RSS

Category Archives: Cerita

FAMODYA END (Part 16)

“Bi, gimana kabar Adya?” Tanya Tyas yang datang untuk menengok Adya bersama Bagas dan Keira.

“Non Adya?” Tanya bi Nana bingung. “Non Adya bukannya masuk sekolah Non?”

Sekolah?” Tanya serentak dari Bagas, Keira dan Tyas kaget. “Nggak.”

“Tadi jam setengah tujuh udah berangkat dari rumah Non. Pake baju seragam juga, bawa mo…” belum selesai bi Nana bicara, Adya sudah tiba didepan rumahnya. “Itu Non Adya,” sambung bi Nana.

Keira bingung kenapa jam empat sore baru pulang sedangkan Adya hari ini tidak masuk sekolah. “Adya!” Sapanya. Namun Adya hanya diam dan melengos berjalan menuju kamarnya.

Tyas langsung mengejar Adya. “Adya yang sabar ya,” tuturnya sambil memelukknya dari belakang. “Lo nggak boleh kayak dulu lagi Ad. Gue nggak mau lagi liat lo begini.”

Adya tidak menjawab, dirinya hanya mencoba untuk melepaskan pelukannya Tyas.

“Adya. Bukan lo aja yang sedih, kita juga sedih Ad. Jadi gue mohon lo jangan kayak gini lagi.”

Adya pun tidak kuasa menahan airmatanya. “Biarin gue sendiri Yas!” Seru Adya dengan suara bergetar.

“Nggak mau.”

“Yas!”

“Nggak.” Tyas makin kencang memeluk Adya.

“Buat apa lo disini. Toh lo disini cuma gue omelin doang kan? Mending sekarang kalian semua pergi!” Adya melepaskan pelukan Tyas dan berlari cepat menuju kamarnya meninggalkan Tyas yang masih menangis tersedu-sedu.

“Gue nggak mau ngeliad Adya terus-terusan begini Ke. Minggu depan udah UAN,” tutur Tyas yang iba dengan keadaan Adya.

“Gue yakin Adya bisa kok ngadepin UAN.” Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on September 17, 2011 in Cerita, Famodya

 

Tags: , , , , , , , , , , , ,

FAMODYA (Part 15)

“Hai!” Sapa Adya sumringah setelah kekasihnya Lefard menjemputnya untuk berangkat sekolah bareng. Lefard hanya menarik senyumnya tipis sehingga membuat Adya bertanya penasaran. “Kenapa sih, kayaknya nggak mood gitu? Nggak seneng ya bareng sama gue?

Huft..dasar cewek sensitive aja bawaannya, gumam Lefard kesal dalam hati.

“Gue bisa kok berangkat sendiri,” ketus Adya dan berlalu dari hadapan Lefard. Hehehe…pasti sebentar lagi dia ngejar gue, satu…dua…ti…tukasnya iseng dalam hati. Dan ternyata benar, belum sampai hitungan ketiga Lefard sudah berada didepan tubuhnya dan dengan cepat menggapai tangannya untuk tetap naik kemotornya. Adya meringis kecil. Hahaha, pagi-pagi udah bisa ngeliat orang ngambek, tukasnya dalam hati. Sampai diatas motorpun Lefard masih bersikap diam kepadanya. “Lo Kenapa sih?” Teguran setengah kesal terlontar dari mulut Adya.

Bruak, Adya melempar tas ranselnya diatas meja duduknya.

Keira yang melihatpun kaget dan lekas menghampirinya. “Kenapa lo Ad?”

“BT.” Jawab Adya singkat.

“Pagi-pagi udah BT?”

“Sama temen lo tuh?”

Keira mengerutkan kedua alisnya. “Temen? Temen yang mana?” Tanyanya bingung.

Belum sempat Adya menjawab pertanyaan Adya, Lefard tiba tepat didepan pintu kelasnya. Adya pun berdiri dari tempat duduknya dan pergi menjauhi Lefard.

Sekali lagi Keira melihat tingkah laku Adya bingung. “Kenapa sih si Adya?” Tanyanya balik ke Lefard. Dan Lefard hanya menjawab dengan menaikkan pundaknya. Read the rest of this entry »

 
1 Comment

Posted by on September 17, 2011 in Cerita, Famodya

 

Tags: , , , , , , , , , , ,

FAMODYA (Part 14)

“Males banget deh gue pagi-pagi udah belajar persilangan,” gerutu Keira yang tiba-tiba duduk disamping tempat duduk Adya.

“Emang kenapa? Bukannya lo bisa ngerjain materi persilangan?” Tanya Adya.

“Ya emang bisa, tapi males aja, pagi-pagi udah diawali dengan pelajaran ribet. Mentang-mentang materinya masuk UAN jadi sarapan tiap hari deh sama 6 pelajaran itu,” sambung Keira dengan paras yang masih malas.

Adya menghembuskan nafasnya pelan. “Bukannya materinya udah selesai ya?”

“Emang iya?”

“Iya. Emang minggu kemaren lo kemana? Makanya kalo guru lagi ngejelasin itu diperhatiin!”

“Terus sekarang kita belajar materi apa?”

“Eksperimen jamur.”

“Yah, berarti nanti ke lab dong. Duh gue nggak bawa jas putih, gimana dong Ad?” tutur Keira panik.

“Ye…udah panik aja sih lo Ke. Kita belajar teori dulu.”

“Oh…gitu ya, huft… syukur deh,” tanggap Keira lega.

“Ehm…” daham lefad dari belakang tubuh Keira. Adya yang melihat hanya senyum tersipu. “Misi dong! Orang yang duduk disini mau duduk,” tutur Lefad yang posisinya masih tetap dibelakang tubuh Keira.

Keira yang mendengar teguran itu kini memalingkan kepalanya kebelakang. “Huh.” Keira mencibirkan bibirnya.

“Ayo kembali ketempat asal!” sambung Lefard sambil memencandai Keira.

Keira langsung berdiri dari duduknya. “Huh, dasar leher kuya, nggak bisa liat orang seneng aja!” balas Keira sebal dan berjalan ketempat duduknya sendiri.

Wah, pake ngatain segala. Eh Ke, yang boleh ngatain gue leher kuya tuh cuma Adya tau. Jadi kalo lo juga ikut ngatain gue…” ancam Lefard sambil berlari kecil mengejar Keira.

Keira berlari cepat ketempat duduknya sambil teriak.

***

“Bukannya waktu kelas dua kita udah pernah praktek liat jamur tempe ya, kok sekarang tugas kita itulagi sih?” tutur Keira yang memprotes tugas yang diberikan guru biologi kepada kelas mereka.

“Iya. Bedanya, waktu itu kita langsung ngamatin tempe yang udah jadi. Kalo tugas sekarang kan kita mesti bikin tempenya dulu,” jawab Adya.

“Tapi untungnya kita satu kelompok ya,” sambung Lefard yang juga sejajar berjalan bersama Adya dan Keira juga Bagas di koridor sekolah.

“Duh senengnya yang bisa satu kelompok sama gue,” sambung Adya meledek kekasih barunya itu.

Lefard secepat kilat mencibirkan bibirnya. “Hah? Gue tarik omongan gue,” balasnya kepada Adya.

Adya masih tertawa melihat ekspresi malu wajah kekasihnya tersebut. “Tyas mana ya, kok jam segini belum keluar,” tutur Adya mengalihkan pembicaraan.

Biar gue telpon aja Ad.” Keira mengambil ponselnya dan menelpon sahabat yang paling cerewet tersebut.

“Halo,” jawab Tyas sangat tak bersemangat dari seberang.

“Dimana lo?”

Masih dikelas.”

Keira menengok jam tangannya. “Bukannya ini udah waktunya pulang, kok lo masih dikelas? Tumben lo betah.”

“Ck,” tanggap Tyas kesal.” Nggak ditelpon, nggak ketemu langsung, selalu aja lo cuma bisa ngeledek gue.”

Keira menanggapinya dengan tertawa.

“Ye…malah ketawa. Kalian pada pulang duluan aja! Gue ada pendalaman materi dadakan dari bu Sonya,” tutur Tyas masih kesal karena tiba-tiba guru sosiologinya menanbah sesi mengajarnya dengan alasan pendalaman materi.

“OK deh, kita lagi pada mau kerumah Lefard buat ngerjain tugas biologi, kalo lo mau nanti nyusul ya. Kita tunggu disana.”

“Diusahain deh.” Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on September 17, 2011 in Cerita, Famodya

 

Tags: , , , , , , , , , ,

FAMODYA (Part 13)

“Lho Non Adya mau kemana?” Tanya bi Nana yang kaget melihat Adya mengenakan pakainan abu-abu padahal keadaannya belum sehat betul.

“Iya Bi,” jawab Aya singkat sambil mengambil dua lapis roti tawar dimeja makan.

Bi Nana dengan cepat mendekati Adya. Dilihatnya wajah majikannya tersebut, sangat terjaga.

Adya mengernyitkan dahinya. “Kenapa Bi?” Tanya Adya bingung.

Bi Nana masih terjaga memandangi majikannya tersebut sambil melongo. “Emang Non Adya udah sembuh?”

“Ya liat aja sendiri!”

“Hah?”

 Respon bi Nana heran. “Non, bibi nggak salah liat kan?” Bi Nana berbalik Tanya kepada Adya dengan nada bingung.

“Kenapa sih Bi?”

Bi Nana meletakkan telapan tangannya di atas dahi Adya. “Muka Non Adya aja masih pucet dan badan Non Adya aja masih anget, kok ngotot mau berangkat kesekolah sih Non, nanti kalo sakitnya tambah parah gimana? Kalo sampe nggak sembuh dan akhirnya dirawat dirumahsakit ginama Non, terus…”

Belum sempat bi Nana melanjutkan omongannya, Adya dengan cepat memotongnya. “Aduh bi Nana nih lebay banget deh, Adya udah baikan kok. Ini cuma anget-anget doang, paling nanti siang udah stabil,” protesnya.

“Tap…”

“Ih…yaudah deh Bi, tenang aja sama Adya,” potong Adya untuk memastikan kepada bi Nana bahwa dirinya baik-baik saja. “Yaudah ya Bi, Adya berangkat sekolah dulu ya. Dah!” Pamit Adya setelah melahap habis satu lapis roti dan segelas susu coklat.

“Non hati-hati ya!” teriak bi Nana melihat majikan muda perempuannya berlari kecil menuju garasi mobil jeep hijau milik Abay.

Jeep Adya melaju kencang menuju sekolah Tira Palawa. Butuh waktu perjalanan 25 menit perjalanan dari rumah Adya sampai kesekolahannya dengan mengendarai mobil. Sesampainya disekolah, Adya langsung memarkirkan mobilnya dan berjalan cepat menuju kelasnya. Dengan jarak kurang dari 10 meter Adya melihat Keira, Lefard dan Tyas baru saja turun dari tangga dan menuju kantin. Adya dengan cepat berlari untuk mengejar mereka. “Kiera!!!” panggil Adya. Namun dengan keadaan Adya yang kurang sehat maka suara yang dikeluarkannya begitu pelan sehingga suara Adya pun tidak terdenga oleh Lefard, Keira dan Tyas. “Keira!!!” Adya memanggil sekali lagi berharap salah satu dari mereka mendengar panggilan keduanya, namun langkahnya tiba-tiba tertatih dan pandangannya mulai berkunang-kunang. Aduh kepala gue sakit banget ya, gumamnya. Tanpa sadar tubuhnya sudah jatuh tergeletak tepat didepan tangga. Anak-anak lain yang melihat Adya pingsan segara bergegas menolongnya. Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on September 17, 2011 in Cerita, Famodya

 

Tags: , , , , , , , , , , , ,

FAMODYA (Part 12)

“Lo jahat Bay!”

“Lo salah paham Ad,” Abay mencoba berbicara kepada Adya.

“Lo nggak ada bedanya sama Bunda.”

“Ad, gue sebenernya mau ngomong ini udah lama. Tapi dengan keadaan lo yang kemaren-kemaren, apa iya gue harus kasih tau lo?”

“Gue nggak apa-apa kok. Silahkan lo pergi nyusul Bunda!” Adya kemudian lari dengan cepat kekamarnya.

 “Ad!” fia ikut mengejar Adya.

“Diam disana! Nggak usah ikut-ikutan deh Ka! Dasar, sama aja busuknya. Ketus Adya lalu mengunci kamarnya. Adya melemperkan tubuhnya ke tempat tidurnya sambil menangis. Beriringan dengan hal itu ponsel Adya berdering. Adya menengok siapa orang yang telah menghubunginya disaat ia sendu seperti ini.  “Hallo!” sahut Adya datar setelah mengetahui orang yang menghubunginya ialah Lefrad.

“Udah sampe rumah?”

“Udah,” jawab Adya dengan suara bergetar.

Lefard menanggapi suara Adya dari seberang. “Kok suara lo aneh ya Ad?”

Adya tidak menjawab, dirinya hanya menarik nafas sehingga bunyi air yang ada didalam hidungnya terdengar oleh Lefard.

“Lo lagi nangis?” Tanya Lefard.

Adya mengulang dengan tidak menjawab pertanyaan Lefard.

“Kenapa Ad? Cerita dong!” Lefard terus berupaya.

“Gue lagi nggak suka dengan keluarga gue Le.” Akhirnya Adya menjawab pertanyaan Lefard dengan nada datar.

Soory, tapi kalo gue boleh tau, ada apa Ad?” Lefard mencoba membujuk Adya untuk bercerita.

“Gue diboongin,” tutur Adya sambil bangun dari posisi telengkupnya. “Nggak enak kalo diomongin di telepon, kita ke tempat itu yuk!” Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on September 17, 2011 in Cerita, Famodya

 

Tags: , , , , , , , , , , ,

FAMODYA (Part 11)

Hah…Adya? Mana? Keira bertanya-tanya dalam hati. Dengen spontan kepalanya mengarah ketempat duduk Adya. Begitu melihat Adya duduk manis disana, mata Keira terbelalak dan mulutnya melongo, dirinya kaget bukan kepalang. “Adya!!!” teriak histeris Keira. Keira yang sebelumnya menjijing tas, sekarang tas yang dijinjingnya spontan dilempar kemejanya. Apa yang sebelumnya Keira katakana di area parkir terbukti dilakukannya dengan semangat. Keira lari ketempat duduk Adya, memandanginya sebentar kemudian menjitak kepala Adya.

“Auw…,sakit tau!” Respon Adya merasakan sakitnya jitakkan Keira.

Keira tidak memperdulikan komentar Adya, dirinya secepat kilat memeluk tubuh Adya erat-erat. “Mak erot apa kabar lo?” Gue kangen banget sama lo!

“Iya..iya kabar gue baik,” jawab Adya sambil mengambil nafas panjang karena sesak dipeluk Keira.

“Ih…gue kangen buanget deh sama lo Ad,” Keira mengulang kebahagiannya sambil masih memeluk Adya dengan erat.

“Iya…iya…uhuk…uhuk aduh jangan kenceng-kenceng, sesek nih nafas gue”

“Bodo…bodo…bodo…pokoknya gue kangen banget sama lo Mak erot!”

“Aduh…uhuk…uhuk…” respon Adya yang sekarang batuk-batuk. “Iya…iya…tapi lepasin dulu pelukan lo jangan kenceng-kenceng gini!”

“Hm…akhirnya lo masuk juga. Tunggu! Lo jangan kemana-mana, gue mau hubungin Tyas dulu.” Keira mengambil ponselnya dan cepat-cepat menghubungi Tyas. “Adya udah masuk. Cepetan kekelas gue!” Seru semangat keira setelah terhubung dengan Tyas.

 “Hua…my cuiti-cuitiku Adya!!!” Sapa Tyas ketika memasuki kelas XII IPA I. seperti halnya Keira, Tyas lari cepat-cepat mendekati Adya, setelah mendekat, tangan jailnya bekerja. Kini giliran rambut Adya yang dijambak-jambak oleh Tyas.

“Auw….” Respon Adya panjang kesakitan.

“Adya……kangen….” Tutur Tyas setelah memeluk Adya erat-erat.

“Iya…iya…tapi lepas Yas, sesek nih!” mohon Adya yang merasakan sesaknya untuk bernafas dua kali.

“Uh…, lo kok nggak bilang-bilang sih masuk sekolah hari ini? Kan seharusnya lo bilang, kita kan bisa prepare buat menyambut lo,” tukas Tyas.

“Ih, lebay banget sih lo!” Jawab Adya. “Emang lo kira gue presiden pake disambut-sambut?”

Bel masuk berbunyi.

“Ya ampun…belom jug kita cerita-cerita udal bel aja,” Tyas menggerutu. “Gue kekelas dulu ya. Pelajaranya gurunya killer banget. Nanti aja, istirahat kita kekantin bareng dan cerita-cerita. Okay…okay…dadah..” Tyas pun pamit meninggalkan kelas Adya dan Keira. Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on September 17, 2011 in Cerita, Famodya

 

Tags: , , , , , , , , , , , , , , ,

FAMODYA (Part 10)

Bel rumah Adya berbunyi dan Abay membukakan pintu rumahnya. “Eh akhirnya lo dateng juga. Ayo masuk!” Sapanya kepada si tamu.

Sorry ya agak telat datengnya. Tadi anter Keira kerumanya dulu,” tutur si tamu yang tidak lain adalah Lefard.

“Lo mau minum apa?” Tanya Abay saat berada diruang tamu. Read the rest of this entry »

 
6 Comments

Posted by on August 21, 2011 in Cerita, Famodya

 

Tags: , , , , , , , , ,

 
%d bloggers like this: