RSS

Tag Archives: Plain Old Telephone Service

Penggunaan Synchronous Digital Hierarchy dan Asynchronous Transfer Modus dalam Sistem Transmisi Modern

1. Latar Belakang

Sejalan dengan pesatnya kemajuan teknologi ,khususnya di bidang telekomunikasi, tuntutan akan adanya sistem transmisi yang lebih cepat dan efisien menjadi semakin besar pula. Hal ini terutama didukung dengan semakin meluasnya penggunaan kabel serat optik yang memiliki daya tampung sangat tinggi. Selain itu penggunaan jaringan telekomunikasi semakin diperkaya dengan bertambahnya jenis layanan telekomunikasi, misalnya komunikasi video, dan sebagainya. Ini mengakibatkan kebutuhan akan sebuah jaringan telekomunikasi yang mampu menampung semua layanan tersebut.

 

2. Synchronous Digital Hierarchy (SDH) dan Plesiochronous Digital Hierarchy (PDH)

2.1. Definisi dan Sejarah SDH

Synchronous Digital Hierarchy (SDH) atau yang di Amerika Utara dan Jepang lebih dikenal dengan istilah SONET (Synchronous Optical Network) adalah standar pemultipleksan jaringan telekomunikasi optikal. Ciri utama konsep transmisi sinkron ialah penggunaan kendali pulsa-pulsa detak (clock) yang identik di seluruh jaringan. Tentu saja ini tidak dapat sepenuhnya terealisasikan jika jaringan tersebut mencakup wilayah geografis yang luas. CCITT, yang sekarang berubah namanya menjadi International Telecommunication Union (ITU) mulai menujukkan ketertarikan kepada SDH/SONET pada tahun 1986 dengan dengan dibentuknya Komite T1 yang bertugas menangani standardisasi jaringan transmisi. Komite ini menghasilkan beberapa paket standar atau normanorma.

 

Masalah yang paling utama adalah adanya perbedaan dalam hirarki jaringan transmisi (dalam hal ini asinkron) antara Amerika Utara dan Eropa. Jaringan transmisi di Amerika Utara dan Jepang (T1) memiliki kecepatan 1 544 Mb/s sementara standar Eropa (E1) menggunakan kecepatan 2 048 Mb/s. Barulah pada tahun 1988 dalam sidang CCITT diresmikan standar baru yaitu SDH/SONET yang berlaku di seluruh dunia. Bahkan pada tahun 1989 standar ini juga diterima oleh American National

Standard for Information (ANSI).

2.2. Perbandingan PDH dan SDH

ABSTRAKSI

Sejalan dengan pesatnya kemajuan teknologi di bidang telekomunikasi, tuntutan akan adanya sistem transmisi yang lebih cepat dan efisien menjadi semakin besar pula. Hal ini terutama didukung dengan semakin meluasnya penggunaan kabel serat optik yang memiliki daya tampung sangat tinggi dan munculnya jenis-jenis layanan baru.

Synchronous Digital Hierarchy (SDH) adalah standar pemultipleksan jaringan telekomunikasi optikal. Berbeda dengan system yang lama, Plesiochronous Digital Hierarchy (PDH), yang bekerja dengan pulsa detak maksimum pada setiap simpul (switching node) sebagai standar, SDH menggunakan pointer untuk menandai awal payload. Nilai pointer mempengaruhi fasa tegangan pada titik akhir jaringan. Kelebihan lain SDH adalah sifatnya yang self healing dan management yang baik.

Kemudian dalam tulisan ini dibahas struktur, hierarki dan topologi jaringan SDH. Satuan modul terkecil dalam SDH, yaitu STM-1 dibahas secara mendetil berikut cara pemultiplekan dari kanal 2Mb/s terus hingga STM-16. Selanjutnya dibicarakan elemenelemen jaringan SDH seperti cross connect dan multiplexer. Karena sifat keduanya yang saling menunjang satu sama lain dan karena keduanya merupakan teknologi yang paling aktual di bidang telekomunikasi, maka kombinasi Asynchronous Transfer Modus (ATM) dan SDH sangatlah optimal. SDH memiliki fungsi layer pertama dan ATM berada di atasnya. Pertama-tama dibicarakan sedikit tentang konsep ATM dan perbedaannya dengan teknik pemultiplexan lainnya.

Kelebihan kombinasi ini antara lain sifatnya yang sinkron, pemanfaatan lebar pita yang optimal dan standardisasi di seluruh dunia. Tetapi teknik ini juga memiliki kelemahan misalnya karena hilangnya sel-sel ATM, kesalahan pada header ATM, dan

sebagainya. Selain itu delay switching dan noise masih sulit untuk benar-benar dihilangkan.

 

PDH adalah sistem yang selama ini digunakan,hingga diterapkannya SDH. Kata plesiochronou sberasal dari bahasa Yunani plesio yang berarti hampir. Nama ini baru dimunculkan setelah SDH diresmikan oleh CCITT, karena orang merasa perlu memberikan nama baru untuk sistem lama, yang sebelumnya dianggap sinkron, tetapi masih “kalah” sinkron dengan SDH. Dalam sebuah jaringan transmisi, pemultiplekan memiliki masalah dalam hal pencabangan dan penyisipan (drop and insert) karena sulit untuk memonitor dan mengendalikan proses ini. Jika sebuah multiplexer berusaha untuk menggabungkan beberapa sinyal ke dalam sebuah arus data (stream), terjadi kesulitan karena pulsa detak setiap sinyal tidak persis sama. Dalam sistem PDH, perbedaan sebesar 50 bit pada kecepatan 2 048 Mb/s adalah sesuatu yang wajar.

Ini karena PDH tidak menyinkronkan jaringan dalam arti sesungguhnya. PDH hanya

menggunakan pulsa detak maksimum pada setiap simpul (switching node) sebagai standar. Jika tidak ada lagi data bit dalam buffer karena sinyal data tersebut menggunakan pulsa detak yang lebih lambat, maka PDH akan menyisipkan bit-bit

tambahan (stuff bits, Stopfbit). Sebaliknya, multiplexer penerima harus membuang bit-bit tambahan tersebut. Kerugian lain yang dimiliki PDH adalah kemampuan komponen transmisi yang terbatas pada satu jenis layanan saja, pada umumnya layanan telepon biasa yang dikenal dengan Plain Old Telephone Service (PTOS). Hal ini tentu saja tidak sesuai lagi dengan perkembangan teknologi yang mengutamakan efisiensi hardware (dalam hal ini kabel baik serat optik maupun tembaga). Jaringan transmisi modern harus mampu menggabungkan beberapa jenis layanan. Integrasi

dan fleksibilitas inilah yang ditawarkan SDH sebagai salah satu kelebihannya. SDH (kanan)

Keunggulan SDH yang paling utama adalah prinsip pemultiplekan yang murni sinkron. Kebalikan dari teknik pemultiplekan PDH seperti yang disebutkan di atas, beberapa sinyal data dapat dimultiplek menjadi sinyal SDH yang memiliki kecepatan lebih tinggi secara langsung (direct syncronous multiplexing). Cara kerja teknik ini

akan dijelaskan dalam bagian-bagian selanjutnya. Sifat-sifat SDH lainnya adalah sebagai berikut :

  • Manajemen dan maintanance jaringan yang sangat baik dan fleksibel. Hampir 5% dari seluruh lebar pita digunakan untuk fungsifungsi ini (lihat bagian selanjutnya mengenaistruktur frame).
  • _Self healing, yaitu pencarian rute kembali(rerouting) tanpa pemutusan layanan.

3. Jaringan SDH

3.1. Struktur

STM-1 (Synchronous Transport Module) adalah modul transportasi sinkron level-1 . Dalam system SONET digunakan istilah STS (Synchronous Transfer Signal) untuk modul yang ekuivalen. Seperti terlihat pada gambar 1, sebuah modul

STM-1 memiliki kecepatan sekitar 155 Mb/s. Empat modul STM-1 membentuk STM-4 (sekitar 620 Mb/s), dan seterusnya. Sampai saat ini telah didefinisikan sampai dengan STM-64 (10 Gb/s). Sebuah frame tunggal STM-1 adalah sebuah matriks yang terdiri dari 9 baris dan 270 kolom. Setiap elemen matriks mewakili 1 byte (8 bit),

sehingga frame ini sesungguhnya terdiri dari 2430 byte. Masing-masing frame ditransmisikan dari kiri ke kanan, diawali dari ujung kiri atas hingga kanan bawah. Setiap bit memiliki kecepatan 8 kHz sesuai dengan kecepatan sampling data

(Abtastrate) yang umum digunakan untuk transmisi suara secara digital. Maka setiap byte dalam frame memiliki kecepatan 64 kbit/s (8 bit X 8 kHz) dan seluruh frame secara total berkecepatan 155 Mbit/s (2430 X 64 kbit/s) seperti yang telah

disebutkan di atas. Frame STM-1 terdiri dari dua bagian, yaitu SOH (Section Overhead) dan VC (Virtual Container) yang merupakan payload atau informasi intinya. Tiga kolom pertama SOH dinamakan Regenerator Section Overhead (RSOH) dan lima kolom terakhir disebut Multiplexer Section Overhead (MSOH). Di antaranya terdapat pointer yang bertanggung jawab atas sinkronisasi jaringan.

 

Alokasi byte SOH adalah sebagai berikut :

  • Parity byte B1 (1 byte = 8 bit) dibentuk dari seluruh frame dan dihitung pada setiap regenerator, sedangkan B2 (3 byte = 24 bit)dibentuk dari frame tanpa bagian RSOH dan dihitung hanya pada simpul-simpuljaringan/multiplexer. Parity bytes yang dihitung berdasarkan data pada suatu frame diselipkandalam frame selanjutnya, dan seterusnya.Setiap VC memiliki satu kolom (9 baris) PathOverhead (POH) dan sisanya merupakan payloa ddari frames di bawahnya. POH ini hanya dibuat satu kali (pada titik awal transimi) sehingga bersifat end-to-end. Ia berisikan pelabelan jalur(path), sebuah parity byte, identifikasi tipe payload, dan pengawasan jalur transmisi. Elemen penting yang berfungsi menjaga sinkronisasi SDH adalah pointer. Dengan adanya pointer tidak diperlukan lagi buffer pada setiap multiplexer sehingga transmisi berjalan lebih cepat. Sinyal-sinyal data yang masuk ke multiplexer memiliki sedikit perbedaan pulsa-pulsa detak seperti yang telah disebutkan di awal tulisan ini. Untuk mengatasi masalah ini, multiplexermencari titik awal payload. Stiap pergeseran titik awal VC sebesar 3 byte mengakibatkan perubahan nilai pointer sebesar 1. Jika sinyal yang masuk lebih cepat dibandingkan dengan pulsa detak multiplexer, maka nilai pointer bertambah satu (inkrementasi). Sebaliknya jika ia lebih lembat, maka nilai pointer dikurangi satu (dekrementasi). Perubahan pointer akan mengakibatkan perubahan fasa tegangan pada perubah D/A di titik akhirtransmisi.

3.2. Topologi Jaringan SDH

Topologi jaringan SDH secara umum adalah Digital Cross Connect (DXC) berfungsi Read the rest of this entry »

 

Tags: , , , , , , ,

POTS ( Plain Old Telephone Service )

2.1. POTS (Plain Old Telephone Service)

Seiring dengan berkembangnya zaman, kebutuhan manusia akan komunikasi semakin berkembang dengan pesat. Salah satunya dengan adanya layanan access data seperti internet dan mobile phone atau selular. Namun, hal tersebut tidak membuat layanan POTS (telepon) menjadi mati, karena layanan tersebut masih sangat efisien, tahan lama dan memiliki kualitas yang baik. Itu semua karena media transmisi yang digunakan memiliki kualitas yang baik juga, yaitu tembaga. Jaringan telepon biasa disebut dengan Jarlokat (Jaringan Local Access Tembaga).

2.1.1. Pengertian POTS (Plain Old Telephone Service)

POTS (Plain Old Telephone Service) merupakan salah satu layanan yang disediakan oleh PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk, yaitu layanan non data seperi telepon. Telepon merupakan media komunikasi yang sangat dibutuhkan pada masa sekarang ini. Telepon merupakan media komunikasi yang vital bagi manusia. Tanpa media komunikasi, manusia akan sulit untuk bersosialisasi dengan yang lain. Telepon merupakan komunikasi suara/voice yang menggunakan media transmisi kabel tembaga. Tembaga merupakan logam yang baik dalam pentransmisian data dan voice. Selain tembaga ada juga emas, tetapi mengapa emas tidak digunakan? Itu karena harga emas yang mahal, sehingga memerlukan dana yang sangat besar dan kemungkinan dicuri lebih besar dari pada tembaga. Untuk itu digunakan media transmisi yang hemat, efisien, baik dan berkualitas seperti tembaga.
Untuk Pasang Baru (PSB) telepon ditentukan berdasarkan pioritasnya terdapat empat kategori pelanggan, yaitu pelanggan Platinum dengan lama waktu PSB 6 jam, pelanggan Gold dengan lama waktu PSB 12 jam, pelanggan Silver dengan lama waktu PSB 24 jam dan pelanggan Standart dengan lama waktu PSB 48 jam. Namun, biasanya para petugas mempunyai target yang berbeda. Mereka mempunyai target lebih cepat dari pada yang telah ditentukan. Hal itu dikarenakan untuk meningkatkan performansi jaringan yang sudah ada tersebut.

2.1.2. Konfigurasi Jaringan Telepon

Konfigurasi Jaringan Telepon

Read the rest of this entry »

 

Tags: , , , , , , , , ,

 
%d bloggers like this: