RSS

FAMODYA (Part 13)

17 Sep

“Lho Non Adya mau kemana?” Tanya bi Nana yang kaget melihat Adya mengenakan pakainan abu-abu padahal keadaannya belum sehat betul.

“Iya Bi,” jawab Aya singkat sambil mengambil dua lapis roti tawar dimeja makan.

Bi Nana dengan cepat mendekati Adya. Dilihatnya wajah majikannya tersebut, sangat terjaga.

Adya mengernyitkan dahinya. “Kenapa Bi?” Tanya Adya bingung.

Bi Nana masih terjaga memandangi majikannya tersebut sambil melongo. “Emang Non Adya udah sembuh?”

“Ya liat aja sendiri!”

“Hah?”

 Respon bi Nana heran. “Non, bibi nggak salah liat kan?” Bi Nana berbalik Tanya kepada Adya dengan nada bingung.

“Kenapa sih Bi?”

Bi Nana meletakkan telapan tangannya di atas dahi Adya. “Muka Non Adya aja masih pucet dan badan Non Adya aja masih anget, kok ngotot mau berangkat kesekolah sih Non, nanti kalo sakitnya tambah parah gimana? Kalo sampe nggak sembuh dan akhirnya dirawat dirumahsakit ginama Non, terus…”

Belum sempat bi Nana melanjutkan omongannya, Adya dengan cepat memotongnya. “Aduh bi Nana nih lebay banget deh, Adya udah baikan kok. Ini cuma anget-anget doang, paling nanti siang udah stabil,” protesnya.

“Tap…”

“Ih…yaudah deh Bi, tenang aja sama Adya,” potong Adya untuk memastikan kepada bi Nana bahwa dirinya baik-baik saja. “Yaudah ya Bi, Adya berangkat sekolah dulu ya. Dah!” Pamit Adya setelah melahap habis satu lapis roti dan segelas susu coklat.

“Non hati-hati ya!” teriak bi Nana melihat majikan muda perempuannya berlari kecil menuju garasi mobil jeep hijau milik Abay.

Jeep Adya melaju kencang menuju sekolah Tira Palawa. Butuh waktu perjalanan 25 menit perjalanan dari rumah Adya sampai kesekolahannya dengan mengendarai mobil. Sesampainya disekolah, Adya langsung memarkirkan mobilnya dan berjalan cepat menuju kelasnya. Dengan jarak kurang dari 10 meter Adya melihat Keira, Lefard dan Tyas baru saja turun dari tangga dan menuju kantin. Adya dengan cepat berlari untuk mengejar mereka. “Kiera!!!” panggil Adya. Namun dengan keadaan Adya yang kurang sehat maka suara yang dikeluarkannya begitu pelan sehingga suara Adya pun tidak terdenga oleh Lefard, Keira dan Tyas. “Keira!!!” Adya memanggil sekali lagi berharap salah satu dari mereka mendengar panggilan keduanya, namun langkahnya tiba-tiba tertatih dan pandangannya mulai berkunang-kunang. Aduh kepala gue sakit banget ya, gumamnya. Tanpa sadar tubuhnya sudah jatuh tergeletak tepat didepan tangga. Anak-anak lain yang melihat Adya pingsan segara bergegas menolongnya.

Entah apa yang membisiki telinga Tyas, saat Adya pingsan saat itu juga ia memalingkan kepalanya kebelakang  dan tidak sengaja melihat kerumunan didepan tangga. Apaan tuh? Tanyanya penasaran dan kemudian mendektinya.

“Yas, Adya pingsan!” seru seorang siswi yang tepat berada dibawah tangga sedang membantu Adya untuk sadar.

“Hah!” Tanggap Tyas kaget dan segera berlari cepat mendekati Adya sambil berteriak ke Keira dan Lefard bahwa Adya pingsan. Mendengar teriakan Tyas, Lefard dan Keira juga dengan cepat berbalik badan menuju tempat Adya pingsan.

Lefard berlari paling cepat. Adya yang masih tergeletak didepan tangga dengan cepat dibopong olehnya ke ruang UKS. Sementara Tyas dan Keira mengikuti dari belakang. Sambil masih membopong Adya, dipandanginya wajah Adya. Wajahnya begitu pucat dan keringat menghiasi sudut-sudut wajahnya. “Tolong ambilin minyak kayuputih ya!” Seru Lefard sesampainya di ruang UKS dan meminta anggota PMR untuk membantunya menyadarkan Adya.

“Ad, sadar Ad!” tutur Keira panik yang berada disebelah kanan Adya.

“Iya Ad sadar dong!” sambung Tyas yang sama paniknya dengan Keira.

Tidak memerlukan waktu lamauntuk menyadarkan Adya. Pelan-pelan matanya terbuka dan suaranya bergumam.

“Hwa…akhirnya sadar juga Adya,” tukas Tyas senang.

“Ad, lo nggak apa-apa?” Tanya Lefard yang melihat Adya sudah total membuka matanya.

“Lefard?” tutur adya lemas.

“Lo tadi pingsan. Lagian ngapain sih lo lari-larian disekolah? Kayak masa kecilnya kurang bahagia aja,” omel Lefard.

Adya yang didalam hatinya sudah senang kerana saat dirinya tersadar, dirinya berada persis disamping Lefard akhirnya mencibirkan mulutnya sedikit karena mendengar omongan Lefard barusan. Ught..masih aja ngomong sengak sama gue, jujur aja sih kalo lo khawatir sama gue! Gerutunya dalam hati.

“Ia Ad, kita semua tadi panik ngeliat lo pingsan,” sambung Tyas dengan antusias. Sementara Keira belum membuka mulutnya.

Adya hanya menanggapi kepanikan Tyas dengan senyum. Kemudian kepalanya perlahan menengok kearah Keira dan senyum kepadanya.

“Lo bukannya sakit Ad, kenapa nekat masuk sekolah?” Tanya Keira sesaat setelah dirinya ditengok oleh Adya.

“Udah sembuh kok,” jawab Adya masih lemas.

“Udah sembuh tapi lo pingsan. Obat dari dokter udah lo minum belum?” sambung Keira.

Adya diam sejenak. Ternyata biarpun kemaren gue kasar sama Keira, dia tetep care sama gue, tutur Adya dalam hati.

“Ih, malah bengong. Bawa nggak obatnya? Cepetan diminum!” Seru Tyas yang sengaja mengacaukan lamunan Adya.

“Ke maafin gue ya!” tutur Adya sambil menggenggam tangan kana Keira.

Lefard yang menyadari perkataan Adya adalah sesuatu yang serius menyerukan Nifa, yaitu anak PMR yang tadi sudah membantunya untuk meninggalkan ruang UKS tersebut. “Bisa tinggalin kita dulu disini Nif?” bisik Lefard. Dan dengan cepat Nifa menganggukkan kepalanya tanda mengerti.

Adya bangun dari tidurnya dan berbaring setengah duduk sambil masih menggenggam tangan Keira. “Gue emang nggak seharusnya ngomong kayak gitu. Gue emang bodoh, nggak sopan,” tuturnya sambil menatap mata keira dengan iba.

Mendengar perkataan Adya, Keira spontan tertegun sambil tidak bias berkata banyak. Dirinya hanya menerima genggaman tangan sahabatnya. “Nggak apa-apa kok Ad,” tanggap Keira sambil melebarkan senyumnya.

“Gue sadar kok kalo kata-kata gue kemarin agak kasar sama lo. Makanya gue mau minta maaf sama lo. Gue merasa bersalah banget.”

Keira kembali tersipu mendengar penuturan Adya, kemudian mengikuti arah mata sahabatnya tersebut. “Ehm..Yas kita keluar sebentar yuk!” Ajak Keira sengaja kepada Tyas untuk member kode agar bias meninggalkan Adya dan Lefard berdua diruang UKS.

Mendengar tuturan Keira barusan, Lefard dan Adya spontan salah tingkah.

“Kita tinggal dulu ya Le,” tukas Keira sambil tersipu meledek.

Adya dan Lefard pun kini berada diruang UKS berdua, suasana menjadi hening beberapa detik sebelum Lefard membuka pembicaraan. “Lo udah baikan?”

Adya mengangguk. “Gue juga mau minta maaf sama lo Le,” tutur Adya pasti.

Lefard hanya tersipu. “Ya…emang lo kalo ngomong asal ceplas ceplos kan Ad?” Candanya.

“Ya, karena omongan gue juga, gue jadi merasa bersalah sama lo Le.”

“Lho kenapa?”

“Pake Tanya lagi lo. Coba pikir sendiri, masalah apa yang bikin gue sensi sama lo kemaren?” tanggap Adya yang kesalnya mulai terpancing lagi oleh sikap Lefard.

Lefard lagi-lagi menanggapi dengan tersipu. “Gue bingung harus mulai darimana,” buka Lefard sambil berkata terbata-bata. “Yang pasti apa yang udah lo dengar semuanya itu bener Ad. Gue sekarang tinggal nunggu dari lo aja.”

“Emang gue udah denger apa aja? Kok lo bilang semua.”

“Ya…percakapan gue sama Keira kemarin lah Ad.”

“Kalo jawabannya antara ‘ya’ atau ‘nggak’ terus tiba-tiba gue bilang nggak gimana?”

Lefard tidak langsung menjawab, ia menunduk sebentar.

“Tapi Le,” sambung Adya membuat Lefard terpaksa mendongakan kepalanya kembali. “Sayangnya apa yang gue rasain itu sama seperti apa yang lo rasain.”

“Maksud lo Ad?” Tanya Lefard bingung bercampur senang sekaligus memastikan jawaban Adya barusan.

“Ternyata selama ini gue merasakan apa yang lo rasain Le dan sekarang gue akui, gue nggak bias jauh dari lo. Gue jatuh cinta sama lo Le,” sambung Adya diikuti dengan meronanya kedua pipi Adya.

Lefard dengan pasti melebarkan senyumnya. “Berarti kita sekarang?”

Adya hanya mengangguk-angguk dengan senyuman sumringahnya.

“Cie….,” Ledek Keira dan Tyas tiba-tiba dari balik jendela ruang UKS membuat Adya dan Lefard kaget.

“Kalo endingnya kayak gini sih pasti sakitnya Adya langsung sembuh,” ledek Keira. “Wah…nggak sia-sia deh akting gue selama ini.”

“Oia, tunggu deh. Kok gue ikut-ikutan ya, padahal gue sendiri nggak ngerti. Kenapa jadi Adya dan Lefard sih yang disorakin. Bingung,” tukas Tyas sambil garuk-garuk ubun-ubunnya bingung.

“Oh jadi lo juga nggak tau Yas?” Tanya Adya.

“Nggak,” jawab Tyas polos.

“Mereka berdua sekongkol tuh pura-pura pacaran, padahal tujuannya sih si Leher Kuya ini pengen PDKT sama gue,” tutur Adya yang masih berbaring diranjang ruang UKS sambil tertawa senang.

Wajah Tyas masih tidak berekspresi. Dirinya belum konek dengan penuturan Adya.

“Yah, loadingnya lemot deh,” sambung Keira sambil mengusapkan telapak tangan kananya kewajah Tyas geregetan. Adya dan Lefard tertawa melihat raut wajah Tyas. “Aduh.”

“Kenapa lo Ke?” Tanya Adya dan Lefard kaget.

“Mules. Gue ke toilet dulu ya,” pamit Keira. Dirinya cepat membuka pintu UKS dan berlari kearah toilet dengan wajah yang berkaca-kaca, ternyata Keira hanya beralasan perutnya mules, dibalik kebohongannya hatinya merasakan kehancuran yang belum sanggup menerima kenyataan Adya dan Lefard bersama. Disekanya dengan cepat air mata yang spontan menetes di pipinya. Dalam kesedihannya Keira berusaha tegar dan dapat menerima bahwa Lefard akhirnya jadian dengan Adya.

Ponsel Keira bergetar. Kita kekelas bareng yuk! Isi pesan singkat Adya.

Membaca SMS Adya, keira cepat merapikan wajahnya kembali agar tidak terlihat habis menangis. Dimasukkan kembali ponselnya kedalam saku bajunya, dan ia keluar dari toilet.

“Ke!” Panggil seseorang dari balik tubuh Keira. Spontan Keira menengok untuk mengetahui siapa yang memanggilnya tadi. “Elo?” Tanggap keira kaget setelah tau yang memanggilnya adalah Bagas.

“Gue dengar Adya ada diruang UKS ya?” Tanya Bagas.

“Iya,” jawab Keira singkat.

“Masih disana?” Bagas memadani jalan Keira.

“Iya.” Lagi-lagi dijawab singkat oleh Keira.

“Lo kenapa Ke?”

“Kenapa?”

“Nggak. Ada yang beda aja dari wajah lo.”

“Sok tau. Gue nggak apa-apa kok.” Percakapan mereka pun selesai dam mereka diam sampai mereka tiba di ruang UKS.

“Cie…langsung akur ya, jangan-jangan Bagas juga ikut jadi komplotan lo Le?” ledek Adya terhadap keira.

Keira hanya menanggapi dengan senyum tipis sedangkan Bagas hanya mengernyitkan dahinya, belum mengerti dengan maksud pembicaraan Adya.

“Gue sih nggak mengontrak Bagas. Mungkin Keira,” tanggap Lefard.

“Maksud kalian apaan sih?” Tanya Bagas yang semakin bingung dengan pembicaraan Adya dan Lefard.

“Hahaha..si Bagas masih akting. Ke, emang lo belum certain?” sambung Tyas.

“Gue emang bener-bener nggak tau,” sambung Bagas semakin bingung.

“Udah ah, kita masuk kelas aja. Sebentar lagi kan bel masuk,” ajak Tyas.

“Eit, tunggu!” Jegat Keira. “Gue punya tantangan nih buat pasangan baru kita. Nanti kan quiz pak Yudhis dan lo berdua kan pinter kimia. Jadi gue punya tantangan, lo berdua harus dapet nilai quiz yang sama dan sempurna.”

“Iya setuju,” tanggap Tyas.

“Dan satu lagi…”

“Apaan lagi Ke?” potong Adya yang ingin mencoba mengkorting tantangan keira.

“Kalian harus duduk ditempat kalian masing-masing. Maksudnya, Lefard masih sama gue dan lo Ad masih duduk sama Bagas.”

“OK. Kalo tantangannya berhasil gimana?” Tanya Lefard.

“Hehe,” Keira meringis. “Ya nggak gimana-gimana sih. Palingan gue kasih selamet aja kalo berhasil.”

“Hu!” Adya, Lefard dan Tyas menyuraki Keira sambil tertawa.

Gue sebenernya masih belum ngerti apa yang lagi mereka bicarain sekarang. Tapi gue merasakan kesedihan keira. Gumam Bagas dalam hati sambil ikut berjalan menuju kelas.

Bel masuk pun berbunyi, semua murid masuk kelas mereka masing-masing tidak terkecuali Adya, Lefard, Tyas, Keira dan Bagas. Sesuai kesepakatan yang mereka usapkan didepan ruang UKS, Adya masih duduk dengan Bagas dimeja depan dan Lefard duduk dibelakang dengan Keira. Tepat 10 menit setelah bel berbunyi quiz pak Yudhis dimulai, para murid dengan seksama mengerjakan soal.

Keira melirik Lefard, bukan bermaksud ingin nyontek tapi memandang paras Lefard saat ini. Terpaksa harus seneng liat lo seneng, tutur keira dalam hati.

***

“Gue jadi penasaran nih sama hasilnya,” tukas Lefad berjalan menuju parkiran bersama Adya, Keira dan Bagas.

“Kalau kita belum jadian sih, gue maunya nilai gue yang lebih gede,” sambung Adya sambil meringis.

“Emang nilainya diumumin kapan?” Tanya Bagas.

“Harusnya sih pulang sekolah nilainya udah keluar dimading. Tapi karena pak Yudhis katanya ada urusan jadi hasilnya diumumin besok deh,” jawab Adya.

“Oh ya Ad!” Seru Lefard yang sempat mengangetkan Adya.

“Kenapa?”

“Em…” jawab Lefard malu. “Pulang bareng sama gue yuk!” Sambungnya dengan tersipu.

“Ehem,” ledek Keira. “Mulai deh drama romantisnya,” sambungnya.

“Em…tapi gue bawa mobil Abay,” jawab Adya yang tidak bermaksud menolak ajakan Lefard.

“Oh,” jawab Lefard tak bersemangat.

“Tenang, kan bisa diganti nanti,” sambung Adya.

“Hah? Maksudnya?” Tanya Lefard bingung.

“Yah ini cowok baru pertama kali pacaran ya?” Ledek Bagas. “Nggak ngerti lo Le?”

Lefard dengan polos menggelengkan kepalanya.

Bagas menarik tubuh Lefard untuk menjauh sebentar dari Adya dan membisikkan kalimat ketelinga Lefard. “Ngedate maksudnya!”

“Oh,” Lefard meangguk-anggukan kepalanya baru mengerti.

“Wah katrok juga ternyata lo Le,” ledek Bagas sekali lagi.

Sorry, loadingnya lama,” tanggap Lefard sambil tertawa.

“Eh..yaudah ya gue pulang,” pamit Adya yang berdiri tepat didepan mobilnya.

“OK Ad, hati-hati ya!” jawab Bagas.

“Gue nebeng dong Ad!” tutur Keira yang membuntuti Adya dari belakang.

“Eit, nggak-nggak. Lo pulang bareng Bagas aja!” Tolak Adya.

“Yah Ad pliiiiis.”

“Nggak!!” dan mobil Adya langsung melaju kencang keluar parkiran.

“Gue juga pulang ya Ke. Dah!” Lefard menyusul untuk pamit dan sengaja meninggalkan Keira dan Bagas berdua.

Merekapun tertegun berdiri disamping pintu gerbang sambil menatap satu sama lain. Bagas menyipukan senyumannya kearah Keira. Keira masih belum menanggapi dan memilih untuk masih diam.

“Gue rasa lo masih perlu dada gue deh Ke, dan gue rasa keceriaan yang lo tampilkan sampe saat ini cuma palsu,” tutur Bagas dikeheningan itu. “Sebagai sahabat lo, gue nggak mau ngelihat lo sedih tapi ditutup-tutupin dan sebagai seseorang yang pernah deket sama lo, gue masih menyediakan tempat sandaran untuk bisa berbagi dengan gue dan sebagai…” kata-kata Bagas terputus karena dengan cepat Keira memeluk tubuh Bagas erat sambil menahan air mata.

“Buat apa Tuhan ciptain airmata kalo lagi sedih air itu nggak keluar,” sambung Bagas. “Nangis! Nangis aja Ke, jangan ditahan kalo itu bisa bikin lo lega.” Bagas menerima pelukan Keira, menghangatkan hatinya yang sangat beku saat ini.

***

“Iya sebentar!” teriak bi Nana dari dalam rumah ketika bel rumah Adya berbunyi.

“Bi….Adya aja yang buka pintunya!” Teriak Adya dari pagar dalam, lantai dua depan kamarnya.

Langkah bi Nana pun berhenti didepan daun pintu masuk. “Eit,” tuturnya mengerem langkah kakinya.

“Bibi balik aja kedapur, siapin makan malem!” Seru Adya sambil berlari kecil menuruni anak tangga.

“Lho, emang siapa yang dateng Non?” Tanya bi Nana bingung.

“Ih…udah sanna!” Usir Adya manja sambil medorong tubuh bi Nana kembali kedapur.

Bel rumah Adyapun kembali berbunyi dan Adya dengan cepat membuka pintu rumahnya.

Lefard tercengang beberapa saat karena kaget juga gugup karena baru pertama kali istilahnya ngapelin Adya. “Hai Ad!” Sapanya.

“Hai, sorry ya lama buka pintunya. Ayo masuk!”

“Eh ada Den Lefard!” Sapa bi Nana dari meja makan.

“Bi, apa kabar?”

“Baik den…” kemudian menyikut perut majikannya yang berjalan disampingnya untuk mengambil minuman kaleng dilemari es. “Oh…itu Non tamunya?” Tanyanya sambil meledek.

“Psst,” jawab Adya tanpa memalingkan niatnya untuk mengambil minuman. Dan dengan spontan bi Nana menyanyikan syair lagu I’m falling in lovenya melly goeslow. “Dan ku tlah jatuh cinta, ku wanita dan engkau lelaki. Perasan ku berkata am poling inlov,” Nyanyinya dengan gaya bi Nana yang kocak dan membuat kedua pipi Lefard dan Adya babak belur kemerahan.

***

“Terus selamem lo kemana Ad?” Tanya Tyas penasaran.

“Hahaha, kemana? Nggak kemana-mana kok, dirumah aja,” Jawab Adya sambil merapkan buku-buku tugasnya.

“Ya…nggak seru,” sahut Tyas kecewa.

“Lho, emang kenapa?”

“Ngedate dong, kemana kek. Makan, jalan atau nonton. Yah layaknya kayak orang baru pertama kali jadian Ad,” sambung Tyas.

“Halah, gaya banget, kayak lo udah pernah ngerasain baru pertama jadian aja deh Yas,” tutur Keira sambil mencibirkan bibirnya.

Tyas memanyunkan bibirnya. “Huh Keira.”

“Ya kan bener. Sampe sekarang juga lo belum punya cowok,” sambung Keira.

“Hust, Keira!” Adya menyikut perut Keira.

“Ih…Keira ini nyebelin banget sih. Tau deh yang udah balikan sama Bagas,” gerutu Tyas.

“Hah? Gue nggak salah denger Yas?” Tanggap Adya kaget. “Lo balikan lagi sama Bagas?”

“Udah-udah Ah, balik kekelas aja sana Yas!” Seru Keira sambil mengalihkan pembicaraan.

“Huh, ngeles aja kayak tukang ojek,” gerutu Tyas. Adya hanya tertawa melihat tingkah kedua sahabatnya itu.

“Elo tuh tukang bemo,” bales keira.

“Ye…tukang bajaj.” Tyas membalas kataan Keira lagi.

“Ye…”

“Udah ah udah. Kalo lo sama gue nyampur mah ribut melulu,” potong Tyas. Kemudian memandang jam yang melingkar dipergelangan tangan kirinya. “Bentar lagi bel nih, gue balik kekelas dulu ya. Dah.” Tyaspun beranjak dari duduknya dan pamit menginggalkan kelas Adya.

***

“Keren-keren,” puji Keira dan Bagas kepada Adya dan Lefard dimeja kantin.

“Harusnya kita dikasih hadiah nih,” tutur Lefard yang duduk tepat disamping Adya.

“Huh..maunya,” Keira mencibir.

“Siapa bilang? Keira emang kasih hadiah buat kita tau Le,” sambung Adya.

“Apaan?” Tanya Keira bingung karena merasa tidak memberi hadiah apa-apa untuk Adya dan Lefard.

King dan Queen basket TP akhirnya balikan lagi,” jawab Adya dengan mata lentiknya meledek Keira.

“Cie..nah gitu dong, biar tim basket kalian tambah kompak.” Lefard member selamat.

Keira dan Bagas hanya menanggapi dengan senyuman manis. Merekapun menikmati makanan diwaktu istirahat dikantin kesayangan mereka.

***

“Mana sih gurunya, udah nunggu setengah jam nggak dateng-dateng,” gerutu Adya yang kesal karena guru mata pelajaran kewarganegaraan sudah telat 30 menit dari jam mengajarnya.

“Ad, coba lo tanya lagi ke guru piket!” seru Lefard.

Belum sempat Adya bangun dari duduknya, speaker yang terpasang disisi kiri dan kanan ruangan kelasnya berbunyi. “Hari ini anak-anak kelas XII dipulangkan lebih cepat karena para guru XII pergi bersama melayat mantan guru besar TP yang wafat tadi malam, pergunakan sebaik-baiknya waktu yang kami berikan ini dengan belajar ya. Terimakasih, selamat siang.”

Dengan sangat cepat seluruh anak XII saling bersorai mendengar suara pengumuman tersebut.

Lefard melihat jam yang melingkar diperelangan tangaanya. Masih siang, tuturnya dalam hati. “Ad, kita main yuk!” ajak Lefard dengan wajahnya yang sumringah.

Adya tersenyum mencibir mendengar ajakan Lefard. “Hm…mau ngajak gue kencan ya?” Ledeknya kepada Lefard dengan suara agak keras.

Lefard mengehelakan nafasnya. Dasar betet, bisa juga dia ketularan cemprengnya Tyas.

“Oia, emang kemana?”

“Ya…kalo nggak mau sih nggak apa-apa, gue nggak maksa kok,” jawab Lefard malas.

“Hm…cepet banget ngambeknya, kayak anak-anak,” respon Adya sambil kembali merapikan buku-bukunya kedalam tas.

“Apa? Tadi lo ngatain gue apa?” Tanya Lefard tidak terima.

Adya hanya menengokkan kepalanya sedikit sambil memandang wajah Lefard kesal. Katanya mau ngajak gue jalan, tapi malah marah-marah.gerutu Adya dalam hati.

Lefard membuang nafasnya panjang untuk kedua kalinya. “Ngambek. dasar betet,” gerutu Lefard kepada Lefard.

“Heh, ngapain lo malah ngatain gue?” sungut Adya.

Lefard menghadapkan tubuh Adya tepat didepan tubuhnya. “Denger ya idung betet yang tukang marah-marah, sekarang baru jam 2. Lo mau nggak jalan-jalan sama gue? Daripada lo sendirian dirumah. Lagian gue juga nggak yakin kalo lo sampe rumah bakalan belajar,” tuturnya.

Adya hanya memelototinya. Dan pelan-pelan mengembangkan senyumnya senang. “Oh,” tanggapnya malu.

Lefard ikut tersenyum. “Gimana mau nggak?” tanyanya sekali lagi.

“Iya…iya…tapi gue pulang dulu ya. Ganti baju dulu.”

“Hah? Pulang dulu?” Tanya Lefard kaget. “Ngapain sih, mau dandang dulu lo? Ganjen banget,” sungutnya.

Kali ini Adya yang membuang nafasnya panjang. “Gini ya leher kuya ku yang tukang ngomel-ngomel, gue itu paling males kalo jalan masih pake baju sekolah. Emang lo nggak malu apa pake segaram?” tuturnya.

“Ya…ya…ya…Tyas kedua,” tanggap Lefard.

Adya hanya tertawa melihat tingkah pacar barunya tersebut.

Merekapun pulang bersama. Dengan motor yang sama mereka menuju rumah masing-masing untuk ganti baju dulu.

***

“Emang kita mau kemana sih?” Tanya Adya yang masih belum tau kemana Lefard mengajak dirinya pergi.

“Kita mau pergi ke hotel,” jawab Lefard dengan suara menakutkan.

Dengan cepat Adya melayangkan pukulan kelengan Lefard hingga membuat oleng motor yang dikendarai Lefard.

“Eh, lo ngapain sih Ad, kalo tadi kita jatoh gimana?” omel Lefard yang panic.

“Lagian.”

“Hehehe…bercanda.”

“Huh,” tanggap Adya masih kesal sambil mencubit daging yang melapisi tulang panggul Lefard.

Motor mereka pun kembali melaju menuju tempat yang dirahasiakan Lefard.

“Bukannya ini jalan mau ke Famodya ya?” Tanya Adya sambil kepalanya celingukan kekenan dan kekiri.

“Emang.”

“Terus? Kenapa dari tadi lo nggak kasih tau gue?”

“Emang mesti ya kasih tau dulu kalo kita mau kasih sesuatu yang indah buat orang yang kita sayangi?”

Mendengar kata-kata barusan yang diucapkan Lefard membuat Adya tertegun. Dirinya tidak membayangkan bahwa Lefard begitu tulus menyayangi dirinya.

“Turun! Udah sampe kita,” seru Lefard sambil mematikan mesin motornya sekaligus membuyarkan rasa bunga-bunganya Adya.

Adya mencibir kesal, dalam hatinya berkata. Baru juga bikin gue Ge-er, eh ngomongnya udah nyolot lagi. Dasar, emang nggak bisa jadi cowok romantis.

“Sini.” Lefard menarik tangan Adya ke arah sudut kiri tanah yang begitu lapang dan bernuansa hijau tersebut.

Adya hanya menanggapi bingung, mau dibawa kemana dirinya saat ini.

“Kita main itu yuk!” Lefard menunjukkan telunjuknya kelangit. Dirinya mengajak Adya untuk memainkan mainan yang bahannya terbuat dari keranggka bilahan bamboo dan dikoveri kertas.

Adya tersenyum aneh. “Layang-layang?”

Lefard mengangguk pasti.

“Boleh,” tanggap Adya sambil tersenyum. Aneh, orang kayak dia, mau main layang-layang. Maklum di New Zaeland mungkin nggak ada benda kayak itu kali, tuturnya heran dalam hati.

Sebuah layang-layang berukuran sedangpun dibeli Lefard. Layang-layang yang bercorak biru itupun pelan-pelan diterbangkan mereka berdua.

“Wah…pinter lo nerbanginnya,” puji Adya sambil bertepuk tangan disamping Lefard yang sedang mengendalikan layang-layang mereka.

“Iya dong,” Lefard membanggakan dirinya.

“Huh,” sorai Adya bangga sambil masih bertepuk tangan.

“Eh…eh…” tutur Adya panik. Layang-layang mereka tiba-tiba terbang cepat condong kekiri. “Yah…hati-hati Le, layangannya lagi diadu tuh sama layangan lain. Kendaliin cepet kendaliin!” seru Adya cemas.

“Yah putus Ad,” tutur Lefard kesal.

“Layangan siapa sih itu? Iseng banget,” Adya bergerutu.

Terlihat tidak jauh dari samping mereka, dua sosok anak kecil sedang tertawa puas karena layangan mereka berhasil menumbangkan layangan milik Adya dan Lefard. “Layangannya payah!” teriak mereka dari sana. “Iya, padahal kan layangan baru,” sambung bocah yang satu lagi kemudian melanjutkan tertawa mereka kembali.

Adya dan Lefard yang mendengar kata-kata merekapun hanya diam dengan hati kesal. Adya dan Lefard memandang satu sama lain sebelumnya akhirnya lari untuk menghampiri mereka dengan gemas. “Ughhh, awas ya anak nakal!” teriak Adya.

Kedua bocah itupun panik mengetahui mereka akan dihampiri oleh si pemilik layangan yang mereka rusaki. “Lari Kak!” Seru seorang gadis kecil kepada kakak laki-lakinya.

“Kena!” tukas Adya dan Lefard setelah mendapatkan mereka yang hendak ingin berlari. “Nakal! Sebagai gantinya, layangan kamu yang kakak ambil,” tutur Adya yang melihat layangan musuhnya masih terbang tinggi diatas.

“Ya…jangan Kak. Kakak beli lagi aja!” Keluh si gadis perempuan itu bernegosiasi.

“Gimana dong, layangan kita kan udah putus dan yang putusin kan kalian,” balas Adya.

Kakak dari gadis kecil itu pun diam sejenak sambil mengerutkan alisnya.

“Yah…jangan dong Kak Daya, nanti kita nggak bisa main layangan lagi,” sahut gadis kecil itu dari rengkuhan tangan Lefard.

Adya yang barusan mendengar perkataan adik kecil itu tiba-tiba tertegun. Ia perlahan mengendorkan senyumnya. Dirinya teringat kejadian ketika bundanya mengandung waktu itu. Setelah mendapatkan hasil USG, dan dinyatakan janin yang didalam kandungan bundanya adalah kali-laki, dirinya ingin memberi nama untuk adiknya yaitu Daya. Dirinya mendadak sedih karena Daya mengingatkan calon adik laki-lakinya yang meninggal didalam rahim bundanya karena bundanya memaksakan diri untuk masih bekerja diusia hamil tuanya sehingga jarang sekali bedress.

“Kak Daya lari!” Seru gadis kecil itu untuk kakaknya setelah mengetahui Adya dalam keadaan lemah.

“Ad, kok dilepas?” Tanya Lefard heran. Tiba-tiba tangan kanannya yang melingkari leher gadis kecil itu digigit oleh sigadis kecil itu sehingga dengan terpaksa Lefard pun melepaskan gadis kecil itu karena kesakitan. Sementara Adya masih diam tertegun.

“Ye…ye…ye…kita lepas,” sorak kedua anak kecil itu kegirangan.

“Yah…Ad, lepas deh. Gimana sih lo pegangnya?” tutur Lefard sambil menepuk lengan kanan Adya.

Adya hanya diam namun bola matanya masih focus tertuju mengikuti kemana arah lari Daya. Seandainya Daya adiknya masih hidup, mungkin sepantar dengan Daya yang ia lihat sekarang.

“Ad, lo kenapa sih?” Tanya Lefard bingung. “Ayo kejar lagi!” Lefard menarik tangan Adya untuk mengejar mereka kembali. “Eh, anak-anak nakal, awas ya!” Seru Lefard sambil mengejar mereka kembali dengan Adya. Merekapun kejar-kejaran lagi hingga akhirnya kedua anak imut itu tertangkap lagi dan kedua anak itu beserta Lefard jatuh bersama ditanah yang teralaskan rumput tersebut, Adya yang mengikuti dari belakang hanya bisa tertawa.

“Udah Kak, capek,” keluh si gadis kecil itu kepada Lefard saat mereka sedang asyik bercanda main gelitikan dirumput. “Iya nih kita haus Kak,” sambung Daya.

“Yaudah yuk ikut Kakak!” Seru Lefard sambil bangun dari duduknya.

Dengan wajah yang lugu mereka berdua ikut bangun dan ikut berjalan kemana Lefard berjalan. Dan Adya hanya mengikuti dari belakang sambil memegangkan layang-layang yang sudah dibawa turun.

“Nih, minumnya hati-hati ya!” Lefard menyodorkan masing-masing gelas berisi es cendol kepada kedua anak kecil tersebut. Tidak lupa dirinya menyodorkan segelas lagi es cendolnya kepada Adya.

“Makasih,” tutur Adya sambil tersenyum.

Mereka berempatpun asik meminum es cendol hingga waktu sore tiba. Dimana sunset di Famodya sangat indah untuk dipandangi.

“Kalian nggak pada pulang?” Tanya Adya.

“Nanti Kak. Biasanya kita pulang habis liat matahari tenggelam,” jawab Daya.

“Iya Kak, disini kalo mau magrib pemandangannya bagus lho,” sambung adiknya.

“Wah sama dong. Kita juga mau liat sunset dulu,” tutur Lefard.

“Apaan tuh Kak sunset?” Tanya Daya tidak mengerti.

“Sunset itu bahasa Inggris yang artinya matahari tenggelam,” jelas Adya.

“Ooh.” Mereka berdua mengangguk-anggukan kepala tanda mengerti.

“Biasanya sambil kita nunggu matahari tenggelam kita main kincir angin disana Kak,” tutur Daya sambil menunjuk lokasi dimana ia dan adiknya bermain kincir angin.

“Oh ya? Terus sekarang kincir angin kalian mana?” Tanya Adya.

“Disana.” Diatas sebuah ranting pohon Daya dan adiknya biasa menyimpan kincir-kincirnya. Keduanya pun berdiri untuk mengambil kincir angin itu.

“Karena kita cuma punya dua, nanti kita mainnya ganti-gantian aja ya Kak,” tutur Daya sambil meyodorkan satu kincir angin milik adiknya kepada Adya.

Dengan angin yang bertiup lembut mereka berempat saling berlari ditengah tanah yang lapang untuk memutarkan kincir anginnya. Sejenak mereka berhenti untuk beristirahat sambil berfoto dengan ponsel Adya sambil menunggu sunset itu datang dan bersinar jingga dengan indahnya.

** To Be Continue

Famodya :

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5

Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10

Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15

Part 16 (END)

 
Leave a comment

Posted by on September 17, 2011 in Cerita, Famodya

 

Tags: , , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: