RSS

KIMIA LINGKUNGAN

28 Nov

A. PENCEMARAN LINGKUNGAN

A.1. Pengertian Pencemaran Lingkungan

Pencemaran lingkungan merupakan masalah kita bersama, yang semakin penting untuk diselesaikan, karena menyangkut keselamatan, kesehatan, dan kehidupan kita. Siapapun bisa berperan serta dalam menyelesaikan masalah pencemaran lingkungan ini, termasuk kita. Dimulai dari lingkungan yang terkecil, diri kita sendiri, sampai ke lingkungan yang lebih luas.

Permasalahan pencemaran lingkungan yang harus segera kita atasi bersama diantaranya pencemaran air tanah dan sungai, pencemaran udara perkotaan, kontaminasi tanah oleh sampah, hujan asam, perubahan iklim global, penipisan lapisan ozon, kontaminasi zat radioaktif, dan sebagainya.

Untuk menyelesaikan masalah pencemaran lingkungan ini, tentunya kita harus mengetahui sumber pencemar, bagaimana proses pencemaran itu terjadi, dan bagaimana langkah penyelesaian pencemaran lingkungan itu sendiri.

A.2. Sumber Pencemaran

Pencemar datang dari berbagai sumber dan memasuki udara, air dan tanah dengan berbagai cara. Pencemar udara terutama datang dari kendaraan bermotor, industi, dan pembakaran sampah. Pencemar udara dapat pula berasal dari aktivitas gunung berapi.

Pencemaran sungai dan air tanah terutama dari kegiatan domestik, industri, dan pertanian. Limbah cair domestik terutama berupa BOD, COD, dan zat organik. Limbah cair industri menghasilkan BOD, COD, zat organik, dan berbagai pencemar beracun. Limbah cair dari kegiatan pertanian terutama berupa nitrat dan fosfat.

A.3. Proses Pencemaran

Proses pencemaran dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung yaitu bahan pencemar tersebut langsung berdampak meracuni sehingga mengganggu kesehatan manusia, hewan dan tumbuhan atau mengganggu keseimbangan ekologis baik air, udara maupun tanah. Proses tidak langsung, yaitu beberapa zat kimia bereaksi di udara, air maupun tanah, sehingga menyebabkan pencemaran.

Pencemar ada yang langsung terasa dampaknya, misalnya berupa gangguan kesehatan langsung (penyakit akut), atau akan dirasakan setelah jangka waktu tertentu (penyakit kronis). Sebenarnya alam memiliki kemampuan sendiri untuk mengatasi pencemaran (self recovery), namun alam memiliki keterbatasan. Setelah batas itu terlampaui, maka pencemar akan berada di alam secara tetap atau terakumulasi dan kemudian berdampak pada manusia, material, hewan, tumbuhan dan ekosistem.

A.4. Langkah Penyelesaian

Penyelesaian masalah pencemaran terdiri dari langkah pencegahan dan pengendalian. Langkah pencegahan pada prinsipnya mengurangi pencemar dari sumbernya untuk mencegah dampak lingkungan yang lebih berat. Di lingkungan yang terdekat, misalnya dengan mengurangi jumlah sampah yang dihasilkan, menggunakan kembali (reuse) dan daur ulang (recycle). 

Di bidang industri misalnya dengan mengurangi jumlah air yang dipakai, mengurangi jumlah limbah, dan mengurangi keberadaan zat kimia PBT (Persistent, Bioaccumulative, and Toxic), dan berangsur-angsur menggantinya dengan Green Chemistry. Green chemistry merupakan segala produk dan proses kimia yang mengurangi atau menghilangkan zat berbahaya.

Tindakan pencegahan dapat pula dilakukan dengan mengganti alat-alat rumah tangga, atau bahan bakar kendaraan bermotor dengan bahan yang lebih ramah lingkungan. Pencegahan dapat pula dilakukan dengan kegiatan konservasi, penggunaan energi alternatif, penggunaan alat transportasi alternatif, dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development).

Langkah pengendalian sangat penting untuk menjaga lingkungan tetap bersih dan sehat. Pengendalian dapat berupa pembuatan standar baku mutu lingkungan, monitoring lingkungan dan penggunaan teknologi untuk mengatasi masalah lingkungan. Untuk permasalahan global seperti perubahan iklim, penipisan lapisan ozon, dan pemanasan global diperlukan kerjasama semua pihak antara satu negara dengan negara lain.

B. PENCEMARAN UDARA

Hampir tidak ada kota di dunia ini yang dapat menghindar dari bencana modern pencemaran udara. Bahkan kota-kota yang dulu terkenal dengan udaranya yang murni, tak tercemar misalnya Buenos Aires, Denver, dan Madrid sekarang selalu dikepung oleh udara yang begitu tercemarnya sehingga dapat membunuh dan membuat orang baik yang sehat maupun sakit masuk rumah sakit. Tapi hal itu tak perlu terjadi, karena kota-kota dan bangsa-bangsa di seluruh dunia mulai menerapkan berbagai strategi yang dapat mengatasi masalah pencemaran udara dengan baik. Strategi itu mulai dari larangan parkir dan hari tanpa mengemudi sampai program ketat dan berkekuatan hukum untuk memasang kendali pencemaran yang canggih di pusat-pusat pembangkit tenaga. Hanya sedikit usaha ini yang mencapai keberhasilan sempurna, tetapi banyak juga yang cukup berhasil bahkan begitu berhasilnya sampai terkadang tidak mendapat perhatian.

Setiap waktu kita bernafas, seorang dewasa rata-rata menghirup lebih dari 3.000 gallon (11,4 m3) udara tiap hari. Udara yang kita hirup, jika tercemar oleh bahan berbahaya dan beracun, akan berdampak serius pada kesehatan kita, terutama anak-anak yang lebih banyak bermain di udara terbuka dan lebih rentan daya tahan tubuhnya.

Walaupun tidak terlihat oleh kasat mata, pencemar di udara mengancam kehidupan kita dan mahluk hidup lainnya. Pencemar udara menyebabkan kanker dan dampak kesehatan serius, menyebabkan smog dan hujan asam, mengurangi daya perlindungan lapisan ozon di atmosfer bagian atas, dan berpotensi untuk turut berperan dalam perubahan iklim dunia.

Sebenarnya apa yang mesti kita cermati dari fenomena pencemaran udara?

  • 7 Pencemar Utama
  • Hujan Asam
  • Penipisan Lubang Ozon
  • Perubahan Iklim dan Pemanasan Global
  • Kualitas udara di dalam ruangan (indoor air quality)

B.1. Keberhasilan Yang Tidak Tampak

Di Amerika, misalnya, para pengemudi telah meninggalkan bensin yang mengandung timah penyebab kebanyakan polusi udara bermuatan timah begitu sempurnanya mereka menjauhi bensin itu sehingga sebagian besar pompa bensin tidak lagi menjualnya. Karena timah hampir hilang sebagai zat aditif bensin di Amerika Serikat, maka konsentrasi rata-rata zat ini dalam darah anak-anak menurun hampir setengahnya. Walaupun para pembuat bensin bermuatan timah dan zat aditif timah memperingatkan bahwa harga bahan bakar akan meningkat dan persediaan berkurang, ternyata kedua hal tersebut tidak terjadi. Para pengemudi di Amerika Serikat sekarang hampir tidak merasakan tiadanya zat bahan bakar beracun ini, walaupun mereka tahu zat tersebut pernah ada. Penurunan tingkat konsentrasi timah di atmosfer merupakan “suatu keberhasilan lingkungan terbesar”, kata Michael Walsh, seorang konsultan pemerintah Cina, Swedia, Swis dan negara-negara lain.

Sesungguhnyalah, menghilangnya bensin bermuatan timah telah membantu lahirnya suatu generasi baru bahan bakar berwawasan lingkungan yang lebih bersih lagi di pasaran. Bensin jenis-jenis baru ini telah diformulasi ulang untuk menghilangkan sampai 90% zat benzene dan kandungan yang beracun lainnya, sehingga tingkat pencemaran udara di banyak kota di AS menurun sampai 15 persen dalam kurun waktu satu tahun setelah diberlakukan penjualan yang dianjurkan. Tapi keberhasilan ini tidak terbatas pada program-program penggantian jenis bahan bakar saja.

Di Jepang, teknologi pengurangan polusi seperti “penggosok”cerobong asap yaitu perangkat yang dapat menghilangkan sampai 95% pencemaran gas sulfur dari gas cerobong asap dipasang pada pembangkit tenaga listrik di seluruh negeri. Perangkat ini mengurangi pengeluaran sulfur dioksida suatu polutan yang tercipta ketika terjadi pembakaran bahan bakar yang mengandung sulfur seperti batubara dan minyak sampai hampir 40 persen antara tahun 1974 dan 1983, walaupun pada saat itu terjadi peningkatan ekonomi yang tajam. Di Prancis, emisi sulfur dioksida secara nasional turun sampai kira-kira 75 persen setelah jenis-jenis bahan bakar itu digantikan oleh tenaga nuklir.

Tentu saja tidak semua negara mau menggunakan pembangkit tenaga nuklir, seperti juga banyak negara tidak mau menambahkan pemasangan perangkat pengendali polusi. Apa yang sesuai bagi satu kota atau negara mungkin tidak sesuai bagi yang lain. Walaupun demikian, semakin lama semakin beragam jalan keluar yang tersedia bagi bermacam-macam masalah, yang berhasil baik di bidang-bidang tertentu, walau tidak semua.

B.2. Sumber Pencemaran Udara

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan bahwa 70 persen penduduk kota di dunia pernah sesekali menghirup udara yang tidak sehat, sedangkan 10 persen lain menghirup udara yang bersifat “marjinal”. Tetapi bahkan di AS, yang tingkat pencemaran udaranya cenderung jauh lebih rendah daripada di kota-kota di negara berkembang, studi oleh para peneliti di Universitas Harvard menunjukkan bahwa kematian akibat pencemaran udara berjumlah antara 50.000 dan 100.000 per tahun.

Pencemaran lebih mempengaruhi anak-anak daripada orang dewasa, dan anak-anak miskin yang terpajan pada lebih banyak jenis polutan dan tingkat pencemaran yang lebih tinggi adalah yang paling terpengaruh. Studi telah membuktikan bahwa anak-anak yang tinggal di kota dengan tingkat pencemaran udara lebih tinggi mempunyai paru-paru lebih kecil, lebih sering tidak bersekolah karena sakit, dan lebih sering dirawat di rumah sakit. Rendahnya berat badan anak-anak dan kecilnya organ-organ pertumbuhan mereka memberi risiko yang lebih tinggi pula bagi mereka. Demikian pula kebiasaan mereka; bayi menghisap sembarang benda yang tercemar, anak-anak yang lebih besar bermain-main di jalanan yang dipenuhi asap kendaraan dan buangan hasil pembakaran bermuatan timah.

Pada 1980, misalnya, kota industri Cubatao, Brasilia, melaporkan bahwa sebagai akibat pencemaran udara, 40 dari setiap 1000 bayi yang lahir di kota itu meninggal saat dilahirkan, 40 yang lain kebanyakan cacat, meninggal pada minggu pertama hidupnya. Pada tahun yang sama, dengan 80.000 penduduk,Cubatao mengalami sekitar 10.000 kasus medis darurat yang meliputi TBC, pneumonia, bronkitis, emphysema, asma, dan penyakit-penyakit pernapasan lain.

Di kota metropolitan Athena, Yunani, tingkat kematian melonjak 500 persen di hari-hari yang paling tercemari. Bahkan di daerah-daerah yang jauh dari fasilitas industri, pencemaran udara juga dapat menyebabkan kerusakan. Di daerah-daerah hutan tropis di Afrika, misalnya, para ilmuwan melaporkan adanya tingkat hujan asam dan kabut asap yang sama tingginya dengan di Eropa Tengah, kemungkinan karena pembakaran rutin padang rumput untuk melapangkan tanah.

Contoh-contoh nyata seperti ini telah mempercepat usaha di seluruh dunia untuk mengatasi pencemaran udara perkotaan.

B.3. Bahan Pencemar Udara Khusus

Sejak tahun 1970-an, kebijakan pencemaran udara AS cenderung berpusat pada pengendalian beberapa jenis polutan perkotaan yang serius: partikulat zat yang mengandung partikel (asap dan jelaga), hidrokarbon, sulfur dioksida, nitrogen oksida, ozon (asap kabut fotokimiawi), karbon monoksida dan timah.

  1. Karbon Monoksida.

WHO telah membuktikan bahwa karbon monoksida yang secara rutin mencapai tingkat tak sehat di banyak kota dapat mengakibatkan kecilnya berat badan janin, meningkatnya kematian bayi dan kerusakan otak, bergantung pada lamanya seorang wanita hamil terpajan, dan bergantung pada kekentalan polutan di udara.

Asap kendaraan merupakan sumber hampir seluruh karbon monoksida yang dikeluarkan di banyak daerah perkotaan. Karena itu strategi penurunan kadar karbon monoksida yang berhasil bergantung terutama pada pengendalian emisi otomatis seperti pengubah kalitis, yang mengubah sebagian besar karbon monoksida menjadi karbon dioksida. Kendali semacam itu secara nyata telah menurunkan emisi dan kadar konsentrasi karbon monoksida yang menyelimuti kota-kota di seluruh dunia industri: di Jepang, tingkat kadar karbon monoksida di udara menurun sampai 50 persen antara tahun 1973 dan 1984, sementara di AS tingkat karbon monoksida turun 28 persen antara tahun 1980 dan 1989, walaupun terdapat kenaikan 39 persen untuk jarak kilometer yang ditempuh. Namun kebanyakan dunia negara berkembang mengalami kenaikan tingkat karbon monoksida, seiring dengan pertambahan jumlah kendaraan dan kepadatan lalu lintas. Perkiraan kasar dari WHO menunjukkan bahwa konsentrasi karbon monoksida yang tidak sehat mungkin terdapat pada paling tidak separo kota di dunia.

  1. Nitrogen Oksida.

Nitrogen oksida yang terjadi ketika panas pembakaran menyebabkan bersatunya oksigen dan nitrogen yang terdapat di udara memberikan berbagai ancaman bahaya. Zat nitrogen oksida ini sendiri menyebabkan kerusakan paru-paru. Setelah bereaksi di atmosfer, zat ini membentuk partikel-partikel nitrat amat halus yang menembus bagian terdalam paru-paru. Partikel-partikel nitrat ini pula, jika bergabung dengan air baik air di paru-paru atau uap air di awan akan membentuk asam. Akhirnya zat-zat oksida ini bereaksi dengan asap bensin yang tidak terbakar dan zat-zat hidrokarbon lain di sinar matahari dan membentuk ozon rendah atau “smog” kabut berwarna coklat kemerahan yang menyelimuti sebagian besar kota di dunia.

  1. Sulfur Dioksida.

Emisi sulfur dioksida terutama timbul dari pembakaran bahan bakar fosil yang mengandung sulfur terutama batubara yang digunakan untuk pembangkit tenaga listrik atau pemanasan rumah tangga. Sistem pemantauan lingkungan global yang disponsori PBB memperkirakan bahwa pada 1987 dua pertiga penduduk kota hidup di kota-kota yang konsentrasi sulfur dioksida di udara sekitarnya di atas atau tepat pada ambang batas yang ditetapkan WHO. Gas yang berbau tajam tapi tak bewarna ini dapat menimbulkan serangan asma dan, karena gas ini menetap di udara, bereaksi dan membentuk partikel-partikel halus dan zat asam.

  1. Benda Partikulat.

Zat ini sering disebut sebagai asap atau jelaga; benda-benda partikulat ini sering merupakan pencemar udara yang paling kentara, dan biasanya juga paling berbahaya. Sistem Pemantauan Lingkungan global yang disponsori PBB memperkirakan pada 1987 bahwa 70 persen penduduk kota di dunia hidup di kota-kota dengan partikel yang mengambang di udara melebihi ambang batas yang ditetapkan WHO.

Sebagian benda partikulat keluar dari cerobong pabrik sebagai asap hitam tebal, tetapi yang paling berbahaya adalah “partikel-partikel halus” butiran-butiran yang begitu kecil sehingga dapat menembus bagian terdalam paru-paru. Sebagian besar partikel halus ini terbentuk dengan polutan lain, terutama sulfur dioksida dan oksida nitrogen, dan secara kimiawi berubah dan membentuk zat-zat nitrat dan sulfat. Di beberapa kota, sampai separo jumlah benda partikulat yang disebabkan ulah manusia terbentuk dari perubahan sulfur dioksida menjadi partikel sulfat di atmosfer. Di kota-kota lain, zat-zat nitrat yang terbentuk dari proses yang sama dari oksida-oksida nitrogen dapat membentuk sepertiga atau lebih benda partikulat.

B.4. REVOLUSI PENGENDALIAN EMISI

Dua pulah tahun yang lalu alat konversi berkatalis belum ada di pasaran. Bahkan saat pertama kali para pemimpin di A.S. mengusulkan standar emisi yang menyebabkan kemajuan mereka, president General Motor, pembnat kendaraan bermotor terbesar di dunia, berkata, “Sepanjang pengetahuan kami, tujuan ini secara teknologis tidak bakal tercapai.” Namun sejak akhir tahun 1980-an, boleh dikata setiap sedan, mobil wagon, pikup, dan trak baru yang terjual di A.S. dilengkapi dengan alat konversi berkatalis, sehingga pengurangan emisi senyawa-senyawa organik dan karbon monoksida yang mudah menguap sampai 85 persen, dan oksida nitrogen sampai 60 persen dari umur mobil menjadi mungkin.

Pemakaian secara luas pengendalian emisi yang canggih itu untuk mobil dan truk pada 1980-an dimulai oleh Amerika Serikat dan Jepang sendiri sebagai dua negara yang mempunyai program pengendalian polusi paling maju untuk mobil. Namun pada 1993, terjadi pembalikan 180 derajat; setiap kelompok besar negara (meskipun tidak setiap negara dalam kelompok itu) telah menerapkan pengendalian atas knalpot termasuk beberapa negara bekas UniSoviet.

Perkembangan pesat alat pengendali model A.S. dimulai di Eropa Barat ketika Jerman, Swis, Austria dan Swedia cemas melihat meningkatnya kerusakan lingkungan akibat polusi udara. Jerman mulai mengusulkan diterapkannya standar yang lebih ketat di Pasar Bersama Eropa, sedang ketiga negara lainnya—semua bukan anggota Masyarakat Ekonomi Eropa—menegaskan bahwa mereka akan secara sepihak menetapkan pengendalian polusi dengan katalis. Gabungan tekanan dari dalam dan luar negeri memuncak pada suatu keputusan tahun 1989 yang mewajibkan pemakaian standar A.S. pada semua mobil di Pasar Bersama, dimulai dengan mobil model tahun 1992.

Perubahan ini tidak terjadi begitu saja, karena pada 1988 jumlah mobil di selurah dunia pertama kali melampaui 400 juta dalam sejarah. Sementara pertumbuhan terjadi paling pesat di berbagai kawasan Asia yang mulai berindustrializasi, target penjualan mobil baru juga sudah ditetaplan, bahkan di kawasan yang sudah sangat maju seperti Eropa Barat. Termasuk kendaraan niaga, jumlah kendaraan di jalan-jalan mencapai 500 juta pada 1989—peningkatan sepuluh kali lipat sejak 1950.

Tampaknya tidak ada tanda-tanda akan berakhirnya pertumbuhan luar biasa pada jumlah sedan dan truk. Penduduk dunia diperkirakan akan berlipat dua pada tahun 2000 dibandingkan tahun 1960, didorong oleh peningkatan lipat dua di Asia dan 150 persen di Amerika Latin.

Sementara polusi udara makin merajalela di kota-kota besar negara berkembang, negara seperti Meksiko, Brasil dan Taiwan sudah meneraphan pengendali polusi berkatalis. Maka pada akhir dasawarsa ini, negara-negara di seluruh dunia sudah akan menerapkannya pula: Jepang, Taiwan dan Korea Selatan di Asia; Brasil di Amerika Selatan; dan negara-negara Pasar Bersama plus Austria, Swedia, Swis di Eropa Barat. Sekarang, empat dari setiap lima mobil baru memenahi standar berdasarkan katalis modern atau sejenisnya.

Sementara itu, di California, setelah dengar pendapat berlarut-larut, pemerintah negara bagian pada 1991 menetaplan suatu persyaratan penjualan “Kendaraan Beremisi Nol ” (ZEV) dimulai dengan model tahun 1989.

ZEV sekedar suatu bagian dari suatu matriks rumit standar-standar yang makin ketat yang akan diterapkan secara bertahap. ZEV pertama harus sudah beredar di jalan pada 1998, yang jumlahnya harus mencapai 2 persen dari penjualan mobil baru, meningkat menjadi 10 persen pada tahun 2003. Gerakan untuk mencegah polusi dari mesin diesel, yang tanpa pengendali emisi akan memancarkan 30 sampai 70 kali benda partikulat dibanding mesin bensin yang dilengkapi alat konversi berkatalis, juga sudah mulai mendapat momentum.

Sampai belakangan ini, mesin diesel boleh dikata tidak diatur di seluruh dunia, tapi standar baru yang dipakai di A.S. dan Eropa telah merangsang perkembangan teknologi yang menjanjikan peningkatan perbaikan emisi diesel secara besar-besaran. Perangkap, atau alat untuk menangkap jelaga diesel untuk dihancurkan, telah dikembangkan, begitu juga alat konversi berkatalis yang sudah dimodifikasi secara khusus. Di Jepang, pemerintah tengah mengatur bahan bakar serta mesin, menerapkan apa yang selama ini digambarkan sebagai persyaratan mutu bahan bakar terketat di dunia.

Hanya standar yang makin ketat saja yang memungkinkan polusi mobil dapat dikendalikan karena jumlah kendaraan di jalan-jalan—dan paling penting panjang jarak yang ditempah—meningkat pesat. Bagaimana nantinya masih belum jelas. Tak pelak emisi knalpot harus mulai mendekati nol atau pertumbuhan harus dikendalikan, atau kedua-keduanya, jika kota-kota besar ingin mempunyai udara yang sehat untuk dihirup.

  1. Hidrokarbon

Zat ini kadang-kadang disebut sebagai senyawa organik yang mudah menguap (“volatile organic compounds/VOC”), dan juga sebagai gas organic reaktif (“reactive organic gases/ROG”). Hidrokarbon merupakan uap bensin yang tidak terbakar dan produk samping dari pembakaran tak sempurna. Jenis-jenis hidrokarbon lain, yang sebagian menyebabkan leukemia, kanker, atau penyakit-penyakit serius lain, berbentuk cairan untuk cuci-kering pakaian sampai zat penghilang lemak untuk industri.

B.5. Laju Pelaksanaan untuk Kendaraan Beremisi Nol atau Mendekati Nol (TLEV, LEV, ULEV dan ZEV)

Bagan di bawah menunjukkan laju yang harus diterapkan pabrik mobil dalam memulai penjualan kendaraan baru yang kurang berpolusi sebagaimana disyaratkan oleh California dengan menggunakan emisi hidrokarbon sebagai contoh. Misalnya, pada 1998; 48 persen penjualan mobil baru harus memenuhi suatu batas emisi sebesar 0,25 gram per kilometer; 48 persen lagi harus memenuhi standar kendaraan beremisi rendah (LEV) setinggi 0,075 gram per kilometer; 2 persen harus memenuhi standar kendaraan beremisi ultra rendah (ULEV) setinggi 0,040; dan 2 persen lagi harus berupa kendaraan beremisi nol (ZEV). Rata-rata bagi semua mobil adalah 0,115 gram per kilometer.

Model
Tahun

0,39

0,25

TLEV
0,125

LEV
0,075

ULEV
0,040

ZEV
0,00

Standar
Rata-Rata
Mobil

1994

10%

80%

10%

0,250

1995

85%

15%

0,231

1996

89%

20%

0,225

1997

73%

2%

25%

0,202

1998

48%

2%

48%

2%

0,157

1999

23%

2%

73%

2%

0,113

2000

2%

96%

2%

0,073

2001

5%

90%

5%

0,070

2002

10%

85%

5%

0,068

2003

15%

75%

10%

0,062

  1. Ozon atau Asap Kabut Fotokimiawi.

Ozon, terdiri dari beratus-ratus zat kimiawi yang terdapat dalam asap kabut, terbentuk ketika hidrokarbon pekat di perkotaan bereaksi dengan oksida nitrogen. Tetapi, karena salah satu zat kimiawi itu, yaitu ozon, adalah yang paling dominan, pemerintah menggunakannya sebagai tolok ukur untuk menetapkan konsentrasi oksidan secara umum. Ozon merupakan zat oksidan yang begitu kuat (selain klor) sehingga beberapa kota menggunakannya sebagai disinfektan pasokan air minum. Banyak ilmuwan menganggapnya sebagai polutan udara yang paling beracun; begitu berbahayanya sehingga pada eksperimen laboratorium untuk menguji dampak ozon, satu dari setiap sepuluh sukarelawan harus dipindahkan dari bilik pajanan yang digunakan dalam eksperimen itu karena gangguan pernapasan. Pada hewan percobaan laboratorium, ozon menyebabkan luka dan kerusakan sel yang mirip dengan yang diderita para perokok. Karena emisi oksida nitrogen dan hidrokarbon semakin meningkat, tingkat ozon bahkan di pedesaan telah berlipat dua, dan kini mendekati tingkat membahayakan bagi banyak spesies.

  1. Timah.

Logam berwarna kelabu keperakan yang amat beracun dalam setiap bentuknya ini merupakan ancaman yang amat berbahaya bagi anak di bawah usia 6 tahun, yang biasanya mereka telan dalam bentuk serpihan cat pada dinding rumah. Logam berat ini merusak kecerdasan, menghambat pertumbuhan, mengurangi kemampuan untuk mendengar dan memahami bahasa, dan menghilangkan konsentrasi. Bahkan pajanan dengan tingkat yang amat rendah sekalipun tampaknya selalu diasosiasikan dengan rendahnya kecerdasan. Karena sumber utama timah adalah asap kendaraan berbahan bakar bensin yang mengandung timah, maka polutan ini dapat ditemui di mana ada mobil, truk, dan bus. Bahkan di negara-negara yang telah berhasil menghapuskan penggunaan bensin yang mengandung timah, debu di udara tetap tercemar karena penggunaan bahan bakar ini selama puluhan tahun. Di Kota Meksiko City, misalnya, tujuh dari 10 bayi yang baru lahir memiliki kadar timah dalam darah lebih tinggi daripada standar yang diizinkan WHO.

Di samping timah, banyak sekali zat beracun lain menambah beban kandungan polutan di daerah perkotaan. Zat-zat ini mulai dari asbes dan logam berat (seperti kadmium, arsenik, mangan, nikel dan zink) sampai bermacam-macam senyawa organik (seperti benzene dan hidrokarbon lain dan aldehida). Perusahaan-perusahaan di AS mengeluarkan sedikitnya 1,2 juta metrik ton zat beracun ke udara pada tahun 1987. Badan Perlindungan Lingkungan AS memperkirakan bahwa pajanan terhadap polutan-polutan tersebut mengakibatkan antara 1.700 sampai 2.700 jenis kanker per tahun.

C. PENCEMARAN TANAH

C.1. Jenis Pencemaran Tanah

Sebagaimana udara dan air, tanah merupakan komponen penting dalam hidup kita. Tanah berperan penting dalam pertumbuhan mahluk hidup, memelihara ekosistem, dan memelihara siklus air. Kasus pencemaran tanah terutama disebabkan oleh pembuangan sampah yang tidak memenuhi syarat (ilegal dumping), kebocoran limbah cair dari industri atau fasilitas komersial, atau kecelakaan kendaraaan pengangkut minyak, zat kimia, atau limbah, yang kemudian tumpah ke permukaan tanah. 

Ketika suatu zat berbahaya/beracun telah mencemari permukaan tanah, maka ia dapat menguap, tersapu air hujan dan atau masuk ke dalam tanah. Pencemaran yang masuk ke dalam tanah kemudian terendap sebagai zat kimia beracun di tanah. Zat beracun di tanah tersebut dapat berdampak langsung kepada manusia ketika bersentuhan atau dapat mencemari air tanah dan udara di atasnya

C.2. Remediasi

Kegiatan untuk membersihkan permukaan tanah dikenal dengan remediasi. Sebelum melakukan remediasi, hal yang perlu diketahui:

  1. Jenis pencemar (organic atau anorganik), terdegradasi/tidak, berbahaya/tidak,
  2. Berapa banyak zat pencemar yang telah mencemari tanah tersebut,
  3. Perbandingan karbon (C), nitrogen (N), dan Fosfat (P),
  4. Jenis tanah,
  5. Kondisi tanah (basah, kering),
  6. Telah berapa lama zat pencemar terendapkan di lokasi tersebut,
  7. Kondisi pencemaran (sangat penting untuk dibersihkan segera/bisa ditunda).

Remediasi On-site dan Off-site

Ada dua jenis remediasi tanah, yaitu in-situ (atau on-site) dan ex-situ (atau off-site). Pembersihan on-site adalah pembersihan di lokasi. P embersihan ini lebih murah dan lebih mudah, terdiri dari pembersihan, venting (injeksi), dan bioremediasi.

Pembersihan off-site meliputi penggalian tanah yang tercemar dan kemudian dibawa ke daerah yang aman. Setelah itu di daerah aman, tanah tersebut dibersihkan dari zat pencemar. Caranya yaitu, tanah tersebut disimpan di bak/tanki yang kedap, kemudian zat pembersih dipompakan ke bak/tangki tersebut. Selanjutnya zat pencemar dipompakan keluar dari bak yang kemudian diolah dengan instalasi pengolah air limbah. Pembersihan off-site ini jauh lebih mahal dan rumit.

C.3. Bioremediasi

Bioremediasi adalah proses pembersihan pencemaran tanah dengan menggunakan mikroorganisme (jamur, bakteri). Bioremediasi bertujuan untuk memecah atau mendegradasi zat pencemar menjadi bahan yang kurang beracun atau tidak beracun (karbon dioksida dan air).

Ada 4 teknik dasar yang biasa digunakan dalam bioremediasi :

  1. stimulasi aktivitas mikroorganisme asli (di lokasi tercemar) dengan penambahan nutrien, pengaturan kondisi redoks, optimasi pH, dsb
  2. inokulasi (penanaman) mikroorganisme di lokasi tercemar, yaitu mikroorganisme yang memiliki kemampuan biotransformasi khusus
  3. penerapan immobilized enzymes
  4. penggunaan tanaman (phytoremediation) untuk menghilangkan atau mengubah pencemar.

Proses bioremediasi harus memperhatikan temperatur tanah, ketersediaan air, nutrien (N, P, K), perbandingan C : N kurang dari 30:1, dan ketersediaan oksigen.

D. PENCEMARAN AIR

Pencemaran air berlaku apabila perubahan berlaku dari segi kandungan, keadaan dan warna sehingga tidak sesuai dan memberi kesan apabila digunakan. Pencemaran berlaku sama ada dari segi  biologi, kimia dan fizik. Pencemaran air bukan hannya berlaku di sungai tetapi juga di laut dan ianya boleh berlaku secara sengaja atau tidak. Pencemaran ini lebih kepada bahan pencemar dari kilang.

Puncak Pencemaran

  • Kumuhan kilang; kebanyakan kumuhan kilang seperti  sisa toksid dibuang ke sungai atau laut.
  • Sikap individu; pembuangan bahan-bahan buangan seperti sampah, minyak dan najis.
  • Aktivitas Pertanian; penerokaan tanah untuk dijadikan kawasan pertanian menyebabkan hakisan tanah yang seterusnya  mengakibatkan mendekan berlaku. Mendekan in akan mencetekkan sungai dan menjadikan air sungai menjadi keruh.

Kesan Pencemaran

  • Kesihatan manusia – bakteria. virus, parasit dan bahan kimia yang lain.
  • Haiwan – Hidupan air seperti ikan, siput, udang atau ketam akan mati dengan tumpahan minyak, pembuangan sampah dan sisa toksid.

D.1. Penyebab Pencemaran air

Seperti yang berlaku pada pencemaran udara, pencemaran air pula melibatkan pembuangan bahan-bahan toksik dan beracun ke dalam sistem pangairan. Biasanya pembuangan bahan-bahan kimia oleh pihak kilang seperti kilang getah dan kelapa sawit dan sebagainya pula mengakibatkan pencemaran air. Air yang tercemar ini mengganggu hidupan akuatik seperti ikan,kerang,udang dan lain-lain mati apabila memakan bahan beracun dari kilang ini.Jika ikan-ikan ini ditangkap dan dimakan oleh manusia,tentulah ia membawa kesan yang buruk kepada kita juga. Penggunaan air laut terutamanya sebagai agen penyejuk bagi mesin di dalam sektor “power plant”. Air yang panas selepas digunakan untuk menyejukkan mesin di “power plant” ini akan disalurkan semula ke laut. Jadi kawasan saliran laut itu akan panas dan mengakibatkan hidupan di kawasan itu sukar beradaptasi kerana suhu airnya meningkat secara mendadak. Efluen yang dihasilkan oleh industri terutamanya industri pemprosesan makanan biasanya kaya dengan nutrien inorganik seperti N,P dan K disamping sebatian2 organik terlarut. Oleh itu, nutrien ini menyebabkan hazard pencemaran dilupuskan secara tidak patut dalam sungai ataupun di dalam tasik. Pengayaan berlebihan sungai dan tasik oleh nutrien itu akan menyebabkan eutrofikasi. Sebatian organik terlarut mengurangkan jumlah kandungan oksigen terlarut (BOD). Sesetengah kilang akan memperuntukkan kawasan untuk pembuangan sisa-sisa kilang, masalahnya apabila berlaku hujan lebat atau loji pecah, sisa-sisa ini akan terkeluar lalu menyebabkan 2 permasalahan iaitu pertama seandainya sisa ini mengalir di permukaan ia akan masuk ke dalam sistem saliran terutamanya sungai dan sekiranya masuk ke dalam sistem air bawah tanah ia akan mencemarkan air bawah tanah terutamana sistem akuifer. Yang mana kedua2nya ini akan merosakkan dan mencemarkan hidupan dan air itu sendiri.

  • air merupakan kebutuhan mutlak yang dibutuhkan oleh semua makhluk hidup
  • faktor yang mempengaruhi kualiti air
    • oksigen terlarut (DO = dissolved oksigen)
    • Keperluan Oksigen Biokimia (BOD)
    • zat padat terlarut
    • pH
    • suhu
  • pencemaran fisika
    • ditentukan oleh perubahan warna, suhu, kekeruhan
    • disebabkan oleh senyawa basa,, sampah dan daun-daun yang merupakan polutan terapung maupun polutan tersuspensi seperti tanah, kotoran manusia dan hewan
  • pencemaran kimiawi
    • disebabkan oleh zat organik termasuk protein, karbohidrat dan lemak
    • disebabkan oleh senyawa organoklor pada insektisida, fungisida dan herbisida
    • disebabkan oleh buangan industri yang mengandung garam beracun dan tumpahan minyak di laut
  • pencemaran fisiologis
    • bau dan rasa tidak enak
    • disebabkan senyawa amina, fluol dan merkaptan
  • pencemaran biologi
    • disebabkan oleh bakteri patogen, virus, protozoa, parasit dan zat toksin

D.2. Zat Adiktif Makanan

  • zat warna
    • alami : daun suji, kunyit
    • sintetis : kadang bersifat karsinogen
  • zat pengawet
    • gula atau garam
    • untuk makanan kaleng: Na-benzoat, sendawa asam sulfat
    • sebagai anti oksidan : BHA (butil hidoksi anisol), BHT (butil hidroksil toluen)
  • zat penyedap rasa
    • monosodium glutamat
    • pemanis : sakarin, dulsin, siklamat (karsinogen)
    • essens : amil valerat, etil butirat, amil asetat

E. ZAT POLUTAN

AWAS GAS BERACUN DALAM MOBIL!

Berada di dalam mobil ternyata tak menjamin bebas polutan. Bahkan, kadar pencemar udara di dalam mobil sering kali lebih pekat ketimbang di udara bebas. Untunglah, dengan sedikit upaya, polutan itu bisa ditangkal.

Di kota yang panas dan penuh dengan polutan macam Jakarta atau Surabaya, memang nyaman kalau bermobil yang dilengkapi dengan AC. Biar pun suhu udara luar mobil sangat menyengat, di kabin mobil terasa sejuk. Bisingnya suara kendaraan lain juga sedikit teredam karena semua bagian mobil tertutup rapat.

Namun, siapa sangka kondisi nyaman di dalam mobil itu ternyata bisa membawa maut. Apabila ada sedikit saja bagian yang tak tertutup rapat, berbagai polutan udara bisa saja masuk tanpa terasakan. Dampaknya pun bisa lebih buruk dibandingkan dengan dampak polutan yang melayang-layang di udara terbuka.

E.1. Asap Knalpot, dan Rokok

Menurut Tollison, dalam bukunya Clearing the Air. Perspectives on Environment Tobacco Smoke, polusi yang terjadi dalam kabin mobil tadi digolongkan dalam pencemaran udara dalam ruangan. Sementara, bila polusi terjadi di tempat yang tidak dibatasi oleh sekat dengan udara bebas dikelompokkan dalam pencemaran udara bebas atau luar. Dari keduanya, polusi di dalam ruangan menjadi pusat perhatian, lantaran 80% aktivitas manusia modern dilakukan di dalam ruangan.

Berada dalam mobil ber-AC umpamanya, ternyata tak menjamin kita akan terbebas dari polutan. Penutupan semua jendela rapat-rapat tak mampu benar-benar mengalangi pertukaran udara beserta segala zat penyusunnya, termasuk zat-zat polutan, ke dan dari dalam kabin mobil. Hasil penelitian Auto Week (1996) menunjukkan, orang yang berada dalam kabin mobil sesungguhnya mengirup lebih banyak polutan daripada orang yang berada di luar. Pendapat umum yang menyatakan orang di luar mobil macam pejalan kaki atau pengendara sepeda motor terpapar lebih banyak polutan tidaklah tepat. Mereka justru lebih sedikit mengisap polutan karena efek pengenceran udara bersih. Polutan di udara bebas cepat terembus angin sehingga tidak terkumpul di suatu tempat dan konsentrasinya tidak pekat. Berbeda dengan yang dialami penumpang mobil tertutup. Polutan dalam mobil terkumpul sehingga kadarnya relatif tinggi lantaran minimnya udara bersih pengencer.

Polutan yang banyak ditemukan mencemari udara tadi di antaranya karbon monooksida (CO), hidrokarbon (HC), nitrogen oksida NOx, dan partikel-partikel debu atau jelaga. Namun, di antara polutan tersebut, CO-lah yang memberikan efek buruk cukup instan dan paling tidak dikehendaki kehadirannya pada kadar tinggi di dalam kabin mobil. Senyawa ini sangat beracun, tak berbau, tak berwarna, dan tak berasa, serta hanya bisa dinetralisasikan dengan oksigen. Senyawa CO dapat bereaksi dengan haemoglobin (Hb) darah membentuk karboksihaemoglobin (Hb-CO) yang tak bisa mengangkut oksigen dalam sirkulasi darah. Celakanya kemampuan CO dalam mengikat Hb ternyata 210 kali lebih kuat ketimbang Oksigen (O2), sehingga oksigen akan kalah bersaing. Seseorang yang teracuni gas CO akan mengalami gejala sakit kepala, gangguan mental (mental dullness), pusing, lemah, mual, muntah, kehilangan kontrol otot, diikuti dengan penurunan denyut nadi dan frekuensi pernapasan, pingsan, dan meninggal. Kasus pingsan atau bahkan meninggal akan terjadi bila kadar Hb-CO dalam darah sudah mencapai 60% dari total Hb darah atau lebih.

Di dalam mobil, sumber utama CO adalah asap knalpot dan rokok. Para ahli, termasuk Henrie Hemmink dari Auto Week (1994), menyatakan, sejumlah CO mau tak mau akan menerobos masuk ke dalam kabin mobil dari luar. Di kota besar, 9 – 14 ppm (part per million/bagian per juta) CO terdeteksi dalam kabin mobil yang sedang melaju. Sebagai pembanding, baku mutu udara ambien RI adalah 20 ppm CO/8 jam. Artinya asap knalpot sudah menyumbang sekitar setengah batas kadar CO yang diperbolehkan.

Keadaan lebih parah lagi bila pengemudi atau penumpang merokok dalam mobil. Sebab, pada asap rokok selain terkandung ter, nikotin, dan CO2, juga berisi CO. Hasil penelitian menunjukkan, kadar Hb-CO dalam darah perokok mencapai 4 – 5% total Hb dan perokok berat bisa mencapai 10%. Bandingkan dengan kadar Hb-CO dalam darah penduduk kota besar “cuma” 1 – 2%.

Tak cuma itu, menurut Dr. Edwin Chow, ahli keselamatan lalu lintas Malaysia dalam Asiaweek (1994), pengemudi yang merokok akan kehilangan 50% konsentrasi berkendara, mengawang entah ke mana. Sisanya masih tetap pada jalan raya. Padahal, demi keselamatan tiap pengemudi dituntut konsentrasi penuh ke jalan raya. Selain itu CO asap rokok bisa pula menyebabkan kelelahan berlebih pada pengemudi. Asap rokok yang tak cepat terbuang ke luar pun akan menghalangi pandangan mata pengemudi, indera terpenting dalam berkendaraan. Bila sudah sangat pekat juga bisa memedihkan mata.

 E.2. Meng-“hijau”kan Kabin Mobil

Mengingat dampak buruk yang ditimbulkan oleh kebiasaan merokok di dalam mobil, terutama yang dilakukan pengemudi, sudah selayaknya merokok di dalam mobil tidak dianjurkan. Bahkan, di Amerika Serikat seorang pengemudi bisa didenda AS $ 250 jika tertangkap basah mengemudi sambil merokok.

Untuk menghilangkan atau minimal mengurangi dampak yang diakibatkan oleh polutan dalam kabin mobil, terutama CO, ada beberapa langkah yang bisa ditempuh. Upaya itu di antaranya:

  1. Mengurangi produksi CO dalam kabin mobil dengan tidak merokok saat berada dalam perjalanan di dalam mobil. Jurus ini efektif untuk meredam 60% kadar CO.
  2. Merawat mobil dengan lebih teliti agar serbuan CO dari luar mobil bisa ditangkal. Bagian lantai dan kolong mobil perlu selalu diperhatikan. Manakala ditemukan lubang sekecil apa pun, perlu segera dilas. Karet pintu dan jendela juga perlu diperiksa. Bila rusak atau bocor, perlu segera diganti. Yang tak kalah pentingnya, pemeriksaan terhadap knalpot. Jika ada kebocoran, hendaknya mobil segera dibawa ke bengkel knalpot.
  3. Mengontrol secara rutin stelan mesin. Perbandingan yang tidak tepat antara bahan bakar dan udara bisa mengakibatkan pembakarannya menjadi tidak sempurna dan produksi polutannya berlebih.

Nah, kalau saja setiap pemilik mobil melakukan upaya di atas, niscaya polutan tak akan masuk ke dalam kabin mobil. Paling tidak, jumlah polutan yang masuk bisa ditekan seminimal mungkin. (Ir. Doan Syahreza Auditya)

 Pengolah Limbah Bergerak Solusi Permasalahan Limbah Cair

MARAKNYA berbagai kegiatan industri di Indonesia mengakibatkan persoalan lingkungan yang semakin kompleks. Limbah organik berbahaya dan mikroorganisme patogenik yang berasal dari aktivitas industri, domestik, dan rumah sakit merupakan faktor terbesar dalam kerusakan lingkungan, khususnya pada pencemaran air di Indonesia.

Berbagai pihak telah lama menyadari permasalahan ini, termasuk pihak industri. Akan tetapi sampai saat ini belum ditemukan sebuah solusi alternatif dan definitif yang bisa diterima semua pihak. Regulasi lingkungan yang dibuat pemerintah semakin menunjukkan keberpihakannya pada kebersihan lingkungan. Sayangnya, tetap saja banyak industri yang tidak mau berinvestasi pada instalasi pengelolaan air limbah (IPAL). Sikap ini terjadi disebabkan beberapa faktor, di antaranya lemahnya moral para penegak hukum dan aparat birokrasi dalam implementasi regulasi.

Lantas biaya investasi dan operasional IPAL mahal. Hal ini dapat disebabkan teknologi pengolahan limbah umumnya masih konvensional, memerlukan area IPAL yang luas, serta operasional dan perawatan instalasi yang rumit dan kompleks, lemahnya kesadaran sebagian besar masyarakat tentang bahaya laten limbah, serta lemahnya pemahaman mereka terhadap hukum khususnya yang berkaitan dengan kejahatan lingkungan.

Akan tetapi dari semua faktor di atas yang paling banyak dijadikan dalih pihak industri yang tidak mau mengelola limbahnya dengan benar adalah faktor finansial. Hal itu menyangkut biaya instalasi dan operasional IPAL yang dirasakan sangat mahal. Permasalahan finansial inilah sebagai penyebabkan lebih dari 70% industri dan rumah sakit tidak memiliki IPAL.

Maka untuk mengatasi persoalan itu diperlukan sebuah terobosan teknologi yang harus memiliki kriteria teknologi pengolahan limbah yang maju, biaya investasi dan operasional murah, tidak memerlukan area IPAL yang luas, operasional dan perawatan mudah dan sederhana, serta teknologi ini harus menyerap tenaga kerja.

E.3. Konsep baru

Untuk menjawab permasalahan-permasalahan tersebut, artikel ini membahas sebuah konsep terbaru pengelolaan limbah yang memiliki semua kriteria di atas, yaitu berupa IPAL Bergerak (mobile wastewater treatment system). Konsep ini memang pertama kali diperkenalkan di Indonesia dan mungkin juga di dunia. Teknologi ini segera mendapat hak paten.

IPAL bergerak ini didasarkan pada teknologi oksidasi, yaitu penggabungan antara ozonisasi dan sinar ultraviolet. IPAL bergerak ini dinamakan juga Oksida.

Oksida ini dirancang agar memiliki sistem pengelolaan limbah yang sangat kompak dan fleksibel, sehingga dapat dioperasikan di atas mobil bak terbuka. Dengan menggunakan Oksida ini sebuah pabrik tidak lagi memerlukan area yang luas untuk instalasi. Bahkan, dengan adanya Oksida ini, industri kecil dan menengah, rumah sakit, dan domestik tidak perlu lagi membuat IPAL sendiri. Jadi, tidak ada alasan bagi industri untuk tidak mengolah limbahnya. Ia hanya perlu menyediakan bak penampungan limbah sementara untuk kemudian, setelah jangka waktu tertentu, diolah dengan menggunakan Oksida.

Kalau dianalogikan secara sederhana, mobilitas Oksida ini, persis seperti armada penyedot WC yang datang ke rumah-rumah. Bedanya adalah kalau armada penyedot WC membawa limbahnya, sedang IPAL bergerak ini mengolah limbah di tempat sampai bersih, bahkan airnya dapat dipakai kembali.

E.4. Teknologi Proses Produksi

Untuk mengolah limbah cair hingga siap untuk dibuang, secara garis besar proses pengolahannya adalah seperti yang ditunjukkan pada gambar. Limbah cair yang berasal dari kegiatan rumah sakit atau industri manufaktur dikumpulkan pada kolam ekualisasi lalu dipompakan ke tangki reaktor untuk dicampurkan dengan gas ozon.

Gas ozon yang masuk ke tangki reaktor kemudian bereaksi dengan sinar ultraviolet dari lampu ultraviolet yang dipasang pada pusat tangki reaktor. Reaksi itu menghasilkan beberapa senyawa aktif seperti hydroxyl radical untuk kemudian mengoksidasi senyawa organik dan membunuh bakteri patogen yang terkandung dalam limbah cair.

Limbah cair yang sudah teroksidasi dialirkan ke dalam tangki koagulasi untuk dicampurkan koagulan, kemudian melalui proses sedimentasi pada tangki selanjutnya. Pada proses ini pollutan mikro, logam berat dan lain-lain sisa hasil proses oksidasi dalam tangki reaktor dapat diendapkan.

Selanjutnya dilakukan proses penyaringan pada tangki filtrasi. Pada tangki ini terjadi proses adsorpsi, yaitu proses penyerapan zat-zat polutan yang terlewatkan pada proses koagulasi. Zat-zat polutan akan dihilangkan permukaan karbon aktif. Apabila seluruh permukaan karbon aktif ini sudah jenuh, atau tidak mampu lagi menyerap maka proses penyerapan akan berhenti, dan pada saat ini karbon aktif harus diganti dengan karbon aktif baru atau didaur ulang dengan cara dicuci. Air yang keluar dari filter karbon aktif untuk selanjutnya dapat dibuang ke sungai dengan aman.

limbah cair ini didesain berdasarkan kebutuhan akan limbah cair yang dihasilkan dari rumah sakit dan Puskesmas. Perbedaan dari unit pengolah limbah cair bergerak dan alur pengolah limbah cair stasioner adalah kolam ekualisasi.

E.5. Aspek Sosial Ekonomi

Dari segi sosial, IPAL Bergerak ini diharapkan akan membangkitkan kesadaran di kalangan rumah sakit dan puskesmas akan pentingkan pemanfaatan jasa unit pengolah limbah bergerak. Di pihak lain, dengan adanya IPAL bergerak ini dapat pula membangkitkan kesadaran baru dikalangan masyarakat luas, yang dewasa ini sangat lemah, akan pentingnya kepedulian pemeliharaan lingkungan hidup. Keuntungan sosial lainnya dengan adanya IPAL bergerak ini adalah akan dapat mengurangi pengangguran yang dewasa ini meningkat di masyarakat Indonesia dengan memberdayakan para lulusan SMK diharapakan dapat memberikan lapangan kerja baru.

Sedangkan dari sudut ekonomi, permasalahan limbah, yang kemudian telah menjadi permasalah sosial dan seolah-olah sulit ditemukan solusinya itu, ternyata bisa menjadi peluang usaha yang sangat besar. Memang harus diakui, hingga saat ini teknologi pengolahan limbah cair yang ada di Indonesia kurang dapat menyelesaikan permasalahan limbah yang ada.

Lebih daripada itu unit pengolahan limbah stasionari (tidak bergerak) memerlukan biaya investasi dan operasional yang mahal sehingga permasalahan limbah sampai saat ini banyak diabaikan termasuk kalangan rumah sakit dan industri. Dengan diciptakan teknolig IPAL Bergerak ini dimaksudkan untuk meningkatkan produktivitas semua industri menengah dan kecil, rumah sakit, puskesmas, dan mungkin juga limbah domestik dimana proses daur ulang air limbah akan sangat membantu mengurangi beban perusahaan dalam mengonsumsi air bersih.

Teknologi IPAL Bergerak merupakan sebuah penemuan baru di Indonesia. Akan tetapi teknologi ini sudah mapan (proven technology).Dengan diciptakannya teknologi IPAL Bergerak ini, selain dapat menyelesaikan permasalahan limbah cair yang dihasilkan dari kegiatan rumah sakit, puskesmas dan industri menengah kecil juga sekaligus dapat mendaur ulang air limbah tersebut menjadi air baku/bersih yang dapat dipergunakan kembali untuk berbagai kegiatan industri.

Untuk itu pengolah limbah cair bergerak akan sangat membantu berbagai kalangan pelaku industri tidak hanya di rumah sakit dan puskesmas, juga industri kecil dan menengah.

F. PENCEGAHAN PENCEMARAN

F.1. Pemprov DKI Utamakan Pencegahan Pencemaran Lingkungan di Ibukota

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta akan lebih memusatkan perhatian pada pencegahan pencemaran udara dan limbah industri dan air. “Pemprov akan lebih mengarahkan perhatian pada pencegahan pencemaran udara, limbah industri dan air karena tingkat pencemaran di ibukota sudah cukup tinggi,” kata Wakil Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo dalam acara penandatanganan surat pernyataan Kali Bersih dengan 19 perusahaan di Jakarta, Rabu. Ia menambahkan program penandatanganan surat pernyataan tersebut yang merupakan kerjasama dengan Departemen Lingkungan Hidup merupakan sebuah langkah yang baik dan merupakan suatu bentuk pencegahan pencemaran secara nasional. “Meski demikian masalah utama yang dihadapi untuk pencegahan pencemaran tersebut saat ini adalah keterbatasan dana. Oleh karena itu maka diperlukan kerjasama dengan semua pihak, termasuk perusahaan,” katanya.

Sementara itu Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran Lingkungan Kementrian Lingkungan Hidup, Muhammad Gempur Adnan, dalam kesempatan itu yang mewakili Menneg LH menyatakan bahwa program ini dan 19 perusahaan yang mengikutinya merupakan contoh yang baik dan perlu diikuti oleh perusahaan yang lainnya.

Ia juga menyatakan bahwa sesuai dengan Undang-undang nomor 23 tahun 1997 tentang lingkungan hidup, setiap usaha atau industri harus turut serta dalam pencegahan pencemaran, termasuk melakukan pengolahan limbah dengan baik.

“Program ini juga selain untuk menurunkan beban polusi udara, juga untuk menurunkan beban gas buang dan pengelolaan limbah industri,” katanya. Program surat pernyataan Kali Bersih dilakukan di 9 provinsi, antara lain DKI Jakarta, Banten, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Riau, Kepulauan Riau, Sulawesi Selatan dan Sumatera Utara.

Menurut Kepala Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah DKI Jakarta, Kosasih Wirahadi Kusuma, untuk pertama 19 perusahaan yang menandatangani surat tersebut, antara lain PT Indofood, PT Indosat, PT Wicaksana, PT Jakarta Internasional Terminal dan PT Kuda Laut Engineering. Selanjutnya ada 66 perusahaan yang akan menandatangani surat pernyataan serupa. Dalam kesempatan itu Kosasih juga memaparkan selama 2005 kegiatan penilaian peringkat kerja perusahaan di bidang lingkungan hidup menilai, dari 29 perusahaan, terdapat dua perusahaan berkategori hijau atau baik dalam pengelolaan lingkungan. Selain itu terdapat 15 perusahaan yang masuk dalam kategori biru atau cukup, tujuh perusahaan tergolong merah atau buruk dan lima perusahaan dikategorikan dalam kelompok hitam atau sangat buruk.

Kosasih menjelaskan peringkat pengelolaan lingkungan dari ke-29 perusahaan tersebut sudah diumumkan kepada publik dan dapat diakses di situs Kementrian Lingkungan Hidup. Perlu Diterapkan Teknologi Pemantauan Kualitas Air Sungai Saat Ini Makin Buruk

Saat ini penurunan kualitas air sungai di beberapa tempat di Indonesia sudah mencapai tingkat mengkhawatirkan. Masalah memburuknya kualitas air sungai tersebut semakin dirasakan pada saat musim kemarau ketika kuantitas (debit) air sungai berkurang. Untuk itu, diperlukan penanganan sangat segera dalam suatu sistem pengolahan dan teknologi pemantauan kualitas air sungai.

Hal tersebut disampaikan Deputi Ilmu Pengetahuan Teknik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (IPT LIPI) Dr. Anung Koesnowo, M.T., pada seminar nasional “Sistem Monitoring Pencemaran Lingkungan Sungai dan Teknologi Pengolahannya” yang diselenggarakan Pusat Penelitian Elektronika dan Telekomunikasi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (PPET LIPI) di Bandung.

Menurut Anung, sungai selain sebagai sumber air, juga berfungsi sebagai tempat pembuangan limbah baik limbah industri, rumah tangga maupun pertanian. Akibatnya, terjadi penurunan kualitas air sungai yang akan berdampak luas kepada masyarakat. Dampak tersebut tidak hanya dialami masyarakat sepanjang sungai, tetapi juga sampai ke daerah muara dan sepanjang pesisir yang akhirnya berpengaruh penting terhadap kualitas hidup masyarakat.

“Salah satu upaya untuk menekan tingkat pencemaran ke sungai-sungai yakni dengan menerapkan teknologi pemantauan (monitoring) kualitas air sungai,” ujarnya. Selain itu, lanjut Anung, tersedianya sistem monitoring kualitas air sungai juga dapat dimanfaatkan untuk penegakan hukum. Pasalnya, industri nakal yang selama ini membuang limbahnya ke sungai akan terdeteksi dan bisa diajukan ke pengadilan.

Sementara itu, ketua panitia seminar Dr. Masbah R.T. Siregar menambahkan tujuan seminar untuk menyusun program penelitian dan pengembangan sistem monitoring dan teknologi pencegahan pencemaran lingkungan. “Selain itu, untuk mengidentifikasi bidang ilmu dan teknologi yang strategis, layak, harus dilakukan dan diperlukan penguasaannya untuk meningkatkan kemandirian serta keunggulan dalam pencegahan pencemaran lingkungan. Yang lebih penting lagi, tersusunnya suatu road map teknologi dalam bidang monitoring pencemaran lingkungan,” jelas Masbah yang juga Direktur Pusat Penelitian Elektronika dan Telekomunikasi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (PPET LIPI).

Ditambahkan, seminar yang dihadiri 170 peserta dari seluruh wilayah Indonesia, menghadirkan 36 pembicara. Mereka menyampaikan makalahnya dalam tiga kelompok bahasan, yaitu bidang teknologi monitoring daerah aliran sungai/DAS (12 makalah), bidang teknologi pengendalian pencemaran dan kebijakan pengelolaan DAS (11 makalah), serta permasalahan pencemaran sungai (10 makalah).

Kepala LIPI Prof. Dr. Umar Anggara Djeni mengatakan bahwa masalah pencemaran lingkungan sungai adalah masalah multisektoral, menyangkut aspek sosial, ekonomi, dan teknologi. “LIPI diharapkan dapat berperan dari segi teknologinya. Terlebih dengan adanya Brantas River Quality and Pollution Management Project yang dikelola LIPI bekerja sama dengan Perum Jasa Tirta I Malang, para peneliti dan engineer kita mampu menguasai teknologinya,” harap Umar.

F.2. Pencegahan Pencemaran Makanan

Lazimnya, makanan memberi nikmat tetapi makanan tercemar mendatangkan mudarat. Ia menjejaskan kesehatan dan ada kala membawa maut. Makanan yang tercemar cepat rosak dan ini merugikan. Justeru itu, pencegahan pencemaran makanan kekal menjadi cabaran dalam industri makanan dan juga di dapur kita.

Pencemaran makanan boleh berlaku melalui beberapa cara. Marilah kita meninjau tiga sumber utama:

1. Mikrob merbahaya terdapat di merata-rata – di udara, air, tanah, pada tubuh manusia

dan juga dalam makanan itu sendiri! Mikrob ini dipindahkan kepada makanan dan minuman menerusi amalan yang tidak bersih dan peralatan kotor.


2. Pencemaran silang biasanya terlepas daripada perhatian kita. Makanan mentah mengandungi banyak mikrob yang akan dipindahkan ke makanan yang telah dimasak atau sedia dimakan, apabila kedua-duanya bersentuhan. Misalnya, pisau yang digunakan untuk menghiris daging mentah digunakan seterusnya untuk memotong sandwic.

3. Pendedahan makanan yang telah dimasak terhadap lalat, tikus, burung dan haiwan lain membolehkan kuman masuk ke dalam makanan.
Cara yang paling baik untuk mengelakkan pencemaran makanan di rumah ialah dengan menjaga kebersihan diri, perkakas dan dapur.

Dalam bidang pengilangan pula, antara matlamat pengeluar ialah menghentikan ataupun sekurang-kurangnya melambatkan pertumbuhan bakteria dalam produk makanan mereka. Untuk tujuan ini, pelbagai proses digunakan bergantung kepada jenis makanan.

4. Haba digunakan untuk membinasakan kuman dan spora dalam makanan. Kaedah

pensterilan, pempasteuran dan pengetinan menjadikan makanan lebih tahan disimpan.

5. Pendinginan dan pembekuan menrencat pertumbuhan bakteria.

6. Penghidratan mengeluarkan air daripada makanan, yang diperlukan untuk

pertumbuhan mikrob.

7. Bahan pengawet, yang menentang pertumbuhan mikrob tetapi tidak memudaratkan kesihatan kita, ditambah ke dalam makanan.

8. Pembungkusan yang sesuai bukan sahaja melindungi makanan daripada pencemaran mikrob tetapi juga menjauhi kerosakan yang disebabkan oleh kelembapan, cahaya, habuk dan oksigen.

9. Demi ketenteraman hati semasa makan dan agar mendapat manfaat maksimum daripada makanan, semua yang terlibat dalam penyediaan makanan mestilah berwaspada terhadap pencemaran makanan.

F.3. Pencegahan Polusi Udara Akibat Pemakaian AC (Air Conditioner)

Sesungguhnya, Anda tidak pernah lagi mendapatkan udara bersih dan sehat. Polusi Udara akibat pemakaian AC-Air Conditioner di ruang tidur dan ruang kantor telah membahayakan kesehatan.

Pembersih Udara Sistem Elektronik FIVE SEASONS efektif menghilangkan partikel pencemar debu halus, jamur, kuman, bakteri, virus dan asap yang menyebabkan sakit pernafasan, diantaranya : alergi, bronchitis, asma dan radang paru-paru (pneumonia).

Menghirup udara yang terpolusi jelas membahayakan kesehatan, karena itu tanpa FIVE SEASONS paru-paru kita sebagai penyaring udara yang sedang bekerja dan ‘saringannya’ tidak dapat diganti/dicuci, khususnya bagi anak-anak dalam masa pertumbuhan dan yang berusia di bawah 14 tahun sangat mudah terinfeksi saluran pernafasan, alergi, pilek, influenza, bronchitis, batuk, asma dan radang paru-paru.
Kini FIVE SEASONS – pembersih udara elektronik/ionisasi yang memiliki efisiensi tinggi telah diakui dan dipasarkan di 58 negara di seluruh dunia, dengan kualitas produk yang prima dan keunggulan Life Time Filter dan cara kerja Electrostastic Precipitation, telah diuji oleh lembaga standarisasi Amerika Serikat U.L., (Underwriter Laboratory), terbukti efisiensi menghilangkan semua partikel pencemar yang terdapat didalam ruangan sampai dengan 0,01 mikron (1/2.450.000 of an inch), efektif sampai dengan 95%.

Sistem kerja pengendapan Elektrostatis melalui proses penyaringan 4 (empat) tahap :

1.

Udara kotor masuk lewat kisi-kisi (grill) depan tempat pre-filter menghilangkan semua partikel besar yang bisa terlihat oleh mata seperti : bulu kain, bulu binatang peliharaan dan serbuk sari.

2.

Menghilangkan partikel-partikel yang lebih kecil yang tidak terlihat seperti : jamur, kuman, bakteri, virus, asap, dan gas beracun, masuk melalui Sel Pengumpul Elektrostatis.

3.

Partikel-partikel ini dialiri listrik bermuatan positif yang kuat dengan kawat-kawat ber-ion pada bagian  pengisian setrum, partikel yang sudah disetrum (di-charge) begerak menuju tempat pengumpulan, partikel tersebut ditarik oleh Collecting Cell. Pada bagian ini zat-zat pencemar tertahan seperti kita menarik besi dengan magnet, sehingga unsur tersebut filter sepanjang masa, cukup dicuci tersapu selama pembersihan.

4.

Udara bersih masuk ke Filter Karbon Granules yang telah diaktifkan guna menghilangkan ‘Bau’ dan dalam sekejap ion negatif,vitamin udara, diperbanyak lewat hembusan udaranya, menjadikan udara di dalam ruangan yang menggunakan FIVE SEASONS : bersih, sehat, dan sesegar udara di pegunungan.

Polusi Udara di dalam ruangan ber-AC bisa dirasakan di dalam ruangan pada saat AC dimatikan.
Terlebih bila ada orang merokok di dalamnya sehingga menimbulkan sirkulasi udara busuk dan mudah tertular berbagai penyakit. Jika ada satu orang terkena influenza dimungkinkan penyakit ini menulari orang lain di ruangan tersebut, apalagi bagi yang lemah daya tahan tubuhnya, misalnya anak-anak ataupun dewasa sehabis sakit atau akibat bekerja terlalu keras.
FIVE SEASONS selain membersihkan udara di dalam ruangan dan menambahkan ion negatif , dan vitamin udara, tetapi juga efektif menghilangkan semua pertikel pencemar yang berada di dalam ruangan seperti : uap kimia dari bahan pembersih rumah tangga, pewangi ruangan, obat nyamuk, anti serangga, karbon monoksida. nitrogen oksida, partikel dari asap kompor gas, asap rokok, asap mobil di garasi, debu halus dari kotoran serangga/binatang, semen, asbes, gas formaldehyde dari meubel, karpet, wall paper, cat tembok, gas radon dari tembok, batu bahan bangunan , jamur, kuman, bakteri dan virus dari AC.

F.3.1. Keuntungan Memiliki FIVE SEASONS

1.

BERSIH, mampu menyaring semua partikel debu yang tidak terlihat oleh mata.

2.

SEGAR, mampu menghilangkan aroma udara yang tidak sedap, seperti asap rokok dan udara busuk.

3.

SEHAT, mampu menjaga kesehatan keluarga dan karyawan terbebas dari partikel pencemar yang  berbahaya, seperti jamur, kuman, bakteri dan virus udara, tidur menjadi lebih nyenyak, meningkatkan  keharmonisan dan gairah seksualitas.

4.

HEMAT, mampu melindungi kesehatan dari biaya-biaya pengobatan, AC lebih awet karena sirkulasinya   tidak dipenuhi partikel debu, perabotan rumah tangga lebih bersih, penghematan biaya pengecatan rumah kembali, biaya perawatan sangat rendah karena sistem penyaringan yang sudah kotor setelah dipakai beberapa minggu dan dapat dicuci dengan air.

5.

NYAMAN, mampu menciptakan udara yang bersih, sehat dan sesegar udara pegunungan dengan sendirinya seluruh keluarga, karyawan,dan pelanggan Anda akan puas karena memiliki lingkungan yang penuh kebahagiaan, keharmonisan, vitalitas tinggi dan produktivitas.

G. DESKRIPSI TEKNIK LINGKUNGAN

 UMUM

      Semula bidang ilmu Teknik Lingkungan berada di bawah profesi bidang ilmu Teknik Sipil, yang merupakan pilihan dan berada di bawah cabang ilmu Teknik Penyehatan (Sanitary engineering). Di beberapa negara yang dibawah pengaruh USA, bidang ilmu teknik penyehatan ini menjadi spesialisasi bagi mereka yang akan studi lanjut di strata dua. Di negara koloni Inggris, profesi ini disebut teknik kesehatan masyarakat (public health engineering). Sekitar tahun 1968 nama teknik penyehatan dan teknik kesehatan masyarakat berubah menjadi teknik lingkungan (environmental engineering).

     Ahli teknik yang bergerak di bidang teknik lingkungan (environmental engineering) akan berurutan dengan struktur, peralatan, dan sistem yang dirancang untuk melindungi dan meningkatkan kualitas lingkungan dan melindungi dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan kesejahteraan.

     Sebagi contoh seorang ahli teknik lingkungan melakukan kegiatan perencanaan, perancangan, pembangunan dan pengoperasian bangunan pengolahan limbah dan pencegahan pencemaran di badan air. Dengan kata lain bangunan ini dibangun untuk melindungi dan meningkatkan kualitas air. Seorang ahli teknik lingkungan juga membangun dan mengoperasikan bangunan pengolahan limbah, mengadakan air yang bersih bebas dari kuman, melindungi dan mendukung kesehatan masyarakat. Selain hal di atas teknik lingkungan juga merencanakan, merancang, membangun dan mengoperasikan peralatan untuk kontrol pencemaran udara yang hasilnya adalah orang mempunyai kesehatan yang baik dan mencegah terjadinya penurunan kualitas bahan akibat efek pencemaran udara.

     Teknik Lingkungan di definisikan sebagai aplikasi prinsip ilmu pengetahuan yang memperlihatkan keterbatasan kondisi setempat untuk melindungi dan meningkatkan kualitas lingkungan melalui cara dengan menjaga kelestarian alam agar sumber daya alam yang ada tetap dapat berfungsi sebagaimana seharusnya dan memberikan kemanfaatan sebesar-besarnya bagi kehidupan, dan untuk mendukung dan melindungi dan atau meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan kesejahteraan.

     Ilmu yang mendukung keahlian teknik lingkungan adalah kimia dan biologi lingkungan, hidrologi lingkungan, hidrolika lingkungan dan pnematik, pengelolaan sumber daya air, pencemaran air, pencemaran udara, pengolahan air, pengolahan air limbah, pengelolaan sampah, kontrol pencemaran udara, pengelolaan bahan berbahaya dan penilaian risiko, polusi suara dan kontrol pencegahan pencemaran, AMDAL dan permodelan kualitas lingkungan. Pada program studi strata satu diberikan dasar-dasar pengetahuan beserta aplikasi prinsip pengetahuan yang tidak terlalu rumit, dan dilanjutkan pada program studi strata dua, berupa pendalaman dari bidang ilmu strata satu dan pengetahuan lainnya yang diperlukan.

     Teknik Lingkungan memperkenalkan pendekatan yang unik terhadap konsep rekayasa lingkungan secara menyeluruh, suatu pendekatan yang menekankan pada hubungan antara prinsip yang diamati dari proses penjernihan air secara alami, dan prinsip dalam rekayasa di bidang ke teknikan. Yaitu pertama prinsip-prinsip dalam bidang ilmu fisika, matenatika, kimia, biologi dalam mendefinisikan, mengkuantifikasi, dan mengukur kualitas lingkungan, digambarkan. Ke dua : proses asimilasi limbah secara alami dibahas dan proses penjernihan secara alami yang membentuk dasar sistem rekayasa di detailkan/dirinci. Ke tiga : prinsip-prinsip ke teknikan dan praktek yang terlibat dalam desain dan operasi dari pekerjaan teknik lingkungan yang konvensional dicakup.

 Apabila dikaitkan dengan peningkatan kualitas lingkungan, ada dua aspek penting yang dapat diperankan oleh Ahli Teknik Lingkungan yaitu dalam strategi lingkungan dan taktik lingkungan. Strategi lingkungan adalah perencanaan yang komprehensif yang umumnya terdiri dari berbagai variasi masalah dihadapkan pada satu area. Tipikal contoh antara lain suatu program untuk meningkatkan kualitas danau Saguling, meningkatkan kualitas udara kota Jakarta, mengumpulkan dan membuang sampah kota Bandung. Strategi lingkungan ini umumnya dalam penyelesaiannya melibatkan masyarakat dan bidang politik. Dalam sejarah ahli Teknik Lingkungan tidak terlalu berperan dalam hal ini, namun sangat penting sebagai anggota dalam tim menajemen yang terdiri dari berbagai disiplin ilmu. Masukan dari ahli Teknik Lingkungan adalah memberikan penilaian terhadap gejala lingkungan dalam hal beban pencemaran dari polutan yang ada, dan mengusulkan alternatif teknik pemecahan masalah.

     Ahli Teknik Lingkungan lebih berperan dalam implementasi “taktik lingkungan” sebagai sarana pencapaian sasaran sebagai bagian dari strategi lingkungan. Peran ahli Teknik Lingkungan di sini adalah dalam membuat rancangan, konstruksi dan pemeliharaan dari fasilitas pengolahan air, air limbah, udara dan sampah. Misalkan dalam desain bangunan pengolahan air bersih, desain pengolahan limbah.

G.1. Bidang Garapan Ilmu Teknik Lingkungan

 Bidang garapan praktek bidang ilmu Teknik Lingkungan berurusan dengan struktur peralatan, dan sistem yang dirancang dengan obyek garapan di bidang.

1. Pencegahan pencemaran :

Kualitas lingkungan fisik, pencemarah dan kontrol, sumber penghasil limbah yang langsung dan tidak langsung, metode pengolahan limbah, minimisasi limbah, pemanfaatan dan daur ulang limbah, polutan gas di udara, polusi suara dan metoda kontrol.

2. Air dan pengembangan sumber daya air

3. Sistem permodalan kualitas lingkungan fisik

4. Air limbah

5. Limbah padat dan bahan buangan berbahaya

6. Sistem atmosfir dan kontrol pencemaran udara

7. Kesehatan lingkungan dan kesehatan kerja

8. Manajemen lingkungan fisik :

    Merancang jaringan monitoring kualitas air, udara, manajemen kualitas air adalam sistem tata air, perencanaan bangunan air bersih dan pengolahan air limbah, pembanguan akhir dari hasil limbah, manajemen air hujan,

9. Sanitasi lingkungan

     Kaitan dengan kurikulum yang ditawarkan oleh Program Studi Teknik Sipil – FTUI, peminatan di bidang teknik lingkungan merupakan pilihan bagi mereka yang senang pada aspek pengendalian pencemaran, dimana pengendalian tersebut dapat di mulai dari sumber, transportasi bahan pencemaran hingga ke teknologi pengendaliannya. Pengetahuan matematika, fisika, mekanika fluida, termodinamika, kimia terutama kimia lingkungan, ilmu lingkungan, teknik lingkungan, hidrologi, hidrolika merupakan ilmu dasar yang perlu dikuasi, sedangkan wujud terapannya adalah pada mata ajaran pengolahan air dan pengolahan air limbah, serta drainase perkotaan. Pengenalan lebih lanjut dalam bidang ilmu teknik lingkungan, baik berupa konsep maupun terapan, diberikan dalam bentuk mata ajaran pilihan. Pilihan yang ditawarkan adalah yang berhubungan dengan lingkungan fisik yaitu air, tanah dan udara yang ditinjau dari aspek ilmu pengetahuan, aspek terapan/desain, maupun aspek manajemen.

H. PERISTIWA-PERISTIWA PENCEMARAN

H.1. Asap dan Kajian Kebakaran Hutan

KEBAKARAN hutan dan lahan hampir terjadi setiap tahun di Indonesia. Kemarau panjang yang disebabkan gejala iklim El Nino dan kondisi hutan yang rusak parah merupakan faktor penyebab kebakaran hutan dan lahan. Ulah manusia yang secara sengaja maupun tidak, membakar hutan tanpa perhitungan demi untuk kepentingan ekonomi adalah faktor pemicu terjadinya kebakaran lahan dalam skala besar. Kebakaran yang terjadi di Indonesia merupakan bencana ekologi akibat ulah manusia.
Kebakaran hutan dan lahan berdampak pada kehidupan sosial, ekonomi, kesehatan, ekologi dan transportasi. Asap dari kebakaran hutan dan lahan yang biasa dikenal dengan istilah haze (kumpulan debu, kabut dan asap) mengandung berbagai partikel dan bahan kimia. Partikel berukuran kecil kalau terisap manusia menyebabkan berbagai gangguan respitatorik seperti infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), kekambuhan akut pada asma bronchial, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) dan penurunan faal paru.

Kebakaran hutan selain berdampak domestik juga berdampak pada negara tetangga. Asap dari kebakaran menyebabkan polusi udara pada negara tersebut yang lazim disebut Transboundary Air Pollution (pencemaran udara lintas batas). Masalah ini telah menjadi fokus perhatian sejak tahun 1985 melalui Asean agrement on the Conservation of Nature & Natural resources (ASEAN ACNN) yang membuat kesepakatan bagi negara-negara Asean untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan. Permasalahan kebakaran hutan dan lahan yang begitu komplek dan telah mengakibatkan pencemaran lingkungan hidup itu perlu dikendalikan dengan melibatkan pihak-pihak yang berkepentingan dan peduli. Untuk itu pemerintah telah membuat perangkat peraturan mengenai pengendalian kebakaran hutan dan lahan yaitu PP No 4/2001 tentang Pengendalian Kerusakan dan atau Pencemaran Lingkungan Hidup yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan atau lahan yang diundangkan pada tanggal 5 Februari 2001. Peraturan ini mengatur antara lain mengenai, tata laksana pengendalian, wewenang pengendalian, pengawasan pengendalian, keterbukaan informasi, sanksi administrasi dan sanksi pidana. Dalam peraturan ini pengendalian kerusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup meliputi upaya pencegahan dan penanggulangan serta pemulihan kerusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan atau lahan. Inti dari pengendalian kerusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup adalah melarang setiap orang membakar hutan dan lahan. Selain itu ada beberapa kewajiban yang harus dijalankan oleh setiap orang dan penanggungjawab usaha dalam upaya pencegahan, penanggulangan dan pemulihan yaitu kewajiban untuk mencegah dan menanggulangi terjadinya kerusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan atau lahan, serta pemulihan dampak lingkungan hidup. Pengertian penanggung jawab di sini adalah direktur/pimpinan perusahaan. Kewajiban lainnya bagi penanggung jawab usaha adalah wajib memiliki sarana dan prasarana yang memadai untuk pencegahan terjadinya kebakaran. Sarana dan prasarana itu meliputi; sistem deteksi dini untuk mengetahui terjadinya kebakaran hutan dan atau lahan, alat pencegahan kebakaran hutan dan atau lahan, prosedur operasi standar untuk mencegah dan menanggulangi terjadinya kebakaran hutan dan atau lahan, perangkat organisasi yang bertanggungjawab dalam mencegah dan menanggulangi terjadinya kebakaran hutan dan atau lahan, pelatihan penanggulangan kebakaran hutan dan atau lahan secara berkala. Wewenang Pengendalian Wewenang pengendalian kerusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan atau lahan diamanatkan kepada pemerintah. Dalam hal ini wewenang pemerintah dibagi menjadi 3 (tiga) bagian yaitu: wewenang pemerintah pusat, wewenang pemerintah propinsi dan wewenang pemerintah kabupaten/kota. Pemerintah pusat dalam hal ini Menteri yang bertanggungjawab di bidang kehutanan mengkoordinasikan pemadaman kebakaran hutan dan atau lahan lintas propinsi dan atau lintas batas negara. Bentuk koordinasi lain adalah; penyediaan sarana pemadam kebakaran hutan dan atau lahan, pengembangan sumber daya manusia untuk pemadaman kebakaran hutan dan atau lahan, pelaksanaan kerja sama internasional untuk pemadaman kebakaran hutan dan atau lahan. Wewenang pemerintah propinsi dijalankan oleh gubernur yang bertanggungjawab terhadap pengendalian kerusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan atau lahan yang dampaknya lintas kabupaten/kota. Wewenang pemerintahan kabupaten/kota dijalankan oleh bupati/walikota. Bupati/walikota bertanggungjawab terhadap pengendalian kerusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan atau lahan di daerahnya. Jika terjadi kebakaran hutan dan atau lahan, maka bupati/walikota wajib melakukan tindakan, penanggulangan, pemeriksaan kesehatan masyarakat di wilayahnya yang mengalami dampak kebakaran melalui sarana pelayanan kesehatan yang telah ada, pengukuran dampak, pengumuman pada masyarakat tentang pengukuran yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan atau lahan.


Pengawasan pengendalian kerusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan atau lahan diatur dalam pasal 34 sampai dengan pasal 38. Bupati/walikota melakukan pengawasan atas pengendalian kerusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan atau lahan di daerahnya. Gubernur melakukan pengawasan atas pengendalian kerusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan atau lahan yang berdampak atau yang diperkirakan dapat berdampak lintas kabupaten/kota. Menteri dan atau kepala instansi yang bertanggungjawab melakukan pengawasan atas pengendalian kerusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup.

Sanksi administrasi PP ini mengacu pada sanksi administrasi yang diatur oleh UU No 23/1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Sanksi administrasi itu dapat berupa pencabutan izin usaha dan atau kegiatan, yang diajukan oleh gubernur/bupati/pihak yang berkepentingan kepada pejabat yang berwenang. Dalam PP ini sanksi administrasi dikenakan atas pelanggaran pasal 12, pasal 14 dan pasal 15. Pelanggaran yang dimaksud adalah kewajiban oleh penanggungjawab usaha untuk memiliki sarana dan prasarana untuk pencegahan terjadinya kebakaran dan kewajiban melakukan pemantauan untuk mencegah kebakaran. Sanksi pidana PP ini juga mengacu pada sanksi pidana yang diatur oleh UU No 23/1997. Dalam UU ini ancaman pidana yang dirumuskan dalam pasal 41 sampai dengan pasal 47 adalah ancaman pidana penjara dan denda, serta adanya tindakan tata tertib. Ancaman pidana penjara mulai dari 3-15 tahun. Sedangkan ancaman pidana denda mulai dari Rp 100.000-Rp 750.000.000. Tindakan tata tertib terdiri dari perampasan keuntungan yang diperoleh, penutupan seluruhnya atau sebagian perusahaan, perbaikan akibat tindak pidana, kewajiban mengerjakan apa yang dilalaikan, meniadakan apa yang telah dilalaikan dan menempatkan perusahaan di bawah pengampuan.
Ancaman pidana itu ditujukan kepada orang dan setiap penanggungjawab usaha atas tindakan membakar hutan dan atau lahan, tidak memiliki sarana dan prasarana yang memadai untuk pencegahan tejradinya kebakaran hutan dan atau lahan di lokasi usahanya, tidak menjalankan kewajiban melakukan pemantauan untuk mencegah kebakaran hutan dan atau lahan serta melaporkan hasilnya secara berkala 6 (enam) bulan dan tidak menjalankan kewajiban untuk menanggulangi kebakaran hutan dan atau lahan di lokasi usahanya. Disadari bahwa perangkat peraturan ini tidaklah cukup untuk menyelesaikan masalah kebakaran hutan dan atau lahan di Indonesia, masih diperlukan penegak hukum yang bermoral, sarana atau fasilitas pendukung dan budaya masyarakat itu sendiri. Yang tak kalah penting adalah komitmen politik dari pemerintah untuk menyetop laju degradasi hutan yang merupakan akar dari permasalahan kebakaran hutan dan lahan.

H.2. Mewaspadai Fenomena Minamata

Minamata merupakan kata yang populer dalam kancah pemberitaan nasional maupun lokal serta diskusi dan pembicaraan mengenai lingkungan. Hampir semua media massa, menjadikan Kasus Minamata sebagai latar berita dari sebuah peristiwa yang mirip di tanah air. Sedemikian populernya, tidak jarang kata Minamata maupun Buyat menjadi judul besar di halaman pertama.

Kembali populernya Minamata, mengajak masyarakat untuk kembali ke tahun 1956, ke Teluk Minamata di Jepang. Masyarakat diajak untuk menemui peristiwa yang diakibatkan rusaknya selaput syaraf otak kecil karena keracunan merkuri. Keracunan itu terjadi sedikit demi sedikit dalam waktu sangat lama. Karena otak kecil berfungsi untuk mengkoordinasi gerakan, maka kerusakan selaput syaraf yang berlokasi di tempat itu akan mengakibatkan kekejangan dan gerakan tidak beraturan bagi yang terkena. Kerusakan dan penyakit Minamata bisa menimpa manusia maupun hewan di wilayah di sekitar daerah tercemar.

Suasana terasa mencekam, karena penayangan peristiwa Minamata oleh beberapa stasiun televisi dan menjadi semakin perlu diperhatikan setelah terungkapnya beberapa hasil penelitian tentang pencemaran lingkungan di daerah. Media massa lokal di Kalsel memberitakan tentang pencemaran yang terjadi di Daerah Aliran Sungai (DAS) Barito.

Tumpah tindih dan simpang siurnya pemberitaan disertai silang kata, pendapat dan akhirnya gosip tentang adanya kasus ini, berpotensi untuk mewarnai kehidupan masyarakat. Potensi itu merupakan potensi kerawanan yang perlu dihentikan, bahkan dihindari. Untuk itu, diperlukan kejelasan, kebenaran, keakuratan dan kelengkapan penjelasan tentang peristiwa ini.

Tim bentukan pemerintah sudah mulai melakukannya. Saat ini sebuah penelitian ilmiah dilakukan untuk memastikan penyebab masalah dan diyakini, pretensi dari penelitian itu hanya untuk mencari kebenaran dan berpihak kepada rakyat.

Sambil menunggu kepastian hasil penelitian, selayaknya dilakukan sosialisasi tentang penyakit lingkungan dan upaya pencermatan daerah yang dapat dilakukan untuk menduga suatu daerah sebagai sumber keberadaannya. Dengan demikian, kasus ini dapat didudukan pada porsi yang sesuai dan selanjutnya persoalan yang sama tidak akan terulang kembali.

H.2.1. Langkah Pencegahan Minamata

Secara Umum, setiap penyakit sebenarnya dapat dicegah melalui lima gradasi pencegahan. Kelima gradasi pencegahan itu lazim disebut sebagai the fifth level of prevension. Secara berurutan gradasi pencegahan itu meliputi Promosi Kesehatan (health promotion), Pengamanan Khusus (specifik protection), Deteksi Dini dan Penanganan Tepat (early diagnostik prompt treatment), Penghentian Ketidakmampuan (disability limitation) dan Perbaikan Kerusakan (rehabilitation).

Promosi untuk menjaga kelestarian lingkungan dan tidak melakukan pencemaran, seharusnya merupakan langkah pertama yang harus dilakukan. Promosi dilaksanakan secara sistimatik, gradual, masif dan terkontrol. Promosi yang komprehensif akan melibatkan tiga ranah kepemerintahan yaitu pemerintah, swasta dan masyarakat. Dengan demikian, dalam promosi dikedepankan prinsip pemberdayaan dan akuntabilitas.

Pengamanan khusus, biasanya ditujukan pada pekerja dan masyarakat sekitar. Pengamanan dapat dilakukan dengan pengolahan limbah dan penggunaan alat pengaman yang disesuaikan dengan limbah penyebab.

Deteksi dini kelainan penyakit disertai pengobatan yang tepat, biasanya dilakukan dengan perangkat laboraturium yang terkesan canggih dan mahal. Namun pada kasus tertentu, terkadang hanya dibutuhkan upaya murah dengan pencermatan lingkungan saja. Untuk melakukan hal itu, dibutuhkan modal kepedulian yang besar terhadap kesehatan masyarakat.

Sedangkan penghentian ketidakmampuan dan perbaikan kerusakan akibat penyakit, dilakukan sesuai proses dan keadaan penyakit pada saat ditemukan.

Kasus yang terjadi di Minamata, Buyat dan kawasan lain di belahan bumi mana pun, tetap harus dikelola melalui lima gradasi pencegahan tersebut. Tapi secara khusus bagi kasus pencemaran limbah, pencermatan lingkungan dapat dipakai sebagai bentuk dari deteksi dini suatu daerah.

Pencermatan lingkungan dapat dilakukan semua orang, karena sederhana dan tidak mahal. Untuk melaksanakan pencermatan lingkungan hanya memerlukan modal kepedulian, kesungguhan dan ketekunan.

Pencermatan lingkungan akan lebih mudah dilakukan oleh kelompok yang mempunyai aksesibilitas besar tehadap informasi kesehatan. Di Indonesia, akses ini dimiliki petugas kesehatan, praktisi kesehatan dan LSM yang bergerak di sektor kesehatan.

Langkah awal dari pencermatan lingkungan adalah pengumpulan fakta yang didapatkan dari informasi kesehatan masyarakat. Selanjutnya diolah, dianalisis dan disebarluaskan kepada masyarakat. Langkah tersebut dikenal dengan istilah Surveilans Epidemiologi.

Suatu daerah dikatakan berpotensi sebagai sumber pencemaran jika pengolahan terhadap fakta menemukan beberapa fenomena berikut:

pertama, di daerah itu ditemukan kasus dengan proporsi lebih besar dibandingkan dengan proporsi kasus di tempat lain. Fenomena ini, mengindikasikan kejadian yang tidak biasa dan perlu mendapatkan perhatian.

Fenomena ini yang seharusnya mengundang keingintahuan, kepedulian dan penelitian lanjutan yang lebih canggih. Salah satu peristiwa yang perlu diwaspadai dengan adanya fenomena di atas adalah daerah tersebut telah menjadi daerah tercemar limbah.

Kedua, kasus di daerah tersebut semakin lama semakin banyak, disertai gejala yang semakin tampak. Fenomena ini lazim disebut Time Respon yaitu fenomena yang menunjukan adanya hubungan waktu dengan kejadian penyakit. Semakin lama orang tinggal di daerah itu semakin tinggi risiko sakit dan yang sudah sakit akan semakin parah penyakitnya. Fenomena ini menambah kecurigaan adanya sumber penyakit atau sumber pencemaran di daerah tertentu.

Ketiga, kejadian kasus mempunyai gradasi kegawatan yang berbeda sekaligus jumlah yang berbeda pada perbedaan jarak dengan suatu daerah. Fenomena ini lazim disebut Dose Respon, yaitu adanya hubungan timbal balik antara kepekatan pencemaran dengan kejadian penyakit. Semakin dekat jaraknya dengan daerah tercemar maka semakin tinggi kepekatan pencemaran yang terjadi. Hal itu berakibat pada semakin banyaknya dan semakin gawatnya kasus.

Keempat, kejadian kasus menunjukkan proporsi dan gejala berkurang bahkan berhenti jika dipindah ke daerah lain. Sementara di lain sisi, masyarakat sehat yang datang ke daerah tersebut akan tertimpa kasus. Fenomena ini selayaknya memperkuat fenomena sebelumnya dan semakin mengindikasikan keberadaan suatu daerah sebagai pusat pencemaran.

Kelima, kejadian kasus di daerah itu tidak hanya menimpa manusia tapi juga ternak peliharaan, binatang yang ada di sana, bahkan terkadang dijumpai pada tumbuhan. Fenomena ini semakin menyakinkan kita adanya sumber pencemaran di suatu daerah.

Keberadaan sumber pencemaran di suatu daerah dengan sejumlah fenomena di atas, merupakan gambaran yang dapat dipakai untuk menduga kejadian pencemaran dan dapat dijadikan alasan awal untuk melakukan penelitian yang lebih lengkap. Suatu penelitian yang akan mengungkap kejadian yang sesungguhnya, sekaligus membedakannya dengan kejadian yang terjadi secara kebetulan.

Pencemaran lingkungan akan menjadi awal dari langkah yang rumit dengan perhitungan statistik yang canggih. Kesemuanya akan bermuara pada sebuah kebenaran dan pembuktian causatif (sebab akibat) antara sumber pencemaran dan kasus yang menimpa masyarakat.

Langkah rumit dan sangat mahal ini mempunyai kelemahan yang sangat hakiki. Kelemahan itu diakibatkan lemahnya kekuatan pembuktian. Hasil pembuktian dari penelitian lingkungan sering bersifat sangat rapuh dan mudah dipatahkan. Dengan demikian, langkah itu selayaknya dihindari dan pencemaran kita cegah dengan pencermatan lingkungan.

Hasil positif dari pencermatan lingkungan dapat dipakai sebagai indikasi terjadinya pencemaran. Dengan demikian, antisipasi awal dapat diupayakan melalui musyawarah yang dilandasi niat baik, prikemanusiaan dan keadilan sosial.

Pencermatan lingkungan sangat murah, mudah dan hanya memerlukan kepedulian, kesungguhan dan ketekunan. Jika teindikasikan positif, maka dapat diselesaikan melalui musyawarah yang dilandasi keadilan sosial.

H.3. Pencegahan Pencemaran Air

Sumber Pencemaran Air

Banyak penyebab pencemaran air tetapi secara umum dapat dikategorikan sebagai sumber kontaminan langsung dan tidak langsung. Sumber langsung meliputi efluen yang keluar dari industri, TPA (tempat Pembuangan Akhir Sampah), dan sebagainya. Sumber tidak langsung yaitu kontaminan yang memasuki badan air dari tanah, air tanah, atau atmosfer berupa hujan. Tanah dan air tanah mengandung mengandung sisa dari aktivitas pertanian seperti pupuk dan pestisida. Kontaminan dari atmosfer juga berasal dari aktivitas manusia yaitu pencemaran udara yang menghasilkan hujan asam.

Pencemar

Pencemar air dapat diklasifikasikan sebagai organik, anorganik, radioaktif, dan asam/basa. Saat ini hampir 10 juta zat kimia telah dikenal manusia, dan hampir 100.000 zat kimia telah digunakan secara komersial. Kebanyakan sisa zat kimia tersebut dibuang ke badan air atau air tanah. Pestisida, deterjen, PCBs, dan PCPs (polychlorinated phenols), adalah salah satu contohnya. Pestisida dgunakan di pertanian, kehutanan dan rumah tangga. PCB, walaupun telah jarang digunakan di alat-alat baru, masih terdapat di alat-alat elektronik lama sebagai insulator, PCP dapat ditemukan sebagai pengawet kayu, dan deterjen digunakan secara luas sebagai zat pembersih di rumah tangga.

Dampak Pencemaran Air

Pencemaran air berdampak luas, misalnya dapat meracuni sumber air minum, meracuni makanan hewan, ketidakseimbangan ekosistem sungai dan danau, pengrusakan hutan akibat hujan asam, dan sebagainya.

Di badan air, sungai dan danau, nitrogen dan fosfat (dari kegiatan pertanian) telah menyebabkan pertumbuhan tanaman air yang di luar kendali (eutrofikasi berlebihan). Ledakan pertumbuhan ini menyebabkan oksigen, yang seharusnya digunakan bersama oleh seluruh hewan/tumbuhan air, menjadi berkurang.  Ketika tanaman air tersebut mati, dekomposisi mereka menyedot lebih banyak oksigen. Sebagai akibatnya, ikan akan mati, dan aktivitas bakteri menurun.

Langkah Penyelesaian

Dalam keseharian kita, kita dapat mengurangi pencemaran air, dengan cara mengurangi jumlah sampah yang kita produksi setiap hari (minimize), mendaur ulang (recycle), mendaur pakai (reuse).

Kita pun perlu memperhatikan bahan kimia yang kita buang dari rumah kita. Karena saat ini kita telah menjadi “masyarakat kimia”, yang menggunakan ratusan jenis zat kimia dalam keseharian kita, seperti mencuci, memasak, membersihkan rumah, memupuk tanaman, dan sebagainya.

Menjadi konsumen yang bertanggung jawab merupakan tindakan yang bijaksana. Sebagai contoh, kritis terhadap barang yang dikonsumsi, apakah nantinya akan menjadi sumber pencemar yang persisten, eksplosif, korosif dan beracun, atau degradable (dapat didegradasi) alam ? Apakah barang yang kita konsumsi nantinya dapat meracuni manusia, hewan, dan tumbuhan, aman bagi mahluk hidup dan lingkungan ?

Teknologi dapat kita gunakan untuk mengatasi pencemaran air. Instalasi pengolahan air bersih, instalasi pengolahan air limbah, yang dioperasikan dan dipelihara baik, mampu menghilangkan substansi beracun dari air yang tercemar. Walaupun demikian, langkah pencegahan tentunya lebih efektif dan bijaksana.

H.4. Pencegahan Pencemaran Tanah

Jenis Pencemaran Tanah

Sebagaimana udara dan air, tanah merupakan komponen penting dalam hidup kita. Tanah berperan penting dalam pertumbuhan mahluk hidup, memelihara ekosistem, dan memelihara siklus air. Kasus pencemaran tanah terutama disebabkan oleh pembuangan sampah yang tidak memenuhi syarat (ilegal dumping), kebocoran limbah cair dari industri atau fasilitas komersial, atau kecelakaan kendaraaan pengangkut minyak, zat kimia, atau limbah, yang kemudian tumpah ke permukaan tanah.

Ketika suatu zat berbahaya/beracun telah mencemari permukaan tanah, maka ia dapat menguap, tersapu air hujan dan atau masuk ke dalam tanah. Pencemaran yang masuk ke dalam tanah kemudian terendap sebagai zat kimia beracun di tanah. Zat beracun di tanah tersebut dapat berdampak langsung kepada manusia ketika bersentuhan atau dapat mencemari air tanah dan udara di atasnya.

H.5. Pencegahan Pencemaran Udara

Bahan-bahan Penyebab Pencemaran Udara

Kegiatan Manusia Penyebab Pencemaran Udara

Banyak kegiatan sehari-hari kita yang dapat menyebabkan kerusakan alam ini. Mulai dari hasil pembuangan kendaraan bermotor hingga industri besar. Berikut ini adalah berbagai macam jenis zat kimia yang dapat membuat udara tercemar :

CO2

CO

NO dan NO2

SO2 dan SO3

Pb

CFC

Bahan-bahan Penyebab Pencemaran Udara

CO2 (Carbon Dioksida)

Sebelum era industrialisasi, kadar karbon dioksida masih rendah yaitu 280 ppm pada tahun 1860, sedangkan pada tahun 1960 kadar gas tersebut meningkat menjadi 315 ppm. Peningkatan kadar ini disebabkan karena tingginya penggunaan bahan bakar batubara, minyak bumi dan gas alam.

Batubara yang komponen penyusunnya berupa karbon (C), jika dibakar akan bereaksi dengan oksigen (O2) menghasilkan karbon dioksida (CO2), demikian juga dengan gas alam dan minya bumi yang sering kita pakai sehari-hari.

Tahukan Anda bahwa tubuh kita juga penghasil CO2 yang merupakan hasil pembakaran dari makanan yang kita makan selain menghasilkan air, oleh tumbuhan CO2 akan ditangkap sebagai bahan baku fotosintesa sebagai penghasil karbohidrat dan O2

Efek Rumah Kaca (green house effect)

Efek Rumah Kaca

Dampak dari kenaikan kadar CO2 di udara akan menyebabkan peningkatan suhu di permukaan bumi. Rumah kaca merupakan rancang bangun yang dibuat untuk pembibitan tanaman yang sering kita jumpai pada lahan pertanian dan perkebunan modern.

Sinar matahari dapat menembus kaca, akan tetapi sinar infra merah yang dipantulkan tidak bisa menembusnya dan terperangkap didalamnya sehingga suhu di dalam rumah kaca meningkat.

Kondisi itu pula yang terjadi dengan bumi kita, CO2 di udara dapat dilewati sinar infra merah dan sinar tampak tetapi menahan sinar infra merah yang dipantulkan bumi. Semakin tinggi CO2 di udara semakin panas suhu di permukaan bumi. Jika ini terjadi terus menerus maka es di kutub akan mencair dan menaikkan permukaan air laut yang akhirnya akan menenggelamkan pulau-pulau. Amatilah kondisi ini disekitar Anda apakah garis pantai semakin naik!.

CO (karbon monoksida)

Emisi Gas Kendaraan Bermotor

Tahukah Anda bahwa kendaraan bermotor yang sering kita kendarai menyumbang 10.000 – 40.000 ppm CO (Karbon Monoksida), padahal udara dikatakan bersih jika mengandung CO sebesar 0,1 ppm.

Ambang batas CO di udara sebesar 10 0 ppm. Gas CO ini disebabkan dari proses pembakaran pada mesin kendaraan yang tidak sempurna.

NO dan NO2 (Oksida Nitrogen )

Pencemaran udara dapat disebabkan oleh oksida nitrogen. Sumber utama oksida nitrogen adalah pembakaran bahan bakar dalam industri dan kendaraan bermotor.

Pada gambar adalah Pemandangan kota Jakarta yang diselimuti kabut asap (smog). Campuran antara NO dan NO2 sebagai pencemar ditandai dengan NOx. Ambang batas NOx di udara adalah 0,05 ppm. NOx jika bereaksi dengan bahan pencemar lain akan berbahaya dan menimbulkan fenomena asap kabut (smog).

SO dan SO2 (Oksida Belerang )

Oksida belerang ini dapat menyebabkan hujan asam yang bersifat merusak. Oksida belerang dihasilkan oleh pembakaran bahan bakar seperti batu bara dan minyak.

Oksida belerang ini juga dihasilkan dari limbah industri pengolahan logam yaitu pemanggangan bijih logam berupa sulfida.

Pabrik pengolahan yang sedang berproduksi serta mengeluarkan gas buang

Timbal


SPBU (Stasiun Pompa Bensin Umum ) PERTAMINA yang mengkampanyekan bensin bebas timbel

Klorofluorokarbon (CFC)

Produk-produk pengahasil CFC

 Apakah Anda mempunyai lemari pendingin (kulkas) atau cat semprot. Jika punya pastikan bahwa produk yang Anda pakai bebas CFC. CFC merupakan zat kimia yang dapat merusak ozon.

Perusakan ini bersifat kimiawi artinya ozon yang mempunyai susunan molekul O3 dapat dirusak oleh salah satu unsur penyusun CFC yaitu Cl.

Untuk Anda ketahui bahwa ozon berfungsi untuk menyerap sebagain radiasi ultraviolet dari matahari menuju ke bumi. Jika lapisan ozon rusak, maka sinar ultra violet akan masuk ke bumi tanpa tersaring lebih dahulu sehingga menyebabkan berbagai jenis bencana dan penyakit.

Dampak Pencemaran Udara

CO2 (Karbon Dioksida )

Gunung es di kutub mencair

Gas yang keluar tidak berbahaya tetapi menyebabkan efek rumah kaca sehingga menimbulkan pemanasan muka bumi. Hal ini berdampak mencairnya gunung-gunung es di kutub. Tingginya pencairan gunung es di kutub berdampak pada naiknya permukaan air laut sehingga daerah-daerah pinggir pantai akan menjadi tergenang

CO (Karbon Monoksida )

Iritasi Mata akibat gas CO

Gas tidak berwarna, tidak berbau tapi beracun akibat pembakaran bensin dan minyak yang tidak sempurna.

Darah dalam tubuh turun kemampuannya untuk mengangkut oksigen sehingga darah kekurangan oksigen, dalam jumnlah besar dapat menyebabkan pingsan hingga kematian.

NO dan NO2


Kabut asap di kota

Menyebabkan smog, mengurangi daya pandang, iritasi mata dan saluran pernafasan dan memicu serangan asma.

Selain itu juga menurunkan daya tahan tubuh sehingga mudah terserang kuman penyakit saluran pernafasan dan paru-paru

SO2 dan SO3

Korosi logam

Menyebabkan hujan asam yang merusak tumbuhan, korosi logam dan merusak bangunan.

Bagi tubuh dapat menyebabkan penyakit paru-paru kronis dan akut, menimbulkan gangguan mata (mata merah dan berair), tenggorokan dan gangguan hidung dan memperparah penderita asma.

Pb

Foto rontgen otak

Otak Manusia

Menyebabkan kerusakan permanen pada otak, darah dan organ lainnya.

Selain itu juga dapat meracuni sistem pembentukan sel darah merah sehingga mengakibatkan anemia dan menyebabkan tekanan darah tinggi dan gangguan jantung.

CFC

Kulit yang terserang kanker

Kulit yang terserang kanker

Menyebabkan rusaknya ozon, kanker kulit, katarak dan kerusakan pada tanaman.

Mencegah Pencemaran Udara

CO2 (Karbon Dioksida )

Panel surya sebagai alternatif energi

Mengurangi pertambahan penduduk, mengurangi pembabatan hutan dan pengelolaan industri.

Langkah ini ditempuh karena semakin tinggi pertambahan penduduk semakin tinggi pula gas CO2 yang dibuang di udara, dengan adanya tumbuhan maka CO2 akan diubah kembali menjadi zat makanan dan gas O2, yang berguna bagi makhluk hidup

CO (Karbon Monoksida )

Busway sebagai alternatif angkutan massa

Mengurangi penggunaan kendaraan bermotor. Seperti di kota Jakarta adanya program 3 in 1 selain untuk mengurangi kepadatan lalu lintas juga meminimalkan penggunaan kendaraan yang akan meningkatkan gas buang khususnya CO. Begitu juga busway, dengan bus semacam itu orang tidak perlu menggunakan kendaraan pribadi.

NO dan NO2


catalitik converter pada knalpot

Memasang pengubah katalitik (catalitik converter) pada knalpot kendaraan.

Fungsi dari katalitik ini adalah sebagai penyaring sebelum gas buang keluar dari knalpot.

SO2 dan SO3

Cerobong asap pabrik

Pengaturan penggunaan bahan bakar batubara dan minyak bumi.

Pabrik sebagai penyumbang gas buang SOx yang tinggi harus melakukan pengawasan pada limbah yang dihasilkan. Saat ini ada badan dunia yang mengatur tentang baku mutu produksi apakah sudah memperhatikan lingkungannya atau belum yaitu dengan adanya sertifikat ISO.

Pb

Stiker kampanye bensin tanpa timbel di SPBU

Mengurangi penggunaan senyawa timbel pada bensin. Diseluruh dunia saat ini sedang mengurangi penggunaan bahan bakar (premium, pertamax, solar) yang mengandung timbel.

Langkah lain yang ditempuh adalah memproduksi mobil yang ramah lingkungan, yaitu menggunakan mesin dengan bahan bakar gas. Bahkan di Jepang telah dibuat mobil yang mempunyai hasil buangan berupa air.

CFC
Stiker kampanye bebas CFC

Mengurangi penggunaan produk-produk yang mengandung CFC seperti cat semprot, hairspray, pendingin ruangan (AC) dan memilih produk yang non CFC.

Produk-produk yang ramah lingkungan biasanya mencantumkan label non CFC pada barang yang dijualnya.

I. 7(TUJUH) Pencemar Utama Dalam Kehidupan

7 pencemar utama terdiri dari Partikulat, Sulfur Dioksida (SO2), Ozone, Karbon monoksida (CO), Nitrogen Dioksida (NO2), Hidrokarbon (HC) dan Timbal (Pb).

I.1. Hujan Asam

Hujan asam merupakan istilah umum untuk menggambarkan turunnya asam dari atmosfer ke bumi. Sebenarnya turunnya asam dari atmosfer ke bumi bukan hanya dalam kondisi “basah” tetapi juga “kering”. Sehingga dikenal pula dengan istilah deposisi (penurunan/pengendapan) basah dan deposisi kering.

Deposisi basah mengacu pada hujan asam, kabut dan salju. Ketika hujan asam ini mengenai tanah, ia dapat berdampak buruk bagi tumbuhan dan hewan, tergantung dari konsentrasi asamnya, kandungan kimia tanah, buffering capacity (kemampuan air atau tanah untuk menahan perubahan pH), dan jenis tumbuhan/hewan yang terkena.

Deposisi kering mengacu pada gas dan partikel yang mengandung asam. Sekitar 50% keasaman di atmosfer jatuh kembali ke bumi melalui deposisi kering. Kemudian angin membawa gas dan partikel asam tersebut mengenai bangunan, mobil, rumah an pohon. Ketika hujan turun, partikel asam yang menempel di bangunan atau pohon tersebut akan terbilas, menghasilkan air permukaan (runoff) yang asam.

Angin dapat membawa material asam pada deposisi kering dan basah melintasi batas kota dan negara sampai ratusan kilometer.  Menurut para ahli, bahwa SO2 dan NOx merupakan penyebab utama hujan asam. Hujan asam terjadi ketika gas-gas tersebut di atmosfer bereaksi dengan air, oksigen, dan berbagai zat kimia yang mengandung asam. Sinar matahari meningkatkan kecepatan reaksi mereka. Hasilnya adalah larutan Asam Sulfat dan Asam Nitrat (konsentrasi rendah).

Untuk mengukur keasaman hujan asam digunakan pH meter. Air murni menunjukkan pH 7,0 air asam memiliki pH kurang dari 7 (dari 0-7), dan air basa menunjukkan ph lebih dari 7 (dari 7-14). Air hujan normal memang agak asam, pH sekitar 5,6 karena karbon dioksida (CO2) dan air bereaksi membentuk carbonic acid (asam lemah). Jika air hujan memiliki pH dibawah 5,6 maka dianggap sudah tercemari oleh gas mengandung asam di atmosfer. Hujan dikatakan hujan asam jika telah memiliki pH dibawah 5,0. Makin rendah pH air hujan tersebut, makin berat dampaknya bagi mahluk hidup.

I.2. Penipisan Lubang Ozon

Ozon di lapisan atas (lapisan stratosfer), terbentuk secara alami, dan melindungi bumi. Namun zat kimia buatan manusia telah merusak lapisan tersebut, sehingga menimbulkan penipisan lapisan ozon.

Zat kimia itu dikenal dengan ODS (ozone-depleting substances), diantaranya chlorofluorocarbons (CFCs), hydrochlorofluorocarbons (HCFCs), halons, methyl bromide, carbon tetrachloride, dan methyl chloroform. Zat perusak ozon tersebut sebagian masih digunakan sebagai bahan pendingin (coolants), foaming agents, pemadam kebakaran (fire extinguishers), pelarut (solvents), pestisida (pesticides), dan aerosol propellants.

Kloroflorokarbon atau Chlorofluorocarbon (CFC) mengandung klorin (chlorine), florin (fluorine) dan karbon (carbon). CFC ini merupakan aktor utama penipisan lapisan ozon. CFCs sangat stabil di troposfer. CFCs yang paling umum adalah CFC-11, CFC-12, CFC-113, CFC-114, dan CFC-115. Potensi merusak ozon dari CFC tersebut secara berurutan adalah 1, 1, 0.8, 1, dan 0.6.

Di udara, zat ODS tersebut terdegradasi dengan sangat lambat. Bentuk utuh mereka dapat bertahan sampai bertahun-tahun dan mereka bergerak melampaui troposfer dan mencapai stratosfer. Di stratosfer, akibat intensitas sinar ultraviolet matahari, mereka pecah, dan melepaskan molekul chlorine dan bromine, yang dapat merusak lapisan ozon. Para peneliti memperkirakan satu atom chlorine dapat merusak 100.000 molekul ozon.

Walaupun saat ini zat kimia perusak lapisan ozon telah dikurangi atau dihilangkan penggunaannya, namun penggunaannya di waktu yang lampau masih dapat berdampak pada perusakan lapisan ozon. Penipisan lapisan ozon dapat diteliti dengan menggunakan satelit pengukuran, terutama di atas kutub bumi.

Penipisan lapisan ozon pelindung akan meningkatkan jumlah radiasi matahari ke bumi yang dapat menyebabkan banyak kasus kanker kulit, katarak, dan pelemahan sistem daya tahan tubuh. Terkena UV berlebihan juga dapat menyebabkan peningkatan penyakit melanoma, kanker kulit yang fatal. Menurut US EPA, sejak 1990, resiko terkena melanoma telah berlipat dua kali.

Ultraviolet dapat juga merusak tanaman sensitif, seperti kacang kedelai, dan mengurangi hasil panen. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa fitoplankton di laut, yang merupakan basis rantai makanan di laut, telah mengalami tekanan akibat ultraviolet. Tekanan ini dapat berdampak pada manusia berupa terpengaruhinya pasokan makanan dari laut.

Isu penipisan lubang ozon telah dijadikan isu internasional  oleh Badan PBB untuk Lingkungan Hidup,  United Nations Environment Programme (UNEP), sejak tahun 1987. Sebuah protokol konvensi, dikenal dengan Montreal Protocol, mengajak negara yang telah menandatangani konvensi tersebut untuk menghapus produksi CFC secara bertahap pada 1 Januari 1996. Jika upaya ini berhasil maka lapisan ozon akan kembali normal pada tahun 2050.

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Udara yang kita hirup merupakan kebutuhan pokok kita sebagai manusia. Untuk memperolehnya pun kita tidak perlu membeli, coba Anda bayangkan orang yang sedang sakit parah di rumah sakit dan memerlukan bantuan tabung oksigen, berapa besar biaya yang harus dia keluarkan untuk memperolehnya.

Kita wajib menjaga kesehatan di sekitar kita dengan memperhatikan hasil dari segala bentuk kegiatan kita sehari-hari apakah berkendaraan atau kegiatan lain yang menghasilkan gas buang. Maukah kemana-mana kita memakai masker seperti ini (Pada Gambar).

Kata orang bijak mencegah lebih baik dari pada mengobati.


II. Saran

Setelah kami membuat karya tulis ini, kami dapat memberikan saran, sebagai berikut :

DAFTAR PUSTAKA

A Look Ahead: Year 2020: Proceedings
of the Conference on Long-Range Trends
for the Nation’s Highway and Public
Transit Systems. Washington, D.C.: Transportation Research Board, 1988.

Jasiman Ahmad, Eddiplex Sdn. Bhd. 1996: Pencemaran Alam Sekitar, Siri Pencemaran Alam.

 Henry, Glynn Henry, and Heinke, Gary W., Environmental Science and Engineering. New York, Prentice Hall Int. Ed., 1996

 Peavy, Rowe, and Tehobanoglous, Environmental Engineering : Ang Introduction,New York, Prentige Hall Int. Ed,., 1986

 Sincero, Areadio P., and Sincero, Gregoria A. Environmental Engineering : A Design Approach, New York, Prentice Hall Int. Ed., 1996.

Drs. Anshory, Irfan. 1996,Kimia SMU 1 Jakarta: Penerbit Erlangga

Fikri, Nurul. Jakarta, 1997. Kimia 3 SMU

Dr. Anto Tri Sugiarto, dan Suherman, M.Si., Virginia Technology

Peneliti Limbah di Pusat Penelitian Kalibrasi Instrumentasi dan Metrologi –LIPI Serpong; Ahli Informasi Teknologi di UPT Balai Infor


 
Leave a comment

Posted by on November 28, 2011 in Environtments

 

Tags: , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: