RSS

Tag Archives: Dan (rank)

Pengujian Resistansi Isolasi

*artikel ini disarikan dari IEEE Std 43 tentang “IEEE Recommended Practice for Testing Insulation Resistance of Rotating Machinery”

Teori Umum Resistansi Isolasi

Resistansi isolasi dari kumparan rotating machine adalah fungsi dari jenis dan kondisi dari bahan isolasi yang digunakan, dan juga teknik pengaplikasiannya. Secara umum, resistansi isolasi bervariasi sebanding dengan ketebalan isolasi, dan berbanding terbalik dengan luas penampang konduktor

Komponen Arus Searah yang terukur

Secara definitif, resistansi isolasi adalah hasil bagi dari tegangan searah yang diberikan melalui isolasi terhadap arus resultan total pada waktu tertentu. Arus resultan total merupakan penjumlahan dari empat arus yang berbeda, yaitu : Arus bocor permukaan, Arus kapasitans geometrik, arus konduktansi dan arus absorpsi.

Arus kapasitans geometrik merupakan arus yang mempunyai nilai yang tinggi yang berlangsung dalam waktu yang singkat, yang menurun secara eksponensial seiring dengan waktu diberikannya tegangan. Arus kapasitan geometrik ini biasanya tidak mempengaruhi pengukuran, karena arus ini hilang seiring dengan bertambahnya waktu, yaitu pada (kurang lebih) menit pertama ketika tegangan diberikan.

Arus absorpsi (polarisasi) merupakan arus yang dihasilkan dari polarisasi molekul dan electron drift yang turun seiring dengan waktu diberikannya tegangan, dengan nilai awal yang cukup tinggi dan turun hingga mendekati nilai nol, serta bergantung pada jenis dan kondisi dari bonding material yang digunakan pada sistem isolasi. Biasanya, untuk isolasi kumparan mesin yang kering dan bersih, resistansi isolasi dari detik ke-tiga puluh sampai beberapa menit lebih dipengaruhi oleh arus absorpsi ini. Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on December 3, 2012 in Tenaga Listrik

 

Tags: , , , , , , ,

Sebenarnya pada mikrokontroler ATmega8/16/32/8535 hanya terdapat satu pasang TX dan RX untuk komunikasi USART. Seringkali untuk menggunakan beberapa USART di satu mikon digunakan ATmega128 atau ATmega2560. Hal yang sangat boros apabila menggunakan dua mikon terakhir tersebut jika hanya bertujuan untuk mengirim data ke serial PC atau device lain. Ya selain harganya mahal juga flash memory yang terlalu besar dimana seringkali kurang bisa kita maksimalkan. Dengan mengakalinya dengan I/O biasa pada mikrokontroler AVR (disini saya menggunakan ATmega32) maka dapat dibuat beberapa port selayaknya USART menjadi lebih dari satu, atau 8 buah, atau jika mau semua port dijadikan USART (ini terlalu iseng). Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on October 24, 2012 in Robotics

 

Tags: , , , , , , , , , , , , ,

Serunya Berbagi Robotik Dengan Anak2 SD di Kinder Uni Universitas Indonesia

Kinder Uni adalah acara yang diselenggarakan oleh Program Studi Sastra Jerman Universitas Indonesia untuk memperkenalkan dunia kampus atau perkuliahan kepada anak2 SD. Kinder Uni bekerja sama dengan Tim Robotika Universitas Indonesia selama 3 Pekan untuk memperkenalkan robot-robot yang dimiliki oleh TRUI. Robot yang dikenalkan adalah Windwire (Robot Beroda Pemadam Api), Gladiatos (Humanoid Robot Soccer), Kinnect Motion Simulation, Control Robot With Laptop, Solar Cell Lego Robot dan Robot Pengintai.

Eits , TRUI gak cuma ngenalin robotnya loh. tapi juga ngasih pembelajaran ilmu seputar robotika, mulai dari sensor, prosesor, aktuator dan sistem power dari robot. Anak2 yang ikut tampak antusias dan lucu2. Pertanyaan mereka yang lucu mengingatkan saya akan masa kecil seakan ingin kembali mencoba menjadi anak kecil dalam 1 jam saja. Hehhehee. Iyalah enak, anak2 SD kan blum mikirin skripsi kayak sekarang.

Nih beberapa foto dan video yang ada di Kinder Uni sesi 3 di TRUI.

 

Tags: , , , , , , ,

Wall Following Robot Berkaki Revecto UI Robotics Team

Tahun 2011 yang lalu, pernah nyoba buat wall following berkaki bareng David. Nih potonya :

Si Jenius Dari Fasilkom 09

Caranya adalah simpel, wall following ini menggunakan PID controller, ya bukan PID beneran sih, makanya kita nyebutnya PID-PIDan. Prinsip yang dipakai itu sebenernya sama kayak line following pada robot line follower, dimana nilai karakteristik sensor garis menjadi nilai referensi untuk poergerakan robot dalam hal ini mengatur nilai PWM motor yang digunakan robot line follower. Namun, pada wall following robot berkaki ini, sensor yang digunakan adalah sebuah sensor jarak srf05 dan aktuatornya berupa servo. Nilai jarak yang terbaca oleh robot akan direferensikan untuk menentukan derajat gerak dari si robot. Ya, caranya disini dengan memasukkan rumus-rumus PID yang didapat di kampus ke dalam kodingan atau program si robot. Nah ini, hasilnya :

Namun sayang, pada KRCI 2011 tahun lalu kita gak pake algoritma ini. Soalnya rule di KRCI berkaki kemarin bersifat battle dan pemenangnya adalah yang memadamkan api dan pulang k home duluan, Saat TM di KRCI nasional H-1 sistemnya berubah berubah menjadi robot dengan score terkecil yang menang meskipun dia berhasil pulang duluan, tapi kalau scorenya masih kalah kecil dia kalah. Strategi yang dipake Revecto ada menginterupt disaat dia mendapati ada cahaya. Saat KRCI regional 2 d ITT telkom itu terbukti saat di running test 2, dmn setiap robot beradu hebat. Pada running test tersebut Revecto mendapat nilai terbesar, namun itu hanyalah sebuah running test, tapi saya tetap sangat senang setidaknya pernah mendapatkan nilai terbesar walaupun cuma running test. Toh Revecto saat regional adalah robot 2 minggu. Robot perkembangannya itu torsi servonya masih terlalu kecil. Sehingga H-2 minggu mendapatkan servo baru dan membuat robot revecto versi 2. Revecto mampu merespon api meskipun Revecto berada di depan ruangan yang tidak ada apinya. Oh iya saksikan Revecto di Pameran Pendidikan @JCC tgl 15-18 Feb 2012 di stand UI. datng ya. banyak robot2 dari UI Robotics Team jg. Sedih tidak bisa bersama Revecto, soalnya lagi KP di Batam.

 

Tags: , , , , , , , , ,

UI Raih Tiga Penghargaan di 13th International Robot Olympiad 2011

JAKARTA–MICOMUniversitas Indonesia berhasil meraih penghargaan dalam ajang Kompetisi Robot Internasional The 13th International Robot Olympiad 2011 (IRO) di Jakarta yang berlangsung 15-18 Desember 2011.

Dalam ajang ini, UI mengirim tiga tim yang terdiri dari mahasiswa Fakultas Teknik dan Fakultas Ilmu Komputer. Dua tim yaitu Inxscopoda yang terdiri dari Hadid Fadhila, Irvan JP Elliika dan Fredrick Sanjaya dan tim SMART-CUE (Novika Ginanto, Tito Apriano, dan Lasguido) meraih penghargaan  dalam kategori Creative Robot dengan tema Robot for Helping People from Natural Disaster.   Read the rest of this entry »

 

Tags: , , , , , , ,

Teori Dasar Penguat Operasional

  1. Penguat Diferensial Sebagai Dasar Penguat Operasional

Penguat diferensial adalah suatu penguat yang bekerja dengan memperkuat sinyal yang merupakan selisih dari kedua masukannya. Berikut ini adalah gambar skema dari penguat diferensial sederhana:


Penguat diferensial tersebut menggunakan komponen BJT (Bipolar Junction Transistor) yang identik / sama persis sebagai penguat. Pada penguat diferensial terdapat dua sinyal masukan (input) yaitu V1 dan V2. Dalam kondisi ideal, apabila kedua masukan identik (Vid = 0), maka keluaran Vod = 0. Hal ini disebabkan karena IB1 = IB2 sehingga IC1 = IC2 dan IE1 = IE2. Karena itu tegangan keluaran (VC1 dan VC2) harganya sama sehingga Vod = 0.

Apabila terdapat perbedaan antara sinyal V1 dan V2, maka Vid = V1 – V2. Hal ini akan menyebabkan terjadinya perbedaan antara IB1 dan IB2. Dengan begitu harga IC1 berbeda dengan IC2, sehingga harga Vod meningkat sesuai sesuai dengan besar penguatan Transistor.

Untuk memperbesar penguatan dapat digunakan dua tingkat penguat diferensial (cascade). Keluaran penguat diferensial dihubungkan dengan masukan penguat diferensial tingkatan berikutnya. Dengan begitu besar penguatan total (Ad) adalah hasil kali antara penguatan penguat diferensial pertama (Vd1) dan penguatan penguat diferensial kedua (Vd2).

Dalam penerapannya, penguat diferensial lebih disukai apabila hanya memiliki satu keluaran. Jadi yang diguankan adalah tegangan antara satu keluaran dan bumi (ground). Untuk dapat menghasilkan satu keluaran yang tegangannya terhadap bumi (ground) sama dengan tegangan antara dua keluaran (Vod), maka salah satu keluaran dari penguat diferensial tingkat kedua di hubungkan dengan suatu pengikut emitor (emitter follower).

Untuk memperoleh kinerja yang lebih baik, maka keluaran dari pengikut emiter dihubungkan dengan suatu konfigurasi yang disebut dengan totem-pole. Dengan menggunakan konfigurasi ini, maka tegangan keluaran X dapat berayun secara positif hingga mendekati harga VCC dan dapat berayun secara negatif hingga mendekati harga VEE.

Apabila seluruh rangkaian telah dihubungkan, maka rengkaian tersebut sudah dapat dikatakan sebagai penguat operasional (Operational Amplifier (Op Amp)). Penjelasan lebih lanjut mengenai hal ini akan dilakukan pada sub bab berikut.

2. Penguat Operasional

Penguat operasional (Op Amp) adalah suatu rangkaian terintegrasi yang berisi beberapa tingkat dan konfigurasi penguat diferensial yang telah dijelaskan di atas. Penguat operasional memilki dua masukan dan satu keluaran serta memiliki penguatan DC yang tinggi. Untuk dapat bekerja dengan baik, penguat operasional memerlukan tegangan catu yang simetris yaitu tegangan yang berharga positif (+V) dan tegangan yang berharga negatif (-V) terhadap tanah (ground). Berikut ini adalah simbol dari penguat operasional:


  2.1. Karakteristik Ideal Penguat Operasional

Penguat operasional banyak digunakan dalam berbagai aplikasi karena beberapa keunggulan yang dimilikinya, seperti penguatan yang tinggi, impedansi masukan yang tinggi, impedansi keluaran yang rendah dan lain sebagainya. Berikut ini adalah karakteristik dari Op Amp ideal:

      Penguatan tegangan lingkar terbuka (open-loop voltage gain) AVOL = ¥-

      Tegangan ofset keluaran (output offset voltage) VOO = 0

      Hambatan masukan (input resistance) RI = ¥

      Hambatan keluaran (output resistance) RO = 0

      Lebar pita (band width) BW = ¥

      Waktu tanggapan (respon time) = 0 detik

      Karakteristik tidak berubah dengan suhu

Kondisi ideal tersebut hanya merupakan kondisi teoritis tidak mungkun dapat dicapai dalam kondisi praktis. Tetapi para pembuat Op Amp berusaha untuk membuat Op Amp yang memiliki karakteristik mendekati kondisi-kondisi di atas. Karena itu sebuah Op Amp yang baik harus memiliki karakteristik yang mendekati kondisi ideal. Berikut ini akan dijelaskan satu persatu tentang kondisi-kondisi ideal dari Op Amp.

 2.1.1. Penguatan Tegangan Lingkar Terbuka

Penguatan tegangan lingkar terbuka (open loop voltage gain) adalah penguatan diferensial Op Amp pada kondisi dimana tidak terdapat umpan balik (feedback) yang diterapkan padanya seberti yang terlihat pada gambar 2.2. Secara ideal, penguatan tegangan lingkar terbuka adalah:

AVOL = Vo / Vid =
¥


AVOL = Vo/(V1-V2) =
¥


Tanda negatif menandakan bahwa tegangan keluaran VO berbeda fasa dengan tegangan masukan Vid. Konsep tentang penguatan tegangan tak berhingga tersebut sukar untuk divisualisasikan dan tidak mungkin untuk diwujudkan. Suatu hal yang perlu untuk dimengerti adalah bahwa tegangan keluaran VO jauh lebih besar daripada tegangan masukan Vid. Dalam kondisi praktis, harga AVOL adalah antara 5000 (sekitar 74 dB) hingga 100000 (sekitar 100 dB).

Tetapi dalam penerapannya tegangan keluaran VO tidak lebih dari tegangan catu yang diberikan pada Op Amp. Karena itu Op Amp baik digunakan untuk menguatkan sinyal yang amplitudonya sangat kecil. Read the rest of this entry »

 
1 Comment

Posted by on November 28, 2011 in Electonics

 

Tags: , , , , , , ,

INTRUDER ALARM

Latar Belakang

Perkembangan IPTEK yang terus meningkat menuntut kita untuk selalu mengikuti perkembangannya. Kita tidak boleh tertinggal dari kemajuan teknologi. Oleh sebab itu ada cara untuk merealisasikan hal tersebut dengan mempelajari dan menerapkan IPTEK terutama dalam bidang elektronika, yang pada saat ini sudah mencapai perkembangan yang sangat mutakhir.

Teknik elektronika saat ini sudah memungkinkan kita untuk menciptakan suatu peralatan baru. Alat tersebut merupakan perwujudan dari penerapan kemajuan teknologi yang tiada henti.

Kebanyakan rumah di Indonesia belum menerapkan system keamanan sehingga mudah dimasuki pencuri terutama ketika kita sedang tidur atau berada di luar rumah. Untuk itu kami mencoba menciptakan system keamanan yang sederhana, murah dan mudah dibuat namun memiliki fungsi yang tidak kalah dan tidak jauh berbeda dari system keamanan yang sudah ada.

DASAR TEORI

2.1 Rangkaian Intruder Alarm

Rangkaian ini menggambarkan sebuah alarm pencuri sederhana yang bisa dibuat dengan murah dan mudah. Alarm dari rangkaian ini akan bersuara dengan segera bila seseorang membuka pintu utama atau yang lain yang dipasangkan rangkaian ini. Alarm akan terus melanjutkan bersuara bahkan jika pintu atau jendela tertutup dengan segera setelah dibuka karena rangkaian ini menggunakan sebuah rangkaian timer yang mengatur lamanya alarm berbunyi.

2.2 Komponen-komponen Intruder Alarm

Rangkaian Intruder Alarm dibuat dari komponen-komponen elektronika, komponen-komponen yang dibutuhkan untuk membuat alarm penerobos terdiri dari rangkaian alarm, rankaian sensor dan rangkaian timer.

2.2.1 Rangkaian Alarm

Rangkaian alarm terbentuk dari komponen-komponen elektronika seperti transistor, resistor, kapasitor dan loudspeaker. Gambar di bawah ini adalah skema dari rangkaian alarm.

  1. Gambar-2.1: Skema Alarm

            2.2.1.1 Transistor

    Transistor merupakan komponen semikonduktor yang dapat difungsikan sebagai saklar dan dapat juga difungsikan ebagai penguat. Dengan sifat semikonduktornya itu maka transistor dpat dijadikan sebagai konduktor dan dapat juga Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on November 28, 2011 in Electonics

 

Tags: , , , , , , ,

 
%d bloggers like this: