RSS

FAMODYA (Part 14)

17 Sep

“Males banget deh gue pagi-pagi udah belajar persilangan,” gerutu Keira yang tiba-tiba duduk disamping tempat duduk Adya.

“Emang kenapa? Bukannya lo bisa ngerjain materi persilangan?” Tanya Adya.

“Ya emang bisa, tapi males aja, pagi-pagi udah diawali dengan pelajaran ribet. Mentang-mentang materinya masuk UAN jadi sarapan tiap hari deh sama 6 pelajaran itu,” sambung Keira dengan paras yang masih malas.

Adya menghembuskan nafasnya pelan. “Bukannya materinya udah selesai ya?”

“Emang iya?”

“Iya. Emang minggu kemaren lo kemana? Makanya kalo guru lagi ngejelasin itu diperhatiin!”

“Terus sekarang kita belajar materi apa?”

“Eksperimen jamur.”

“Yah, berarti nanti ke lab dong. Duh gue nggak bawa jas putih, gimana dong Ad?” tutur Keira panik.

“Ye…udah panik aja sih lo Ke. Kita belajar teori dulu.”

“Oh…gitu ya, huft… syukur deh,” tanggap Keira lega.

“Ehm…” daham lefad dari belakang tubuh Keira. Adya yang melihat hanya senyum tersipu. “Misi dong! Orang yang duduk disini mau duduk,” tutur Lefad yang posisinya masih tetap dibelakang tubuh Keira.

Keira yang mendengar teguran itu kini memalingkan kepalanya kebelakang. “Huh.” Keira mencibirkan bibirnya.

“Ayo kembali ketempat asal!” sambung Lefard sambil memencandai Keira.

Keira langsung berdiri dari duduknya. “Huh, dasar leher kuya, nggak bisa liat orang seneng aja!” balas Keira sebal dan berjalan ketempat duduknya sendiri.

Wah, pake ngatain segala. Eh Ke, yang boleh ngatain gue leher kuya tuh cuma Adya tau. Jadi kalo lo juga ikut ngatain gue…” ancam Lefard sambil berlari kecil mengejar Keira.

Keira berlari cepat ketempat duduknya sambil teriak.

***

“Bukannya waktu kelas dua kita udah pernah praktek liat jamur tempe ya, kok sekarang tugas kita itulagi sih?” tutur Keira yang memprotes tugas yang diberikan guru biologi kepada kelas mereka.

“Iya. Bedanya, waktu itu kita langsung ngamatin tempe yang udah jadi. Kalo tugas sekarang kan kita mesti bikin tempenya dulu,” jawab Adya.

“Tapi untungnya kita satu kelompok ya,” sambung Lefard yang juga sejajar berjalan bersama Adya dan Keira juga Bagas di koridor sekolah.

“Duh senengnya yang bisa satu kelompok sama gue,” sambung Adya meledek kekasih barunya itu.

Lefard secepat kilat mencibirkan bibirnya. “Hah? Gue tarik omongan gue,” balasnya kepada Adya.

Adya masih tertawa melihat ekspresi malu wajah kekasihnya tersebut. “Tyas mana ya, kok jam segini belum keluar,” tutur Adya mengalihkan pembicaraan.

Biar gue telpon aja Ad.” Keira mengambil ponselnya dan menelpon sahabat yang paling cerewet tersebut.

“Halo,” jawab Tyas sangat tak bersemangat dari seberang.

“Dimana lo?”

Masih dikelas.”

Keira menengok jam tangannya. “Bukannya ini udah waktunya pulang, kok lo masih dikelas? Tumben lo betah.”

“Ck,” tanggap Tyas kesal.” Nggak ditelpon, nggak ketemu langsung, selalu aja lo cuma bisa ngeledek gue.”

Keira menanggapinya dengan tertawa.

“Ye…malah ketawa. Kalian pada pulang duluan aja! Gue ada pendalaman materi dadakan dari bu Sonya,” tutur Tyas masih kesal karena tiba-tiba guru sosiologinya menanbah sesi mengajarnya dengan alasan pendalaman materi.

“OK deh, kita lagi pada mau kerumah Lefard buat ngerjain tugas biologi, kalo lo mau nanti nyusul ya. Kita tunggu disana.”

“Diusahain deh.”

“OK deh Tyas Indira selamet belajar ya jiayou!!!” Keirapun menutup ponselnya. “Tyas ada PM,” tuturnya kepada Adya, Lefard dan Bagas.

“Yaudah kita langsung kepasar aja buat cari bahan-bahan,” ajak Bagas yang sudah siap didepan motornya. Mereka berempat pun tidak menyia-nyiakan waktu. Dengan berpasangan menaiki motor, mereka berlalu dari area sekolah TP menuju pasar tradisional untuk membeli bahan-bahan pembuat tempe.

***

“Udah ah cemberutnya. Masa dari pasar sampe udah nyampe rumah muka lo masih asem begitu sih,” bisik Adya saat turun dari motor Lefard dan tiba dirumah kekasihnya tersebut.

Lefard masih melipat wajahnya dalam-dalam tanpa menjawab kata-kata dari Adya.

Tidak lama Keira dengan bawaan segabreg dikedua tangannya tiba-tiba menarik Adya dan membuat lefard sedikit kaget karena Adya sempat tersandung. “Ayo masuk!” Seru Keira sambil masih menarik tangan Adya. “Oia Lefard, nanti sekalian bawain plastik yang satu lagi dimotor Bagas ya,” Seru Keira tanpa memperdulikan suasana Lefard saat itu.

Hhhrrgg…dasar cewek, gerutu Lefard dalam hati sambil mengambil barang-barang Keira yang tertinggal dimotor Bagas.

“kita mau ngerjain dimana Le,” Tanya Adya.

“Di belakang aja.”

Adya menanggapi dengan mengangguk dan membawa bahan-bahan yang telah dibelinya ke ruang belakang, diikuti Bagas dan Lefard.

“Keira mana?” Tanya Bagas kepada Adya.

“Masih sibuk tuh didapur ngurusin bawaan dia tadi,” jawab Adya sambil memisahkan bahan-bahan yang harus ia gunakan untuk membuat tempe.

“Panjang umur, tuh orangnya dateng,” tutur Lefard yang melihat Keira berlari kecil dari dapur menuju tempatnya.

Keira datang dengan meringis dan langsung menyambut tangan Bagas. “Bantuin gue sebentar ya,” serunya sambil menarik Bagas kembali kedapur.

“Heh, Keira! Lo mau ngapain lagi sih?” Panggil Lefard kesal.

Keira hanya memalingkan kepalanya kearah Lefrad sambil tersenyum dan mengedipkan satu matanya memberi kode agar Lefard dan Adya bisa berdua.

Tiba-tiba wajah kusutnya Lefard bersemi dengan berlalunya Bagas dan Keira.

“Gas, gimana minumannya udah siap?” Tanya keira dengan kesibukannya menocok telor.

“Udah nih,” jawab Bagas sambil mengangkat sendok dari adukannya yang terakhir.

“OK… langsung dibawa kesana aja ya hunny,” seru Keira dengan manja.

Bagas tersipu manis mendengar perkataan kekasihnya itu. Ia pun menyusun 4 buah gelas berisi jus stroberi diatas nampan dan membawanya ke ruang belakang. “Minuman udah siap.” Dengan gaya mirip waiter boy, Bagas menyuguhkan jus segarnya.

“Wah, thanks banget Gas, taro dulu ya diatas meja!” Seru Lefard yang tangannya masih kotor karena membersihkan kedelai.

Merekapun kembali sibuk membuat sebuah tempe. Sementara Keira masih asik dengan pekerjaannya didapur untuk menyiapakan makanan.

“Bikin apa si Ke, harum banget,” Tanya Adya dari tempatnya yang konsentrasinya bercabang mencium harumnya masakan Keira di dapur.”

“Tau tuh, tadi waktu gue disana dia sibuk ngocok telor,” sambung Bagas.

“Oh,” Adya mengangguk mengerti.

“Omlet keju anget special udah dateng.” Kini giliran Keira yang bergaya berlagak chief yang sedang memamerkan mahakaryanya didepan para hadirin.

“Wah, ternyata sibuk masakin buat kita Ke?” Tanya Adya kagum.

“Iya dong. Kan bete ngerjain tugas nggak ada cemilan. Nah mumpung makanannya udah jadi, kita break dulu ya,” jawabnya sambil membawa nampan berisikan kentang goreng dan omlet buatannya menuju Adya dan lainnya. Belum juga makanan disuguhkan lnagkah Keira berhenti bertepatan telpon rumah Lefard berdering tepat dihadapannya. “Le, ada telpon. Gue angkat ya?” Tanya Keira kepada Lefard.

“Iya tolong Ke.”

“Halo!” jawab Keira mengangkat telpon itu.

“Ya, Halo. Lefardnya ada?” jawab dari seberang.

“Maaf ini siapa ya?”

“Saya om nya yang di New Zaelad. Saya bicara dengan siapa sekarang?”

“Oh, saya keira Om, temen sekolahnya Lefard. Pengen bicara sama Lefard ya Om? Sebentar ya, saya panggilin dulu.”

“Siapa?” Tanya Lefard berbisik dari tempatnya.

“Om lo,” jawab Keira dengan keadaanyang sama.

Lefardpun beranjak dari duduknya untuk menerima telpon dari omnya. “Halo Om!” sapanya.

Bola mata serta leher keira tidak lepas memperhatikan sahabatnya itu. Hatiya masih kencang bertanya ada apa dengan telpon yang ia angkat barusan dan berita apa yang akan Lefard terima dari suara telpon itu. Dilihatnya dengan seksama komatan mulut Lefard menjawab telpon dari omnya. Kenapa ekspresinya jadi berubah? Kenapa jawabnya begitu tidak bersemangat? Kenapa setiap detik disana wajah Lefard semakin menunduk? Tanya Keira dalam hati.

“Woy!” Adya melambaikan tangannya tepat didepan wajah Keira. “Bengong aja, ambilin raginya tuh!”

Keira yang masih terjaga tidak merasa kalau Adya barusan menegurnya.

“Keira!” tegur Adya sekali lagi.

“Iya!” jawab Keira kaget. “Apa Adya?” tanyanya salah tingkah.

“Ragi!”

“Oh, dimana?”

Adya mencibirkan bibirnya.

“Oh iya. Dikantong plastik item ya? Hehe..gue lupa. Iya deh gue ambilin.” Keira mencoba menutupi kecemasannya.

“Iya om,” tutur Lefard lirih sebelum akhirnya telponnya terputus. Dan tidak sengaja Keira lewat disamping Lefard.

“Ehm!” Keira coba memancing Lefard namun Lefard belum juga peka dan tepat seperti pandangan ia beberapa menit yang lalu, paras Lefard yang begitu baik kini kian kelabu. “Apa kabar om lo?” Tanya Keira berbasa-basi.

“Baik,” jawab Lefard hanya singkat dengan wajah penuh kegalauan.

“Lo kenapa Le?” Keira mencoba bertanya pelan-pelan.

“Eng..eng..nggak apa-apa Ke,” jawab Lefard ragu kemudian berjalan kembali bergabung besama Adya dan Bagas.

Keira yang tidak biasa melihat wajah Lefard yang begitu bingung masih tetap penasaran.

“Lo bener nggak ada apa-apa Le?” Tanya Keira sesaat sebelum Keira pulang dari rumahnya.

Lefard tersenyum malas, menyembunyikan apa yang sedang ia pikirkan sekarang. “Nggak.”

Sebelum melanjutkan percakapan, Keira menengok kebelakang melihat Adya dan Bagas. “Gue nalar kok omongan lo sama om lo barusan,” lanjutnya berbisik kepada Lefard.

“Maksudnya?” Tanya lefard yang bingung dengan perkataan Keira.

“Apa ada hubungannya sama kepulangan lo ke new Zaeland?”

Lefard tidak langsung menjawab omongan Keira.

“Kenapa diem?”

Lefard masih belum menjawab.

“Ke cepet! Udah mau ujan nih,” seru Bagas yang menunggu Keira didepan bersama Adya. Panggilannya membuat Keira tidak bisa meneruskan rasa penasarannya dengan Lefard.

Keira menghembuskan nafas dalam-dalam. “Iya,” jawabnya singkat. “Yaudah kalo lo nggak bisa ngomong sekarang. Tapi kalo ada apa-apa lo tinggal cerita aja sama gue ya Le,” sambung Keira kepada Lefard. “Yaudah, gue pamit yah, si Bagas udah ngedumel aja daritadi, bye!”

Lefard menutup pintu gerbang rumahnya dan berjalan menuju dalam rumah dengan langkah yang lemas.

***

“Nanti pulang jam berapa Ad?” Tanya lefard sesampainya diruang kelas.

Adya yang mendengar pertanyaan itu heran sambil mengerutkan kedua alisnya yang tebal. “Lo baru dateng, belum juga nyentuh kursi. Udah nanyain pulang.”

“Bukannya gitu, mau tanya aja.”

Adya semakin heran. “Lo kenapa sih, kok nggak kayak biasanya. Lo sakit?”

“Nggak,” jawab Lefard meyakinkan Adya agar dirinya tidak curiga. “Gue sehat bugar begini kok,” sambungnya sambil memperlihatkan kedua otot lengannya pamer. “Yaudah ah, lupain aja.”

Adya membuang nafas panjang, gitu aja sensi. Gumamnya dalam hati. “Kayaknya sekitar jam 4an deh, kan ada pendalaman materi.”

Lefard hanya diam tidak ada jawaban. Dirinya malah sibuk mencari headset handphonenya untuk mendengarkan musik.

Adya hanya mencibirkan bibirnya. “Hai Ke!” Sapa Adya ketika dirinya melihat Keira tiba dikelas.

“Hai,” balas Keira. “Kenapa cowok lo pagi-pagi udah nyumpelin kuping?”

Adya hanya menaikan pundaknya dan Keira hanya tersenyum menanggapi jawaban Adya.

“Aneh,” tutur Keira kemudian duduk ditempat duduknya. Belum sampai duduk, ponsel Keira pun berdering.  “Lefard?” tanyanya bingung. dibuka lah isi pesan singkat dari Lefard olehnya. Jam 4 ketemuan ya dibelakang aula, ada hal yang mau gue bicaraan.

“Ad, lo hari ini pulang sendiri ya,” tutur Lefard seusai pelajaran terakhir selesai.

“Lho tumben nggak bareng, emang lo mau kemana?” Tanya Adya bingung.

“Gue…Gue baru dapet kabar tentang nyokap gue.”

“Nyokap lo? Kenapa sama nyokap lo?”

“Katanya nyokap gue ada disekitar sini, makanya gue mau nemuin dia.”

“Beneran? Tanya Adya bahagia, ia pun sempat diam. Sebenernya gue pengen banget ikut, bisa ngeliat wajah mamanya Lefard, bisa liat ekspresi wajahnya pertama kali ketemu Lefard, bisa liat ekspresi wajahnya ketika dia tau kalo gue itu pacarnya tapi, nggak..nggak ini moment pertama Lefard ketemu nyokapnya dan gue nggak boleh ganggu pertemuan mereka, tutur Adya dalam hati. “Yaudah kalo gitu gue bisa pulang sendiri kok.”

“Hati-hati ya!”

Dengan spontang wajah Adya merona dengan jantung yang bergetar. Hm…, Lefard ternyata  bisa manis juga sama gue, tutur Adya dalam hati ke GeEran.

“Okeh kita keluar sama-sama yuk, terus nanti kalo lo udah sampe rumah jangan lupa kabari gue.”

Mereka pun berjalan bersama keluar kelas. Adya yang saat itu tidak membawa kendaraan terpaksa memberhentikan taksi sebagai kendaraannya untuk pulang kerumah. “Bye!” pamit Adya.

Setelah taksi yang ditumpangi berjalan jauh. Lefard kembali masuk ke dalam sekolah dan berjalan menuju aula untuk menemui Keira. “Sorry Ke jadi kelamaan nunggu.”

“Nggak apa-apa. Adya udah pulang? Naik apa?”

“Udah. Naik taksi.”

“Sebenernya lo mau ngomongin apa Le?” Tanya Keira tanpa basa-basi.

“Tentang percakapan antara gue dan om gue kemaren Ke.”

“Oh, ternyata perlu ada yang di omongin? Kenapa nggak dari kemaren aja Le?” Tanya Keira agak sedikit kesal.

“Kalo kemaren gue bingung Ke harus cerita yang mana dulu sama lo,” jawab Lefard.

“Oke. Sekarang, apa yag mau lo omongin?”

“Pak, balik kesekolah yang tadi dong!” Seru Adya diperjalanan pulangnya

“Iya Non.”

“Aduh kenapa gue sampe lupa naro medali turnamen kemaren diruang sekbid taekwondo sih,” tutur Adya yang akhirnya kembali kesekolah karena harus meletakkan medalinya diruang taekwondo. “Tunggu sebentar disini yak Pak, saya cuma mau taro ini aja kedalam,” serunya kepada si supir taksi. Adya pun beranjak menuju ruang sekbid taekwondo dengan berlari kecil, tanpa sengaja matanya melihat masih ada motor racing berwarna merah dan ia tau siapa pemilik motor itu. Lefard belum pulang? Tanyanya dalam hati dan spontan memelankan langkahnya. Perhatiannya pun bercabang setelah dirinya melihat motor kekasihnya, sambil tetap berjalan menuju ruangan sekbid taekwondo dan akhirnya meletakkan medali turnamennya. Adya masih bertanya-tanya kenapa Lefard masih ada disini.

“Hai Ad!” Sapa seorang temannya saat Adya baru saja keluar dari ruang sekbid taekwondo. “Belom pulang, nungguin Lefard ya Ad?” sambungnya membuat dahi Adya spontan mengerut penasaran.

“Oh, gue cuma naro medali aja, Lefard dimana ya?”

“Tadi sih gue ketemu dikoridor sana,” sambung temannya itu sambil menunjukkan dimana dirinya bertemu Lefard.

“Oh, makasih ya.” Adya dengan cepat berjalan menuju ujung koridor salah satu sekolahnya itu untuk mencari Lefard. Bukannya tadi dia bilang buru-buru mau ketemu sama nyokapnya? Tapi kenapa sampe sekarang dia masih disini? Tanyanya dalam hati.

“Kemaren om gue telpon kasih kabar tentang bokap gue Ke,” buka pembicaraan Lefard kepada Keira tepat dibelakang aula sekolah.

“Gimana keadaan bokap lo?” Tanya Keira antusias.

“Penyakitnya udah komplikasi Ke, harus ada tindakan bulan ini,” sambung lefard tanpa semangat.

Mendengar kabar itu Keira hanya menjawab diam dengan perasaan iba.

Lefard pun melajutkan ceritanya. “Nggak lama lagi gue pasti ninggalin Jakarta Ke.”

“Hah!” Keira tersontak kaget. “Bukannya waktu itu lo bilang nunggu lulus-lulusan dulu baru lo mau balik ke New Zaeland?”

“Kalau keadaan bokap gue baik-baik aja, gue pastiin setelah lulus-lulusan gue baru balik kesana, tapi sekarang bokap gue sakitnya udah parah dan nggak ada yang ngejagain disana. Om gue juga punya urusan dengan keluarganya sendiri disana yang nggak bisa menenin bokap gue 24 jam Ke.”

“Gue Kecewa sama lo,” tutur Keira kesal.

Lefard pun hanya tertunduk.

“Dari awal gue udah kasih pilihan sama lo, tinggalin Adya atau lanjut. Dan lo pilih lanjut dengan segala resikonya dan lo juga ngejaminin semua bakalan baik-baik aja. Tapi nyatanya apa Le? Lo baru satu minggu pacaran sama dia, dan baru satu minggu juga gue liat senyum Adya yang begitu lepas,” sambung Keira meluapkan kekesalannya.

“Ini semua diluar dugaan gue Ke,” bela Lefard.

“Iya. Tapi pasti bakal terjadikan? Dan akhirnya tanpa diduga-duga, sekarang semua itu bisa terjadi Le.”

“Ini semua demi bokap gue Ke.”

“Gue tau. Tapi lo pikirin Adya juga dong Le. Baru aja dia lepas dari kesedihannya semenjak ditinggal Edhu, lo mau tambahin lagi kesedihan dia dengan cara lo pergi ninggalin dia dan nggak tau kapan lo balik lagi.”

“Tekat gue, tetep lulus dari sekolah ini Ke. Biarpun sekarang gue mesti balik ke New Zaeland.”

“Balik? Yakin lo bakal balik dengan…dengan kondisi bokap lo yang seperti itu? Anak manapun nggak akan tega ninggalin bokapnya, orang tua satu-satunya dalam keadaan seperti itu Le, dan lo janjiin pasti balik sedangkan kita ujian nasional tinggal satu bulan lagi Le.”

Lefard kini tidak menjawab apa-apa dirinya membayangkan apa yang barusan Keira sampaikan.

“Gue salah mempercayai omongan lo saat itu. Lebih baik Adya kepedean hari ini sampe lo pergi daripada dia harus tertawa senang, lepas tanpa beban terus tiba-tiba denger kabar bahwa lo akan ninggalin dia dan nggak tau kapan lo bakal balik lagi ke Jakarta.”

“Kenapa sih Ke omongonan lo seakan-akan memojokan gue seolah-olah gue yang salah. Gue udah jelasih semuanya tapi…”

“Emang gue udah tau semuanya. Gue kan tadi udah bilang. Seorang anak mana yang tega ninggalin orangtuanya sendirian yang lagi sakit? Bener kan kalo gue ngebayangin setelah lo ke New Zaeland kapan lagi balik ke Jakarta? Terus nasib orang yang lo tinggalin gimana? Adya itu sahabat gue Le, dan seorang sahabat itu nggak akan ngerelain kalo sahabatnya sedih.”

“Sebelumnya makasih ya Ke. Tapi setelah gue denger semua, gue nggak apa-apa kok.” Tiba-tiba ditengah pembicaraan mereka terdengar orang yang menyahuti omongan Keira.

Keira dan Lefard spontang menengok ke wajah orang tersebut. “Adya!” sebut mereka berdua kaget.

Sambil tetap menahan air matanya supaya tidak jatuh, Adya mendekat diantara mereka. “Nggak ada yang bisa ngelawan takdir. Dengan ada atau tidaknya cerita sekarang tentang gue dan Lefard pasti suatu hari dia akan pergi dari sini. Dia masih punya kewajiban untuk jagain ayahnya yang lagi sakit keras disana, gue juga masih punya tugas untuk cari ibunya yang udah lama ninggalin keluarganya. Jadi kita mesti terima suatu saat kenyataan itu datang Ke.”

Mendengar penjelasan Adya, Keira dan Lefard diam. Lefard semakin tertunduk merasa bersalah karena dua kali dirinya katauan oleh Adya menyembunyikan sesuatu.

“Mungkin yang disayangkan sekarang adalah kenapa Lefard nggak bicara jujur sama gue. Apa dengan menyembunyikan sesuatu semua masalah dapat diselesaikan?” sambung Adya.

Keira dan Lefard masih dalam keadaan diam mendengar kata-kata Adya.

“Oops, gue sampe lupa. Gue kan mau pulang, ngapain gue malah ngomong nggak jelas disini? Duh sorry ya jadi ganggu pembicaraan kalian, sebenernya tadi nggak sengaja lewat aja kok. Gue pulang dulu ya, da!” Adya pun cepat berlalu dari hadapan mereka, berlari sekencang–kencangya agar Lefard tidak mengejarnya.

Lefard pun tidak tinggal diam, melihat Adya meninggalkannya Lefard mencoba untuk mengejarnya. Namun sebegitu cepatnya Adya berlari sehingga Lefardpun tidak bisa menggapai Adya kembali. Dirinya tiba-tiba kehilangan jejak Adya. Ditengoknya kesana kemari namun sosok Adya tidak ditemukan.

Dengan nafas yang masih terengah-engah, Adya berusaha menyimbunyikan tubuhnya dari pencarian Lefard. Dirinya mengumpat disudut samping kantin. Ia menunggu Lefard kembali ke belakang aula barulah dirinya keluar gerbang dan kembali ketaksi yang sebelumnya dijanjikan Adya untuk menunggu diluar. “Maaf ya Pak nunggunya jadi lama, tadi saya nyari kunci pintunya dulu. Sekarang jalan Pak!” Taksi yang ditumpangi Adya pun melaju meninggalkan sekolah TP.

***

“Eh Den Lefard,” sapa bi Nana saat membukakan pintu rumah.

“Adya ada Bi?” Tanya Lefard tergesah-gesah.

“I..ini Den. A…anu, Non Adya…” Jawab bi Nana terbata-bata.

“Kenapa sama Adya?” Tanya Lefard berubah panik.

“Gini Den, tadi Non Adya bilang nggak enak badan jadi pingin istirahat.”

“Sakit apa Adya?” Lefard boleh kan masuk?” mendengar penuturan bi Nana bahwa Adya sedang tidak enak badan, lefard langsung panik

“E…e,” bi Nana berusaha menahan agar Lefard tidak menerobos masuk kedalam rumah Adya.

“Lho kenapa sih Bi? Lefard juga mau ngomong sama Adya penting.”

“Kan tadi bibi udah bilang Den, Non Lefard lagi nggak enak badan jadi mau istirahat. Kasian jangan diganggu dulu.”

“Ck…, dia pasti ngindari Lefard kan Bi?” Tebak Lefard yang curiga dengan alasan bi Nana.

Bi Nana kebingungan menjawab dari tebakan Lefard. “Eng…eng…”

Please Bi, biarin lefard masuk. Ada hal yang pengen Lefard omongin sama Adya, penting banget.”

“Tapi Den.”

Lefard diam sebentar sambil menenagkan dirinya sendiri. Diambil ponsel yang terselip disakunya. Nama Adya dalam kontak ponselnya pun dipanggil. Namun suara operator yang dirinya dengar karena nomor Adya tidak aktif. Sementara bi Nana masih terjaga berdiri didepan Lefard sambil menahan pintu.

“Kok dimatiin Den?” Tanya bi Nana penasaran.

“Nomornya nggak aktif,” jawab Lefard tidak bersemangat. “Bi, kalo emang Lefard nggak bisa ketemu Adya sekarang, boleh kan Lefard nunggu Adya sampe badannya agak mendingan didalem?” mohon Lefard memelas kepada bi Nana.

Karena sifat bi Nana yang nggak tegaan, terpaksa dirinya mengizinkan lefard masuk kedalam menunggu hingga majikannya mau berbicara dengan Lefard. “I…iya deh Den nggak apa-apa,” jawab Bi Nana setengah yakin.

Jawaban bi Nana disambut sumringah oleh Lefard, dirinya lecat cepat masuk kedalam rumah Adya.

“Tunggu disini aja Den, sambil baca-baca majalah juga nggak apa-apa?” Bi Nana mempersilahkan Lefard untuk menunggu diruang tamu. “Bentar ya Bibi ambilin minum dulu,” pamitnya kedapur.

“Eh..nggak usah repot-repot Bi, es jeruk dingin aja,” canda Lefard.

“Ye…si Aden. Yaudah tunggu sebentar ya.”

“Gue duluan yang naek,” tutur Lefard merebut balon udara yang ingin dinaiki Adya.

“Ih, kan gue yang bayar uang sewanya. Lo aja yang nungguin gue disini!” Tanggap Adya kesal.

“Tapi kan gue duluan yang sampe ketempat ini. Lo kenapa nyelang gue?” Balas Lefard kesal.

“Yang penting judulnya gue duluan yang bayar sewa balon ini. Minggir!” balas Adya tak kalah kesal namun Lefard menahan kakinya hingga dirinya tidak bisa menaiki balon udara yang sudah ia sewa. “Heh turun dari balon udara gue!” omel Adya ketika Lefard sudah lebih dulu menaiki balon udaranya dan melambai-lambaikan tangannya kepada Adya sambil meledeknya. “Heh turuuuuun, dasar cowok nggak mau ngalah!” teriak Adya saat balon itu sudah melambung tinggi meninggalkan dirinya dibawah.

“Bodo, gue nggak akan balik lagi. Biar gue bawa balon ini, biar lo nggak bisa naek, weee,” balas Lefard sambil masih meledeki Adya.

Adya berlari berusaha mengejar arah balon itu terbang sambil masih memanggil-manggil Lefard dari bawah. Namun tiba-tiba Lefard tidak meledeknya lagi, dirinya malah tersenyum manis sambil melambai-lambaikan tangannya kearah Adya. Adya masih terus mengejarnya hingga dirinya tidak kuat lagi untuk berlari dan nafasnyapun terengah-engah. “Lefard!” panggilnya.

“Lefard!” panggil dia dengan nafas terengah-engah dan tubuh yang sudah terlumuri keringat. Matanyapun langsung terbuka lebar dan tubuhnya serentak bangun. Bola matanya menari-nari ketakutan. Gue mimpi apa? Tuturnya dalam hati. Dirinya langsung beranjak dari tempat tidurnya dan keluar kamar untuk mengambil air minum. Dirinya semakin kaget melihat Lefard berada dirumahnya tepatnya diruang tamu. “Ngapain lo?’ tanyanya dingin.

Lefard lekas mendekatinya. “Lo kenapa Ad? Sakit?” dengan sangat panik Lefard menyentuh leher serta dahi Adya.

Adya hanya menanggapi aneh. “Mau ngapain lo kesini?”

“Kenapa keringet lo banyak gini Ad?”

“Lo gue tanya kenapa balik nanya sih?”

“Jawab dulu! Lo sakit?”

“Apa urusannya sama lo?” jawab Adya ketus.

Lefard mencoba menenangkan dirinya, dibuangnya dalam-dalam nafasnya. Lo masih marah soal tadi siang Ad?”

“Marah kenapa?” sambil berjalan menuju dapur untuk mengambil segelas air putih untuk dirinya.

“OK, terserah deh lo kalo mau marah sama gue. Yang pasti sekarang gue mau ngeclearin kesalah pahaman tadi siang.” Lefard mengikutinya dari belakang.

“Salah paham apa?” tanggapnya masih ketus.

“Makanya Ad, lo kasih kesempatan gue dulu buat ngomong dan ngejelasin semuanya!” Lefard menggapai tangan kiri Adya yang tidak memegang gelas dan menggiringnya keruang tamu.

Sontak Adya berusaha melepaskan genggamannya. “Lo apaan sih? Sakit tau!” rontanya.

Lefard tetap menggiringnya keruang tamu dan disitu awal semua cerita diungkapkan Lefard mulai dari om nya yang kemarin sempat menelponnya hingga kejadian tadi siang dibelakang aula sekolah.

Adya mendengarkan tanpa memberi respon.

“Gue berharap setelah lo denger penjelasan dari gue lo udah nggak marah sama gue,” tutur Lefard.

Adya tertawa malas. “Alay.”

“Kok?” Tanya Lefard bingung.

“Lagian lo kenapa sih?”

Lefard memandang Adya bingung. Sebenernya gue yang bego atau gimana sih? Tanya Lefard dalam hati. “Ya gue mau ngejelasin masalah tadi siang Ad,” jelasnya.

“Iya gue tau,” jawab Adya singkat.

“Sekarang. Setelah lo tau semua ceritanya, lo masih marah sama gue?”

“Lagian yang marah sama lo itu siapa sih?”

Lefard kembali kebingungan. “Kalo lo nggak marah sama gue, kenapa habis dari aula sampe sekarang lo ketus terus sama gue?”

“Gue lagi males ngomong aja sama lo.”

“Itu tandanya lo ada marah sama gue.”

“Nggak.”

“Iya.”

“Nggak,” jawab Adya kukuh.

“Iya,” balas Lefard lebih kukuh.

“Kok jadi lo yang sok tau sih?”

“Tuh, katanya nggak marah. Kenapa sekarang jadi sewot?”

Adya diam sambil mencibirkan mulutnya.

Melihat reaksi Adya yang seperti itu, Lefard tersenyum sambil memeluk tubuh Adya. Sengaja dirinya diam tanpa berbicara satu katapun dibalik tubuh Adya, gue mugkin nggak bisa romantis didepan lo tapi dalam hati yang paling dalam gue bilang kalo gue sayang banget sama lo Ad, gue ngerasa berat banget untuk ninggalin lo. Tutur Lefard dalam hati.

Mengetahui dirinya sedang dipeluk oleh Lefard, Adya hanya berdiri diam tanpa membalas rengkuhan Lefard, dalam otaknya masih terpikirkan mimpi barusan, kenapa dengan mimpi itu dan apa arti dari mimpi itu.

***

Pagi seperti biasanya, Lefard menjemput Adya dan berangkat bareng kesekolah.

“Pagi!” sapa lefard dari motornya saat Adya keluar dari rumahnya sambil menjijing helm.

Adya tersenyum tipis, “Pagi,” jawabnya.

“Nggak terasa ya bulan depan kita ujian nasional,” tutur Lefard membuka percakapan diatas motor. “Oia lo udah sarapan Ad?”

“Udah, tadi bi Nana bikin nasi goreng,” jawab Adya sekenanya.

Sepertinya moodnya belum begitu baik, jawab aja masih pelit. Dasar cewek. Gumam Lefard dalam hati kemudian menaikkan lajunya supaya lebih cepat sampai sekolah.

Begitu juga dengan Adya, dirinya memang seperti yang dibayangkan Lefard. Malas bicara. Entah kenapa mimpi kemarin siang masih teriyang-iyang dipikirannya.

“Hai Ad!” Sapa Tyas yang bertemu dengan dirinya didepan toilet sekolah.

“Hai Yas.”

“Nggak semangat gitu jawabnya. Kenapa?” Tanya Tyas penesaran sambil bersama-sama berjalan menuju kelas Adya.

“Nggak ah. Biasa aja,” tangkis Adya. Dirinya kemudian sadar bahwa sikapnya ini bisa dibaca oleh orang lain.

“Hei Keke!” Sapa Tyas kepada Keira ketika dirinya tiba di ruangan kelas III IPA I.

Spontan Keira menoleh panggilan sahabatnya tersebut. “Eh Yas.”

“Bagas mana?”

“Lo liat aja tasnya, udah ada belom?”

“Belom.”

“Yaudah, berarti dia belom dateng.” Lalu pandangannya kearah Adya, namun sayang Adya tidak memandang kearahnya.

Tyas dengan cepat peka dengan sikap kedua sahabatnya tersebut. Aneh tumben tuh anak berdua nggak rame kalo ketemu, tanyanya dalam hati. “Lo sama Adya ada apa?” Bisik Tyas.

“Maksudnya?” Tanya Keira bingung.

“Emang gue bego. Lo berdua tadi kenapa nggak saling sapa?”

“Nggak kenapa-napa kok. Perasaan lo aja kali.”

“Ck,” tanggap Tyas kemudia kedepan meja Adya. “Lo sama Keira kenapa Ad?” tanpa basa basi Tyas langsung menegur Adya.

Adya bingun dan spontang mengerutkan alisnya. “Kenapa?”

“Lo berdua tumben nggak saling sapa-sapaan,” sambung Tyas.

Adya kemudian menolehkan kepalanya kebelakang, keraah tempat duduk Keira. “Tyas kenap sih Ke?”

Keira hanya menaikkan pundaknya. Sebenarnya dirinya juga daritadi ingin sekali menyapa Adya. Namun dirinya ingat kejadian kemarin dan menyangka Adya akan marah dengannya.

“Nggak apa-apa Yas,” jelas Adya. “Iya kan Ke?” sambungnya kepada Keira.

Melihat sikap Adya yang sama seperti hari biasanya membuat Keira berani bersikap biasa juga dengan Adya dan mencoba melupakan hal kemarin. “Tau tuh si Tyas Lebay,” jawabnya, kemudian berdiri dari duduknya menyamperi tempat duduk Adya. “Berarti Tyas sahabat yang sangat peduli Ad. Dia nggak pengen ada masalah apa-apa antara kita satu sama lain,” sambungnya.

Mendengar ucapan Keira, Adya teringat kejadian kemarin. Keiralah tempat sampah atau curhatan hati Lefard, dia juga mengkorbankan perasaan dia sendiri demi Lefard. “Uh…,so sweet,” tanggapnya sambil tersenyum.

“Dasar tante-tante, pagi –pagi udah ngmpul buat ngerumpi,” Ledek Lefard saat dirinya baru tiba ditempat duduknya.

“Lo nggak berangkat bareng sama Lefard Ad?” Tanya Keira.

“Bareng kok. Tadi gue masuk duluan gara-gara dia mau ketoilet dulu.”

“Oia mumpung semuanya lagi pada ngumpul, gue mau ajak kalian ke acara ultah gue,” tukas Keira.

“Ultah? Emang sekarang bulan apa Ke? Bukannya ultah lo bulan depan ya?” Tanya Tyas bingung.

Keira membuang nafasnya dalam-dalam. “Tyyyas, tau nggak bulan depan kita ngapain?” Tanya Keira menahan kesal.

Tyas mencoba mengingat-ingat. “Ngapain ya?” gumamnya.

Melihat tanggapan Tyas yang seperti itu Keira semakin kesal. “Tyasku sayang, sahabatku yang paling imut. Tau nggak bulan depan kita itu udah ujian nasiona.”

“Oh iya,” tukasnya polos. “Emang lo mau ngerayain dimana?”

“Gue nggak rayain kok, cuma kita-kita aja. Bokap gue ngizinin villanya yang di anyer kita pake. Jadi kita rayain disana, gimana?”

 “Boleh tuh Ke. Lumayan refresing sebelum UN. Kapan kita perginya?” Tanya Adya antusias.

“Bokap gue baru pulang dari tugasnya dua minggu lagi. Jadi kira-kira minggu lusa kita pergi kesana.”

“OK. Kita ikut,” sambung Lefard semangat.

***

“Iya sebentar!” Sahut mang Jajat mendengar telepon rumahnya berdering. “Hallo, Assalamualaikum!” Sapanya.

“Waalaikumsalam. Mang Jajat ya?” Tanya dari seberang.

“Oh Tuan Andi ya. Apa kabarnya Tuan?” Tanya mang Jajat kepada sipenelpon yang tak lain adalah om Lefard yang dari New Zaeland.

“Baik, Mang. Gimana Mang sehat?”

“Alhamdulillah Tuan. Oh iya ada apa ya Tuan telpon?”

“Lefard ada?”

“Den Lefard belum pulang sekolah tuh Tuan.”

“Oh gitu, yaudah nanti kasih pesan aja kalo dia udah sampe rumah. Tolong sampaikan, saya tadi telpon dia!”

“Iya Tuan.”

“Yasudah kalau begitu trimakasih ya Mang. Assalamualaikum!”

“Ya Tuan. Waalaikum salam.”

Selang beberapa menitpun Lefard tiba dirumah.

“Eh Den udah pulang. Maaf Den, barusan aja om Andi telpon. Mau ngomong sama Aden.”

“Om Andi?” Tanya Lefard kaget. “Terus dia bilang apa Mang?”

“Tadi nggak bilang apa-apa. Cuma pesen aja, kalo tadi om Andi telpon.”

“Oh. Makasih ya Mang,” jawab Lefard tidak bersemangat dan berjalan lesu kekamarnya. Kenapa om Andi telpon lagi? Rasanya gue nggak mau langsung telpon dia dulu, tuturnya dalam hati.

***

“Den, kenapa pagi-pagi udah ngelamun?” Tanya mang Jajat yang sedang menyiapkan sarapan.

“Ah, nggak kok Mang.”

“Eh, mamang mah udah kenal Den Lefard dari kecil. Jadi tau gimana Den Lefard lagi seneng, kesel, bingung atau marah sekalipun,” sambung mang Jajat lembut.

“Lefard lagi mikir mang. Kenapa sampe sekarang Lefard belum bisa nemuin mama,” tuturnya sedih.

Mang Jajat hanya diam mendengar curhatan hati majikannya tersebut. “Iya Den. Mang jajat juga tau, pasti Den Lefard sedih karena masih belum nemuin Nyonya.”

Mang, maaf ya Lefard belum ngomong ke mang Jajat kalo Lefard bakal balik lagi ke New Zaeland, tutur Lefard dalam hati.

Ditengah kesenduan dirumah Lefard, tiba-tiba telpon rumahnya berdering.

“Sebentar ya Den,” pamit mang Jajat.

“Mang,” panggil Lefard memberhentikan langkah mang Jajat. “Biar Lefard aja yang angkat telponnya. Mungkin itu dari Om Andi,” sambungnya. Ia pun melangkah ke meja telpon untuk mengangkat telpon yang bordering tersebut. “Hallo!” sapanya.

“Le!” Suara balasan dari seberang.

Jantung Lefard pun tiba-tiba berdegup kencang mendengar suara yang terdengar lewat genggaman telponnya itu. Bener Om Andi, gumamnya dalam hati.

Mang Jajat pun berlalu dari meja telpon setelah telpon diangkat oleh majikannya.

***

** To Be Continue

Famodya :

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5

Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10

Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15

Part 16 (END)

 
Leave a comment

Posted by on September 17, 2011 in Cerita, Famodya

 

Tags: , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: