RSS

Tag Archives: Programming

FAMODYA (Part 10)

Bel rumah Adya berbunyi dan Abay membukakan pintu rumahnya. “Eh akhirnya lo dateng juga. Ayo masuk!” Sapanya kepada si tamu.

Sorry ya agak telat datengnya. Tadi anter Keira kerumanya dulu,” tutur si tamu yang tidak lain adalah Lefard.

“Lo mau minum apa?” Tanya Abay saat berada diruang tamu. Read the rest of this entry »

 
6 Comments

Posted by on August 21, 2011 in Cerita, Famodya

 

Tags: , , , , , , , , ,

FAMODYA (Part 9)

***

Pagi ini mendung, semendung orang-orang yang kenal dengan Edhu. Mereka merasakan kehilangan atas meninggalnya Edhu. Semakin siang, orang-orang yang datang ketempat pemakaman Edhu semakin banyak sebelum jenazah Edhu diturunkan ketanah. Tangisan orang-orang terdekatnya terus terdengat seperti keluarga Edhu yang langsung datang dari Belanda. Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on August 21, 2011 in Cerita, Famodya

 

Tags: , , , , , , , , ,

FAMODYA (Part 8)

“Bi!” Seru Adya saat dirinya sampai rumah.

“Iya non!” sahut bi Nana sambil lari-lari dari dapur. “Eh Non Adya udah pulang.”

“Masak apa Bi?”

“Tumis kerang Non. Makanan kesukaan Non.”

“Masa sih? Duh jadi tambah laper nih. Oiya Abay udah pulang? Kak Fia mana, kok sepi sih?” Tanya  Adya sambil berjalan kemeja makan. Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on August 21, 2011 in Cerita, Famodya

 

Tags: , , , , , , , , , , , , , ,

FAMODYA (Part 7)

“Urusan saya udah selesai Pak,” tutur Adya menahan kesedihan. Dirinya berjalan menjauhi kamar 034 bersama security.

Edhu yang gelagapan karena ketauan tidur bersama Naomi berusaha mengejar Adya. “Ad, tolong dengerin penjelasan aku dulu Ad. Aku nggak tidur sama dia, dia baru dateng tadi pagi.”

Adya terus saja berjalan tanpa memperdulikan perkataan Edhu. Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on August 21, 2011 in Cerita, Famodya

 

Tags: , , , , , , , , , , , , , ,

FAMODYA (Part 4)

“Bu saya rasa untuk melaporkan masalah Adya kepada Pak Yudhis itu tidak perlu, karena Adya sudah mengakuinya dan yang paling penting Adya sudah berjanji tidak akan melakukan kesalahannya lagi,” sambar Lefard setelah situasi ruangan Bu Hanum hening sejenak.

Adya menarik nafas panjang serta kaget atas perkataan Lefard barusan. Idih ini orang sok pahlawan banget sih. Gumamnya dalam hati. Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on August 19, 2011 in Cerita, Famodya

 

Tags: , , , , , , , , , , , , ,

FAMODYA (Part 3)

“Ugght…, siapa sih tuh orang? Ngendarain motor nggak ada rambu-rambunya sama sekali, rese banget sih. Kalau aja tuh motor tau-tau berenti didepan gue, gue nggak segan-segan buat nonjok muka si pengendaranya sampai bonyok,” gerutu Adya karena bukan sepatunya saja yang kemasukan air tapi karena saking kencangnya orang itu mengendarai motor kubangan yang didepan Adya juga ikut diinjak akibatnya Adya kecipratan air kubangan bajunya kotor, basah kuyub dan bau. Adya makin geram dengan tingkah orang tersebut, semena-mena meninggalkan dirinya tanpa meminta maaf. Kok kayaknya gue kenal sama motor tadi ya. Adya coba mengingat-ingat bentuk motor yang barusan menciprati dirinya dengan air kubangan. Ah…, gue baru inget. Itu kan motor yang kemarin gue tabrak. Berarti dia anak TP dong. Adya makin penasaran. Kok dia sekejam itu ya sama gue, apa dia tau kalau gue yang jatuhin motornya kemarin. Batin Adya masih penasaran dengan pengendara motor racing yang lumayan keren dikalangan motor racing yang pernah Adya lihat. “Huh sialan gara-gara baju gue kotor gue nggak jadi main sama anak-anak playgroup, akhirnya gue pulang deh.” Adya kesal karena gagal untuk bermain dengan anak-anak playgroup. Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on August 19, 2011 in Cerita, Famodya

 

Tags: , , , , , , , , , , , ,

FAMODYA (Part 2)

“Adya!” suaranya sudah tidak asing untuk didengar. Pak Yudhis telah lebih dahulu tahu gerak gerik Adya untuk menyelinap masuk kekelas. “Apa-apaan kamu jam segini baru datang?” dengan mata melotot Guru itu menatap Adya.

  “Nggak kok Pak saya udah dateng dari tadi. Tapi tasnya belum saya taruh dikelas. Tadi saya sakit perut Pak, saat upacara saya nggak ikut dan tas saya masih dipanggul. Ini saja saya baru keluar dari kamar mandi Pak.” Dengan jawaban datar Adya mencoba bela diri.

  “Alasan kamu. Kamu kira saya bodoh bisa percaya begitu saja sama kata-kata kamu? Saya sudah dapat informasi dari Satrio kalau kamu datang hampir jam setengah delapan.”

  “Eng…nggak Pak. Pak Satrio bohong kali sama Bapak?”

  “Sudah jangan banyak alasan. Saya lebih percaya Satrio daripada kamu, Adya!”

  “Maaf Pak saya masuk dulu mau taruh tas.”

  “Apa? Enak saja kamu langsung masuk tanpa konsekwensi. Taruh tas kamu di meja  piket guru, setelah itu kamu minta kain lap sam Pak Hendra!”

  “Kok nyambungnya minta lap sama Pak Hendra Pak?”

  “Kamu dapat hukuman.”

  “Hukuman?” Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on August 19, 2011 in Cerita, Famodya

 

Tags: , , , , , , ,

 
%d bloggers like this: