RSS

FAMODYA (Part 12)

17 Sep

“Lo jahat Bay!”

“Lo salah paham Ad,” Abay mencoba berbicara kepada Adya.

“Lo nggak ada bedanya sama Bunda.”

“Ad, gue sebenernya mau ngomong ini udah lama. Tapi dengan keadaan lo yang kemaren-kemaren, apa iya gue harus kasih tau lo?”

“Gue nggak apa-apa kok. Silahkan lo pergi nyusul Bunda!” Adya kemudian lari dengan cepat kekamarnya.

 “Ad!” fia ikut mengejar Adya.

“Diam disana! Nggak usah ikut-ikutan deh Ka! Dasar, sama aja busuknya. Ketus Adya lalu mengunci kamarnya. Adya melemperkan tubuhnya ke tempat tidurnya sambil menangis. Beriringan dengan hal itu ponsel Adya berdering. Adya menengok siapa orang yang telah menghubunginya disaat ia sendu seperti ini.  “Hallo!” sahut Adya datar setelah mengetahui orang yang menghubunginya ialah Lefrad.

“Udah sampe rumah?”

“Udah,” jawab Adya dengan suara bergetar.

Lefard menanggapi suara Adya dari seberang. “Kok suara lo aneh ya Ad?”

Adya tidak menjawab, dirinya hanya menarik nafas sehingga bunyi air yang ada didalam hidungnya terdengar oleh Lefard.

“Lo lagi nangis?” Tanya Lefard.

Adya mengulang dengan tidak menjawab pertanyaan Lefard.

“Kenapa Ad? Cerita dong!” Lefard terus berupaya.

“Gue lagi nggak suka dengan keluarga gue Le.” Akhirnya Adya menjawab pertanyaan Lefard dengan nada datar.

Soory, tapi kalo gue boleh tau, ada apa Ad?” Lefard mencoba membujuk Adya untuk bercerita.

“Gue diboongin,” tutur Adya sambil bangun dari posisi telengkupnya. “Nggak enak kalo diomongin di telepon, kita ke tempat itu yuk!”

“Famodya?”

“Ya, apalah namanya.”

“Gue jemput lo ya Ad?”

“Terserah lo.” Jawab Adya yang masih dengan suara isaknya.

Klakson motor Lefard berbunyi tepat didepan pintu pagar rumah Adya. Adya yang mendengar suara itu lekas membuka hordeng jendela dan memberi isyarat kepada Lefard untuk tetap disitu, tidak usah masuk ke dalam rumah. Lefard menanggapi dengan anggukkan. Adya merapikan pakaiannya dan langsung bergegas keluar dari kamar.

Melihat Adya menuruni anak tangga, Abay yang tadinya duduk disofa ruang tamu langsung berdiri. “Mau kemana Ad?” Tanyanya melihat Adya berganti pakaian dan berjalan cepat.

“Terserah gue. Kaki-kaki gue!” Jawab Adya ketus tanpa memandang wajah Abay.

Abay tertegun mendengar jawaban Adya yang begitu dingin. Fia yang berada didekatnya hanya bisa diam dan memandang dengan rasa iba.

“Sebegitu marahnya dia sama aku Fi?” Tanya Abay sambil meningtip Adya pergi menjauhi rumah bersama Lefard lewat balik jendela.

“Dia cuma kaget dan kesal karena merasa dibohongin kamu aja Bay, kamu jangan nyerah ya!”

***

“Gitu ceritanya?” Tanggap Lefard setelah mendengar cerita panjang lebar Adya ditempat itu.

“Tanggapan lo cuma gitu?” Tanya Adya kesal karena Lefard hanya merespon ceritanya dengan datar.

“Emang kenapa?”

“Ya iyalah gue marah. Gue kan adiknya, kenapa gue nggak dikasih tau sama dia? Kenapa gue harus denger dari mulut nyokap gue? Lewat telepon pula dan nggak sengaja.

“Kebetulan aja kali Ad.”

“Kebetulan gimana?”

“Mungkin Abay pengen cerita sama lo, tapi lo tau duluan gara-gara angkat handphonenya si Abay. Kalo gitu kan nggak ada yang salah Ad.”

“Kok nggak ada yang salah sih?”

“Iya lah, kan dia belum ngomong sama lo tapi lo nya yang udah tau duluan.”

Adya menghentikan protesannya. Dirinya berfikir sejenak tentang apa yang barusan dikatakan Lefard. “Tapi tetep aja Abay yang salah,” tukas Adya yang kukuh tetap dirinya paling benar.

“Emang kapan Abay perginya?”

“Gue belum tau sih.”

“Tuh kan, lo aja belum tau kapan masa langsung ngambek?.”

Adya kembali diam setelah mendengar kata-kata Lefard.

“Seseorang yang merasa dirinya udah dewasa pasti bisa kok ngadepin masalah ini tanpa emosi,” tutur Lefard kepada Adya. “Ambil positifnya dulu aja deh Ad!” sambungnya lebih dekat ke wajah Adya.

Adya belum menjawab saran dari Lefrd. Dirinya masih terdiam.

“Jadi gimana?” Tanya Lefard memecahkan keheningan diantara mereka.

“Apa?” Tanya Adya polos.

“Lo dan Abay lah!”

“Terus baiknya gimana?” Adya bertanya balik

Lefard mengeleng-gelengkan kepalanya sambil mencibirkan bibirnya. “Udah yuk, lo gue anter pulang. Udah sore!” Lefard menarik tangan Adya untuk bangun dari duduknya.

***

“Lefard mana sih sampe jam segini kok belum pulang-pulang juga?” Tutur Abay yang panik karena Adya belum sampai rumah hingga pukul 19.00 malam.

Tenang bay, kamu percaya Lefard kan?” Fia mencoba menenangkan kepanikkan Abay.

“Iya sih, tapi sekarang udah jam tujuh malem Fi.”

“Lagi dijalan kali, udah kita tunggu aja!”

Tidak lama, suara motor Lefard terdengar dari balik pagar rumah Abay. Abay yang mendengar suara motor Lefard langsung bergegas keluar untuk menengok.

“Bay, sorry ya pulangnya kemaleman,” sapa Lefard yang melihat Abay sudah berdiri idepan pintu pagar.

“Iya lain kali kasih tau kalo pulang lebih dari jam 6 sore! Gue kan jadi khawatir tau,” tanggap Abay yang masih khawatir dengan keadaan adik perempuannya itu.

“Tuh dengar, abang lo khawatir!” bisik Lefard kepada Adya yang masih duduk dibelakang punggungnya.

Mendengar ledekan itu, Adya spontan mencubit daging yang melapisi bagian pinggul Lefard.

“Udah turun sana!” Seru lefard.

Adayapun turun dari motor Lefard dengan wajah yang sungut dan cepat-cepat melengos dari hadapan Abay.,

“Ada-ada aja masalah lo Bay!” Tukas Lefard sambil menyodorkan tangan kanannya untuk bersalaman.

“Baiasa lah Le, ade.”

“Tunggu dia istirahat aja dulu, kayaknya dia capek banget.”

“Tapi besok gue udah berangkat.”

“Hah??? Serius lo?” Lefard menanggapi kaget. “Gila lo!”

“Sebenernya udah lama gue pengen ngomongin ini sama Adya, tapi kepending terus dua minggu yang lalu nyokap gue baru kabarin kalo gue dapet beasiswa S2 disana dan harus berangkat secepatnya. Lo tau kan keadaan Adya dua minggu terakhir ini.

Lefard mengangguk tanda mengerti.

“Itu alasan kenapa gue nggak cerita sama Adya.”

Lebard menarik nafas panjang. “Kalo gitu kita omongin sekarang aja deh!”

Abay mengerutkan dahi.

“Ops, sorry. Ini kan masalah keluagra ya,” tutur Lefard yang sadar kalo masalah yang dihadapi Adya dan Abay sekarang adalah masalah intern antara keluarga yang sebaiknya Lefard tidak usah ikut campur terlalu dalam. “Maksud gue lo berdua,” sambungnya sambil cengengesan.

“Ah, santai aja Le, kita masuk aja yuk! Nggak enak ngobrol didepan kayak gini.”

Lefard memegang pundak Abay. “Sorry Bay, gue nggak bisa mampir. Gue mau langsung pulang aja.”

“Yaudah deh Le, lo ati-ati ya!”

Lefard menganggukkan kepalanya. “yaudah good luck buat lo ya Bay!”

“Aku pulang ya Bay,” tutur Fia saat Abay sudah didalam rumah.

“Kamu mau pulang” Tanya Abay tidak bersemangat.

Fia menjawab dengan anggukkan.

“Aku anter ya Fi?”

“Nggak usah. Aku bisa pulang naik taksi kok. Kamu mending istirahat aja ya, kayaknya kamu capek banget.”

***

“Cantik kan ade gue, naksir nggak lo sama dia?” Bisik Abay kepada Lefard.

Lefard tersenyum tipis.

“Ceileh…senyumannya menyimpan arti nih ye…,” ledek Abay yang dari tadi melihat raut wajah Lefard.

“Pada ngomongin apa sih?” Tanya Adya yang sudah berada didepan mereka.

“Lama amat sih lo!” tutur Abay agak kesal.

“Ye…kok jadi sewot sih?”

“Yah, dia malah berantem. Yaudah yuk kita masuk mobil aja!” Tanggap Lefard meleraikan mereka.

Setelah semua siap, mereka pun bergegas masuk kedalam mobil untuk menuju airport.

“Gue bakal kangen banget sama lo Bay,” tutur Adya sambil memeluk Abay erat sebelum masuk ke pintu kepergian.

“Gue juga bakal kangen banget sama lo Ad,” balas Abay yang masih memeluk erat Adya.

“Huh…nggak ada lawan main catur lagi dong!” tukas Adya.

“Romantis amat,” sambung Lefard yang membuat pelukan antara Abat dan Adya menjadi merenggang.

“Biarin aja,” jawab Adya.

“Ad, lo kan bakalan nyusul gue kesana, jadi lo belajar yang rajin ya biar bisa dapet beasiswa kayak gue.”

“Daripada lo nasehatin yang begituan, mending lo nasehatin yang bener dulu buat Adya!” sambung Lefard.

“Lho emang nasehat gue salah ya?”

“Nggak sih, tapi kurang tepat aja.”

“Terus gimana?”

“Nasehatinnya tuh, bilangin supaya dia jangan suka bangun kesiangan biar berangkat kesekolah nggak telat, jangan manja, jangan cengeng, jangan songong dan jangan egois.”

Mendengar judge Lefard, Adya membela diri. “Ehm…itu nasehat apa cemohan ya?”

Reflek semua tertawa mendengar kata-kata Lefard.

Abay pun tidak lupa memeluk Lefrad sebagai salam perpisahan. “Makasih ya Le, udah bikin cerita baru dikehidupan Adya juga gue.”

“Iya Bay, sama-sama.”

“Le. Boleh kan gue minta tolong sama lo?”

“Apa?”

“Jagain Adya ya, gue yakin banget lo bisa gantiin gue. Dan gue yakin banget Adya memerlukan sosok seseorang yang merhatiin dia.”

“Kenapa harus gue?”

“Nggak usah ngeles. Gue sama lo laki-laki. Gue bisa baca dari mata lo.”

Lefard merespon bingung.

“Gue tunggu kabar dan perkembangannya ya!”

“Apanya?” Lefard masih belum paham. Lalu Fia yang memberi isyarat kepala Lefard yaitu membentukkan love dengan kedua tangannya.

Lefardpun meringis malu.

“Gue pamit ya!”

“Lo hati-hati ya Bay!”

Merekapun berdua berjalan menuju pesawat meningalkan Adya, Lefard dan bi Nana. Beberapa tetes air mata jatuh di pipi Adya tanpa disengaja. Lefard pun melihatnya. Menyadari bahwa dirinya diperhatikan Lefard, Adya dengan cepat mengusap pipinya yang lumayan basah. Lefard pun tersenyum, Adya membalas senyum Lefard yang manis itu. Karena mereka saling pandang, Lefard memberi sandi melalui gerakan kepalanya untuk pulang dan Adya mengangguk semangat. Mereka pun berbalik badan menuju parkiran untuk pulang. Bersamaan pula tangan kanan lefard merangkul menuntun bahu Adya untuk berbalik badan. Bi Nana yang berada dibelakang Adya tersenyum tipis.

Deg, gue dirangkul Lefard??? Tanya Adya yang sadar dalam hati.

***

“Hah lo kok nggak bilang sih Ad?’ Protes keira setelah mendengar cerita Adya bahwa kemarin dirinya mengantar Abay dan Fia kebandara.

“Hehe, gue aja dikasih taunya satu hari sebelum mereka berangkat.”

“Terus kemarin lo nganter sama siapa? Pasti sama Nday?”

Oops, gumam Adya. Dia pasti nggak tau kalo kemarin ada lefard.

“Woy!” Seru Keira yang melihat Adya tiba-tiba melamun.

“Eh,” tanggap Adya.

“Kok malah bengong?” tanya Keira heran.

“Ng…nggak papa kok.”

“Yaudah lah,” Keira mengalihkan pertanyaanya. Pasti Adya jadi sedih kalo gue tanya-tanya lebih jauh, gumamnya.

Adya bernafas lega, dirinya tau sifat Keira yang gampang cemburu. Kalau dirinya tadi keceplosan pasri Keira langsung sensitif.

***

“Ke ada yang mau gue bicarain,” tutur Lefard seusai pelajaran berakhir.

“Apa?” Tanya keira sambil sibuk membereskan alat tulisnya.

“Nggak disini ngomongnya…”

“Ke, pulang sekolah ada rapat buat anak-anak basket ya, kata Bagas!” Teriak Adya dari tempat duduknya sekaligus memotong pembicaraan Lefard dengan Keira.

Mendengar teriakan Adya, Lefard menghentikan omongannya sambil menelan ludah.

“Iya,” tanggap Keira membalas dengan suara setengah lantang. “Oia, terusin Le.  Emang mau ngomong dimana? Ngomong apaan sih emangnya?”

“Eng…nggak sekarang deh Ke.”

“Lho kenapa?” Tanya Keira yang sekarang berpusat untuk Lefard dan meninggalkan aktifitasnya untuk membereskan alat-alat tulis dan bukunya kedalam tas. “Gara-gara gue sama anak basket mau ngumpul?”

“Ya nggak juga sih. Yaudah deh nanti malem aja Ke.”

Keira mengangguk setuju. Setelah semuanya rapi, Keira pun beranjak dari tempat duduknya. “Gue ngumpul dulu ya Le,” pamit Keira dan berjalan keluar kelas menuju ruang ekstrakulikuler basket sekolah Tira Palawa.

“Hai idung betet!” Sapa Lefard saat dirinya berada diparkiran.

“Ck..ck..ck..dasar leher kuya.”

Lefard meringis dan kembli memasang masker dan helmnya. Merekapun pulang berjajaran dengan sepeda motornya masing-masing dan tidak sengaja sepang mata Keira melihat mereka.

***

“Cie…makin deket aja sama Adya sekarang,” ledek Keira sambil menyeruput milkshake vanilanya. “Kemaren lo pulang bareng ya sama Adya?”

Lefard hanya menanggapi dengan raut wajah datar.

“Oia Le, kemaren lo bilang mau ngomongin sesuatu, apaan emang?”

Lefard tidak langsung menjawab, wajahnya terlihat penuh kegalauan.

“Kenapa lo Le?” Tanya keira heran. “Lo kayak orang bingung gitu,” sambungnya.

Sore itu memang hati Lefard sedang galau karena harus memberitahu berita yang tidak enak kepada keira. “Gue bingung harus mulai ngomong dari mana,” tutur Lefard.

“Lho, emang tentang apaan sih?” Tanya Keira tambah bingung.

“Emang akhir-akhir ini gue mulai akrab ya sama Adya?” Lefard balik bertanya.

“Hm…ya…lumayan. Emang kenapa sih?” Tanya Keira yang semakin bingung. “Oia, kemaren waktu lo nulis didepan papan tulis buat ngerjain soal matematika, Adya ngeliatin lo terus. Jangan-jangan mulai suka sama lo,” celetuk Keira tanpa tau perasaan Lefard saat itu.

“Gitu ya?” Tanya Lefard datar.

“Kok nggak seneng sih Le?” Tanya keira gemas. “berarti kan lo udah dapat lampu kuning, tinggal nunggu waktu aja buat dapat lampu ijonya.”

“Apaan sih lo Ke, bikin gue tambah bingung aja.”

“Yaudah cerita lah!”

“Dua hari yang lalu om gue telpon gue, keadaan bokap gue semakin memburuk,” ucap Lefard lirih. “Gue harus balik ke New Zaeland Ke,” sambungnya.

“Kapan? Lo balik lagi kan ke Jakarta?”

“Dua minggu lagi dan kemungkinan gue nggak akan balik ke Jakarta lagi. Gue…gue nggak bisa ninggalin bokap gue sendirian disana,” jawab Lefard menahan tuturannya yang terbata-bata.

“Berarti?” Tanya keira.

“Mau nggak mau, gue memberhentikan misi gue sendiri Ke.”

“Nggak bias gitu Le!” Seru Keira tegas.

“Lho kenapa?” Tanya lefard sambil mengerutkan dahinya bingung.

“Lo nggak liat? Dia udah mulai berubah sama lo?”

Lefard diam sejenak. “Emang pilihan yang sulit Ke, gue juga ngerti.”

“Kalo lo emang udah mantap dan siap pulang kesana, berarti sekarang juga lo berhentiin misi lo!” Tegas Keira.

***

“Bi Adya berangkat…,” teriak Adya. Penyakit lamanya muncul yaitu kesiangan. Tepat hari ini hari kamis, hari dimana ada pelajaran Pak Yudhis pada jam pertama. Adya berlari kecil menuju garasi dan dengan segera mengeluarkan motornya dan mengendarainya.

Motornya melaju cepat menuju sekolah. Tepat pukul 06.55 Adya sampai didepan pintu gerbang sekolahnya. “Stop!!!” Serunya sambil membunyikan klakson kepada pak Satrio. “Pak jangan ditutup dulu!!”

Pak Satrio menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar seruan Adya. “Adya, Adya…”

“Pak jangan banyak cingcong yah, belum ada jam tujuh nih, misi! Saya mau masuk,” potong Adya yang malas untuk mendengar ocehan satpamnya pagi-pagi. Motornya pun melesat masuk lewat pintu gerbang yang hampir tertutup oleh pak Satrio. Adya melepas atribut yang dipakainya sewaktu mengendarai motor, kemudian berlari cepat menuju kelas. “Huh,” keluh Adya ketika langkah kakinya terhenti tepat didepan kelas.

“Adya!” Panggil Keira yang mengetahui Adya sedang terengah-engah didepan pintu kelasnya. Adya pun menghampiri Keira. “Kebiasaan, pasti lo kesiangan deh Ad?” Tanya Keira sebal karena penyakit teman dekatnya itu tidak terhapus-hapus.

“Iya nih, untung gue sampe gerbang jam tujuh kurang lima,” jawab Adya yang masih terengah-engah.

“Ada kemajuan sih Ad, lo biarpun telat, tapi dateng lebih awal dibanding pak Yudhis.”

“Emang itu niat gue, hehehe…” tukas Adya. Mereka berdua pun tertawa sambil menunggu guru mata pelajaran kimia, yaitu pak Yudhis masuk kelas.

***

“Basket lagi ada lomba Ke?” Tanya Adya seusai bel pulang sekolah berbunyi.

Keira menjawab dengan anggukan sambil sibuk cepat-cepat membereskan buku-buku dan alat tulisnya kedalam tas. “Hari ini gue latihan lagi Ad.”

“Terus pulang jam berapa?”

“Emang kenapa tanya-tanya?”

“Ya, enggak. Tanya doang. Kalo lo pulang latihan, Lefard suka jemput?”

Keira terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Adya, “Iya,tiap selesai latihan Lefard jemput gue,” Jawab keira. “Yaudah ya gue duluan Ad, nggak enak udah ditungguin sama anak basket dilapangan,” pamit Keira.

Setelah semuanya rapi dan masuk kedalam tas, Adya berjalan menuju parkiran untuk pulang. Saat dikoridor tidak sengaja dirinya melihat tim basket putra sedang serius latihan, wajah sendunya terlukis mengingat Edhu yang biasa juga ada ditengah-tengah mereka. Adya lekas memalingkan pandangannya agar tidak larut kembali dengan kisah Edhu, langkahnya dipercepat menuju parkiran dan pulang.

Jalan taman kota adalah jalan favorit yang suka Adya lewati sepulang sekolah. Entah sedang apes atau tidak mujurkah Adya, saat motornya sedang berjalan tiba-tiba oleng. “Yah kenapa nih motor gue?” Tanya Adya kesal. Kecepatan motornya pun dikurangi dan dirinya mengecek bagian kedua rodanya.  “Aduuuh sialan, ban gue bocor lagi,” keluhnya kesal melihat ban depan motor kesayangannya itu bocor. Mungkin inilah yang dinamakan sudah jatuh tertiban tangga, disaat Adya mengetahui bahwa ban motornya bocor disaat bersamaan cuaca berubah menjadi mendung dan angin-angin kencang mulai meniup pohon-pohon disekitar Adya berhenti. “Yaapuuun, mendung lagi,” keluhnya kesal.

Dengan raut wajah dongkol Adya menuntun motornya hingga dirinya menemui tukang tambal ban. Tiba-tiba sebuah motor melintas disampingnya dan berhenti tepat didepannya.

“Adya?” Sapa si pengendara motor itu.

Adya dengan malas memfokuskan pandangan yang barusan menyapanya, “Eh, elo!” Tanggapnya.

“Lo kenapa?” Si pengendara motor itupun membuka helmnya dan turun dari motornya untuk menghampiri Adya.

“Lo nggak liat gue nuntun motor, emang nggak tau ya artinya apa?” Jawab Adya sungut.

“Motor lo mogok?” Tanya si pengendara motor itu balik yang tak lain adalah Lefard yang kebetulan juga melewati jalan itu.

“Ban gue bocor.”

Lefard berdiri diam disampingnya hingga Adya heran dan menanyainya, “Lo ngapain disini?”

“Perlu ditemenin nggak?” Tanya Lefard sambil senyum-senyum.

“Idih, nggak usah! Gue sendiri yang cari tukang tambel ban.

Kemudian lefard kembali kemotornya, bukan bermaksud untuk melanjutkan perjalanannya pulang melainkan mengambil kunci motornya dan mengikuti posisi Adya yang sedang menuntun motor.

“Ngapain lo?” Tanya Adya bingung.

“Sebagai sesama pengendara motor harus mempunyai rasa solidaritas yang tinggi, apabila pengendara motor lain mengalami kesusahan kita haru membantunya,” jawab lefard.

Adya tersenyum. “Dasar, bisa aja lo.”

“Yaudah gue temenin aja lo nyari tukang tambal ban, bahaya kalo cewek jalan sendiri,” sambung Lefard sambil tersipu.

Adya kembali tersenyum, langkahnya melaju lagi menuntun motornya untuk mencari tukang tambal ban. Sepanjang perjalanan, mereka berdua tidak kehabisan topik untuk menjadi bahan obrolan, hingga mereka tidak menyadari bahwa gerimis sedikit demi sedikit turun.

“Wah ujan Ad,” tutur Lefard yang sudah tahu lebih dahulu bahwa langit sudah menurunkan air hujannya.

“Wah iya, terus gimana dong?”

“Kita cari tempat teduhan ya Ad.”

“OK.”

Gerimis pun akhirnya semakin deras hingga mereka panik harus berbuat apa.

“Ujannya tambah gede nih Ad.”

“Disitu ada tempat buat neduh Le.” Adya menunjuk suatu balai yang berada disamping jalan yang memisahkan komplek real estate dan pemukiman padat penduduk.

Tanpa banyak cakap, mereka berdua dengan cepat menuntun motornya menuju tempat teduhan tersebut.

BLAK, ditengah-tengah perjalanan mereka, datang sebuah bola yang arah tendangannya mengarah ke tubuh Adya.

“Auw,” Reflek Adya kaget.

Lefard yang berada disamping Adya langsung panik melihat Adya yang tertimpa bola kaki berbahan plastik. “Lo nggak apa-apa?”

“Nggak kok,” jawab Adya. Dirinya langsung mengambil bola yang sekarang berada dibawah kakinya. Kepalanya celingukan dari mana arah bola ini. Tiba-tiba seorang anak laki-laki kecil berjalan mendekati Adya dan Lefard. “Lho, Angga?” Sapa Adya yang mengenali sosok anak kecil itu.

“Eh, kakak,” tanggap anak kecil itu yang juga sebelumnya sudah kenal dengan Adya.

“Ini bola kamu?”

“Iya kak, jawab anak kecil yang berumur 6 tahun itu dengan polos.

“Dek, kalo main bola nendangnya hati-hati ya, temen kakak tadi perutnya kena bola dari tempat kamu main tuh,” sambar Lefard yang masih panik dengan kondisi Adya. Adya dengan cepat menyikut perut Lefard.

“Kakak kena tendangan bola ya?”

“Iya, tapi nggak apa-apa kok. O iya, kakak boleh ikut main nggak? Kakak kangen deh ketemu sama temen-temen kamu yang lain, kakak kan udah sebulan nggak kerumah singgah.

“Wah, ayo kak. Semua anak-anak rumah singgah juga pada ada dilapangan kok, lagi pada main bola,”Ajak Angga semangat. Lefard masih memandangi kedua manusia yang berada didekatnya dengan penuh kebingungan.

“Iseng-iseng gue sama Abay bikin rumah singgah diperkampungan belakang komplek,” Tutur Adya sewaktu dirinya dan Lefard berjalan menuju lapangan.

“Oh ya?’ terus?

“Tapi itu dulu. Dua bulan yang lalu rumah singgah kita digusur karena lahan yang kita pake tanahnya punya orang lain dan kebetulan pemilik tanah itu pengen membangun tanahnya sebagai kantor bisnis didaerah sini,” sambung Adya.

“Terus nasib anak-anak ini gimana?”

“Akhirnya rumah singgahnya kita tutup dua bulan yang lalu, tapi gue sama Abay sering kunjung kok buat kasih buku bacaan, buku pengetahuan dan buku hitung buat mereka. Terakhir sih satu bulan yang lalu.”

“Oh…,” tanggap Lefard mengerti. Amazing banget sih ini cewek, puji Lefard dalam hati.

“Temen-temen, liat deh siapa yang dateng!” Seru Angga kepada temannya yang lain.

“Kak Adya,” tanggap salah satu anak yang lain yang berdiri ditengah lapangan dengan guyuran hujan yang hampir deras. Tidak lama, anak-anak yang lain ikut memanggil nama Adya dengan semangat dan bersama-sama. “Kak Adyaaa!”

“Apa kabar kompeni cilik?” sapa Adya yang tak kalah senang ketika 8 anak laki-laki kecil mendekati dan menyapanya.

“Baik, kakak pa kabar?”, “Kakak udah lama nggak kesini.” , “Kak aku minta buku baru dong!” dan masih banyak lagi pertanyaan yang terdengar ditelinga Adya saat dirinya sudah berdekatan dengan anak-anak kecil itu.

Dengan guyuran hujan disore itu Adya, anak-anak rumah singgahnya dan Lefard akhirnya asyik bermain bola. Mereka bermain dengan seru sekali hingga Adya dan Lefard tidak mmperdulikan bahwa hujan semakin deras dan anginpun bertiup sangat kencang.

“Amir! Ya Allah pulang, ujan gede begini lu pada malah main bola disini. Kalo lu sakit kan gue yang repot.” Seorang ibu-ibu seperempatbaya tiba-tiba datang disela-sela keseruan mereka sambil memegang payung. “Amir ayo pulang!” Serunya sambil membukaan payung yang beliau bawa dtangan kanannya.

“Yah Emak lagi seru nih,” protes anak yang sedaritadi diserukan ibunya untuk mmenyudahi permainan bolanya ditengah-tengah derasnya hujan.

Adya yang juga mengetahui member sandi kepada mereka untuk segera pulang.

Anak-anak yang merespon sandi Adya menurut untuk menyudahi permainan bolanya. Satu per satu dari mereka pergi meninggalkan lapangan, Adya, Lefard dan berjalan menuju ibunya Amir untuk meminta teduhan. Bola mereka yang sebelumnya dipeganga Lefard diberkan ke Angga.

“Kapan-kapan kita mainlagi ya!” Tutur Adya sebagai salam perpisahan dengan mereka.

Situasi masih dalam keadaan hujan deras, Lefard tidak sengaja memperhatikan Adya. “Ya ampun muka lo pucet Ad,” tuturnya panic setelah melihat wajah Adya yang berubah menjadi pucat.

“Ah nggak kenapa-kenapa kok,” jawab Adya dengan gerakan bibirnya yang menggigil.

“Nggak kenapa-kenapa gimana? Lo aja udah menggigil dan bibir lo aja udah biru gitu,” sangkal Lefard yang dengan jelas meilhat perubahan wajah Adya yang kulit danbibirnya membiru serta tubuhanya yang hampir seluruhnya menggigil.

“Namanya juga main ujan-ujanan, pasti menggigil lah,” Adya masih membela diri bahwa dirinya tidak apa-apa. “Yaudah jalanlagi aja yuk cari tukang tambal ban,” ajaknya. Mereka pun melanjutkan menuntun motor mereka masing-masing untuk mencari tukang tambal ban. Belum ada beberapa langkah tiba-tiba tubuh Adya jatuh tepat disamping Lefard.

“Eh, Adya?” Lefard mendadak bingung melihat Adya terjatuh pingsan dibahunya. Tidak ada jalan lain dirinya membopong Adya ke tepi jalan. Lefard dengan cepat menyetop taksi yang kebetulan langsung melintas didaerah situ. “Pak antar ke komplek taruna jalan kenanga ya!” ujar Lefard setelah dirinya dan Adya sudah berada didalam jok belakang taksi. “Hallo Mang Jajat, tolong derek motor Lefard dan Adya dideket jalan taman kota!” Seru Lefard kepada mang Jajat melalui telepon genggamnya.

Taksi yang mengantar mereka berdua tiba dirumah Adya. Lefrad turun lebih dulu, dengan dibantu supir taksi dirinya membopong Adya hingga depan pintu rumah Adya. “Bi!” Seru Lefard dari luar rumah. Karena situasi yang masih hujan suara lantang Lefard tidak terlalu terdengar dari dalam rumah Adya, hingga butuh berkali-kali dirinya memanggil bi Nana dari luar agar suaranya terdengar.

“Iya sebentar,” teriak bi Nana dari dalam rumah. Pintu rumah Adya yang sedang dalam keadaan terkunci pun dibuka oleh bi Nana. “Ya Allah Non Adya!!” Teriak bi Nana panic melihat majikan gadisnya dibopong oleh Lefard dalah keadaan pingsan. “Kenapa Non Adya Den?”

“Pingsan Bi,” jawab Lefard singkat. Dengan cepat dirinya menaiki anak tangga menuju  kamar Adya.

Sesampainya dikamar tubuh Adya dibaringkan diatas tempat tidurnya.

“Bi, tolong gantiin baju Adya yang basah ya!” Seru Lefard kepada bi Nana.

Bi Nana menganggukkan kepalanya. Sementara bi Nana menggatikan pakaian Adya, Lefard keluar dari kamar Adya dan menunggu diluar.

“Halo!” Jawab seorang cewek dari seberang.

“Halo Ke!”

“Iya Le, kenapa?” Jawab keira dari seberang.

“Bisa kerumah Adya sekarang nggak Ke?”

“Lho emang kenapa Le?”

“Adya tadi pingsan dijalan.”

“Hah??? Pingsan dijalan, kenapa?” keira yang tadinya terbaring ditempat tidurnya spontan duduk mendengar kabar dari Lefard.

“Ceritanya nanti aja disini.”

“Yaudah gue kesana sekarang,” tuturnya dan lekas meninggalkan lapangan basket.

“Udah Bi?” Tanya lefard melihat bi Nana keluar dari kamar Adya.

“Udah Den. Bibi tinggal kebawah dulu ya Den, mau telepon dokter.”

“Iya Bi.” Lefard kembali memasuki kamar Adya, memperhatikan Adya yang sedang tertidur diselimuti dengan selimutnya yang tebal. Dalam kondisi bagaimanapun Ad, lo tetep aja cantik. Guman Lefard dalam hati. Perlahan dirinya duduk disamping tempat  tidur Adya dan dengan lembut mengusap kening Adya, menyibak poninya yang masih tersisa dengan air hujan tadi.

“Ehm,” tegur Keira yang baru saja datang.

“Eh, Keira.” Lefard menjadi salah tingkah.

“Adya kenapa Le?”

Belum sempat Lefard menjawab, dokter keluarga Adya pun datang.

“Selamat sore!” Sapa dokter separuh baya dengan senyuman yang menyisakan tiga kerutan didahinya. “Anda teman-teman Adya?”

“Oh, iya dok,” jawab keira.

“Saya periksa Adya dulu ya,” sambung dokter tersebut sambil memasang stetostop dikedua daun telinganya. Setelah selesai memeriksa Adya, terakhir dokter tersebut memeriksa mata Adya dengan menyenternya.

“Gimana keadaan Adya dok?” Tanya Lefard melihat dokter yang memeriksa Adya kembali mengantongi stetoskopnya.

“Adya hanya kelelahan, dia butuh banyak istirahat.”

“Huft,” respon Keira spontan.

“Nanti setelah Adya sadar berikan ini,” dokter yang memeriksa Adya menyodorkan dua bungkus obat. “Ini obat demam dan vitamin. Ingat ya diberikan sesudah Adya makan,” lanjut dokter tersebut.

“Makasih ya dok,” tutur lefard.

“Sama-sama. Baik saya pamit dulu.”

“Makasih ya dok.” Giliran Keira yang mengucapkan kata terimakasih kepada dokter keluarga Adya.

“Ke, kita kedepan sebentar.” Lefard menarik tangan Keira yang sebelumnya mengelus-elus kening Adya.

“Kenapa Le?” Tanya Keira bingung setelah dirinya dan Lefard sudah berada diluar kamar Adya.

Sorry gue nggak bisa tepatin janji,” tutur lefard sedikit gugup.

“Janji apa?” Keira semakin bingung.

“Tentang Adya,” sambung Lefard yang semakin membuat Keira kebingungan.

“Ya tentang apa?”

“Perasaan gue ke Adya lah Ke, gue udah lama sayang sama dia dan gue nggak sanggup kalo harus ngelepas dia begitu aja dengan apa yang selama ini gue lakuin buat dia,” jelas Lefard dengan suara agak berbisik agar Adya tidak mendengarnya.

“Apa?”

“Suhht”

“Lo udah gila, bukannya kemaren lo udah janji Le?”

“Iya, emang kemaren gue sempet janji sama lo, tapi setiap gue sama Adya perasaan gue lain Ke, gue nggak bisa boong lagi. Gue harus kasih tau Adya kalo sebenernya gue sayang banget sama dia.”

Keira hanya diam mendengar penjelasan Lefard.

“Gue nggak bisa ngerelain semua pengorbanan gue selama ini buat Adya, jadi detektifnya supaya dia tau bajingannya Edhu, jadi orang paling nyolot buat dia biar dia selalu perhatiin gue, ajak dia ke famodya padahal setelah kakak gue meninggal gue udah nggak mau ketempat itu, jadi manusia paling tegar dimata dia padahal gue juga msih terpuruk atas kematian kakak gue, dan satu lagi Ke, tentang hubungan kita. Apa cuma mau lo lewatin begitu aja tanpa ada hasilnya?”

“Ya tapi…”

“Adya mesti tau perasaan gue, gue sayang banget sama dia. Semua itu gue lakuin untuk dia. Bahkan kita harus pura-pura pacaran.”

Dengan spontan mulut Adya menganga kaget mendengar apa yang barusan ia dengar. Tanpa disadari oleh Lefard dan Keira, sedari tadi Adya mendengar pembicaraan mereka sewaktu dirinya tersadar dan ingin kekamar mandi dan tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka. Perasaan bercampur dibenak Adya tanpa pikir panjang dirinya keluar dari kamarnya dan menemui kedua temannya itu. “Apa yang gue denger barusan? Maksudnya apa?”

Keira dan Lefard kaget begitu Adya sudah berada dihadapan mereka. Keduanya masih terdiam dan tidak menjawab langsung pertanyaan Adya.

“Ayo jawab? Kenapa ada gue kalian malah diem?” desak Adya.

“Lo udah sadar Ad?” Lefard mengalihkan pertanyaan Adya.

“Nggak usah mengalihkan pembicaraan deh Le, gue udah tau semua apa yang lo omongin barusan. Apa maksudnya?”

“Ad, lo masih sakit. Mendingan lo sekarang istirahat ya,” Keira mencoba membuka pembicaraan.

“Lho emangnya kalo gue sakit kenapa, apa hubungannya sama pertanyaan gue?” Adya masih tetap mendesak mereka berdua.

“Ke, gue nggak nyangka ya sama lo. Lo dibayar berapa sih sama dia buat jadi pacar pura-puranya?”

“Maksud lo apaan sih Ad?” keira tidak terima dengan perkataan Adya.

“Lho kok jadi lo sekarang yang desak gue. Pertanyaan gue yang tadi aja lo belom jawab.”

“Lo udah denger semuanya kan Ad?”

“Iya gue udah denger semuanya,” sahut Adya.

“Terus ngapain lo minta penjelasaan sama gue, kalo emang lo udah denger semuanya seharusnya lo cerna apa yang lo denger,” sambung Keira dengan nada meninggi. “gue nggak suka cara ngomong lo Ad?” telunjuk Keira hamper mendarat dikening Adya.

Keira lekas meninggalkan Adya dan Lefard, dirinya kesal dengan perkataan Adya dan memilih keluar dari rumah Adya. Lefard dan Adya masih berada dilantai dua, tepat didepan pintu kamar Adya Saling memandang.

“Ngapain lo masih ada disini?” tanya Adya ketus. “Lo susul tuh cewek lo” sambungnya kasar.

“Gue bisa jelasinin Ad,” Lefad mencoba menenangkan Adya yang sedang kalaf.

“Gue nggak mau denger penjelasan apapun dari lo, lo bukan temen gue. Gue benci lo berdua. Sekarang lo pergi dari sini!” seru Adya dengan nada meninggi mengusir Lefard dari rumahnya.

Lefard tidak mampu berkata apa-apa, dirinya masih syok karena Adya mengetahui perasaannya terlalu jauh sebelum dirinya menyatakan kepada Adya. “Gue bakal pergi Ad, jangan lupa makan dan minum obat ya, terus istirahat yang cukup biar lo cepet sembuh. Itu pesen dokter keluarga lo,” tutur lefard sebelum akhirnya meninggalkan Adya.

Adya masih berdiri terpaku selepas mengusir habis-habisan lefard. Perasaannya campur aduk antara kesal, sedih, bingung dan berdebar-debar bahwa lelaki yang selama ini care kepadanya memang benar-benar mempunyai perasaan dengannya. Pelan-pelan kakinya melangkah kembali ketempat tidur dengan perasaannya yang belum juga hilang.

Sesampainya dirumah, Lefard masih terbayang-bayang akan kejadian yang baru dialaminya dirumah Adya. Lefard masih belum percaya bahwa Adya mengetahuinya lebih dulu sebelum dirinya memberitahu kepada Adya. Jari kanannya masih setia menekan tombol dial. Nomor Keira terus ditelponnya walau daritadi sang pemilik nomor tersebut tidak pernah mengangkatnya.

***

** To Be Continue

 

Famodya :

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5

Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10

Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15

Part 16 (END)

 
Leave a comment

Posted by on September 17, 2011 in Cerita, Famodya

 

Tags: , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: