RSS

Tag Archives: Masih

FAMODYA (Part 15)

“Hai!” Sapa Adya sumringah setelah kekasihnya Lefard menjemputnya untuk berangkat sekolah bareng. Lefard hanya menarik senyumnya tipis sehingga membuat Adya bertanya penasaran. “Kenapa sih, kayaknya nggak mood gitu? Nggak seneng ya bareng sama gue?

Huft..dasar cewek sensitive aja bawaannya, gumam Lefard kesal dalam hati.

“Gue bisa kok berangkat sendiri,” ketus Adya dan berlalu dari hadapan Lefard. Hehehe…pasti sebentar lagi dia ngejar gue, satu…dua…ti…tukasnya iseng dalam hati. Dan ternyata benar, belum sampai hitungan ketiga Lefard sudah berada didepan tubuhnya dan dengan cepat menggapai tangannya untuk tetap naik kemotornya. Adya meringis kecil. Hahaha, pagi-pagi udah bisa ngeliat orang ngambek, tukasnya dalam hati. Sampai diatas motorpun Lefard masih bersikap diam kepadanya. “Lo Kenapa sih?” Teguran setengah kesal terlontar dari mulut Adya.

Bruak, Adya melempar tas ranselnya diatas meja duduknya.

Keira yang melihatpun kaget dan lekas menghampirinya. “Kenapa lo Ad?”

“BT.” Jawab Adya singkat.

“Pagi-pagi udah BT?”

“Sama temen lo tuh?”

Keira mengerutkan kedua alisnya. “Temen? Temen yang mana?” Tanyanya bingung.

Belum sempat Adya menjawab pertanyaan Adya, Lefard tiba tepat didepan pintu kelasnya. Adya pun berdiri dari tempat duduknya dan pergi menjauhi Lefard.

Sekali lagi Keira melihat tingkah laku Adya bingung. “Kenapa sih si Adya?” Tanyanya balik ke Lefard. Dan Lefard hanya menjawab dengan menaikkan pundaknya. Read the rest of this entry »

Advertisements
 
1 Comment

Posted by on September 17, 2011 in Cerita, Famodya

 

Tags: , , , , , , , , , , ,

FAMODYA (Part 14)

“Males banget deh gue pagi-pagi udah belajar persilangan,” gerutu Keira yang tiba-tiba duduk disamping tempat duduk Adya.

“Emang kenapa? Bukannya lo bisa ngerjain materi persilangan?” Tanya Adya.

“Ya emang bisa, tapi males aja, pagi-pagi udah diawali dengan pelajaran ribet. Mentang-mentang materinya masuk UAN jadi sarapan tiap hari deh sama 6 pelajaran itu,” sambung Keira dengan paras yang masih malas.

Adya menghembuskan nafasnya pelan. “Bukannya materinya udah selesai ya?”

“Emang iya?”

“Iya. Emang minggu kemaren lo kemana? Makanya kalo guru lagi ngejelasin itu diperhatiin!”

“Terus sekarang kita belajar materi apa?”

“Eksperimen jamur.”

“Yah, berarti nanti ke lab dong. Duh gue nggak bawa jas putih, gimana dong Ad?” tutur Keira panik.

“Ye…udah panik aja sih lo Ke. Kita belajar teori dulu.”

“Oh…gitu ya, huft… syukur deh,” tanggap Keira lega.

“Ehm…” daham lefad dari belakang tubuh Keira. Adya yang melihat hanya senyum tersipu. “Misi dong! Orang yang duduk disini mau duduk,” tutur Lefad yang posisinya masih tetap dibelakang tubuh Keira.

Keira yang mendengar teguran itu kini memalingkan kepalanya kebelakang. “Huh.” Keira mencibirkan bibirnya.

“Ayo kembali ketempat asal!” sambung Lefard sambil memencandai Keira.

Keira langsung berdiri dari duduknya. “Huh, dasar leher kuya, nggak bisa liat orang seneng aja!” balas Keira sebal dan berjalan ketempat duduknya sendiri.

Wah, pake ngatain segala. Eh Ke, yang boleh ngatain gue leher kuya tuh cuma Adya tau. Jadi kalo lo juga ikut ngatain gue…” ancam Lefard sambil berlari kecil mengejar Keira.

Keira berlari cepat ketempat duduknya sambil teriak.

***

“Bukannya waktu kelas dua kita udah pernah praktek liat jamur tempe ya, kok sekarang tugas kita itulagi sih?” tutur Keira yang memprotes tugas yang diberikan guru biologi kepada kelas mereka.

“Iya. Bedanya, waktu itu kita langsung ngamatin tempe yang udah jadi. Kalo tugas sekarang kan kita mesti bikin tempenya dulu,” jawab Adya.

“Tapi untungnya kita satu kelompok ya,” sambung Lefard yang juga sejajar berjalan bersama Adya dan Keira juga Bagas di koridor sekolah.

“Duh senengnya yang bisa satu kelompok sama gue,” sambung Adya meledek kekasih barunya itu.

Lefard secepat kilat mencibirkan bibirnya. “Hah? Gue tarik omongan gue,” balasnya kepada Adya.

Adya masih tertawa melihat ekspresi malu wajah kekasihnya tersebut. “Tyas mana ya, kok jam segini belum keluar,” tutur Adya mengalihkan pembicaraan.

Biar gue telpon aja Ad.” Keira mengambil ponselnya dan menelpon sahabat yang paling cerewet tersebut.

“Halo,” jawab Tyas sangat tak bersemangat dari seberang.

“Dimana lo?”

Masih dikelas.”

Keira menengok jam tangannya. “Bukannya ini udah waktunya pulang, kok lo masih dikelas? Tumben lo betah.”

“Ck,” tanggap Tyas kesal.” Nggak ditelpon, nggak ketemu langsung, selalu aja lo cuma bisa ngeledek gue.”

Keira menanggapinya dengan tertawa.

“Ye…malah ketawa. Kalian pada pulang duluan aja! Gue ada pendalaman materi dadakan dari bu Sonya,” tutur Tyas masih kesal karena tiba-tiba guru sosiologinya menanbah sesi mengajarnya dengan alasan pendalaman materi.

“OK deh, kita lagi pada mau kerumah Lefard buat ngerjain tugas biologi, kalo lo mau nanti nyusul ya. Kita tunggu disana.”

“Diusahain deh.” Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on September 17, 2011 in Cerita, Famodya

 

Tags: , , , , , , , , , ,

FAMODYA (Part 9)

***

Pagi ini mendung, semendung orang-orang yang kenal dengan Edhu. Mereka merasakan kehilangan atas meninggalnya Edhu. Semakin siang, orang-orang yang datang ketempat pemakaman Edhu semakin banyak sebelum jenazah Edhu diturunkan ketanah. Tangisan orang-orang terdekatnya terus terdengat seperti keluarga Edhu yang langsung datang dari Belanda. Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on August 21, 2011 in Cerita, Famodya

 

Tags: , , , , , , , , ,

FAMODYA (Part 7)

“Urusan saya udah selesai Pak,” tutur Adya menahan kesedihan. Dirinya berjalan menjauhi kamar 034 bersama security.

Edhu yang gelagapan karena ketauan tidur bersama Naomi berusaha mengejar Adya. “Ad, tolong dengerin penjelasan aku dulu Ad. Aku nggak tidur sama dia, dia baru dateng tadi pagi.”

Adya terus saja berjalan tanpa memperdulikan perkataan Edhu. Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on August 21, 2011 in Cerita, Famodya

 

Tags: , , , , , , , , , , , , , ,

FAMODYA (Part 6)

“Kenapa sih beibh?” Edhu bertanya halus untuk mengambil hati Adya.

Adya langsung bercerita tentang apa yang dia rasakan saat ini. Ia menceritakan dari awal sampai akhir dari masalah yang sedang dihadapinya.

“Kamu kok?” Edhu kaget mendengar cerita terakhir Adya yang menyebutkan kalo pokok permasalahannya adalah karena Adya dan Lefard ciuman.

“Lo dengerin gue dulu! Gue sama si leher kuya itu nggak sengaja. Gue nyerang dia sampe dia jatuh tapi pas dia jatuh gue juga kehilangan keseimbangan jadi gue ikut jatoh.” Adya mencoba membela diri.

Edhu menarik tangan Adya kasar dan membawanya keluar kelas. “Tapi kenapa bisa tepat kamu sama dia ciuman?” Tutur Edhu geram.

“Gue nggak ciuman Dhu, kita cuma tabrakan.”

“Biarpun kamu nggak sengaja tapi kamu juga ikut ngerasain kan? Kamu munafik deh, kamu nggak pernah mau kalo aku minta tapi sama orang lain yang jelas-jelas cowoknya temen kamu sendiri kamu mau.”

“Kok lo juga ikut nyalahin gue sih? Katanya lo mau bantu gue!” Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on August 21, 2011 in Cerita, Famodya

 

Tags: , , , , , , , , , , , ,

FAMODYA (Part 4)

“Bu saya rasa untuk melaporkan masalah Adya kepada Pak Yudhis itu tidak perlu, karena Adya sudah mengakuinya dan yang paling penting Adya sudah berjanji tidak akan melakukan kesalahannya lagi,” sambar Lefard setelah situasi ruangan Bu Hanum hening sejenak.

Adya menarik nafas panjang serta kaget atas perkataan Lefard barusan. Idih ini orang sok pahlawan banget sih. Gumamnya dalam hati. Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on August 19, 2011 in Cerita, Famodya

 

Tags: , , , , , , , , , , , , ,

 
%d bloggers like this: