hingga bunyi gesekannya terdengar kencang dan Lefard pun ikut mengerem.

Adya membuka kaca helmnya dan memandang kearah samping jalan sirkuitnya dengan teliti.

Lefard pun penasaran, dirinya juga ikut membuka kaca helmnya untuk mengamati apa yang dilihat Adya sambil bertanya, “Kenapa lo?”

Adya belum menjawab. Matanya masih jeli memperhatikan.

“Lo ngeliatin apa sih?” Tanya lefard kesal.

“Itu Kafe malem?” Tanya Adya yang belum mengalihkan pandangannya.

“Iya. Kenapa?”

Mendengar jawaban Lefard, Adya menutup helmnya kembali dan mendekati tempat itu.

Lefard bingung dengan tingkah Adya. Mau tidak mau dirinya ikut mengikuti Adya.

Motor Adya kembali berhenti. Dirinya kembali membuka kaca helm. “Dasar bajingan!!!” Tutur Adya Geram.

Lefard yang mendengar Adya berbicara seperti itu kaget. Dirinya langsung bertanya, “Kenapa?”

Adya tidak menjawab pertanyaan Lefard. Dirinya langsung menghubungi polisi dan berkata, “Halo, kantor polisi! Saya ingin melaporkan sesuatu Pak. Di kafe malam didaerah jalan cempaka terjadi transaksi sabu-sabu Pak, harap secepatnya ditangani! Pelaku memakai kemeja hitam bergaris coklat horizontal. Mereka bertransaksi dilokasi parkir dan sekarang mereka masih disana. Makasih Pak.”

“Kok lo maen lapor-lapor aja sih?” Lefard makin bingung.

“Gue tau siapa dia. Namanya Darus, dia bandar sabu.”

“Kok lo bisa tau?”

“Dia pernah mau perkosa temen kakak gue dan dari situ gue tau latar belakang dia.”

“Tapi tentang kita gimana?”

“OK, sorry, gue akui gue ngalanggar kesepakatan kita. Kalo lo mau kasih keputusan gue kalah, its OK,” tutur Adya sebelum akhirnya memerhatikan Darus kembali dari kejauhan. Matanya melihat tajam penuh kebencian. Apalagi setelah melihat Darus menggandeng wanita malam yang ada dikafe itu sesudah bertransaksi. Namun sepintas mata Adya dikejutkan lagi. Mobil sedan warna biru masuk parkiran kafe tersebut dan Adya mengenal mobil itu. “Yaampun Edhu,” Adya berkata lirih.

Lefard mendengarnya walau pelan. “Edhu? Mana?”

Belum sempat menunjuk, suara sirene polisi terdengar dan dengan cepat memasuki lokasi tersebut. Darus dan komplotannya langsung panik dan masuk ke mobil namun sayangnya mereka keduluan ditodongi pistol oleh anggota polisi. Edhu dan Naomi yang baru keluar dari mobil akhirnya masuk kembali agar tidak tertangkap namun komplotan Darus ikut menunjuk mereka sehingga polisi juga ingin mengamankan mereka berdua.

Naomi yang panik langsung menyerukan Edhu untuk menyalakan mobilnya dan kabur dari parkiran. Edhu menyalakan mesin mobilnya dan ambil gigi untuk kabur.

Polisi yang mengetahui bahwa mereka berdua ingin lolos langsung siapkan anggotanya untuk mengejar.

Edhu mengambil gas kencang supaya jauh dari kejalan polisi.

Dilain hal Adya yang berhenti dari kejauhan langsung tanggap. Dirinya memakai helmnya kembali dan menyalakan motornya. Dirinya bertekat mengejar Edhu bersama polisi. Lefrad dengan cepat mengikuti aksi Adya.

“Lebih baik Anda menyerah! Anda sudah dikepung! Sebentar lagi polisi datang dari arah berlawana jalan ini!” Seru polisi dari dalam mobilnya yang mengisyaratkan Edhu untuk menyerah.

Mendengar seruan polisi, Naomi makin gencar menyuruh Edhu untuk mengebut dan jangan menghiraukan apa kata polisi. Edhu terus menaikan giginya untuk ngebut berhubung jalanan sepi.

Dari samping Adya dan Lefard memasuki jalan dimana tadi Edhu melaju. Adya ikut menaikkan giginya untuk bisa mengejar mobil Edhu dan mensejajarinya kemudian memberi tahu supaya menyerrahkan diri saja. Dirinya tak henti-hentinya memencet klakson agar Edhu melihatnya, namun yang melihat duluan Naomi.

Naomi yang mengetahui kalau motor yang mengikutinya dari belakang adalah motor Adya tambah panik. “Ayo Dhu tambah kenceng! Polisi udah mulai jauh!” Serunya untuk memalingkan pandangannya kepada Adya.

Namun apa yang diserukan polisi benar terjadi. Mobil patroli datang dari arah depan mobil Edhu dan siap mencegatnya.

Edhu yang melajukan mobilnya dengan kencang kaget dan panik. Dirinya langsung banting stir kekiri untuk melindungi namun meleset dan akhirnya keluar dari pembatas jalan dan menabrak pohon jalanan dengan sangat kencang hingga mobil tersebut terbalik.

Adya yang melihatnya dari belakang langsung terbelalak, tangan kanannya yang kuat untuk menggas motor dilepasnya dari stang motor sambil menurunkan gigi.

Lain dengan lefard, posisinya yang tadinya sedikit jauh dengan motor Adya langsung mendekatinya dan dengan cepat ingin mengetahui keadaannya.

Motor Adya pun berhenti sebelum mobil patroli polisi berhenti. Tatapan Adya kosong dengan nafas yang terengah-engah. Dirinya menuruni motornya dan mendekati mobil Edhu.

“Harap yang tidak berkepentingan menjauhi TKP!” Seru anggota polisi setelah mobil patroli mereka datang ke TKP.

Lefard mematikan motornya dan menyusul Adya. Dirinya menepuk pundak Adya yang saat itu sedang berdiri tepat didepan mobil Edhu. “Ad, kita menyingkir dari tempat ini, polisi melarang!”

Adya masih tertegun kosong.

Tanpa pikir panjang Lefard merangkul Adya dan memboyongkan kebelakang sebelum akhirnya polisi memasang garis polisi dan mengamankan Edhu dan Naomi yang sebelumnya terjepit didalam mobil.

Polisi yang melihat keadaan tersangka yang terluka parah secepatnya menghubungi ambulan dan mengantarnya ke rumahsakit.

Adya dan Lefard yang masih berada di TKP ikut diamankan polisi untuk menjadi saksi.

***

“Bi, Adya kemana sih sampe jam satu gini belum pulang? udah HPnya nggak aktif lagi,’ Tanya Abay yang panik karena adik perempuannya hingga dini hari belum pulang kerumah dan tidak ada kabar.

“Tadi non Adya cuma bilang mau main Den.”

“Iya, tapi main kemana Bi? Emang Bibi nggak nanya?”

“Bibi sempet nanya Den, tapi non Adya nggak ngejawab dan langsung pergi aja bawa motornya.

“Duh…kemana sih tuh anak gini hari belum pulang? bikin orang khawatir aja,” tutur Abay kesal.

***

Semalaman Adya memang tidak pulang kerumah. Dari TKP dirinya dan Lefard diboyong ke kantor polisi untuk dimintai keterangan sebagai saksi. Setelah itu langsung kerumah sakit untuk mengetahui keadaan Edhu.

Sampai pagi ini belum ada perkembangan dari Edhu. Dirinya yang paling terluka parah dirawat diruang ICU dengan keadaan koma. Adya yang semalaman menunggui Edhu sampai pagi ini masih tertidur disamping tempat tidur Edhu.

Lefard yang semalaman juga ikut tidak pulang juga ikut tertidur dikamar Edhu dan tidur disofa. Dirinya terbangun sambil menguletkan badannya dan membersihkan kotoran yang ada disekitar matanya. Kemudian dirinya menengok kedepan. Dilihatnya bahwa Adya masih tertidur disamping Edhu. Ditatapannya itu mengartikan betapa masih mencintainya Adya kepada Edhu, sampai Edhu sudah menyakiti hati Adya namun Adya masih  tetap memperhatikan Edhu. Dilihatnya jam yang melingkar dipergelangan tangan kanannya. Tepat jam sembilan pagi. Sebenarnya Lefard belum mau membangunkan Adya, namun dirinya tidak tega melihat Adya lemah dan belum sarapan. Dirinya akhirnya mendekati Adya dan membangunkannya pelan-pelan. “Ad! Adya!” Seru Lefard.

Adya belum terbangun dari tidurnya.                                                                        

Kemudian lefard membangunkannya sekali lagi.

Setelah beberapa kali dibangunkan Adya pun terbangun. Berbeda dengan biasanya Adya bangun tidur, saat dirinya terbangun dirinya langsung menyebut nama ‘Edhu’.

Dari situ lefard kembali kaget. Dirinya tidak menyangka kalau Adya akan berkata seperti itu.

“Edhu udah sadar?” Tanya Adya kepada Lefard.

Lefard hanya menggeleng bisu.

Adya kembali lemas. Tatapannya mengarah ketubuh Edhu. Air matanya terjatuh melihat keadaan Edhu yang tertidur tidak berdaya. “Gue nggak tau kalo kejadiannya kayak gini Dhu. Kalo gue tau lo bakal dateng, gue nggak bakal telpon polisi,” gumam Adya.

Lefrad hanya berdiri dibelakang Adya sambil terus menyuport Adya dengan mengelus-elus pundak Adya. “Ad, lo jangan nyesalin keadaan gini. Bagaimana pun disini lo nggak salah.”

“Gue cuma mau kasih pelajaran buat Darus Dhu,bukan buat lo! Gue udah ikhlas lo sama Naomi, gue nggak mau ganggu hidup lo lagi. Tapi kenapa semalem lo malah kabur pas ada polisi? Kenapa lo nggak nyerahin diri aja?” Adya terus bergumam lirih sambil tangan kanannya mengelus-elus kepala Edhu.

Lefard hanya bisa menarik nafas panjang. Dirinya benar-benar tidak kuasa melihat keadaan Adya yang kusam dan matanya yang sembab. “Ad, udah jam sembilan. Kita tinggal Edhu dulu ya! Kita sarapan dulu ya, biar lo nggak lemes gini!” Ajak Lefard.

“Lo aja yang sarapan, gue disini aja nungguin Edhu!”

“Jangan siksa diri lo Ad. Gue bisa liat keadaan lo.”

“Nggak apa-apa sama gue. Udah lo pergi duluan aja sana!”

Lefard memutar pundak Adya. “Ad, gue tau lo shock, gue tau lo ngerasa bersalah dengan keadaan ini. Tapi lo jangan siksa diri lo juga. Kita luangin waktu sedikit aja ya buat sarapan terus masing-masing kabarin keorang rumah.”

Adya menanggapi sambil menunduk layu.

Lefard pun pelan-pelan dan sangat lembut membantu Adya berdiri, sebentar minginggalkan Edhu dan keluar untuk sarapan dan mengabari keluarga Adya, ia dan mungkin Edhu.

“Dhu, lo harus berjuang! Lo pasti kuat dan sebentar lagi gue yakin lo bakal sadar. Dhu, gue keluar dulu ya, gue mau kabarin Abay sama keluarga lo.” Kata-kata terakhir yang diucapkan Adya sebelum dirinya meninggalkan ruang ICU.

Mereka berdua pun keluar dari ruang ICU dan berjalan menuju lift untuk ke lantai bawah.

Setelah mereka berdua meninggalkan ruang ICU, Naomi yang dirawat satu rumahsakit dengan Edhu menengok Edhu. Walau keadaannya Naomi tidak separah Edhu, Naomi juga menerima ganjaran dari peristiwa semalam. Dokter mengklem dirinya buta karena saraf matanya rusak akibat banyak pecahan kaca yang menusuk bola matanya. Dengan ditemani perawat dan duduk dikursi roda Naomi menangisi keadaan Edhu, walau dirinya tidak bisa melihat keadaan Edhu namun hatinya mengatakan Edhu terluka parah. Tidak berbeda dengan Adya, Naomi pun tidak henti-hentinya menangisi Edhu.

“HP gue lowbatt Ad, gue mau kabarin Mang Jajat dulu. Lo udah hubungin orang rumah?” Tanya Lefard kepada Adya setelah mereka berdua selesai sarapan.

Adya menjawab dengan gelengan.

“HP lo mana? Kalo lo nggak bisa ngomong biar gue aja yang ngomong, biar keluarga lo nggak panik cari lo!”

Adya mengeluarkan ponselnya dan menyodorkannya ke Lefard.

“Cckk…, sama aja Ad. Nih! HP lo juga mati.” Lefard menyodorkan kembali HP Adya kepada Adya.

“HP gue juga lowbatt kali Le,” tanggap Adya.

“Yaudah kita cari wartel dulu.”

Mereka berjalan menuju wartel yang berada di depan kantin rumahsakit.

Lefard memasuki KBU yang kosong dan memencet tombol untuk menghubungi nomor rumahnya. Setelah selesai mengabari mang Jajat, Lefard keluar dari KBU tersebut. Dilihatnya Adya yang melamun didepan wartel. “Lo nggak mau kabarin keluarga lo Ad?” Tanya Lefard. Namun pertanyaannya tidak disambut Adya, Adya hanya terdiam. “Apa gue aja yang ngomong ke keluarga lo kalo lo ada di rumahsakit sekarang?”

Adya tetap saja diam.

Lefard bingung dengan keadaan Adya. Adya jadi kayak gini sih. Kayak mayat hidup,  jasadnya disini tapi pikirannya nggak tau kemana,” gumam Lefard dalam hati. “Ad?” Lefard melambai-lambaikan tangannya didepan mata Adya supaya Adya tersadar dari lamunannya.

Adya berkedip sadar. “Apa?” Tanya Adya kaget.

“Lo ngelamun lagi. Gue dari tadi tanya kenapa lo nggak hubungin keluarga lo Ad?”

“Oh. Iya,” jawab Adya datar.

“Lo mau gue aja yang hubungin?”

“Yaudah.”

Mereka berdua masuk kembali ke wartel dan memasuki KBU, Adya memencet tombol nomor telpon rumahnya sedangkan Lefard memegang daun telpon.

“Halo selamat pagi!” Suara jawaban dari seberang.

“Perempuan yang angkat,” bisik Lefard kearah Adya.

“Gue aja!”Tanggap Adya. “Halo!”

Bi Nana langsung peka dengan suara itu. “Non Adya?”

“Bi. Iya ini Adya.”

“Non Adya semalaman kemana aja sih bikin orang satu rumah panik cariin Non Adya?”

“Iya HP Adya mati Bi.”

“Siapa Bi?” Tanya Abay yang melewati ruang keluarga.

“Ini Non Adya,” jawab bi Nana. “Non, ada Den Abay nih. Pengen ngomong sama Non.”

“Aduh adya… lo kemana aja sih? Sekarang lo dimana? Kenapa lo semalem nggak pulang dan nggak kasih kabar ke gue?” Tanya Abay panik.

“Eh… eh…” Adya menjawab gugup.

“Kok malah ah eh-ah eh sih? Lo sekarang dimana? Masuk sekolah nggak?”

“Kenapa Ad?” Tanya Lefard lirih.

“Kakak gue. Abay,” jawab Adya lirih.

“Gue aja yang ngomong?”

Adya menggeleng-geleng. “Gue sekarang ada di rumahsakit Bay.”

“Hah!!! Di rumahsakit??? Lo kenapa?” Respon Abay kaget.

Lefard langsung menarik daun telponnya dan berbicara dengan Abay. “Kita lagi dapet musibah.”

“Lo siapa? Adya mana?” Tanya Abay heran bercampur panik.

“Gue temennya Adya. Sekarang Adya lagi sama gue di rumahsakit.”

“Kenapa sama si Adya?”

“Kita berdua nggak kenapa-napa. Gue nggak bisa cerita banyak disini. Kalo bisa lo kesini aja. Kita lagi ada di rumahsakit persada.”

“OK gue kesana sekarang. Tut.” Telpon langsung dimatikan dan Abay bersiap bergegas kerumah sakit, namun tiba-tiba ponselnya berdering. “Ia Fi!”

“Bay kamu dimana?” Tanya Fia dari seberang.

“Lagi mau ke rumahsakit,” jawab Abay sambil menyalakan mesin mobil.

“Siapa yang sakit?”

“Barusan Adya telpon dan aku disuruh ke rumahsakit sekarang.”

“Adya udah kasih kabar? Terus kenapa dia ada di rumahsakit?”

“Aku nggak tau, tadi temennya yang telpon dan nyuruh aku kesana.”

“Bay, Aku ikut ya! Sekalian ada yang pengen aku kasih tau ke kamu.”

“Kenapa?”

“Darus semalem kena razia polisi, dan sekarang dia ditahan.”

“Kamu dimana sekarang?”

“Aku sekarang lagi ada dijalan. Sebentar lagi aku sampe ke rumah kamu.”

“Kita ketemuan aja. Aku udah jalan keluar komplek. Nanti aku jemput kamu di halte depan komplek ya, kamu tunggu disana!”

“Iya. Kamu hati-hati!”

“Iya.”

***

Lefard dan Adya kembali menuju ruang ICU.

“Gue ke toilet dulu ya!” pamit Adya sebelum memasuki pintu kamar Edhu.

Lefard menggangguk. Didalam hatinya merasa berat untuk meninggalkan Adya sendirian ke toilet. Bila saja bukan toilet yang dituju Adya, mungkin Lefard bisa menemaninya. Sambil menunggu Adya keluar dari toilet, Lefard berjalan pelan menuju pintu kamar Edhu. Namun langkahnya terhenti melihat Naomi tersungkur menangis disamping tubuh Edhu.

Suara detak jantung Edhu yang ada dimesin semakin panjang terdengar membuat Naomi semakin histeris menangis. Dirinya memanggil-manggil suster untuk menolong keadaan Edhu.

Perawat yang menemani Naomi menenangkan Nomi sambil memanggil tenaga kesehatan yang lain untuk menangani Edhu. Tidak lama tim dokter masuk dengan cepat kekamar Edhu dan memberikan penanganan terhadap Edhu. Namun keadaannya sudah tidak bisa dirubah lagi, mesin detak jantung itu berbunyi positif kalau nyawa Edhu sudah tidak bisa tertolong lagi.

Naomi tau tanda bunyi suara itu, dirinya teriak tidak percaya. Dirinya memeluk Edhu erat, menunjukkan betapa tidak terimanya ia bahwa Edhu harus meninggalkannya selama-lamanya.

Lefard yang menyaksikan kejadian itu berdiri tegang. Dirinya ikut panik memikirkan bagaimana bila Adya melihat kejadian ini. Kelapanya menengok kearah kanan.

Adya sudah keluar dari kamar mandi. Telinganya mendengar bunyi keributan diarea ICU. Dirinya langsung berjalan cepat untuk mengetahui apa yang terjadi. Langkahnya terhenti mendengar suara perempuan menjerit-jerit menyebut nama Edhu.

Lefard dengan cepat menyambar Adya. “Ad!”

“Kenapa Edhu? Itu pasti suara Naomi kan?” Tanya Adya dengan suara yang sudah bergetar. Air matanya kemudian menetes cepat mendengar suara mesin itu. Dirinya yang tadinya semangat untuk melihat perkembangan Edhu tersandar lemas didinding rumahsakit. Dengan pandangan kosong dan air mata yang tidak habis untuk jatuh menetes Adya semakin tidak berdaya. Dirinya yang tadinya berdiri menyandar perlahan turun menyeret dinding. Seakan sekilas tidak ada penopang dalam tubuhnya hingga ia tidak bisa untuk berdiri dan akhirnya terduduk menyandar dikoridor rumahsakit.

“Ad? Lo nggak apa-apa kan?” Tanya Lefard panik sekaligus bingung apa yang harus ia lakukan untuk Adya sekarang.

Didalam kamar, Naomi masih menangis histeris. Para perawat sibuk melepas alat-alat rumahsakit yang sebelumnya digunakan Edhu. Setelah semua alat terlepas, jenazah Edhu dibawa langsung keruang jenazah oleh para perawat dan membuat Naomi semakin histeris untuk melepas Edhu. Jenazah Edhu yang sudah terbaring di troli siap untuk didorong keruang jenazah dan keluar dari kamar ICU.

Abay dan Fia datang dari koridor kanan dan kaget melihat Adya duduk tersandar sambil menangis. “Ya ampun Adya?” Reflek Abay mengatakan itu. Dirinya langsung menyambar Adya dan menunduk menanyakan apa yang terjadi. “Kenapa Ad? Kenapa?” Abay memaksa Adya untuk bicara.

Troli Edhu lewat diantara Adya, Lefard, Abay dan Fia. Sambil Naomi berteriak. “Edhu…jangan pergi! Apa harus aku sendiri yang ngerawat anak ini Edhu? Kamu tega ngeliat aku ngerawat anak kita sendiri??” teriakan terakhir Naomi sebelum akhirnya perawat yang menemani dirinya mengantar dirinya untuk istirahat dikamarnya.

Fia menepuk pundak Abay yang menunduk menanyai Adya.

Abay yang sadar dengan tepukan Fia, menengok sambil berdiri kearah Fia. Dirinya melihat troli yang melintas didepannya. Abay pun ikut tercengang tentang siapa yang berada ditroli itu.

Fia menyentuh dadanya tanda iba terhadap keadaan Adya. Kini giliran dirinya yang menunduk dan menyemangati Adya.

Ad masih saja diam dan menangis meskipun tahu bahwa seseorang yang diatas troli itu adalah Edhu. Tetesannya mengalir seiring dengan detakkan jarum jam. Hatinya begitu hancur merasakan keadaan ini.

Fia dengan cepat memeluk Adya. “Kamu yang sabar Ad!” Ucapnya penuh semangat.

Adya masih saja terdiam.

Abay yang melihat keadaan adiknya yang begitu rapuh semakin tidak kuasa. Dirinya menepuk pundak Adya supaya Adya bisa menerima kenyataan dan sabar.

Sorry, gue baru kabarin tadi pagi. Kita berdua nggak tau kalo HP kita mati,” tutur Lefard mengisi kedukaan Abay.

“Gimana ceritanya?”

“Apa perlu gue ceritain sekarang sementara keadaan Adya begini?”

“Adya shock!” tutur Fia lirih dari balik pelukan Adya.

“Udah kabarin keluarga Edhu?” Tanya Abay.

“Belum.”

“Gue hubungin mereka dulu. Disini gue yang ngurus.” Abay langsung mengambil ponsel yang terselip dikantongnya. “Siapa nama lo?” Tangan kanan Abay menyodor.

“Lefard,” balas Lefard sambil menyodorkan tangannya.

Lefard? Kayaknya gue pernah denger deh nama itu, gumam Abay dalam hati. Dirinya sedikit teringat dengan nama itu namun tidak bisa menerawang terlalu jauh tentang nama itu sehingga ia lupakan dulu. “Lefard, gue minta tolong sama lo ya!”

“Ya, apa?”

“Lo bawa mobil gue, lo anter Adya pulang sama Fia. Gue nggak tega ngeliat Adya kayak gitu disini.”

Lefard membalas dengan anggukan.

“Ad, kita sekarang pulang dulu ya!” Fia mencoba membuat Adya tenang.

Seperti sebelumnya, Adya hanya terdiam sambil terus menerus menangis.

Perlahan Fia bangun sambil membawa Adya.

Setelah keduanya berdiri dan Fia sedang tidak memeluknya, giliran Abay yang memeluk Adya mencoba menguatkan hati adiknya. “Semua udah diatur. Lo semangat terus! Disini semua sayang sama lo. Sekarang lo pulang dulu ya Ad!” tuturnya sambil memeluk Adya erat. “Le, titip Adya dan Fia ya!” kata Abay setelah dirinya melepas Adya dan membiarkan Adya berada disamping Fia.

Lefard kembali menjawab dengan anggukkan bertanggungjawab.

Mereka bertiga jalan pelan-pelan menuju parkiran dan berjalan pulang. setelah ketiganya masuk mobil Abay. Lefard yang mengendarai mobil membawa mobil itu menuju rumah Adya.

Sepanjang perjalanan keadaan Adya masih belum berubah. Dirinya meratapi kesedihan dengan diam. Matanya terus mengeluarkan air mata dan pandangannya kosong. Lefard yang melihat keadaan Adya dari kaca setir sangat iba. Dirinya memang pernah melihat Adya menangis, namun baru kali ini ia melihat Adya begitu sedih dan rapuh.

Fia tidak berani berkata banyak selama perjalanan. Dirinya hanya memberi kenyamanan yang terbaik agar adya tidak semakin larut dalam kesedihan.

Lampu merah pun menyala. Mobil yang dikendarai Lefard berhenti tepat didepan zebra croos.

Tanpa sengaja Adya melihat kearah samping jalan. Seorang remaja laki-laki membawa bola basket dan memakai baju basket melintas didepan matanya. Air matanya tambah bercucur karena langsung teringat dengan Edhu yang juga pemain basket. Hati Adya pun semakin sedih.

Sesampainya dirumah, mereka bertiga turun dari mobil. Fia dengan perhatiannya yang ekstra mengantar Adya kekamarnya sedangkan Lefard menunggu diruang tamu.

Setelah Lefrad menunggu sekitar beberapa menit, Fia turun dari lantai dua dan berjalan kearahnya. “Gimana Adya?” Tanya Lefard panik.

Fia tersenyum. “Dia baik-baik aja. Cuma pengen ditinggal sendiri dulu.”

Lefard membuang nafas dalam. “Boleh nggak gue tetep disini buat tau keadaan Adya?”

Fia mengerutkan alisnya. Hatinya bertanya kenapa lelaki ini begitu memperhatikan Adya.

Lefard pun mengerti bahasa tubuh Fia. Dirinya salah tingkah karena ke-gep protex sama Adya. “Eng…, maksud gue. Gue kan dari kemaren sama dia jadi gue tau keadaan dia dan nggak ada salahnya kan kalo gue ngikutin perkembangan dia?” Sahut Lefard gagap.

Pernyataan barusan menambah kecurigaan Fia.

Lefard semakin salah tingkah. “Eng… enggak apa-apa sih kalo nggak boleh. Gue pulang aja deh sekarang. Nanti kalo ada apa-apa sama Adya lo tinggal kabarin gue aja ya!” Lefard menutupi rasa malunya.

Fia tersipu. “Aku tau kok. Nanti aku kabarin.”

Lefard pamit pulang kepada Fia. Dalam hati dirinya begitu malu. Sambil berjalan keluar, Lefard menutupi rasa malunya.

To Be Continue

Famodya :

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5

Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10

Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15

Part 16 (END)

 

 
Leave a comment

Posted by on August 21, 2011 in Cerita, Famodya

 

Tags: , , , , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: