RSS

FAMODYA (Part 11)

17 Sep

Hah…Adya? Mana? Keira bertanya-tanya dalam hati. Dengen spontan kepalanya mengarah ketempat duduk Adya. Begitu melihat Adya duduk manis disana, mata Keira terbelalak dan mulutnya melongo, dirinya kaget bukan kepalang. “Adya!!!” teriak histeris Keira. Keira yang sebelumnya menjijing tas, sekarang tas yang dijinjingnya spontan dilempar kemejanya. Apa yang sebelumnya Keira katakana di area parkir terbukti dilakukannya dengan semangat. Keira lari ketempat duduk Adya, memandanginya sebentar kemudian menjitak kepala Adya.

“Auw…,sakit tau!” Respon Adya merasakan sakitnya jitakkan Keira.

Keira tidak memperdulikan komentar Adya, dirinya secepat kilat memeluk tubuh Adya erat-erat. “Mak erot apa kabar lo?” Gue kangen banget sama lo!

“Iya..iya kabar gue baik,” jawab Adya sambil mengambil nafas panjang karena sesak dipeluk Keira.

“Ih…gue kangen buanget deh sama lo Ad,” Keira mengulang kebahagiannya sambil masih memeluk Adya dengan erat.

“Iya…iya…uhuk…uhuk aduh jangan kenceng-kenceng, sesek nih nafas gue”

“Bodo…bodo…bodo…pokoknya gue kangen banget sama lo Mak erot!”

“Aduh…uhuk…uhuk…” respon Adya yang sekarang batuk-batuk. “Iya…iya…tapi lepasin dulu pelukan lo jangan kenceng-kenceng gini!”

“Hm…akhirnya lo masuk juga. Tunggu! Lo jangan kemana-mana, gue mau hubungin Tyas dulu.” Keira mengambil ponselnya dan cepat-cepat menghubungi Tyas. “Adya udah masuk. Cepetan kekelas gue!” Seru semangat keira setelah terhubung dengan Tyas.

 “Hua…my cuiti-cuitiku Adya!!!” Sapa Tyas ketika memasuki kelas XII IPA I. seperti halnya Keira, Tyas lari cepat-cepat mendekati Adya, setelah mendekat, tangan jailnya bekerja. Kini giliran rambut Adya yang dijambak-jambak oleh Tyas.

“Auw….” Respon Adya panjang kesakitan.

“Adya……kangen….” Tutur Tyas setelah memeluk Adya erat-erat.

“Iya…iya…tapi lepas Yas, sesek nih!” mohon Adya yang merasakan sesaknya untuk bernafas dua kali.

“Uh…, lo kok nggak bilang-bilang sih masuk sekolah hari ini? Kan seharusnya lo bilang, kita kan bisa prepare buat menyambut lo,” tukas Tyas.

“Ih, lebay banget sih lo!” Jawab Adya. “Emang lo kira gue presiden pake disambut-sambut?”

Bel masuk berbunyi.

“Ya ampun…belom jug kita cerita-cerita udal bel aja,” Tyas menggerutu. “Gue kekelas dulu ya. Pelajaranya gurunya killer banget. Nanti aja, istirahat kita kekantin bareng dan cerita-cerita. Okay…okay…dadah..” Tyas pun pamit meninggalkan kelas Adya dan Keira.

Sebelum keira kembali ketempat duduknya, cubitan jahil mendarat dipipi Adya yang menyebabkan Adya menjerit keras. “Hehe…kangen banget gue sama lo,” ledeknya sambil meringis.

“Sakit!” Adya menggretak kesakitan.

Keira tertawa geli sambil berjalan menuju ketempat duduknya.

***

“Kamu udah kasih tau Adya?” Tanya seorang ibu dari seberang.

Belum lah bun.”

Gimana sih Bay, kamu kan berangkat satu minggu lagi!”

Belum siap Bun. Bunda kan tau keadaan Adya akhir-akhir ini.”

“Iya Bunda tau. Tapi daripada mendadak, nanti Adya malah kaget lho Bay.”

“Iya deh Bun, Abay cari waktu buat ngomong sama Adya.”

“Yaudah kamu kabar-kabarin Bunda lagi aja ya!”

“Iya bun,”

“Yaudah ya sayang, lima menit lagi Bunda ada meeting nih. Da sayang, miss you!”

“Da bun.” Abay menarik nafas panjang.

“Pasti bunda kamu nyuruh kamu ngomong lagi ya soal keberangkatan kamu?” Tanya Fia yang sedang menemani Abay makan siang dikantin kampus.

“Iya,” jawab Abay datar. “Aku nggak bisa ngomong sekarang Fi, aku nggak tega sama dia.”

“Tapi yang dibilang sama bunda kamu itu bener Bay. Lebih parah lagi kalo kamu kasih taunya mendadak.”

“Aku cari waktu yang tepat untuk ngomongin hal ini semua,” tanggap Abay lesu.

Fia tersenyum menghibur Abay.

***

Tepat pukul 10.00 pagi bel istirahat pertama berbunyi bersaan dengan bergetarnya ponsel Tyas. “Ya Ke!” jawab Tyas.

“Lo udah kluar blom?” Tanya Keira yang masih didalam kelasnya.

“Udah, gue kesana apa kita ketemuan dikantin?”

“Dikantin aja deh.”

“OK deh.” Tut. Setelah menerima telepon dari Keira, Tyas langsung beranjak kekantin. Sesampainya ia dikantin bang Obri, Tyas berjalan menuju tempat duduk Keira, Lefard dan Adya. “hai…hai…!” Sapa Tyas dengan nada cempreng.

“Lama amat sih lo baru sampe, emang dari kelas lo kesini kayak dari Jakarta ke Bogor ya?” Tanya Keira sungut.

“Idih lo kenapa sih, gue dateng jadi sensi gitu? Lagi dapet?”

“Udah ih, lo itu berdua kalo nggak rukun pasti rebut, nggak pernah rukun trus,” Lafard meleraikan.

“Waktu gue nggak masuk mereke juga kayak gitu juga Le?” Tanya Adya sambil meringis.

“Kadang-kadang sih.”

“Idih,” tanggap Adya sambil mencibirkan mulutnya.

“Tapi gue nggak pernah duluan Ad, si Keira terus tuh yang duluan. Begitu mulu sama gue,” Tyas membela diri.

“Lagian lo jalan lelet amat. Kayak siput,” Keira nggak mau kalah.

 “Eh Ke lo kan cepet  karena abis praktikum biologi yang kelasnya paling dibawah, kalo kelas gue kan diatas, paling atas malah,” Tyas masih membela diri.

“Ih udah ah gue males disini gue mau dikelas aja,” gerutu Adya jenuh melihat kedua temannya bertengkar.

“Eh tunggu!” Keira menggapai tangan Adya kemudian keira dan Tyas mulai tersenyum dan tertawa besar membuat Adya bingung. “Sorry…,kita nggak berantem beneran kok. Hehehe…Cuma bercanda say.”

“Piss Ad! Piss!” sambung Tyas.

Adya mencibirkan mulutnya. “Ye…dasar!”

Kemudian ke empatnya tertawa bersama di kantin bakso bang Obri.

“Idih bisa-bisanya dia ketawa, dasar cewek nggak tau diri, “Tutur seorang perempuan dengan nada sinis menghampiri mereka berempat dan membuat mereka memberhentikan tertawanya.

“Masih punya muka lo sekolah disini?” Tanya perempuan yang satu lagi dengan nada bertambah sinis.

“Emang nggak mikir ya?” tambah lagi perkataan dari seorang perempuan yang berdiri ditengah-tengah perempuan lainnya yang berjumlah tiga orang.

Keira dan Tyas menatap mereka tidak kalah sinis.

“Eh, mau apa lo?” Tanya Tyas ketus.

“Eh, ada yang marah? Denger ya, jadi orang jangan kepedean! Gue nggak ngomong sama lo!”

“Lo udah ngusik acara gue!” sambung Keira.

“Gue cuma mau kasih tau sama dia,” Miranda, perempuan yang terakhir berkata paling sinis mengarahkan telunjuknya kearah Adya.

Jantung Adya berdegup kencang saat dirinya dicecar oleh Miranda. Wajahnya yang sebelumnya cerah menjadi sendu. Lefard yang melihat perubahan paras Adya bergegas mengambil tindakan.

“Mir lo apa-apaan sih?” Tutur Lefard kesal.

“Banyak juga ya yang ngebela lo Ad. Apalagi kalo lo dijeblosin dipenjara, lo bakal sewa pengacara berapa buat belain lo?” sambung Miranda.

“Ih lo kok makin nyolot sih ngomongnya.” Kali ini Keira angkat bicara.

“Kenapa? Dia pantes dijeblosin dipenjara! Dia kan pembunuh!” tutur Miranda dengan nada meninggi.

“Mir!” Tegur Lefard yang tidak kuasa saat Adya ditindas leh Miranda.

“Elo itu cewek jahat tau! Jahat!!!” Miranda makin meneruskan perkataannya kepada Adya.

Keira melayangkan kepalan kearah wajah Miranda tapi dihalang oleh Lefard. “Kenapa ditahan? Gue mau tonjok mulutnya yang tajem itu Le!” Tanggap Keira kesal.

“Eh Mir mending lo pergi dari sini sebelum muka lo bonyok!” seru Lefard ketus setelah menahan kepalan tangan kanan Keira.

“Enggak. Gue belum puas buat…”

“Mir!” Lefard kembali menegur Miranda kali ini dengan nada tinggi.

Adya yang perasaanya tiba-tiba menjadi kacau akhirnya berdiri dan beranjak dari tempat itu dengan raut wajah lesu.

“Eh Ad mau kemana?” Tanya Tyas panik dan berusaha menenangkan Adya.

“Ugh…dasar nenek lampir! Liat tuh Adya jadi murung lagi gara-gara kata-kata lo!” Ketus Keira.

“Lo kejar Adya Ke!” Seru Lefard kepada Keira. “Mir, mau lo apa sih? Lo jangan sangkut pautin ini sama Adya dong!”

“Lho, emang biang keladinya dia kan?” Jawab Miranda ketus.

Tanpa pikir panjang lefard meninggalkan Miranda yang tidak penting itu dan memilih ikut dengan Tyas dan Keira untuk mengejar Adya.

“Ad, lo ngak usah dengerin kata-kata Miranda ya,” hibur Tyas yang berhasil mengejar Adya.

“Iya Ad, udah nggak usah dipikirin omongan si Miranda. Dia kan emang dari dulu kayak gitu sama lo,” sambung Keira.

“Lo ngapain temenan sama gue?” Tanya Adya tiba-tiba mengagetkan Keira dan Tyas.

“Lho!” tanggap Keira bingung. “Kita ini kan emang temen lo Ad,” sambung Keira dengan nada lembut.

Dengan cemas Lefard menyusul Keira dan tyas. “Ad, lo nggak apa-apa kan?” Tanyanya cemas. “Lo jangan dengerin omongan Miranda  ya. Dia emang sengaja, dia seneng kalo lo terpuruk.”

Adya menanggapi dengan wajah sendu.

“Mana semangat lo yang tadi pagi?” Tanya Lefard. “Lo bilang cape kan kalo harus nangis terus dan harus gini terus?”

Adya berfikir sejenak setelah mendengar mendengar kata-kata Lefard. Adya menarik nafas panjang.

“Iya Ad, semangat lo masa cuma bertahan kurang dari satu hari sih?” Sambung Keira.

Adya langsung memeluk Keira. “Gue cuma nggak mau orang-orang itu nyangka gue pembunuh Ke,” tutur Adya terbata-bata.

Keira menerima pelukan Adya dengan erat. “Enggak, nggak ada yang nyangka lo kayak gitu. Cuma si nenek lampir Miranda aja yang nyangka lo kayak gitu,” Keira menenangkan.

 “Iya Ad, lo nggak usah mikir kayak gitu,” sambung Tyas.

Lefard tersipu. “Ibu-ibu udah ya acara peluk-pelukannya!”

Keira dan Tyas spontan menatap Lefard kesal.

“Kok mandang gue gitu?” Lefard salah tingkah. “Salah ya?”

Tyas mencubit perut Lefard. “Baru juga ngibur orang sebentar kok udah diledekin sih,” bisik Tyas.

Lefard tersenyum lebar mendengar bisikan Tyas. “Udah-udah ah peluk-pelukannya, udah mau bel masuk nih.”

Adya melepaskan pelukannya. Bibirnya mencibir kesal kepada Lefard.

***

“Fi, aku udah tau kapan aku bakal ngomong sama Adya,” tutur Abay memalui ponselnya.

“Kapan bay?” jawab Fia dari seberang.

“Kita berangkat kan hari minggu, hari jumatnya aja aku ngomong sama dia.”

“Nggak kelamaan? Kenapa nggak sekarang aja Bay?”

“Ya paling dia ngambek-ngambek kecil. Bisa diatur lah, lagian dia kan udah gede.”

“Dasar kamu!”

“Hehe…” tanggap Abay. “Oiya, kamu pulang kuliah jam berapa?”

“Jam empat.”

“Aku jemput ya.”

“Dasar kamu.”

“Kok, dasar kamu terus sih dari tadi?”

Fia menaggapi dengan tertawa. “Iya.”

“OK deh, sampe ketemu dikampus ya!”

Pemberian mereka pun berakhir. Fia kembali menyisiri halaman-halaman buku diperpustakaan, sedangkan Abay kembali latihan basket karena hari ini dirinya tidak ada jadwal kuliah.

***

“Aduh gue kebelet pipis nih Gas,” bisik Adya kepada Bagas saat mata pelajaran Tata Negara.

“Yaudah lo izin ke toilet aja Ad, daripada lo pipis dicelana!”

“Hih…gue takut gas, itu guru kan killer.”

“Ye…kan nggak lucu kalo harus gue yang minta izin,” bisik Bagas. “Udah lo izin aja sana!”

“Bagas! Adya! Kenapa kalian sibuk sendiri?” Tanya guru Tata Negara dengan tegas.

Adya dan Bagas spontan kaget dan salah tingkah setelah ditegur oleh bu Naura selaku guru yang terkenal galak itu.

“Eh…nggak kok Bu,” jawab Adya gugup.

Bagas menyikut perut Adya. “Eh, mending lo ngomong aja deh kalo lo mau ke toilet! Bisik Bagas.

“Ih…lo kayak nggak tau bu Naura aja. Lo inget nggak pas fery izin ke toilet?” jawab Adya. “Dia kan nggak di izinin masuk pelajaran ini lagi dan akhirnya dia nunggu diluar sampe pelajaran bu Naura selesai.”

“Ye…, itu kan masalahnya lain lagi Ad,” tanggap Bagas mengingatkan bahwa fery tidak di izinkan lagi masuk kepelajarannya karena keluar lebih dari 30 menit.

“Kenapa kalian masih bikin konfrensi?” teguran kedua keluar dari mulut bu Naura.

“Nggak lucu kan Ad kalo gue yang bilang lo itu kebelet buang air kecil” tutur Bagas. “Udah sana ngomong!”

“Ng…ng…nggak Bu. Saya…saya…” Jawab Adya ragu-ragu.

“Kenapa?”

Melihat lipstick merah yang terpoles di bibir tipis bu Naura semakin menakutkan niat Adya untuk meminta izin ke toilet. “Mau…mau…”

“Apa?”

Jantung Adya berdegup kencang. Memang diantara guru-guru yang lain cuma guru yang satu ini yang Adya takuti. Hatinya memang sudah berniat untuk berbicara bahwa dirinya kebelet buang air kecil dan ingin sekali ke kemar mandi. Pati mulut Adya gagap untuk mengatakan itu.

“Cepet!” Seru Bagas gemas.

Adya menarik nafas panjang dan menelan ludah sebelum akhirnya dirinya mengatakan, “Mau izin ke toilet Bu.”

“O…mau ke toilet, yaudah silahkan!” Tanggap bu Naura tanpa efek menyeramkan tidak seperti yang Adya bayangkan.

Adya tercengang mendengar seruan itu. Seorang Bu Naura yang terkenal anti memberi izin kepada muridnya selagi beluau mengajar tiba-tiba begitu mudahnya mempersilahkan Adya untuk kekamar mandi. Bukan Adya yang kaget bahkan semua murid yang berada di kelas tercengang kaget. “Tumben banget bu Naura begitu Ad,” bisik Bagas sebelum Adya beranjak dari tempat duduknya. Adya mengangguk masih tidak percaya.

“Aduuuh tissunya abis lagi, yang sini juga ada orang lagi,” gerutu seorang perempuan berkata selebor. Perempua itu menggedor-gedor pintu kamar mandi yang sedang terkunci itu. “Haloo…siapa ini?” sambil berkata selebor perempuan itu menggedor-gedor lagi pintu itu.

Adya yang masih ada didalam kamar mandi geram dengan usikan itu. Cepat-cepat dirimya membenahi roknya dan membuka pintu kamar mandi. Begitu pintu itu dibuka kedua pasang mata saling kaget dan tercengang.

“Oh elo toh yang ada dikamar mandi?” tegur Miranda, gadis yang daritadi tidak sabaran dan menggedor-gedor pintu kamar mandi Adya selagi dirinya masih ada didalam kamar mandi tersebut.

Adya tidak merespon tegurannya, dirinya memilih diam dan berjalan untuk meninggalkan Miranda.

“Dasar pembunuh!” Tutur Miranda ketus sambil mendorong pundak Adya dari belakang.

“Mau lo apa sih?” Tanya Adya geram.

“Mau gue elo jangan muncul dihadapan gue, pembunuh!!!” jawab Miranda menekan.

“Eh denger ya, gue bukan pembunuh!” Balas Adya.

“Lo nyadar dong. Yang nyebabin Edhu tabrakan ulah siapa sampe dia meninggal? Yang nyebabin Naomi harus buta sementara dia mengandung anak Edhu siapa? Itu kan semua perbuatan elo!” Sambung Miranda sambil memojokkan tubuh Adya hingga kedinding.

“Gue bukan pembunuh!” Sahut Adya tak kalah dengan nada meninggi.

“Dasar pembunuh nggak mau ngaku. Seharusnya lo ikut mati aja atau kalo nggak lo dipenjara seumur hidup biar tau rasa!” sambung Miranda.

Dengan hujaman kata-kata tajam Miranda raut wajah Adya menjadi sendu, sifat depresi yang dialaminya tiga hari yang lalu timbul kembali. “Enggak! Gue bukan pembunuh!” sambil teriak dan menangis Adya berlari meninggalkan toilet dan Miranda. Dirinya masih dengan keadaan menangis berlari menuju parkiran motor.

“Adya kekamar mandi lama banget ya Ke,” bisik Lefard ditengah pelajaran kewarganegaraan.

“Dia puph kali Le.”

Lefard mengangguk tanggapan dari Keira. Dirinya kembali memperhatikan materi yang diajarkan bu Naura. Didalam hatinya masih menyimpan pertanyaan dimanakah sekarang Adya karena sudah 15 menit yang lalu dirinya keluar kelas tapi belum kembali.

Masih dalam keadaan menangis, Adya mengeluarkan kunci motor dari saku bajunya kemudian menaiki motornya tersebut dan berjalan keluar dari area sekolah. Motornya melaju kencang tanpa menghiraukan keadaan jalan yang agak padat merayap. Motornya berhenti diparkiran sebuat TPU. Kakinya pun turun dan melangkah kearea yang masih dikelilingi karangan bunga-bunga. Dirinya duduk disamping tempat peristirahatan terakhir Edhu dengan wajah layu dan masih menitikan air mata.

“Dhu, apa kabar?” Tutur Adya mencoba menyapa Edhu. “Maaf ya gue sombong, gue baru nengokin lo lagi tiga empa hari setelah lo diantar disini,” sambungnya. “Gue minta maaf ya Dhu, gue juga nggak pengen lo kayak gini Dhu, gue nggak tau kalo kejadiannya sampe kayak gini.” Adya menangis semakin isak. “Lo tau nggak, gue sediiih banget gara-gara lo ninggalin gue Dhu, nyesel banget atas perbuatan gue waktu itu. Kalo waktu bisa gue putar, lebih baik waktu itu gue nggak usah telepon polisi buat tangkap bandar norkoba si Darus itu Dhu. Biarin gue nangis ngeliat lo jalan sama Naomi daripada harus terima kalo lo tinggalin gue buat selama-lamanya Dhu. Sambil mengelus lembut papan nama Edhu Adya berkata tentang kejadian yang dialaminya barusan. “Dhu, gue bukan pembunuh. Kenapa Miranda selalu nyangka gue begitu? Gue nggak mau dikatain pembunuh Dhu, apalagi membunuh pacar gue sendiri. Maafin gue Dhu, maafin gue,” tuturnya yang masih isak dan air matanya jatuh tanpa rem. “Gue bukan pembunuh Dhu, bukan,” sambungnya. Disitu Adya tidak berhenti berkata bahwa dirinya bukan pembunuh.

“Aduh si Adya mana si Ke?” Tanya Lefard gelisah.

“Gue juga nggak tau Le. Dia kan tadi izin ke toilet,” jawab Keira dengan mata yang masih menyimak tulisan bu Naura di whiteboard.

“Udah 30 menit Ke, masa lo nggak heran sih?” tegas lefard sambil berbisik.

“Lo hubungin aja Le!”

Lefard dengan cepat mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan mengetik subuah SMS yang tertuju untuk Adya.

Adya yang masih berada dimakan Edhu merasakan ponselnya bergetar. Dibuka sebuat kotak masuk tersebut. Ad, lo ada dmn c? udh stgh jam lo kluar kls n gk balik2? Bls Ad, gw n Keira khawatir bgt. Kemudian dibacanya siapa pengirim pesan singkat tersebut. “Lefard,” tuturnya datar. Dirinya membalas tidak semangat pesan singkat dari Lefard. Di makam Edhu.

Ponsel Lefard bergetar. Dirinya dengan cepat mengambil ponselnya karena ia yakin itu pasti balasan dari Adya. “Hah!” Respon Lefard kaget saat membaca balasan dari Adya. “Ke baca deh!” Serunya supaya Keira juga mengetahui isi SMS dari Adya.

“Adya di makam?” Tanggap Keira kaget.

Lefard langsung berdiri.

“Lo mau kemana?” Tanya Keira bingung.

“Samperin Adya lah, kenapa dia sampe ada dimakam.”

Dengan Lefard berdiri bertepatan dengan selesainya mata pelajaran kewarganegaraan. Setelah bu Naura keluar dari kelas, Lefard langsung berjalan cepat menuju parkiran motor untuk menyamper Adya.

***

“Ya ampun Adya!” Tanggap Lefard yang baru sampai ditempat pemakaman dan melihat Adya dari kejauhan yang sedang menyender dimakam Edhu. Dirinya dengan cepat mendekati makam Edhu. “Adya lo nggak apa-apa?” Tanyanya panik setelah dengan dekat melihat keadaan Adya.

Adya hanya menjawab pertanyaan Lefard dengan gelengan kepalanya.

“Lo kenapa Ad?” Lefard duduk disamping Adya sambil merangkul pndaknya.

Adya kembali mengelengkan kepalanya.

“Ad, lo kenapa gini lagi? Emang apa sih yang terjadi?” Tanya Lefard tambah panik.

“Gue bukan pembunuh kan Le?”

Kata yang terlontar oleh Adya membuat Lefard semakin panik. “Ya nggak lah,” jawab Lefard.

“Bilangin sama Edhu dong Le, kalo gue nggak bermaksud begitu. Supaya nggak ada yang katain gue lagi. Gue kan bukan pembunuh Le,” sambung Adya dengan nada datar.

Lefard tidak langsung menjawab kata-kata Adya. Dirinya menerawang sejenak kata-kata  yang barusan Adya ucapkan. Pembunuh? Pasti Adya tadi ketemu Miranda, pikirnya dalam hati. “Edhu juga tau kok Ad kalo bukan lo yang nyebabin semua ini. Lo jangan mikir gitu lagi ya, inget waktu istirahat tadi kan?”

“Tapi…”

“Lo nggak usah denger omongan orang Ad, apalagi kata-kata Miranda. Dia emang sengaja mojok-mojokin lo,” potong Lefard. “Udah ya. Inget kata-kata lo kemaren sore Ad, lo kan yang bilang sendiri kalo lo cape harus gini terus. Kapan lo mau sadar dan berubahnya Ad, kalo cuma karena omongan Miranda yang kayak gitu aja lo jatuh lagi. Itu sih sama aja Ad namanya, lo belum berubah. Lo masih terpuruk Ad, lo lemah!” sambung Lefard dengan nada serius.

Adya tidak menjawab kata-kata Lefard. Dirinya hanya diam dan menunduk ke tanah.

“Ayo lah Ad, lo pasti bisa bangkit! Lo bukan pembunuh!”

Adya hanya mengangguk kemudian menyapu pipinya yang masih basah oleh tetesan airmatanya. “Iya.”

“Jangan cuma iya-iya aja Ad!” Tegas Lefard.

Adya mengangguk sekali lagi. “Iya Le, maafin gue ya.”

“Nggak usah minta maaf sama gue Ad, tapi lo minta maaf sama diri lo sendiri aja karena sampe detik ini lo nyiksa diri lo sendiri.”

Adya membuang nafasnya lebar-lebar. “Iya gue tau. Gue coba lagi Le.”

“Yaudah. Sekarang lo harus balik lagi kekelas. Anggap kejadian barusan itu nggak ada.”

Adya menggelengkan kepalanya. “Gue nggak mau balik kekelas.”

“Kenapa? Lo malu? Lo takut sama Miranda? Sepele Ad, lo kan cewek yang cuek!”

“…”

“Nggak ada alasan Ad, lo harus balik. Lo harus biktiin ke gue, Keira, Tyas, Miranda bahkan kesemua anak-anak disekolah kalo lo itu Adya. Adya yang cuek, Adya kuat, Adya yang nggak cengeng dan Adya yang galak!”

“Iya Lefard. Gue Adya dan gue balik ke sekolah sekarang juga,” jawab Adya dengan semangat dan suara lantang, membuat lefard sedikit kaget sekaligus senang.

“Nah gitu dong. Semangat Ad!” Tanggap Lefard dengan senyuman lebar.

“Dhu, kapan-kapan gue kesini lagi ya, sekarang gue balik kesekolah lagi. Gue yakin lo juga tau kan Dhu kalo gue bukan seorang pembunuh. Gue pamit ya Dhu,” tuturnya sebelum meninggalkan makam Edhu.

Adya dan Lefard yang membawa motor sendiri-sendiri. Mereka lekas berjalan berurutan menuju sekolah Tira Palawa.

***

“Nanti lo pulang jam berapa Ad?” Tanya Abay sesudah dirinya dan Adya selesai sarapan.

“Pulang jam 4 soalnya ada pendalaman materi dari pak Yudhis. Emang kenapa?”

“Dari sekolah lo langsung pulang?”

“Ya iyalah, emang biasanya gue ngayap dulu kalo pulang dari sekolah?” Jawab Adya aneh. “Kenapa sih?”

“Oh, nggak. Yaudah nanti lo kalo udah sampe rumah jangan kemana-mana ya, ada yang mau gue omongin.”

“Apaan? Kenapa nggak sekarang aja sih?”

“Nanti sore aja ah.”

“Sekarang aja sih!”

“Ih…orang gue maunya nanti sore, kok lo yang maksa!”

“Ih…sok penting banget sih lo!”

“Ye…yaudah nanti sore kita sambung lagi.”

“Tentang apa sih Bay?” Tanya Adya penasaran.

“Adikku sayang sabar ya, gue nggak bisa cerita sekarang. Makanya gue minta waktu yang enak yaitu nanti sore. Kalo sekarang gue mau berangkat kuliah dan lo mau sekolah juga.”

Adya mencibirkan mulutnya tanda kecewa. “Yaudah deh kakakku sayang, gue tunggu lo nanti sore. Gue berangkat  dulu ya!”

Abay mengeluarkan ponsel dari sakunya. “Fi, nanti jam 4 kamu kerumah ya!” Tuturnya kepada Fia.

“Kenapa Bay?” Tanya FIa dari seberang.

Aku tadi udah bilang sama Adya kalo hari ini aku mau ngomong sama dia.”

“Oh,” tanggap Fia paham. “Bismillah ya Bay, mudah-mudahan Adya bisa nerima berita ini. Aku kan sekarang kenal banget sama sifat adik kamu.”

“Hehehe, emang kenapa sama sikap Ady?”

“Dibalik ketomboyannya itu, dia nggak kalah manja dan cengeng.”

***

 “Ad, nanti nonton yuk!” Ajak Keira sewaktu jam istirahat.

“Emh, gue pulang cepet Ke.”

“Yah, sebentar aja deh.”

“Nanti gue disuruh langsung pulang sama Abay.”

“Kok tumben?”

“Gue juga nggak tau. Katanya ada hal yang pengen diomongin.”

***

“Lho dompet aku mana ya Fi?” Tanya Abay yang sadar saat dompetnya tidak berada disakunya.

“Masa nggak ada Bay?” Tanya Fia yang juga ikut kaget. “Apa jangan-jangan ketinggalan diminimarket, waktu kamu tadi bayar dikasir?”

“Wah mungkin. Yaudah aku cek dulu kesana ya Fi,” Abay pun pamit untuk kembali ke minimarket dimana dirinya tadi sebelum sampai dirumah mampir dulu kesana.

“Adya pulang,” teriak Adya saat langkah kakinya sudah memasuki rumah. “Bi, Abay mana?”

“Tadi keluar Non. Cari dompet.”

“Huh, gimana sih. Katanya gue suruh standby dirumah, eh malah sendirinya pergi,” gerutu Adya kepada kakak laki-lakinya itu. “Yaudah, Adya ganti baju dulu ya Bi,” pamit Adya untuk kekamarnya. Sebelum masuk kekamarnya sendiri, dirinya mendengar suara ponsel Abay berdering. Wah HP Abay bunyi, gue angkat aja deh. “Bunda?” Tanya Adya kaget setelah mengetahui siapa penelpon itu.

“Halo Abay anak bunda tersayang!” Sapa Bu Revitha dari balik telpon. “Hari ini kamu mau bilang sama Adya ya kalo kamu akan terusin kuliah S2 kamu di Belanda? Oh iya kasih tau juga ya ke Adya kalau hari minggu kamu udah harus berangkat!”

Mendengar perkataan bundanya, Adya hanya diam, dirinya shock dengan berita ini.

“Hallo? Bay?” Tanya bu Revitha penasaran karena daritadi dirinya tidak mendengar suara Abay.

Adya langsung saja mematikan ponsel Abay dan kembali turun kebawah. Bersamaan juga Abay baru tiba dan memasuki rumah.

“Ad, udah pulang?” Tanya Abay yang belum mengetahui kondisi Adya saat itu.

Ponsel Abay masih dalam genggaman Adya dan berdering lagi dari Bundanya. Adya tidak langsung mengangkat dan membiarkan Abay yang mengangkatnya.

Abay langsung tercengang. Dirinya bisa menduga bahwa Adya sudah mengetahui kabar apa yang akan ia beritahu. Panggilan dari bundanya pun dirijectnya dan berusaha berbicara baik-baik dengan Adya.

** To Be Continue

 

Famodya :

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5

Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10

Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15

Part 16 (END)

 
Leave a comment

Posted by on September 17, 2011 in Cerita, Famodya

 

Tags: , , , , , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: