RSS

FAMODYA END (Part 16)

17 Sep

“Bi, gimana kabar Adya?” Tanya Tyas yang datang untuk menengok Adya bersama Bagas dan Keira.

“Non Adya?” Tanya bi Nana bingung. “Non Adya bukannya masuk sekolah Non?”

Sekolah?” Tanya serentak dari Bagas, Keira dan Tyas kaget. “Nggak.”

“Tadi jam setengah tujuh udah berangkat dari rumah Non. Pake baju seragam juga, bawa mo…” belum selesai bi Nana bicara, Adya sudah tiba didepan rumahnya. “Itu Non Adya,” sambung bi Nana.

Keira bingung kenapa jam empat sore baru pulang sedangkan Adya hari ini tidak masuk sekolah. “Adya!” Sapanya. Namun Adya hanya diam dan melengos berjalan menuju kamarnya.

Tyas langsung mengejar Adya. “Adya yang sabar ya,” tuturnya sambil memelukknya dari belakang. “Lo nggak boleh kayak dulu lagi Ad. Gue nggak mau lagi liat lo begini.”

Adya tidak menjawab, dirinya hanya mencoba untuk melepaskan pelukannya Tyas.

“Adya. Bukan lo aja yang sedih, kita juga sedih Ad. Jadi gue mohon lo jangan kayak gini lagi.”

Adya pun tidak kuasa menahan airmatanya. “Biarin gue sendiri Yas!” Seru Adya dengan suara bergetar.

“Nggak mau.”

“Yas!”

“Nggak.” Tyas makin kencang memeluk Adya.

“Buat apa lo disini. Toh lo disini cuma gue omelin doang kan? Mending sekarang kalian semua pergi!” Adya melepaskan pelukan Tyas dan berlari cepat menuju kamarnya meninggalkan Tyas yang masih menangis tersedu-sedu.

“Gue nggak mau ngeliad Adya terus-terusan begini Ke. Minggu depan udah UAN,” tutur Tyas yang iba dengan keadaan Adya.

“Gue yakin Adya bisa kok ngadepin UAN.”

“Bi, titip Adya ya Bi. Tyas sedih banget liat Adya begitu.”

“Iya Non Tyas.”

“Yaudah Bi, kita pulang dulu ya. Kalo ada apa-apa langsung hubungin kita aja. Kita standby 24 jam buat Adya.”

“Iya Non Tyas.”

***

“Non ayo dong dimakan makanannya, nanti Non Adya sakit. Apa bibi suapin aja Non?”

Sudah pukul sepuluh malam, Adya masih asik main game online tanpa makan.

“Non. Bibi sedih liat Non Adya. Bibi sendiri nggak tau mesti ngapain kalo Non Adya begini terus,” mohon bi Nana agar Adya mau menyantap makan malamnya.

Tanpa keluar satu kata pun Adya mengambil piring yang disuguhkan bi Nana dan memakannya hingga habis.

“Non, istirahat ya. Udah malem,” bujuk bi Nana sambil membereskan sisa-sisa makanan Adya. Namun tetap saja Adya tidak menjawab omongan bi Nana. Dengan tampang layu, bi Nana akhirnya turun kebawah sambil membawa piring kotornya.

***

Eh, Non Keira,” sapa bi Nana saat keira datang kerumah Adya.

“Adya udah bangun Bi?”

“Udah, lagi bikin sarapan sendiri. Masuk Non!”

“Nggak usah, disini aja. Hari ini Adya masuk sekolah?”

“Kayaknya nggak Non. Non Adya belum mandi. Dari pagi tadi beresin rumah, nyapun, ngepel, nyiramin bunga.”

Mungkin Adya sekarang meluapkan kesedihannya dengan cara seperti itu, gumam Keira dalam hati. “Yaudah Bi, Keira berangkat sekolah dulu ya. Kalo ada apa-apa sama Adya jangan sungkan buat hubungin Keira ya Bi.”

“Iya Non.”

Bener juga kata non Tyas, kalo non Adya terus-terusan begini mana bisa nanti UAN. Bi Nana memandangi majikannya dengan iba dari balik dinding ruang tamu.

***

“Sekarang udah hari sabtu dan senin udah UAN tapi Adya masih kayak gitu Ke?” Tanya Tyas kaget. “Ini nggak bisa dibiarin Ke.”

“Gue juga lagi mikir Yas, gimana caranya supaya Adya punya semangat lagi.”

“Waktu Adya terpuruk gara-gara Edhu meninggal, ada Lefard yang bisa bikin dia semangat lagi. Terus kalo sekarang dia kayak gini lagi, siapa yang bisa bikin dia semangat lagi?”

“Seseorang yang bisa kayak Lefard,” jawab keira.

“Seseorang yang bisa kayak Lefard gimana maksud lo? Lefad kan udah nggak ada. Msa iya Bagas,” celetuk Tyas.

“Hah Bagas?” Tanya Keira kaget. “Ngaco, jangankan Bagas. Si Abay aja nggak bisa apalagi Bagas?”

Dan Tyas pun tersenyum, karena dirinya mempunyai sebuah ide.

***

“Non, mau kemana?” panggil bi Nana ketika tiba-tiba Adya keluar rumah tanpa pamit dahulu kepada bi Nana. “Non udah sore, mau kemana?” panggilnya sekali lagi namun motor Adya sudah berlalu lebih dulu.

Tidak ada tujuan lain sore ini Adya keluar kecuali ketempat biasa dirinya dengan Lefard bermain layang-layang atau sekedar melihat indahnya langit sore. Dengan pakaian kaos oblong dan celana jeans Adya melangkah selangkah demi selagkah mendekati rerumputan dimana dirinya dan Lefard biasa duduk disana. Sambil membawa kincirnya dan berharap kincirnya akan memutar kencang sore ini.

“Dulu jam segini lo sering ajak gue kesini. Inget nggak?” Adya berbicara sendiri dengan kincir angin itu. “Kata lo kalo ada gue, angin disini seger. Kata lo kalo ada gue,  langit disini bagus dan kata lo kalo ada gue, banyak juga anak-anak yang main layangan disini. Tapi ternyata ada gue nggak ada lo rasanya sama aja, nggak ada angin seger, nggak ada langit yag indah dan nggak ada anak-anak yang main layangan disini.” Dan tanpa terasa air mata kembali menetes dipipi Adya.

***

“Lo kan tau, gue paling nggak suka sama orang yang nggak konsekuen. Lo mau jadi keledai yang terjerat pada keadaan yang sama untuk kedua kalinya, nggak kan? Mana janji lo? Inget ya lo pernah janji, lo nggak akan begini lagi. Jadi manusia itu harus kuat,  jangan cuma gara-gara kehilangan sesuatu lo ngorbanin perasaan orang lain untuk kehilangan lo, ngorbanin perasan orang lain untuk iba sama lo dan ngurusin lo, emang lo siapa, Bayi? Nggak kan?”

“Gue bukan keledai!” teriak Adya. Ternyata dirinya mimpi. Mimpi dimana lefard ada didepannya dan memarahinya habis-habisan. Adya pun bangun dari tempat tidur dan beranjak kekamar mandi.

“Gue nggak suka liat lo yang kayak gini!” tiba-tiba bayangan Lefard muncul dicermin kamar mandi Adya dan membuat Adya terkejut.

“Kenapa ada lo disini?” Tanyanya Heran. Namun setelah didekati, dicermin itu tidak ada siapa-siapa. Nggak ada? Tanya Adya dalam hati. Mungkin Adya terlalu lelah makanya sampai kepikiran Lefard, shower pun dinyalakan.

“Gue nggak suka sama orang yang cengeng!”

“Hah!” Teriak Adya ketika dirinya membuka lemari bajunya kemudian bayangan Lefard ada didepan matanya. “Kenapa lo selalu ngagetin gue sih?”

“Karena gue sayang sama Adya?” bisik Lefard dan kemudian wujudnya kembali menghilang.

Spontan Adya tertegun, air matanya kembali menetes.

“Non Adya!” Panggil bi Nana dari balik pintu panik. “Kenapa teriak-teriak?”

Adya pun tersadar dan langsung membuka pintu kamarnya. “Nggak apa-apa Bi.”

“Sarapan yuk Non! Bibi buatin nasi goreng seafood kesukaan Non Adya.”

Adya hanya menganggukkan kepalanya.

Nanti kebawah ya Non.” Dan bi Nana kembali kelantai bawah untuk meneruskan pekerjaannya.

Dimeja makan Adya tidak habis memikirkan kejadian barusan.

“Heh, udah berapa hari sikap lo kayak gini? Nggak gue sangka ya ternyata lo itu orang yang suka ingkar janji!” tutur Lefard dihadapannya. “Bukannya lo nggak mau lagi jadi manusia yang berlarut-larut sedih? Buang-buang waktu dan air mata lo?” sambungnya.

Adya hanya diam melihat sosok Lefard dihadapannya. Ia cerna dalam-dalam perkataan Lefard.

“Ayo semangat Ad, buat gue juga senyum atas semangat lo!” Sambung Lefard dan akhirnya menghilang dari pandangan Adya.

Adya masih tercengan dimeja makan.

“Non, ada SMS,” tutur bi Nana sambil menyodorkan ponsel Adya yang ia Adya letakkan dimeja ruang keluarga.

Adya semangat ya, besok kita ujian Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Sebuah pesan singkat dikirim Keira untuk Adya. Adya membaca pesan singkat itu sambil menghembuskan nafasnya panjang Adya baru menyadari bahwa besok dirinya akan menghadapi UAN.

“Eh Ad, janji ya. Biarpun UAN nggak ada gue, tapi lo harus semangat. Jangan mikirin gue melulu.”

“Pede banget lo. Gue bakal buktiin nilai gue bakal tinggi walau lo nggak ada disini.”

“Janji ya!”

“janji.”

Dikamar Adya teringat janji terakhirnya kepada Lefard sewaktu mereka makan direstoran makan Jepang.

“Janji ya semangat ngerjain soal UAN!” Seruan Lefard terdengar kembali ditelinga Adya dan membuat Adya sadar bahwa sudah beberapa hari ini dirinya sudah membuang-buang waktu untuk memikirkan Lefard. Perlahan ia ambil satu-persatu buku-bukunya untuk dibacanya.

***

“Non semangat ya untuk ujian hari ini,” tutur bi Nana member semangat majikannya tersebut saat dirinya memberikan susu coklat hangat untuk Adya.

“Iya. Gue doain nilai lo bagus-bagus,” sambung seorang laki-laki yang spontan membuat Adya terkejut dengan suaranya.

“Abay?” Adya kaget kenapa kakak hari ini bisa ada dihadapannya.

“Sampe kakaknya ada disini, lo belom sadar juga,” sambung Abay.

“Kapan lo sampe sini?” Tanya Adya yang masih keheranan.

“Pokoknya disaat adik gue yang cantik ini mengalami kesulitan dan merasa sendirian, gue pasti ada disitu,” jawab Abay mendekati Adya.

Adya melebarkan senyumnya dan dengan cepat memeluk kakak satu-satunya itu.

Deal, today no more tears again!”

Adya mengangguk-anggukkan kepalanya sambil melebarkan senyumnya.

Hari ini memang hari yang sangat menegangkan bagi seluruh murid kelas XII diseluruh Indonesia. Pasalnya hari ini jatuh sebagai hari pertama Ujian Akhir Nasional. Tidak terkecuali Keira. Jam yang terpasang didinding ruang kelasnnya menunjukkan pukul 07.30 WIB tetapi dirinya belum melihat sosok Adya. Hari ini dia dateng nggak ya? Hati Keira bertanya-tanya.

Hingga pukul 07.50 WIB sosok Adya belum muncul diruang tempat dirinya ujian. Bukan hanya Keira saja yang gelisah, teman sekelasnya pun ikut gelisah. Sesekali pak Yuhdis masuk untuk menengok apakah siswi yang paling pintar ini sudah datang atau belum.

“Selamat pagi Pak!” terdengar sapaan yang sudah tidak asing lagi oleh telinga wali kelasnya tersebut.

“Adya,” Tanggap pak Yudhis senang. “Cepat masuk, sebentar lagi ujiannya akan segera dimulai,” sambungnya menyerukan agar Adya lekas menempati meja ujiannya.

Rona bahagia pun terpancar dari wajah Keira. Akhirnya Adya datang. Sesekali dirinya melirik Adya yang duduknya berada disamping depan tempat duduknya.

Ini adalah hari pertama Adya masuk setelah hampir satu minggu dirinya absen.  Walau hatinya masih sedih, namun semangat untuk mengerjakan semua soal-soal ujian terlihat betul dari rona wajahnya. Semua soal berhasil ia jawab dengan pasti tanpa ragu-ragu.

***

“Gimana Ujiannya Ad?” Tanya Abay sesampainya Adya dirumah.

“Gampang,” jawab Adya yang antusias dengan soal yang ia kerjakan pagi tadi.

“Syukur deh, semangat ya buat besok dan lusa!”

Adya menanggapi dengan senyum sambil menaiki tangga menuju kamarnya. Sesampainya dikamar, dirinya langsung menyalakan laptop dan menulis sesuatu diakun milik Lefard. “Hai, Leher Kuya! Hari ini hari pertama UAN, soalnya lumayan. Tapi nggak apa-apa, gue kan udah janji bakalan dapet nilai gede sama lo. Doain gue ya”.

***

Seperti hari pertama. Hari kedua dan hari terakhir di lalui Adya dengan mudah. Dirinya tanpa ragu dan gusar dalam menjawab soal-soal ujian. Dirinya juga tepat waktu untuk mengumpulkan hasil jawabannya.

Keira yang tidak sengaja melihat perubahan sikap Adya tersenyum bahagia. “Hai Ad!” Serunya seusai ujian.

“Hai!”

“Tadi ada beberapa soal Kimia yang gue nggak bisa,” tutur Keira membuka percakapan.

“Oh ya? Nomor berapa?” Tanya Adya antusias.

“Hm…pokoknya yang itung-itungan itu Ad. Bingung.”

“Keira gimana sih? Kan kalo yang itu udah sering belajar sama gue dan Lefard,” tanggap Adya kecewa.

Keira tercengang barusan Adya menyebut nama Lefard tapi tidak ada raut wajah kesedihan diwajahnya. “Iya, maaf.”

“Kalo ada Lefard bisa dijitak lo.”

“Kok dijitak?”

“Iya. Dia kan paling nggak suka apa yang udah dia ajarin terus tetep aja kita nggak bisa.”

Keira tertawa dan Adyapun ikut tertawa.

***

“Rasanya nggak ada bosennya deh tiap sore gue kesini. Kabar lo gimana ya Le?” Adya bicara dengan dirinya sendiri sore itu di Famodya. “Sekarang lo udah liat kan perubahan sikap gue? Gue udah kayak Adya yang dulu lagi. Yang suka banget lo isengin, yang suka banget lo buat marah dan yang suka banget lo bentak-bentak. Sesuai dengan janji gue. Gue nggak mau jadi keledai. Gue bisa tersenyum tanpa ada lo disamping gue.” Dan Adya teringat percakapan terakhir dirinya dan Lefard waktu itu.

“O iya, selesai sekolah. Lo mau ngelanjutin dimana?”

“Gue belum mikirin itu. Yang terpenting bokap gue harus sembuh.”

“Emh..kenapa lo nggak ambil kedokteran aja?”

“Kalo lo sendiri?”

“Sebenernya gue nggak mau monoton sama keluarga gue. Nyokap, bokap gue bahkan Abay insinyur pertanian. Tapi setelah gue pikir masak-masak lagi kayaknya gue mau ambil jurusan yang sama seperti mereka.”

“Wah bagus dong. Berarti perkebunan nyokap lo tambah satu lagi karyawannya.”

“Ah, Lefard.”

“Ad, gue doain semua cita-cita lo tercapai ya.”

“Iya. Lo juga. Lo harus jadi dokter dan sembuhin bokap lo.”

***

“Ad lo dateng jam berapa? Udah ramenih anak-anak disini?” Tanya Tyas melalui telpon.

“Iya. Ini gue udah mau berangkat.”

Hari ini adalah pengumuman hasil dari Ujian Akhir Nasional. Siapa yang tidak penasaran. Keira dan Tyas sudah standby disekolah untuk bersama-sama menyaksikan hari penentuan ini.

“Adya!” Panggil Keira setelah melihat Adya berjalan dari koridor sekolah.”

“Belum dipasang nih pengumamnnya?” Tanya Adya penasaran.

“Belom. Duh gue deg-degan.”

“Eh, itu Pak Yudhis bawa hasil pengumuman ke mading. Ayo kita kesana,” ajak Keira semangat.

Semua siswa pun mengerumuni pak Yudhis yang akan menempelkan hasil UAN.

“Tenang. Jangan berdesak-desakkan. Tahun ini kelulusan kita 100%,” tutur pak Yudhis semangat. Dan semua murid yang ada disitu bersorak sorai bahagia. Tidak ketinggalan Adya, Keira dan Tyas. Ketiganya menyelinap di kerumunan anak-anak yang lain untuk melihat hasil perjuangan mereka.

“Ye, nilai gue diatas enam semua,” teriak Tyas yang sudah mengetahui hasil nilainya.

“Wah hebat yas, mana ya nama gue,” tanggap Keira.

Adya menguruti nama-nama peserta ujian diruangnya dengan jarinya, tepat dinama Lefard Heldunn Wirayudha jarinya berhenti dan jantungnya tiba-tiba berdegup kencang. dirinya tertegun beberapa saat melihat nama itu distabilo merah dan tidak berketerangan lulus atau tidak lulus.

“Ad, nilai lo paling tinggi diruangan kita,” tutur Keira yang spontan menyadarkan  Adya.

“Wah, iya. Nggak nyangka.”

“Wuih, Adya hebat. Dapet traktiran nih kita,” sambung Tyas.

“Tenang-tenang. Kalian mau ditraktir apa biar gue yang bayar,” tanggap Adya yang senang buka main karena rata-rata nilainya lebih tinggi dibanding temannya yang lain.

“Asiiiik,” tanggap Tyas dan Keira kegirangan.

Merekapun bergegas kerumah makan. Melewati koridor sekolah, itu artinya Adya juga melewati ruang sekbid Taekwondo. Dengan tirai yang terbuka, dilihatnya sebuah medali yang terpajang didalam ruangan itu. Debut juara satu turnamen taekwondo se-DKI jenjang sabuk hitam pernah Lefard ukir melalui medali itu. Adya tersenyum tipis melihat medali itu.

***

“Huhu, Adya kenapa nggak ngelanjutin kuliah disini aja sih?” Tanya Tyas yang sedih karena sahabatnya akan berencara kuliah diluar negeri.

“Kebetulan, gue dapet beasiswa disana Yas. Tapi tenang aja, kalo libur semester gue janji pasti ke Jakarta.”

“Bener ya jangan sampe lupa sama kita,” sambung Keira.

“Ya nggak lah. Kalian sahabat gue dari SMP, mana mungkin gue bisa lupa sama kalian.”

“Kita bakalan kangen banget sama lo Ad.”

“Duh, udah deh jangan ngomongin itu dulu. Gue jadi sedih dengernya. Kita kan disini mau ngerayain kelulusan kita ya nggak Ad?”

“Bener tuh kata Tyas. Mending dimakanin aja tuh makannya. Kapan lagi kalian makan gratis.”

“Betul betul betul,” tutur Tyas senang lalu mengambil satu porsi cumi asam pedas.

“Yas bagi-bagi,” tanggap Keira yang tak rela jika Tyas mengahabiskan seorang diri.

Adya hanya tersenyum sambil teringat bahwa saat direstoran ini bersama Lefard, dirinya rebutan cumi asam pedas.

***

“Halo sayang!”

“Halo Bun!”

“Selamat ya atas kelulusan kamu.”

“Iya. Makasih ya Bun.”

“O iya kapan kamu berangkat kesini.”

“Kalau masalah disekolah udah selesai semua. Adya dan Abay langsung kesana kok Bun.

“OK, Bunda tunggu ya. Bunda titip salam ya sayang sama bi Nana.”

“Iya Bun.”

“Dah sayang. Muah.”

“Bunda ya Ad?” Tanya Abay yang tidak sengaja lewat kamar Adya.

“Iya.”

“Kapan kita ke Belanda?”

“Kalo semua urusan dari sekolah udah kelar semua. Kita berangkat.”

“Punya lo nggak bisa dipercepat?”

“Ngapain dipercepat. Bareng-bareng aja. Paling nggak nyampe tiga hari kok. Oh iya gimana paspor dan visa gue? Udah lo urus kan?

“Udah. Tinggal berangkat aja.

***

“Mau kemana lo Ad?” Tanya Abay melihat Adya sore-sore keluar.

“Ikut gue yuk Bay!” Ajak Adya.

“Wow, tempat apaan nih? Keren banget,” puji Abay yang sangat takjub ketika dirinya dibawa ke Famodya oleh Adya.

“Ini basecamp gue dan Lefard.”

“Mendengar jawaban Adya, Abay  langsung menjaga omongannya. “Sorry ya Ad.”

“Kenapa? Nggak apa-apa kok.” Langkah Adya pun berjalan maju. “Dulu sama Lefard gue sering banget kesini. Nikmatin indahnya langit sore dengan angin yang seger sambil main kincir angin atau layangan,” sambungnya. “Menurut lo tempat ini gimana?”

“Keren. Orang yang kesini pasti perasaanya akan senang.”

“Disinilah pertama kalinya tidur gue dibangunkan oleh Lefard.”

“Maksudnya?” Tanya Abay tidak paham.

“Ketika gue terpuruk atas meninggalnya Edhu, Lefard ajak gue ke tempat ini dan sama-sama menuangkan perasaanya sama gue disini.”

Oh jadi waktu itu Lefard ajak Adya ketempat ini. Abay memingingat ketika Lefard meminjam adiknya dua hari berturut-turut.

“Makanya, sebelum gue ninggalin Jakarta, gue pengen banget nikmati waktu sore gue disini.” Adya kemudian duduk ditanah yang ia pijak. “Sesuai dengan yang lo bilang barusan, seseorang yang kesini pasti perasaannya akan senang. Karena disini langit nggak pernah mendung, udara selalu sejuk dan nuansanya nggak pernah buruk. Nih pegang!” Adya menyodorkan sebuah kincir angin kepada Abay. “Pegang dan mainin, sekali kincir itu muter lo nggak akan mau kincir itu berhenti.”

Abay hanya diam sambil menerima sebuah kincir angin dari Adya.

“Sama seperti cinta, sekali sudah tumbuh, rasanya nggak mau rasa itu mati. Biarkan aja tumbuh dan indah dengan sendirinya.”

***

“Abay cepetan!” Seru Adya yang sudah siap menunggu dimobil Keira.

“Iya,” sahut Abay yang sudah ada didepan pintu. “Masih ada barang yang ketinggalan nggak Ad?”

“Nggak ada.” Kemudian menoleh bi Nana. “Nggak ada kan Bi?”

“Udah bibi masukin semua Non.”

“Yaudah kita jalan.”

“Bi, Adya pamit ya. Makasih Bibi udah ngurusin Adya selama ini.”

“Iya Non, sama-sama. Non belajar yang rajin ya disana.”

“Minta maaf juga lo sama bi Nana, lo kan sering ngerepotin dia,” seru Abay yang tahu betul sikap adiknya yang sering membuat bi Nana repot.

“Ya, emang gue doang. Lo kan juga Bay.” Adya membela diri. “Bi, maafin Adya ya kalo selama ini bikin bi Nana repot dan capek.”

“Nggak apa-apa Non. Duh bibi jadi sedih, nggak pengen ditinggalin Non Adya jadinya.”

“Yah jangan gitu dong Bi, Adya jadi ikutan sedih nih jadinya.”

Wajar bila keduanya belum kuasa untuk berpisah. Karena dari Adya kecil bi Nana lah yang mengurusnya.

“Yaudah Bi, kita pergi dulu ya,” pamit Abay.

“Hati-hati ya Den Abay dan Non Adya.”

“Iya Bi. I will miss you Bi Nana,” tutur Adya dari dalam mobil Keira. “Dah Bibi.”

Mobil Tyas pun melaju kebandara. Melihat suasana bandara, Adya teringat satu bulan yang lalu ketika dirinya juga sempat datang kesini untuk mengantar Lefard.

“Ad, janji ya liburan harus ke Jakarta!” Seru Tyas semangat.

“Iya, tenang aja. Nanti gue kabarin deh kalo gue libur.” Kemudian pandangan Adya tertuju ke Keira dan Bagas. “Dan janji juga ya Ke, klo lo maeried sama Bagas kabarin gue,” ledeknya.

“Hah, ngaco. Mendingan omongan itu buat Tyas aja.”

“Kok buat gue?”

“Iya kalo lo udah punya cowok, kabarin Adya. Biar dia kesini dan dapet traktiran dari lo.”

“Haha, bener banget tuh Ke. Yas, hari gini belom pernah pacaran gimannaa gitu,” ledek Adya karena sahabatnya yang satu ini terbukti belum pernah pacaran. “Berarti tugas lo cariin pendamping buat Tyas Ke.”

“OK deh.”

“Yaudah gue sama Abay berangkat ya,” pamit Adya sekali lagi sambil berpelukan kepada Keira dan Tyas juga berjabat dengan Bagas. “Sumpah, gue bakal kangen banget sama kalian.”

“Kita juga,” jawab serentak Keira dan Tyas. “Hati-hati ya Ad!”

Adya yang masih berat hati meninggalkan kedua sahabatnya berjalan menuju peron bersama Abay. Selamat tinggal Keira, Tyas, Bagas, Jakarta, Famodya dan semua kenangan tentang Lefard. Selamanya gue nggak akan ngelupain kalian. Dan Adya mematikan ponselnya sebelum akhirnya menaiki pesawat. Dan layar penutup dari ponsel itu adalah kalimat “leFArd aMOre aDya”.

***

TAMAT

Famodya :Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5

Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10

Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15

Part 16 (END)

 
Leave a comment

Posted by on September 17, 2011 in Cerita, Famodya

 

Tags: , , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: