RSS

FAMODYA (Part 9)

21 Aug

***

Pagi ini mendung, semendung orang-orang yang kenal dengan Edhu. Mereka merasakan kehilangan atas meninggalnya Edhu. Semakin siang, orang-orang yang datang ketempat pemakaman Edhu semakin banyak sebelum jenazah Edhu diturunkan ketanah. Tangisan orang-orang terdekatnya terus terdengat seperti keluarga Edhu yang langsung datang dari Belanda.

Perlahan jenazah Edhu diturunkan ketanah. Naomi semakin tidak kuasa menahan kesedihan sampai mereka teriak histeris untuk Edhu. Sedangkan ibunda Edhu jatuh pingsan karena tidak kuat untuk menahan kesedihan.

Air mata Adya semakin deras mendengar isak Naomi dan pingsannya ibunda Edhu.

“Kamu yang abar Ad!” Seru Fia memberi semangat kepada Adya sambil terus merangkulnya.

“Iya Ad, kita harus terima kalo Edhu udah nggak ada!” sambung Tyas yang juga berada disamping Adya.

Naomi yang mendengar perkataan Tyas langsung respek menghentikan tangisannya. “Apa? Adya? Disini ada Adya?” Tanya Naomi sinis. “Ngapain pembunuh itu ada disini, belum cukup dia ilangin nyawa Edhu? Belum puas dia pisahin gue sama Edhu?” Kali ini Naomi berkata dengan nada suara agak keras sehingga para pelayat yang hadir mendengar kata-katanya.

“Mi, lo kenapa?” Tanya Miranda yang ada disamping Naomi. “Lo tenang Mi, tenang!”

“Adya! Lo nggak pantes ada disini, sekarang juga gue minta lo pergi jauh-jauh dari sini!” Seru Naomi dengan nada suaranya yang semakin meninggi.

Semua pelayat yang hadir disana spontan mengalihkan pandangannya kearah Adya dan bagi yang tidak tau siapa Adya dan yang mana mukanya, bertanya kepada orang-orang yang ada disamping mereka.

Perasaan Adya semakin tidak karuan. Rasa malu, sedih dan marah bercampur jadi satu mendengar pernyataa Naomi yang sangat menyakitkan itu.

Mir, dia masih ada disana?” Tanya Naomi.

Miranda tidak menjawab.

“Mir, dia masih ada disana?” Naomi mengulang pertanyaanya.

“Ma…masih Mi,” jawab Miranda datar.

“Adya lo nggak tau malu banget sih! Gue udah kasih tau kesemua orang tentang perbuatan lo tapi lo masih aja disini. Dasar perempuan nggak tau diri!” Naomi terus memojoki Adya.

Tyas yang mendengar perkataan Naomi tidak tinggal diam, dirinya hampir saja ingin membalas perkataan Naomi dan ingin sekali mendekatinya. Namun Adya menarik tangannya. Adya memberi gelengan kepala agar Tyas menahan emosinya. Tyas pun bisa menahan emosinya dan tetap disamping Adya.

Adya yang melihat tingkah Naomi akhirnya mengalah untuk menjauh dan pergi dari tempat pemakaman. Orang-orang yang ada disekitar Adya hanya bisa memandangnya dengan iba.

Setelah proses pemakaman selesai, para pelayat serta keluarga Edhu pun berlangsung untuk pulang tidak kecuali Adya dan Naomi yang masih belum menerima dan percaya bahwa Edhu telah dipanggil oleh sang pencipta.

“Mi, kita pulang yuk. Kondisi lo belum sembuh bener,” ajak Miranda yang juga ada disana.

“Lo duluan aja” Jawab Naomi dengan suara yang bergetar.

“Mi, lo nggak harus kayak gini kan? Lo harus terima kenyataan Mi!”

Naomi membalas dengan tatapan sinis. “Apa lo bilang? Gue harus terima? Lo tau kan gue baru aja bisa milikin Edhu sepenuhnya tanpa harus dibayang-banyangin sama Adya sialan itu? Tapi apa Mir? Semuanya itu ancur gara-gara cewek sialan itu!”

“Gue tau Mi, gue tau. Tapi mau bagaimanapun Edhu nggak bakal balik lagi, nggak bakal hidup lagi!” Tanggap Miranda. “Sekarang kita pulang aja ya!” Bujuk Miranda.

Bujukan miranda ampuh, Naomi yang dari tidak terkendali emosinya akhirnya bisa luluh dan mau ikut pulang bersama Miranda.

Adya yang berada jauh dari tempat pemakaman melihat Naomi yang bergegas untuk pulang. setelah Naomi naik kendaraan Miranda dan pergi meninggallkan tempat pemakaman kini Adya yang mendekati tempat pemakaman Edhu. Dirinya berjalan perlahan dan akhirnya mendekati makam Edhu dan duduk disamping makam Edhu. Dirinya memegang papan nama Edhu sambil kembali meneteskan air mata.

Lefard yang melihatnya langsung menyusul dan mendekati Adya.

“Dhu kita nggak bisa ketemu lagi…” tutur Adya dengan nada bergetar. “Nggak bisa main basket bareng lagi? Nggak bisa liburan ke Bali lagi, nggak bisa bercanda bareng Abay lagi, nggak bisa…” kata-katanya terputus. Dirinya tidak tahan lagi untuk meneruskan cerita-cerita dulu dirinya bersama Edhu. Adya kembali menangis tersedu disamping makam Edhu.

Nangis nggak akan buat dia balik lagi,” tukas Lefard yang sekarang posisinya sudah berdiri dibelakang Adya. “Walau nggak terima, walau belum sanggup tapi kita harus bisa kuat menghadapinya tanpa harus buang banyak air mata.”

Tidak seperti Adya yang selalu menampik bila  Lefard berbicara, untuk kali ini perkataan Lefard tidak dihiraukan oleh Adya. Dirinya masih saja hanyut oleh kesedihan.

“Adya, kita pulang yuk!” Ajak Fia yang juga ikut mendekati Adya. “Masih mau disini?” Tanya Fia setelah ajakannya tidak jawab oleh Adya.”Yaudah.” kemudian Fia kembali ke mobil untuk menunggu Adya pulang bersama dirinya dan Abay.

“Ad, lo pulang ya!” Seru Lefard lembut.

Adya perlahan berdiri dan menjauhi makam Edhu selangkah demi selangkah untuk pulang.

***

Motor Lefard memasuki gerbang sekolah dan memarkirkan motornya ditempat parkiran. Dilihatnya tempat dimana motor Adya biasa parkir. Dalam hati Lefard bertanya apakah hari ini motor itu parkir disini. Dirinya kemudian berjalan menuju kelas. Sesampainya dikelas, dirinya melihat tempat yang biasa diduduki Adya. Hatinya bertanya lagi, apakah gadis yang menduduki tempat itu hari ini masuk.

“Pagi!” Sapa Keira yang sudah terlebih dahulu datang.

“Hai, udah lama dateng?”

“Barusan sih. Mikirin Adya ya?”

“Hari ini dia masuk nggak?”

“Gue belom dapet kabar.”

Ternyata yang dipertanyakan benar. Hingga bel masuk berbunyi, sosok Adya tidak muncul dan memasuki kelas.

***

“Fi, hari ini kamu nggak ada kuliah kan?” Tanya Abay saat menghubungi Fia lewat telepon.

“Iya.”

“Kamu bisa kesini nggak. Keadaan Adya belum berubah, dia masih murung sendiri aja dikamar. Aku ajak ngomong tapi dia diem aja. Sekarang aja dia nggak masuk sekolah.”

“Oh gitu. Yaudah aku sekarang kerumah kamu. Kamu hari ini ada kuliah?”

“Makanya karena hari ini aku ada kuliah, aku jadi minta tolong sama kamu. Nggak apa-apa kan?”

“Ya nggak apa-apa lah. Aku kan udah anggap adya sebagai adik aku sendiri.”

“Kall kakaknya kamu anggap apa Fi?”

“Ih, kamu apaan sih.”

“Hehehe.”

“Yaudah kamu tunggu aku sampe dulu ya baru kamu berangkat kuliah. Aku nggak lama kok dateng kerumah kamu.”

“OK. Makasih ya Fi.” Tut. “Bi!”

“Iya den.”

“Siapin sarapan buat Adya ya!”

“Nanti nggak dimakan lagi Den kayak semalem.”

“Yah, mudah-mudahan aja sekarang dimakan. Dia pasti laper kok, kan semaleman dia belum makan. Nanti Fia mau dateng kesini. Abay suruh Fia aja yang bujuk adya supaya dia mau sarapan.”

“Oh, yasudah kalo begitu Den. Bibi siapin dulu.”

Tiga puluh menit kemudian Fia sampai dirumah Abay. “Assalamu’alaikum!” salam Fia sambil mengetuk pintu.

“Wa’alaikumsalam,” jawab bi Nana. “Silahkan masuk Non!”

“Gimana keadaan Adya Bi?”

“Masih kayak kemarin lalu Non. Diem aja sambil nangis dikamar. Semalem aja dia nggak makan.”

“Oh ya? Sekarang Adya udah bangun?”

“Barusan aja Den Abay naik buat nengok Non Adya. Non Fia udah sarapan? Bii lagi siapin sarapan buat Non Adya nih.”

“Udah kok Bi. Aku nunggu disini aja ya.” Fia pun duduk diruang tamu menungguAbay turun.

“Udah lama Fi?” Tanya Abay yang melihat Fia duduk diruang tamu.

“Nggak juga sih. Baru dateng lima menit yang lalu. Gimana Adya?”

“Dia belum bangun. Aku bener-bener nggak tega ngeliat dia.”

“Kamu sabar aja ya. Wajar kok Adya begitu. Dia kan baru kehilangan orang yang dia sayangin.”

Abay mengangguk mengerti. “Kamu mau nunggu Adya bangun apa mau dibangun sekarang?”

“Nunggu Adya bangun aja.”

“Aku tinggal kekampus ya Fi, udah jam setengah sembilan. Jam sembilan aku ada kuliah.”

“Oh, yaudah kalo gitu.”

“Aku titip Adya, aku yakin banget dia bisa luluh kalo sama kamu. Aku percaya sama kamu.”

Mendengar kata-kata Abay, pipi Fia langsung memerah. Dirinya tersenyum malu. “Iya. Yaudah kamu hati-hati ya bawa mobilnya!”

“Iya bu…, hehehe” Abay meringis. “Bi Abay berangkat!”

Setelah mengantar Abay sampai depan pintu, Fia kembali kedalam dan naik menuju kamar Adya. Dibukanya pintu kamar Adya yang tidak terkunci. Fia pun memasuki kamar Adya dan pelan-pelan berusaha duduk disamping tempat tidur Adya sambil memandangi Adya. “Aku tau banget perasaan kamu Ad, seminggu yang lalu kamu juga begini. Aku juga tau banget kamu gadis yang kuat, jadi aku yakin kamu bisa menghadapi semua ini,” tutur Fia sambil mengelus rambut Adya.

***

Gue nggak tega banget ngeliat Adya kemaren,” celoteh Tyas sambil berjalan bersama Keira dan Lefard.

“Emang lo aja, gue juga Yas,” tanggap Keira.

“Sekarang kerumah Adya yuk!” ajak Tyas.

“Boleh!” jawab Lefard setuju.

Wajah Keira spontan langsung cemberut mendengar respon Lefard.

“Gimana Ke?” Tyas bertanya kepada Keira.

“Em…, gimana ya. Gue rasa kita jangan kesana dulu deh hari ini. Biar Adya tenang dulu.”

“Kok malah nggak usah sih? Seharusnya kita yang jadi temen dia kasih semangat buat dia saat keadaan dia kayak gini Ke!” Tanggap Lefard yang tidak setuju dengan keputusan itu.

“Apa yang dibilang Lefard bener banget tuh Ke. Malah kita jadi penyemangat dia. Iya nggak Le?”

“Yas, lo inget minggu kemaren kan? Waktu lo sama gue kerumah Adya? Dia malah ngusir kita!”

“Iya. Tapi dia kemaren kayak gitu karena kita salah sama dia. Kalo sekarang kan ceritanya beda Ke!”

“Yaudah. Kita sepakatin besok aja deh Yas. Sekarang mending kasih waktu Adya buat tenangin diri. Kita liat perkembangannya besok, kalo besok dia nggak masuk sekolah lagi, kita wajib kesana. Gimana?”

“OK deh kalo gitu.”

Akhirnya mereka sepakat untuk kerumah Adya besok.

***

“Kamu udah bangun Ad?” Tanya Fia saat melihat Adya mengucek-ucek matanya. Saat itu Fia sedang membereskan kamar Adya yang agak sedikit berantakan. Fia kemudian mendekati Adya. “Gimana kabar kamu sekarang?”

Masih sama dengan kemarin. Adya hanya membisu mendengar pertanyaan Fia.

Fia tersenyum menerima sikap Adya. “Oia kamu belum makan ya Ad dari semalem? Aku udah siapin sarapan nih. Tadi bi Nana buatin nasi goreng spesial yang pedes buat kamu. Kamu makan ya!” Fia mengalihkan sikap Adya. Dirinya kemudian mengambil piring yang berisi nasi goreng untuk Adya. Saat Fia menyodorkan piring ke Adya, Adya tidak menerima piring itu dan tetap pada sikapnya. “Kamu mau aku suapin Ad?” Fia pun mengambil takaran satu sendok untuk Adya dan menyodorkannya kemulut Adya.

Namun Adya malah membuang suapan itu hingga membuat Fia tercengan. “Kamu kenapa nggak mau makan Ad? Kamu dari semalem kan belum makan, nanti kamu sakit lho.” Fia mencoba menenangkan Adya. “Kamu sekarang makan ya Ad! Sedikiiit aja biar perut kamu nggak kosong!” Fia mencoba membujuk Adya. Dirinya kembali mengambil takaran satu sendok untuk menyuapi Adya.

Namun kali ini Adya melawan lebih keras. Dirinya langsung menangkis suapan itu serta membuang piring yang dipegang Fia.

“Astagfirullah Adya!” Fia kaget karena piring yang dipegangnya jatuh. “Kamu kenapa? Kamu nggak mau makan?” Tanya Fia panik.

Adya sama sekali tidak menjawab pertanyaan Fia. Dirinya malah mendorong Fia untuk menjauhinya.

“Kamu kenapa Ad?” Fia semakin panik menghadapi sikap Adya.

Mendengar Fia terus bertanya kepada Adya. Adya pun kembali mendorong Fia hingga Fia keluar dari kamarnya. Kemudian Adya mengunci pintunya dari dalam agar Fia tidak bisa masuk.

“Adya apa kedatangan aku ganggu kamu? Kamu nggak mau aku merhatiin kamu? Aku minta maaf Ad. Tapi kamu jangan kunciin diri dalam kamar!” Teriak Fia dari luar kamar Adya.

Adya yang berada didalam kamar bernafas dengan terengah-engah. Dirinya kembali naik ketempat tidur dan duduk menyandar dengan bantalnya sambil menangis.

Adya, mungkin kamu emang belum bisa menerima kenyataan ini. Aku cukup sabar untuk hadapi kamu. Mudah-mudahan kamu cepat membaik ya! harap Fia dalam hati. “Adya maafi Aku ya. Aku nggak akan ganggu kamu lagi. Tapi kalo kamu minta bantuan aku, aku selalu ada buat kamu setiap waktu.” Kemudian Fia pamit dari luar kamar Adya. Dirinya kemudian berjalan menuju lantai bawah.

Kriing!!! Telepon rumah Adya berdering dan kebetulan Fia berada didekat sana. “Hallo assalamu’alaikum!” Jawab Fia.

Hallo, Adyanya ada?” Tanya dari seberang.

“Ada, ini siapa ya?”

“Ini siapa?”

“lho ini siapa?”

“Ini Tyas, temennya Adya.”

“Oh Tyas. Ini Fia.”

“Oh Kak Fia. Maaf ya, aku nggak tau. Adya ada?”

“Ada.”

“Gimana keadaan Adya sekarang Kak? Sebenernya hari ini aku sama Keira dan Lefard mau nengok Adya tapi kita tunda dulu takut Adya belom bisa terima kita.”

“Dia baik-baik aja sih. Dia cuma butuh istirahat banyak aja, maklum lah Yas Adya masih shock.”

“Oh gitu. Syukur deh kalo dia baik-baik aja. Rencana besok kita mau kesana Kak.”

“Oh yaudah kalo gitu. Pasti Adya seneng banget kalian dateng.”

“Yaudah ya Kak. Sampe besok!”

“OK.” Tut. “Hm…, maaf banget ya Yas aku mesti boongin kamu bilang kalo keadaan Adya baik-baik aja. Aku nggak mau kamu sama yang lain panik sama keadaan Adya,” gumam Fia dalam hati.

***

“Sampe sekarang belom makan?” Tanya Abay kaget saat dirinya baru pulang dari kampus sekitar pukul enam sore.

“Iya Bay. Aku nggak tau harus gimana lagi bujuk Adya supaya dia mau makan. Dia murung terus dikamar,” jawab Fia.

“Adya…Adya. kenapa sampe begini sih lo. Yaudah, aku coba sekali lagi deh bujuk dia buat makan.” Kemudian Abay langsung naik menuju kamar Adya danmengetuk pintu kamar Adya. “Adya!” Sapa Abay untuk mengetahui apakah Adya menjawab sapaannya. Tapi tidak ada jawaban dari dalam kamar Adya. Kemudian Abay mengetuk sekali lagi. “Adya, udah makan? Lo lagi ngapain? Bisa buka pintunya nggak, gue mau ngomong sama lo!”

Namun Adya tidak menjawab pertanyaan Abay dan juga tidak membukakan pintu kamarnya.

“Lo nggak mau buka pintu lo Ad?” Tanya Abay setelah dirinya menunggu Adya membukakan pintu kamarnya. “Yaudah deh. Lo kalo laper bilang ya! Jangan nyiksa diri lo sendiri. Jangan gengsi sama gue, sama Fia dan sama bi Nana!” Dan Abay pun kebawah dan meninggalkan kamar Adya.

***

Seperti pagi kemarin. Saat Lefard memasuki parkiran dirinya melirik tempat dimana motor Adya parkir. “Belom keliatan lagi motor orange,” tuturnya dalam hati.

Hari ini seperti hari kemarin menurut Lefard. Tidak ada motor orange diparkiran, kosongnya kursi dimana Adya duduk dan tidak masuknya ketua kelas XII IPA I.

“Adya nggak masuk lagi,” tutur Lefard saat Keira baru datang dan duduk disampingnya.

“Terus nanti jadi kerumah dia?”

“Ya jadi lah.”

“Lo kangen sama Adya ya Le?” Ledek Keira.

“Iya,” jawab Lefard datar.

Keira menarik nafas dalam. “Nggak nyangka Lefard bakal jawab secepat itu,” tutur Keira dalam hati. Kemudian dirinya senyum memaksa. “OK, nanti pulang sekolah ya!”

“Hai…hai…, jadi nih kerumah Adya?” Tanya Tyas saat dirinya bergabung diantara Keira dan Lefard didepan kelas sepulang sekolah.

“Jadi dong!” jawab Keira.

Wajah Tyas pun tiba-tiba bingung.

“Lo kenapa Yas?” Tanya Keira.

“Gue lagi mikir. Kalo jadi kerumah Adya pasti lo berdua boncengan naik motor, terus ngomong-ngomong gue sama siapa?”

Keira dan Lefard tertawa seketika mendengar celoteh Tyas.

“Yaampun Yas, lo bingung karena itu? Kirain kenapa? Yaudah sih nggak usah pusing, lo naik taksi aja!”

“Gue sendiri gitu sementara lo berdua-duaan?”

“Makanya punya pacar!” Ledek Lefard.

“Yeh…, ngeselin lo berdua!” Sungut Tyas kesal.

Akhirnya Tyas menurut untuk pergi kerumah Adya dengan naik taksi, sedangkan mereka berdua naik motor.

Tok…tok…tok. “Adya!” Sapa Tyas sambil mengetuk pintu sesampainya didepan rumah Adya.

“Shutt!!! Volume suara lo agak dialusin kek Yas, cempreng banget deh!” Keira menepuk pundak Tyas

“Ih…, apaan sih Ke? Biarin aja sih!”

“Eh Non Tyas!” Sapa bi Nana saat membukakan pintu. “Mari silahkan masuk!”

“Gimana Adya Bi?” Tanya Keira.

“Temen-temennya non Adya mau minum apa nih?” bi Nana mengalihkan pertanyaan Keira.

“Nggak usah repot-repot bi. Orange juice aja, hehe…” jawab Tyas mewakili yang lainnya.

“Tyas!” Keira menggubris.

Tyas langsung diam.

“Oia Bi, keadaan Adya gimana?” Kali ini Lefard yang bertanya kepada bi Nana.

“Em…” bi Nana tidak langsung menjawab.

“Kenapa Bi?” Tanya Tyas.

“Bibi ambilin air dulu ya. Nanti bibi lanjutin lagi ceritanya, ya Non!” Bi Nana langsung kedapur untuk menyiapkan minuman. Sementara didepan ada seseorang yang mengetuk pintu rmah Adya.

“Eh ada tamu tuh!” Tukas Tyas.

“Buka sana!” Seru Keira.

“Nggak mau ah. Gue kan bukan yang punya rumah, kalo tamu penting gimana?”

“Bi Nana kan lagi nyiapin minum didapur,” lanjut Keira.

“Masa gue sih Ke?” Tanya Tyas tidak PeDe.

“Udah nggak apa-apa. Udah sih sana!”

“Cckk.” Tyas pun lekas berdiri dan kearah pintu untuk membukakan pintu. “Eh Kak Fia!” Sapa Tyas setelah membuka pintu dan mengetahui bahwa seseorang yang mengetuk pintu rumah temannya itu adalah Fia. “Ayo masuk, anggap aja rumah temen Tyas, hehe,” canda Tyas.

“Oh tamunya Kak Fia,” tutur Keira saat dirinya mengetahui tamu yang datang adalah Fia. “Wah nggak sibuk? Nggak ada kuliah ya?”

“Udah selesai jam satu tadi. Terus sekalian aja kesini. Udah lama dateng?”

“Barusan. Lima menit yang lalu,” jawab Keira.

“Nih minumnya!” Tutur bi Nana berjalan dari dapur menuju ruang tamu. “Eh ada Non Fia juga, mau bibi buatin minum juga?”

“Nggak usah bi,” jawab Fia.

“Bi pertanyaan kita belum dijawab nih?” Tyas menagih bi Nana agar menceritakan keadaan Adya selama tidak masuk sekolah.

“Oia bibi tadi nggak jadi cerita ya? Yaudah Non sama yang lain liat sendiri aja sama Non Fia!”

“Lho?” Tanya Lefard bingung.

“Kenapa? Bingung ya?” Tanya Fia sambil tersipu. “Yaudah kalian minum dulu aja jus yang udah bi Nana buat. Habis itu kita sama-sama kekamar Adya.

Ditambah dengan omongan Fia mereka bertiga makin bingung. Mereka akhirnya memimun jus dulu.

Setelah fia melihat mereka selesai minum. Dirinya mulai angkat bicara. “Kemarin maaf ya aku bohong sama kalian,” pembukaan pertama Fia bicara membuat mereka bertiga tercengan dan terpaksa harus seksama mendengarkan perkataan Fia.

“Maksudnya?” Lefard kembali bertanya.

“Sebenernya keadaan Adya begitu parah dibanding sama yang kalian lihat pas pemakaman Edhu…”

“Maksudnya?” Kali ini Keira yang bertanya.

“Sepulang dari pemakaman Edhu, dia memang sempat tidur, tapi setelah bangun dia kembali nangis dan murungkan diri lagi dikamar sampe-sampe dia nggak makan malem. Abay aja sampe nggak tau Adya tidur jam berapa. Paginya Abay tawarin Adya sarapan tapi nggak digubris sama Adya sampe akhirnya Abay minta tolong aku buat bujuk Adya makan dan nggak larut dalam kesedihan lagi. Tapi ternyata salah, saat aku dateng Adya makin nggak karuan. Kamarnya begitu berantakan, mukanya udah kucel banget dan matanya udah sebam karena kelamaan nangis…”

“Terus kemarin yang ditelepon?” potong Keira.

Fia membuang nafas panjang. “Dia nggak mau makan, makanan yang aku bawain malah dilempar dan berantakan dilantai. Dia juga usir aku dari kamarnya. Dari situ aku sadar mungkin Adya perlu sendiri dulu. Tapi ternyata nggak, Adya benar-benar shock berat. Sekarang dia cuma kayak mayat hidup. Punya raga, cuma nggak tau pikirannya kemana.”

“Kenapa kemarin kakak boong sama kita?” Tanya Tyas.

“Aku bohong sama kalian supaya kalian nggak terlalu pikirin keadaan Adya.”

“Ya nggak bisa gitu dong kak. Bagaimanapun kita i ni temennya Adya dan kita perlu tau keadaan Adya!” Sambung Keira.

Fia melihat jam tangannya. Tepat pukul jam tiga sore. Fia pun lekas berdiri.

“Mau kemana?” Tanya Keira.

“Kalian ikut aku sekarang!” Ajak Fia.

Mereka bertiga ikut berdiri dan mengikuti arahkemana Fia melangkah. Ternyata Fia menaiki anak tangga menuju lantai dua yaitu kamar Adya.

“Kemarin jam segini Adya tidur. Karena aku khawatir sama keadaan dia, kemarin aku sempet duplikatin kunci kamarnya. Jadi kalo kamarnya dikunci kita bisa masuk.

“Lho itukan malah ganggu privacy seseorang kak!” Tyas mengkritik.

Fia tidak melanjutkan perkataanya. Sesampainya didepan kamar Adya, fia pelan-pelan memasuki kunci duplikatnya kelubang kunci pintu kamar Adya. Setelah cocok dan masuk, pelan-pelan Fia memutar kunci tersebut hingga kunci kamar Adya terbuka. Fia pun perlahan membuka pintu kamar Adya. Diintipnya keadaan kamar Adya, apakah Adya tidur atau nggak. “Sst…, Adya tidur!” Seru Fia setelah melihat Adya tertidur lelap. Tangan kananya melambai-lambai memberi tanda supaya Tyas dan yang lainnya ikut memasuki kamar.

“Beginilah Adya,” tutur Fia lirih kepada Tyas dan yang lainnya.

Mereka yang melihat keadaan Adya menjadi amat iba. Begitu berantakan kamar Adya, dengan jendela dan hordeng yang tidak pernah dibuka, laptop yang dibiarkan menyala, baju yang berserakan dilantai, bungkus-bungkus makanan ringan yang juga ikut berserakan dilantai dan yang lebih buruk keadaan Adya sendiri. Dirinya tidur tapi masih mengenakan pakaian saat dipemakaman Edhu yang berarti sudah berhari-hari dirinya tidak mandi dan tidak gantu baju.

“Adya!!” gumam Tyas lirih. Dirinya begitu tidak menyangka temannya yang kuat bisa rapuh seperti ini.

Fia berjalan mendekati tempat tidur Adya dan memandangi wajah Adya. Mereka mengikutinya dari belakang.

Mulut Keira melongo dan matanya berkaca-kaca setelah melihat keadaan wajah Adya. Begitu kusam, kumel, berantakan dan daerah bawah matanya hitam kelelahan.

Fia kembali berjalan. Dirinya menjauhi tempat tidur Adya. “Udah cukup?” Tanya Fia. Sebelum Adya bangun, kita segera keluar dari sini!”

Mereka bersamaan mengangguk mengatakan cukup. Mereka pun keluar lebih dahulu dari kamar Adya sebelum Fia mengunci pintunya.

“Kalian percaya kalau itu Adya teman kalian?” Tanya Fia sambil menuruni anak tangga.

“Sumpah, nggak percaya banget!” tanggap Tyas. “Kenapa sih Ad lo jadi kayak gini?”

“Sekarang nggak ada salahnya kita kerja sama buat ngembaliin Adya kayak dulu. Yang selalu ceria, cuek…”

“Dan bikin orang sebel,” sambung Lefard.

“Ya, semuanya,” lanjut Keira.

***

Lefard masih terbayang-bayang sepulang dirinya dari rumah Adya. Dirinya tidak menyangka kesedihan Adya berlarut-larut sampai seperti itu. Dirinya jadi merasa bersalah, karena semua penyebab kesedihan Adya adalah dirinya. Seperti menempelkan foto-foto Edhu dan Naomi dimading untuk membuat hati Adya hancur, menantang Adya trek hingga akhirnya Adya melihat Darus sedangkan Edhu juga berada ditempat kejadian.

“Huh…bego…bego…bego!!!” Lefard memukuli dahinya. “Semuanya gara-gara gue nih. Gue harus tanggung jawab.”

***

“Udah tiga hari nih Adya nggak masuk. Gue yakin pasti nanti siang pak Yudhis hubungin kenomor rumahnya,” tutur Keira saat dirinya, Tyas danLefard berada dikantin waktu istirahat.

“Kayaknya sih begitu,” tegas Tyas.

“Ppsstt!” Keira memanggil Tyas dan Lefard untuk mendekatinya. “Gengnya Miranda tuh. Naomi kemana?”

Tyas mengangkat bahu tanda tidak tahu.

“Coba lo tanya Yas!”

“Hello!!! Gue nanya? Sama mereka? Malai deh!”

“Lo kan…”

“Jangan alihin gue anak ceers deh Ke,” Tyas memotong pembicaraan Keira. “Nanti deh gue tanya sama temen sekelas Naomi, daripada harus sama cewek-cewek ganjen itu,” sambungnya pelan-pelan.

Lefard berdiri dari duduknya dan menjauh dari Tyas dan Keira. dirinya mengeluarkan ponsel yang ada disaku celananya dan memencet-mencet tombol.

“Eh cowok lo ngapain?” Tanya Tyas.

Keira mengangkat bahunya. “Telepon siapa?” Tanya Keira saat Lefard kembali duduk bersama dirinya dan Tyas.

“Temen,” jawab Lefard singkat.

“Gue naik taksi lagi nih kerumah Adya?” Tanya Tyas saat dirinya sudah berada diluar gerbang sekolah.

“Iya lah,” jawab Keira.

“Tekor gue Ke! Ongkosin dong!”

Belum sempat Keira menjawab permintaan Tyas, ponsel Keira berdering. “Hallo!” Sapa Keira.

“Ke kata Fia hari ini lo mau kerumah gue ya?” Tanya seseorang dari seberang.

“Bukan kerumah lo tapi kerumah Adya!”

“Ye…sama aja lah!” tanggap seseorang yang berada diseberang.

“Iya. Kenapa Bay?”

“Oh. Nggak sih, gue cuma mau bilangin kalo lo nggak usah kerumah sekarang, soalnya hari ini gue mau ajak dia pergi,” jawab seseorang yang berada disebarang yang tak lain adalah Abay, kakak Adya.

“Emang mau dibawa kemana Adya?”

“Adda deh…”

“Ih nyebelin deh. Yaudah, jadi sekarang gue nggak usah kerumah lo gitu?”

“Yup.”

“OK.” Tut. Pembicaraan mereka pun terputus.

“Abay Ke?” Tanya Tyas yang peka terhadap pembicaraan mereka tadi.

Keira mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kenapa?”

“Dia suruh kita nggak usah kerumahnya sekarang, soalnya dia mau ngajak Adya pergi.”

“Jadi hari ini kita ngak jadi nengok Adya dong Ke?”

Keira kembali menganggukkan kepalanya.

“OK deh kalo gitu. Lo pulang sama Lefard kan? Jadi gue pulang duluan ya!” pamit Tyas.

Kini tinggal berdua, yaitu Keira dan Lefard. Lefard yang sudah stand by diatas motor menyuruh Keira untuk naik kemotornya dan diantarakan pulang kerumah.

***

Bel rumah Adya berbunyi dan Abay membukakan pintu rumahnya. “Eh akhirnya lo dateng juga. Ayo masuk!” Sapanya kepada si tamu.

(bersambung…hhe)

 

Famodya :

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5

Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10

Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15

Part 16 (END)
 

 
Leave a comment

Posted by on August 21, 2011 in Cerita, Famodya

 

Tags: , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: