RSS

FAMODYA (Part 15)

17 Sep

“Hai!” Sapa Adya sumringah setelah kekasihnya Lefard menjemputnya untuk berangkat sekolah bareng. Lefard hanya menarik senyumnya tipis sehingga membuat Adya bertanya penasaran. “Kenapa sih, kayaknya nggak mood gitu? Nggak seneng ya bareng sama gue?

Huft..dasar cewek sensitive aja bawaannya, gumam Lefard kesal dalam hati.

“Gue bisa kok berangkat sendiri,” ketus Adya dan berlalu dari hadapan Lefard. Hehehe…pasti sebentar lagi dia ngejar gue, satu…dua…ti…tukasnya iseng dalam hati. Dan ternyata benar, belum sampai hitungan ketiga Lefard sudah berada didepan tubuhnya dan dengan cepat menggapai tangannya untuk tetap naik kemotornya. Adya meringis kecil. Hahaha, pagi-pagi udah bisa ngeliat orang ngambek, tukasnya dalam hati. Sampai diatas motorpun Lefard masih bersikap diam kepadanya. “Lo Kenapa sih?” Teguran setengah kesal terlontar dari mulut Adya.

Bruak, Adya melempar tas ranselnya diatas meja duduknya.

Keira yang melihatpun kaget dan lekas menghampirinya. “Kenapa lo Ad?”

“BT.” Jawab Adya singkat.

“Pagi-pagi udah BT?”

“Sama temen lo tuh?”

Keira mengerutkan kedua alisnya. “Temen? Temen yang mana?” Tanyanya bingung.

Belum sempat Adya menjawab pertanyaan Adya, Lefard tiba tepat didepan pintu kelasnya. Adya pun berdiri dari tempat duduknya dan pergi menjauhi Lefard.

Sekali lagi Keira melihat tingkah laku Adya bingung. “Kenapa sih si Adya?” Tanyanya balik ke Lefard. Dan Lefard hanya menjawab dengan menaikkan pundaknya.

***

Nanti malem gue mau ngundang lo, Keira, Bagas dan Tyas main kerumah gue. Dateng ya!” Seru Lefard kepada Adya seusai pelajaran terakhir berlangsung.

Tumben, tutur Adya bingung dengan perasaan masih sebal dengan sikap Lefard kepada dirinya hari ini.

Selesai membereskan buku-bukunya, Lefard langsung berdiri dan keluar kelas dengan melengos tanpa pamit dengan Adya bahkan Keira dan Bagas.

Adya yang melihat tingkah laku Lefard hanya diam dengan tatapan geram.

Tepukan mendarat dipundak Adya, “Masih dieman Ad?” Tanya Keira.

“Dia yang diemin gue dari tadi.”

“Terus lo nggak coba tanya?”

“Nggak, males. Perasaan kan gue nggak punya salah sama dia.” Adya lekas berdiri dan bergegas untuk pulang. “Eia, gue sampe lupa. Tadi sebelum Lefard pulang dia pesen sama gue katanya nanti malem kita dan Tyas disuruh kerumah dia.”

“Dalam rangka apa Ad?” Tanya Bagas penasaran.

“Bentar ya, HP gue geter nih. Ada telpon.” Adya menahan jawabannya kepada Bagas dan menerima panggilan dari ponselnya. “Hallo!”

“Kerumah guenya jam 5 sore aja, thanks,” balas dari seberang.

“Siapa Ad kok langsung mati?” Tanya Keira.

“Ck…tuh anak kenapa sih, nyebelin!” Gerutu Adya.

“Lefard?” Tanya Bagas.

Adya hanya mengangguk.

“Terus tadi dia bilang apa?”

“Dia bilang kita kerumah dia jam 5 sore aja, habis itu telponnya langsung mati.”

Bagas dan Keira saling memandang  setelah mendengar penjelasan Adya

***

“Lefaaard!” Seru Tyas dengan suara lantang ketika dirinya, Keira, Bagas juga Adya tiba didepan pintu rumah Lefard.

“Ssstt! Tyas biasa aja kali suaranya. Cempreng amat,” Omel Keira.

“Eh temennya Den Lefard ya? Ayo silahkan masuk!” sapa mang Jajat seraya membuka pintu dan mempersilahkan mereka untuk masuk.

“Lefard ada mang?”  Tanya Adya langsung saja.

“Ada. Den Lefard sudah menunggu diruang belakang.” Mereka pun mengikuti arahan mang jajat untuk menemui Lefard keruang belakang. Betapa kagetnya Keira melihat meja makan penuh dengan makanan dan minuman. Ada apa sih ini sebenarnya? Kok keliatannya kayak ada pesta, tanyanya dalam hati.

“Eh udah pada dateng!” Sapa Lefard sumringah.

Adya bertanya-tanya dalam hati. Perasaan tadi tampangnya asem, kenapa sekarang jadi sumringah gitu?

“Ada acara apaan nih Le?” Tanya Keira heran.

“Iya. Pake acara kita diundang kesini,” sambung Bagas.

“Yuk duduk!” Bukannya Lefard menjawab pertanyaan Keira dan Bagas malah mengalihkan pembicaraan dengan mempersilahkan mereka duduk. “Sebentar ya, gue bantu mang Jajat ambilin minum buat kalian, “ sambungnya.

“Lefard hari ini aneh banget sih Ad?” Bisik Keira pada Adya. Adya menanggapinya hanya dengan menaikkan kedua pundaknya tidak mengerti.

Satu persatu makanan yang tadi dilihat Keira dimeja makan dihidangkan oleh Lefard dan mang Jajat. Melihat Lefard yang begitu sibuk, Bagas lekas menarik tangan Lefard. “Lo duduk disini aja Le, kan ada mang Jajat!” Serunya.

Lefard hanya tersenyum dan berdiri lagi. “Iya, sebentar lagi juga udah beres kok. Nanggung, kasian mang Jajat sendirian.” Kemudian dirinya kembali kemeja makan untuk mengabil beberapa piring makanan kembali. “Eia, silahkan dinikmati ya hidangan dari gue!” serunya setelah semua hidangan yang ia miliki dirumahnya sudah tertata rapi dimeja ruang belakang rumahnya.

Keira, Bagas dan Adya hanya diam sambil melongo melihat piring yang begitu banyak.

“Gue masih belom ngerti deh sama permainan lo ini Le. Tadi disekolah lo jutek banget sama gue. Tapi sekarang, kenapa lo nyuguhin sesuatu yang berlebihan gini buat gue, Keira, Bagas dan juga Tyas?” Tanya Adya yang mulai kesal dengan teka-teki yang dibuat oleh Lefard.

Lefard hanyan menanggapi pertanyaan Adya dengan senyuman tipis diwajahnya.

“Iya Le, tingkah lo hari ini bikin kita semua bingung,” sambung Keira.

“OK gue bakal cerita, kenapa gue begini. Gue nggak mau pisah dari kalian,” tutur Lefard.

“Maksudnya?” Tanya Tyas tidak mengerti.

“Mungkin masalah gue ini baru Adya dan Keira yang tau. Tapi nggak mungkin kan Bagas dan Tyas nggak perlu tau?” Jawabnya.

“Iya terus?” sambung Tyas.

“Gue harus segera balik ke New Zaeland.” Jelas Lefard.

Mendengar penjelasan tiba-tiba dari Lefard, mereka semua kaget tidak terkecuali Adya.

“Segera? Maksudnya?” Tanya Adya kaget.

Sorry ya Ad, kalo sikap gue daritadi pagi aneh sama lo. Gue bingung harus ngomong apa. Gue takut untuk pisah sama lo,” jawab Lefard dengan suara semakin lirih sambil menundukkan kepalanya.

“Lo bilang, lo balik sesudah ujian nasional?” Sambung Keira.

“Kemaren om gue telpon lagi dan kasih kabar terbaru tentang bokap gue. Dia nyaranin gue balik secepatnya dalam minggu-minggu ini,” jawab Lefard lesu.

Adya tidak melanjutkan pembicaraannya lagi. Dirinya hanya diam mendengar jawaban Lefard barusan.

“Minggu-minggu ini Le?” Tanya Bagas.

Lefard menganggukkan kepalanya. “Oia silahkan diminum! Jangan jadi pada tegang gitu,” seru Lefard mencairkan suasana yang tiba-tiba hening karena penjelasannya barusan. Melihat semuanya masih bersikap dingin padanya, dirinyalah duluan yang mengambil sebuah gelas berisikan lemon tea. “Lumayan seger minumannya, gue sendiri lho yang buat,” sambungnya.

Tiba-tiba Adya langsung berdiri dan angkat kaki dari hadapan Lefard. Dirinya keluar dengan langkah yang cepat. Keira dan Tyas yang melihat pun langsung berusaha mengejar Adya. “Ad tunggu!” Seru Keira dari belakang.

“Ke, nggak apa-apa. Biar gue aja yang ngejar dia,” Lefard pun ikut berdiri dan mengejar Adya.

Keira dan Tyas pun menghentikan langkahnya dan membiarkan Lefard dan Adya untuk berbicara berdua.

Dengan langkah yang cepat juga, Lefard dapat menggapai tangan Adya. Namun Adya dengan cepat mengalihkan genggaman kekasihnya tersebut. Tetapi Lefard tidak semudah itu melepaskan genggamannya hingga Adya tidak bisa berkutik. “Lo pasti kecewa kan Ad?” Tanya Lefard setelah Adya sudah tidak melawan genggamannya.

Adya hanya diam sambil mengatur nafasnya yang terengah-engah.

Sambil tersenyum, Lefard menenangkan Adya. “Maafin gue Ad. Sekali lagi maafin gue.”

Kapan rencana lo berangkat?” Tanya Adya jutek.

“Gue belom tau kapan. Tapi paling lambat hari selasa harus udah berangkat.”

“Kenapa nggak sekarang aja? Dan baru kasih kabar saat lo udah sampe sana,” sambung Adya dengan nada ketus.

Lefard hanya menjawabnya dengan senyuman. “Gue ngerti kok perasaan lo. Tapi bukannya lo juga bilang kalo nggak ada yang salah ketika gue harus balik tiba-tiba ke New Zaeland?”

“Gue nggak nyalahin lo sama sekali kok. Sorry atas sikap gue yang kayak gini.”

“Ya gue tau sikap lo kayak gini karna lo belom bisa untuk kehilangan gue kan?” Canda Lefard.

Mendengar itu Adya semakin kesal dan akhirnya memukul dada Lefard.

“Nggak usah gengsi. Gue malah seneng sama sikap lo yang kayak gini. Itu artinya lo perhatian banget sama gue, nggak pengen jauh dari gue dan nggak terima saat gue mau tinggalin lo.”

“Ngomong apaan sih lo?” Adya semakin kesal.

“Ad, sekali lagi gue minta maaf ya karena harus secepat ini gue balik. Gue terpaksa ngingkarin rencana Keira untuk liburan di puncak bahkan gue juga ninggalin lo sendiri menghadapi UAN.”

“Tapi bagaimana pun lo kan belom ketemu sama nyokap lo Le. Dan otomatis gue juga ngingkarin janji gue dong buat cari nyokap lo sama-sama.”

“Gue udah buang jauh – jauh keinginan untuk cari nyokap gue Ad. Yang terpenting sekarang adalah keadaan bokap gue. Cuma dia satu-satunya orang tua yang gue punya saat ini.” Nada lefard menjadi tidak bersemangat. “Yaudah kita balik lagi yuk kesana! Nggak enak, temen-temen pada nunggu disana, masa tuan rumahnya malah asyik pacaran disini,” sambungnya lagi-lagi dengan candaan yang membuat Adya tidak kuasa mengembangkan senyumnya.

***

“Masih nggak percaya kalo sebentar lagi gue bakal ditinggal sama cowok yang paling ngeselin dalam hidup gue, juga begitu beratri dalam hidup gue, tuturnya sambil membayangkan kejadian pertama kali dirinya bertemu dengan Lefard dan adu mulut olehnya hingga akhirnya mereka jadian. “Walaupun nggak rela tapi Lefard harus balik demi bokapnya,” sambungnya sambil merebahkan tubuhnya ditempat tidurnya.

Hari ini sebagian jam yang berputar dilewatinya dengan Lefard dan para sahabatnya hingga dirinya sampai dirumah tidak sempat mandinya dan akhirnya langsung tidur di kasurnya.

“Halo Ke!”

“Halo!” Suara Jawaban malas ketika tepat pukul dua pagi Adya menghubunginya

“Kenapa Ad? Lho suara lo kok ngosngosan sih?”

“Gue abis mimpi buruk Ke,” jawab Adya masih terengah-engah.

“Mimpi apa lo? Mimpi dikejar-kejar setan?” ledek Keira.

“Lefard,” jawab Adya lirih.

“Hah?” Tanya Keira spontan serius. “Emang lo mimpi apa?”

“Nggak tau deh.”

“Yaudah lo sekarang tenang dulu. Ambil minum dan nanti sebelum lo tidur lagi, lo balik bantal lo dan lo juga ganti posisi tidur lo.”

“Lho apa hubungannya?”

“Kan kata orang dulu kalo mimpi buruk, biar mimpi itu nggak nyambung lagi, kita mesti balik bantalnya dan ganti posisi tidur.”

“Oh.”

“Yaudah sekarang lo minum dulu gih!”

“Ya Ke. Sorry ya jadi ganggu lo tengah malem gini.”

“He-eh.”

***

Seperti pagi-pagi biasanya, tiap berangkat sekolah Lefard pasti datang kerumah Adya untuk berangkat sekolah bareng. Tanpa alasan yang pasti, pagi itu Adya sangat erat berpegangan kepada Lefard seperti belum yakin untuk melepasnya. Lefard hanya diam dan tetap berkonsentrasi untuk mengendarai motornya hingga tiba disekolah dengan selamat.

Begitu pun selama pelajaran berlangsung, Adya tidak berhenti untuk memperhatikan keseriusan Lefard dalam mengerjakan tugas. Kalau lo cuma pergi ninggalin Jakarta, kenapa mimpi gue semalem kayak gitu? Tanya Adya dalam hati sambil masih terus memperhatikan kekasihnya tersebut.

Adya, mau cari makan bareng nggak? pesan singkat Keira membuyarkan semua pikiran Adya. Dengan cepat dirinya membalas pesan singkat sahabatnya itu. “Iya, sekalian gue mau certain mimpi gue semalem. Nanti lo suruh Bagas buat ngajak makan Lefard ya.”

“Lo baru nomor lima Ad? Sepuluh menit lagi dikumpulin lho,” Tanya Lefard yang kaget melihat tugas latihan integral milik kekasihnya masih belum terisi banyak.

“Eh, nggak. Gampang kok,” sahut Adya yang jadi kelagapan.

Lefard hanya menyipukan bibirnya sambil membagi sisi buku latihannya agar Adya bias menyalin pekerjaannya.

***

“Hah?” Keira sangat kaget mendengar cerita Adya menceritakan tentang mimpinya semalam. “Tapi jangan terlalu dipikirin lah Ad. Lagian kan itu cuma mimpi,” tuturnya.

“Gimana nggak gue pikirin. Gue mimpi itu dua kali berturut-turut. Oia, kapan jadinya Lefard berangkat ke New Zaeland?”

“Lho kok malah Tanya gue, kenapa lo nggak Tanya langsung aja. Mau nyindir gue nih ceritanya, kemaren-kemaren kan Lefard kalo cerita ke gue dulu.”

“Bukannya gitu Ke. Tapi kan mungkin aja dia cerita dulu ke lo baru ke gue.”

“Jujur, gue nggak tau. Nah waktu lo kemaren ngomong berdua gimana?”

“Dia bilanmg sih paling lambat berangkat hari selasa.”

“Kalo sekarang aja udah hari jumat, berarti tinggal 3 hari lagi dong dia tinggal disini?”

Adya hanya mengempiskan nafasnya sambil menyuap makanannya.

“Nanti pulang temenin gue sebentar ya.” Lefard secara tiba-tiba hadir dari belakang tubuh Adya.

“Emang mau kemana?” Tanya Adya aneh.

“Kemana ya. Liat entar aja deh.”

Selalu begitu. Nggak pernah kasih tujuan mau kemana tiap mau ngajak jalan gue, gumam Adya dalam hati. “OK,” balasnya.

***

“Oia kapan lo berangkat ke New Zaeland?” Tanya Adya sesampainya meraka di Famodya.

“Udah ngusir aja lo,” balas Lefard yang membuat telinga Adya agak tidak mengenakkan.

“Bukan gitu.”

“Emang kenapa Ad?”

“Semalem gue mimpi aneh.”

“Emang mimpi apa? Nggak mimpi yang macem-macem kan? Yang kayak di tivi-tivi gitu, kalau pacarnya mau pergi jauh terus mimpinya tuh pacar pake baju putih dan lama kelamaan menjauh dari pandangan lo,” jelas Lefard.

Ck. Emang nggak enak banget berkomnukasi dengan leher kuya, giliran gue yang serius dia malah nanggepin omongan gue sebagai olokan, gumam Adya dalam hati. “Ya nggak segitunya juga sih.”

“Terus?” Tanya Lefard yang penasaran. “Kok malah diem?” Tanyanya sekali lagi kaena Adya menghentikan ceritanya.

“Lo jangan berangkat hari selasa ya!” Sambung Adya.

“Lho kenapa Ad sama hari selasa?”

Adya kembali terdiam. Dirinya begitu bingung bagaimana mengutarakan kegundahannya jika Lefard benar akan berangkat hari selasa. Sebab dirinya begitu phobia dengan hari tersebut. Tiga kali berturut-turut orang yang dicintainya meninggalkannya dihari tersebut, ditambah pula dengan mimpi dua kali berturut-turutnya. “Ya, pokoknya lo harus nurutin permintaan gue yang satu ini. Gue mohon dengan sangat, lo jangan berangkat hari selasa.”

Lefard kemudia memajukan langkahnya lebih kedepan dari Adya dan duduk di atas rerumputan yang tumbuh ditanah itu. “Lo lagi mengkhawatirkan sesuatu ya Ad? Mungkin gue nggak tau jelasnya seperti apa, tapi gue hanya menyarani jangan 100% lo percaya sama mimpi. Itu kan cuma bunga tidur lo doang.”

Mendengar perkataan Lefard, Adya lekas mendekat dan ikut duduk disamping Lefard. “Bukannya gue percaya sama mimpi. Nggak tau kenapa, gue khawatir lo berangkat hari itu.”

“Lo keinget Edhu ya Ad?” Lefard mencoba menebak-nebeak apa yang ada dalam pikiran Adya. “Waktu Edhu pergi ninggalin lo hari selasa kan?”

Adya hanya diam. “Tapi mimpi itu jelas Le. Gue mimpiin itu dua malem berturut-turut.”

“Saat Edhu ninggalin lo apakah malam sebelumnya lo mimpiin dia yang macem-macem?”

Adya menggolengkan kepalanya.

“Bukannya gue nggak percaya sama kekhawatiran lo. Setiap manusia didunia ini pasti mati dan nggak ada yang bias nentuin selain Tuhan untuk lokasinya dimana, mati umur berapa dan dengan cara yang seperti apa.”

Mendengar kata-kata Lefard Adya spontan merengkuh tangan kanan Lefard. “Udah jangan ngomong itu lagi. Gue takut.”

“Nggak usah takut, kalo kita nggak pernah melakukan kesalahan besar sama Tuhan. Manusia itu suatu saat pasti mati Ad.”

“Le, masih ada waktu sabtu, minggu, senin. Terserah lo mau berangkat kapan asalakan jangan hari selasa!”

Lefard hanya tersenyum mendengar permohonan Adya. “Hari apapun itu, asalkan lo mengikhlaskan gue pergi, gue bakalan baik-baik aja kok,” jawabnya memulihkan ketakutan Adya. Sorry Ad, gue udah dapek tiket dan berangkat hari selasa. Tapi nggak mungkin gue kasih tau lo sekarang, ijinkan gue untuk bisa bercanda lagi ditempat ini tanpa dicampurin ribut-ribut. “Oia lo tau nggak apa alasannya gue namain tempat ini Famodya?”

“Oh iya, sampe sekarang kan gue nggak tau. Emang Famodya itu apa sih?” Tanya Adya penasaran.

 “Tapi setelah gue kasih tau. Lo jangan nangis terharu ya!” Candanya.

“Ih lebay.”

“Famodya itu gue artiin sendiri leFard aMOre aDYA,” jawabnya sambil tersipu.

“Bisa aja,” tanggap Adya dengan pipi yang memerah.

Lefard pun merebahkan seluruh tubuhnya ketanah berumput itu. “Setiap gue kesini sama lo, pasti langit lagi bagus.”

Adya pun spontan memandangi langit dan melirik sedikit jam tangannya yang menunjukkan pukul lima sore. Adya mengikuti Lefard yang merebahkan seluruh tubuhnya. “Dan angin begitu segar nemenin kita,” sambung Adya tidak mau kalah. Dan kini mereka sama-sama tidur diatas rerumputan sambil menikmati sunset yang begitu indah.

***

“Halo!” jawab Adya malas karena pagi-pagi Keira sudah menelponnya.

“Lo nggak latihan taekwondo?”

“Emang sekarang jam berapa sih? Kan masih pagi banget, gue aja masih kedinginan.”

“Ck, dasar kebo. Sekarang itu udah jam Sembilan Adya. Lefard aja udah ada disini.”

“Hah? Jam Sembilan. Latihannya kan jam sepuluh. Iya-iya gue bangun. Thanks ya Ke. Dah.”

“Kesiangan lagi ya Non?” Tanya bi Nana yang sedang membereskan guci-guci diruang tamu.

“Bi Nana kok cuma nanya gitu doang sih?” Tanggap Adya sedikit kesal.

“Tuh kan bener feeling bibi. Pasti bibi kena omel,” tanggap bi Nana santai. “Padahal kan tadi jam tujuh bibi udah kekamar Non Adya buat bangunin Non Adya, terus Non Adya bilang hari ini nggak ada latihan, yaudah bibi keluar deh,” lanjutnya.

Adya hanya menggeleng-geleng kepala sambil bergerutu kenapa Lefard tidak membangunkannya atau mengajaknya untuk berangkat bareng.

***

“Lo masih marah gara-gara gue nggak nyamper lo tadi pagi?” Tanya Lefard seusai latihan taekwondo.

Adya kurangin ngambeknya. Harus tahan, jangan marah karena sebentar lagi lo kan bakal susah ketemu dia. Adya mencoba mengendalikan emosinya agar tidak marah-marah dengan Lefard. “Enggak kok, malah gue seneng banget. Itu tandanya lo sengaja ngelatih gue untuk bisa bangun tidur sendiri,” jawabnya sambil memaksa bibirnya untuk tersipu.

“Senyum lo maksa banget sih,” tanggap Lefard sambil tertawa. “Yaudah kita balik aja yuk. Sekalian ada yang mau gue omongin dirumah lo nanti.”

Adya hanya mencibirkan mulutnya.

***

Kerumah gue sekarang! sebuah pesan singkat Adya kedapa Keira yang memaksa Keira untuk pergi secepatnya kerumah Adya, padahal dirinya sedang memilih-milih bola basket.

“Gue mesti gimana lagi Ke?” Tanya Adya bingung ketika dirinya menceritakan bahwa Lefard sudah membeli tiket untuk berangkat hari selasa.

“Bener juga sih kata Lefard. Lo cuma phobia doang Ad.”

“Ke ini ngelebihin phobia gue dihari selasa. Lo inget Edhu meninggal hari apa? Lo inget Eyang gue mati hari apa? Dan lo nget nggak nyokap gue dateng dari Belanda bawa bayi perempuan itu hari apa? Selasa Ke,” tegas Adya.

Keira diam sejenak untuk berpikir. “Ad. Gue hargai kekhawatiran lo. Tapi cara lo yang kayak gitu malah bikin Lefard ikut sedih buat ninggalin lo.”

“Masalahnya nggak serumit ini kalo Lefard mau dengerin omongan gue. Nggak berat kan Ke, bisakan berangkat sekarang atau besok atau mungkin rabu.”

“Nggak akan terjadi sesuatu apapun kok saat Lefard pergi Ad. Gue juga ikut mohon sama lo, buang rasa ketakutan lo itu. Malah lebih baik kan kalo kita ngedoain Lefard agar selamat sampai disana dan kondisi bokapnya semoga semakin membaik.

Adya pun tidak melanjutkan omongnya lagi dan mencoba tenang dalam menghadapi ketakutannya itu.

***

“Gue denger Lefard mau pindah ya Ad?” Tanya Feri ketika dirinya baru tiba dikelas dan melewati tempat Adya duduk.

Adya hanya mengangguk tidak bersemangat.

“Sayang banget dia nggak nunggu UAN dulu. Kapan berangkat?”

“Selasa.”

“Besok dong.” Kepala Feri pun celingukan. “Hari ini dia masuk nggak? Kok tumben sih belom dateng?”

Adya akhirnya ikut celingukan cari Lefard karena tidak biasanya Lefard jam tujuh belum ada dikelas.

“Bukannya lo biasa pergi sekolah bareng ya?”

“Dia nggak nyamper gue. Udah deh lo nggak usah kebanyakan nanya,” sungut Adya ketika dirinya banyak dilimpahkan pertanyaan tentang pindahnya Lefard.

“Jah, gitu aja ngambek. Yaudah gue diem,” tanggap Feri dan kemudia berjalan menuju tempat duduknya sendiri.

Kemaren nggak nyamper buat latihan taewondo, sekarang nggak nyamper buat berangkat bareng. Jam segini belom nyampe, maunya apa sih itu orang. Sungut Adya kesal.

“Selamat pagi!” Sapa pak Yudhis mengawali pelajaran pagi ini. Dan dibelakang tubuh guru kimia tersebut munculah sosok yang dari tadi ditunggu-tunggu Adya. “Anak-anak sebelum memulai pelajaran, saya ingin member informasi. Bahwa teman kita yang bernama Lefard hari ini terakhir bersekolah disini. Besok dia sudah harus kembali ke New Zealand karena kondisi ayahnya semakin buruk. Silahkan Lefard jika kamu ingin memberikan pesan-pesan dulu dengan teman sekelasmu!”

Lefard mengangguk dan berdiri tepat ditengah ruang kelas. Dengan tampang yang tegar dirinya mengucapkan banyak terimakasih kepada teman-teman sekelasnya yang sudah mau berteman dan membantu kesehariannya selama disekolah.

Sementara Adya memandang Lefard dengan pandangan kosong. Ada pikiran lain yang dipikirkannya dibanding dengan seksama mendengarkan perkataan kekasihnya tersebut.

***

“Sorry ye bro, besok gue nggak bias anter lo kebandara. Kita ada pendalaman materi sampe sore, lagian kan lo berangkatnya pagi,” tutur Feri dan teman-teman yang lain ketika berbicara dengan Lefard seusai pelajaran kimia berakhir.

“Nggak apa-apa kok. Lo udah doain gue aja, gue  udah seneng.”

“Iya. Mudah-mudahan lo slamet sampe sana. Oia, gimana kabar bokap lo?”

“Masih dirawat dirumah sakit. Justru karena rencana harus dioperasi dan nunggu kesepakatan dari pihak keluarga, makanya om gue nyuruh gue kesana.”

Adya yang mendengar percakapan itu hanya diam saja. Malah memilih mengambil headsetnya dan mendengarkan musik dari ponselnya.

***

“Kok lo pergi duluan sih nggak nungguin gue dulu?” Tanya Lefard bingung.

“Kan dari pagi juga gue udah berangkat sendiri,” jawab Adya sambil memaksa mulutnya untuk tersenyum didepan Lefard.

“Tapi sekarang lo pulang bareng sama gue!” paksa Lefard.

Adya yang kaget dengan nada bicara Lefard memandangi Lefard dengan kesal. “Ih lo itu bener-bener cowok ngeselin ya!” kata-kata kasar pun terlempar dari mulut Adya dan dari kemarin sebenarnya ia tahan-tahan agar Lefard tidak sakit hati kepadanya. “Gue capek Le gini terus. Kenapa sih sikap lo kadang lembut kadang kasar banget sama gue?”

Lefard tidak membalas pertanyaan Adya, dirinya malah menarik tangan Adya dengan kasar hingga ke parkiran motornya.

“Bahkan bersikap lembut pun sekarang lo nggak bias!” Keluh Adya yang kesakitan dengan tangannya. “Mau lo apa sih? Gue nggak mau ribut-ribut lagi sama lo. Gue nggak mau sisa waktu yang tinggal berapa jam lagi kita isi dengan keributkan yang nggak jelas ini,” tutur Adya dengan nada suara yang semakin pelan. “Kalo lo mau hari ini gue temenin lo lagi sampe malem gue mau kok,” sambungnya.

Maafin gue Ad, gue juga nggak tau kenapa gue sampe nggak berperasaan gini kalo sama lo. Seakan gue nggak bisa ngeliat dan bertemu lo lagi, apa mungkin besok terjadi sesuatu sama gue Ad? Lefard tiba-tiba menyesal atas perlakuan kasarnya barusan kepada Adya. “Yaudah, sekarang gue minta sama lo, lo pulang bareng sama gue!”

Tuh kan masih kasar lagi, tapi biarpun gitu gue harus temenin dia hari ini. Adya yang masih terdiam akhirnya ikut dengan Lefard dan sama-sama menaiki motor racing Lefard.

Mata Adya tidak berhenti menari keatas kebawah setelah motor Lefard berhenti disebuah restoran makanan Jepang. “Kita mau makan?” Tanya Adya.

“Yaiyalah, masa mau ngamen disini,” jawab Adya sambil menggandeng Adya masuk kedalam.

Masih aja gengsi nggak mau ngomong lembut duluan, gerutu Adya dalam hati.

“Nggak ada salahnya kan gue ngajak lo kemari. Lo suka kartun Jepang, gue suka makanan Jepang. Yang penting sama-sama Jepang. Lo nggak ada alergi seafood kan?” Tanya Lefard setelah mereka berdua duduk didalam.

“Nggak,” jawab Adya singkat.

***

“Bibi, Adya berangkat ya!” pamit Adya. Hari ini dirinya terpaksa tidak masuk sekolah karena mengantar Lefard ke bandara bersama Keira, Bagas dan Tyas.

Klakson mobil Keira pun berbunyi, dan Adya segera bergegas keluar rumah.

“Non, nggak sarapan dulu?” Kejar bi Nana.

“Ini udah bawa roti isi dua lapis,” jawab Adya sambil berlari menuju mobil Keira.

“Jangan bilang lo bangun telat lagi?” Tanya Keira sesampainya Adya didalam mobil.

Adya hanya meringis sambil menahan roti yang ada didalam mulutnya. “Ayo jalan!” Serunya.

Mobil yang dikendarai Bagas pun berhenti didepan rumah Lefard. Memang rencananya mereka ingin berangkat bareng dari rumah Lefard.

“Hei!” sapa Lefard yang sudah siap berangkat.

“Nggak bakal telat kan lo Le?” Tanya Bagas.

“Pasti tadi nungguin miss karet dulu ya?” Tanya Lefard sambil bercanda.

“Hm..nggak usah dijawab pasti udah tau deh jawabannya,” jawab Tyas dari belakang diikuti dengan tawa Keira. Mobil yang dikendarai mereka pun kini menuju bandara.

Thanks banget ya Gas, Ke, Yas udah mau nganterin gue sampe bandara. Malah kalian ngorbanin waktu pendalaman materi kalian,” tutur Lefard setelah mendengar pesawat yang akan dinaikinya akan segera take off. “Eh bentar ya.” Lefard mengangkat ponselnya yang berdering.

“Halo Lefard!”

“Iya Pak.”

“Kamu sudah mau berangkat?”

“Sebentar lagi Pak. Maaf ada apa ya Pak?” Tanya Lefard yang bingung kenapa pak Yudhis menelponya.

“Ada sesuatu yang ketinggalan dari sekolah Tira Palawa.”

“Maksud Bapak?”

“Medali dari hasil turnamen kamu bulan lalu, tidak kamu bawa.”

“Sudah Pak, nggak apa-apa. Biar medali itu disimpan aja diruang taekwondo sebagai inventaris.”

“Rencananya saya ingin mengantarkannya sekarang tapi kalau pesawat yang ingin kamu naiki sudah mau take off ya pasti saya tidak sempat menuju kesana.”

“Nggak apa-apa Pak.”

“Yasudah, yang penting kamu hati-hati ya. Bapak titip salam kepada papa kamu.”

“Makasih Pak.”

“Pak Yudhis?” Tanya Adya.

“Iya.”

“Kenapa?”

“Beliau mau ngasih medali turnamen bulan lalu.”

Adya langsung tersenyum. “Sayang banget. Coba aja kalo lo bawa, pasti lo nggak akan lupa sama tim taewondo TP.”

“Nggak mesti ada medali juga kan untuk mengingatkan tim taewondo TP. Justru harusnya tim taewondo TP yang mesti mengingat gue. Lefard Heldunn Wirayudha pernah menjuarai turnamen tingkat sekolah dengan jenjang sabuk hitam.” Lefard membanggakan dirinya sendiri. “Kok pada kewata. Iya kan, jadi tuh medali sebagai kenang-kenangan dari gue. Mohon jaga baik-baik ya,” sambungnya.

“Addduh, perut gue sakit Ke, anterin gue dong kekamar mandi. Oia bagas gue lupa gue belum sarapan sedangkan gue punya penyakit magg tolong beliin gue roti ya.” Tiba-tiba Tyas meratap sakit perut dan menyuruh Bagas untuk membeli roti sambil mengedip-kedipkan mata. “Ayo Ke, Gas!” kemudian menarik tangan Keira dan Bagas untuk menjauhi Adya dan Lefard.

“Lo kenapa lagi sih Yas,” Tanya Keira kesal.

“Ssstt, ini cuma trik aja, biar Adya sama Lefard bias ngomong berduaan tau.”

“Ooo,” tanggap Keira dan Bagas mengerti.

“Aneh, bilang aja mau ninggalin gue berduaan, pake acara boong sakit perut. Sakit perut beneran baru tau rasa lo Yas.” Adya bergerutu lirih.

“Lo ngomong apa Ad?”

“Ah. Nggak.”

“Oh, habis keliatan kayak orang ngomong. Mulut lo komat-kamit.”

“Kan gue dukun.” Canda Adya.

“Ad.”

“Iya.”

“Sekali lagi gue minta maaf ya kalo selama ini gue selalu berbuat kasar sama lo dan nyebelin dimata lo.”

“Lo kan emang kayak gitu. Tapi…”

“Tapi sayang kan sama gue.” Belum sempat Adya melanjutkan kata-katanya, Lefard sudah memotong duluan dan membuat Adya tersipu dengan wajah yang merah.

“Ge-er.”

“Udah ah kita balik lagi yuk. Ngapain coba ngumpet disini,” ajak Keira kepada Bagas dan Tyas. Karena mereka bertiga ternyata bersembunyi dibelakang kamar mandi.

“Ih ntar aja!” Tahan Tyas.

“Tau nih Tyas, nggak ada untungnya disini. Mending kita kesana lagi. Foto bareng sama Lefard disana,” sambung Bagas.

Keira dan Bagas pun berjalan kembali ke tempat Adya dan Lefard sementar Tyas  mengikuti dari belakang.

“Gimana? Udah enakkan belom perutnya Yas?” Tanya Lefard.

“Udah kok. Udah gue kasih satu bungkus roti sobek tadi. Sangking rakusnya langsung abis.” Keira yang memotong untuk menjawab pertanyaan Lefard.

Adya hanya cengar-cengir.

“Le, sebelum lo kepesawat. Kita foto-foto dulu ya!” Tawar Bagas.

“Boleh.”

Mereka pun mengabadikan kebersamaan mereka.

“Yaudah, gue masuk ya thanks atas semuanya.”

“Nanti kalo udah sampe jangan lupa kabarin ya,” sahut Adya.

“Siap. Mau melalui apa nih? BBM, FB, twitter, SMS, 3G atau webcam,” ledek Lefard.

“OK. Semuanya gue tunggu,” tantang Adya.

“Yaudah ya. Dah.” Dan Akhirnya Lefard memasuki peron keberangkatan ke arah New Zaeland.

“Jangan lupain kita ya Le,” sambung Keira dan Bagas.

“Kok perpisahannya nggak romantis ya. Nggak kayak yang di tivi-tivi gitu,” tutur Tyas dengan suara agak lirih.

“Kerjaan lo kan tadi ninggalin gue berdua sama Lefard?” Adya yang mendengar gumaman Tyas langsung menodongnya dengan pertanyaan. Dan jawaban Tyas hanya cengar-cengir.

“Yaudah kita pulang yuk!” Ajak Bagas.

Dengan perasaan setengah panik, Adya melangkahkan kakinya untuk masuk kemobil dan meningalkan bandara. “Eh, kalian mampir kerumah gue dulu ya. Bi Nana kayaknya tadi lagi ngeracik makanan enak deh,” tawar Adya.

“Boleh.” Jawaban semangat serentak keluar dari mulut Keira, Bagas dan Tyas.

***

“Heran deh, Jakarta macetnya bukan main,” geturu Bagas. “Masa dari bandara kesini aja sampe dua jam,” sambungnya. “Ad, mana remote TV?” Tanya Bagas.

Adya memandang aneh. “Lo mau nonton TV?”

“Iya.”

“Mau nonton apa lo?” Tanya Adya yang masih heran.

“Biasa, perkembangan terbaru tentang persiapan UAN.”

“Ih, sok gaya deh lo Gas.”

“Udah, mana sini remote TVnya?”

“Cari aja didalem lemari DVD. Biasanya bi Nana taro disitu.” Dan Adya melanjutkan untuk membuat minuman segar.

“Hm, channel apa ya.” Bagas memilih-milih satu persatu channel yang ada di TV Adya. Secara tidak sengaja dirinya mellihat acara headline news disalah satu pilihan channelnya yang memberitakan jatuhnya pesawat tujuan New Zaeland diperairan perbatasan Papua-Australia. Dan sampai saat ini belum adanya komunikasi langsung dari awak pesawat dengan pihak airlines. Bagas yang mendengar berita itu dengan spontan menambahkan volume suaranya sehingga Adya dan yang lainnya ikut mendengar dari dapur.

PRAAANNG. Semua orang yang ada disitu pun kaget mendengar beberapa gelas yang dibawa Adya jatuh kelantai. Keira dan Tyas hanya saling pandang.

“Ya ampun, Non Adya.” Bi nana yang juga berada didapur kaget dan menghampiri Adya.

“Nggak mungkin,” tutur Adya lirih dengan pandangan yang masih fokus dengan acara TV tersebut. “Nggak mungkin itu pesawat yang dinaikin Lefard barusan.” Dan dirinya langsung mengambil ponselnya, mencoba untuk menghubungi Lefard. Beberapa kali ia hubungi, nomor Lefard masih tidak aktif.

“Tenang Ad!” Bagas coba menenangkan Adya.

“Iya. Gue harus tenang. Nomornya nggak bias dihubungi pasti karena dia masih ada diatas pesawat.”

“Ad, minum dulu!” Tyas menyodorkan segelas air putih untuk membuat Adya tenang.

“Kita balik ke bandara lagi!” Adya mengajak Bagas dan yang lainnya untuk kembali ke bandara. “Kita harus dapet informasi dari mereka,” sambung Adya yang masih panik.

“Mbak, kita mau konfirmasi tentang berita yang ada di TV tentang jatuhnya pesawat tujuan ke New Zaeland,” Tanya Adya kepada operator airlines setibanya ia dibandara.

“Mohon maaf Mbak, berita itu benar dan disini kita masih berusaha untuk menghubungi awak kapal,” jawab operator airlines tersebut.

“Nggak mungkin. Itu bukan pesawat yang jam sepuluh tadi berangkat kan Mbak?” Tanya Adya yang masih tidk percaya.

Operator itu tidak langsung menjawab. Justru bingung bagaimana menjelaskannya kepada Adya. “Pesawat dengan tujuan New Zealand hari ini hanya berangkat pukul sepuluh pagi Mbak.”

Adya masih tidak percaya dan menangkal penjelasan operator tersebut. Tiba-tiba saat dirinya membalikkan badan terlihat sosok mang Jajat. Dirinya langsung menghampiri mang Jajat. “Mang ngapain kesini, berita itu bohong. Pesawat yang jatuh bukan pesawat yang dinaiki Lefard Mang,” tuturnya dengan suara bergetar.

Mang Jajat hanya diam saja mendengar penjelasan Adya, dirinya pun tidak kuasa menahan air mata setelah kabar mengejutkan tersebut.

“Mang Jajat ngapain masih ada disini, ayo kita pulang!” Ajak Adya. Namun mang Jajat hanya diam. Dirinya tahu bahwa seseorang yang dihadapinya sekarang adalah orang yang belum terima kehilangan orang yang dicintainya. “Mang ayo pulang!” Seru Adya sekali lagi, tapi tetap saja mang Jajat memilih diam. Sambil menyeka airmatanya Adya kemudian berjalan, “Ayo kita pulang lagi aja, gue mau nunggu kabar dia dirumah!” Seru Adya menyuruh Bagas, Kera dan juga Tyas untuk kembali kemobil.

Dengan sesengukkan Tyas mengikuti Adya dari belakang.

“Kenapa lo nangis Yas? Gue kan udah bilang, pesawat itu bukan yang dinaiki Lefard?” Tanya Adya dengan nada tinggi sehingga memaksa Tyas dengan cepat menyeka air matanya dan mengatus nafasnya.

“Bilang yang sabar ya sama teman kamu, suami saya juga ada dalam pesawat itu.” Tiba-tiba seorang perempuan menarik tangan Keira ketika dirinya jalan paling belakang. Mendengar perkataan perempuan tersebut Keira tidak bias menahan tangisnya. Dirinya menanggapi ibu itu dengan senyuman dan kembali berjalan menuju mobil.

Sepanjang perjalan Adya hanya diam dengan pandangan kosong, sesekali dirinya mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Lefard, membukan BBMnya, membuka akun sosialnya juga kotak masuknya. Namun semuanya nihil hingga dirinya tiba dirumah. “Kalian pulang aja!” Serunya Sebelum dirinya keluar dari mobil.

Bagas, Keira dan Tyas hanya diam dan saling pandang.

“Nggak bisa Ad, kita harus tau kabar Lefard bareng-bareng. Lefard juga temen kita,” tanggap Bagas.

“Iya Ad. Dan gue nggak akan ngebiarin lo sendirian lagi,” sambung Keira.

“Kalo Lefard udah sampe pasti dia akan hubungin kalian juga, jadi kalian nunggu kabar dia dirumah aja!” Sambung Adya sambil masih terus berlagak tegar dihadapan para sahabatnya. “Please tinggalin gue sendiri dulu. Gue dari tadi udah ngerepotin kalian. Ngambil waktu kalian untuk pendalaman materi.”

***

Jarum jam dirumah Adya sudah menunjukkan pukul 01.00 WIB tapi Adya masih terjaga didepan laptopnya untuk menunggu kabar lefard melalui akun sosialnya sesuai janji yang diberikan Lefard sebelum dirinya berangkat. Sebagai pembantu yang setia menjaga Adya, bi Nana masih menunggu majikannya tersebut keluar kamar. “Non Adya!” panggil bi Nana dari balik pintu. “Non, udah tengah malem gini Non Adya tetep nggak mau makan?” sambungnya. Namun pertanyaan itu sekalipun tidak dijawab oleh Adya.

***

Bi Nana mengucek-ngucek matanya beberapa kali setelah melihat sessorang dimeja makan. “Ya Allah itu Non Adya?” Tebaknya kaget. Bi Nana pun melihat jam berapa sekarang. “Jam setengah tujuh tumben Non Adya udah siap,” gumamnya heran kemudia dengan cepat mengahampiri majikannya tersebut. “Non Adya, maaf maaf sekali Bibi belum bikini sarapan.”

“Nggak apa-apa Bi. Adya udah bikin roti sendiri kok,” jawab Adya dengan wajah yang tidak dibayangkan bi Nana sama sekali. Wajahnya sumringah dan ceria meskipun masih terbaca cekungan hitam dibawah bola matanya akibat semalaman dirinya tidak tidur.

“I..iya Non.” Bi Nana pun merapikan buku-buku bawaan Adya dan menyiapkannya di meja ruang keluarga dan dengan tidak sengaja pula tas yang dijinjing bi Nana menekan sebuah remote TV sehingga TV diruang keluarga pun menyala. Channel bekas kemarin menonton berita pun belum terganti sehingga saat menyala channel tersebut yang muncul. Dan bertepatan pula adanya berita yang mengabarkan tentang kasus kecelakaan pesawat kemarin. Sontak Adya langsung memandang kearah TV tersebut. Bi Nana yang sudah menyadarinya lebih dahulu berencana untuk mengganti channel itu tapi melihat majikannya sudah menyimak niat itu dipupuskannya.

Dalam berita itu mengabarkan bahwa pesawat yang jatuh kemarin siang dengan tujuan Jakarta-New Zaeland sudah ditemukan yaitu tenggelam diperairan perbatasan Papua dengan Australia dan meski telah ditemukan awak pesawat belum bisa dievakuasi dikarenakan pesawat tenggelam sedalam seribu meter.

Bagaikan tersamber petir disiang bolong, hati Adya menjadi tidak karuan, tubuhnya jadi melemas dan raut wajahnya menjadi layu diikuti dengan mata yang sudah berkaca-kaca.

“Bibi ganti ya Non.”

Adya pun tidak menjawab, dirinya langsung menghabiskan rotinya dan mengambil tasnya untuk berangkat kesekolah.

Ditengah perjalanan, pikirannya bercabang. Ada niat dari hatinya untuk kembali ke bandara. Motornya pun melaju kencang kesana. Tidak disangka, baru saja melangkahkan kakinya dilihatnya beberapa orang yang sedang terisak-isak ada pula yang sedang menyeka air matanya dan seorang ibu tersenyum kecil untuknya dengan keadaan mata yang sembab. Melihat semua itu dirinya lekas pergi lagi dan menjauhi bandara. Niat untuk berangkat ke sekolah sepertinya sudah diabaikannya. Kini motornya melaju kearah rumah Lefard. Sungguh pemandangan yang pahit bagi Adya, dilihatnya sosok mang Jajat yang sedang membawa koper.  “Mang Jajat,” sapanya.

“Eh Non Adya.”

Adya pun turun dari motornya. “Mang Jajat mau kemana?”

“Ini Non, mamang mau pulang ke kempung”

“Oh.”

“Mari Non,” pamit mang Jajat dan Adya membiarkan mang Jajat berlalu dari hadapannya. Kemudian dipandanginya terus rumah itu, bayangannya muncul ketika dirinya pertama kali menginjak rumah itu. Saat Lefard dikeroyok sejumlah preman dan dirinya yang harus mengantarkannya sampai rumah. Airmatanya pun terjatuh.

Tiga fakta sekaligus yang dilihatnya pagi ini menyadarkannya bahwa Lefard benar-benar telah meninggalkannya jauh dan tidak akan kebali lagi kepadanya. Dan ketiga fakta itu memaksa air matanya untuk terus menetes.

***

Bunyi bel sekolah TP pun berdering. Dari tempat duduknya Keira memandangi dua kursi paling depan. Dua duanya kosong.

“Adya nggak masuk ya?” Tanya Bagas.

Keira hanya menjawab dengan anggukkan lemah.

** To Be Continue

Famodya :

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5

Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10

Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15

Part 16 (END)

 
1 Comment

Posted by on September 17, 2011 in Cerita, Famodya

 

Tags: , , , , , , , , , , ,

One response to “FAMODYA (Part 15)

  1. postage rates 2011

    October 15, 2011 at 7:09 PM

    Reliance Industries Ltd net profit jumps 15.84 per cent to Rs 5,703 crore for the quarter ended September 30.PTI

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: