RSS

Category Archives: Jaringan Telekomunikasi

Uji Terima Jaringan Lokal Bawah Tanah Sistem Duct (Tahanan Loop, Tahanan Screen, Tahanan Isolasi dan Tahanan Kontinuitas

SKETSA/GAMBAR KERJA

Abis rapihin data-data sebelumnya, ternyata nemu laporan tugas akhir saat di SMK dulu. Judulnya,

Uji Terima Jaringan Lokal Bawah Tanah Sistem Duct P-5/1600″

MDF – RAE STO Meruya

A. SKETSA/GAMBAR RUANG LINGKUP PROYEK

    

B. SKETSA/GAMBAR PERENCANAAN RUTE JARINGAN LOKAL BAWAH TANAH DUCT P-5/1600″ MDF – RAE STO MERUYA

Read the rest of this entry »

 

POTS (Plain Old Telephone Service)

2.1. POTS (Plain Old Telephone Service)

    Seiring dengan berkembangnya zaman, kebutuhan manusia akan komunikasi semakin berkembang dengan pesat. Salah satunya dengan adanya layanan access data seperti internet dan mobile phone atau selular. Namun, hal tersebut tidak membuat layanan POTS (telepon) menjadi mati, karena layanan tersebut masih sangat efisien, tahan lama dan memiliki kualitas yang baik. Itu semua karena media transmisi yang digunakan memiliki kualitas yang baik juga, yaitu tembaga. Jaringan telepon biasa disebut dengan Jarlokat (Jaringan Local Access Tembaga).

2.1.1. Pengertian POTS (Plain Old Telephone Service)

    POTS (Plain Old Telephone Service) merupakan salah satu layanan yang disediakan oleh PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk, yaitu layanan non data seperi telepon. Telepon merupakan media komunikasi yang sangat dibutuhkan pada masa sekarang ini. Telepon merupakan media komunikasi yang vital bagi manusia. Tanpa media komunikasi, manusia akan sulit untuk bersosialisasi dengan yang lain. Telepon merupakan komunikasi suara/voice yang menggunakan media transmisi kabel tembaga. Tembaga merupakan logam yang baik dalam pentransmisian data dan voice. Selain tembaga ada juga emas, tetapi mengapa emas tidak digunakan? Itu karena harga emas yang mahal, sehingga memerlukan dana yang sangat besar dan kemungkinan dicuri lebih besar dari pada tembaga. Untuk itu digunakan media transmisi yang hemat, efisien, baik dan berkualitas seperti tembaga.

    Untuk Pasang Baru (PSB) telepon ditentukan berdasarkan pioritasnya terdapat empat kategori pelanggan, yaitu pelanggan Platinum dengan lama waktu PSB 6 jam, pelanggan Gold dengan lama waktu PSB 12 jam, pelanggan Silver dengan lama waktu PSB 24 jam dan pelanggan Standart dengan lama waktu PSB 48 jam. Namun, biasanya para petugas mempunyai target yang berbeda. Mereka mempunyai target lebih cepat dari pada yang telah ditentukan. Hal itu dikarenakan untuk meningkatkan performansi jaringan yang sudah ada tersebut.

2.1.2. Konfigurasi Jaringan Telepon


Gambar konfigurasi jaringan telepon

    Konfigurasi jaringan telepon tersebut adalah sederhana. Dari gambar tersebut dapat diperoleh bahwa konfigurasi jaringan telepon mulai dari MDF (Main Distribution Frame) sampai pelanggan (pesawat telepon) melalui kabel primer, RK (Rumah Kabel), kabel sekunder, KP/DP (Kotak pembagi/Distribution Point), Drop Wire/saluran penanggal, KTB (Kotak Terminal Batas), kabel rumah dan soket/roset.

    Jarlokat yang digunakan terbagi menjadi dua macam, yaitu jaringan catu langsung dan tidak langsung. Jaringan catu langsung adalah pelanggan langsung dicatu dari Kotak Pembagi (KP)/Distribution Point (DP) terdekat yang langsung terhubung dengan MDF tanpa melalui Rumah Kabel (RK), sedangkan catu tidak langsung adalah pelanggan dicatu dari KP terdekat yang terlebih dahulu terhubung ke RK, setelah itu dihubungkan ke MDF dengan kabel primer. Daerah catuan untuk Daerah Catu Langsung (DCL) adalah daerah yang dekat dengan sentral hingga jarak 500 meter, sedangkan untuk daerah yang tidak catu langsung adalah daerah yang pelanggannya tersebar dan jauh dari sentral, yaitu di atas jarak 500 meter.

2.1.3. Instalasi Jaringan Telepon

    MDF (Main Distribution Frame) merupakan Rangka Pembagi Utama (RPU), maksudnya adalah bahwa di dalam MDF itu terdapat pembagian antara blok terminal horizontal dan blok terminal vertikal. Blok terminal horizontal merupakan tujuan dari sentral yang berupa EQN (Equipment Number), sedangkan blok terminal vertikal merupakan struk yang mengarah ke pelanggan, yaitu berupa struk primer. Pada rak MDF terdapat jumper wire yang memiliki sifat fleksibelitas, artinya dapat di diubah-ubah jika memang diharuskan untuk mengganti catuan. Jumper wire yang digunakan pun berbeda antara jumper pada struk EQN/horizontal dengan jumper wire pada struk primer/vertikal. Hal itu dilakukan untuk memberi kesan estetika dan mudah dalam menginstalasi jaringan pada MDF tersebut. Di bawah MDF terdapat cable chamber yang berfungsi sebagai tempat bermuaranya kabel primer ke arah pelanggan, yaitu RK. MDF juga merupakan tempat pengetesan saluran.

    Kabel primer merupakan penghubung antara MDF dengan RK. Kapasitas kabel primer yaitu 400 pair sampai dengan 2400 pair. Kabel primer yang digunakan dapat KTTL, maupun kabel duct.

    RK merupakan sebuah kotak besar yang sering terlihat di pinggir jalan yang biasanya berwarna abu-abu dengan penamaan RK, misalnya RAA Sunter. Hal itu berarti bahwa kotak tersebut merupakan RK RAA dari STO Sunter. Kapasitas RK antara lain 800 pair, 1600 pair dan 2400 pair. Dengan struk yang digunakan terdapat dua tipe, yaitu Krone atau Quante. Jenis Krone merupakan jenis RK dengan struk tekan sisip, sedangkan Quante merupakan jenis RK dengan struk solder secrew. RK juga merupakan tempat pengetesan saluran.

    Kabel sekunder merupakan penghubung antara RK dengan KP/DP. Kapasitas kabel sekunder yaitu 10 pair sampai dengan 200 pair. Kabel sekunder dapat dipasang baik di atas tanah, maupun di bawah tanah.

    KP/DP merupakan permutasian dari sebuah kabel sekunder menjadi beberapa kabel Drop Wire. KP/DP menghubungkan antara kabel sekunder dengan saluran penanggal atau drop wire. KP/DP juga merupakan tempat pengetesan saluran.

    Drop wire merupakan kabel saluran penanggal yang mempunyai panjang maksimal 250 meter untuk mencatu ke KTB pelanggan. Kapasitasnya yang biasa digunakan untuk mencatu ke pelanggan adalah satu pair. Read the rest of this entry »

 

Penggunaan Synchronous Digital Hierarchy dan Asynchronous Transfer Modus dalam Sistem Transmisi Modern

1. Latar Belakang

Sejalan dengan pesatnya kemajuan teknologi ,khususnya di bidang telekomunikasi, tuntutan akan adanya sistem transmisi yang lebih cepat dan efisien menjadi semakin besar pula. Hal ini terutama didukung dengan semakin meluasnya penggunaan kabel serat optik yang memiliki daya tampung sangat tinggi. Selain itu penggunaan jaringan telekomunikasi semakin diperkaya dengan bertambahnya jenis layanan telekomunikasi, misalnya komunikasi video, dan sebagainya. Ini mengakibatkan kebutuhan akan sebuah jaringan telekomunikasi yang mampu menampung semua layanan tersebut.

 

2. Synchronous Digital Hierarchy (SDH) dan Plesiochronous Digital Hierarchy (PDH)

2.1. Definisi dan Sejarah SDH

Synchronous Digital Hierarchy (SDH) atau yang di Amerika Utara dan Jepang lebih dikenal dengan istilah SONET (Synchronous Optical Network) adalah standar pemultipleksan jaringan telekomunikasi optikal. Ciri utama konsep transmisi sinkron ialah penggunaan kendali pulsa-pulsa detak (clock) yang identik di seluruh jaringan. Tentu saja ini tidak dapat sepenuhnya terealisasikan jika jaringan tersebut mencakup wilayah geografis yang luas. CCITT, yang sekarang berubah namanya menjadi International Telecommunication Union (ITU) mulai menujukkan ketertarikan kepada SDH/SONET pada tahun 1986 dengan dengan dibentuknya Komite T1 yang bertugas menangani standardisasi jaringan transmisi. Komite ini menghasilkan beberapa paket standar atau normanorma.

 

Masalah yang paling utama adalah adanya perbedaan dalam hirarki jaringan transmisi (dalam hal ini asinkron) antara Amerika Utara dan Eropa. Jaringan transmisi di Amerika Utara dan Jepang (T1) memiliki kecepatan 1 544 Mb/s sementara standar Eropa (E1) menggunakan kecepatan 2 048 Mb/s. Barulah pada tahun 1988 dalam sidang CCITT diresmikan standar baru yaitu SDH/SONET yang berlaku di seluruh dunia. Bahkan pada tahun 1989 standar ini juga diterima oleh American National

Standard for Information (ANSI).

2.2. Perbandingan PDH dan SDH

ABSTRAKSI

Sejalan dengan pesatnya kemajuan teknologi di bidang telekomunikasi, tuntutan akan adanya sistem transmisi yang lebih cepat dan efisien menjadi semakin besar pula. Hal ini terutama didukung dengan semakin meluasnya penggunaan kabel serat optik yang memiliki daya tampung sangat tinggi dan munculnya jenis-jenis layanan baru.

Synchronous Digital Hierarchy (SDH) adalah standar pemultipleksan jaringan telekomunikasi optikal. Berbeda dengan system yang lama, Plesiochronous Digital Hierarchy (PDH), yang bekerja dengan pulsa detak maksimum pada setiap simpul (switching node) sebagai standar, SDH menggunakan pointer untuk menandai awal payload. Nilai pointer mempengaruhi fasa tegangan pada titik akhir jaringan. Kelebihan lain SDH adalah sifatnya yang self healing dan management yang baik.

Kemudian dalam tulisan ini dibahas struktur, hierarki dan topologi jaringan SDH. Satuan modul terkecil dalam SDH, yaitu STM-1 dibahas secara mendetil berikut cara pemultiplekan dari kanal 2Mb/s terus hingga STM-16. Selanjutnya dibicarakan elemenelemen jaringan SDH seperti cross connect dan multiplexer. Karena sifat keduanya yang saling menunjang satu sama lain dan karena keduanya merupakan teknologi yang paling aktual di bidang telekomunikasi, maka kombinasi Asynchronous Transfer Modus (ATM) dan SDH sangatlah optimal. SDH memiliki fungsi layer pertama dan ATM berada di atasnya. Pertama-tama dibicarakan sedikit tentang konsep ATM dan perbedaannya dengan teknik pemultiplexan lainnya.

Kelebihan kombinasi ini antara lain sifatnya yang sinkron, pemanfaatan lebar pita yang optimal dan standardisasi di seluruh dunia. Tetapi teknik ini juga memiliki kelemahan misalnya karena hilangnya sel-sel ATM, kesalahan pada header ATM, dan

sebagainya. Selain itu delay switching dan noise masih sulit untuk benar-benar dihilangkan.

 

PDH adalah sistem yang selama ini digunakan,hingga diterapkannya SDH. Kata plesiochronou sberasal dari bahasa Yunani plesio yang berarti hampir. Nama ini baru dimunculkan setelah SDH diresmikan oleh CCITT, karena orang merasa perlu memberikan nama baru untuk sistem lama, yang sebelumnya dianggap sinkron, tetapi masih “kalah” sinkron dengan SDH. Dalam sebuah jaringan transmisi, pemultiplekan memiliki masalah dalam hal pencabangan dan penyisipan (drop and insert) karena sulit untuk memonitor dan mengendalikan proses ini. Jika sebuah multiplexer berusaha untuk menggabungkan beberapa sinyal ke dalam sebuah arus data (stream), terjadi kesulitan karena pulsa detak setiap sinyal tidak persis sama. Dalam sistem PDH, perbedaan sebesar 50 bit pada kecepatan 2 048 Mb/s adalah sesuatu yang wajar.

Ini karena PDH tidak menyinkronkan jaringan dalam arti sesungguhnya. PDH hanya

menggunakan pulsa detak maksimum pada setiap simpul (switching node) sebagai standar. Jika tidak ada lagi data bit dalam buffer karena sinyal data tersebut menggunakan pulsa detak yang lebih lambat, maka PDH akan menyisipkan bit-bit

tambahan (stuff bits, Stopfbit). Sebaliknya, multiplexer penerima harus membuang bit-bit tambahan tersebut. Kerugian lain yang dimiliki PDH adalah kemampuan komponen transmisi yang terbatas pada satu jenis layanan saja, pada umumnya layanan telepon biasa yang dikenal dengan Plain Old Telephone Service (PTOS). Hal ini tentu saja tidak sesuai lagi dengan perkembangan teknologi yang mengutamakan efisiensi hardware (dalam hal ini kabel baik serat optik maupun tembaga). Jaringan transmisi modern harus mampu menggabungkan beberapa jenis layanan. Integrasi

dan fleksibilitas inilah yang ditawarkan SDH sebagai salah satu kelebihannya. SDH (kanan)

Keunggulan SDH yang paling utama adalah prinsip pemultiplekan yang murni sinkron. Kebalikan dari teknik pemultiplekan PDH seperti yang disebutkan di atas, beberapa sinyal data dapat dimultiplek menjadi sinyal SDH yang memiliki kecepatan lebih tinggi secara langsung (direct syncronous multiplexing). Cara kerja teknik ini

akan dijelaskan dalam bagian-bagian selanjutnya. Sifat-sifat SDH lainnya adalah sebagai berikut :

  • Manajemen dan maintanance jaringan yang sangat baik dan fleksibel. Hampir 5% dari seluruh lebar pita digunakan untuk fungsifungsi ini (lihat bagian selanjutnya mengenaistruktur frame).
  • _Self healing, yaitu pencarian rute kembali(rerouting) tanpa pemutusan layanan.

3. Jaringan SDH

3.1. Struktur

STM-1 (Synchronous Transport Module) adalah modul transportasi sinkron level-1 . Dalam system SONET digunakan istilah STS (Synchronous Transfer Signal) untuk modul yang ekuivalen. Seperti terlihat pada gambar 1, sebuah modul

STM-1 memiliki kecepatan sekitar 155 Mb/s. Empat modul STM-1 membentuk STM-4 (sekitar 620 Mb/s), dan seterusnya. Sampai saat ini telah didefinisikan sampai dengan STM-64 (10 Gb/s). Sebuah frame tunggal STM-1 adalah sebuah matriks yang terdiri dari 9 baris dan 270 kolom. Setiap elemen matriks mewakili 1 byte (8 bit),

sehingga frame ini sesungguhnya terdiri dari 2430 byte. Masing-masing frame ditransmisikan dari kiri ke kanan, diawali dari ujung kiri atas hingga kanan bawah. Setiap bit memiliki kecepatan 8 kHz sesuai dengan kecepatan sampling data

(Abtastrate) yang umum digunakan untuk transmisi suara secara digital. Maka setiap byte dalam frame memiliki kecepatan 64 kbit/s (8 bit X 8 kHz) dan seluruh frame secara total berkecepatan 155 Mbit/s (2430 X 64 kbit/s) seperti yang telah

disebutkan di atas. Frame STM-1 terdiri dari dua bagian, yaitu SOH (Section Overhead) dan VC (Virtual Container) yang merupakan payload atau informasi intinya. Tiga kolom pertama SOH dinamakan Regenerator Section Overhead (RSOH) dan lima kolom terakhir disebut Multiplexer Section Overhead (MSOH). Di antaranya terdapat pointer yang bertanggung jawab atas sinkronisasi jaringan.

 

Alokasi byte SOH adalah sebagai berikut :

  • Parity byte B1 (1 byte = 8 bit) dibentuk dari seluruh frame dan dihitung pada setiap regenerator, sedangkan B2 (3 byte = 24 bit)dibentuk dari frame tanpa bagian RSOH dan dihitung hanya pada simpul-simpuljaringan/multiplexer. Parity bytes yang dihitung berdasarkan data pada suatu frame diselipkandalam frame selanjutnya, dan seterusnya.Setiap VC memiliki satu kolom (9 baris) PathOverhead (POH) dan sisanya merupakan payloa ddari frames di bawahnya. POH ini hanya dibuat satu kali (pada titik awal transimi) sehingga bersifat end-to-end. Ia berisikan pelabelan jalur(path), sebuah parity byte, identifikasi tipe payload, dan pengawasan jalur transmisi. Elemen penting yang berfungsi menjaga sinkronisasi SDH adalah pointer. Dengan adanya pointer tidak diperlukan lagi buffer pada setiap multiplexer sehingga transmisi berjalan lebih cepat. Sinyal-sinyal data yang masuk ke multiplexer memiliki sedikit perbedaan pulsa-pulsa detak seperti yang telah disebutkan di awal tulisan ini. Untuk mengatasi masalah ini, multiplexermencari titik awal payload. Stiap pergeseran titik awal VC sebesar 3 byte mengakibatkan perubahan nilai pointer sebesar 1. Jika sinyal yang masuk lebih cepat dibandingkan dengan pulsa detak multiplexer, maka nilai pointer bertambah satu (inkrementasi). Sebaliknya jika ia lebih lembat, maka nilai pointer dikurangi satu (dekrementasi). Perubahan pointer akan mengakibatkan perubahan fasa tegangan pada perubah D/A di titik akhirtransmisi.

3.2. Topologi Jaringan SDH

Topologi jaringan SDH secara umum adalah Digital Cross Connect (DXC) berfungsi Read the rest of this entry »

 

Tags: , , , , , , ,

SPEEDY PT TELKOM INDONESIA

2.2. Speedy

    Seiring dengan perkembangan zaman yang pesat, kebutuhan manusia menjadi tak terbatas, dimana terdapat tuntutan dalam pemenuhannya. Manusia tidak lagi hanya menginginkan layanan komunikasi voice saja, namun juga layanan berbasis data. Layanan berbasis data yang sedang dikembangkan adalah layanan TELKOM Speedy. Dengan adanya TELKOM Speedy, kebutuhan manusia yang semakin beragam pun dapat diatasi. Hingga saat ini PT. TELKOM sendiri sedang mengembangkan layanan IP-TV (Internet Protokol-Television), dimana pelanggan dapat menikmati layanan data, multimedia dan televisi secara langsung.

2.2.1. Pengertian Speedy

    Speedy adalah produk layanan internet access end to end dari PT. TELKOM dengan berbasis teknologi ADSL (Asymetric Digital Subscriber Line) yang dapat menyalurkan data dan suara secara simultan melalui satu saluran telepon biasa dengan kecepatan yang dijaminkan sesuai dengan paket layanan yang diluncurkan dari modem sampai BRAS (Broadband Remote Access Server), yaitu 512 Kbps. Sedangkan yang dimaksud dengan ADSL adalah suatu teknologi modem yang bekerja pada frekuensi antara 34 kHz sampai 1104 kHz. ADSL juga merupakan perangkat modem di jaringan akses tembaga yang mampu mentransmisikan data hingga 8 Mbps secara asimetris dan perangkat aktif yang dipasang pada jaringan lokal tembaga untuk mendukung implementasi layanan multimedia. Asimetris berarti adanya perbedaan antara kecepatan arah kirim (upstream) dengan kecepatan arah terima (downstream). Kecepatan data yang bisa dilayani oleh modem ADSL bervariasi. Untuk downstream mulai dari 2 Mbps s.d. 8 Mbps, sedangkan untuk upstream mulai dari 64 Kbps s.d. 1 Mbps. Inilah penyebab utama perbedaan kecepatan transfer data antara modem ADSL dengan modem konvensional (yang bekerja di bawah frekuensi 4 kHz). Keuntungan ADSL adalah memberikan kecepatan akses internet dengan kecepatan tinggi dan suara atau fax secara simultan (di sisi pelanggan dengan menggunakan splitter untuk memisahkan saluran telepon dan saluran modem).

Keuntungan layanan Speedy

Untuk mendapatkan layanan High Speed (Hi-Speed) internet, maka pelanggan hanya perlu menghubungi ke PT. TELKOM, tidak perlu ke ISP lain. Saluran telepon dapat dipergunakan untuk pembicaraan telepon dan akses internet pada saat bersamaan. Koneksi ke internet lebih cepat dibanding menggunakan modem analog. Koneksi ke internet dapat dilakukan setiap saat (on).

Kerugian layanan Speedy

  • Biaya pasang dan abonemen mahal (sebelum 2008)
  • Registrasi berbelit-belit (sebelum 2008)

2.2.2. Konfigurasi Speedy

KONFIGURASI JARINGAN SPEEDY SEDERHANA

Jaringan Speedy merupakan jaringan yang terintegrasi pada jarlokat, sehingga Read the rest of this entry »

 
 

Tags: , , , , , , , , ,

LEASED CHANNEL TELKOM INDONESIA (AKSES INTERNET STABIL)

LC (Leased Channel) PT Telkom

    Seiring dengan berkembangnya dunia telekomunikasi, semakin besar pula tuntutan untuk mengikuti perkembangan tersebut. Perkembangan dunia informasi yang cepat dan pesat membuat para khalayak ramai untuk saling bersaing dalam mengusai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut. Perkembangan teknologi tersebut menuntut perubahan kehidupan dunia ke arah global. Dalam globalisasi tersebut tidak selalu lancar, banyak hambatan dan rintangan yang harus dilalui. LC merupakan salah satu pengembangan dari jaringan yang sudah ada/existing.

2.3.1. Pengertian LC (Leased Channel)

    LC (Leased Channel) adalah salah satu layanan yang ditawarkan oleh PT. TELKOM kepada masyarakat dan ditangani oleh subdin CCAN (Coorporate Customer Access Network). CCAN (Coorporate Customer Access Network) adalah sub dinas yang ada di PT. TELKOM yang berada di bawah Dinas Pelayanan Jaringan (Dinyanjar). Sub dinas ini mempunyai tugas khusus melayani pelanggan corporate atau perusahaan mulai dari permintaan pasang baru hingga pelayanan purna jual (pelayanan gangguan).

LC (Leased Channel) adalah jenis fasailitas data berupa sirkit sewa khusus untuk melakukan pertukaran data dengan kecepatan mulai dari N x 64 Kbps sampai 2 Mbps. Kecepatan yang diinginkan pun tergantung kebutuhan pelanggan. Sirkit LC tidak tersambung ke sentral lokal, tetapi tersambung ke Network Management System (NMS).

2.3.2. Jenis Layanan LC (Leased Channel)

    LC (Leased Channel) memiliki beberapa layanan, antara lain :

  • LC Multimedia

        LC Multimedia adalah Leased Channel yang menghubungkan antara dua pelanggan yang berada di area code yang berbeda melalui jaringan Backbone Multimedia di Semanggi, Jakarta. LC Multimedia tidak menggunakan modem master pada konfigurasinya, sehingga hanya digunakan satu buah modem pada pelanggan.

  • LC Convensional

    LC Convensional merupakan Leased Channel yang menggunakan modem master pada konfigurasinya, sehingga diperlukan dua buah modem sebagai modem master dan modem slave.

Jenis-jenis LC tersebut terdapat pada setiap jenis layanan LC, yaitu :

  • LC IP DSLAM

    LC IP DSLAM (Leased Channel Internet Protokol Digital Subscriber Line Asymetric Modul) merupakan Leased Channel yang menggunakan IP DSLAM dalam konfigurasinya. Biasanya LC IP DSLAM digunakan khusus untuk akses internet ke luar negeri. Read the rest of this entry »

 
 

Tags: , , , , , , ,

POTS ( Plain Old Telephone Service )

2.1. POTS (Plain Old Telephone Service)

Seiring dengan berkembangnya zaman, kebutuhan manusia akan komunikasi semakin berkembang dengan pesat. Salah satunya dengan adanya layanan access data seperti internet dan mobile phone atau selular. Namun, hal tersebut tidak membuat layanan POTS (telepon) menjadi mati, karena layanan tersebut masih sangat efisien, tahan lama dan memiliki kualitas yang baik. Itu semua karena media transmisi yang digunakan memiliki kualitas yang baik juga, yaitu tembaga. Jaringan telepon biasa disebut dengan Jarlokat (Jaringan Local Access Tembaga).

2.1.1. Pengertian POTS (Plain Old Telephone Service)

POTS (Plain Old Telephone Service) merupakan salah satu layanan yang disediakan oleh PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk, yaitu layanan non data seperi telepon. Telepon merupakan media komunikasi yang sangat dibutuhkan pada masa sekarang ini. Telepon merupakan media komunikasi yang vital bagi manusia. Tanpa media komunikasi, manusia akan sulit untuk bersosialisasi dengan yang lain. Telepon merupakan komunikasi suara/voice yang menggunakan media transmisi kabel tembaga. Tembaga merupakan logam yang baik dalam pentransmisian data dan voice. Selain tembaga ada juga emas, tetapi mengapa emas tidak digunakan? Itu karena harga emas yang mahal, sehingga memerlukan dana yang sangat besar dan kemungkinan dicuri lebih besar dari pada tembaga. Untuk itu digunakan media transmisi yang hemat, efisien, baik dan berkualitas seperti tembaga.
Untuk Pasang Baru (PSB) telepon ditentukan berdasarkan pioritasnya terdapat empat kategori pelanggan, yaitu pelanggan Platinum dengan lama waktu PSB 6 jam, pelanggan Gold dengan lama waktu PSB 12 jam, pelanggan Silver dengan lama waktu PSB 24 jam dan pelanggan Standart dengan lama waktu PSB 48 jam. Namun, biasanya para petugas mempunyai target yang berbeda. Mereka mempunyai target lebih cepat dari pada yang telah ditentukan. Hal itu dikarenakan untuk meningkatkan performansi jaringan yang sudah ada tersebut.

2.1.2. Konfigurasi Jaringan Telepon

Konfigurasi Jaringan Telepon

Read the rest of this entry »

 

Tags: , , , , , , , , ,

Jaringan Lokal Akses Tembaga (Jaringan Telepon)

Oke. akhirnya punya jg waktu buat bikin bahasan tentang jarlokat. Jarlokat ini merupakan jaringan lokal akses tembaga. Jadi pada jaringan lokal ini kabel yang digunakan adalah kabel tembaga. Kenapa yang dipilih adalah kabel tembaga? Ada yang tahu? Kabel tembaga dipilih karena memiliki hambatan yang cukup kecil dan memiliki daya hantar dalam hal ini konduktor yang baik. Padahal banyak jenis logam lain yang lebih baik dari tembaga dan bahkan paling baik, yaitu emas. Kenapa jenis logam emas tidak dipilih? Coba deh bayangkan jika semua kabel yang digunakan pada jaringan kabel lokal adalah emas. Betapa besar dan mahalnya harga investasi untuk sebuah telekomunikasi. Bahkan dengan kabel tembaga saja masih sering terjadi pencurian kabel apalagi dengan kabel emas bisa-bisa pencurian tiap jam terjadi dan perusahaan penyedia jaringan akan merugi. Selain dari segi hambatan dan sifat penghantar, tembaga memiliki sifat kelenturan yang cukup baik, tidak terlalu gertas (mudah patah) dan tidak pula terlalu lentur. Itulah alasannya kenapa digunakan kabel tembaga.

Struktur Jaringan Kabel Lokal

Struktur jaringan kabel lokal dimulai dari Rangka Pembagi Utama (RPU) hingga pesawat telepon pelanggan. Berikut gambar jaringan kabel lokal :

Jaringan Kabel Lokal

Read the rest of this entry »

 

Tags: , , , , , , , ,

 
%d bloggers like this: