RSS

POTS (Plain Old Telephone Service)

29 Mar

2.1. POTS (Plain Old Telephone Service)

    Seiring dengan berkembangnya zaman, kebutuhan manusia akan komunikasi semakin berkembang dengan pesat. Salah satunya dengan adanya layanan access data seperti internet dan mobile phone atau selular. Namun, hal tersebut tidak membuat layanan POTS (telepon) menjadi mati, karena layanan tersebut masih sangat efisien, tahan lama dan memiliki kualitas yang baik. Itu semua karena media transmisi yang digunakan memiliki kualitas yang baik juga, yaitu tembaga. Jaringan telepon biasa disebut dengan Jarlokat (Jaringan Local Access Tembaga).

2.1.1. Pengertian POTS (Plain Old Telephone Service)

    POTS (Plain Old Telephone Service) merupakan salah satu layanan yang disediakan oleh PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk, yaitu layanan non data seperi telepon. Telepon merupakan media komunikasi yang sangat dibutuhkan pada masa sekarang ini. Telepon merupakan media komunikasi yang vital bagi manusia. Tanpa media komunikasi, manusia akan sulit untuk bersosialisasi dengan yang lain. Telepon merupakan komunikasi suara/voice yang menggunakan media transmisi kabel tembaga. Tembaga merupakan logam yang baik dalam pentransmisian data dan voice. Selain tembaga ada juga emas, tetapi mengapa emas tidak digunakan? Itu karena harga emas yang mahal, sehingga memerlukan dana yang sangat besar dan kemungkinan dicuri lebih besar dari pada tembaga. Untuk itu digunakan media transmisi yang hemat, efisien, baik dan berkualitas seperti tembaga.

    Untuk Pasang Baru (PSB) telepon ditentukan berdasarkan pioritasnya terdapat empat kategori pelanggan, yaitu pelanggan Platinum dengan lama waktu PSB 6 jam, pelanggan Gold dengan lama waktu PSB 12 jam, pelanggan Silver dengan lama waktu PSB 24 jam dan pelanggan Standart dengan lama waktu PSB 48 jam. Namun, biasanya para petugas mempunyai target yang berbeda. Mereka mempunyai target lebih cepat dari pada yang telah ditentukan. Hal itu dikarenakan untuk meningkatkan performansi jaringan yang sudah ada tersebut.

2.1.2. Konfigurasi Jaringan Telepon


Gambar konfigurasi jaringan telepon

    Konfigurasi jaringan telepon tersebut adalah sederhana. Dari gambar tersebut dapat diperoleh bahwa konfigurasi jaringan telepon mulai dari MDF (Main Distribution Frame) sampai pelanggan (pesawat telepon) melalui kabel primer, RK (Rumah Kabel), kabel sekunder, KP/DP (Kotak pembagi/Distribution Point), Drop Wire/saluran penanggal, KTB (Kotak Terminal Batas), kabel rumah dan soket/roset.

    Jarlokat yang digunakan terbagi menjadi dua macam, yaitu jaringan catu langsung dan tidak langsung. Jaringan catu langsung adalah pelanggan langsung dicatu dari Kotak Pembagi (KP)/Distribution Point (DP) terdekat yang langsung terhubung dengan MDF tanpa melalui Rumah Kabel (RK), sedangkan catu tidak langsung adalah pelanggan dicatu dari KP terdekat yang terlebih dahulu terhubung ke RK, setelah itu dihubungkan ke MDF dengan kabel primer. Daerah catuan untuk Daerah Catu Langsung (DCL) adalah daerah yang dekat dengan sentral hingga jarak 500 meter, sedangkan untuk daerah yang tidak catu langsung adalah daerah yang pelanggannya tersebar dan jauh dari sentral, yaitu di atas jarak 500 meter.

2.1.3. Instalasi Jaringan Telepon

    MDF (Main Distribution Frame) merupakan Rangka Pembagi Utama (RPU), maksudnya adalah bahwa di dalam MDF itu terdapat pembagian antara blok terminal horizontal dan blok terminal vertikal. Blok terminal horizontal merupakan tujuan dari sentral yang berupa EQN (Equipment Number), sedangkan blok terminal vertikal merupakan struk yang mengarah ke pelanggan, yaitu berupa struk primer. Pada rak MDF terdapat jumper wire yang memiliki sifat fleksibelitas, artinya dapat di diubah-ubah jika memang diharuskan untuk mengganti catuan. Jumper wire yang digunakan pun berbeda antara jumper pada struk EQN/horizontal dengan jumper wire pada struk primer/vertikal. Hal itu dilakukan untuk memberi kesan estetika dan mudah dalam menginstalasi jaringan pada MDF tersebut. Di bawah MDF terdapat cable chamber yang berfungsi sebagai tempat bermuaranya kabel primer ke arah pelanggan, yaitu RK. MDF juga merupakan tempat pengetesan saluran.

    Kabel primer merupakan penghubung antara MDF dengan RK. Kapasitas kabel primer yaitu 400 pair sampai dengan 2400 pair. Kabel primer yang digunakan dapat KTTL, maupun kabel duct.

    RK merupakan sebuah kotak besar yang sering terlihat di pinggir jalan yang biasanya berwarna abu-abu dengan penamaan RK, misalnya RAA Sunter. Hal itu berarti bahwa kotak tersebut merupakan RK RAA dari STO Sunter. Kapasitas RK antara lain 800 pair, 1600 pair dan 2400 pair. Dengan struk yang digunakan terdapat dua tipe, yaitu Krone atau Quante. Jenis Krone merupakan jenis RK dengan struk tekan sisip, sedangkan Quante merupakan jenis RK dengan struk solder secrew. RK juga merupakan tempat pengetesan saluran.

    Kabel sekunder merupakan penghubung antara RK dengan KP/DP. Kapasitas kabel sekunder yaitu 10 pair sampai dengan 200 pair. Kabel sekunder dapat dipasang baik di atas tanah, maupun di bawah tanah.

    KP/DP merupakan permutasian dari sebuah kabel sekunder menjadi beberapa kabel Drop Wire. KP/DP menghubungkan antara kabel sekunder dengan saluran penanggal atau drop wire. KP/DP juga merupakan tempat pengetesan saluran.

    Drop wire merupakan kabel saluran penanggal yang mempunyai panjang maksimal 250 meter untuk mencatu ke KTB pelanggan. Kapasitasnya yang biasa digunakan untuk mencatu ke pelanggan adalah satu pair.

    KTB merupakan Kotak Terminal Batas pada pelanggan. KTB merupakan sebuah kotak kecil yang biasanya berwarna abu-abu dan hitam. Dari KTB kabel drop wire yang telah mendapat catuan tersebut di KTB diinstalasi di dalam rumah pelanggan, yaitu dengan memperhatikan IKR atau IKGnya.

    Kabel rumah merupakan kabel instalasi dari KTB yang harus dipasang dalam keaadan yang baik. Biasanya untuk kabel di luar gedung menggunakan drop wire karena lebih tahan lama, tahan dari hujan dan tahan panas, sehingga tidak mudah terjadi noise pada kabel tersebut, karena jika menggunakan kabel UTP, maka gangguan akan cepat terjadi karena beberapa faktor seperti hujan, panas, suhu dan lain-lain yang dapat membuat performansi kabel menurun dengan cepat. Maka lebih baik untuk IKR yang berada di luar gedung menggunakan kabel drop wire, sedangkan di dalam gedung menggunakan kabel UTP. Dari kabel UTP tersebut masuk ke dalam soket, dimana output dari soket tersebut berupa RJ-11 dan langsung masuk ke RJ-11 pesawat telepon.

    Pesawat telepon merupakan terminal terakhir dalam jaringan telepon. Pesawat telepon harus dijaga dengan baik agar performansinya dapat bertahan. Jadi, dalam melakukan instalasi jaringan telepon, yaitu dengan cara mengkoneksikan semua komponen atau perangkat pada jarlokat.

2.1.4. Gangguan Telepon

    Gangguan merupakan makanan sehari-hari bagi para petugas lapangan di PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk. Setiap hari pasti selalu terjadi gangguan. Gangguan yang terjadi biasanya atas pengaduan pelanggan ke 147. Pengaduan ke 147 disimpan dalam status RE (regional), setelah sampai pada data SISKA MDF statusnya berubah menjadi DI, yaitu Divre (Divisi Regional). Penanganan gangguan yang terjadi akan tampil pada komputer SISKA (Sistem Informasi Kastemer). Prioritas penanganan gangguan juga dibagi menjadi empat kategori pelanggan, yaitu pelanggan Platinum dengan lama waktu penanganan 6 jam, pelanggan Gold dengan lama waktu penanganan 12 jam, pelanggan Silver dengan lama waktu penanganan 24 jam dan pelanggan Standart dengan lama waktu penanganan 48 jam. Namun, biasanya para petugas mempunyai target yang berbeda. Mereka mempunyai target lebih cepat dari pada yang telah ditentukan. Hal itu dikarenakan untuk performansi jaringan yang sudah ada tersebut. Setelah diketahui terdapat gangguan, maka langsung diatasi dengan melakukan :

  • Pencarian data teknis (datek) pada komputer SISKA, yaitu dengan langkah-langkah sebagai berikut.
    • Masuk ke program Tinyterm Emulator yang merupakan program SISKA, lalu pilih komersial > inquiry_Laporan > inq_Dossier, lalu tekan Enter.

    Gambar langkah pertama mencari datek pelanggaan

  • Setelah itu akan muncul form kosong Inquiry Dossier.
  • Setelah itu masukkan data yang valid yaitu pada DN masukkan nomor teleponnya dengan kode 021nya, contoh DN : 0216679427, kemudian tekan Enter. Akan muncul kotak dialog Inquiry Dossier yang telah terisi.

  • Pilih Karakteristik Dossier, lalu tekan Enter. Akan muncul kotak dialog Karakteristik Dossier. Karakterisitik Dossier dilakukan untuk melihat nomor migrasi dan contact person pelanggan. Catat nomor migrasi dan contact person pelanggan.
  • Cari Alamat Instalasi dengan menggunakan panah bawah ( ), lalu tekan Enter. Akan muncul kotak dialog Alamat Instalasi yang berisi tentang data-data alamat pelanggan secara jelas. Catat data-data pelanggan tersebut.
  • Setelah itu cari menu Fasilitas Jaringan, lalu tekan Enter. Akan muncul kotak dialog Enquiry Fasilitas Jaringan sebagai beikut.
  • Catat datek (data teknis) yang terdapat dalam kotak dialog Enquiry Fasilitas Jaringan. Contohnya,

    0216679427    P-32/345    S-3/180    RBS-39/10

    MKR F4 U-10    CP : Jessica 0819325667    DLU 7-1-10-7-2

  • Setelah diketahui dateknya, lakukan pengecekkan EQN. Dapat dilakukan pada komputer SLIM, yaitu dengan langkah-langkah sebagai berikut.
    • Ketik 499 untuk merelease, sehingga pada monitor muncul CMD<499 release. Hal itu dilakukan untuk merefresh data-data yang sebelumnya di download dengan komputer Slim tersebut
    • Ketik 401,<nomor telepon tanpa 021>. Contoh, ketik 401,6679427, sehingga pada monitor akan muncul CMD<401,6679427
    • Kemudian akan muncul nomor EQN yang dimaksud
    • Pengecekan pada MDF. Gangguan yang terjadi biasanya terletak pada jumper wire yang menghubungkan antara blok terminal vertikal (struk primer) dengan blok terminal horizontal (struk EQN). Lakukan pengecekan pada blok-blok terminal tersebut berdasarkan datek yang tersedia. Dalam pengecekan pada blok-blok terminal tersebut biasanya terjadi beberapa kendala, seperti :
    • Perbedaan antara datek yang tersedia dengan datek pada lapangan. Hal ini biasa terjadi karena kelalaian petugas lapangan untuk melaporkan hasil omzetannya ke petugas Advaljar, sehingga datek sebelum dan sesudah pengomzetan tidak valid. Ketidakvalidan ini dapat diketahui dari pengetesan saluran dengan micro tester, yaitu dengan melakukan call test pada 141, lalu akan terdengar nomor telepon/nomor migrasi yang ditumpangi. Bila terjadi perbedaan nomor telepon, maka datek tersebut tidak valid dan harus dilakukan penelusuran dengan menggunakan tone tester (trester). Setelah ditemukan klemnya, lakukan pengecekan dengan micro tester. Bila ada tone atau tidak dan nomor migrasinya tidak valid, maka harus ditelusuri ulang sampai ditemukan klem yang valid. Cek pada struk EQN, bila tidak ada tone berarti gangguan pada sentral, sedangkan bila ada tone maka gangguan bisa pada jumper wire atau jaringan ke pelanggannya. Setelah di cek pada jumper wire melalui struk primer, bila tidak ada tone coba terminasi ulang dan jika setelah diterminasi ulang tetap tidak ada tone, maka langkah yang tepat dan efisien adalah dengan mengganti jumper wire yang lama. Namun, bila ada tone berarti gangguan terdapat pada jaringan ke pelanggannya seperti kabel primer dan seterusnya.
    • Lalu lakukan pengecekan pada RK. Jika pada RK tidak ada tone, maka gangguan terdapat pada kabel primer dan harus dilakukan pengomzetan, yaitu mengganti saluran/klem lama yang sudah tidak baik (KSR/Kosong Rusak) digunakan dengan saluran/klem yang baik digunakan (KSB/Kosong Baik). Setelah dilakukan pengomzetan dan ada tone, maka segera hubungi nomor pelanggan yang bersangkutan tentang status jaringan teleponnya. Jika sudah O.K. segera laporkan hasil pengomzetan ke Advaljar (4371100 atau 4371200 atau 4356400), sedangkan jika belum O.K. lakukan pengetesan pada rumah pelanggan.
    • Di rumah pelanggan, lakukan pengetesan pada KTB, jika ada tone berarti gangguan terjadi pada IKRnya, namun jika tidak ada tone kemungkinan gangguan terjadi antara kabel sekunder, KP/DP atau saluran penanggal/drop wire. Lakukan pengetesan pada KP/DP. Jika ada tone berarti gangguan terletak pada drop wirenya. Penanganannya dengan pencarian letak kabel drop wire yang putus, lalu lakukan penyambungan dengan sarana sambung urat kabel. Dapat berupa B’wire, termopit ataupun lem tembak. Jika untuk diluar gedung lebih baik menggunakan lem tembak yang dilelehkan, lalu dililitkan pada sambungan urat kabel. Pastikan semua sisi tertutup oleh lem tembak. Namun jika pada KP tidak ada tone, maka langkah yang paling tepat adalah lakukan pengomzetan sekunder. Setelah itu lakukan pengetesan ulang pada KTB pelanggan. Bila sudah ada tone maka lakukan pengecekan pada IKRnya. Tanggung jawab PT. Telkom hanya sebatas jaringan hingga KTB saja, sedangkan untuk KTB dan seterusnya adalah tanggug jawab pelanggan. Namun, sebagai petugas harus melaksanakan penanganan gangguan hingga selesai. Lalu lakukan pengecekan pada soket bila tidak ada tone berarti kabel IKR (Instalasi Kabel Rumah) atau IKG (Instalasi Kabel Gedung) yang ke dalam sebelum soket terdapat gangguan. Penanganannya dengan mencari letak gangguan yang biasanya itu karena ada urat kabel yang putus. Lebih efisin jika pelanggan mengganti kabel IKRnya. Namun, jika ada tone pada soket, maka kemungkinan gangguan terjadi pada koneksi pesawat teleponnya atau bahkan mungkin pesawat teleponnya sendiri yang rusak. Penanganannya dengan menentukan letak kerusakan yang benar setelah seluruh koneksi dipastikan O.K. dan menyarankan pelanggan apa yang seharusnya dia lakukan. Lalu laporakan ke petugas Oplang.

****

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: